• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maksud dari kerangka berpikir diatas adalah untuk mengetahui pengaruh antara variabel – variabel (Bukti Fisik(x 1), Reliabilitas(x2), Daya

Tanggap(x3), Jaminan(x4), Empati(x5)) dengan kepuasan konsumen dalam mengunakan jasa penerbangan Garuda Indonesia.

Variabel – variabel tersebut merupakan pengelompokan dari berbagai macam alasan yang menyebabkan kepuasan konsumen dalam menggunakan produk Garuda Indonesia AirLines.

Diduga bahwa variabel – variabel ((Bukti Fisik(x1), Reliabilitas(x2), Daya Tanggap(x3), Jaminan(x4), Empati(x5)) terdapat pengaruh baik secara simultan maupun parsial terhadap kepuasan konsumen, untuk mengetahui pengaruh tersebut digunakan uji statistik regresi linier berganda.

2.3 Hipotesis

Berdasarkan tujuan dan landasan teori serta uraian dan kerangka berpikir, maka dikemukakan hipotesis sebagai berikut :

a. Terdapat pengaruh yang signifikan positif secara simultan pada kualitas pelayanan (bukti fisik, reliabilitas, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan jasa penerbangan Garuda Indonesia Airlines.

b. Terdapat pengaruh yang signifikan positif secara parsial pada kualitas pelayanan (bukti fisik, reliabilitas, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan jasa penerbangan Garuda Indonesia Airlines.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Oper asional dan Pengukuran Var iabel 3.1.1 Difinisi Oper a sional

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah Bukti Fisik (X1), Reliabilitas (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5) sebagai variabel independen. Dan kepuasan konsumen (Y) sebagai variabel terikat atau veriabel dependen. Definisi operasional tersebut adalah sebagai berikut: 1. Buk ti Fisik (X1)

Adalah variabel yang menjelaskan tentang pelayanan dari Garuda Indonesia yang berbentuk nyata atau dapat dilihat dan dirasakan secara fisik oleh konsumen Garuda Indonesia Airlines seperti kondisi tempat duduk, bagasi serta penampilan para karyawan.

Adapun Indikator variabel bukti fisik adalah :

a. Desain tempat duduk di dalam pesawat Garuda Indonesia. b. Kapasitas bagasi Pesawat Garuda Indonesia.

c. Kerapian dan penampilan karyawan Garuda Indonesia. 2. Reliabilitas (X2)

Variabel Reliabilitas adalah keandalan Garuda Indonesia dalam memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para konsumen serta mampu memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang dijanjikan.

Adapun Indikator variabel reliabilitas adalah :

a. Ketepatan dalam keberangkatan serta kedatangan pesawat.

b. Sistem pencatatan pemesanan transaksi dengan akurat dan bebas kesalahan.

c. Kemampuan dalam menangani sebuah masalah. 3. Daya Tanggap (X3)

Daya Tanggap adalah variabel yang menjelaskan tentang kemampuan para staf dan karyawan Garuda Indonesia untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap dan cepat.

Adapun Indikator variabel daya tanggap adalah :

a. Kesigapan karyawan dan staf Garuda Indonesia dalam membantu konsumen.

b. Kecepatan dalam penanganan sistem Bagasi. c. Sistem pelayanan tiketing.

4. J aminan (X4)

Jaminan adalah variabel tentang jaminan yang di berikan oleh pihak Garuda Indonesia, wawasan karyawan serta menjaga kepercayaan konsumen kepada Garud Indonesia .

Adapun Indikator variabel jaminan adalah :

a. Kemampuan karyawan dalam menjaga kepercayaan konsumen. b. Jaminan keselamatan penumpang.

5. Empaty (X5)

Empati adalah variabel yang menjelaskan tentang kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik antara konsumen dengan karyawan, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan Garuda Indonesia.

Adapun Indikator variabel empati adalah :

a. Perhatian personal karyawan terhadap konsumen mulai dari pemesanan tiket, boarding, check-in, di atas pesawat, hingga sampai tempat tujuan.

b. Kesungguhan Garuda Indonesia dalam memperhatikan setiap kebutuhan konsumen.

c. Pemahaman karyawan terhadap kebutuhan spesifik para konsumen. 6. Kepuasan Konsumen (Y)

Adalah terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen dalam menggunakan jasa penerbangan Garuda Indonesia Airlines.

