• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.2 Maksud Implikatur dalam Pojok

Maksud dapat diartikan sebagai yang dikehendaki; tujuan; niat; arti; makna (dari suatu perbuatan, perkataan, peristiwa, dan sebagainya) dalam KBBI (Depdiknas, 2005). Dalam hal ini, maksud dari implikatur adalah sesuatu yang bertujuan atau mempunyai niat dalam perkataan atau peristiwa, yang ada dalam pikiran penutur ditujukan untuk mitra tutur. Suatu maksud tersebut tidak diungkapkan secara gamblang oleh penutur, melainkan diungkapkan dengan cara implisit. Oleh karena itu, untuk mengetahui maksud tuturannya, perlu adanay peran konteks, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

4.2.2.1 Maksud Berspekulasi/Memberikan Spekulasi

Berasal dari kata dasar spekulasi yang memiliki arti pendapat atau dugaan yang tidak berdasarkan kenyataan; tindakan yang bersifat untung-untungan (KBBI

berspekulasi atau memberikan spekulasi yang ditemukan dalam pojok surat kabar KOMPAS edisi Juli – September 2011.

(1) Letjen Pramono Edhie Wibowo dilantik sebagai KSAD.

Tentu bukan karpet merah ke 2014, kan? (KOMPAS, Jumat, 1 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan ini mengenai berita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Letnan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal TNI George Toisutta pada Kamis, 30 Juni 2011).

(2) Purnawirawan inginkanYudhoyono dipertahankan sampai 2014.

Siap, jenderal! Berikutnya, sapa? (KOMPAS, Rabu, 6 Juli 2011)

(Konteks: tuturan mengenai keinginan Purnawirawan TNI dan Polri untuk mempertahankan pemerintahan SBY sampai tahun 2014, dikaitkan dengan kecenderungan sejak orde baru, militer memiliki peran dalam politik di Indonesia).

(3) Pemerintah mengaku tak sanggup garap program rumah murah.

Komisinya tipis ...

(KOMPAS, Kamis, 28 Juli 2011)

(Konteks: tuturan ini dikemukakan oelh Suharso Manoafa, Menteri Perumahan Rakyat, pada Selasa, 26 Juli 2011 dalam acara lokakarya di Jakarta. Beliau pesimis untuk dapat menargetkan pembangunan sebanyak 50.000 unit, dikarenakan kurangnya pembiayaan, pengaturan tata ruang, dan penyediaan lahan).

Ilokusi dari tuturan “Tentu bukan karpet merah ke 2014, kan?” dalam percakapan (1) bertujuan untuk memastikan dengan menyatakan dugaan, apakah Letjen Edhie Pramono Wibowo akan dicalonkan sebagai presiden di tahun 2014. Perlokusi dengan munculnya tanggapan tersebut, masyarakat akan merasa was-was atau curiga apabila Letjen Edhie Pramono Wibowo dicalonkan sebagai presiden di tahun 2014, karena adanya unsur nepotisme, yaitu suatu sikap yang cenderung mengutamakan sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan atau pangkat di lingkungan pemerintah.

Tuturan dalam percakapan (1) “Tentu bukan karpet merah ke 2014, kan?” merupakan implikatur dengan maksud berspekulasi atau memberikan spekulasi. Tuturan ini dibuat oleh Mang Usil untuk menanggapi berita terkait pelantikan Letjen Edhie Pramono Wibowo sebagai KSAD menggantikan Jenderal TNI George Toisutta, pada Kamis, 30 Juni 2011. Ada beberapa masyarakat yang mengira bahwa pelantikan Letjen Edhie Pramono Wibowo mengandung unsur nepotisme, yakni sikap yang cenderung untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan (pangkat di lingkungan pemerintah). Pelantikan Letjen Pramono Edhie Wibowo sebagai KSAD diduga oleh Mang Usil dikaitkan dengan isu yang berkembang saat itu bahwa Beliau akan dijadikan calon presiden dalam pemilu 2014. Selain itu, status Beliau adalah putra mantan Komandan Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus), Sarwo Edhie Wibowo (alm.), yang juga adik Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh sebab itu, Mang Usil memunculkan tanggapan tersebut untuk menyatakan dugaannya (spekulasi) bahwa kemungkinan adanya pencalonan Letjen Edhie Prabowo untuk maju dalam Pilpres 2014.

