Data hasil penelitian akan diolah menggunakan SPSS (Statistic Pacakge for
Social Science). Tahapan pengolahan data yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Penyuntingan (editing)
Dalam tahap penyuntingan ini dilakukan pemeriksaan antara lain kesesuaian jawaban dan kelengkapan pengisian. Dalam proses penyuntingan tidak dilakukan penggantian atau penafsiran jawaban.
2. Pemberian Skor (Scoring)
- Pengetahuan : Apabila menjawab benar mendapat skor 1 dan apabila
menjawab salah mendapat skor 0, setelah itu total skor dibandingkan dengan prosentase jawaban benar.
- Sikap : Sangat Setuju = 1, Setuju = 2, Netral = 3, Tidak Setuju = 4,
Sangat Tidak Setuju = 5, Setelah itu total skor dibandingkan dengan nilai mean/median.
3. Pengkodean (coding)
Peneliti akan mengklasifikasi jawaban yang ada menurut macamnya. Berikut adalah pengkodean dari masing-masing variabel :
No Variabel Pengkodean
1. Penggunaan Rhodamin B oleh
penjual makanan dan minuman
“Ya”=”[0]” dan “Tidak”=”[1]”.
2. Pengetahuan penjual makanan
dan minuman
“Kurang” = ”[0]” jika prosentase jawaban benar 75-100%;
No Variabel Pengkodean
“Sedang” = “[1]” jika prosentase jawaban benar 56-74%
jawaban benar <55%.
3. Sikap penjual makanan dan
minuman
“Negatif” = “[0]; “Positif” = “[1]” jika jumlah skor responden ≥ mean/median
5. Pendidikan penjual makanan
dan minuman
“Tidak Tamat SD” = “[1]”; “Tamat SD” = “[2]”, “Tamat SMP” = “[3]”, “Tamat SMA” = “[4]”
Sumber Informasi penjual
makanan dan minuman
“Teman” = “[1]”; “Media” = “[2]”; “Orang tua” = “[3]”.
4. Entry
Setelah itu, memasukkan data yang telah diolah sesuai kebutuhan analisanya.
5. Cleaning
Membersihkan data dan memeriksa data yang di entry kedalam komputer. Dengan mengacu pada kuesioner yang telah diisi maka dilakukan pemilihan variabel yang sesuai dengan tujuan penelitian ini. Kemudian variabel-variabel tersebut diberi kode tertentu sesuai dengan analisa. Pada tahp ini dilakukan pengecekan ulang data yang telah dimasukkan agar
tidak terjadi kesalahan, yaitu dengan mengetahui missing data, variasi data
komputer dan perhitungan secara manual dengan menggunakan kertas pensil.
4.8 Analisis Data
4.8.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel, yang kemudian disajikan dalam tabel dan narasi. Kelompok variabel disajikan dalam bentuk tabel penggunaan Rhodamin B, pengetahuan, sikap, pendidikan, sumber informasi penjual makanan dan minuman, Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan persentase.
BAB V
HASIL PENELITIAN 5.1. Penggunaan Rhodamin B
Distribusi penggunaan Rhodamin B pada makanan dan minuman di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi ditunjukkan, seperti pada Tabel 5.1
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Penggunaan Rhodamin B di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi Tahun 2017
Kategori Frekuensi Persentase (%)
Ya 5 15,2
Tidak 28 84,8
Total 33 100
Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa sampel yang mengandung Rhodamin B lebih sedikit dibandingkan dengan sampel yang tidak menggunakan Rhodamin B. Adapun sampel mengandung Rhodamin B, yaitu harum manis, kerupuk gulali, saos pentol korek, es salju dan kue kering telur berwarna merah muda.
