BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
4.3.3 Makna Pragmatik Bahasa Verbal dan Nonverbal
skala kesantunan, yaitu: (1) skala kerugian dan keuntungan; (2) skala pilihan; (3) skala ketidaklangsungan; (4) skala keotoritasan; dan (5) skala jarak. Secara menyeluruh, setiap data menunjukan rasa saling menjaga perasaan, harkat dan martabat dirinya tanpa mempertimbangkan status sosial. Kesantunan masyarakat Sunda dikaji dengan etnopragmatik untuk memahami dan menginterpretasi maksud kesantunan pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik masyarakat Sunda. Dengan demikian, pemakaian bahasa nonverbal postural ditunjukkan dengan dengan gerakan seluruh anggota tubuh untuk menyampaikan maksud kesantunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pesan postural sebagai salah satu komponen pesan kinestetik yang dapat menyampaikan maksud kesantunan.
kesantunan sebagai hal yang penting bagi setiap individu agar terciptanya masyarakat yang harmonis. Ellen (2006) mengemukakan bahwa kesantunan sebagai salah satu cabang pragmatik kontemporer dan sebagai peranti yang digunakan secara luas dalam berbagai kajian komunikasi antarbudaya. Brown dan Levinson (1987) membuktikan bahwa kesantunan berkaitan dengan nosi wajah negatif dan nosi wajah postitif yang berkaitan dengan menjaga kepentingan mitra tutur. Leech (1983) menyatakan bahwa kesantunan berbahasa mencakup maksim atau aturan-aturan untuk menjaga harkat martabat antara dirinya (penutur) dengan memberikan keuntungan bagi mitra tutur (maksim kebijaksanaan), memaksimalkan kerugian pada diri sendiri (maksim kedermawanan), memaksimalkan pujian pada mitra tutur (maksim pujian), minimalkan pujian kepada diri sendiri (maksim kerendahan hati), memaksimalkan kesetujuan pada mitra tutur (maksim kesetujuan), memaksimalkan ungkapan simpati pada mitra tutur (maksim simpati), serta meminimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur dan memaksimalkan rasa senang pada mitra tutur (maksim pertimbangan).
Dengan demikian, makna pragmatik penelitian ini ditunjukkan dengan tersampaikannya maksud kesantunan berdasarkan konteksnya.
Makna pragmatik yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik (fasial, gestural, dan postural) yang mampu menunjukkan maksud menyampaikan permohonan atau harapan, maksud menyampaikan informasi, dan maksud menyampaikan perintah. Pada dasarnya, hubungan antara Ibu Ketua Tim Penggerak PKK dan ibu-ibu anggota PKK memiliki jarak sosial yang berbeda. Oleh karena itu, makna pragmatik dalam
penelitian ini terbatas pada skala keotoritasan, skala ketidaklangsungan, dan skala pilihan. Berdasarkan data-data penelitian, makna pragmatik tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.
a. Makna Pragmatik Menyampaikan Permohonan/Harapan
Makna pragmatik menyampaikan permohonan atau harapan merupakan salah satu indikator kesantunan. Makna pragmatik bahasa nonverbal kinestetik ditunjukkan dengan pemakaian bahasa verbal dan raut muka, gerakan sebagian anggota tubuh (gerakan kepala dan gerakan tangan) serta gerakan seluruh anggota tubuh, misalnya posisi tubuh yang berdiri tegap dan gerakan berpidah posisi tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Pranowo (2015) mengemukakan bahwa tujuan studi bahasa dari sudut pandang pragmatik yaitu ingin memahami maksud penutur melalui bahasa yang digunakan, atau memahami fungsi komunikatif pemakaian bahasa. Artinya, ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain, mereka ingin menyampaikan maksud tertentu melalui makna-makna yang terdapat dalam bahasa. Pragmatik merupakan kajian ilmu bahasa yang mampu mengungkapkan maksud berdasarkan konteks.
Levinson (1983: 7) mengemukakan bahwa pragmatik merupakan kajian tentang hubungan antara bahasa dan konteks yang secara tata bahasa, atau dikodekan dalam struktur bahasa.
Berdasarkan Data 20 (B2), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan PKK di Kantor Desa Sukamanah. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di Aula Desa Sukamanah. Penutur merupakan Kepala
Desa Sukamanah sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK dan mitra tutur adalah ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah. Ibu Ketua TP PKK sedang mengajak para anggota PKK untuk aktif hadir pada pertemuan PKK.
Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Saya minta pada ibu-ibu semua yang ada di sini mudah-mudahan bisa hadir, jika tidak ada halangan insya Allah saya juga hadir, ya bu. Saya tidak bisa apa-apa, mungkin ibu-ibu bisa sharing bersama ibu-ibu yang ada di sini. Nah mungkin yang tadi, istri perangkat desa harus wajib hadir. Jadi, harus punya rasa tanggungjawab karena suami bekerja di desa gitu ya”. Tindak tutur penutur saat menyampaikan tuturan tersebut mengandung lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tuturan tersebut memberikan maksud bahwa ibu-ibu PKK harus hadir pada setiap pertemuan PKK. Artinya, tuturan tersebut bermakna, memiliki maksud, dan diharapkan ada efek yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan pada mitra tutur. Efek yang diamaksud adalah ibu-ibu PKK menghadiri pertemuan PKK.
Bahasa nonverbal fasial pada Data 20 (B2) yaitu ibu kepala desa menatap para ibu-ibu PKK dengan raut wajah yang serius. Raut muka yang serius dapat diidentifikasi berdasarkan volume, ritme, kecepatan, dan tekanan kata-kata yang diucapkan. Dengan demikian, maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal fasial tersebut. Maksud tersebut juga dapat dipahami berdasarkan konteksnya, yaitu ibu kepala desa sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK menyampaikan ajakan pada ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah untuk aktif hadir pada setiap pertemuan PKK. Artinya, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal fasial tersebut
menyatakan maksud menyampaikan permohonan atau harapan. Makna pragmatik menyampaikan permohonan atau harapan tersebut ditunjukkan untuk mengajak ibu-ibu PKK untuk rutin melakukan pertemuan. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala keotoritasan yang merujuk pada hubungan status sosial antara Ibu Ketua Tim Penggerak PKK dengan ibu-ibu PKK. Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun status sosialnya berbeda, tuturan tersebut tetap santun. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
b. Makna Pragmatik Menyampaikan Informasi
Data 22 (H1) terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sukaresik. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan nonformal dan berlangsung di masjid Desa Sukaresik. Penutur merupakan seorang ustaz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu masyarakat Desa Sukaresik. Penutur sedang mengemukakan ceramah tentang hijrah pada ibu-ibu pengajian. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Ibu-ibu tahu tidak arti hijrah? Hijrah itu apa bu? Hijrah artinya pindah ya” dan “Nah maka, istilah tahun baru hijriah diambil dari hijrahnya Rasullallah Shallallahu Allaihi Wasallam dari Mekkah ke Madinah“.
Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi. Artinya, tuturan tersebut bermakna dan bermaksud untuk memberikan informasi mengenai Hijrah pada ibu-ibu pengajian.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 22 (H1) yaitu ustaz menggerakkan kepala ke depan, ke kiri, dan ke kanan; gerakan tangan kanan ke atas; tangan
kanan ustaz memegang mikrofon. Gerakan mata, gerakan kepala, dan gerakan tangan ustaz berfungsi menekankan dan melengkapi bahasa verbal agar maksud tersampaikan. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal gestural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu ustaz menyampaikan ceramah tentang Hijrah pada ibu-ibu pengajian. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal gestural tersebut menyatakan maksud menyampaikan informasi. Maksud tersebut ditunjukkan dari penutur yang memberikan pengetahuan mengenai prinsip hijrah. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala keotoritasan lebih dominan karena merujuk pada hubungan status sosial antara ustaz dengan ibu-ibu pengajian. Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun status sosialnya berbeda, tuturan tersebut tetap santun. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
Data 23 (I1) tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sindangkasih. Tuturan terjadi saat sore hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di masjid Jami’ Desa Sindangkasih. Penutur adalah seorang ustadz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Penutur sedang memberikan ceramah agama pada para ibu. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Amal sholeh itu, pertama ada perintah Allah.
Dua, ada contoh. Ketiga ikhlas” dan “Banyak kaitannya hal-hal yang saling berkaitan dengan ibu-ibu dalam masalah sholat“.Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi. Tuturan tersebut hanya berjalan satu arah.