Ilokusi dalam tuturan percakapan (2) “Siap, jenderal! Berikutnya, sapa?” bertujuan untuk menyatakan dugaan Mang Usil mengenai siapa yang akan diajukan sebagai calon presiden berikutnya yang didatangkan dari kalangan militer. Perlokusinya adalah munculnya kecurigaan masyarakat, bahwa setiap pencalonan presiden pasti ada salah satu kandidat yang berasal dari kalangan militer.

Tuturan “Siap, jenderal! Berikutnya, sapa?” mengandung implikatur dengan maksud berspekulasi atau memberikan spekulasi. Munculnya tanggapan ini karena adanya berita atau informasi yang memberitahukan bahwa Purnawirawan menginginkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih ingin dipertahankan sebagai Presiden RI hingga 2014. Mang Usil mengaitkannya dengan kecenderungan sejak orde baru, kalangan militer selalu digadang partai untuk dicalonkan agar memiliki peranan dalam politik Indonesia. Sebagai contoh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan pensiunan jenderal bintang empat, maju dalam Pilpres melalui Partai Demokrat. Wiranto yang merupakan mantan Panglima TNI, dan sempat mencalonkan diri dalam Pilpres tahun 2004, pada saat itu berpasangan dengan Solahuddin Wahid. Masih dalam tahun yang sama, tahun 2009, Prabowo Subianto dengan pangkat terakhirnya, yakni Letnan Jenderal (Jend. bintang tiga) maju dalam pemilihan presiden. Dari sejarah tersebut, muncullah tanggapan Mang Usil dengan maksud untuk menduga siapakah yang akan dicalonkan sebagai presiden RI 2014 dari kalangan militer.

Ilokusi dari tuturan ”Komisinya tipis ...” pada data (3) yaitu adanya kemungkinan kekurangan anggaran untuk program pembangunan rumah murah. Perlokusi dari tuturan tersebut adalah kecurigaan masyarakat akan adanya dana yang dimanipulasi atau dikorupsi oleh pemerintah yang bersangkutan dalam program rumah murah tersebut.

Tuturan ”Komisinya tipis ...” dalam data (3) merupakan implikatur dengan maksud memberikan/menyatakan spekulasi (dugaan). Hal ini terlihat dalam tanggapan yang diberikan Mang Usil dalam menanggapi berita mengenai program

rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang menurut Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Manoarfa, kemungkinan hanya sekitar 8.600 unit yang bisa tercapai dari 50.000 unit. Dalam berita di surat kabar KOMPAS pada Rabu, 27 Juli 2011, pemerintah mengaku tidak mampu untuk menggarap proyek tersebut dikarenakan adanya beberapa hambatan, seperti kurangnya lahan, pengaturan tata letak, dan kurangnya pembiayaan. Berangkat dari alasan pemerintah itulah, Mang Usil memberikan tanggapan dengan dugaan bahwa kemungkinan adanya tindak korupsi yang dilakukan oleh pemerintah yang bersangkutan.

4.2.2.2 Maksud Memberikan Kesaksian

Memberikan kesaksian berarti memberikan sebuah keterangan (pernyataan) akan suatu hal kepada lawan tutur. Memberikan kesaksian bersifat sebagai penegas informasi dalam memberikan pernyataan atau informasi.

(4) Brimob dikerahkan untuk usir preman bandara.

Tepatnya diusir sementara. (KOMPAS, Kamis, 7 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut merupakan berita mengenai PT Angkasa Pura II yang akhirnya mengambil langkah represif dengan melibatkan pasukan dari Brigadir Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan mengerahkan satu kompi Brimob atau setara 100 personel untuk mengusir pelaku usaha ilegal (calo tiket, preman, taksi gelap) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta).

