i
Mitra Bestari
Prof. Dr. dr. Kusharisupeni Djokosujono, Msc
(Universitas Indonesia)
Yuliana Noor Setiawati Ulvie, S.Gz., M.Sc
(Universitas Muhammadiyah Semarang)
dr. H.Engkus Kusdinar Achmad, MPH
(Universitas Indonesia)
Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz.
MPH
(Universitas Darussalam Gontor)
Diana Nur Afifah S.TP.,Ph.D
(Universitas Diponegoro)
Lintang Purwara Dewanti, S.Gz., M.Gz.
(Universitas Muhammadiyah Prof .Dr.
Hamka)
Rahayu Indriasari, SKM., MPHCN., PhD
(Universitas Hasanuddin Makasar)
Pimpinan Umum
Amalia ShabrinaUniversitas Indonesia
Sekretaris
Alfu Nikmatul Laily
Universitas Indonesia
Bendahara
Angger Tarras R.Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka
Dinda Tri Lestari
Universitas Hasanuddin Makasar
Pimpinan Redaksi
NuriaWictaniaUniversitas Muhammadiyah Semarang
Tim Redaksi Nur Hikmawaty
Universitas Hasanuddin Makasar
Aysha Ayunda
Universitas Muhammadiyah Semarang
Ladyamayu Pinasti
Universitas Darussalam Gontor
Mila R
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka
Syifa Nala
Universitas Diponegoro
Maitri Prasetyo
Universitas Indonesia
Qisty Afifah
Universitas Indonesia
Tim Humas dan Publikasi
Aisyah AminiUniversitas Muhammadiyah Prof.DR. Hamka
Sutamara L.N
Universitas Hasanuddin Makasar
Revina F. N.P
Institut Pertanian Bogor
Meica Else H.P
STIK Carolus
Dina Muslimah A
Universitas Darussalam Gontor
Fadzila Musanti
Institut Pertanian Bogor
Tim Layout dan Desain
Iklimatul KhoeriahInstitut Pertanian Bogor
Intan Nabiela C
Universitas Muhammadiyah Semarang
Susunan Pengurus
ii
Susunan Pengurus ... i
Daftar Isi ... ii
Petunjuk Penulisan ... iii
Sambutan Pimpinan Umum ... ix
PENELITIAN
Perbedaan Pola Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Keluarga Di Daerah Pantai, Dataran Rendah Dan Dataran Tinggi Di Wilayah Kota Semarang Siti Hamidah, Agus Sartono, Hapsari Sulistya Kusuma ... 1Faktor Risiko Gizi Terhadap Kejadian Demensia Pada Lanjut Usia Di Panti Werda Elim Semarang Nuria Wicitania, Agustin Syamsianah, Yuliana Noor Setiawati Ulvie ... 9
Perbedaan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makro (Karbohidrat, Protein, Lemak, Dan Air) Berdasarkan Tingkat Stres Pada Remaja Putri Penghuni Rusunawa Putri Unimus Residence I Hariyati Fitriana, Agustin Syamsianah, Yuliana Noor Setiawati Ulvie ... 16
ADVERTORIAL
Pentingnya Sarapan Sehat Bagi Anak Usia Sekolah Dasar sebagai Modal Jangka Panjang Mencapai Hidup Sehat dan Produktif Mohammad Brachim Ansari...
22EDITORIAL
Hubungan Pola Asuh Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Andi Mukramin Yusuf ... 30TINJAUAN PUSTAKA
Masalah Gizi Pada Pasien Kemoterapi Di Tiga Rumah Sakit Dwi Sugiarti...
35Peran Empedu Dan Manajemen Gizi Terhadap Penderita Batu Empedu Arif Sabta Aji
...
39Fortifikasi Protein Dari Jangkrik Pada Gula Kelapa Sebagai Alternatif Solusi Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil Mufidah Ahmad, Stefani Verona Indi Andani, Vidya Anggarini Rahmasari
...
46ISSN: 2303 - 3932
Daftar Isi
iii
Pedoman Penulisan Artikel
Berkala Ilmiah Mahasiswa Gizi Indonesia (BIMGI)
Indonesian Nutrition Student Journal
Berkala Ilmiah Mahasiswa Gizi Indonesia (BIMGI) adalah publikasi tiap enam bulanan yang menggunakan sistem seleksi peer-review dan redaktur. Naskah diterima oleh redaksi, mendapat seleksi validitas oleh peer-reviewer, serta seleksi dan pengeditan oleh redaktur. BIMGI menerima artikel penelitian asli yang berhubungan dengan kelompok bidang ilmu gizi dasar, ilmu gizi terapan, gizi masyarakat, gizi klinis, pendidikan gizi, biokimia gizi, ilmu pangan, sanitasi dan ketahanan pangan, nutrigenomik, serta artikel tinjauan pustaka, laporan kasus, artikel penyegar ilmu gizi dan kesehatan, advertorial, petunjuk praktis, serta editorial. Tulisan merupakan tulisan asli (bukan plagiat) dan sesuai dengan kompetensi mahasiswa ilmu gizi.
Kriteria Artikel
1. Penelitian asli: hasil penelitian asli dalam ilmu gizi, ilmu pangan, kesehatan masyarakat, dan ilmu gizi dasar. Format terdiri dari judul penelitian, nama dan lembaga pengarang, abstrak, dan teks (pendahuluan, metode, hasil, pembahasan/diskusi, kesimpulan, dan saran).
2. Tinjauan pustaka: tulisan artikel review/sebuah tinjauan terhadap suatu fenomena atau ilmu dalam dunia gizi, ditulis dengan memerhatikan aspek aktual dan bermanfaat bagi pembaca.
3. Laporan kasus: artikel tentang kasus yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.
Artikel ini ditulis sesuai pemeriksaan, analisis, dan penatalaksanaan sesuai kompetensi ilmu gizi. Format terdiri dari pendahuluan, laporan, pembahasan, dan kesimpulan.
4. Artikel penyegar ilmu gizi: artikel yang bersifat bebas ilmiah, mengangkat topik- topik yang sangat menarik dalam dunia pangan, gizi, dan atau kesehatan, memberikan human interest karena sifat keilmiahannya, serta ditulis secara baik.
Artikel bersifat tinjauan serta mengingatkan pada hal-hal dasar atau gizi yang perlu diketahui oleh pembaca.
5. Editorial: artikel yang membahas berbagai hal dalam dunia pangan, gizi dan kesehatan, mulai dari ilmu dasar gizi, berbagai metode terbaru, organisasi, penelitian, penulisan di bidang pangan dan gizi, lapangan kerja sampai karir dalam dunia pangan dan gizi. Artikel ditulis sesuai kompetensi mahasiswa ilmu gizi.
Petunjuk Penulisan
iv 6. Petunjuk praktis: artikel berisi panduan analisis atau tatalaksana yang ditulis
secara tajam, bersifat langsung (to the point) dan penting diketahui oleh pembaca (mahasiswa ilmu gizi).
7. Advertorial: artikel singkat mengenai ilmu pangan dan gizi, kesehatan dan atau kombinasi terbaru, beserta penelitian, dan kesimpulannya. Penulisan berdasarkan metode studi pustaka.
Petunjuk Bagi Penulis
1. BIMGI hanya akan memuat tulisan asli yang belum pernah diterbitkan pada jurnal lain.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar, jelas, lugas, serta ringkas. Naskah diketik di atas kertas A4 dengan dua (2) spasi, kecuali untuk abstrak satu (1) spasi. Ketikan tidak dibenarkan dibuat timbal balik. Ketikan diberi nomor halaman mulai dari halaman judul. Batas atas, bawah, kiri dan kanan setiap halaman adalah 2.5 cm. Naskah terdiri dari maksimal 15 halaman.
