BAB III. LAYANAN DUKUNGAN MANAJEMEN ESELON I
3.3. P ELAYANAN T EKNIS
3.3.3. Manajemen Jasa Riset kelautan
Layanan jasa riset kelautan di BROL tercakup dalam keseluruhan kegiatan Laboratorium Riset Kelautan (LRK). Laboratorium Riset Kelautan didirikan untuk menunjang pelaksanaan riset strategis dan aplikasi teknologi kelautan secara optimal yang meliputi riset dasar, pengembangan dan aplikasi teknologi kelautan di Indonesia. Tujuan lainkegiatan layanan jasa riset kelautan adalah untuk memfasilitasi berbagai kepentingan riset internal maupaun eksternal yang membutuhkan pelayanan jasa laboratorium. LRK BROL dilengkapi berbagai fasilitas yang dapat mendukung setiap pengujian yang terdiri dari Laboratorium Kimia, Fisika dan Biologi Kelautan. Pelaksanaan anggaran kegiatan
30
layanan LRK termasuk dalam sub output manajemen Pelayanan Teknis.Struktur organisasi LRK BROL terbagi menjadi beberapa sub laboratorium diantaranya :
a) Laboratorium Kualitas Perairan. b) Laboratorium Penginderaan Jauh. c) Laboratorium Alam.
d) Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut. e) Bali Radar Ground Receiving Station (BARATA). A. Laboratorium Kualitas Perairan
Informasi dan pengetahuan tentang kondisi sumberdaya kelautan dari tahun ke tahun harus didukung oleh data dan informasi yang akurat agar upaya pengelolaannya dapat dilakukan lebih efektif. Penyediaan data dan informasi dari hasil kegiatan riset dan observasi membutuhkan keberadaan laboratorium pengujian yang didukung oleh sumberdaya yang kompeten. Laboratorium pengujian sebagai penyedia hasil pengolahan data primer tentang kualitas sumberdaya kelautan perlu dibina secara berkesinambungan dan ditingkatkan kapasitasnya. Pembinaan ini bertujuan agar manajemen laboratorium dapat memanfaatkan sarana dan prasarana laboratorium secara optimal dan menghasilkan data yang akurat. Pemenuhan kebutuhan tersebut adalah dengan mewujudkan laboratorium pengujian kualitas perairan yang kompeten dan mampu melakukan pengujian parameter kualitas perairan dengan menyajikan data pemantauan kualitas perairan yang terstandarisasi.
Laboratorium Kualitas Perairan - Laboratorium Riset Kelautan Balai Riset dan Observasi Laut (LKP - LRK BROL) telah berdiri sejak awal 2006. Dalam perjalanannya dari tahun 2006 hingga tahun 2019 ini, LKP telah banyak mengalami kemajuan di bidang pelayanan jasa pengujian, sarana maupun prasarana. Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang semakin bertambah dari tahun ke tahun merupakan bentuk pemenuhan terhadap permintaan layanan pengujian dengan parameter yang semakin beragam dari pengguna jasa laboratorium. Peningkatan jumlah pengguna jasa dan permintaan layanan pengujian laboratorium dari tahun ke tahun menjadikan LKP harus mengedepankan pelayanan dan kualitas hasil pengujian.
Sehubungan telah didirikannya LKP dengan segala sarana dan prasarana yang ada, maka diperlukan sebuah kegiatan operasional laboratorium untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh BROL dan juga melayani para pengguna jasa laboratorium di sekitar lingkungan BROL. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoperasionalkan laboratorium pengujian melalui kegiatan layanan pengujian dan
31
pengolahan data di Laboratorium Kualitas Perairan - Laboratorium Riset Kelautan Balai Riset dan Observasi Laut (LKP – LRK BROL) yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian.