5.2 Pengetahuan
Distribusi pengetahuan responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi ditunjukkan, seperti pada Tabel 5.2
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi Tahun 2017
Kategori Penggunaan Rhodamin B Tidak (n=28) Ya (n=5) Persentase (%) Persentase (%) Kurang 17,9 60,0 Sedang 46,4 20,0 Baik 35,7 20,0 Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan Rhodamin B, yaitu sebanyak 13 orang (46,4%) memiliki pengetahuan tentang pewarna dalam kategori sedang, sedangkan sebagian besar responden yang menggunakan Rhodamin B, yaitu sebanyak 3 orang (60,0%) memiliki pengetahuan tentang pewarna dalam kategori kurang.
Pengetahuan Menjawab benar tentang pengetahuan Tidak menggunakan Rhodamin B Menggunakan Rhodamin B
Jenis pewarna yang dapat
digunakan untuk makanan dan minuman
82,1% 40%
Dalam pembuatan makanan dan minuman, bolehkah menggunakan pewarna
64,3% 20%
Pewarna yang paling baik
digunakan dalam pembuatan
makanan dan minuman
Pengetahuan Menjawab benar tentang pengetahuan Tidak Menggunakan Rhodamin B Menggunakan Rhodamin B
Pewarna yang membahayakan
kesehatan
75,0% 80%
Bolehkah zat warna Rhodamin B ditambahkan didalam makanan dan minuman
64,3% 20%
Bolehkah pewarna buatan
ditambahkan dalam pembuatan
makanan dan minuman
82,1% 80%
Efek penggunaan pewarna yang tidak diperbolehkan bagi kesehatan
71,4% 40%
Rhodamin B merupakan zat warna yang dilarang atau tidak
57,1% 20%
Rhodamin B merupakan pewarna untuk makanan atau tidak
60,7% 40%
Rhodamin B merupakan jenis pewarna berbahaya atau tidak
71,4% 40%
Sebagian besar responden yang tidak menggunakan Rhodamin B telah menjawab pertanyaan dengan benar bahwa cap kupu-kupu merupakan jenis pewarna yang dapat digunakan untuk makanan dan minuman, pewarna alami merupakan pewarna yang paling baik digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman, pewarna- pewarna tertentu saja yang membahayakan kesehatan, Rhodamin B merupakan pewarna yang tidak boleh ditambahkan ke dalam pembuatan makanan dan minuman, pewarna buatan boleh
ditambahkan dalam pembuatan makanan dan minuman tetapi bukan
merupakan pewarna yang dilarang dan tidak berlebihan
penggunaannya serta penggunaan pewarna yang tidak diperbolehkan dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan, Rhodamin B merupakan pewarna yang dilarang untuk makanan dan minuman, Rhodamin B bukan pewarna untuk makanan dan minuman serta Rhodamin B merupakan pewarna berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman.
Sebagian besar responden yang menggunakan Rhodamin B masih menjawab pertanyaan dengan salah bahwa pewarna sumba dan pewarna Rhodamin B merupakan jenis pewarna untuk makanan dan minuman, dalam pembuatan makanan dan minuman boleh ditambahkan pewarna asal sedikit tanpa melihat apakah pewarna tersebut dilarang atau tidak, tidak ada pewarna yang membahayakan kesehatan, Rhodamin B merupakan pewarna yang boleh ditambahkan dalam pembuatan makanan dan minuman, efek penggunaan pewarna yang tidak diperbolehkan tidak ada pengaruhnya bagi kesehatan, Rhodamin B merupakan pewarna yang tidak dilarang untuk pembuatan makanan dan minuman, Rhodamin B merupakan pewarna untuk makanan dan minuman serta pewarna Rhodamin B tidak berbahaya apabila digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman.
5.3 Sikap
Distribusi sikap responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi ditunjukkan, seperti pada Tabel 5.3
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Sikap Responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi Tahun 2017
Kategori Penggunaan Rhodamin B Tidak (n=28) Ya (n=5) Persentase (%) Persentase (%) Negatif 46,4 60,0 Positif 53,6 40,0 Total 100,0 100
Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan Rhodamin B, yaitu sebanyak 15 orang (53,6%) memiliki sikap tentang penggunaan pewarna dalam kategori positif, sedangkan sebagian besar responden yang menggunakan Rhodamin B, yaitu sebanyak 3 orang (60,0%) memiliki sikap tentang penggunaan pewarna dalam kategori negatif.