3. Naskah harus diketik dengan komputer dan harus memakai program Microsoft Word.Naskah dikirim melalui email ke alamat [email protected] dengan menyertakanidentitas penulis beserta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
4. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Penelitian asli harus mengikuti sistematikasebagai berikut:
1. Judul karangan (Title)
2. Nama dan Lembaga Pengarang (Authors and Institution) 3. Abstrak (Abstract)
4. Naskah (Text), yang terdiri atas:
- Pendahuluan (Introduction) - Metode (Methods)
- Hasil (Results)
- Pembahasan (Discussion) - Kesimpulan
- Saran
5. Daftar Rujukan (Reference)
5. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Tinjauan pustaka harus mengikuti sistematika sebagai berikut:
1. Judul
2. Nama penulis dan lembaga pengarang 3. Abstrak
4. Naskah (Text), yang terdiri atas:
- Pendahuluan (termasuk masalah yang akan dibahas)
v - Pembahasan
- Kesimpulan - Saran
5. Daftar Rujukan (Reference)
6. Judul ditulis dengan huruf besar, dan bila perlu dapat dilengkapi dengan anak judul.
Naskahyang telah disajikan dalam pertemuan ilmiah nasional dibuat keterangan berupa catatankaki.
7. Nama penulis yang dicantumkan paling banyak enam orang, dan bila lebih cukup diikutidengan kata-kata: dkk atau et al. Nama penulis harus disertai dengan asal fakultas penulis.Alamat korespondensi ditulis lengkap dengan nomor telepon dan email.
8. Abstrak harus dibuat dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia. Panjang abstrak tidakmelebihi 200 kata dan diletakkan setelah judul makalah dan nama penulis.
9. Kata kunci (key words) yang menyertai abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kata kunci diletakkan di bawah judul setelah abstrak. Tidak lebih dari 5 kata, dan sebaiknya bukan merupakan pengulangan kata-kata dalam judul.
10. Kata asing yang belum diubah ke dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring (italic).
11. Tabel 12. Gambar
13. Metode statistik 14. Ucapan terima kasih
15. Daftar rujukan disusun menurut sistem Vancouver, diberi nomor sesuai dengan pemunculandalam keseluruhan teks, bukan menurut abjad. Contoh cara penulisan dapat dilihat
1. Artikel dalam jurnal i. Artikel standar
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996 Jun 1;124(11):980-3.
atau
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996;124:980-3.
Penulis lebih dari enam orang
Parkin Dm, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al. Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 year follow-up. Br j Cancer 1996;73:1006-12.
vi ii. Suatu organisasi sebagai penulis
The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996;164:282-4.
iii. Tanpa nama penulis
Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994;84:15.
iv. Artikel tidak dalam bahasa Inggris
Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996;116:41-2.
v. Volum dengan suplemen
Shen HM, Zhang QF. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994;102 Suppl 1:275-82.
vi. Edisi dengan suplemen
Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women`s psychological reactions to breast cancer. Semin Oncol 1996;23(1 Suppl 2):89-97.
vii. Volum dengan bagian
Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in non-insulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6.
viii. Edisi dengan bagian
Poole GH, Mills SM.One hundred consecutive cases of flap laceration of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990;107(986 Pt 1):377-8.
ix. Edisi tanpa volum
Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995;(320):110-4.
x. Tanpa edisi atau volum
Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325- 33.
xi. Nomor halaman dalam angka Romawi
Fischer GA, Sikic BI.Drug resistance in clinical oncology and hematology.Introduction. Hematol Oncol Clin North Am 1995 Apr;9(2):xi-xii.
2. Buku dan monograf lain i. Penulis perseorangan
Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed.
Albany (NY): Delmar Publishers; 1996.
ii. Editor, sebagai penulis
Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for elderly people. New York:Churchill Livingstone; 1996.
vii iii. Organisasi dengan penulis
Institute of Medicine (US).Looking at the future of the Medicaid program.
Washington: The Institute; 1992.
iv. Bab dalam buku
Philips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension: patophysiology, diagnosis, and management. 2nd ed.
New York: raven Press; 1995.p.465-78.
v. Prosiding konferensi
Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE, Rienhoff O, editors.MEDINFO 92.Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992.
vi. Makalah dalam konferensi
Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent advances in clinical neurophysiology.
Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan. Amsterdam: Elsevier;
1996.Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam: North-Hollan; 1992.p.1561- 5.
vii. Laporan ilmiah atau laporan teknis
1. Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor:
Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment billed duringskilled nursing facility stays. Final report. Dallas (TX): Dept. of Health andHuman Services (US), Office of Evaluation and Inspection;
1994 Oct. Report No.:HHSIGOEI69200860.
2. Diterbitkan oleh unit pelaksana :
Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Helath services research:
workforce and education issues. Washington: National Academy Press;
1995.Contract no.: AHCPR282942008.Sponsored by the Agency for Health CarePolicy and research.
viii. Disertasi
Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly/access and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington univ.; 1995.
ix. Artikel dalam Koran
Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissionsannually. The Washington Post 1996 Jun 21;Sect A:3 (col. 5).
x. Materi audiovisual
HIV + AIDS: the facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby- Yearbook; 1995.
viii 3. Materi elektronik
i. Artikel journal dalam format elektronik
Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 Jan-Mar [cited 1996 Jun 5]:1(1):[24 screens]. Available from: URL: HYPERLINK http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm
ii. Monograf dalam format elektronik
CDI, clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, Maibach H. CMEA Multimedia Group, producers.2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995.
iii. Arsip komputer
Hemodynamics III: the ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2. Orlando (FL): Computerized Educational Systems;
1993.
ix Salam Sehat Gizi Seimbang untuk seluruh mahasiswa Gizi Indonesia
Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT karna atas izin dan ridho-Nya jurnal elektronik BIMGI Vol.4 No.2 dapat terbit di bulan Oktober ini. Tak lupa shalawat serta salam kita junjungkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang telah banyak mengajari kita sampai kita berada di zaman terang benderang seperti ini.
BIMGI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Gizi Indonesia) merupakan jurnal elektronik yang berisikan artikel-artikel ilmiah dari mahasiswa gizi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. BIMGI di tahun ke empat ini, telah menerbitkan 7 edisi e-journal yang dapat diakses secara free di website www.bimkes.org. Seperti edisi sebelumnya, BIMGI Vol. 4 No.2 memiliki 8 artikel yang telah melewati proses penyeleksian secara ketat oleh dewan redaksi BIMGI.
Artikel yang berkualitas merupakan satu dari beberapa tujuan utama kami dalam menyajikan jurnal elektronik BIMGI ini. Maka dari itu, kami berusaha sangat keras untuk menerbitkan artikel-artikel ilmiah yang berkualitas. Sehingga mahasiswa gizi yang mengirimkan artikel ke BIMGI juga merasa puas bahwa tulisan ilmiahnya memiliki wadah publikasi, serta mahasiswa gizi yang membaca terbitan jurnal elektronik BIMGI merasa terpenuhi keingintahuannya menganai informasi-informasi seputar gizi. Kami berharap dengan terbitnya BIMGI Vol.4 No.2 ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi mahasiswa gizi Indonesia.
Keberhasilan dan kesuksesan terbitanya BIMGI ini dikarenakan banyak faktor. Satu diantaranya adalah dukungan dari semua pihak terkait. Untuk itu, kami ucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah terlibat baik langsung ataupun tidak langsung dalam membantu penerbitan e-journal ini. Kritik dan saran terhadap BIMGI sangat diperlukan untuk menciptakan BIMGI yang lebih baik lagi kedepannya.
