• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 : LANDASAN TEORI

2.4 Manajemen Berbasis Sekolah

2.4.1 Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Menurut UUSPN No. 20 tahun 2003 Pasal 4 ayat 1 dalam Sagala (2007 : 67) manajemen pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan. kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, sebelum mebuat kebijakan, lebih dulu membicarakan secara tim di sekolah, sehingga semua keputusan merupakan keputusan sekolah, bukan keputusan pribadi kepala sekolah. PP No. 19 tahun 2005 menegaskan standar

nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 Pasal 51 ayat 1 menyatakan pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Dalam Sagala (2007 : 68) Standar pengelolaan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (1) menerapkan model MBS yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas; (2) sekolah dipimpin oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah; (3) rencana sekolah terdiri dari rencana jangka menengah (4 tahun) yang disebut dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan rencana kerja tahunan disebut Rencana Anggaran Pembelanjaan Biaya Sekolah (RAPBS); (4) RPS dan RAPBS persetujuan dewan pendidik dan pertimbangan Komite Sekolah/Madrasah; dan (5) pengawasan satuan pendidikan meliputi : pemantauan, supervisi, evaluasi pelaporan dan tindak lanjut pengawasan. SPM ini merupakan indikator kinerja dan bukan standar teknis bersifat dinamis.

Dalam Mulyasa (2005 : 11) Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi, yang ditunjukkan dengan pernyataan politik dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Dalam Mulyasa (2005 : 11-12) BPPN dan Bank Dunia (1999) memberi pengertian bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based-Manajemen (SBM) merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program

desentralisasi di bidang pendidikan, yang ditandai oleh otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi yang lebih besar harus diberikan kepada kepala sekolah dalam pemanfaatan sumber daya dan pengembangan strategi-strategi berbasis sekolah sesuai dengan kondisi setempat. Depdikbud mengemukakan manajemen berbasis sekolah merupakan suatu penawaran bagi sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi para peserta didik.

Dalam Nurkolis (2005 : 9-10) Dengan otonomi yang lebih besar maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Dalam Nurkolis (2005: 10) Kewenangan yang berada pada tingkat sekolah memiliki beberapa keuntungan, seperti (1) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa siswa, orang tua, dan guru, (2) bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya lokal, (3) efektif dalam melakukan pembinaan siswa seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah, dan (4) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen sekolah, rancang ulang sekolah, dan perubahan perencanaan sekolah.

Jadi, dari berbagai uraian di atas peneliti menyimpulkan manajemen berbasis sekolah adalah otonomi luas di tingkat sekolah yang menuntut partisipasi

aktif tenaga kependidikan dan masyarakat sekitar dalam rangka meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan.

2.4.2 Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah

Dalam Mulyasa (2005 : 13) Tujuan utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat mkenumbuhkembangkan suasana yang kondusif. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan perduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggung jawab pemerintah. Implementasi MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.

Dalam Nurkolis (2005 : 26), MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah, terutama sumber daya manusia melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas sumberdaya lain untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan. Tujuan utama penerapan MBS adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dan meningkatkan relevansi pendidikan di sekolah untuk mengelola urusannya sendiri.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dalam Nurkolis (2005 : 26), tujuan MBS dengan model MPMBS adalah pertama, meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Kedua, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. Ketiga, meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada sekolahnya. Keempat, meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dipakai.

Dalam Mulyasa (2005 : 14-15) MBS memberi peluang bagi kepala sekolah, guru, dan pendidik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas, dan profesionalisme yang dimiliki. Kebijakan manajemen berbasis sekolah sangat erat kaitannya dengan Undang-Undang No. 22 dan No. 25 tahun 1999. Undang-undang tersebut akan mengubah mekanisme pengambilan kebijakan, jika selama ini dilakukan dari pusat, akan berubah dan dilimpahkan menjadi kewenangan daerah kabupaten dan kota. Kebijakan tersebut tampaknya merupakan paradigma baru yang lebih memungkinkan pelaksanaan desentralisasi pendidikan untuk memperbaiki sistem sentralisasi yang terlalu kaku. Desentralisasi pendidikan memberikan kewenangan kepada sekolah dan masyarakat setempat untuk mengelola pendidikan. Hal ini memungkinkan adanya kerjasama yang erat antara staf sekolah, kepala sekolah, guru, personel lain dan masyarakat dalam upaya pemerataan, efisiensi, efektivitas, dan peningkatan kualitas, serta produktivitas pendidikan. Model ini juga akan

menyerahkan fungsi kontrol yang berada pada pemerintah kepada masyarakat melalui dewan sekolah, sementara fungsi monitoring tetap pada pemerintah.

Jadi, Manajemen Berbasis Sekolah bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi aktif tenaga kependidikan dan masyarakat sekitar dalam rangka meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan.

Dokumen terkait