Sikap Menjawab tidak setuju
Tidak menggunakan
Rhodamin B
Menggunakan Rhodamin B Penggunaan pewarna terlarang pada
makanan dan minuman tidak
berbahaya bagi kesehatan
71,4% 80%
Apabila ada pewarna yang lebih murah dan lebih mahal maka akan menggunakan pewarna yang lebih murah
Sikap Menjawab Tidak Setuju Tidak Menggunakan Rhodamin B Menggunakan Rhodamin B Dalam pembuatan makanan dan
minuman boleh menggunakan
sembarang pewarna
92,9% 100%
Pewarna merah mencolok tidak
berbahaya apabila digunakan dalam makanan dan minuman
67,9% 40%
Dalam pembuatan makanan dan
minuman boleh menggunakan
pewarna berlebihan
75,0% 100%
Pewarna mencolok baik digunakan di
dalam pembuatan makanan dan
minuman
75,0% 40%
Rhodamin B pewarna yang baik
digunakan dalam makanan dan
minuman mencolok
71,4% 40%
Apabila saya mengetahui penggunaan
Rhodamin B, saya akan tetap
menggunakan pewarna tersebut
89,3% 100%
Penggunaan pewarna pada makanan
dan minuman dilakukan supaya
pembeli lebih tertarik jadi wajar kalau pakai pewarna berlebihan
53,6% 20%
Pewarna yang berlebihan dalam
pembuatan makanan dan minuman tidak dapat berdampak buruk bagi kesehatan
Sebagian besar responden yang tidak menggunakan Rhodamin B telah memiliki sikap bahwa penggunaan pewarna terlarang pada makanan dan minuman dapat berbahaya bagi kesehatan, penjual akan lebih memilih pewarna yang lebih mahal dibandingkan dengan pewarna yang lebih murah untuk pembuatan makanan dan minumannya, dalam pembuatan makanan dan minuman tidak boleh menggunakan sembarang pewarna, pewarna merah mencolok apabila digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman dapat membahayakan kesehatan, pewarna mencolok tidak baik digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman, Rhodamin B merupakan zat pewarna mencolok yang tidak baik digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman, penjual tidak akan menggunakan Rhodamin B setelah mengetahui bahaya dari penggunaan pewarna tersebut, tidak wajar menggunakan pewarna yang berlebihan supaya menarik minat pembeli serta menghindari penggunaan pewarna berlebihan sebab dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Sebagian besar responden yang menggunakan Rhodamin B masih memiliki sikap bahwa akan lebih memilih pewarna yang lebih murah untuk digunakan dalam pembuatan makanan dan minumannya apabila terdapat pewarna yang lebih murah dan lebih mahal, penggunaan pewarna merah mencolok dalam pembuatan makanan dan minuman tidak membahayakan kesehatan, pewarna yang mencolok merupakan pewarna yang baik digunakan di dalam pembuatan
makanan dan minuman, Rhodamin B merupakan pewarna yang mencolok yang baik digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman serta penggunaan pewarna yang berlebihan wajar digunakan karena untuk membuat pembeli lebih tertarik.
5.4 Pendidikan
Distribusi pendidikan responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi ditunjukkan, seperti pada Tabel 5.4
Table 5.4 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi Tahun 2017
Kategori Penggunaan Rhodamin B Tidak (n=28) Ya (n=5) Persentase (%) Persentase (%) Tidak Tamat SD 14,3 - Tamat SD 28,6 60,0 Tamat SMP 21,4 20,0 Tamat SMA 35,7 20,0 Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa mayoritas pendidikan responden yang tidak menggunakan Rhodamin B adalah tamat SMA, yaitu sebanyak 10 orang (35,7%) dan minoritas pendidikan responden yang tidak menggunakan Rhodamin B adalah tidak tamat SD, yaitu sebanyak 4 orang (14,3%), sedangkan mayoritas pendidikan responden yang menggunakan Rhodamin B adalah tamat SD, yaitu sebanyak 3 orang (60,0%).