Artinya, tuturan tersebut bermakna dan bermaksud untuk memberikan informasi mengenai Hijrah pada ibu-ibu pengajian.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 23 (I1) dalam penelitian ini yaitu ustadz menggerakkan tangan kanan digerakkan ke atas dengan jari telunjuk dan ustadz menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal gestural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu ustadz menyampaikan ceramah agama pada ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal gestural tersebut menyatakan maksud menyampaikan informasi.
Maksud tersebut ditunjukkan dari penutur yang memberikan pengetahuan mengenai prinsip hijrah. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala keotoritasan lebih dominan karena merujuk pada hubungan status sosial antara ustaz dengan ibu-ibu pengajian. Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun status sosialnya berbeda, tuturan tersebut tetap santun. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
Data 23 (I1) tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sindangkasih. Tuturan terjadi saat sore hari. Suasana tuturan formal dam berlangsung di masjid Jami’ Desa Sindangkasih. Penutur adalah seorang ustadz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Penutur sedang memberikan ceramah agama pada para ibu. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Amal sholeh itu, pertama ada perintah Allah.
Dua, ada contoh. Ketiga ikhlas” dan “Banyak kaitannya hal-hal yang saling berkaitan dengan ibu-ibu dalam masalah sholat“.Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi. Tuturan tersebut hanya berjalan satu arah.
Artinya, tuturan tersebut bermakna dan bermaksud untuk memberikan informasi mengenai Hijrah pada ibu-ibu pengajian.
Data 23 (I1) dalam penelitian ini yaitu ustadz menggerakkan tangan kanan digerakkan ke atas dengan jari telunjuk dan ustadz menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Gerakan tangan dan gerakan kepala berfungsi menekankan dan melengkapi bahasa verbal agar maksud tersampaikan dengan baik. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu ustadz menyampaikan ceramah agama pada ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal gestural tersebut menyatakan maksud menyampaikan informasi berupa pengetahuan mengenai prinsip hijrah.
Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala pilihan dan skala ketidaklangsungan lebih dominan karena merujuk pada menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan penutur kepada lawan tutur dalam kegiatan percakapan dan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya dimaksudkan sebuah tuturan. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan oleh penutur diutarakan secara imperatif. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
Data 25 (F3) merupakan pelaksanaan kegiatan posyandu di Desa Gunungcupu. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan
berlangsung diruang posyandu. Penutur merupakan anggota kader posyandu mitra tutur adalah ibu-ibu di Desa Gunungcupu. Ibu anggota kader sedang memberikan penyuluhan tentang vitamin A pada ibu-ibu. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Sekarang, saya ingin memberikan penyuluhan vitamin A untuk balita bu”, dan “Vitamin A bersumber dari sayur-sayuran berwarna hijau, seperti bayam, daun katuk, serta buah-buahan segar berwarna segar, seperti pepaya, tomat, wortel, mangga. Sumber hewani, seperti telur, hati, dan ikan“. Tuturan tersebut disebut sebagai tindak tutur penutur yang mengandung lokusi. Artinya, tuturan tersebut bermakna bahwa penutur hanya sekadar memberikan informasi mengenai vitamin A.