Adapun Indikator variabel kepuasan konsumen adalah :

a. Pembelian atau menggunakan kembali terhadap produk jasa Garuda Indonesia Airlines.

b. Merekomendasikan kepada orang lain tentang kepuasan dalam menggunakan Garuda Indonesia Airlines.

c. Kesesuaian antara harapan dengan kinerja aktual Garuda Indonesia

3.1.2 Pengukur an Var iabel

Untuk memudahkan pengukuran, penulis menggunakan skor pada masing-masing jawaban dengan skala likert untuk penilaian dan kuantifikasi data, yaitu sebagai berikut:

Skor sangat Tinggi = 5

Skor Tinggi = 4

Skor Cukup tinggi = 3 Skor Tidak tinggi = 2 Skor Sangat tidak tinggi = 1

3.2 Populasi, Sampel dan Teknik Penar ikan Sampel 3.2.1 Populasi

Menurut Sugiyono ( 2006 : 55 ) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini yaitu para konsumen Garuda Indonesia

Airlines kelas ekonomi baik wanita maupun laki-laki yang telah menggunakan jasa pernerbangan Garuda Indonesia Airlines lebih dari satu kali mulai umur 17 tahun samapi 50 tahun pada penerbangan domestik dengan perhitungan rata-rata penumpang satu pesawat setiap hari adalah 100 orang. Dan keberangkatan dan kedatangan penerbangan domestik Garuda Indonesia Di Bandara Juanda sebanyak 28. Maka jumlah rata-rata

penumpang pesawat Garuda Indonesia perhari sebanyak 2.800 dan perminggu sebanyak 19.600 orang.

3.2.2 Sampel

Menurut Sugiyono ( 2006: 56 ) Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Penggunaan sampel dilakukan bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi.

untuk menentukan besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin pada buku Umar (2002:141) sebagai berikut:

N

n = --- 1 + N ( e ) 2

Keterangan: N = Jumlah Populasi n = Jumlah Sampel e = Tingkat Kesalahan

Populasi (N) sebanyak 19.600 orang penumpang dengan asumsi tingkat kesalahan (e) = 10 %, maka jumlah sampel (n) adalah

19.600 n = --- 1 + 19.600 . (0.1)2 19.600 n = --- 197 n = 99,5 orang = 100 responden

3.2.3 Teknik Penar ikan sampel

Berdasarkan populasi dan sampel tersebut di atas teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik nonprobality sampling dengan metode sampling purposive, menurut Sugiyono (2007:61) sampling purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yaitu para konsumen Garuda Indonesia Airlines kelas ekonomi yang telah menggunakan jasa pernerbangan Garuda Indonesia Airlines lebih dari satu kali mulai umur 17 tahun samapi 50 tahun pada penerbangan domestik. 3.3 Teknik Pengumpulan Data

3.3.1 J enis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang dikumpulkan atau diperoleh secara langsung di tempat obyek penelitian dengan cara memberikan angket atau kuisioner pada konsumen Garuda Indonesia Airlines yang berada di Bandara udara Juanda Surabaya.

3.3.2 Sumber data

Bersumber langsung dari para konsumen kelas ekonomi yang telah menggunakan jasa pernerbangan Garuda Indonesia Airlines lebih dari satu kali mulai umur 17 tahun samapi 50 tahun pada penerbangan domestik dan berada di Bandara Udara Juanda Surabaya.

3.3.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuesioner. Menurut Sugiyono (2008 : 199) merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk diisi berhubungan dengan masalah yang diteliti dan kemudian untuk setiap jawaban diberi nilai.

Dalam penelitian ini kuesioner dibagikan langsung kepada responden yang menjadi sampel dari populasi penelitian yang berada di Bandara Juanda dan juga melalui E-mail yang dikirim kepada resonden yang juga menjadi sampel dari populasi penelitian jika para responden tidak dapat mengisi pada saat pembagian kuesioner.

