BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.3.1 Makna Register Primer
Makna primer (Putu dan Muhammad, 2008:17) merupakan makna dasar kata yang terlepas dari konteks penggunaanya di dalam kalimat. Makna primer berkaitan dengan makna leksikal. makna denotatif, dan makna literal yaitu makna yang dimiliki
atau dipahami tanpa bantuan konteks. Berikut ini kalimat-kalimat yang mengandung kata register dan mengandung makna primer.
(21) Penerimaaan itu disumbang baik dari penerimaan pajak yang tumbuh mencapai 15,2%, penerimaan bea cukai tumbuh 14,7% dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh 28,4%. (MRP 9)
Pada kalimat (21) terdapat kata register pajak yang diberi kode (MRP 9).
Kutipan di atas penulis menggambarkan sebagai wartawan yang sedang mewawancarai narasumber yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani pada tanggal 6 Desember 2018. Narasumber memberikan tanggapan mengenai pendapatan negara Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat karena adanya faktor pajak dan bea cukai. Hal ini kata pajak memiliki makna yang jelas dan pasti tanpa harus terikat dengan konteks (Putu dan Muhammad, 2008:17). Kata pajak dapat diketahui memiliki makna primer dengan melalui teknik ganti seperti berikut ini.
(21a) Penerimaaan itu disumbang baik dari penerimaan pajak yang tumbuh mencapai 15,2%, penerimaan bea cukai tumbuh 14,7% dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh 28,4%. (MRP 9)
(21b) Penerimaaan itu disumbang baik dari penerimaan pungutan wajib yang tumbuh mencapai 15,2%, penerimaan bea cukai tumbuh 14,7% dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh 28,4%. (MRP 9)
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kalimat di atas, dapat diketahui bahwa kata pajak dan pungutan wajib mempunyai kesamaan kelas karena dalam pemakaian dapat saling menggantikan seperti pada data (21a) dan (21b). Selain itu, kata pungutan wajib merupakan makna asli dari pajak (Kamus Istilah Ekonomi). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kata pajak memiliki makna primer.
(22) Dalam menjalankan bisnisnya, Rayhn Wealth Advisory didukung sumber daya yang professional dan berpengalaman di bidang investasi (investment), asuransi, pajak, pension dan pewarisan. (MRP 22)
Pada kalimat (22) terdapat kata register investasi yang diberi kode (MRP 22).
Kutipan di atas penulis menggambarkan sebagai wartawan yang sedang mewawancarai narasumber yaitu Direktur Perusahaan Rayhn Wealth Advisory pada tanggal 14 Desember 2018. Narasumber memberi tanggapan bahwa perusahaan Rayhn Wealth Advisory akan membantu masyarakat untuk dilatih mengelola perencanaan keuangan melalui sumber daya yang profesional dan berpengalaman di bidangnya. Kata investasi memiliki makna yang jelas dan pasti tanpa harus terikat dengan konteks (Putu dan Muhammad, 2008:17). Hal ini dapat diketahui melalui teknik ganti seperti berikut ini.
(22a) Dalam menjalankan bisnisnya, Rayhn Wealth Advisory didukung sumber daya yang professional dan berpengalaman di bidang investasi (investment), asuransi, pajak, pension dan pewarisan. (MRP 22)
(22b) Dalam menjalankan bisnisnya, Rayhn Wealth Advisory didukung sumber daya yang professional dan berpengalaman di bidang pendanaan, asuransi, pajak, pension dan pewarisan. (MRP 22)
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kalimat di atas, dapat diketahui bahwa kata investasi dan pendanaan mempunyai kesamaan kelas karena dalam pemakaian dapat saling menggantikan seperti pada data (22a) dan (22b). Selain itu, kata pendanaan merupakan makna asli dari investasi (Kamus Istilah Ekonomi). Dengan demikian, dapat disimpulkam bahwa kata investasi memiliki makna primer.
(23) Umumnya laporan yang diterima antara lain nasabah tidak mengembalikan pinjaman tepat waktu yang berujung pada perhitungan suku bunga dan penagihan. (MRP 18)
Pada kalimat (23) terdapat kata register nasabah yang diberi kode (MRP 18).