Pimpinan Umum
Amalia Shabrina
Sambutan Pimpinan Umum
1
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016
PENELITIAN
ABSTRAK
Pendahuluan: Pola konsumsi terdiri dari keragaman, jumlah dan frekuensi bahan makanan yang dikonsumsi. Perbedaan pola konsumsi antar kelompok masyarakat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah potensi daerah tempat tinggal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Metode: Penelitian analitik dengan desain belah lintang dan metode survei. Jumlah sampel 30 KK pada setiap tipe wilayah yang diambil dengan cara random sampling. Uji ANOVA digunakan untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Hasil: Hasil penelitian mengungkapkan rata-rata jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein, daerah pantai 117,56 gram/kapita/hari (hewani 59,31gram dan nabati 58,24 gram), dataran rendah 154,25 gram/kapita/hari (hewani 51,49 gram dan nabati 103,33 gram), dataran tinggi 154,40 gram/kapita/hari (hewani 77,50 gram dan nabati 75,56 gram). Rata-rata tingkat keragaman bahan makanan sumber protein daerah pantai 14, 8 jenis, dataran rendah 12,1 jenis, dataran tinggi 15,6 jenis. Rata-rata frekuensi bahan makanan sumber protein perbulan daerah pantai 32,17 kali nabati dan 47,7 kali hewani, dataran rendah 21,17 kali nabati dan 44,13 kali hewani, dataran tinggi 35,43 kali nabati dan 40,2 kali hewani. Uji ANOVA menunjukkan ada perbedaan tingkat keragaman(p= 0,020), frekuensi (p=0,003) dan jumlah (p=0,008) bahan makanan sumber protein yang dikonsumsi keluarga di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Kesimpulan: Ada perbedaan pola konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Kata Kunci: Pola Konsumsi, Keragaman, Tingkat Keragaman, Jumlah, Frekuensi.
ABSTRACT
Introduction: The consumption patterns consist of the variation, quantity and frequency of food material. The differences in consumption patterns intergroup of societies were caused by many kinds of factors , one of them is potential of the region residence. The research aimed to know the differences in family consumption patterns food source of protein in littoral area, lowland and highland. Methods: The analytic research use split of latitude design and survey methods. The number of sample area 30 families of each type taken up by random sampling method. Anova test used to know the differences in family consumption patterns food source of protein in littoral area, lowland and highland.
Results: The result of researh shows that the average number of consumption food source of protein, in littoral area is 117,56 /grams/capita per day (animal 59,31gram and vegetable 58,24 grams), in lowland is 154,25/grams/capita/day (animal 51,49 gram and vegetable 103,33 grams), in highland is 154,40/grams/capita per day (animal 77,50 gram and vegetable 75,56 grams). The variation average level of food material of protein source in littoral area is 14, 8 varieties, in lowland is 12.1 varieties, and in highlands 15.6 varieties. The frequency average of food material of protein source per month littoral area is 32,17 vegetable times and 47,7 animal times, in lowland is 21,17 vegetable times and 44,13 animal times, in highland is 35,43 vegetable times and 40,2 animal times. Anova test shows that there are differences of variation level (p = 0,020 ), frequency ( p = 0,003 ) PERBEDAAN POLA KONSUMSI BAHAN MAKANAN SUMBER PROTEIN KELUARGA DI DAERAH PANTAI, DATARAN RENDAH DAN DATARAN TINGGI DI WILAYAH KOTA SEMARANG
Siti Hamidah, Agus Sartono, Hapsari Sulistya Kusuma Program Studi S1 Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang.
2
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016
and the number of ( p = 0,008 ) food material of protein source consumed by the families which live in littoral area, lowland and highland.Conclusions: There are differences in family consumption patterns food source of protein in the littoral area , lowland and highland.
Keywords: Consumption patterns , variety , variety level , number , frequency.
1. PENDAHULUAN
Protein dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk membangun jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Kebutuhan protein seseorang pada masa muda, relatif lebih besar dibanding pada masa dewasa maupun tua.[1] Penduduk Indonesia mengkonsumsi berbagai jenis bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan protein, yang secara umum dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan makanan hewani dan nabati, Sumber protein hewani dikatakan baik, terutama dilihat dari segi besar kandungan protein per 100 gram bahan makanan maupun dari mutunya. Bahan makanan sumber protein hewani adalah ikan, udang dan makanan hasil laut, daging unggas, telur, susu, dan daging ternak besar (sapi, kambing, kerbau dan lain- lain).Bahan makanan sumber protein nabati adalah, jamur, padi-padian, kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah dll) serta hasil olahanya (tempe, tahu, oncom dan lain-lain).
Pola konsumsi makanan terdiri dari keragaman, tingkat keragaman, jumlah dan frekuensi bahan makanan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sekelompok orang. Salah satu faktor yang diduga sangat kuat berpengaruh pada pola pangan sumber protein adalah tipe wilayah yang erat kaitannya dengan potensi wilayah tersebut dalam menyediakan bahan makanan secara alami bagi penduduknya. Ketersediaan aneka ragam pangan banyak ditentukan oleh kondisi geografis (termasuk topografis) wilayah karena akan berpengaruh pada jumlah dan jenis pangan yang dapat dihasilkan oleh wilayah tersebut.[2]
Dilihat dari keadaan geografis dan sumber daya perairan, masyarakat di daerah pantai yang sebagian besar adalah nelayan akan lebih banyak mengkonsumsi makanan sumber protein hewani yang berasal dari laut seperti ikan, kerang dan sejenisnya.
Masyarakat di daerah pegunungan
sebagian besar adalah petani sawah atau ladang sehingga akan cenderung lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan sumber karbohidrat dan sumber protein nabati. Masyarakat di daerah pegunungan akan cenderung lebih banyak mengkonsumsi bahan pangan, sumber protein yang berasal dari ternak kecil, seoerti unggas dan sejenisnya. [3,4]
Di ketiga daerah yang akan diteliti, akses untuk memperoleh bahan makanan sumber protein sangat mudah walaupun akses untuk ke pasar jauh, dikarenakan adanya pedagang keliling baik di wilayah pantai (kelurahan Bandarharjo), dataran rendah (kelurahan Rowosari) maupun dataran tinggi (kelurahan Mijen). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah pantai, dataran rendah ,dan dataran tinggi.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian analitik dengan desain belah lintang dan metode survei.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan menggunakan instrumen kuesioner untuk data jumlah anggota keluarga, pola konsumsi yang meliputi: jumlah, keragaman, tingkat keragaman dan frekuensi. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara mencatat data yang sudah ada meliputi gambaran umum dan profil Desa wilayah pantai (Bandarharjo), Dataran Rendah (Rowosari) dan Dataran Tinggi (Mijen).
Analisis deskriptif dilakukan untuk menganalisis perbedaan keragaman atau jenis bahan makanan sumber protein keluarga. Analisis data menggunakan uji ANOVA untuk melihat perbedaan rata-rata tingkat keragaman, jumlah, dan frekuensi.
3
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Karekteristik Tipe Wilayah
Sampel dari masing-masing wilayah 30 keluarga, diambil secara acak sederhana, baik di daerah pantai,
dataran rendah maupun dataran tinggi.
Adapun jumlah populasi di daerah pantai 4,759 keluarga, dataran rendah 3,214 keluarga dan dataran tinggi 804 keluarga.
Tabel 1. Distribusi Keluarga Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga dan Tipe Wilayah
No. Tipe Wilayah Jumlah Anggota Keluarga Total
1-3 4-6 7-10
1. Kelurahan Bandarharjo 11 18 4 30
2. Kelurahan Rowosari 15 14 1 30
3. Kelurahan Bubakan 7 23 - 30
Jumlah 33 55 5 90
Hasil penelitian
mengungkapkan bahwa rata-rata besar keluarga tertinggi adalah Kelurahan Bandarharjo 3,50±1,00 dan terendah adalah kelurahan bubakan 4,20±1,03.