3.4 Tek nik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis 3.4.1 Uji Validitas

Menurut Umar (2003 : 73) validitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang diukur. Sekiranya peneliti menggunakan kuisioner di dalam pengumpulan data, kuesioner yang disusunnya harus menggukur apa yang ingin diukurnya. Setelah kuisioner tersebut tersusun dan teruji validitasnya, dalam praktek belum tentu data yang terkumpulkan adalah data yang valid. Banyak hal-hal lain yang akan mengurangi validitas data, misalnya, apakah pewawancara yang mengumpulkan data betul-betul mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan dalam kuisioner, selain itu, validitas data akan ditentukan oleh keadaan responden sewaktu diwawancarai. Bila sewaktu menjawab semua pertanyaan ternyata responden merasa bebas tanpa ada rasa malu atau rasa takut, maka data yang diperoleh akan valid dan reliabel, tetapi bila

responden merasa malu, takut, dan cemas akan jawabannya, maka besar kemungkinan akan memberikan jawaban yang tidak benar. Pada bagian ini, faktor yang mempengaruhi validitas yang akan dibahas hanya yang menyangkut alat pengukur saja. Sedangkan faktor pewawancara dan responden yang juga dapat menjadi sumber bagi rendahnya validitas dan reliabilitas data tidak dibahas. Langkah-langkah Mengukur Validasi

a. Mendefinisikan secara operasional suatu konsep yang akan diukur. Konsep yang akan diukur hendaknya dijabarkan terlebih dahulu, sehingga operasionalnya dapat dilakukan.

b. Melakukan uji coba pengukur tersebut pada sejumlah responden. Responden diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Disarankan agar jumlah responden untuk uji coba minimal 30 orang. Dengan jumlah minimal 30 orang ini, distribusi skor (nilai) akan lebih mendekati kurva normal.

c. Merpersiapkan tabel tabulasi jawaban. Untuk sekedar ilustrasi, misalnya ada 10 pernyataan yang diisi oleh 9 orang responden. d. Menghitung nilai korelasi antara data pada masing-masing

pernyataan dengan skor total, memakai rumus teknik korelasi

product moment, kemudian membandingkan dengan r tabel.

rumusnya seperti berikut atau tingkat signifikan.

r =

n (ΣXY) - (ΣX ΣY) [n ΣX2 – (ΣX)2] [n ΣY2 – (ΣY)2]

...(Husein umar, 2003 : 74) Keterangan :

r = Koefisiensi produk moment X = Skor total tiap-tiap item Y = Skor total

n = Jumlah responden 3.4.2 Uji Reliabilitas

Menurut Umar (2003 : 80) jika alat ukur telah dinyatakan valid, maka berikutnya alat ukur tersebut diuji reliabilitasnya. Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Pada alat pengukur untuk fenomena keuangan, seperti laba dan biaya, konsistensi hasil pengukuran bukanlah hal yang sulit dicapai. Akan tetapi untuk mengukur permasalahan perusahaan yang mencakup fenomena, misalnya perilaku, pengukuran yang konsisten agak sulit untuk dicapai. Berhubung gejala perilaku tidak semantap gejala keuangan, maka dalam pengukuran gejala perilaku selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran ini cukup besar, oleh karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Hasil pengukuran ini merupakan kombinasi antara hasil pengukuran yang sesungguhnya ditambah dengan kesalahan pengukuran.

Secara rumusan matematik, keadaan tersebut digambarkan dalam persamaan berikut ini.

