• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cetakan I. Jakarta: EGC, 2001

PERAN EMPEDU DAN MANAJEMEN GIZI TERHADAP PENDERITA BATU EMPEDU

2.5 Manajemen Gizi Pada Penderita Batu Empedu

perempuan dan dewasa usia 40 tahun atau pada kelompok umur yang lebih tua lagi. Hal ini dikarenakan estrogen dapat meningkatkan jumlah kolesterol pada empedu dan menurunkan gerakan kantong empedu, yang dapat menyebabkan batu empedu. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko batu empedu adalah diabetes, riwayat keluarga menderita batu empedu, tinggi trigliserida, rendahnya aktifitas fisik, rendahnya HDL, obesitas, kehamilan, dan penurunan berat badan yang cepat.[15]

2.5 Manajemen Gizi Pada Penderita Batu Empedu

Tidak ada secara spesifik perlakuan diet untuk mencegah kolelitiasis.

Beberapa faktor yang terlibat dalam kejadian kolelitiasis adalah kondisi obesitas dan puasa yang terlalu lama.

Diet yang cocok untuk kolelitiasis adalah diet rendah lemak untuk mencegah kontraksi kandung empedu

Setelah dilakukan operasi pengangkatan kandung empedu, asupan oral biasanya kembali lagi dengan kembalisnya bising usus dan setelah pasien dapat mentoleransi untuk pergantian Nasogastric Tube, diet dapat dirubah menjadi diet biasa. Dengan tidak adanya kandung empedu di dalam tubuh, empedu langsung disekresi dari hati ke dalam usus. Saluran empedu melebar dengan membentuk ―simulated pouch‖ dari waktu ke waktu, untuk memungkinkan empedu dapat dikeluarkan sesuai dengan cara kandung empedu aslinya.

Diet restriksi terhadap lemak dalam makanan harus diikuti oleh pengetahuan pasien akan bahan makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. Contoh makanan dan minuman tersebut dapat dilihat di Tabel 1.

Faktor risiko pada kelainan empedu.[16] adalah (1) obesitas dan penurunan berat badan, obesitas dihubungkan dengan meningkatnya risiko batu empedu. Penurunan berat badan mungkin bisa menurunkan risiko pembentukan batu empedu, tetapi terlalu cepat penurunan berat badan juga dapat meningkatkan perkembangan batu empedu atau meningkatkan risiko the silent gallstones yang terjadi secara symptomatic.

Peningkatan risiko dihubungkan dengan penurunan berat badan yang sangat cepat mungkin karena peningkatan rasio kolesterol dengan garam empedu dalam kandung empedu dan dalam stasis empedu yang dihasilkan dari penurunan pada kontraksi kandung empedu.

(2) Alergi makanan, Kandung empedu dapat menjadi sasaran target organ untuk reaksi alergi yang sudah dibuktikan pada eksperimen hewan coba. Pada suatu studi dalam reaksi alergi telah menginduksi dalam kandung empedu pada rhesus monyet lewat

43

BIMGI Volume 4 No.2 | Juli – Desember 2016 injeksi Intravena Protein Cottonseed

setelah secara kepekaan pasif kandung empedu. Reaksinya berupa edema, hiperemia, meningkatnya sekresi mukosa, dan infiltrasi eosinifolik. Reaksi yang sama juga terlihat pada kandung empedu dari kelinci untuk serum domba dan kemudian diinokulasi dengan serum domba ke dalam rongga kandung empedu. Reaksi ini disebut "Alergi kolesistitis" oleh para peneliti yang melakukan dua studi ini.

(3) Konsumsi Kolesterol dan Lemak,Dalam tiga minggu percobaan random, peningkatan asupan kolesterol

(sekitar 500-1000 mg/hari) menunjukkan peningkatan saturasi kolesterol empedu pada kedua responden yang sehat dan pasien dengan asimptomatik batu empedu. Kenaikan saturasi kolesterol empedu ini mungkin akan meningkatkan risiko pembentukan batu empedu. Pada studi observasional, tingginya asupan lemak jenuh atau lemak trans dihubungkan dengan peningkatan insidens batu empedu. Sebaliknya, tinggi asupan Polyunsaturated atau Monounsaturated Fatty Acid dihubungkan dengan penurunan risiko batu empedu.