Rata-rata besar keluarga di Kelurahan Bandarharjo adalah 4,30±1,82 orang, Kelurahan Rowosari adalah 3,50 orang dan Kelurahan Bubakan 4,20±1,03 orang.
Keragaman (Jenis) Bahan Makanan Sumber Protein
Berdasarkan hasil penelitian, keragaman konsumsi bahan makanan sumber protein menurut wilayah yaitu daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi dapat dibaca pada tabel 2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan makanan
sumber protein di daerah dataran tinggi lebih beragam dibandingkan dengan daerah dataran rendah dan dearah pantai. Walaupun tinggal di daerah dataran tinggi, tetapi masyarakat sering mengkonsumsi bahan makanan sumber protein dari hasil laut seperti udang, kerang, cumi-cumi dan ikan asin, serta ikan tawar, selain mengkonsumsi tahu tempe dan hasil ternak kecil seperti ayam serta telur ayam, Hal ini disebabkan karena masing-masing keluarga tidak kesulitan dalam memperoleh berbagai jenis bahan makanan yang dibutuhkan dikarenakan akses memperolehnya yang mudah.
Selain mendapatkan dengan membeli dari pedagang keliling, warung, atau pasar.
Tabel 2. Keragaman Bahan Makanan Sumber Protein Keluarga Menurut Tipe Wilayah No Bahan Makanan
Sumber Protein
Pantai Dataran Rendah Dataran Tinggi
1. Daging Sapi √ √ √
2. Daging Kambing √ √ √
3. Babat - - √
4. Telur Ayam √ √ √
5. Telur Puyuh √ √ √
6. Telur Asin √ √ √
7. Ikan √ √ √
8. Kerang √ - √
9. Kepiting √ - -
10. Udang √ √ √
11. Cumi-cumi √ - √
12. Daging Ayam √ √ √
13. Bebek - √ √
14. Susu √ √ √
15. Kacang Tanah √ √ √
4
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 9,33 7,73 10,43
Rata-rata Tingkat Keragaman Bahan Makanan Sumber Protein Hewani Berdasarkan Tipe Wilayah
Rata-rata tingkat keragaman bahan makanan sumber protein hewani tertinggi adalah di dataran tinggi 10,43±3,84 dan terendah adalah di dataran rendah 7,73±3,65. Uji beda rata-rata tingkat keragaman bahan makanan sumber protein hewani menggunakan uji ANOVA, hasilnya adalah p-value 0,020 (p-value < 0,05) menunjukkan ada perbedaan tingkat keragaman bahan makanan sumber protein hewani antara daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Gambar 1. Tingkat Keragaman Bahan Makanan Sumber Protein Hewani Menurut Tipe Wilayah
Rata-rata Tingkat Keragaman Bahan Makanan Sumber Protein Nabati Yang Dikonsumsi Keluarga Menurut wilayah.
Tingkat keragaman bahan makanan sumber protein nabati tertinggi adalah pantai 5,50±1,16 dan terendah dataran tinggi 5,14±1,45. Uji beda rata-rata tingkat keragaman bahan makanan sumber protein nabati menggunakan uji ANOVA, hasilnya adalah p-value 0,604 (p-value > 0,05) menunjukkan tidak ada perbedaan antara tingkat keragaman bahan makanan sumber protein nabati di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Hal ini disebabkan setiap hari responden di daerah pantai,
dataran rendah dan dataran tinggi mengkonsumsi protein nabati seperti tahu dan tempe.
Gambar 2. Tingkat Keragaman Bahan Makanan Sumber Protein Nabati Menurut Tipe Wilayah
Jumlah Bahan Makanan Sumber Protein yang Dikonsumsi Keluarga Berdasarkan Tipe Wilayah
Jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein di daerah pantai adalah 117,56 gram/kapita/hari (protein hewani 59,31 gram dan protein nabati 58,24 gram), di daerah dataran rendah adalah 154,25 gram/kapita/hari (protein hewani 51,49 gram dan protein nabati 103,33 gram/kapita/hari, dan di daerah dataran adalah 154,40 gram/kapita/hari (protein hewani 77,50 gram dan protein nabati 75,56 gram).
Jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein hewani yang tertinggi adalah di daerah dataran tinggi yaitu 77,50 gram/kapita/hari dan terendah adalah di daerah dataran rendah yaitu 51,49 gram/kapita/hari.
Hal ini disebabkan responden daerah dataran tinggi mengkonsumsi bahan makanan lebih beragam dibandingkan daerah dataran rendah dan pantai,walaupun responden tinggal di daerah dataran tinggi responden dataran tinggi sering mengkonsumsi bahan makanan sumber protein hasil laut seperti ikan, sedangkan konsumsi bahan makanan sumber protein nabati tertinggi adalah daerah dataran rendah
pantai Dataran Rendah
Dataran Tinggi 5,5
5,27 5,14 No Bahan Makanan
Sumber Protein
Pantai Dataran Rendah Dataran Tinggi
16. Kacang hijau √ √ √
17. Kacang Mete √ - -
18. Tempe √ √ √
19. Tahu √ √ √
20. Tempe Gembus √ √ √
5
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 103,33 gram/kapita/hari dan terendah
adalah daerah pantai 58,24 gram/kapita/hari.
Apabila dibandingkan dengan PPH (pola pangan harapan) konsumsi bahan makanan sumber protein hewani dari masing-masing wilayah masih kurang dibandingkan standar konsumsi ideal sebesar 150 gram/kapita/hari.[5]
Konsumsi protein hewani di wilayah pantai 39,54%, dataran rendah 34,33%, sedangkan dataran tinggi 51,67%, belum mencukupi kebutuhan protein hewani yang ideal baik di wilayah pantai,dataran rendah dan dataran tinggi.
Berdasarkan pemenuhan kebutuhan protein masyarakat masih tertumpu pada protein nabati idealnya protein hewani minimal 50% dari total konsumsi protein hewani untuk mencapai kualitas sumberdaya manusia yang baik dan mampu bersaing pada tataran global.[6]
Ketersediaan pangan sepanjang waktu, dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan.[7]
Hasil uji ANOVA, menunjukkan ada perbedaan antara konsumsi bahan makanan sumber protein daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi ( p = 0,008) .
Gambar 3. Rata-rata Jumlah Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Menurut Tipe Wilayah
Hasil uji ANOVA, menunjukkan ada perbedaan antara konsumsi bahan makanan sumber protein hewani daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. (p= 0,001).
Rata-rata julah konsumsi bahan makanan sumber protein hewani yang tertinggi adalah di daerah dataran tinggi yaitu 77,5 gram/kapita/hari dan terendah adalah di dataran rendah yaitu 51,49 gram/kapita/hari. Hal ini disebabkan karena responden daerah dataran tinggi mengkonsumsi bahan makanan sumber protein hewani lebih beragam dibandingkan dengan daerah dataran rendah, responden dataran tinggi lebih sering mengkonsumsi bahan makanan sumber protein hewani dari hasil laut seperti ikan, udang, cumi-cumi dan lain-lain dikarenakan akses untuk mendapatkan bahan makanan sumber protein hewani dari hasil laut mudah, sedangkan responden dataran rendah sering mengkonsumsi bahan makanan sumber protein nabati dari kacang-kacangan dikarenakan tingkat pendapatan rendah.