X0 = Xt + Xe

Di mana:

X0 = angka yang diperoleh (obtained score) Xt = angka yang sebenarnya (true score) Xe = angka pengukuran (measurement error)

Bila korelasi (r) dikuadratkan, maka hasilnya disebut koefisien determinasi (coefficient of determination). Masing-masing variabel dalam penelitian dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan alpha croanbach, untuk mengetahui skala pengukurannya. Rumus yang digunakan adalah alpha sebagai berikut :

k Σsi

r11 = 1- ...(Riduwan, 2007 : 115)

k – 1 st

Keterangan :

r11 = nilai reabilitas

Σsi = Jumlah varians skor tiap-tiap item pertanyaan

St = Varians total

k = jumlah item pertanyaan

3.4.3 Uji asumsi klasik / BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) 3.4.3.1 Uji Nor malitas

Uji normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Penggunaan uji normalitas karena pada analisis statistik parametik,

asumsi yang harus dimiliki oleh data adalah bahwa data tersebut harus terdistribusi secara normal. Maksud data terdistribusi secara normal adalah bahwa data akan mengikuti bentuk distribusi normal (Santosa&Ashari, 2005:231).

Uji normalitas bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu dengan "Normal P-P Plot" dan "Tabel Kolmogorov Smirnov". Yang paling umum digunakan adalah Normal P-P Plot.

Pada Normal P-P Plot prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan: a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b. Jika data menyebar jauh garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Ghozali 2007:110-112).

3.4.3.2 Autokor elasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t – 1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

Menurut Wahid Sulaiman (2004 : 89), deteksi adanya autokorelasi adalah : Besaran DURBIN = WATSON dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 3.1

Pengambilan k eputusan ada tidaknya autokor elasi

Kr iter ia Keputusan

1,21 < DW < 1,65 Tidak dapat disimpulkan 1,65 < DW < 2,35 Tidak ada Autokorelasi 2,35 < DW < 2,79 Tidak dapat disimpulkan DW < 1,21 atau DW > 2,79 Terjadi autokorelasi

3.4.3.3 Multikolonier itas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama varibel independen sama dengan nol. Menurut Imam Ghozali (2005 : 91), untuk mendekteksi ada atau tidaknya multikoloneritas di dalam model regresi adalah :

a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel independen. b. Menganalisis matriks korelasi variabel-variabel independen. Jika

di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas.

c. Besaran VIF (Variance Inflation Faktor) dan Tolerance. - Mempunyai nilai VIF di sekitar angka 1.

- Mempunyai angka Tolerance mendekati 1. 3.4.3.4 Heter osk edastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Menurut Imam Ghozali (2001 : 105), deteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu.

1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

2. Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3.4.4 Teknik Analisis Regr esi Linier Ber ganda

Teknik analisis regresi linier berganda digunakan untuk menentukan arah dan besarnya pengaruh Bukti fisiki (X1), Reliabilitas (X2), Daya tanggap (X ), Jaminan (X ), Empati (X ) terhadap kepuasan konsumen (Y)

dalam menggunakan produk jasa penerbangan Garuda Indonesia yang dimana penggunanya adalah para konsumen Garuda Indonesia yang berada di bandara Juanda Sidoarjo, dengan persamaan sebagai berikut:

Y = a + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4 + b5 x5 ...(Sugiyanto, 2007 : 257) Keterangan : Y = Kepuasan Konsumen a = Konstanta X1 = Bukti Fisik X2 = Reliabilitas X3 = Daya Tanggap X4 = Jaminan X5 = Empati

b1 = Koefisien regresi untuk variabel bebas X1

b2 = Koefisien regresi untuk variabel bebas X2

b3 = Koefisien regresi untuk variabel bebas X3

b4 = Koefisien regresi untuk variabel bebas X4

b5 = Koefisien regresi untuk variabel bebas X5

Adapun untuk mengetahui apakah persamaan analisis tersebut cukup layak untuk digunakan dalam pembuktian selanjutnya dan mengetahui sampai sejauh mana variabel-variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat, maka diperlukan mengetahui nilai koefisien determinasi (R2).

Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai (0 ≤ R2 ≤ 1). Semakin besar R2 (mendeteksi 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabel dependen.

