TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rumah Sakit
2.1.2. Manajemen Instalasi Laundry Rumah Sakit
Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit yaitu
II-3
melalui pelayan penunjang medik, khususnya dalam pengelolaan linen di rumah sakit (Depkes RI, 2004).
Laundry rumah sakit adalah salah satu unit rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat penyucian linen. Laundry rumah sakit dilengkapi dengan sarana pendukung seperti mesin cuci, alat dan bahan desinfektan, mesin uap, pengering, meja dan meja setrika. Unit laundry merupakan unit yang bertanggung jawab dalam melakukan pengolaan linen rumah sakit, terkhusus linen yang digunakan untuk kelengkapan pasien rawat inap (Jumadewi, 2014).
Petugas laundry di rumah sakit mempunyai resiko besar untuk mengalami penyakit yang didapat dari lingkungan kerja berhubungan dengan pekerjaan yang dapat disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja karena karyawan bertugas mengumpulkan, mengangkut, mencuci, menyetrika, menyimpan dan mendistribusikan kembali kain yang terkontaminasi oleh darah, sekreta, dan cairan tubuh lainnya atau perlindungan yang belum baik pada petugas laundry (Kepmenkes,2004).
Permenkes RI No.1204/Menkes/SK/X/ 2004 yang mengatur syarat-syarat dan standar pengelolaan tempat pencucian linen, persyaratan pencucian linen dan tata laksana maupun peralatan yang dimiliki oleh laundry rumah sakit maupun outsourcing laundry yang bekerja sama dalam pengelolaan semua alat tenun (linen) dalam hal peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit.
Persyaratan umum laundry. Berdasarkan Permenkes RI No. 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, persyaratan umum laundry terdiri
II-4
dari :
1. Temperatur air panas untuk pencucian 70oC dalam waktu 25 menit atau 95oC dalam waktu 10 menit.
2. Penggunaan jenis deterjen dan desinfektan untuk proses pencucian dilengkapi Informasi Data Keamanan Bahan (MSDS) agar penanganan risiko paparannya dapat tertangani secara cepat dan tepat.
3. Standar kuman bagi linen dan seragam tenaga medis bersih setelah keluar dari proses cuci tidak mengandung 20 CFU per 100 cm persegi.
4. Pintu masuk linen kotor dan pintu keluar linen bersih harus berbeda atau searah.
5. Jarak rak linen dengan plafon : 40 cm.
6. Dilakukan identifikasi jenis B3 yang digunakan laundry dengan membuat daftar inventori B3 dapat berupa tabel yang berisi informasi jenis B3, karakteristiknya, ketersediaan MSDS, cara pewadahan, cara penyimpanan dan simbol limbah B3.
7. Penggunaan jenis deterjen dan desinfektan untuk proses pencucian dilengkapi Informasi Data Keamanan Bahan (MSDS) agar penanganan risiko paparannya dapat tertangani secara cepat dan tepat.
8. Ditempat laundry tersedia keran air keperluan hygiene dan sanitasi dengan tekanan cukup dan kualitas air yang memenuhi persyaratan baku mutu, juga tersedia air panas dengan tekanan dan suhu yang memadai.
9. Bangunan laundry dibuat permanen dan memenuhi persyaratan pedoman teknis bangunan laundry rumah sakit atau sesuai dengan ketentuan peraturan
II-5
perundang-undangan.
10. Rumah sakit melakukan pencucian secara terpisah antara linen infeksius dan noninfeksius.
11. Khusus untuk pencucian linen infeksius dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan dilengkapi sistem sirkulasi udara seuai dengan ketentuan.
12. Laundry harus dilengkapi saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan awal (pre-treatment) sebelum dialirkan keunit pengolahan air limbah.
13. Bangunan laundry terdiri dari ruang-ruang terpisah sesuai kegunaannya yaitu ruang linen kotor dan ruang linen bersih harus dipisahkan dengan dinding yang permanen, ruang untuk perlengkapan kebersihan, ruang perlengkapan cuci, ruang kereta linen, kamar mandi dan ruang peniris atau pengering untuk alat-alat termasuk linen.
14. Laundry harus dilengkapi “ruang antara” untuk tempat transit keluar-masuk petugas laundry untuk mencegah penyebaran mikroorganisme.
15. Alur penanganan proses linen mulai dari linen kotor sampai dengan linen bersih harus searah (Hazard Analysis and Critical Control Point).
16. Dalam area laundry tersedia fasilitas wastafel, pembilas mata (eye washer) dan atau pembilas badan (body washer) dengan dilengkapi petunjuk arahnya.
17. Proses pencucian laundry yang dilengkapi dengan suplai uap panas (steam), maka seluruh pipa steam yang terpasang harus aman dengan dilengkapi steam trap atau kelengkapan pereduksi panas pipa lainnya.
II-6
18. Ruangan laundry dilengkapi ruangan menjahit, gudang khusus untuk menyimpan bahan kimia untuk pencucian dan dilengkapi dengan penerangan, suhu dan kelembaban serta tanda/simbol keselamatan yang memadai.