Kutipan di atas penulis menggambarkan sebagai wartawan yang sedang mewawancarai narasumber pada tanggal 12 Desember 2018. Narasumber tersebut menjelaskan bahwa nasabah tidak bisa mengembalikan pinjaman tepat waktu karena dampak dari OJK atas penyelenggaraan P2P. Kata nasabah memiliki makna jelas dan pasti tanpa harus terikat dengan konteks (Putu dan Muhammad, 2008:17). Hal ini dapat diketahui melalui teknik ganti seperti berikut ini.
(23a) Umumnya laporan yang diterima antara lain nasabah tidak mengembalikan pinjaman tepat waktu yang berujung pada perhitungan suku bunga dan penagihan. (MRP 18)
(23b) Umumnya laporan yang diterima antara lain konsumen tidak mengembalikan pinjaman tepat waktu yang berujung pada perhitungan suku bunga dan penagihan. (MRP 18)
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kalimat di atas, dapat diketahui bahwa kata nasabah dan konsumen mempunyai kesamaan kelas karena dalam pemakaian dapat saling menggantikan seperti data (23a) dan (23b). Selain itu, kata konsumen merupakan makna asli dari nasabah (Kamus Istilah Ekonomi). Dengan demikian, dapat disimpulokan bahwa kata nasabah memiliki makna primer.
(24) Faktor internal yang mempengaruhi pernyataan nilai tukar rupiah diantaranya penjualan obligasi negara yang dibeli asing. (MRP 47)
Pada kalimat (24) terdapat kata register obligasi yang diberi kode (MRP 47).
Kutipan di atas penulis menggambarkan sebagai wartawan yang sedang mewawancarai narasumber yaitu Prof. Edy Hamid selaku pakar ekonomi pada tanggal 13 Januari 2019. Narasumber meberikan informasi tentang adanya beberapa faktor yang terjadi dalam penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika diantaranya penjualan obligasi. Kata obligasi memiliki makna yang jelas dan pasti tanpa harus terikat dengan kmteks (Putu dan Muhammad, 2008:17). Hal ini dapat diketahui melalui teknik ganti seperti berikut.
(24a) Faktor internal yang mempengaruhi pernyataan nilai tukar rupiah diantaranya penjualan obligasi negara yang dibeli asing. (MRP 47)
(24b) Faktor internal yang mempengaruhi pernyataan nilai tukar rupiah diantaranya penjualan surat utang negara yang dibeli asing. (MRP 47)
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kalimat di atas, dapat diketahui bahwa kata obligasi dan surat utang mempunyai kesamaan kelas karena dalam pemakaian dapat saling menggantikan seperti pada data (24a) dan (24b). Selain itu, kata surat utang merupakan makna asli dari obligasi (Kamus Istilah Ekonomi). Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa kata obligasi memiliki makna primer.
(25) Adapun neraca perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2019 mengalami surplus 0,33 miliar dolar AS. (MRP 63)
Pada kalimat (25) terdapat kata register surplus yang diberi kode (MRP 63).
Kutipan di atas penulis menggambarkan sebagai wartawan yang sedang mewawancarai seorang narasumber pada tanggal 15 Maret 2019. Narasumber
memberikan informasi tentang neraca perdagangan di Indonesia apabila dirata-rata masih mengalami defisit sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kata surplus memiliki makna yang jelas dan pasti tanpa harus terikat dengan konteks (Putu dan Muhammad, 2008:17). Hal ini dapat diketahui melalui teknik ganti seperti berikut ini.
(25a) Adapun neraca perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2019 mengalami surplus 0,33 miliar dolar AS. (MRP 63)
(25a) Adapun neraca perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2019 mengalami keuntungan 0,33 miliar dolar AS. (MRP 63)
Dengan menerapkan teknik ganti dalam kalimat di atas, dapat diketahui bahwa kata surplus dan keuntungan mempunyai kesamaan kelas karena dalam pemakaian dapat saling menggantikan seperti data (25a) dan (25b). Selain itu, kata keuntungan merupakan makna asli dari surplus (Kamus Istilah Ekonomi). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kata surplus memiliki makna primer. Data (21) kode (MRP 9), (22) kode (MRP 22), (23) kode (MRP 18), (24) kode (MRP 47), (25) kode (MRP 63) merupakan sampel analisis data dari makna register primer yang berjumlah 65 (enam puluh lima) kata yang terdapat dalam lampiran.