Untuk memperoleh R2 dipakai rumus yang didapat dari Sugiyono (2007 : 258) b1.∑X1Y+...+bi.∑XiY R2 = ∑Y2 Keterangan: R2 = koefisien determinasi

b1 = koefisien regresi vaeriabel ke-i

∑XiY = jumlah nilai variabel bebas ke-i dengan Y ∑Y = jumlah nilai Y

3.4.5 Pengujian Hipotesis 3.4.5.1 Uji F

Uji F Digunakan untuk menguji pengaruh variabel independent (Bukti fisiki (X1), Reliabilitas (X2), Daya tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5)) terhadap variabel dependent (kepuasan konsumen (Y)) secara simultan. Untuk membuktikan kebenaran secara simultan dilakukan uji F yang menyatakan ada tidaknya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependent. Menurut Sugiyono (2007 : 219) pengujian

dilakukan dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel.

Untuk memperoleh nilai Fhitung dipakai rumus sebagai berikut:

1. Fhitung = R2 .(n-m-1) m.(1-R2) ...Sugiyono (2007 : 259) Keterangan:

R = Koefisien korelasi ganda m = Jumlah Variabel independent n = Jumlah Sampel

2. Nilai kritis dalam distribusi F dengan tingkat signifikan (α) 10%. Dari uraian diatas maka uji statistik sebagai berikut:

a. H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = 0,

Maka variabel independent (X) secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent (Y)

b. H1 : b1≠ b2≠ b3≠ b4 ≠ b5 ≠ 0,

Maka variabel independent (X) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent (Y)

3. Menentukan level of significant @ sebesar 10% dengan df = n-k-1 Keterangan :

n = Jumlah Sampel

Convidence interval sebesar 90%

4. Kriteria pengujian dari uji F adalah sebagai berikut:

a. Jika Fhit≤ Ftabel maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti secara simultan variabel independent (X1, X2, X3, X4, X5) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

b. Jika Fhit > Ftabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti secara simultan variabel independent (X1, X2, X3, X4, X5) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

Gambar 3.1 : Kurva F

3.4.5.2 Uji t

Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independent (Bukti fisiki (X1), Reliabilitas (X2), Daya tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5)) terhadap variabel dependent (kepuasaan konsumen (Y)) secara konstan. Untuk membuktikan kebenaran pengaruh secara parsial dilakukan dengan uji t yang menyatakan ada tidaknya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependent.

Menurut Sulaiman ( 2004 : 87), uji ini dilakukan dengan membandingkan thitung dengan ttabel. Untuk memperoleh nilai thitung dipakai rumus sebagai berikut:

1. Menentukan nilai thitung thitung = bi – (βi)

se(bi)

Dengan :

bi = Koefisiensi variabel ke-i

βi = parameter ke-i yang dihipotesiskan

se(bi) = kesalahan standart bi 2. Merumuskan hipotesis statistik

a. H0 : b1 = 0,

Maka variabel independent Bukti fisiki (X1), Reliabilitas (X2), Daya tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5)) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent (kepuasan konsumen(Y))

b. H1 : b1≠ 0,

Maka variabel independent (Bukti fisiki (X1), Reliabilitas (X2), Daya tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5)) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent (kepuasan konsumen(Y))

3. Tingkat signifikan yang digunakan adalah 0,1 dan uji 2 arah dengan derajat bebas (df) = n-k-1

Di mana

n = Jumlah pengamatan (jumlah sampel) k = Jumlah variabel

4. Kriteria pengujian dari uji t adalah sebagai berikut :

a. Jika thit≤ ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti secara parsial variabel independent (X1, X2, X3, X4, X5) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

b. Jika thit > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti secara parsial variabel independent (X1, X2, X3, X4, X5) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

Gambar 3.2 : Kur va t

H0 diterimajika : -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel

4.1 Gambaran Umum PT. Gar uda Indonesia Airlines

4.1.1 Sejar ah

Garuda Indonesia berawal dari tahun 1940-an, di mana Indonesia masih berperang melawan Belanda. Pada saat itu, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat DC-3. Tanggal 26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Pada saat itu nama maskapai ini adalah Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama Seulawah atau Gunung Emas, yang diambil dari nama gunung terkenal di Aceh. Dana untuk membeli pesawat ini didapatkan dari sumbangan rakyat Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 dolar malaya yang sama dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap Belanda berakhir. Garuda Indonesia mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 dari Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), perusahaan penerbangan nasional Hindia Belanda.