5.5 Sumber Informasi
Distribusi sumber informasi responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi terkait penggunaan pewarna pada makanan dan minuman ditunjukkan, seperti pada Tabel 5.5
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi Responden di wilayah Kelurahan Mustika Jaya Bekasi Tahun 2017
Kategori Penggunaan Rhodamin B Tidak (n=28) Ya (n=5) Persentase (%) Persentase (%) Teman 46,4 60,0 Media 46,4 40,0 Orang Tua 7,1 - Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa mayoritas sumber informasi responden yang tidak menggunakan Rhodamin B terkait penggunaan pewarna didapatkan dari teman dan media, yaitu sebanyak 13 orang (46,4%) dan minoritas sumber informasi didapatkan dari orang tua, yaitu sebanyak 2 orang (7,1%), sedangkan mayoritas sumber informasi responden yang menggunakan Rhodamin B terkait penggunaan pewarna didapatkan dari teman, yaitu sebanyak 3 orang (60,0%) dan minoritas sumber informasi didapatkan dari media, yaitu sebanyak 2 orang (40,0%).
BAB VI PEMBAHASAN 5.1 Keterbatasan Penelitian
1. Hasil penelitian ini dipengaruhi oleh sensitivitas alat uji Rapid Test kit
yang digunakan.
2. Hasil penelitian sangat dipengaruhi kejujuran responden dalam menjawab
kusioner dan jawaban responden yang tergantung pada pemahaman resonden terhadap pertanyaan pada kuesioner.
6.2 Penggunaan Rhodamin B
Penggunaan Rhodamin B di Indonesia ke dalam suatu makanan dilarang oleh pemerintah karena Rhodamin B merupakan salah satu pewarna sintetis yang dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan serta pewarna yang sebenarnya digunakan untuk kertas dan tekstil. Rhodamin B Berdasarkan lampiran II Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Nomor : 00386/C/SK/ II/90 ada beberapa zat warna yang dilarang digunakan dalam makanan, obat ataupun pada kosmetik (Badan POM, 2012).
Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 5.1 dari 33 responden diketahui bahwa 15,2% makanan dan minuman yang dijual di wilayah Kelurahan Mustika Jaya menggunakan Rhodamin B. Pada tahun 2011-2013, BPOM masih menemukan pewarna bukan untuk pangan salah satunya adalah Rhodamin B. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pewarna sintetik berbahaya masih sering ditemukan penggunaannya oleh penjual makanan dan minuman. Penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Andi (2009)
menghasilkan 15 dari 41 jajanan yang di jual di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta positif mengandung Rhodamin B. Penelitian yang sama dilakukan oleh Paratmanitya dan Veriani (2016) dari 15 sampel yang diuji kandungan Rhodamin B, terdapat 7 sampel (46,7%) positif mengandung Rhodamin B, yaitu makanan dan minuman jenis jelly dan es. Sementara penelitian yang dilakukan di Sumatera Utara menunjukkan bahwa 3 dari 28 sampel mengandung Rhodamin B (Silalahi dan Fathur, 2011). Penelitian yang dilakukan Akbar (2012) di Jakarta Pusat juga memberikan hasil yang hampir sama, yaitu 2 dari 20 sampel yang diuji (10%) dinyatakan positif mengandung Rhodamin B.
Zat pewarna Rhodamin B sangat berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan Rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker (Yuliarti, 2017). Pada umumnya, bahaya akibat pengonsumsian Rhodamin B akan muncul jika zat warna ini dikonsumsi dalam jangka panjang, tetapi perlu diketahui pula bahwa Rhodamin B juga dapat menimbulkan efek akut jika tertelan sebanyak 500 mg/kg BB yang merupakan dosis toksiknya. Efek toksik yang mungkin terjadi adalah iritasi saluran cerna. Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena Rhodamin B termasuk bahan karsinogen (penyebab kanker) yang kuat. Uji toksisitas Rhodamin B yang dilakukan terhadap mencit dan tikus telah membuktikan adanya efek karsinogenik tersebut (BPOM, 2015). Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, Rhodamin B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal
menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma (Cahyadi, 2006).