Kegiatan yang telah dilakukan pada periode Juli 2019 :
1. Analisis laboratorium untuk sampel air dari customer internal dan eksternal Balai Riset dan Observasi Laut.
2. Aksi tindak lanjut dari hasil temuan ketidaksesuaian assesmen ISO 17025:2017. 3. Survei laboratorium alam wilayah Perancak pada tanggal 11 Juli 2019 untuk
mengambil sampel kualitas air dengan pengukuran kualitas perairan menggunakan alat WQC. Diikuti oleh personil LKP : Komang Ayu Trilestari dan I Nyoman Surana. Capaian Kinerja di Juli 2019 antara lain:
1. Jumlah customer dan sampel kualitas air Juli : 8 customer, 65 sampel, 534 parameter. 2. Asal customer internal : kegiatan operasional Laboratorium Alam (Perancak).
3. Asal customer eksternal : PT. IndoBali, PT. Bumi Balimina, PT. Sarana Tani Pratama, Pusat Riset Perikanan dan Universitas Tujuh Belas Agustus Banyuwangi.
4. Jumlah LHP yang terbit : 11 LHP. Rencana kegiatan bulan berikutnya :
1. Analisis laboratorium untuk sampel air dari customer internal dan eksternal BROL. 2. Pengukuran in situ, pengambilan sampel dan analisis kualitas air.
B. Laboratorium Penginderaan Jauh Laut
Laboratorium Penginderaan Jauh Laut memiliki garis besar kegiatan mencakup inventarisasi, pengolahan, dan distribusi data satelit oseanografi serta pembuatan PPDPI. Laboratorium ini dibentuk agar produksi PPDPI dapat lebih optimal untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan bagi nelayan. Kegiatan yang dilakukan pada bulan Juli ini adalah :
1. Pembuatan PPDPI Nasional, Pelabuhan Perikanan, dan Wilayah Khusus. 2. Pembuatan Pelikan Tuna, Pelikan Lemuru dan Pelikan Cakalang.
3. Meng-upload informasi PPDPI ke website BROL.
4. Memberikan dukungan dan membantu peneliti internal terkait pengolahan data citra satelit.
Capaian kinerja yang dicapai bulan ini yakni, telah dilakukan pembuatan peta PPDPI Nasional 70 Peta, PPS Belawan 0 Peta, PPS Bitung-Ternate 15 Peta, PPS Cilacap 18
32
Peta, PPN Ambon 14 Peta, PPN Pelabuhan Ratu 22 Peta, PPN Sungai Liat 2 Peta, PPN Muncar-Pengambengan 18 Peta, PPP Tamperan 22 Peta, PPN Kejawanan 17 Peta, PPN Pemangkat 10 Peta, PPN Prigi 22 Peta, Laut Sawu 23 Peta, Bali Utara 15 Peta, Selat Lombok (Bali Timur) 19 Peta, Pulau Lombok 19 Peta, Pelikan Cakalang 31 Peta, Pelikan Lemuru 19 Peta, Pelikan Tuna 31 Peta. Dokumentasi kegiatan penginderaan jauh laut Juli 2019, selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20. Dokumentasi kegiatan penginderaan jauh laut Juli 2019 Rencana kegiatan bulan berikutnya :
1. Pembuatan dan pendistribusian peta PPDPI Nasional, Pelabuhan Perikanan dan Wilayah Khusus.
2. Pembuatan dan pendistribusian Pelikan Tuna, Pelikan Lemuru dan Pelikan Cakalang. 3. Upload informasi PPDPI ke website BROL.
C. Laboratorium Alam
Salah satu laboratorium yang menjadi bagian dari LRK BROL adalah Laboratorium Alam yang dikembangkan untuk menunjang kegiatan riset dan pengembangan yang diilaksanakan di BROL. Laboratorium ini dikembangkan dengan tujuan untuk menyediakan data dan informasi time series teruama kualitas perairan (fisika, kimia, biologi) terkait lingkungan berbasis ekosistem. Monitoring kualitas perairan diperlukan untuk mendapatkan data dan informasi time series sehingga perubahan kondisi lingkungan dapat diketahui secara cepat. Kegiatan monitoring secara time series ini diperlukan untuk memberikan informasi (hasil monitoring) yang dapat digunakan sebagai bahan masukan (scientific brief) untuk perencanaan pengelolaan Estuari Perancak di
33
kemudian hari terutama wilayah yang akan dikembangkan menjadi taman pesisir. Survey periodik dilakukan setiap satu bulan sekali dengan mengambil parameter kualitas perairan seperti :
- Fisika : Arus, Suhu, Turbiditas dan Konduktivitas.
