• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Manajemen Diri Hipertensi

2.2.1. Pengertian Manajemen Diri Hipertensi

Manajemen diri adalah kemampuan mengenal dan mengevaluasi perubahan fisik yang terjadi, mengambil keputusan untuk penanganan dan mengevaluasi respon tindakan. Program manajemen diri penyakit kronik merupakan intervensi pendidikan kesehatan berbasis komunitas (Lorig et al, 2001).

Manajemen perawatan diri (Self care management) menurut Riegel, Jaarsma dan Stomberg (2012), yaitu mengevaluasi perubahan tanda-tanda fisik, emosional dan gejala untuk menentukan tindakan yang diperlukan dalam merespon ketika terjadi tanda-tanda dan gejala tersebut.

Manajemen diri merupakan pengobatan yang menggunakan intervensi kombinasi dari tekhnik biologi, psikologi dan sosial untuk memaksimalkan fungsi proses regulasi perawatan diri yang digunakan sebagai strategi pencegahan sehingga manajemen diri di interpretasikan sebagai tugas-tugas individu sehari-hari yang harus diambil untuk mengontrol atau mengurangi dampak penyakit terhadap status kesehatan fisik dengan kolaborasi dan panduan dari dokter dan pemberi pelayanan perawatan kesehatan lainnya (Davies, 2011).

2.2.2. Tujuan Manajemen Diri Hipertensi

Menurut Packer, Boldy, Grahan, Melling, Parsons dan Osborn (2011) manfaat manajemen diri yaitu, Manajemen diri mendukung partisipasi aktif pasien terhadap pengobatan, meminimalkan dampak penyakit kronik pada fungsi dan status kesehatan serta kolaborasi pasien dengan tenaga kesehatan.

Selain itu menurut Balduino, Mantovani, Lacerda dan Meier (2013), tujuan manajemen diri hipertensi adalah memperoleh informasi untuk berhenti merokok, mengontrol berat badan, melakukan aktivitas fisik secara teratur, nutrisi yang tepat, mengurangi garam dan memonitor tekanan darah. Manajemen diri pada pasien hipertensi mendorong individu sadar terhadap perilaku mereka ke depan terhadap status kesehatan untuk mengkaji adanya potensi yang berbahaya.

2.2.3. Sasaran dan Strategi Manajemen Diri Hipertensi

Sasaran dan strategi edukasi kegiatan ditujukan untuk penyakit-penyakit kronis dengan jumlah partisipan 10-15 orang dengan diagnosa dan usia yang bervariasi. Prinsip asumsi program ini adalah bahwa penyakit kronik yang berbeda-beda punya kesamaan masalah manajemen diri dan sehubungan dengan tugas-tugas penyakit, pasien dapat belajar untuk merespon dari hari ke hari terkait manajemen penyakit, dan kepercayaan diri terkait dengan pengetahuan pasien tentang praktik manajemen diri mendukung status kesehatan dan menggunakan sumber-sumber perawatan kesehatan. Terdapat 2 intervensi manajemen diri yang dikembangakan yaitu manajemen diri untuk penyakit kronik (seperti penyakit paru, penyakit jantung, stroke dan artritis) dan diabetes (Lorig, Sobel, Stewart, Brawn, Bandura, Ritter, et al, 1999).

2.2.4. Isi Kegiatan Manajemen Diri Hipertensi

Isi kegiatan meliputi adopsi program latihan atau olahraga, menggunakan teknik manajemen kognitif gejala (seperti relaksasi dan distraksi), pengelolaan nutrisi, manajemen fatig dan tidur, menggunakan obatan-obatan dan sumber komunitas, manajemen emosi pada ketakutan, marah dan depresi, latihan

berkomunikasi dengan professional kesehatan lainnya dan pemecahan masalah berhubungan dengan kesehatan dan membuat keputusan (Lorig et al, 2001).

Menurut Barlow, Wright, Sheasby, Turner dan Hainsworth (2002) isi kegiatan mendukung informasi, manajemen obat, manajemen gejala, konsekuensi psikososial yang diterima, gaya hidup (meningkatkan latihan), dukungan sosial, komunikasi dan strategi manajemen diri lainnya seperti perencanaan karir, pencapaian tujuan, dan dukungan akses ke pelayanan.

Selain itu menurut Balduino, Mantovani, Lacerda dan Meier (2013), kegiatan manajemen diri hipertensi adalah kesadaran untuk berhenti merokok, mengontrol berat badan, melakukan aktivitas fisik secara teratur, nutrisi yang tepat, mengurangi garam dan memonitor tekanan darah.