Bahasa nonverbal postural pada Data 25 (F3) yaitu Ibu kader berdiri dengan memegang buku; ibu kader menggerakkan kepala ke kiri. Maksud penutur tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal postural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu seorang ibu anggota kader posyandu yang sedang memberikan penyuluhan tentang vitamin A pada ibu-ibu. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal postural tersebut menyatakan maksud memberikan informasi bahwa penutur memberikan informasi mengenai vitamin A. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala pilihan lebih dominan karena merujuk pada menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan penutur kepada lawan tutur dalam kegiatan percakapan. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi yang
disampaikan oleh penutur diutarakan secara singkat dan jelas. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
c. Makna Pragmatik Menyampaikan Perintah
Data 24 (E4) merupakan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sindangkasih. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di ruang posyandu. Penutur merupakan asisten bidan desa dan mitra tutur adalah ibu bayi yang sedang posyandu. Asisten bidan desa sedang memberikan penjelasan cara pemberian obat pada anak. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Kalau tidak panas jangan diberikan lagi”, “Nanti diberikan vitamin itu?”, “Ini berapa bulan? Belum setahun!”, “19 bulan, bisa?”, dan “Bisa“. Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi bahwa penutur tidak hanya memberikan informasi pada ibu bayi tetapi memahami maksud dikemukakan oleh bidan. Artinya, tuturan tersebut bermakna dan memiliki maksud.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 24 (E4) dalam penelitian ini yaitu asisten bidan berdiri di hadapan salah satu ibu dari balita dan asisten bidan mengangkat tangan kanan di depan dada. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal postural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu asisten bidan desa sedang memberikan penjelasan cara pemberian obat pada salah satu ibu di posyandu. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal postural tersebut menyatakan maksud perintah. Maksud tersebut ditunjukkan dari penutur yang memberikan pengetahuan mengenai cara
pemberian obat pada bayi dengan cara memerintah. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala keotoritasan lebih dominan karena menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan lawan tutur yang terlibat dalam pertuturan. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan oleh penutur diutarakan perintah dari asisten bidan pada ibu bayi. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
d. Makna Pragmatik Menyampaikan Permohonan Maaf
Data 21 (G2) merupakan pelaksanaan kegiatan PKK di Kantor Desa Sukamanah. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di Aula Desa Sukamanah. Penutur merupakan anggota Ketua Tim Penggerak PKK dan mitra tutur adalah ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah.
Ibu Ketua TP PKK sedang mengajak para anggota PKK untuk aktif hadir pada pertemuan PKK. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Desa Sukasenang mendapat giliran yaitu acara Binwil Kecamatan Sindangkasih” dan “Kami sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada tamu undangan semuanya juga kepada kader-kader semuanya atas waktunya untuk menghadiri kegiatan PKK yang biasa kita lakukan setiap Senin keempat, tapi mohon maaf berhubung ada sesuatu hal jadi dipajukan pada hari ini yaitu hari Selasa“. Tuturan tersebut disebut sebagai tindak tutur penutur saat menyampaikan tuturan yang mengandung lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Pada tutran tersebut memberikan maksud bahwa ibu-ibu PKK hadir pada setiap
pertemuan PKK. Artinya, tuturan tersebut bermakna, memiliki maksud, dan diharapkan ada efek yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan pada mitra tutur. Tuturan tersebut memberikan maksud bahwa Ketua Tim Penggerak PKK memohon maaf karena jadwa acara Bina Wilayah PKK Desa Sukasenang harus dimajukan dari jadwal sebelumnya. Artinya, tuturan tersebut bermakna, memiliki maksud, dan diharapkan ada efek yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan pada mitra tutur. Efek yang diamaksud adalah ibu-ibu PKK dapat tetap mengikuti acara Bina Wilayah dengan baik.
Bahasa nonverbal fasial pada Data 21 (G2) yaitu Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang menatap ibu-ibu anggota PKK dengan wajah yang serius dan meyakinkan. Hal ini ditunujukkan juga oleh penekanan-penekanan kata tertentu yang ingin disampaikan pada mitra tutur. Semakin banyak tekanan pada kata-kata tersebut, maka semakin menampakkan raut muka serius dan meyakinkan. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal fasial tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteksnya, yaitu Ketua Tim Penggerak PKK menyampaikan sambutan pada ibu-ibu anggota PKK Desa Sukasenang pada acara Bina Wilayah. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal fasial tersebut menyatakan maksud permohonan maaf. Maksud tersebut ditunjukkan dari penutur kepada mitra tutur karena pelaksanaan pelaksanaan Bina Wilayah tidak sesuai dengan jadwal pelaksanaan sebelumnya. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi kelima skala Leech, hanya saja skala keotoritasan lebih dominan karena menunjuk kepada hubungan status
sosial antara penutur dan lawan tutur yang terlibat dalam pertuturan. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan oleh penutur mengutarakan permohonan maaf pada anggota PKK. Artinya, data ini memenuhi salah satu skala kesantunan Leech (1983).
Leech (1983) mengemukakan ada lima macam skala pengukur kesantunan, yaitu (1) cost-benafit scale atau skala kerugian dan keuntungan menunjuk kepada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan; (2) optionality scale atau skala pilihan menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan penutur kepada lawan tutur dalam kegiatan percakapan bertuturan; (3) indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya dimaksudkan sebuah tuturan; (4) authority scale atau skala keotoritasan menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan lawan tutur yang terlibat dalam pertuturan; dan (5) social distance scale atau skala jarak sosial menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan.