Gambar 4. Rata-rata Jumlah Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Hewani
Hasil uji ANOVA, menunjukkan ada perbedaan antara konsumsi bahan makanan sumber protein nabati daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi (p = 0,001). Rata- rata jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein nabati tertinggi adalah di dataran rendah, yaitu 103,33 gram/kapita/hari dan terendah di daerah pantai yaitu 58,24 gram/hari/kapita. Protein nabati kacang-kacangan seperti kedelai, dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein dan pola makan.[5]
500 100150
200 117,5 6
154,2 5
154,4
Jumlah Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein
0 20 40 60 80 59,31
51,49 77,5
Jumlah Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Hewani
6
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 Gambar 5. Rata-rata Jumlah Konsumsi
Bahan Makanan Sumber Protein Nabati Frekuensi Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Hewani Keluaraga Menurut Tipe Daerah
Rata-rata frekuensi konsumsi sumber protein hewani. Frekuensi sumber protein tertinggi adalah di daerah dataran tinggi 35,43±16,46 x/bulan, sedangkan frekuensi terendah di daerah dataran rendah 21,17±13,49 x/bulan.
Hal ini dikarenakan daerah dataran tinggi setiap hari mengkonsumsi sumber protein hewani, sedangkan di daerah dataran rendah tidak setiap hari mengkonsumsi sumber protein hewani sebagian besar mengkonsumsi sumber protein nabati.
Daerah pantai rata-rata konsumsi protein hewani 32,17±18,89 x/bulan. Bahan makanan yang sering dikonsumsi di daerah pantai adalah ikan, daging ayam, dan telur ayam, konsumsi daging sapi dan daging kambing sangat rendah. Tingginya tingkat konsumsi ikan laut dan ikan air tawar serta udang disebabkan tingkat ketersediaan konsumsi ikan laut dan ikan air tawar serta udang pada wilayah pesisir.[9]
Daerah dataran rendah bahan makanan sumber protein yang sering dikonsumsi adalah sumber protein nabati seperti tahu tempe, sumber protein hewani yang sering dikonsumsi telur ayam, sedangkan konsumsi sumber protein yang paling rendah adalah daging sapi, daging kambing dan makanan hasil laut seperti ikan,cumi-cumi kerang dan kepiting.
Daerah dataran tinggi bahan makanan sumber protein yang sering dikonsumsi adalah ikan, udang, cumi- cumi, kerang, daging ayam, dan telur
ayam. Sedangkan sumber bahan makanan sumber protein yang jarang dikonsumsi adalah daging kambing dan daging sapi.
Umumnya masyarakat daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi mengkonsumsi daging sapi dan daging kambing apabila ada hajatan atau pada waktu perayaan seperti idul Fitri atau idul Adha.
Uji beda rata-rata frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani menggunakan uji ANOVA hasilnya adalah p-value 0,003 (p-value < 0,005) menunjukkan ada perbedaan frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Penelitian ini sejalan dengan Umami bahwa ada perbedaan yang nyata frekuensi konsumsi daging, telur, ikan pindang dan susu diantara perkotaan dan perdesaan.[8]
Gambar 6. Rata-rata Frekuensi Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Hewani
Frekuensi Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Nabati Keluarga Menurut Tipe Daerah
Rata-rata frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein nabati yang paling tinggi adalah di daerah pantai yaitu 47,70 ± 22,86 kali per bulan dan terendah adalah di daerah dataran tinggi, yaitu 40,20±27,46 kali per bulan.
Protein nabati seperti kacang- kacangan dan olahannya (tahu tempe) dikonsumsi 1-2 kali dalam sehari, baik di daerah pantai, dataran rendah maupun dataran tinggi. Hal ini dikarenakan harga tempe tahu terjangkau dan mudah untuk didapatkan oleh masyarakat.
Hasil uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein nabati di daerah pantai, 0
50 100 150 58,24
103,33 75,56
Jumlah Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Nabati
pantai Dataran Rendah
Dataran Tinggi 32,17 21,17 35,43
7
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 pantai Dataran
Rendah
Dataran Tinggi 47,7 44,13
40,2
dataran rendah dan dataran tinggi (p = 0,520) Rendahnya konsumsi protein hewani sangat erat hubungannya dengan daya beli masyarakat. Namun protein nabati dari kacang-kacangan seperti kedelai, dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein dan pola makan namun ketersediaan aneka kacang-kacangan
sebagai sumber protein nabati, relatif masih kurang memadai.[5]
Gambar 7. Rata-Rata Frekuensi Konsumsi Bahan Makanan Sumber Protein Nabati
4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Rata-rata jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah pantai adalah 117,56 gram/kapita/hari. Tingkat keragaman daerah pantai adalah 18 jenis, sumber protein yang paling sering dikonsumsi keluarga di daerah pantai adalah ikan, telur ayam, daging ayam. Bahan makanan sumber protein yang paling sedikit dikonsumsi adalah daging sapi dan daging kambing. Rata-rata frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani dalam sebulan adalah 32,17±18,89 kali dan protein nabati 47,7±22,86 kali.
Rata-rata jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah dataran rendah adalah 154,25 gram/kapita/hari. Tingkat keragaman daerah dataran rendah adalah 15 jenis, sumber protein yang paling sering dikonsumsi tahu, tempe, dan telur ayam. Bahan makanan sumber protein yang paling sedikit dikonsumsi daging sapi, daging kambing, ikan, cumi- cumi,kerang dan kepiting. Rata-rata frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani dalam sebulan adalah 21,17±13,49 kali dan protein nabati 44,13±25,43 kali.
Rata-rata jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein keluarga di daerah dataran tinggi adalah 154,40 gram/kapita/hari.
Tingkat keragaman daerah dataran tinggi adalah 18 jenis, sumber protein yang paling sering dikonsumsi ikan, udang, cumi-cumi, kerang, daging ayam, dan telur ayam. Bahan makanan sumber protein yang paling sedikit dikonsumsi daging sapi dan daging kambing. Rata-rata frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani dalam sebulan adalah 35,43±16,46 kali dan protein nabati 40,2±27,46 kali.
Ada perbedaan tingkat keragaman bahan makanan sumber protein hewani di daerah pantai, dataran dataran rendah dan dataran tinggi. Tidak ada perbedaan tingkat keragaman bahan makanan sumber protein nabati di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Ada perbedaan jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Ada perbedaan jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein hewani di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Ada perbedaan jumlah konsumsi bahan makanan sumber protein nabati di daearah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Ada perbedaan frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein hewani di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Tidak ada perbedaan frekuensi konsumsi bahan makanan sumber protein nabati di daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
Saran
Dinas Kesehatan Kota Semarang melalui Puskesmas setempat, perlu meningkatkan pendidikan kesehatan, khususnya promosi gizi untuk meningkatkan konsumsi protein hewani kepada masyarakat wilayah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 75 tahun 2013. Angka
8
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Bagi Bangsa Indonesia.
2. Setyawati, Tutik. 2013.
Pergeseran Pola Konsumsi Bahan Makanan Penduduk Indonesia Tahun 2002-2011.
Malang, Jawa Timur.
3. Anugerah, Y.G.I. 2015.
Diversifikasi Konsumsi Pangan Rumah Tangga Pedesaan di Desa Sukolilo Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Jurnal Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Situbondo
4. Auliya,Cholida,. 2015. Profil Status Gizi Balita Ditinjau Dari Topografi Wilayah Tempat Tinggal ( Studi Di wilayah Pantai dan Di wilayah Punggung Bukit Kabupaten Jepara). Skripsi Unnes. Semarang
5. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI.2012.
ROADMAP Diversifikasi Pangan 2011-2015. Jakarta
6. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). 2008. Jakarta : Angka Kecukupan Karbohidrat, Protein, dan Lemak. No. IX Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
7. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. 2011.
Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011 – 2015.
Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Jakarta
8. Umami, S., K. 2014. Hubungan Pola Konsumsi Pangan Sumber Protein Serta Aktivitas Fisik Dengan Massa Otot Pada Remaja di Perdesaan dan Perkotaan. Departemen Gizi
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia. Skripsi. IPB. Bogor 9. Firmansyah dan Farhan
Muhammad. 2014. Analisis Pola Konsumsi Daging Sapi pada Masyarakat Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol.XVII No. 2 10. Depkes. 2011. Strategi nasional
penerapan pola konsumsi aktivitas fisik untuk mencegah penyakit tidak menular.
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta 11. Listari. T. S., 2005. Perbedaan Tingkat Konsumsi Energi, Protein dan Status Gizi Anak Balita di Daerah Pantai dan Daerah Pegunungan Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. KTI Unimus. Semarang
12. Notoadmojo, Soekidjo.2002.
Metode Penelitian Kesehatan.
PT. Rineka Cipta.
13. Rikesdas. 2010. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Jakarta.
14. Sidiatava, R., Putra. 2013. Gizi dan Diet. D-Medika Anggota Ikapi.Widodo, R. 2009. Makanan, Suplemen, dan Obat Pada Anak.
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
15. Hayami, Y dan Kikuchi, M. 1987.
Dilema Ekonomi Desa, Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Terjemahan oleh Sahara, D. Noer. Penerbit yayasan Obor
Indonesia. Jakarta.
9
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016
PENELITIAN
ABSTRAK
Pendahuluan: Demensia adalah gejala yang disebabkan oleh penyakit otak yang biasanya bersifat kronis atau progresif. Demensia adalah gejala penurunan fungsi intelektual umumnya ditandai terganggunya minimal tiga fungsi yaitu bahasa, memori dan emosional. Dua faktor yang sangat berkaitan erat dengan demensia yaitu protective factors (tingkat pendidikan, aktivitas fisik, pola konsumsi) dan risk factors (usia, tingkat pendidikan dan riwayat demensia keluarga). Pola konsumsi dapat dilihat dengan tingkat kecukupan zat gizi mikro, karena zat gizi mikro seperti vitamin B6, asam folat, B12 dan mineral magnesium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko gizi yang paling mempengaruhi kejadian demensia pada lansia di Panti Werda ELIM Semarang.
Metode: Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian 44 lanjut usia yang tinggal di Panti Werda ELIM Semarang. Uji hipotesis menggunakan analisis statistik Chi-square dan uji regresi logistik. Tingkat kecukupan zat gizi mikro berdasarkan perbandingan asupan dengan AKG berbasis data food weighing (penimbangan makanan). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecukupan vitamin B6 (56,8%), asam folat (75%), vitamin B12 (61,4%), dan magnesium (63,6%) termasuk dalam kategori tingkat kecukupan kurang. Tingkat demensia dengan kategori definite gangguan kognitif yaitu 72,7%. Analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat kecukupan vitamin B6 berhubungan dengan kejadian demensia (p=0,03; OR=5,67). Tingkat kecukupan asam folat tidak berhubungan dengan kejadian demensia (p=0,24;
OR=0,733), demikian juga pada vitamin B12 (p=0,31; OR=0,81), dan magnesium (p=0,48;
OR=0,83). Kesimpulan: Tingkat kecukupan B6 merupakan faktor risiko gizi terhadap kejadian demensia pada lanjut usia.
Kata Kunci: risiko gizi, vitamin, mineral, kejadian demensia, lanjut usia ABSTRACT
Introduction: Dementia is a syndrome due to brain disease that is usually chronic or progressive. Dementia is a symptom of decline in intellectual function generally indicated minimal disruption of the three functions of language, memory and emotional. Two factors very closely related to dementia the protective factors (levels of education, physical activity, consumption patterns) and risk factors (age, levels of education and dementia) family history. The consumption patterns can be seen with adequate level of the micro nutrients, because the nutrients micro as vitamin B6, folic acid, B12 and mineral magnesium. This research aims to determine nutritional risk factors that most influence the incidence of dementia in the elderly in Panti Werda ELIM Semarang. Methods: The kind of research is analytic with the approach of cross sectional study. The sample of 44 elderly who live in the Panti Werda ELIM Semarang. The hypothesis using the statistical analysis Chi-square test and logistic regression. Sufficient levels of micronutrient intake by comparison with the AKG data-based food weighing (weighing food). Results: The results showed sufficient levels of vitamin B6 (56,8%), folic acid (75%), vitamin B12
(61,4%), and magnesium (63,6%) included in the category of lacking sufficient levels.Rates of dementia with cognitive impairment definite category is 72.7%. Analysis statistic indicates that the adequacy vitamin B6 relating to the dementia (p = 0,03; OR = 5,67). The adequate level of the folic acid is not relating to the incident dementia (p = 0.24; OR = 0,733), also for vitamin B12 (p = 0,31; OR = 0,81), and magnesium (p = 0,48;
FAKTOR RISIKO GIZI TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANJUT USIA DI PANTI WERDA ELIM SEMARANG
Nuria Wicitania, Agustin Syamsianah, Yuliana Noor Setiawati Ulvie
Program Studi S1 Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 10 OR = 0,83). Conclusions: B6 is adequate risk factors nutrition on dementia on the elderly.
Keywords: risk of nutrition, vitamins, minerals, dementia, elderly 1. PENDAHULUAN
Demensia berkaitan dengan lanjut usia, bahkan bisa menyerang pada pra lanjut usia. Demensia pun tidak dapat dianggap penyakit yang biasa terjadi pada lanjut usia. Demensia merupakan gejala yang disebabkan karena beberapa penyakit tertentu sehingga akan terjadinya perubahan perilaku dan kepribadian yang akan bertindak dalam kehidupan sehari-harinya.[1] Dua faktor yang sangat berkaitan erat dengan demensia yaitu protective factors terdiri dari tingkat pendidikan, aktivitas fisik, pola konsumsi dan risk factors terdiri dari usia, riwayat penyakit, dan riwayat demensia keluarga.[2]
Peningkatan angka kejadian demensia terjadi seiring bertambahnya usia. Prevalensi demensia meningkat dua kali setiap pertambahan usia 5 tahun setelah melewati usia 60 tahun.
Terdapat 7,2% populasi lanjut usia yang berusia 60 tahun keatas pada tahun 2010 di Indonesia. Belum ada data yang pasti tentang prevalensi demensia di Indonesia.[3]
Zat gizi mikro vitamin maupun mineral yang sering mengalami defisit atau kekurangan yaitu pada vitamin B6, asam folat, dan B12. Zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral sangat dibutuhkan untuk lanjut usia, contohnya sebagai pengatur tubuh dengan memperlancar proses oksidasi, memelihara fungsi normal otot dan saraf, vitalitas jaringan dan menunjang fungsi lain, meskipun tampak sehat, kekurangan vitamin dan mineral tetap saja berlangsung pada lanjut usia.[4]
Beberapa penelitian membuktikan bahwa telah terjadi defisiensi vitamin B6, asam folat, B12, dan vitamin D. Vitamin merupakan senyawa kimia yang sangat esensial bagi tubuh walaupun ketersediaan dalam tubuh hanya diperlukan dalam jumlah sedikit, namun manfaatnya sangat diperlukan untuk tubuh seperti mencegah timbulnya radikal bebas pada lanjut usia dan bermanfaat untuk sistem imunitas pada lanjut usia.[5]
Zat gizi mikro seperti zat besi, zink, selenium, magnesium, mangan, kromium, kalsium, memiliki efek anti- penuaan yang di butuhkan untuk setiap orang termasuk pada lanjut usia.[5]
Memperhatikan zat gizi hingga mikro seperti vitamin dan mineral sangatlah penting. Asupan vitamin A, E, C, Fe dan Zn yang cukup dapat mengurangi risiko demensia pada lanjut usia.[6] Asupan vitamin B12 sangat berpengaruh tinggi terhadap kejadian kognitif pada lanjut usia.[7] Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko gizi sebagai faktor risiko kejadian demensia pada lanjut usia di Panti Werda ELIM Semarang.