Garuda adalah hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dengan maskapai Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Pada awalnya, Pemerintah Indonesia memiliki 51% saham dan selama 10 tahun pertama, perusahaan ini dikelola oleh KLM. Karena paksaan nasionalis,

KLM menjual sebagian dari sahamnya di tahun 1954 ke pemerintah Indonesia.

Pemerintah Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada 31 Maret 1950, Garuda menyumbangkan Pemerintah Burma sebuah pesawat DC-3. Pada mulanya, Garuda memiliki 27 pesawat terbang, staf terdidik, bandara dan jadwal penerbangan, sebagai kelanjutan dari KNILM. Ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan pionir lainnya di Asia.

Pada tahun 1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat, tetapi pada tahun 1955, pesawat Catalina mereka harus pensiun. Tahun 1956 mereka membuat jalur penerbangan pertama ke Mekkah.

Tahun 1960-an adalah saat kemajuan pesat maskapai ini. Tahun 1965 Garuda mendapat dua pesawat baru yaitu pesawat jet Convair 990 dan pesawat turboprop Lockheed L-118 Electra. Pada tahun 1961 dibuka jalur menuju Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong dan tahun 1965 tibalah era jet, dengan DC-8 mereka membuat jalur penerbangan ke Bandara Schiphol di Haarlemmermeer, Belanda, Eropa.

Tahun 1970-an Garuda mengambil Jet kecil DC-9 dan Fokker F28 saat itu Garuda memiliki 36 pesawat F28 dan merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut. Pada saat itu, maskapai ini

mulai membeli pesawat badan lebar seperti Boeing 747-200B dan McDonnell Douglas DC-10-30. Sementara pada 1980-an mengadopsi perangkat dari Airbus, seperti A300. Tahun 1990an, maskapai ini membeli Boeing 737, Boeing 747-400, Airbus A330-300, dan juga McDonnell Douglas MD-11.

Dalam tahun 1990-an, Garuda mengalami beberapa musibah, terutama pada tahun 1997, dimana sebuah A300 jatuh di Sibolangit, menewaskan seluruh penumpangnya. Maskapai ini pun mengalami periode ekonomi sulit, karena, pada tahun yang sama Indonesia terkena Krisis Finansial Asia, yang terjadi tahun 1997. Setelah itu, Garuda sama sekali tidak terbang ke Eropa maupun Amerika (meskipun beberapa rute seperti Frankfurt dan Amsterdam sempat dibuka kembali, namun akhirnya kembali ditutup. Rute Amsterdam ditutup tahun 2004). Tetapi, dalam tahun 2000-an ini maskapai ini telah dapat mengatasi masalah-masalah di atas dan dalam keadaan ekonomi yang bagus.

Memasuki tahun 2000an, maskapai ini membentuk anak perusahaan bernama Citilink, yang menyediakan penerbangan biaya murah dari Surabaya ke kota-kota lain di Indonesia. Namun, Garuda masih saja bermasalah, selain menghadapi masalah keuangan (Pada awal hingga pertengahan 2000an, maskapai ini selalu mengalami kerugian), Beberapa peristiwa internasional (juga di Indonesia) juga memperburuk kinerja Garuda, seperti Serangan 11 September 2001, Bom Bali I dan Bom Bali II,

wabah SARS, dan Bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selain itu, Garuda juga menghadapi masalah keselamatan penerbangan, terutama setelah jatuhnya sebuah Boeing 737 di Yogyakarta ketika akan mendarat. Situasi ini diperburuk dengan sanksi Uni Eropa yang melarang semua pesawat maskapai Indonesia menerbangi rute Eropa. Namun, setelah perbaikan besar-besaran, tahun 2010 maskapai ini diperbolehkan kembali terbang ke Eropa, setelah misi inspeksi oleh tim pimpinan Frederico Grandini. yaitu rute Jakarta - Amsterdam. Rute Eropa lain seperti Paris, London, dan Frankfurt juga kemungkinan akan segera dibuka kembali.

4.1.2 Asal Nama Gar uda Indonesia

Pada tanggal 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada Presiden di Yogyakarta bahwa KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB)

Dokumen terkait