Artinya, kesantunan masyarakat Sunda tersebut dapat diidentifikasi dengan dengan pemakaian bahasa verbal dan gerakan mata, gerakan kepala, serta gerakan tangan untuk menyampaikan maksud kesantunan. Kesantunan antara masyarakat Sunda telah memenuhi kelima skala kesantunan, yaitu: (1) skala kerugian dan keuntungan; (2) skala pilihan; (3) skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya dimaksudkan sebuah tuturan; (4) skala keotoritasan; (5) skala jarak. Secara menyeluruh, setiap data menunjukan rasa
saling menjaga harkat dan martabat dirinya di hadapan mitra tutur sehingga tuturannya tidak menyinggung perasaan mitra tutur.
156 BAB V PENUTUP
Bab lima merupakan bagian penutup dari penelitian ini. Bab ini terdiri atas dua pokok yaitu simpulan dan saran. Simpulan berisi uraian ringkas dan padat hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah. Saran berisi rekomendasi peneliti terhadap peneliti lain berkaitan dengan temuan penelitian yang relevan. Berikut ini merupakan penjelasan dari kedua hal tersebut.
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang disesuaikan dengan landasan teori, penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, wujud kesantunan bahasa verbal dan nonverbal masyarakat Sunda yaitu tindak tutur yang disertai dengan bahasa nonverbal kinestetik. Tindak tutur sebagai wujud bahasa verbal dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) lokusi, yaitu tuturan yang bermakna secara semantik; (2) ilokusi, yaitu tuturan yang bermakna secara pragmatik; dan (3) perlokusi, yaitu makna yang timbul sebagai hasil atau efek dari tuturan yang diujarkan oleh penutur. Tindak tutur tersebut disertai bahasa nonverbal kinestetik, yaitu (a) bahasa verbal dan nonverbal fasial, (b) bahasa verbal dan nonverbal gestural, dan (c) bahasa verbal dan nonverbal postural. Jadi, wujud bahasa verbal berupa aspek linguistik (kalimat dan makna) yang membentuk tuturan yang disertai wujud bahasa nonverbal melalui pesan kinestetik berupa: raut/ekspresi wajah menunjukkan pesan fasial. Sikap santun
dapat ditunjukkan melalui raut muka untuk berbagai hal, seperti 1) mencari informasi; 2) menujukkan perhatian dan ketertarikan; 3) mengajak dan mengendalikan interaksi; 4) mempengaruhi orang lain; 5) memberikan umpan balik pada saat berbicara; serta 6) mengemukakan sikap. Misalnya, penyampaian ceramah agama, penyampaian materi pada kegiatan sosialisasi, kegiatan PKK yang dilaksanakan oleh masyarakat Sunda melibatkan tuturan dan bahasa nonverbal fasial. Kemudian, gerakan sebagian anggota badan yaitu mata dan gerakan tangan yang menunjukkan pesan gestural serta gerakan sebagian anggota badan yaitu mata dan gerakan tangan yang menunjukkan kesantunan melalui bahasa nonverbal gestural; gerakan seluruh anggota badan yang menunjukkan kesantunan melalui bahasa nonverbal postural.
Kedua, fungsi pemakaian bahasa verbal dan nonverbal masyarakat Sunda didasarkan pada wujud-wujud bahasa nonverbal kinestetik berupa bahasa nonverbal fasial, gestural, dan postural yang mampu menyampaikan maksud kesantunan. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik masyarakat Sunda berfungsi sebagai (a) komplemen (pelengkap) bahasa verbal berarti pemakaian bahasa nonverbal tersebut digunakan untuk menambah dan melengkapi sikap yang disampaikan oleh bahasa verbal; (b) aksentuasi (penekan) bahasa verbal berarti pemakaian bahasa nonverbal tersebut digunakan untuk menonjolkan beberapa bagian penting dari bahasa verbal yang diujarkan; (c) regulasi (mengatur) bahasa verbal berarti pemakaian bahasa nonverbal mampu mengendalikan bahasa verbal; dan (d) repetisi (mengulang) bahasa verbal berarti pemakaian bahasa verbal dapat mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan.