- Kimia : Nutrien (Fosfat, Nitrat, Nitrit, Ammonia dan Silika), pH, DO dan Salinitas. - Biologi : Plankton dan Klorofil-a.
Laboratorium ini juga diharapkan dapat menyediakan data dan informasi terkait dengan isu-isu di lingkungan perairan berbasis pada pendekatan ekosistem. Kegiatan ini telah dilakukan mulai Tahun 2015 hingga saat ini (2019), dengan penambahan titik pengukuran di sepanjang aliran Sungai Perancak – Samblong dan Sungai Ijo Gading. Estuari Perancak berada di sekitar kantor BROL dan secara geografis berada langsung menghadap ke Selat Bali. Estuari ini mendapat pengaruh dari aktivitas manusia, seperti pertambakan, aktivitas pelabuhan, dan kegiatan limbah dari pemukiman penduduk. Titik lokasi kegiatan survei dapat dilihat jelas pada Gambar 21.
Gambar 21. Titik lokasi kegiatan survei Kegiatan yang dilakukan pada Juli 2019 diantaranya:
1. Survei periodik ke-7 pada tanggal 11 Juli 2019.
2. Penginputan data kualitas air monitoring 20 Juni 2019. 3. Penginputan data insitu hasil monitoring 11 Juli 2019.
4. Pengolahan data kualitas perairan hasil monitoring 2018 sebagai bahan KTI.
5. Menyusun buletin status mutu kualitas perairan periode Mei dan Juni 2019 dan sudah di upload di website SIDIK BROL.
34
Capaian pada Juli 2019 diantaranya :
1. Telah dilaksanakannya survey monitoring Juli 2019 dengan mengambil sampel di 10 stasiun sungai.
2. Diperoleh data kualitas perairan dan hidrodinamika hasil pengukuran langsung di sepuluh stasiun, di sepanjang aliran Sungai Ijo Gading, Sungai Perancak – Samblong, untuk mewakili kondisi Juli 2019.
Data personil yang terlibat dalam survei periodik Laboratorium Alam pada Juli dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Personil yang terlibat dalam survei 11 Juli 2019
No. Nama Tugas Instansi
1. Komang Ayu Trilestari Melakukan pengukuran kualitas air dengan water quality checker (WQC) multi parameter
Mengambil titik koordinat dengan GPS dan melakukan pengukuran arus dengan current meter
BROL
2. Nyoman Surana Mengambil sampel air dan plankton
BROL
3. Wingking Era Rintaka Siwi Mencatat hasil pengukuran kualitas air dengan water quality checker (WQC) multi parameter
BROL
Rencana kegiatan bulan berikutnya adalah :
1. Melakukan survei kualitas perairan periode Agustus 2019. 2. Melanjutkan pemantauan kualitas perairan di Estuari Perancak. 3. Menyusun bulletin status mutu Mei dan Juni 2019.
4. Menyusun draf KTI.
D. Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut
Layanan Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut (OPEL) BROL meliputi operasionalisasi peralatan survei dan observasi laut, terutama variabel fisika oseanografi, serta dokumentasi dan publikasi data kondisi laut baik yang bersumber dari stasiun observasi maupun prediksi model. Pada tahun 2019 kegiatan yang dilakukan Laboratorium OPEL meliputi prediksi pasang surut, pemantauan laut melalui buoy pantai,
35
pengembangan Ocean Forecast System (OFS) dan penyediaan data kelautan, serta dokumentasi data kelautan.
