BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.3 Makna Pragmatik Bahasa Verbal dan Nonverbal
“Jika ada yang membakar sesuatu ataupun ibu-ibu masak menggunakan kayu bakar harus diperhatikan, ditunggu sampai apinya mati jangan sampai dibiarkan ya ibu-ibu itu pesan dari bapak kapolsek”. Tuturan tersebut disebut sebagai tindak tutur penutur saat menyampaikan tuturan yang mengandung lokusi dan ilokusi.
Artinya, tuturan tersebut bermakna dan memiliki maksud yang disampaikan pada mitra tutur bahwa penutur menyampaikan amanat dari Bupati Ciamis. Bahasa nonverbal postural pada Data 19 (D1) yaitu ibu Kepala Desa menatap, berdiri tegap di mimbar, serta menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Jadi, fungsi pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal postural yaitu sebagai komplemen (pelengkap), aksentuasi (penekan), regulasi (mengatur) bahasa verbal.
a. Makna Pragmatik Bahasa Nonverbal Fasial
Berikut ini merupakan makna pragmatik bahasa nonverbal fasial yang dominan dalam peristiwa tutur di Kecamatan Sindangkasih. Makna pragmatik bahasa verbal dan nonverbal dalam penelitian ini mengacu pada wujud bahasa nonverbal fasial. Artinya, fungsi pemakaian bahasa nonverbal fasial dalam penelitian ini mengacu pada raut wajah penutur untuk menyampaikan maksud kesantunan. Data-data tersebut disajikan sebagai berikut.
Data 20 (B2)
Bahasa Verbal:
Abdi nyuhunkeun ka ibu-ibu sadayana anu didieu mudah-mudahan sing tiasa hadir, muhun upami teu aya pamengan mah insya Allah abdi hadir, nya bu nya.
Ngiring ngantosan ibu-ibu nu sanaos abdi teu aya katiasa, panginten sharing we nya sareng ibu-ibu didieu. Tah panginten anu tadi tea muhun, istri parangkat desa kedah wajib hadir. Janten, kedah gaduh rasa tanggung waler kumargi caroge didanel di desa kitu nya.
Saya minta pada ibu-ibu semua yang ada di sini mudah-mudahan bisa hadir, jika tidak ada halangan insya Allah saya juga hadir, ya bu. Saya tidak bisa apa-apa, mungkin ibu-ibu bisa sharing bersama ibu-ibu yang ada di sini. Nah mungkin yang tadi, istri perangkat desa harus wajib hadir. Jadi, harus punya rasa tanggungjawab karena suami bekerja di desa gitu ya.
Bahasa Nonverbal:
Ibu kepala desa menatap para ibu-ibu PKK dengan raut wajah yang serius.
Konteks:
Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di Aula Desa Sukamanah. Penutur merupakan seorang ibu kepala desa sekaligus sebagai Ketua Tim Penggerak PKK dan mitra tutur adalah ibu-ibu anggota PKK Desa
Sukamanah. Ibu Ketua TP PKK sedang mengajak para anggota PKK untuk aktif hadir pada pertemuan PKK.
Berdasarkan Data 20 (B2), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan PKK di Kantor Desa Sukamanah. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di Aula Desa Sukamanah. Penutur merupakan Kepala Desa Sukamanah sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK dan mitra tutur adalah ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah. Ibu Ketua TP PKK sedang mengajak para anggota PKK untuk aktif hadir pada pertemuan PKK.
Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Saya minta pada ibu-ibu semua yang ada di sini mudah-mudahan bisa hadir, jika tidak ada halangan insya Allah saya juga hadir, ya bu. Saya tidak bisa apa-apa, mungkin ibu-ibu bisa sharing bersama ibu-ibu yang ada di sini. Nah mungkin yang tadi, istri perangkat desa harus wajib hadir. Jadi, harus punya rasa tanggungjawab karena suami bekerja di desa gitu ya”. Tindak tutur penutur saat menyampaikan tuturan tersebut mengandung lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tuturan tersebut memberikan maksud bahwa ibu-ibu PKK harus hadir pada setiap pertemuan PKK. Artinya, tuturan tersebut bermakna, memiliki maksud, dan diharapkan ada efek yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan pada mitra tutur. Efek yang diamaksud adalah ibu-ibu PKK menghadiri pertemuan PKK.