Ketiga, makna pragmatik kesantunan bahasa verbal dan nonverbal masyarakat Sunda dapat ditunjukkan dengan maksud menyampaikan permohonan atau harapan, maksud menyampaikan informasi, maksud menyampaikan perintah, dan maksud menyampaikan permohonan maaf. Maksud-maksud tersebut merupakan indikator kesantunan masyarakat Sunda yang termanifestasi melalui bahasa nonverbal kinestetik yaitu bahasa nonverbal fasial, gestural, dan postural.
Makna pragmatik bahasa verbal dan nonverbal kinestetik masyarakat Sunda merupakan pemakaian bahasa verbal yang disertai ekspresi wajah/raut muka penutur dan mitra tutur; gerakan mata, gerakan kepala, serta gerakan tangan untuk menyampaikan maksud kesantunan; serta gerakan seluruh anggota badan, seperti gerakan membungkukkan badan, berdiri tegak, gerakan badan ke kiri, dan gerakan badan ke kanan untuk menyampaikan maksud kesantunan. Makna pragmatik yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik (fasial, gestural, dan postural) yang mampu menunjukkan sikap kebijaksanaan, sikap pujian, dan sikap kesetujuan.
Masing-masing data wujud, fungsi, dan makna pragmatik memenuhi kelima skala kesantunan, yaitu: (1) cost-benafit scale atau skala kerugian dan keuntungan bahwa setiap komunikasi penutur selalu mengutamakan pesaraan mitra tutur; (2) optionality scale atau skala pilihan bahwa saat berkomunikasi penutur memilih untuk tidak terlalu sering menggunakan tuturan imperatif; (3) indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya dimaksudkan sebuah tuturan bahwa saat berkomunikasi penutur menyampaikan tuturan secara tidak langsung (tersirat); (4)
authority scale atau skala keotoritasan bahwa saat berkomunikasi penutur menyesuaikan tuturan berdasarkan hubungan status sosial; (5) social distance scale atau skala jarak berarti setiap komunikasi skala jarak sosial mampu mengindikasi kesantunan. Artinya, kesantunan masyarakat Sunda tersebut dapat diidentifikasi dengan bahasa nonverbal fasial, gestural, dan postural penutur dan mitra tutur saat berkomunikasi.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil hasil analisis, pembahasan, dan simpulan, beberapa saran dapat disampaikan sebagai berikut.
5.2.1 Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini hanya meneliti wujud, fungsi, dan makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal sebagai manifestasi kesantunan masyarakat Sunda pada beberapa acara formal di Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dikembangkan pada kegiatan-kegiatan lain yang lebih bervariatif. Peneliti lain dapat melaksanakan penelitian di pasar tradisional agar tuturan (bahasa verbal) konsisten dan pemakaian bahasa secara natural menggunakan bahasa Sunda.
Penelitian ini difokuskan pada bahasa nonverbal kinestetik, yaitu bahasa nonverbal fasial, bahasa bonverbal gestural, dan bahasa nonverbal postural saja.
Bagi peneliti lain diharapkan mampu mengembangkan aspek lain untuk
menganalisis pemakaian bahasa nonverbal jenis lain untuk mengungkapkan kesantunan berbahasa suatu budaya masyarakat.
5.2.2 Bagi Masyarakat Sunda di Kecamatan Sindangkasih
Hasil penelitian pemakaian bahasa verbal dan nonverbal sebagai manifestasi kesantunan masyarakat Sunda sebagai gambaran, masukan, dan pemahaman bagi para masyarakat Sunda di Kecamatan Sindangkasih. Penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi terkait bentuk-bentuk kesantunan berbahasa melalui bahasa verbal dan nonverbal dalam praktik berkomunikasi. Hasil dari temuan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai acuan untuk mengimplementasikan kesantunan agar masyarakat Sunda di Kecamatan Sindangkasih tetap melestarikan kebudayaan sebagai norma dalam bermasyarakat dengan memperhatikan kesantunan melalui bahasa verbal dan bahasa nonverbal. Implementasi dari penelitian ini dapat digunakan masyarakat Sunda di Kecamatan Sindagkasih untuk tetap menjaga kesatunan saat bekomunikasi, seperti pelaksanaan kegiatan pengajian, sosialisasi, rapat, kegiatan pertemuan PKK dan kegiata berbelanja di pasar tradisional.