Operasionalisasi prediksi pasang surut memberikan layanan berupa data prediksi tinggi muka laut akibat pasang surut. Layanan ini bersifat swalayan secara online melalui web portal dengan alamat http://bpol.litbang.kkp.go.id/imro-ofs/#show_select_tides_predictor. Melalui web portal tersebut pengguna layanan dapat memperoleh data prediksi pasang surut beserta hasil analisanya di beberapa lokasi pada waktu yang diinginkan. Hasil analisa yang dimaksud adalah prediksi waktu pasang dan surut beserta perkiraan ketinggian muka airnya. Selain melalui web portal, pelayanan data prediksi pasang surut juga dapat dilakukan secara offline dengan cara mengisi formulir permohonan data yang ditujukan kepada BROL. Permohonan data prediksi pasang surut secara offline disediakan guna mengakomodir permintaan data di luar lokasi yang yang telah disediakan di data prediksi online.
Pemantauan kondisi perairan pantai secara insitu dilakukan BROL melalui penempatan sistem alat observasi laut berupa buoy pantai. Terdapat empat parameter yang diukur melalui instrumen ini yaitu suhu, konduktivitas, konsentrasi klorofil dan kandungan oksigen terlarut. Keempat parameter diukur secara simultan pada kedalaman sekitar 5 meter dari permukaan. Foto dari buoy pantai dapat dilihat pada Gambar 22.
Gambar 22. Alat buoy pantai
Tahun 2019 stasiun observasi laut yang beroperasi sebanyak 3 unit dengan lokasi stasiun adalah sebagai berikut :
a. Perairan Perancak, Selat Bali. b. Perairan Gondol, Bali Utara. c. Perairan Bitung, Sulawesi Utara.
36
Data hasil pemantauan buoy pantai dikirimkan melalui jaringan GPRS dan satelit telemetri. Interval pengiriman data adalah 15 menit dan dapat dipantau secara online melalui web portal dengan alamat http://128.199.117.216/kkp.
Laboratorium OPEL melayani penyediaan data oceanografi atas permintaan penggunaan data kelautan. Kegiatan ini merupakan bagian dari diseminasi dan pelayanan data oleh BROL yang diperoleh dari berbagai sumber, antara lain kegiatan riset BROL, kegiatan operasionalisasi laboratorium di BROL dan data yang dapat diakses secara online. Pada pelaksanaannya, penyediaan data oleh Laboratorium OPEL atas permintaan pihak pemohon data dilakukan mengikuti prosedur permintaan data yang ada di bidang Pelayanan Teknis BROL. Waktu pemenuhan permintaan data bervariasi sesuai dengan jumlah dan jenis data yang diminta, namun konfirmasi ketersediaan data yang diminta paling lambat adalah tiga (3) hari kerja dari disposisi permintaan data diterima oleh Laboratorium OPEL. Jenis data oseanografi yang sering diminta oleh pengguna data kelautan untuk berbagai tujuan pemanfaatan antara lain Data Batimetri, Data Arus, Data Gelombang, Data Suhu dan Data Salinitas.
Berdasarkan penyediaan data hasil pemodelan laut, Laboratorium OPEL telah, sedang dan akan terus mengembangkan Ocean Forecast System (OFS). Ocean Forecast System dikembangkan melalui beberapa tahap. Data yang ditampilkan terdiri dari Physical (temperature, salinity, current, wave, swell, sea surface height, mixed layer depth, sea water stress dan heat-flux), Biogeochemical (amonium, nitrite, phoshate, silica, iron, dissolved oxyegen, carbon, zooplankton, phytoplankton, chlorophyll, primary production, carbon, pH, alkalinity dan ephotic depth), Meteorological (relative humidity, air temperatur, wind, precipitation, solar radiation, thermal radioation dan sea level pressure) dan Fisheries (bigeye tuna, skipjack tuna, yellofin tuna dan micronekton). Sumber data berasal dari hasil pengembangan riset internal, INDESO Project maupun sumber dari eksternal yang telah melalui tahap prosesing sebelumnya.
Laboratorium OPEL juga melakukan dokumentasi kelautan, kegiatan ini dilakukan untuk data - data kelautan yang terkumpul dengan baik melalui observasi hasil kegiatan riset internal BROL, kegiatan kerjasama riset, kegiatan operasional maupun hasil pemodelan laut dapat terdokumentasikan dengan baik dan mudah diakses, Laboratorium OPEL melakukan kegiatan dokumentasi berupa pengembangan metadata kelautan yang hasilnya di upload baik pada server ocean (internal Laboratorium OPEL), FS-OPEL (internal BROL) dan National Ocean Data Center yang akan dikembangkan kemudian. Guna penyediaan data kelautan yang baik, dilakukan pula inventarisasi sarana dan prasarana penunjang kegiatan riset
,
dilakukan untuk mengetahui jumlah dan kondisi37
peralatan yang ada di BROL. Sarana dan prasarana dimaksud berupa peralatan dan perlengkapan survei dan monitoring kondisi fisik perairan yang dalam penggunaannya dioperasikan oleh Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut. Peralatan dan perlengkapan yang berada dalam kondisi baik diharapkan dapat membantu kelancaran kegiatan suatu riset.
Kegiatan yang dilakukan pada Juli 2019 :
a. Operasionalisasi sistem prediksi pasang surut. Penerbitan data sistem prediksi pasang surut pada Juli 2019 mencapai 100%.
b. Operasionalisasi buoy pantai. Penerimaan data buoy pantai pada Juli 2019.
c. Dilakukan pemantauan penerimaan data telemetri buoy pantai. Pemantauan data informasi posisi buoy. Maintenance web Oceanic Hydro Monitoring System dan Server Database. Persiapan migrasi cloud server.
d. Pengembangan Ocean Forecast System (OFS). Pengembangan dilakukan dalam 5 tahap. Tahap 1 versi 1.0 telah selesai, produk terdiri dari SST, SSS, SSC, SSH dan MLD tahun 2013 – 2017, data berupa GIF file, DAT file dan NC file. Pengembangan tahap 2 versi 1.1 masih sedang dilakukan, produk terdiri dari Parameter Physical dengan variabel; SST, SSS, SSC, SSH dan MLD dan Parameter Biogeochemical dengan variabel; Nitrate, Phosphate, Silica, Iron, DO, Plankton, Chlorophyll dan Primary Production, Data berupa GIF file, DAT file dan NC File.
e. Pengembangan metadata kelautan. Melakukan entry data ke sistem basis data dalam rangka operasionalisasi Sistem Prediksi Kelautan (SIDIK) BROL yang meliputi data output pemodelan numerik, prediksi pasang surut, data buoy pantai dan data hasil pengukuran survei insitu. Melakukan pengembangan OPEL Data Center yang akan terintegrasi dengan SIDIK dan FS BROL.
Capaian kegiatan yang telah dicapai pada Juli 2019 :
a. Hasil inventarisasi kondisi buoy pantai pada Juli 2019 (Tabel 10) : Tabel 10. Inventarisasi kondisi buoy pantai Juli 2019
No Lokasi buoy Status Kondisi data Kondisi buoy
1 Perancak, Selat Bali
Aktif Sebagian bagus - Telah terpasang dan dalam kondisi baik.
2 Gondol, Bali Aktif Sebagian bagus - Telah terpasang dan dalam kondisi baik.
38
Utara
3 Bitung, Sulawesi Utara
Aktif Tidak dapat terkirim
- Telah terpasang namun ada kerusakan pada kabel sensor DS5X
Perhitungan persentase keberhasilan pemantauan dengan buoy pantai dilakukan dengan memperhatikan jumlah data yang masuk dan data yang diterima dengan kualitas baik. Kriteria data dengan kualitas baik adalah data dengan nilai yang berada didalam batas kewajaran (tresshold). Batas yang digunakan untuk suhu adalah 25 0C – 34 0C, konduktivitas 30 mS/cm – 60 mS/cm, klorofil 0 µg/l – 50 µg/l, dan oksigen terlarut 1 ml/l – 12 ml/l.