Tabel 1. Diet Restriksi Lemak[17]

Makanan yang dianjurkan Makanan yang tidak dianjurkan Minuman

Susu skim, kopi, teh, jus buah, soft drink Roti dan sereal

Mie, nasi, makaroni, gandum, popcorn Keju

Desserts

Gelatin, ice cream with skim milk, putih telur, cake, kraker, buah, gula

Telur 3 butir/minggu Buah-buahan Sesuai keinginan Daging, ikan, unggas

Makan daging secukupnya mulai dari daging ayam tanpa kulit, daging babi, hati, kambing

Susu full cream, susu cokelat

Biskuit, roti, roti manis, pancake, sereal dengan tambahan makanan sumber lemak Keju dari susu full cream

Cake, pie, pastry, es krim, cokelat Telur >1 butir per hari

Buah-buahan

Alpukat dalam jumlah yang banyak

Jerohan, kulit ayam, daging babi bagian kaki, peanut butter, tuna, salmon

Tabel 2. Makanan yang Menimbulkan Gejala Batu Empedu[2]

Makanan Persentase Reaksi Pasien (%)

Telur 93

Babi 64

Unggas 52

Susu 35

Kopi 22

Jeruk 19

Jagung 15

Biji-bijian 15

Kacang-kacangan 15

Apel 6

Tomat 6

44

BIMGI Volume 4 No.2 | Juli – Desember 2016 (4)Vegetarian Diet, Pada studi

cross-sectional, prevalensi penyakit batu empedu secara signifikan lebih rendah pada wanita yang vegetarian daripada wanita normal (12% vs 25%).

Kemudian, pada studi kohort prospektif sebanyak 80,898 wanita ditemukan bahwa peningkatan konsumsi protein nabati dihubungkan dengan penurunan risiko untuk kolesistektomi. Pada evaluasi terpisah pada kohort yang sama ditemukan bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur dihubungkan dengan penurunan insiden batu empedu. (5) Konsumsi Serat, Pada studi observasional, tinggi asupan serat dihubungkan dengan lebih rendah prevalensi batu empedu. Kemudian, suplementasi pada diet dengan 10-50 g/hari atau lebih gandum selama 4-6 minggu menurunkan saturasi kolesterol pada empedu responden yang sehat, dengan konstipasi, dan pasien dengan batu empedu. Serat dari padi-padian mempunyai peran utama dalam hal pencernaan di usus besar. Penurunan pembentukan doxycholic acid oleh bakteri usus dan peningkatan chenodoxycholic acid. Hal ini akan meningkatkan litogenitas empedu, yang mana chenodeoxycholic acid menurunkan litogenitas dan telah digunakan sebagai salah satu terapi untuk memutus batu empedu.

Berdasarkan studi tersebut, dianjurkan untuk konsumsi tinggi serat dapat memberikan manfaat untuk mencegah risiko pembentukan batu empedu.

3. KESIMPULAN

Empedu di dalam tubuh di produksi oleh Hati. Organ hati dalam tubuh mensekresi empedu untuk proses emulsifikasi dan absorbsi lemak. Asam empedu bekerja dengan getah pankreas untuk membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak dalam tubuh. Gangguan kesehatan paling sering adalah batu empedu.

Fisiologi saluran cerna lemak sangat tergantung oleh organ hati. Begitu pentingnya peran organ hati dalam tubuh sampai disebut sebagai Dapur dalam tubuh. Hal ini berkaitan dengan hampir semua metabolisme dalam tubuh berlangsung di hati. Ketika pasien batu empedu dengan indikasi operasi pengangkatan kandung empedu, fungsi

pencernaan lemak masih bisa berjalan karena empdeu dibuat di hati, bukan di

kandung empedu. Tempat

penyimpanan sementara empedu setelah di sekresi dari hati adalah di kandung empedu.

Sistem homeostasis tubuh akan mengatur keseimbangan sekresi empedu sehingga bisa mirip seperti awalnya saat masih ada kandung empedu. Diet gizi untuk penunjang pencegahan dan mengendalikan prognosis pasien batu empedu adalah dengan Diet Restriksi Lemak.

4. SARAN

Diharapkan untuk semua orang agar selalu menjaga konsumsi makanannya.

Menunjang kesehatan dengan menerapkan gizi seimbang, sehingga proses metabolisme zat gizi dalam tubuh tetap terjaga dan fisiologis saluran cerna bisa berjalan dengan semestinya terkait peran empedu dalam pencernaan dan penyerapan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anatomi & Fisiologi. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama, 2001.

2. Campbell, N. A, et al. Biologi Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta, Indonesia: EGC, 2004. Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.

5. "Gallbladder and Biliary Tract". Merck Manuals Consumer Version. 19 Maret Lubis, Nisrina Setiowati, Septa Sophiana. Fungsi Empedu dalam Pencernaan Lemak. 2010. 4 Juni 2016.

<https://mybiologystory.files.wordpress.

com/2014/11/percobaan-3-fungsi-empedu-dalam-pencernaan-lemak.pdf>.

45

BIMGI Volume 4 No.2 | Juli – Desember 2016 7. Bateson, MC. "Gallbladder disease".