Persyaratan diatas merupakan peraturan terbaru hasil pembaharuan dari peraturan sebelumnya yaitu Kepmenkes RI 1204/Menkes/SK/X/2004.
Linen diartikan sebagai bahan-bahan yang terbuat dari kain yang digunakan dalam fasilitas perawatan kesehatan pada pegawai rumah tangga (sprei, handuk), dokter bedah (baju bedah, baju cuci), bagian pembersih serta pegawai di unit-unit khusus seperti ICU dan unit-unit lainnya (Tietjen dkk, 2004).
Menurut Depkes RI tahun 2004, ada berbagai macam jenis linen yang digunakan di rumah sakit, yaitu :
1. Sprei/ laken 2. Steek laken 3. Perlak/ Zeil 4. Sarung bantal 5. Sarung guling 6. Selimut 7. Boven laken 8. Alas kasur 9. Bed cover 10. Tirai/ gorden 11. Vitage
II-7
12. Kain penyekat/ scherm Univer 13. Kelambu
14. Taplak
15. Barak schort (tenaga kesehatan dan pengunjung) 16. Celemek, topi, lap
17. Baju pasien 18. Baju operasi
19. Kain penutup (tabungan gas, troli dan alat kesehatan lainnya) 20. Macam-macam dock
21. Popok bayi, baju bayi, kain bedong, gurita bayi 22. Steek laken bayi
23. Kelambu bayi 24. Laken bayi 25. Selimut bayi 26. Masker 27. Gurita 28. Topi kain 29. Wash lap 30. Handuk
a. Handuk untuk petugas b. Handuk pasien untuk mandi c. Handuk pasien untuk lap tangan
II-8
d. Handuk pasien untuk muka
31. Linen operasi (baju, celana, jas, macam-macam laken, topi, masker, doek, sarung kaki, sarung meja mayo, alas meja instrumen, mitela, barak schort).
Linen bersih (clean linen). Menurut Peninsula Community Health (2012), linen bersih merupakan linen yang tidak digunakan dari terakhir di laundry.
Linen kotor (solid linen). Menurut Peninsula Community Health (2012), linen kotor merupakan linen yang telah digunakan baik terkontaminasi darah ataupun cairan tubuh lain; dan semua linen yang digunakan oleh pasien yang terinfeksi (baik kotor/ ternoda ataupun tidak).
Linen kotor terinfeksi. Menurut Depkes RI (2004), linen kotor terinfeksi merupakan linen yang terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dan kotoran terutama yang berasal dari infeksi TB paru, infeksi Salmonella dan Shigella (sekresi dan ekskresi), HBV dan HIV (jika terdapat noda darah) dan infeksi lainnya yang spesifik.
Linen kotor tidak terinfeksi. Menurut Depkes RI (2004), linen kotor tidak terinfeksi adalah linen yang tidak terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh dan kotoran/feses yang berasal dari pasien lainnya, meskipun mungkin linen tersebut berasal dari seluruh pasien yang berasal dari sumber ruang isolasi yang terinfeksi.
Peran dan fungsi. Manajemen pengelolaan linen di rumah sakit mempunyai peran yang cukup penting. Dimulai dari perencanaan, yang merupakan salah satu subsistem pengelolaan linen yaitu proses pencucian. Penerimaan linen kotor, penimbangan, pemilahan, proses pencucian, pemerasan, pengeringan, sortir
II-9
noda, penyetrikaan, sortir linen rusak, pelipatan, merapikan, mengepak atau mengemas, menyimpan, dan mendistribusikan ke unit-unit yang membutuhkannya merupakan alur aktifitas fungsional pengelolaan linen. Untuk linen yang rusak akan dikirimkan ke kamar jahit (Depkes RI, 2004).
Agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan benar, maka dibutuhkan alur yang tersusun dan terencana dengan baik. Tugas penting lainnya yaitu perencanaan, pengadaan, pengelolaan, pemusnahan, pemeliharaan fasilitas kesehatan dan lain-lain, agar linen dapat tersedia di unit-unit yang membutuhkan.
Pengelolaan Linen Salah satu tugas dan tanggung jawab dari penunjang medik di rumah sakit yaitu pengelolaan linen. Saat ini bagan alur pengelolaan linen bermacam-macam. Secara umum pengelolaan linen diberikan ke bagian rumah tangga atau bagian pencucian dan sterilisasi bagian sanitasi namun, proses pencucian linen juga dapat dikontrakkan pada pihak ketiga (di luar rumah sakit) atau yang kita kenal dengan metode out sourcing. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa:
a. Setiap rumah sakit memiliki beban kerja yang berbeda.
b. Rumah sakit memiliki lahan yang terbatas.
c. Terbatasnya tenaga kesehatan.
d. Manajemen perlu berkonsentrasi pada jasa layanan kesehatan perawatan dan pengobatan.
Direktur rumah sakit memegang penuh kewenangan, peraturan dan struktur organisasi unit pengelolaan linen, dan disesuaikan dengan kondisi di rumah sakit
II-10
bersangkutan (Depkse RI, 2004).