Persamaan untuk perhitungan persentase data hasil pemantauan :
Plot deret waktu dari suhu, konduktivitas, klorofil, dan kadar oksigen (DO) di 2 unit buoy pantai pada Juli tahun 2019 diperlihatkan sebagai berikut (Gambar 23) :
39
(a)
(b)
Gambar 23. Grafik hasil monitoring bouy di Perairan Selat Bali (a) dan Bali Utara (b) untuk
parameter suhu, salinitas, konduktivitas dan oksigen terlarut
Rencana kegiatan bulan berikutnya :
1. Pemantauan data buoy yang masih aktif.
2. Melakukan maintenance coastal buoy unit Perancak, Gondol dan Bitung. 3. Melanjutkan pengembangan Ocean Forecast System (OFS).
4. Melanjutkan dokumentasi data kelautan melalui FS-BROL dan Ocean Server. 5. Melanjutkan pengembangan Ocean Data and Information System.
40
E. Bali Radar Receiving Ground Station (BARATA)
Keberadaan sarana Bali Radar Receiving Ground Station (BARATA) di BROL diharapkan dapat membantu pemerintah pusat dalam menghadapi berbagai persoalan terkait Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing yang terjadi di perairan Indonesia. Persoalan IUU Fishing terideintifikasidapat menjadi suatu ancaman yang mengganggu stabilitas keamanan Indonesia. Upaya pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberantas IUU Fishing adalah dengan tetap intens melakukan penangkapan kapal-kapal pelaku IUU Fishing, baik KIA (Kapal Ilegal Asing) maupun KII (Kapal Ilegal Internal), bahkan untuk menimbulkan efek jera terhadap KIA pelaku IUU Fishing, sejak tahun 2014 Menteri Kelautan dan Perikanan memerintahkan penenggelaman KIA yang tertangkap karena telah mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia. Namun demikian, upaya pemberantasan dengan menenggelamkan KIA pelaku IUU Fishing ternyata belum bisa membuat jera.
Berdasarkan uraian di atas, selain melakukan penegakan hukum dan membuat aturan lebih ketat lagi, Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu membuat terobosan dalam memerangi pelaku IUU Fishing dan menjaga kedaulatan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia. Terobosan dan strategi tersebut adalah dengan cara pemutakhiran atau modernisasi peralatan-peralatan pengawasan beserta infrastruktur pendukungnya di bawah wewenang Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui pengawasan secara tepat guna dan tepat sasaran. Untuk wilayah laut Indonesia yang sangat luas dan mempunyai pantai yang sangat panjang, dalam melakukan pengawasan diperlukan solusi terintegrasi dengan menggabungkan beberapa teknologi Monitoring, Control and Surveillance (MCS) agar operasi IUU Fishing dapat dilakukan secara optimal. Langkah strategis dengan membangun sarana pengawasan secara komprehensif melalui pemanfaatan data satelit radar merupakan jawaban atas tantangan dalam rangka pemberantasan IUUF di wilayah perairan Indonesia. Integrasi antara Sistem VMS dengan informasi dari satelit radar memberikan hasil yang lebih baik, dimana dapat diketahui keberadaan kapal yang tidak terpantau oleh Sistem VMS. Sehingga dapat dilakukan tindakan terhadap kapal-kapal perikanan yang tidak mengaktifkan transmiter VMSnya, akan tetapi terpantau oleh satelit radar.