2.2.5. Metode Pembelajaran Manajemen Diri Hipertensi

Metode belajar yang dapat digunakan mencakup konseling face to face pada individu dan keluarga atau kelompok, edukasi dan demonstrasi menggunakan booklet, workshop, dan follow up melalui telepon. Materi disampaikan dalam bentuk tertulis seperti booklet, handout, manual, buku kerja atau videotape. Tempat pelaksanaan mencakup edukasi pada orang dewasa, komunitas, rumah sakit, perawatan primer, pusat rehabilitasi, rumah, sekolah, pusat perawatan tersier dan jaringan kerja (Barlow et al, 2002).

2.2.6. Kegiatan Manajemen Diri Hipertensi

Kegiatan manajemen diri Hipertensi mencakup modifikasi gaya hidup yang tidak hanya penting untuk mengontrol tekanan darah tetapi juga sebagai

landasan manajemen global pada banyak faktor risiko aterosklerosis (RNAO, 2009).

1. Aktivitas Fisik, latihan aerobik merupakan cara yang mendukung dalam menurunkan tekanan darah. Pasien secara bertahap pasien dapat meningkatkan latihan selama 30 sampai 45 menit 3 sampai 5 kali per minggu. Berjalan, berenang, dan jogging merupakan latihan aerobik yang baik sekali (White, Duncan & Baumle, 2013). Intensitas sedang seperti berjalan, jogging, dan berenang dapat meningkatkan relaksasi, menurunkan atau mengontrol berat badan (Lewis, Heitkemper & Shannon, 2000). Aktivitas fisik dapat menurunkan tekanan darah yang mungkin sebagian menjelaskan melalui penurunan resistensi vaskuler sistemik yang mana system saraf otonom dan system renin-angiotensin yang mungkin mendasari mekanisme regulasi (Hu, Li, & Arao, 2013).

2. Diet garam, pengurangan intake sodium dari 2 ke 3 gram sodium atau 6 gram sodium klorida per hari mendukung penurunan tekanan darah.

Menghindari makanan olahan, minuman berkarbon, dan banyak mengkonsumsi sereal dapat menurunkan intake sodium. Mendorong pasien untuk kecukupan intake potassium, magnesium, dan kalsium (White, Duncan, Baumle, 2013). Batas sodium pada 65-100 mmol/hari, setara dengan 2/3-1 sendok teh garam meja. Dengan penghitungan 100 mmol Na = 2400 mg = 1 sendok teh (6 gram) garam meja. Strategi untuk mengurangi intake garam mengandung ; pemilihan makanan rendah garam (buah-buahan dan sayuran), menghindari makanan cepat saji, menahan diri

dari penambahan garam, meminimalkan penggunaan garam dalam memasak dan kesadaran pada makanan yang mengandung asinan di rumah makan (CMA, 1999; CHEP, 2005 dalam RNAO, 2009).

3. Konsumsi Alkohol dan Kafein, perawat mengkaji penggunaan alkohol dan kafein pasien termasuk kuantitas dan frekuensi. Perawat berdiskusi secara rutin dengan pasien tentang konsumsi alkohol dan kopi terutama yang terkandung dalam bahan makanan seperti tape dan kopi yang dapat menaikkan tekanan darah. Pantangan kopi berhubungan dengan risiko hipertensi lebih rendah dari konsumsi kopi yang rendah (RNAO, 2009;

Uiterwaal et al, 2007).

4. Merokok, perawat memberikan penjelasan tentang hubungan antara merokok dan risiko gangguan kardiovaskuler. Nikotin yang terkandung dalam tembakau menyebabkan vasokontriksi dan meningkatkan tekanan darah pasien hipertensi (Lewis, Heitkemper & Shannon, 2000).

5. Stres, perawat mengkaji pasien dengan diagnosis hipertensi untuk mengetahui bagaimana reaksi pada kejadian stress dan belajar bagaimana membangun koping dan manajemen stress yang efektif. Stres berhubungan dengan depresi, isolasi sosial, dan kurangnya kualitas dukungan meningkatkan risiko gangguan penyakit jantung koroner yang sama besarnya seperti merokok, dislipidemia, dan hipertensi itu sendiri.

Dukungan terhadap manajemen stress efektif dalam mengontrol tekanan darah yang optimal (RNAO, 2009).

Dokumen terkait