(5) Singkatan nama kota diseragamkan.

Maksudnya akronim, SBY sudah ada yang punya, lho. (KOMPAS, Selasa, 6 September 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut mengenai pembakuan dan penyeragaman singkatan untuk nama-nama kota di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional (BSN) dengan mengeluarkan SNI 7657:2010 tentang Singkatan Nama Kota. Singkatan nama kota perlu

distandarkan untuk keperluan teknis dan administratif agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran).

(6) Mendagri merasa ada mafia gagalkan proyek KTP selesai 2012.

Apapun istilahnya, Indonesia lahan subur banditisme! (KOMPAS, Rabu, 21 September 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut merupakan pemberitaan mengenai Mendagri Gamawan Fauzi yang mensinyalir ada mafia yang akan menggagalkan proyek pembuatan e-KTP).

Ilokusi dari tuturan “Tepatnya diusir sementara” pada data percakapan (4) memiliki tujuan untuk protes mengenai usaha PT Angkasa Pura dalam membasmi para calo dan preman di Bandara Soekarno – Hatta yang hanya bersifat sementara. Perlokusi dari tuturan tersebut adalah adanya usaha yang serius dari PT Angkasa Pura ataupun pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak ada lagi calo dan preman di bandara.

Tuturan “Tepatnya diusir sementara” dalam data percakapan (4) merupakan implikatur dengan maksud memberikan kesaksian. Maksud tuturan tersebut adalah memberikan kesaksian atas suatu hal yang pernah terjadi. Munculnya tanggapan tersebut oleh Mang Usil bertujuan untuk memberikan bukti bahwa sebelumnya, sekitar bulan Mei – Juni 2011 telah dilakukan penertiban secara persuasif di Bandara Internasional Soekarno – Hatta, namun tidak membuahkan hasil. Para calo atau preman masih tetap berkeliaran di tempat tersebut. Oleh karena itu, tanggapan pada data percakapan (4) merupakan implikatur memberikan kesaksian, yakni dengan menunjukkan bukti usaha pada dua bulan lalu yang dinilai gagal untuk mengamankan bandara dari para calo dan preman.

Ilokusi dari tuturan “Maksudnya akronim, SBY sudah ada yang punya,

lho” dalam data percakapan (5) adalah mendeklarasikan kepada pembaca atau

pendengar mengenai akronim SBY sudah digunakan. Perlokusi dari tuturan tersebut adalah pembaca atau pendengar akan memahami siapa yang dimaksud dengan SBY itu.

Tuturan “Maksudnya akronim, SBY sudah ada yang punya, lho” dalam data percakapan (5) merupakan implikatur dengan maksud memberikan kesaksian. Maksud dari tuturan tersebut adalah ingin memberikan bukti kepada pembaca atau pendengar bahwa SBY yang lain yang dimaksudkan oleh Mang Usil adalah Bapak Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ilokusi dari tuturan “Apapun istilahnya, Indonesia lahan subur

banditisme!” pada data percakapan (6) adalah buruknya keadaan Indonesia karena

banyaknya penjahat yang berseliweran. Perlokusi yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah hilangnya rasa percaya masyarakat terhadap pemerintah di Indonesia.

Tuturan “Apapun istilahnya, Indonesia lahan subur banditisme!” pada data percakapan (6) merupakan implikatur dengan maksud memberikan kesaksian. Dalam berita, diberikan informasi mengenai adanya mafia yang ingin menggagalkan proyek e-KTP selesai 2012. Mendagri, Gamawan Fauzi, mensiyalir mafia tersebut berasal dari luar Kemdagri. Implikasi dari tuturan tersebut adalah ingin memberitahu dengan menegaskan pada pembaca atau pendengar bahwa di Indonesia, tingkat orang jahat di Indonesia tumbuh dengan subur. Tidak

berjalannya hukum sesuai fungsinya, sehingga semakin menumpuklah kejahatan yang ada di Indonesia.