Bahasa nonverbal fasial pada Data 20 (B2) yaitu ibu kepala desa menatap para ibu-ibu PKK dengan raut wajah yang serius. Raut muka yang serius dapat diidentifikasi berdasarkan volume, ritme, kecepatan, dan tekanan kata-kata yang diucapkan. Dengan demikian, maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal fasial tersebut. Maksud
tersebut juga dapat dipahami berdasarkan konteksnya, yaitu ibu kepala desa sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK menyampaikan ajakan pada ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah untuk aktif hadir pada setiap pertemuan PKK. Artinya, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal fasial tersebut menyatakan maksud menyampaikan permohonan atau harapan. Makna pragmatik menyampaikan permohonan atau harapan tersebut ditunjukkan untuk mengajak ibu-ibu PKK untuk rutin melakukan pertemuan. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala keotoritasan yang merujuk pada hubungan status sosial antara Ibu Ketua Tim Penggerak PKK.
Data 21 (G2) (I)
Bahasa Verbal:
Desa Sukasenang mendapat giliran yaitu acara Binwil Kecamatan Sindangkasih.
Bahasa Nonverbal:
Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang menatap ibu-ibu anggota PKK dengan raut wajah yang serius dan meyakinkan; tangan kanan memegang mikrofon; gerakan kepala condong ke kiri.
(II)
Bahasa Verbal:
Kami sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada tamu undangan semuanya juga kepada
kader-kader semuanya atas waktunya untuk menghadiri kegiatan PKK yang biasa kita lakukan setiap Senin keempat, tapi mohon maaf berhubung ada sesuatu hal jadi dipajukan pada hari ini yaitu hari Selasa.
Bahasa Nonverbal:
Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang menatap ibu-ibu anggota PKK dengan wajah yang serius dan meyakinkan; tangan kanan memegang mikrofon; gerakan kepala ke kiri.
Konteks:
Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di aula Desa Sukasenang. Penutur merupakan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang, sedangkan mitra tutur adalah para ibu warga masyarakat Desa Sukasenang. Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang sedang memberikan sambutan pada acara Bina Wilayah Kecamatan Sindangkasih.
Berdasarkan Data 21 (G2), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan PKK di Kantor Desa Sukamanah. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di Aula Desa Sukamanah. Penutur merupakan anggota Ketua Tim Penggerak PKK dan mitra tutur adalah ibu-ibu anggota PKK Desa Sukamanah. Ibu Ketua TP PKK sedang mengajak para anggota PKK untuk aktif hadir pada pertemuan PKK.
Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Desa Sukasenang mendapat giliran yaitu acara Binwil Kecamatan Sindangkasih” dan “Kami sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada tamu undangan semuanya juga kepada kader-kader semuanya atas waktunya untuk menghadiri kegiatan PKK yang biasa kita lakukan setiap Senin keempat, tapi mohon maaf berhubung ada sesuatu hal jadi dipajukan pada hari ini yaitu hari Selasa“. Tuturan tersebut disebut sebagai tindak tutur penutur saat
menyampaikan tuturan yang mengandung lokusi dan ilokusi. Pada tutran tersebut memberikan maksud bahwa ibu-ibu PKK hadir pada setiap pertemuan PKK.
Artinya, tuturan tersebut bermakna dan memiliki maksud yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan pada mitra tutur. Tuturan tersebut memberikan maksud bahwa Ketua Tim Penggerak PKK memohon maaf karena jadwa acara Bina Wilayah PKK Desa Sukasenang harus dimajukan dari jadwal sebelumnya.
Bahasa nonverbal fasial pada Data 21 (G2) yaitu Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukasenang menatap ibu-ibu anggota PKK dengan wajah yang serius dan meyakinkan. Hal ini ditunujukkan juga oleh volume, nada, ritme dan penekanan-penekanan kata tertentu yang ingin disampaikan pada mitra tutur.
Semakin banyak tekanan pada kata-kata tersebut, maka semakin menampakkan raut muka serius dan meyakinkan. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal fasial tersebut.
Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteksnya, yaitu Ketua Tim Penggerak PKK menyampaikan sambutan pada ibu-ibu anggota PKK Desa Sukasenang pada acara Bina Wilayah. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal fasial tersebut menyatakan maksud permohonan maaf. Makna pragmatik menyampaikan maksud permohonan maaf ditunjukkan pada para anggota PKK agar dapat mengikuti acara dengan baik walaupun pelaksanaan pelaksanaan Bina Wilayah tidak sesuai dengan jadwal pelaksanaan sebelumnya. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik
tersebut memenuhi skala keotoritasan yang merujuk pada hubungan status sosial antara Ketua Tim Penggerak PKK dengan ibu-ibu PKK.
b. Makna Pragmatik Bahasa Nonverbal Gestural
Berikut ini merupakan makna pragmatik bahasa nonverbal gestural yang dominan dalam peristiwa tutur di Kecamatan Sindangkasih. Makna pragmatik bahasa verbal dan nonverbal dalam penelitian ini mengacu pada wujud bahasa nonverbal gestural. Artinya, makna pragmatik pemakaian bahasa nonverbal gestural dalam penelitian ini mengacu pada kontak mata dan gerakan anggota badan untuk menyampaikan maksud kesantunan. Data-data tersebut disajikan sebagai berikut.