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional.
Populasi penelitian adalah seluruh lanjut usia penghuni Panti Werda ELIM sebanyak 57 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian diambil sebanyak 44 orang dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.
Data Primer dalam penelitian ini meliputi, identitas sampel tinggi badan, berat badan, data kejadian demensia, data konsumsi makanan, data asupan vitamin dan mineral yang meliputi asupan vitamin B6, asam folat, B12 dan magnesium. Data sekunder meliputi gambaran umum lokasi penelitian.
Data tingkat kecukupan vitamin B6, asam folat, B12 dan magnesium diperoleh dengan menghitung rata-rata asupan zat gizi mikro tersebut dibandingkan dengan AKG. Adapun rumusnya sebagai berikut :
Tingkat Kecukupan Zat Gizi
=asupan zat gizi
AKG 𝑥 100%
Hasil perhitungan tingkat kecukupan zat gizi tersebut kemudian dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu :
11
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 Tabel 1. Kategori Kecukupan Zat Gizi
Mikro
Kategori Tingkat Kecukupan Zat Gizi Mikro (% AKG) Cukup
Kurang
≥ 77%
< 77%
Sumber : Gibson, 2005 Data kejadian demensia diukur dengan menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) yang terdiri dari 11 pertanyaan dan setiap pertanyaan memiliki skor 1 – 5 untuk kejadian demensia dari yang paling ringan hingga paling berat. Hasil jawaban kemudian dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu :
Tabel 2. Kategori Kejadian Demensia Kategori Skor Stres
Normal
Probable Gangguan Kognitif Definite Gangguan Kognitif
24 – 30 17 – 23 0 – 16 Sumber : Kaplan, 2010
Uji hipotesis dianalisis menggunakan Chi-Square dan regresi logistik. Hubungan antar variabel ditentukan dengan melihat tingkat signifikansi 0,05. Variabel yang diuji
dikatakan signifikan apabila tingkat signifikansi < 0,05.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lanjut Usia
Karakteristik lanjut usia yang tinggal di Panti Werda ELIM dapat dilihat pada tabel 3. Rata-rata skor kejadian demensia adalah 16,500 ± 7,822 termasuk kedalam kategori definite gangguan kognitife. Hal ini terjadi karena usia yang semakin tua, aktivitas yang rendah serta asupan makan yang tidak mencukupi sesuai dengan kebutuhan.
Tingkat kecukupan vitamin B6 rata-rata 1,032 ± 0,183 mg/hari termasuk dalam kategori kurang. Hasil penelitian ini didapatkan semua subjek mengkonsumsi nasi sebagai bahan makanan utama. Tempe dan tahu merupakan lauk nabati utama yang hampir setiap hari dikonsumsi subjek, sedangkan kacang-kacangan jarang disajikan dan dikonsumsi. Lauk hewani yang dikonsumsi diantaranya telur, daging ayam dan ikan. Rata-rata subjek jarang menghabiskan lauk hewani dan kacang-kacangan, karena masakan yang disajikan tidak ada rasa, tidak enak, ataupun tekstur yang keras.[7]
Tabel 3. Karakteristik Lanjut Usia
Karakteristik Responden Jumlah (n) Persentase (%) Umur (tahun)
45 – 59 1 2,3
60 – 75 14 31,8
76 – 90 28 63,6
> 90 1 2.3
Jumlah 44 100
Jenis Kelamin
Laki-laki 9 20,5
Perempuan 35 79,5
Jumlah 44 100
Kejadian Demensia
Normal 12 27,3
Definite Gangguan Kognitif 32 72,7
Jumlah 44 100
Tingkat Kecukupan B6
Kurang 25 56,8
Cukup 19 43,2
Jumlah 44 100
Tingkat Kecukupan Asam Folat
Kurang 33 75,0
Cukup 11 25,0
Jumlah 44 100
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 12 Karakteristik Responden Jumlah (n) Persentase (%) Tingkat Kecukupan B12
Kurang 27 61,4
Cukup 17 38,6
Jumlah 44 100
Tingkat Kecukupan Magnesium
Kurang 28 63,6
Cukup 16 35,4
Jumlah 44 100
Tingkat kecukupan asam folat pada lanjut usia memiliki rata-rata 247,064 ± 56,807 mcg/hari yang termasuk dalam kategori kurang.
Sumber makanan yang di dapat berasal dari jagung manis, kacang hijau, roti, dan pepaya. Lanjut usia hanya sebagian kecil yang menghabiskan makanan tersebut. Selebihnya lanjut usia tidak menghabiskan makanan yang telah disajikan. Kurangnya mengkonsumsi buah dan sayuran juga dapat menyebabkan terjadinya defisiensi asam folat.[8]
Tingkat kecukupan vitamin B12
didapatkan rata-rata 1,5991 ± 0,3133 mcg/hari dengan kategori kurang.
Vitamin B12 adalah vitamin yang banyak berhubungan dengan darah dan sistem susunan saraf pusat, ditemukan oleh dua peneliti yang bekerja secara terpisah pada tahun 1948, yaitu E.L Smith di Inggris dan L.F. Parker di Amerika Serikat. Sumber makanan Vitamin B12 yang sering dikonsumsi yaitu telur, daging ayam, tahu, tempe dan ikan. Dapat disimpulkan bahwa lanjut usia yang mengalami tingkat kecukupan kurang ada 27 orang. Hal ini dikarenakan lanjut usia tidak menghabiskan makanan yang telah disajikan, bahkan sebagian besar jarang
memakan lauk pauk yang telah disajikan.
Tingkat kecukupan magnesium rata-rata 218,093 ± 39,8839 mg/hari yang termasuk dalam kategori kurang.
Sumber makanan yang mengandung magnesium diantaranya susu, kacang- kacangan, ikan, pisang, dan sayuran hijau yang jarang dihabiskan para lanjut usia. Dibuktikan dengan tingkat kecukupan kurang terdapat 28 orang.
Mineral magnesium disebut sebagai
―mineral awet muda‖ dan magnesium berperan sebagai katalisator dalam reaksi biologi termasuk metabolisme energi, karbohidrat, lipid, protein dan asam nukleat, serta dalam sintesis, degradasi, dan stabilitas bahan gen DNA di dalam semua sel jaringan lunak.
Kekurangan mineral ini menyebabkan kemunculan tanda-tanda penuaan lebih dini.[5]
Hubungan Tingkat Kecukupan Vitamin B6 dengan Kejadian Demensia
Vitamin B6, yang terdiri dari tiga senyawa kimia yang berbeda piridoksal, pyridoxamine, dan piridoksin, terlibat dalam regulasi fungsi mental dan suasana hati.