4.2.2.3 Maksud Mengakui

Mengakui memiliki arti menyatakan sesuatu mengenai suatu keadaan atau kejadian yang terkadang berdasarkan asumsi pribadi. Berikut peneliti berikan data, serta akan menjabarkan data tersebut mengenai implikatur dengan maksud

mengakui.

(7) Pemerintah alami dilema kebijakan BBM.

Maklum, pemerintahan dilema. (KOMPAS, Rabu, 6 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut terkait dengan berita bahwa pemerintah mengalami dilema dalam menetapkan kebijakan bahan bakar minyak (BBM). Tanpa pengendalian konsumsi BBM bersubsidi atau kenaikan harga BBM, anggaran subsidi BBM pada akhir tahun 2011 diperkirakan akan melonjak dari target awal Rp 95,9 triliun menjadi Rp 120,8 triliun).

(8) Sayidiman Suryohadiprojo: Akhiri proses pembangkrutan!

Bukan cuma bangkrut, Jenderal! Sudah habis-habisan kita! (KOMPAS, Jumat, 8 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan ini dikemukakan oleh Sayidiman Suryohadiprojo mengenai bangsa Indonesia yang sedang diliputi persoalna berat dan membuatnya semakin berantakan. Korupsi makin merajalela di semua lapisan masyarakat, serta kriminalitas kian merusak dan membahayakan kehidupan masyarakat. Di samping itu, adanya radikalisme yang membuat kehidupan bangsa semakin jauh dari asas gotong royong dan rakyat belum kunjung sejahtera. Yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin menderita).

Tuturan “Maklum, pemerintahan dilema” pada data percakapan (7) mengandung ilokusi menyatakan penilaian mengenai sikap presiden RI yang dilema. Perlokusi yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah minimnya rasa

percaya masyarakat terhadap presiden, karena dinilai lamban dan tidak tegas dalam mengambil suatu keputusan.

Tuturan “Maklum, pemerintahan dilema” pada data percakapan (7) merupakan implikatur dengan maksud mengakui, yakni mengakui bahwa sikap pemerintahan SBY selama ini selalu dilema, tidak tegas, dan selalu ragu dalam mengambil kebijakan. Dalam berita yang dimuat dalam surat kabar KOMPAS, Selasa, 5 Juli 2011, pemerintah mengalami dilema dalam menentukan kebijakan kenaikan BBM.

Ilokusi tuturan “Bukan cuma bangkrut, Jenderal! Sudah habis-habisan

kita!” pada data percakapan (8) adalah sebuah penyampaian protes Mang Usil

bahwa negara Indonesia memang sudah bangkrut atau krisis dalam bidang keamanan, politik, dan perekonomian. Perlokusi dari tuturan tersebut adalah kekecewaan dan hilangnya harapan masyarakat Indonesia akan keadaan negaranya.

Tuturan “Bukan cuma bangkrut, Jenderal! Sudah habis-habisan kita!” pada data percakapan (8) merupakan implikatur dengan maksud mengakui, yakni Mang Usil mengakui bahwa keadaan negara Indonesia memang sudah bangkrut dan situasinya semakin berantakan dan memprihatinkan. Keadaan tersebut disebabkan oleh semakin tingginya tingkat kejahatan di lingkungan masyarakat, seperti pencurian, pelecehan seksual, pembunuhan. Dalam bidang politik, semakin gencarnya elite politik memanfaatkan posisinya untuk melakukan korupsi. Hal inilah yang membuat rakyat semakin menderita, sedangkan para elite politik semakin jaya.

4.2.2.4 Maksud Menunjukkan

Tuturan menunjukkan memiliki tujuan untuk menyatakan, memperlihatkan, atau menerangkan sesuatu mengenai keadaan dengan bukti. Peneliti menemukan beberapa data implikatur dengan maksud menunjukkan.

(9) Seorang ibu diancam lima tahun penjara karena dituduh mencuri

sarung bekas.

Ironinya: koruptor perampok uang negara melenggang kangkung. (KOMPAS, Sabtu, 9 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut adalah pemberitaan mengenai Amsirah (40 tahun), warga Desa Tamberu, Kecamatan Batu Mar-Mar, Kabupaten Madura, Jawa Timur yang dituduh mencuri sarung bekas milik majikannya).

Tuturan “Ironinya: koruptor perampok uang negara melenggang

kangkung” memiliki ilokusi mengkritik pemerintah agar adil dalam memberikan

hukuman, jangan berat sebelah, dan jangan memandang dari latar belakang atau statusi sosial masyarakat. Perlokusi dari tuturan tersebut adalah adanya kesadaran pemerintah untuk adil, terutama dalam menjatuhkan hukuman.

Tuturan Ironinya: koruptor perampok uang negara melenggang

kangkung” pada data percakapan (9) merupakan implikatur dengan maksud menunjukkan. Hal tersebut nampak pada tanggapan yang diberikan Mang Usil

dengan memberikan perbandingan antara rakyat biasa dan koruptor.

Dalam berita, seorang janda tersebut hanya mencuri sarung bekas milik majikannya dan dijual kepada tetangga dengan harga Rp 15.000,- guna membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit, karena tindakannya tersebut janda yang berusia 40 tahun dipenjara sejak bulan Maret. Menjadi sangat kontras saat Mang Usil membandingkannya dengan para koruptor sudah sangat jelas merugikan negara dan rakyatnya dengan mencuri uang yang bukan miliknya, tapi pemerintah

tidak mengusut permasalahan tersebut hingga tuntas, bahkan kalaupun koruptor tersebut dipenjara, mereka tetap mendapatkan fasilitas yang lebih baik dibanding dengan janda tersebut.

4.2.2.5 Maksud Melaporkan

Melaporkan yaitu memberitahukan apa yang terjadi. Tuturan ini bersifat reportase. Berikut ada beberapa data berupa implikatur dengan maksud melaporkan yang ditemukan dalam surat kabar KOMPAS edisi bulan Juli – September 2011.

(10) Belanja di bulan puasa diprediksi naik 10 persen.

Harga barang sudah pasti naik duluan! (KOMPAS, Kamis, 21 Juli 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut adalah pemberitaan mengenai kenaikan barang dagangan saat bualan puasa. Hasil riset Nielsen yang dipublikasikan pada Selasa, 19 Juli 2011, menunjukkan pada tahun 2010 barang naik sebesar 9,2 persen dan diprediksi akan naik lebih dari 10 persen pada bulan puasa tahun 2011).

Tuturan “Harga barang sudah pasti naik duluan!” pada data percakapan (10) memiliki ilokusi tidak hanya untuk memberitahukan kepada masyarakat mengenai prediksi naiknya harga barang menjelang puasa, tetapi juga meminta untuk dapat menerima kenyataan kenaikan harga barang. Perlokusi dari tuturan tersebut yaitu masyarakat memaklumi keadaan tersebut setiap menjelang puasa.

Tuturan “Harga barang sudah pasti naik duluan!” pada data tuturan (10) mengandung implikatur dengan maksud melaporkan. Implikatur dengan maksud

prediksi kenaikan harga barang selama bulan puasa tahun 2011 naik 10 persen dari hasil riset Nielsen. Maksud tuturan “Harga barang sudah pasti naik

duluan!”, yakni ingin memberitahu kepada pembaca atau pendengar bahwa

sebelum adanya riset tersebut dipublikasikan pada Selasa, 19 Juli 2011, harga barang sudah naik dulu.

4.2.2.6 Maksud Mengungkapkan

Tuturan mengungkapkan memiliki maksud untuk menyatakan suara hati dengan perkataan atau gerak-gerik; membuktikan, menyingkapkan tentang suatu hal yang awalnya masih menjadi rahasia atau tidak diketahui oleh banyak orang. Berikut peneliti menjabarkan beberapa data yang mengandung implikatur dengan maksud mengungkapkan.

(11) Parpol yang terlibat korupsi perlu diberi “kartu merah”

Bisa-bisa semua kena kartu merah. (KOMPAS, Kamis, 4 Agustus 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut merupakan berita mengenai patai politik yang terlibat korupsi perlu diberi “kartu merah” dengan tujuan untuk memberikan efek jera, sehingga politik dapat bersih dari perilaku korupsi).

(12) Presiden perintahkan Polri tangkap buronan lain.

Mudah-mudahan kali ini perintah dilaksanakan ... (KOMPAS, Sabtu, 13 Agustus 2011)

(Konteks: Tuturan Presiden SBY dalam pembukaan sidang kabinet di kantornya pada Kamis, 11 Agustus 2011, yang meminta Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk mengejar dan menangkap buron yang lain atas keberhasilannya menangkap Nazaruddin).

Ilokusi dari tuturan “Bisa-bisa semua kena kartu merah” pada data percakapan (11) bermaksud untuk mengungkapkan pikiran penutur mengenai

anggota partai politik yang tidak sedikit terlibat korupsi. Perlokusi yang terdapat dalam tuturan tersebut yaitu munculnya kecurigaan masyarakat terhadap partai-partai yang terlibat korupsi.

Tuturan “Bisa-bisa semua kena kartu merah” pada data percakapan (11) mengandung implikatur dengan maksud mengungkapkan. Dalam pemberitaan surat kabar KOMPAS, disebutkan bahwa partai politik yang terlibat dalam korupsi akan diberi “kartu merah” dengan tujuan agar memberikan efek jera bagi para koruptor. Munculnya tanggapan Mang Usil terkait berita tersebut mengimplikasikan bahwa tidak hanya satu atau dua partai politik di Indonesia yang terlibat korupsi, namun ada beberapa partai politik yang menyeret anggota dari partai tersebut. Diantaranya ada partai Golkar, Demokrat, PAN, dan PDIP. Tuturan yang dicetak miring tersebut mengandung modus untuk menyatakan.

Tuturan “Mudah-mudahan kali ini perintah dilaksanakan ...” pada data percakapan (12) mengandung ilokusi harapan agar Polri mau untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Presiden. Perlokusi dari tuturan tersebut Polri serius dan sadar akan tugasnya untuk menangkap buronan yang lain.

Tuturan “Mudah-mudahan kali ini perintah dilaksanakan ...” pada data percakapan (12) mengandung implikatur dengan maksud mengungkapkan. Melalui tuturan “mudah-mudahan …” Mang Usil mengungkapkan bahwa dalam beberapa kali Presiden SBY memberikan instruksi atau arahan kepada para menterinya tidak sepenuhnya dijalankan. Munculnya tuturan tersebut dilatarbelakangi oleh kejadian sebelumnya, yakni adanya pemberitaan dalam surat kabar KOMPAS pada Jumat, 8 Juli 2011, kurang dari 50 persen instruksi dari

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dijalankan oleh para menterinya. Mang Usil mengaitkan berita KOMPAS pada Jumat, 12 Agustus 2011 dengan berita KOMPAS pada Jumat, 8 Juli 2011.

4.2.2.7 Maksud Menyatakan

Tuturan menyatakan cenderung bersifat subyektif, karena penutur bermaksud mengemukakan informasi berdasarkan pengertian yang dibawa oleh penutur tersebut terhadap informasi yang akan diberikan ke lawan tutur.

(13) Pemerintah umumkan Idul Fitri 1423 H tanggal 31 Agustus.

Mubazir, dong, ketupat dan kawan-kawan? (KOMPAS, Kamis, 1 September 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut mengenai penetapan Hari Raya Idul Fitri 1432 H oleh pemerintah yang jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Penetapan hari raya tersebut dikomunikasikan melalui Sidang Isbat yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali, di kantor kementerian pada Senin, 29 Agustus 2011).

(14) Gelar Dr HC dari UI untuk Raja Arab Saudi dikecam.

Gelar akademik, kok, untuk tukar tanda mata! (KOMPAS, Jumat, 2 September 2011)

(Konteks: Tuturan tersebut mengenai pemberitaan pemberian gelar Doktor HC (Honoris Causa) oleh Rektor Universitas Indonesia (UI) untuk Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Azis pada Minggu, 21 Agustus 2011, di Arab Saudi. Rektor UI, Prof. Gumilar R. Sumantri, memberikan gelar tersebut dalam bidang Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan Teknologi dengan alasan bahwa Raja Arab Saudi telah berkontribusi dalam mempromosikan pengajaran islam yang moderat, mendukung perdamaian Palestina, dan menginisiasi dialog antaragama. Atas aksi rektor tersebut, tidak sedikit masyarakat, dosen, mahasiswa, dan guru besar yang merasa tidak senang).

Ilokusi dari tuturan “Mubazir, dong, ketupat dan kawan-kawan?” pada data percakapan (13) merupakan ungkapan kesal karena selalu ada perbedaan dalam penentuuan Hari Raya Idul Fitri. Perlokusi dari tuturan

tersebut adalah masyarakat kesal karena Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011.

Tuturan “Mubazir, dong, ketupat dan kawan-kawan?” pada data percakapan (13) mengandung implikatur dengan maksud menyatakan. Implikasi dari tuturan tersebut adalah menyatakan bahwa masyarakat yang telah mempersiapkan makanan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri harus menunda hingga tanggal 31 Agustus 2011. Hal ini terjadi karena pemerintah mengumumkan secara resmi bahwa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 21 Agustus 2011. Selain itu, di kepercayaan Muslim terdapat dua aliran, yang biasanya memang berbeda dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri. Berdasarkan latar belakang itulah, Mang Usil menyatakan tanggapannya kepada pembaca.

Tuturan “Gelar akademik, kok, untuk tukar tanda mata!” pada data percakapan (14) mengandung ilokusi suatu protes terhadap pemberian gelar untuk Raja Arab Saudi. Perlokusi dari tuturan tersebut pengakuan Rektor UI mengenai pemberian gelar tersebut.

Tuturan “Gelar akademik, kok, untuk tukar tanda mata!” pada data percakapan (14) mengandung implikatur dengan maksud menyatakan. Tuturan tersebut menyatakan ketidaksukaan masyarakat, dosen, mahasiswa, dan guru besar terhadap sikap Rektor UI yang memberikan gelar Dr HC untuk raja Arab Saudi. Munculnya tanggapan tersebut karena beberapa masyarakat menganggap bahwa ada sesuatu sehingga Rektor UI bersedia datang ke Arab Saudi dan memberikan gelar tersebut. Menurut Rektor UI, Gumilar Rosliwa Sumantri, Raja Arab Saudi berhak mendapatkan gelar tersebut karena telah berhasil dalam

berbagai bidang, antara lain telah berkontribusi dalam mempromosikan pengajaran Islam yang moderat, mendukung perdamaian Palestina, dan menginisiasi dialog antaragama.

4.2.2.8 Maksud Memuji

Dalam KBBI Luar Jaringan (Luring), memuji diartikan sebagai adanya kekaguman dan penghargaan kepada sesuatu (yang dianggap baik, indah, gagah, berani, dan sebaginya). Pujian ada yang disampaikan karena sesuatu itu pantas dan patut diberikan pujian, ada pujian yang digunakan seseorang untuk menegur secara halus (pujian dengan sindiran). Berikut peneliti sajikan data implikatur dengan maksud memuji.

(15) Menjelang Lebaran, warga borong baju bekas.

Baju bekas, hati baru he-he-he. (KOMPAS, Selasa, 23 Agustus 2011)

(Konteks: Tuturan ini mengenai berita meningkatnya pembeli pakaian bekas di Pasar Pakaian Bekas Senen, Jakarta Pusat, mejelang Lebaran. Dengan meningkatnya pembeli, para pedagang rela untuk menambah stok pakian bekasnya yang didatangkan dari negara-negara tetangga).

(16) Timnas kalah 0-2 dari Bahrain, Presiden tinggalkan stadion.

Dokumen terkait