Data 22 (H1)
(I)
Bahasa Verbal:
Terang teu ibu hartosna hijrah atanapi hijrah? Ai hijrah teh naon ibu? Ai hijrah teh hartosna pindah nya.
Ibu-ibu tahu tidak arti hijrah? Hijrah itu apa bu? Hijrah artinya pindah ya.
Bahasa Nonverbal:
Ustaz menatap ibu-ibu pengajian dengan raut wajah yang serius dan menyakinkan; tangan kanan memegang mikrofon; gerakan kepala ke atas dan ke bawah.
(II)
Bahasa Verbal:
Nah maka, tahun baru hijriah dicandakna tina hijrah Rasullallah Shallallahu Alaihi Wasallam ti Mekkah ka Madinah.
Nah maka, istilah tahun baru hijriah diambil dari hijrahnya Rasullallah Shallallahu Allaihi Wasallam dari Mekkah ke Madinah.
Bahasa Nonverbal:
Ustaz menatap ibu-ibu pengajian dengan raut wajah yang serius dan menyakinkan; tangan kanan memegang mikrofon; gerakan kepala ke depan, ke kiri, dan ke kanan;
gerakan tangan kanan ke atas.
Konteks:
Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di rmasjid Desa Sukaresik. Penutur merupakan seorang ustaz, sedangkan mitra tutur adalah ibu warga masyarakat Desa Sukaresik. Penutur sedang mengemukakan ceramah agama pada ibu-ibu pengajian.
Berdasarkan Data 22 (H1), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sukaresik. Tuturan terjadi saat pagi hari.
Suasana tuturan nonformal dan berlangsung di masjid Desa Sukaresik. Penutur merupakan seorang ustaz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu masyarakat Desa Sukaresik. Penutur sedang mengemukakan ceramah tentang hijrah pada ibu-ibu pengajian. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Ibu-ibu tahu tidak arti hijrah?
Hijrah itu apa bu? Hijrah artinya pindah ya” dan “Nah maka, istilah tahun baru
hijriah diambil dari hijrahnya Rasullallah Shallallahu Allaihi Wasallam dari Mekkah ke Madinah“. Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi.
Tuturan tersebut hanya berjalan satu arah. Artinya, tuturan tersebut bermakna dan bermaksud untuk memberikan informasi mengenai Hijrah pada ibu-ibu pengajian.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 22 (H1) yaitu ustaz menggerakkan kepala ke depan, ke kiri, dan ke kanan; gerakan tangan kanan ke atas; tangan kanan ustaz memegang mikrofon. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal gestural tersebut.
Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu ustaz menyampaikan ceramah tentang Hijrah pada ibu-ibu pengajian. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal gestural tersebut menyatakan maksud menyampaikan informasi. Maksud tersebut ditunjukkan dari penutur yang memberikan pengetahuan mengenai prinsip hijrah. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala keotoritasan yang merujuk pada hubungan status sosial antara ustaz dengan ibu-ibu pengajian.
Data 23 (I1)
(I)
Bahasa Verbal:
Amal sholeh teh, hiji aya parintah Allah. Dua, aya contoh. Nu kailu ikhlas.
Amal sholeh itu, pertama ada perintah Allah. Dua, ada contoh. Ketiga ikhlas.
Bahasa Nonverbal:
Ustaz menatap ibu-ibu pengajian dengan raut wajah yang serius dan menyakinkan;
tangan kanan digerakkan ke atas dengan jari telunjuk; gerakan kepala ke bawah dan ke atas.
(II)
Bahasa Verbal:
Seeur kaitan hal-hal anu aya pakuat-pakait sareng ibu-ibu dina masalah sholat.
Banyak kaitannya hal-hal yang saling berkaitan dengan ibu-ibu dalam masalah sholat.
Bahasa Nonverbal:
Ustaz menatap ibu-ibu pengajian dengan raut wajah yang serius dan menyakinkan; tangan kanan digerakkan ke atas dengan jari telunjuk; gerakan kepala ke kiri.
Konteks:
Tuturan terjadi saat sore hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di masjid Jami’ Desa Sindangkasih. Penutur adalah seorang ustaz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Penutur sedang memberikan ceramah agama pada para ibu.
Berdasarkan Data 23 (I1), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sindangkasih. Tuturan terjadi saat sore hari.
Suasana tuturan formal dan berlangsung di masjid Jami’ Desa Sindangkasih.
Penutur adalah seorang ustaz, sedangkan mitra tutur adalah ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih. Penutur sedang memberikan ceramah agama pada para ibu.
Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Amal sholeh itu, pertama ada perintah Allah. Dua, ada contoh. Ketiga ikhlas” dan “Banyak kaitannya hal-hal yang saling
berkaitan dengan ibu-ibu dalam masalah sholat“.Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi. Tuturan tersebut hanya berjalan satu arah.
Artinya, tuturan tersebut bermakna dan bermaksud untuk memberikan informasi mengenai Hijrah pada ibu-ibu pengajian.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 23 (I1) dalam penelitian ini yaitu Ustaz menggerakkan tangan kanan digerakkan ke atas dengan jari telunjuk dan Ustaz menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal gestural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu Ustaz menyampaikan ceramah agama pada ibu-ibu pengajian di Desa Sindangkasih.
Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal gestural tersebut menyatakan maksud memberikan informasi. Maksud tersebut ditunjukkan untuk memberikan pengetahuan mengenai amal saleh. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala keotoritasan, skala pilihan, dan skala ketidaklangsungan. Skala keotoritasan merujuk pada hubungan status sosial antara ustaz dengan ibu-ibu pengajian. Skala pilihan dan skala ketidaklangsungan merujuk pada langsung atau tidaknya tuturan disampaikan bahwa secara tidak langsung uztaz memberikan pengetahuan tentang amal saleh.
c. Makna Pragmatik Bahasa Nonverbal Postural
Berikut ini merupakan makna pragmatik bahasa nonverbal postural yang dominan dalam peristiwa tutur di Kecamatan Sindangkasih. Makna pragmatik
bahasa verbal dan nonverbal dalam penelitian ini mengacu tuturan dan gerakan seluruh tubuh. Artinya, makna pragmatik pemakaian bahasa nonverbal postural dalam penelitian ini mengacu pada gerakan seluruh tubuh penutur untuk menyampaikan maksud kesantunan. Data-data tersebut disajikan sebagai berikut
Data 24 (E4)
(I)
Bahasa Verbal:
Asisten Bidan: Upami teu panas mah teu kening dipasihkeun deui
Kalau tidak panas jangan diberikan lagi.
Bahasa Nonverbal:
Asisten bidan menatap ibu dengan raut wajah serius; asisten bidan memegang obat dengan kedua tangannya; gerakan kepala ke kiri.
Ibu bayi menatap obat yang diberikan oleh asisten bidan; ibu bayi mengambil obat yang diberikan oleh asisten bidan dengan tangan kanan.
(II)
Bahasa Verbal:
Ibu bayi : Engke dipasihan vitamin itu?
Nanti diberikan vitamin itu?
Bahasa Nonverbal:
Ibu bayi menatap ke arah ibu yang memberi vitamin yang berada di sebelah kiri dengan raut wajah serius; asisten bidan menatap ibu bayi dengan raut wajah yang serius; gerakan kepala ibu bayi menoleh ke kiri.
(III)
Bahasa Verbal:
Asiten Bidan : ieu sabara sasih? Can sataum!
Ini berapa bulan? Belum setahun!
Bahasa Nonverbal:
Asisten bidan menatap ibu bayi dengan raut wajah serius; Ibu bayi menatap asisten bidan dengan raut wajah yang serius; asisten bidan mengangkat kedua tangannya dan diletakkan di depan dada.
(IV)
Bahasa Verbal:
Ibu bayi : 19 bulan, tiasa?
19 bulan, bisa?
Bahasa Nonverbal:
Asisten bidan menatap ibu bayi dengan raut wajah serius; Ibu bayi menatap asisten bidan dengan raut wajah yang serius; asisten bidan mengangkat tangan kanan dan diletakkan di depan dada.
(V)
Bahasa Verbal:
Asisten Bidan : tiasa Bisa
Bahasa Nonverbal:
Asisten bidan berdiri dan mengangkat tangan kanan di depan dada.
Konteks:
Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung di ruang posyandu. Penutur merupakan asisten bidan desa dan mitra tutur adalah ibu bayi yang sedang posyandu. Asisten bidan desa sedang memberikan penjelasan cara pemberian obat pada anak.
Berdasarkan Data 24 (E4), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan pengajian rutin mingguan di Desa Sindangkasih. Tuturan terjadi saat pagi hari.
Suasana tuturan formal dan berlangsung di ruang posyandu. Penutur merupakan asisten bidan desa dan mitra tutur adalah ibu bayi yang sedang posyandu. Asisten
bidan desa sedang memberikan penjelasan cara pemberian obat pada anak. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Kalau tidak panas jangan diberikan lagi”, “Nanti diberikan vitamin itu?”, “Ini berapa bulan? Belum setahun!”, “19 bulan, bisa?”, dan “Bisa“. Tindak tutur penutur mengandung lokusi dan ilokusi bahwa penutur tidak hanya memberikan informasi pada ibu bayi tetapi memahami maksud dikemukakan oleh bidan. Artinya, tuturan tersebut bermakna dan memiliki maksud.
Bahasa nonverbal gestural pada Data 24 (E4) dalam penelitian ini yaitu Asisten bidan berdiri di hadapan salah satu ibu dari balita; asisten bidan mengangkat tangan kanan di depan dada. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal postural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu asisten bidan desa sedang memberikan penjelasan cara pemberian obat pada salah satu ibu di posyandu. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal postural tersebut menyatakan maksud perintah. Maksud perintah ditunjukkan untuk memberikan pengetahuan mengenai cara pemberian obat pada bayi. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala keotoritasan yang merujuk pada hubungan status sosial antara ibu bidan dengan pasien.
Data 25 (F3) (I)
Bahasa Verbal:
Abi ayeuna bade penyuluhan vitamin A untuk balita nya bu.
Sekarang, saya ingin memberikan penyuluhan vitamin A untuk balita bu.
Bahasa Nonverbal:
Ibu kader menatap ibu-ibu dengan raut wajah serius dan sesekali menatap buku untuk dibacanya; berdiri dengan memegang buku;
gerakan kepala ke kiri.
(II)
Bahasa Verbal:
Vitamin A bersumber dari sayur-sayuran berwarna hijau, seperti bayam, daun katuk, serta buah-buahan segar berwarna segar, seperti pepaya, tomat, wortel, mangga.
Sumber hewani, seperti telur, hati, dan ikan.
Bahasa Nonverbal:
Ibu kader menatap ibu-ibu dengan raut wajah serius dan sesekali menatap buku untuk dibacanya; berdiri dengan memegang buku; gerakan kepala ke kiri.
Konteks:
Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung diruang posyandu. Penutur merupakan anggota kader posyandu mitra tutur adalah ibu-ibu di Desa Gunungcupu. Ibu anggota kader sedang memberikan penyuluhan tentang vitamin A pada ibu-ibu.
Berdasarkan Data 25 (F3), data tersebut terjadi saat pelaksanaan kegiatan posyandu di Desa Gunungcupu. Tuturan terjadi saat pagi hari. Suasana tuturan formal dan berlangsung diruang posyandu. Penutur merupakan anggota kader posyandu mitra tutur adalah ibu-ibu di Desa Gunungcupu. Ibu anggota kader sedang memberikan penyuluhan tentang vitamin A pada ibu-ibu. Bahasa verbal dalam data tersebut yaitu “Sekarang, saya ingin memberikan penyuluhan vitamin A untuk balita bu”, dan “Vitamin A bersumber dari sayur-sayuran berwarna hijau, seperti bayam, daun katuk, serta buah-buahan segar berwarna segar, seperti
pepaya, tomat, wortel, mangga. Sumber hewani, seperti telur, hati, dan ikan“.
Tuturan tersebut disebut sebagai tindak tutur penutur yang mengandung lokusi.
Artinya, tuturan tersebut bermakna bahwa penutur hanya sekadar memberikan informasi mengenai vitamin A.
Bahasa nonverbal postural pada Data 25 (F3) yaitu Ibu kader berdiri dengan memegang buku dan ibu kader menggerakkan kepala ke kiri. Maksud penutur akan tersampaikan dengan baik melalui pemakaian bahasa verbal dan bahasa nonverbal postural tersebut. Maksud tersebut bisa dipahami berdasarkan konteks, yaitu seorang ibu anggota kader posyandu yang sedang memberikan penyuluhan tentang vitamin A pada ibu-ibu. Dengan demikian, makna pragmatik pemakaian bahasa verbal dan nonverbal postural tersebut menyatakan maksud menyampaikan informasi. Maksud tersebut ditunjukkan untuk memberikan informasi mengenai vitamin A. Pemakaian bahasa verbal dan nonverbal kinestetik tersebut memenuhi skala pilihan yang merujuk pada banyak sedikitnya tuturan yang disampaikan pada ibu-ibu posyandu.