Dalam konteks Monitoring Controling System (MCS) terdapat 3 faktor yang menentukan keberhasilan dari sistem ini yaitu: Kemampuan untuk Mendeteksi, Kemampuan untuk Reaksi dan Kemampuan untuk Pengawasan Manajerial. Seperti yang disebutkan diatas,
41
stasiun bumi penerima data satelit radar milik KKP diperuntukan untuk mendeteksi kapal ikan yang tidak punya atau tidak menyalakan VMS ataupun AIS terutama kapal-kapal ikan asing yang beroperasi di Indonesia. Stasiun bumi penerima data radar juga melakukan analisis data citra radar untuk deteksi tumpahan minyak secara rutin untuk Perairan Kepulauan Riau (Kepri), serta melakukan pengembangan metode operasionalisasi berbasis data-data spasial yang tersedia di BARATA. Pada tahun anggaran 2019, terdapat tiga tema pengembangan yaitu : Pola Sebaran dan Luasan Tumpahan Minyak di Selat Malaka, Makassar dan Lombok selama periode 2017 - 2018, Kesesuaian Informasi PPDPI dengan Posisi Penangkapan Ikan Hasil Analisis Data Vessel Monitoring System (VMS), dan Pola Sebaran dan Luasan Tumpahan Minyak di Perairan Kepri periode Oktober 2018 - Januari 2019 beserta pendugaan pelaku pencemarannya berbasis analisis data Automatic Identification System (AIS).
Kegiatan yang dilakukan pada Juli 2019 ini adalah:
1. Memberikan informasi rutin terhadap tumpahan minyak di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.
2. Akuisisi dan analisis sebaran kapal dan tumpahan minyak menggunakan citra radar satelit Cosmo SkyMED.
3. Melakukan pengembangan metode operasionalisasi, meliputi pola sebaran dan luasan tumpahan minyak di Selat Malaka, Makassar dan Lombok selama periode 2017 – 2018; melakukan kesesuaian informasi PPDPI dengan posisi penangkapan ikan hasil analisis data Vessel Monitoring System (VMS); pola sebaran dan luasan tumpahan minyak di Perairan Kepulauan Riau periode Oktober 2018 – Januari 2019 beserta pendugaan pelaku pencemarannya berbasis analisis data Automatic Identification System (AIS).
4. Telah dilakukan FGD “SOP Pemanfaatan Data Satelit Radar BARATA” pada tanggal 8 Juli 2019 (Gambar 24).
42
Gambar 24. FGD SOP pemanfaatan data satelit radar BARATA Capaian kegiatan yang telah dicapai pada Juli 2019 :
1. Diperolehnya analisis berbasis citra Sentinel 1A untuk tanggal 1, 6, 10, 11, 13, 15, 18, 22 dan 25 Juli 2019.
2. Diperolehnya analisis citra Cosmo SkyMED untuk tanggal 29 Juni, 2, 3, 4, 5, 13, 14, dan 27 Juli 2019.
3. Perkembangan metode operasionalisasi, meliputi telah dilakukan kajian dan analisis akurasi density untuk alat tangkap longline dan purse seine; telah terolahnya data berupa analisa tumpahan minyak wilayah Selat Malaka periode Maret – November 2017 dan wilayah Selat Makassar periode Januari – Mei 2017; telah dilakukan kajian literatur dan pembuatan script untuk mempermudah pembuatan peta analisis kapal lego jangkar pada citra Cosmo-SkyMed wilayah Kepri periode Oktober - Desember 2018; telah dilakukan air surveillance perairan Singkep pada tanggal 5 Juli 2019 (Gambar 25).
43
Rencana kegiatan bulan berikutnya :
1. Analisis tumpahan minyak di Kepulauan Seribu periode Agustus 2019.
2. Pengolahan data berupa analisa kapal menggunakan SEonSE periode Januari 2019 yang dilanjutkan dengan analisa aktifitas kapal lego jangkar menggunakan aplikasi GIS menggunakan metode grid.
3. Pengolahan data berupa analisa tumpahan minyak wilayah Selat Makassar periode Juli - November 2017.
4. Pembuatan Layout hasil analisa tumpahan minyak wilayah Selat Makassar periode 2017.
5. Pengolahan data berupa analisa min, max, dan mean kecepatan angin pada wilayah yang terdampak tumpahan minyak wilayah Selat Makassar periode 2017.
6. Meningkatkan akurasi analisa lokasi aktifitas penangkapan kapal purse seine dan longline dengan penambahan metode filtering data.