BMJ. 318 : 7200(1999):1745–8.

8. Rapelino, Ferdiansyah. Pedoman Gizi Seimbang. 2014. 19 Maret 2016.

<http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2>.

9. Mitchell, et al. Gray’s Basic Anatomy.

International. Philadelphia: Elsevier, 2012.

10. Fadiel, Oenzil. Ilmu Gizi : Pencernaan, Penyerapan, dan Detoksikasi Zat Gizi. Jakarta:

Hipokrates, 1995.

11. R, Bowen. Secretion of Bile and the Role of Bile Acids In Digestion. 2001. 9

April 2016.

<http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/p athphys/digestion/liver/bile.html>.

12.Jasin, M. Sistematik Hewan.

Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya:

Sinar Wijaya, 1984.

13. University of Washington.

Regulation of Bile Release. 9 April

2016.

<https://courses.washington.edu/conj/be ss/bile/bile.html>.

14. Robbins, Kumar. Buku Ajar Patologi III, edisi 4. Jakarta: EGC, 1995.

15. U.S. Department of Health and Human Services. Dieting and Gallstones. 2013. 6 April 2016.

<http://www.niddk.nih.gov/health- information/health-topics/weight-control/dieting_gallstones/Pages/dieting -and-gallstones.aspx>.

16. Gaby, AR. "Nutritional approaches to prevention and treatment of gallstones". Altern Med Rev J ClinTher.

14 : 3(2009): 258–67.

17. L. Kathleen Mahan, Sylvia Escott-Stump. Krause’s Food and Nutrition Therapy. 12th ed. Missouri: Saunders Elsevier, 2008.

46

BIMGI Volume 4 No.2 | Juli – Desember 2016

Tinjauan Pustaka

ABSTRAK

Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah salah satu masalah gizi yang paling sering dialami oleh ibu hamil yang akan berdampak buruk bagi kesehatan janin maupun sang ibu. Penyebab KEK sendiri adalah karena kekurangan gizi (kalori dan protein) dalam waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik sebagai alternatif solusi Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Jangkrik adalah salah satu jenis serangga yang habitatnya luas, mudah dikembangbiakkan, dan bergizi tinggi sehingga sesuai untuk menjadi fortificant.

Sedangkan, gula kelapa merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas dan berbasis kearifan lokal yang memenuhi syarat-syarat untuk menjadi food vehicle yang sesuai. Pemanfaatan jangkrik sebagai tepung yang dicampurkan pada bahan pembuatan gula kelapa dapat menghasilkan produk gula kelapa yang padat gizi, menambah nilai ekonomis dan daya guna dari jangkrik yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal. Dalam setiap 100 gr Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik mengandung 336,84 Kalori, 54,2 gram karbohidrat, 19,8 gram protein, dan 9,6 gram lemak.Berdasarkan hasil perhitungan takaran saji Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik yang tepat untuk ibu hamil trimester 1 adalah sebesar 10 gram atau setara dengan 1 sendok makan, sedangkan ibu hamil trimester ke 2 dan 3 sebesar 15 gram atau setara dengan 1,5 sendok makan. Dengan mengkonsumsi Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik sesuai takaran dapat memenuhi kebutuhan zat gizi tambahan pada ibu hamil berkisar 10-21 %.

Kata kunci : Fortifikasi, jangkrik, gula kelapa, KEK ABSTRACT

Chronic Energy Deficiency (CED) is one of nutrition problems that most happen in pregnant women which has bad effect on health of the fetus and mother. Causation of CED is nutrition deficiency (calorie and protein) within long period of time. This research has aim to know Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik as alternative solution of Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women. Cricket is one type of insect that are widely spread, easy to breed, and has high nutrition so it is appropriate to be a fortificant.

Whereas coconut sugar or brown sugar is one kind of food that widely consumed and based on local wisdom, which is fulfill the requirements to be an appropriate food vehicle. Utilization of cricket as powder combined to the material of brown sugar can produce brown sugar with high nutrition, increase the economic value and the function of cricket that had not been used maximally. In 100 grams of Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik contains 336.84 cal, 54.2 grams carbohydrate, 19.8 grams protein, and 9.6 grams fat. Based on calculations, appropriate serving size of Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik for pregnant women trimester I is 10 grams or equal with 1 tablespoon, whereas for pregnant women trimester II and III is 15 grams or equal with 1,5 tablespoon. By consuming Gula Kelapa Berfortifikasi Jangkrik accord with the serving size, can supply amount of nutrition addition required by 10-21%.

Keywords : Fortification, cricket, brown sugar, CED

FORTIFIKASI PROTEIN DARI JANGKRIK PADA GULA KELAPA SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI

KEKURANGAN ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL

Dokumen terkait