Rhodamin B merupakan pewarna yang bersifat karsinogen dan dilarang penggunaannya oleh pemerintah untuk makanan dan minuman sehingga dapat dilakukan analisis laboratorium secara kualitatif sederhana saja dan tidak perlu melakukan analisis secara kuantitatif karena keberadaannya pada makanan dan minuman yang dilarang oleh pemerintah serta dapat menjadi pemicu kanker. Terlepas apakah seseorang yang mengonsumsi Rhodamin B tersebut beberapa tahun kedepan akan mengalami kanker atau tidak. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 Rhodamin B termasuk kedalam jenis pewarna sintetik yang tidak diizinkan penggunaannya di Indonesia. Penyediaan dan
penggunaan peralatan Uji Cepat (Rapid Test Kit) oleh semua pihak untuk
mengetahui kandungan bahan kimia berbahaya pada pangan menjadi salah satu cara yang dianjurkan BPOM untuk mencegah meluasnya penggunaan bahan tambahan non pangan (BPOM RI & 30 Balai Besar / Balai POM, 2009).
Menurut Astuti dan Wulandari (2010) masih ditemukannnya penggunaan pewarna sintetik berbahaya pada produk berwarna dikarenakan lebih menarik dan lebih murah serta 86% produsen menyatakan penggunaan pewarna karena permintaan konsumen. Banyak produsen memakai
Rhodamin B karena harganya murah dan warnanya mencolok sehingga membuat pembeli lebih tertarik (Pujiastuti, 2002). Nuraini (2007) mengatakan adanya peran psikologis pada warna sehingga membuat anak- anak akan memilih produk pangan tersebut.
Pada umumnya, seperti pewarna tekstil dan bahan kimia berbahaya
yang dijual di pasaran baik yang berbentuk bubuk ataupun liquid tidak
memiliki petunjuk ukuran penggunaannya sehingga membuat produsen pangan hanya mengira-ngira dalam pemakaiannya (Rahayu dkk, 2012). Rhodamin B pada saat ini banyak digunakan sebagai pewarna makanan dikarenakan umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna tersebut (Listiana, 2009). Bahan pewarna yang banyak digunakan dalam pembuatan makanan jajanan pada umumnya berupa sumba. Bahan pewarna ini mudah diperoleh dan murah harganya. Pembuat makanan jajanan tradisional pada umumnya tidak mengetahui jenis pewarna yang terdapat di dalam sumba. Para pembuat makanan mengetahui sumba merupakan pewarna makanan, dapat memberi warna yang menarik pada makanan, murah, dan banyak dijual di warung-
warung dan toko-toko. Ketidaktahuan mereka telah menggunakan beberapa
bahan pewarna yang dilarang untuk digunakan dalam makanan (Sugiyatmi, 2006).
Agar penggunaan bahan pewarna berbahaya tidak semakin meluas maka diharapkan pemerintah dapat melakukan peningkatan pengawasan
terhadap produk makanan yang dijual di wilayah tersebut serta melakukan peningkatan intensifikasi pengawasan pangan tidak hanya di sekolah-sekolah. Namun, juga di tempat-tempat umum yang menjadi tempat strategis bagi para penjual pangan untuk menjual makanan dan minumannya. Selain itu, memberikan edukasi tentang gizi dan keamanan pangan serta penggunaan BTP pada pangan, memberikan pembinaan mengenai keamanan pangan dan penggunaan BTP kepada penjual makanan serta pengawasan terhadap toko- toko dan warung- warung yang menjual pewarna makanan. Dampak negatif penggunaan pewarna perlu disosialisasikan kepada masyarakat.