Tabel 4. Tingkat Kecukupan Vitamin B6 dengan Kejadian Demensia Tingkat
Kecukupan B6
Demensia
Jumlah n (%)
p
value OR CI 95%
Normal n (%)
Demensia n (%)
Kurang 10 (40,0) 15 (60,0) 25 (100)
0,030 5,667 1,067 – 30,085 Cukup 2 (10,5) 17 (89,5) 19 (100)
Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,03 (p ≤ 0,05), maka dapat disimpulkan ada hubungan bermakna antara tingkat kecukupan B6
dengan kejadian demensia. Kekuatan hubungan antara tingkat kecukupan B6
dengan kejadian demensia dapat dilihat
dari nilai OR yaitu 5,667 dengan 95% CI
= 1,067 – 30,085 artinya responden yang tingkat kecukupan dalam kategori kurang memiliki risiko 5,7 kali untuk mengalami demensia.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Utami et al., pada tahun 2013
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 13 dengan menggunakan uji korelasi antara
tingkat kecukupan vitamin B1, B2, dan B6
dengan kejadian demensia yang menunjukkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat kecukupan vitamin B1, B2, dan B6 dengan kejadian demensia (p<0,05). Hal ini berarti semakin rendah tingkat kecukupan vitamin B1, B2, dan B6 maka semakin tinggi nilai CDR. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kekurangan vitamin B dengan gangguan metabolik pada penyusun struktural jaringan otak, seperti phospholipids dan myelin, serta sinyal molekul, seperti neurotransmitter.
Vitamin B6 penting untuk mempertahankan fungsi otak yang sehat, pembentukan sel darah merah, pemecahan protein, sintesa antibodi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.[9]
Hubungan Tingkat Kecukupan Vitamin Asam Folat dengan Kejadian Demensia
Folat adalah bentuk vitamin B9, atau yang sering disebut B9 yang khususnya ditemukan dalam sayuran berwarna hijau. Asam folat berperan sebagai koenzim penting yang berguna dalam berbagai macam metabolisme.
Tabel 5. Tingkat Kecukupan Vitamin Asam Folat dengan Kejadian Demensia Tingkat
Kecukupan Asam Folat
Demensia
Jumlah
% p value OR CI 95%
Normal n (%)
Demensia n (%)
Kurang 11 (33,3) 22 (66,7) 33 (100)
0,24 0,733 0,540 – 0,995 Cukup 1 (9,1) 10 (90,9) 11 (100)
Hasil analisis menunjukkan hubungan tingkat kecukupan asam folat dengan kejadian demensia memiliki p=0,24 (p≤0,05), maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna antara tingkat kecukupan asam folat dengan kejadian demensia.
Kekuatan hubungan antara tingkat kecukupan asam folat dengan kejadian demensia dapat dilihat dari nilai OR yaitu 0,733 dengan 95% CI = 0,540 – 0,995 artinya asam folat tidak termasuk kedalam risiko kejadian demensia.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Riska pada tahun 2011 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan asam folat dengan status kognitif. Hal ini dapat disebabkan karena status kognitif tidak hanya dipengaruhi oleh asupan asam folat, tetapi juga oleh faktor lain diantaranya usia dan pekerjaan. Seiring
dengan meningkatnya usia akan menyebabkan penurunan semua fungsi sistem homeostatis dalam tubuh. Hal ini akan mempengaruhi penurunan kemampuan otak yang selanjutnya akan menyebabkan gangguan kognitif.[10]
Hubungan Tingkat Kecukupan Vitamin B12 dengan Kejadian Demensia
Vitamin B12 adalah jenis vitamin yang larut dalam air. Vitamin ini terikat pada protein dalam makanan. Asam dalam perut melepaskan B12 dari protein pada saat pencernaan. Defisiensi vitamin B12 umum terjadi pada lanjut usia akibat ketidakmampuan untuk melepaskan vitamin B12 dari protein makanan, malabsorbsi usus atau kurangnya asupan vitamin B12 dari makanan sehari-hari.[8]
Tabel 6. Tingkat Kecukupan Vitamin B12 dengan Kejadian Demensia Tingkat
Kecukupan B12
Demensia
Jumlah
% p value OR CI 95%
Normal n (%)
Demensia n (%)
Kurang 9 (33,3) 18 (66,7) 27 (100)
0,315 0,810 0,573 – 1,144 Cukup 3 (17,6) 14 (82,4) 17 (100)
Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p=0,315 (p≤0,05), maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna antara tingkat keckupan B12
dengan demensia. Kekuatan hubungan antara tingkat kecukupan B12 dengan kejadian demensia dapat dilihat dari nilai OR yaitu 0,810 dengan 95% CI =
BIMGI Volume 4 No.2 | Juli-Desember 2016 14 0,573 – 1,144 artinya responden yang
tingkat kecukupan tidak termasuk risiko kejadian demensia. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Bunga pada tahun 2009, menunjukkan bahwa asupan B12 tidak signifikan p=1,000 terhadap kejadian demensia.
Hasil penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian lainnya yang melaporkan bahwa kekurangan vitamin B12 atau rendahnya konsentrasi vitamin B12 di dalam plasma
berhubungan dengan kemunduran fungsi kognitif.[11,12]
Hubungan Tingkat Kecukupan Magnesium dengan Kejadian Demensia
Magnesium merupakan kation terbanyak ke empat di dalam tubuh dan kation terbanyak kedua di dalam intraseluler setelah potasium.
Magnesium (Mg) mempunyai peranan penting dalam struktur dan fungsi tubuh manusia.
Tabel 7. Tingkat Kecukupan Mineral Magnesium dengan Kejadian Demensia Tingkat
Kecukupan Magnesium
Demensia
Jumlah
(%) p value PR CI 95%
Normal n (%)
Demensia n (%)
Kurang 9 (32,1) 19 (67,9) 28 (100)
0,487 0,835 0,590- 1,182 Cukup 3 (18,8) 14 (81,3) 16 (100)
Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,487 (p ≤ 0,05), maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna antara tingkat kecukupan magnesium dengan demensia. Kekuatan hubungan antara tingkat kecukupan magnesium dengan kejadian demensia dapat dilihat dari nilai OR yaitu 0,835 dengan 95% CI = 0,590-1,182 artinya tingkat kecukupan magnesium tidak berisiko terhadap kejadian demensia.
Magnesium mengatur sejumlah tahapan selama sintesis asam nukleat (DNA dan RNA) dan protein. Sejumlah enzim ikut serta dalam sintesis karbohidrat dan lemak yang membutuhkan magnesium untuk mengaktifkannya. Glutation, merupakan antioksidan penting yang membutuhkan magnesium untuk sintesisnya.
Magnesium mempunyai peranan penting pada struktur tulang, membran sel dan kromosom.[13]
4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Tingkat kecukupan B6
merupakan faktor risiko gizi terhadap kejadian demensia pada lanjut usia.
Saran
1. Sebaiknya pihak Panti Werda ELIM menambahkan ahli gizi untuk menjaga kualitas makanan untuk para lanjut usia.
2. Pihak pengelola Panti Werda ELIM sebaiknya menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan lanjut usia.
3. Bentuk makanan disesuaikan dengan kondisi lanjut usia, dimana lanjut usia sebaiknya mengkonsumsi makanan dalam bentuk lunak dan dimasak dengan cara dikukus ataupun direbus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gray S.L., Anderson M.L., Crane P.K., Breitner J.C., McCormick W., Bowen J.D., Teri L., & Larson E.
2008. Antioxidant vitamin supplement use and risk of dementia or Alzheimer’s disease in older adults. Jornal of the American Geriatrics Society, 56(2), 291—96.
2. Richard J.H., Solane P.D., Warshaw G.A., Bernard M.A., & Flaherty E.
2007. Primary care geriatrics- a case based approach. Elsevier, 5,156—164.
3. Kemenkes RI, 2010. Pedoman rehabilitasi kognitif. Jakarta:
Kemenkes RI.
4. Utami C.P., Sri Anna M., dan Melly Latifah. 2013. Pola Konsumsi Pangan, Aktivitas Fisik, Riwayat Penyakit, Riwayat Demensia Keluarga, dan Kejadian Demensia pada Lansia di Panti Werdha Tresna Bogor. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor.