BAB III MANAJEMEN KELAS DAN PRAKTIK BAIK METODE
A. Manajemen Kelas dan Metode Pembelajaran yang Aman dan
Guru di Balikpapan menuliskan tentang strategi pembelajaran yang menyenangkan dikutip dari DePorter (2000), adalah strategi yang digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dalam menerapkan kurikulum, menyampaikan materi, memudahkan proses belajar, sedangkan menurut Berk (1998) (dalam Darmansyah, 2010) strategi pembelajaran yang menyenangkan adalah pola berpikir dan arah berbuat yang diambil guru dalam memilih dan menerapkan cara-cara penyampaian materi sehingga mudah dipahami siswa dan tercapainya suasana pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa. Strategi pembelajaran yang menyenangkan merupakan upaya guru untuk menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. DePorter, Reardon, dan Singer (1999) menambahkan dengan uraian, bahwa strategi pembelajaran menyenangkan adalah kemampuan untuk mengubah komunitas belajar menjadi tempat yang meningkatkan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik, dan pertumbuhan emosi dihargai atau konteks menata panggung belajar yang terkait dengan aspek a) suasana, b) landasan, c) lingkungan, dan d) rancangan.
Bagi sekolah yang mau berubah menjadi sekolah aman dan menyenangkan maka hal pertama yang dilakukan adalah mengubah mindset guru dan warga sekolah. Sekolah menyenangkan diawali dengan menggerakkan dan menyadarkan hati guru untuk menciptakan proses belajar mengajar kreatif, aktif dan menyenangkan. Kasus di SD Muhammadiyah Macanan Kabupaten Sleman, kepala sekolah sebagai manajer agen perubahan dibantu oleh nara sumber yang kompeten mengajak guru mendengarkan penjelasan dari nara sumber tentang metode pembelajaran yang dapat membuat siswa senang dalam belajar. Pengawasan oleh kepada sekolah adalah kunci utama untuk perbaikan proses pembelajaran dengan cara membicarakannya secara bersama-sama dengan guru dan nara sumber ahli yang selalu mengingatkan.
Sarana prasarana yang memadai, sekolah yang bersih, sehat dan nyaman dipenuhi secara bertahap bersamaan dengan gerakan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan oleh guru. Kemampuan guru mengajar dengan menyenangkan adalah hal utama. Program yang diselenggarakan oleh sekolah direncanakan dan dilaksanakan dengan melibatkan peran serta orang tua dan masyarakat. Program yang dilakukan sekolah berorientasi pada pengembangan potensi siswa.
Untuk mewujudkan strategi manajemen kelas sekolah aman dan menyenangkan maka diperlukan langkah-langkah untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan seperti manajemen kelas, metode mengajar yang menyenangkan, penataan kelas dan tempat duduk, performance guru, dan kendala, solusi dan hambatan yang ada.
1. Langkah Mewujudkan Pembelajaran yang Menyenangkan
Langkah-langkah dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan adalah manajemen kelas dan metode mengajar
a. Manajemen Kelas
Manajemen kelas terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak sekolah. Manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru dengan maksud agar dapat dicapai kondisi yang optimal sehingga kegiatan belajar mengajar sesuai dengan yang diharapkan (Arikunto, 2006: 44). Menurut Sulaeman (2009:22), manajemen kelas adalah serangkaian perilaku guru dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan siswa mencapai tujuan belajar secara efisien atau siswa dapat belajar dengan baik.
Dengan demikian, simpulan yang diberikan oleh guru di Balikpapan tentang manajemen kelas adalah seperangkat kegiatan guru dengan segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya.
Manajemen kelas menurut guru di Surabaya diatur menjadi kelas-kelas kecil dengan jumlah siswa adalah 25-28 anak dengan dua guru, yaitu satu wali kelas dan satu guru pendamping. Guru mengajarkan materi, yang lain mengkondisikan agar siswa tertib untuk mendengarkan materi yang diajarkan sehingga suasana kelas tetap tertib dan kondusif. Sebelum pembelajaran, guru menyiapkan RPP, worksheet atau lembar kerja, dan alat peraga.
1) Perencanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru maka perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat bervariasi, ada yang menyatakan 1) rangkaian putusan dari tujuan dalam menentukan kebijakan program, metode dan prosedur tertentu dan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari, 2) pembuatan program tahunan, program semester, silabus, lesson plan, memetakan kompetensi dasar, dan RPP sesuai materi ajar dengan motivasi pembelajaran, serta berpedoman pada Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), 3) merumuskan tujuan pembelajaran dan memilih materi pokok, 4) menyiapkan perangkat pembelajaran di awal semester baru, menentukan target yang akan dicapai, 5) melihat feedback hasil pembelajaran sebelumnya, menentukan target yang akan dicapai, mempersiapkan ruang kelas, strategi belajar, media yang menarik dan bahan ajar, 6) membuat rencana pembelajaran, mendesain pembelajaran, dan menentukan alokasi waktu, 7) diadakan lokakarya untuk menentukan tema besar dan subtema dalam
satu tahun, dan 8) pembentukan organisasi kelas dan pembagian piket kebersihan.
Perencanaan menurut guru di Padang merupakan hal penting untuk mencapai suatu tujuan, tanpa perencanaan yang matang akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Pembelajaran yang direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancangnya agar pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang juga dilakukan oleh guru di Padang adalah membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, yaitu RPP dengan menggunakan media peta tematik berisi kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok, kegiatan pembelajaran, metode/sumber/media, serta evaluasi. Belajar mengajar di kelas merupakan kewajiban harian bagi seorang guru dan siswa di sekolah. Hal ini diungkapkan oleh salah satu guru di Padang yang mengatakan bahwa sebagai fasilitator utama di kelas, guru sangat berperan untuk membuat belajar mengajar selalu segar, menarik dan tidak membosankan. Dengan suasana kelas yang menyenangkan, siswa akan menikmati kegiatan belajar mereka tanpa ada perasaan tertekan.
Menurut guru di Tangerang Selatan perencanaan pembelajaran adalah membuat RPP terlebih dahulu dengan melakukan penyesuaian terhadap kondisi dan situasi sekolah. Untuk itu, dapat terjadi perubahan atau penambahan metode yang disesuaikan dengan karakter siswa dan membuat lebih bervariasi lagi agar dapat mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
Perencanaan lingkungan belajar di sekolah Sleman adalah dalam mengembangkan daya eksploratif, kreatif, dan integral peserta didik dibangun dengan konsep kampung sekolah.
Menurut guru di Balikpapan, kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ada lima, yaitu 1) membuat RPP dengan menggunakan pola pendekatan kontekstual (kontruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian autentik), 2) membuat alat bantu mengajar untuk digunakan dalam rangka mengoptimalkan kemampuan siswa, misalnya compact disk (CD) atau digital video disk (DVD), 3) membuat alat evaluasi untuk melihat sejauh mana kesalahan yang dilakukan siswa dan kemampuan siswa meningkat, 4) membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kodisi belajar mengajar di kelas ketika pendekatan kontekstual diterapkan dalam pembelajaran, dan 5) membuat lembar angket untuk melihat bagaimana respon siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara guru maka pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan 1) menciptakan suasana belajar yang bermakna dengan memberikan motivasi dan menyesuaikan karakter siswa, 2) dilaksanakan di dalam dan luar kelas untuk menumbuhkan kreativitas siswa dan menerapkan pembelajaran yang riang gembira, 3) pelaksanaan dilakukan meliputi kegiatan pendahuluan atau kegiatan motivasi, pencapaian kompetisi dan rencana kegiatan; kegiatan inti atau merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang dilakukan secara sistematis dan sistemik, 3) menyiapkan secara psikis dan fisik, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi sebelum pembelajaran dimulai, 4) kesempatan untuk bertanya, berpendapat, dan mencoba, 5) melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan dan memperhatikan kebutuhan siswa, 6) metode yang digunakan ceramah dan diskusi kelas secara berkelompok, mengkondisikan siswa agar siap belajar. Waktu pembelajaran kebanyakan dilakukan pada pukul 7.30 sampai 12.20.
Pelaksanaan pembelajaran tematik yang dilaksanakan oleh guru di Padang dengan menggunakan media peta tematik sesuai dengan langkah-langkah penggunaan media peta tematik yang terdiri dari tujuh langkah diawali dengan 1) menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan selama pembelajaran, 2) memberikan pengantar untuk untuk menimbulkan minat siswa, 3) merumuskan tujuan pembelajaran dengan menggunakan media peta tematik, 4) memperagakan media peta tematik, 5) menjelaskan materi melalui media peta tematik, 6) menyimpulkan materi pelajaran, dan 7) memberikan evaluasi. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dua kali pertemuan dengan empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pelaksanaan pembelajaran guru di Padang juga menyebutkan bahwa guru hendaknya mengurangi metode ceramah, memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik, mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, bahan harus dimodifikasi atau diperkaya, jangan ragu untuk berhubungan dengan spesialis, gunakan prosedur penilaian yang bervariasi, menyadari bahwa peserta didik mempunyai karakter yang berbeda, usahakan mengembangkan situasi belajar bagi semua peserta didik, dan melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.
Pelaksanaan lingkungan belajar di sekolah Sleman adalah dalam mengembangkan daya eksploratif, kreatif dan integral peserta didik dilakukan dengan membangun lingkungan sekolah sebagai media belajar. Lingkungan belajar di sekolah terdiri dari lingkungan fisik dan nonfisik/sosial untuk mendukung proses pembelajaran secara integral.
Dalam pelaksanaan pembelajaran menurut guru di Tangerang Selatan maka seorang guru harus benar-benar mencermati kedalaman setiap materi. Materi yang sulit dipahami oleh anak harus dialokasikan waktu lebih banyak, sedangkan jika materinya mudah dipahami siswa alokasi waktunya lebih sedikit. Guru harus fleksibel dalam mengelola waktu, namun tetap harus menyelesaikan setiap materi sesuai dengan program tahunan (prota), program semester (promes), dan program mingguan tematik. Jika diakhir dengan subtema tetapi masih mempunyai sisa waktu maka bisa ditambahkan dengan mencipta produk yang sesuai dengan subtema dalam minggu tersebut. Hal ini biasanya sangat disukai siswa dengan catatan produk yang diciptakan siswa berubah-ubah setiap minggu.
3) Evaluasi Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru maka evaluasi pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah melalui 1) supervisi ke kelas, dilakukan setiap hari/setiap Jumat/setiap bulan/secara berkala, 2) berdasarkan laporan harian guru kelas, 3) kurang adanya tindak lanjut dan yang bagus supaya ditingkatkan, 4) berdiskusi dengan guru, 5) penilaian harian ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS). 6) memeriksa RPP dan setahun 2 kali melihat proses pembelajaran di kelas. Evaluasi juga dilakukan melalui pusat kerja guru (PKG), penilaian teman, team teaching dengan kepala sekolah, tenaga laboratorium, observer, dan tim kurikulum.
Guru di Surabaya memberikan evaluasi lisan setelah worksheet dikerjakan dan dikumpulkan di akhir pembelajaran. Evaluasi lisan berupa pertanyaan materi yang sudah diajarkan, sedangkan evaluasi tulis diberikan saat penilaian harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, dan penilaian akhir tahun atau ujian. Evaluasi guru di Surabaya dilaksanakan secara terpadu, antara aspek akademik dan nonakademik. Secara akademik meliputi mata pelajaran muatan umum dan muatan lokal, sedangkan nonakademik meliputi, 1) perkembangan kemampuan dasar seperti sosialisasi, emosi, kedisiplinan, keterampilan dasar, psikomotor, dan bahasa, 2) pengembangan diri meliputi ekstrakurikuler, Laskar Budi Pekerti, dan outbound activity dan ibadah meliputi ngaji morning, hafalan Juz ama dan doa harian, thoharoh, sholat wajib dan sunah.
Pengontrolan lingkungan belajar di sekolah Sleman adalah dalam mengembangkan daya eksploratif, kreatif dan integral peserta didik secara fisik dilakukan oleh seluruh warga sekolah, yaitu peserta didik, guru dan karyawan. Pengontrolan secara nonfisik/sosial dilakukan dengan literasi emosi, refleksi di akhir pelajaran bagi peserta didik, sedangkan pengontrolan guru dalam melaksanakan tugas melalui
refleksi harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan.
Pengontrolan pembelajaran di kelas dilakukan oleh kepala sekolah dengan observasi pembelajaran dan observasi pola asuh.
Evalusi pembelajaran guru di Tangerang Selatan dilakukan setelah akhir pembelajaran. Evaluasi ada tiga jenis, yaitu 1) untuk siswa dari guru, 2) untuk guru dari siswa, teman sejawat, kepala sekolah, dan pengawas, dan 3) untuk sekolah dari orang tua siswa. Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mampu menyerap pelajaran, karakter apa yang siswa dapatkan, dan keterampilan apa yang mereka kuasai.
Evaluasi yang dilakukan guru bisa secara lisan, tertulis, portofolio, hasil produk dan lain-lain, tergantung materi yang diajarkan. Hasil evaluasi ini secepatnya dikoreksi dan diberikan penilaian sehingga di pertemuan berikutnya guru sudah mengetahui siswa mana yang memerlukan remedial maupun pengayaan. Hasil evaluasi ini harus dilaporkan kepada orang tua, sehingga orang tua pun akan membantu anaknya di rumah jika mengalami kesulitan atau prestasi di bawah KKM. Dalam waktu tertentu dilakukan evaluasi oleh siswa terhadap guru. Evaluasi ini diperlukan untuk lebih ke refleksi guru, apakah pembelajaran menarik atau tidak, anak lebih mudah menerima pelajaran yang dilakukan atau sebaliknya, atau bahasa yang digunakan sudah sesuai atau terlalu tinggi. Jenis evaluasi ini bisa dilakukan dengan wawancara spontan terhadap beberapa siswa atau angket sederhana. Guru harus mampu menciptakan suasana akrab sehingga siswa tidak merasa diwawancarai. Selain itu, guru harus mempunyai hati yang terbuka dan lapang dada, sehingga ketika anak menyampaikan kritikan yang jujur dan apa adanya tidak tersinggung ataupun marah. Dengan adanya evaluasi baik untuk siswa maupun guru maka guru harus segera mengubah strategi belajar mengajar di kelas. Proses belajar ini juga dievaluasi oleh pengawas sekolah, kepala sekolah maupun teman sejawat. Pengawas dan kepala sekolah akan melakukan supervisi secara berkala dan terencana tiap semester. Hasil dari supervisi langsung diberitahukan kepada guru dengan tujuan guru bisa melakukan perbaikan secepatnya. Dari hasil supervisi, guru yang memiliki penilaian sangat baik dalam mengajar akan dijadikan profil projek. Selain itu, untuk guru akan dievaluasi oleh teman guru terutama dalam satu kelas paralel dan dilakukan tiap semester. Evaluasi juga dilakukan oleh orang tua siswa selaku konsumen sekolah melalui angket setiap semester.
b. Metode Mengajar yang Menyenangkan
Untuk menyiapkan metode mengajar yang menyenangkan maka perlu dijelaskan tentang empat hal, yaitu 1) metode, media dan sumber belajar yang digunakan, 2) pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi dan pengembangan potensi siswa dan kemampuan memberi motivasi, 3) memberi peluang gerak motorik siswa, dan 4) pembelajaran di kelas yang didukung oleh orang tua di rumah.
1) Metode, Media dan Sumber Belajar
Metode pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis dan teratur yang dilakukan oleh guru dalam menyampaikan materi kepada siswa, dengan harapan proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik. Oleh karena itu, guru harus bisa menggunakan metode pembelajaran yang sesuai materi dan kebutuhan siswa.
Berdasarkan wawancara dengan guru maka metode yang digunakan dalam mengajar sangat bervariasi, ada 10 jenis, yaitu 1) di kelas tinggi digunakan metode ceramah, karya wisata, latihan, latihan keterampilan, pemecahan masalah, perancangan sesuai dengan materi yang disampaikan; 2) projek, active learning, dan sentra, 3) diskusi, demonstrasi, inquiry; 4) inovatif dan kreatif, menyenangkan sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan; 5) kerja kelompok, tanya jawab, bermain peran, diskusi; 6) eksperimen, penugasan, presentasi, kooperatif dan presentasi; 7) mengembangkan daya eksploratif, kreatif, integral, joyfull learning, dan percobaan; 8) mind mapping; 9) praktik langsung; kuis, lempar bola, tackling stick;
10) diskusi kelas dan diskusi kelompok dan praktik.
Metode pendekatan kontekstual menurut guru di Balikpapan merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Selain itu, mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka di keluarga dan di masyarakat (Sagala, 2005: 87). Menurut Herwono (2005: 61) pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yamg diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih penting daripada hasil. Sanjaya (2005: 109) juga metakan bahwa pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh agar dapat
menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Menurut guru di Padang, pembelajaran bagi anak SD/MI seharusnya mengikuti metode PAIKEM, yaitu pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bukan pembelajaran yang monoton dan membosankan sehingga membuat peserta didik tidak semangat dan tidak memiliki ketertarikan untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif maksudnya diharapkan muncul ide, gagasan atau inovasi positif yang lebih baik. Pembelajaran kreatif maksudnya mampu menciptakan kegiatan yang beragam, tidak monoton dan mampu menciptakan alat bantu atau media yang sederhana sehingga memudahkan siswa. Pembelajaran efektif maksudnya pembelajaran dilakukan untuk mencapai hasil belajar yang telah dirumuskan.
Pembelajaran menyenangkan artinya proses pembelajaran harus berjalan dalam suasana yang menyenangkan tidak dalam suasana tegang apalagi membosankan. Jika semua guru SD/MI dapat menerapkan metode ini, tidak akan ada lagi pembelajaran yang membosankan dan menegangkan yang dialami oleh siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi sangat menarik dan menyenangkan sehingga siswa mampu memahami materi yang disampaikan dan tidak merasa tertekan dalam mengikuti pembelajaran (Mulyatiningsih, 2010).
Metode pembelajaran yang digunakan di Sleman adalah joyfull learning atau pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa belajar dalam suasana yang menyenangkan dan tidak
“kaku”. Guru dapat menggunakan metode belajar yang bervariasi agar anak dapat senang dalam belajar seperti observasi, diskusi, percobaan, bahkan melalui game/permainan. Metode ceramah diupayakan seminimal mungkin. Oleh karena bermain adalah dunia anak maka metode belajar yang digunakan adalah game pembelajaran seperti ular tangga, piramida, sundamanda, kwartet, dan lain sebagainya agar anak-anak merasa senang dalam belajar. Dalam game tersebut bertuliskan soal-soal yang harus dijawab anak. Selain itu, permainan tebak-tebakan juga biasa dimainkan oleh anak-anak untuk menjadi sarana belajar.
Permainan ini dilakukan dengan menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang materi pelajaran yang bersifat hafalan pada kertas kecil-kecil.
Anak-anak bisa bergantian mengajukan pertanyaan. Permainan tradisional pun bisa digunakan untuk belajar, misalnya permainan sundamanda. Ajak anak membuat kotak-kotak seperti jaring-jaring
kubus pada lantai, bisa dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas.
Pada setiap kotak bisa ditulisi pertanyaan, misalnya dalam menghafal perkalian/pembagian. Setelah itu anak-anak akan bermain sundamanda. Ketika anak “engklek” maka kotak yang dilalui harus dijawab terlebih dahulu. Metode belajar dengan menggunakan “game edukasi” seperti ini menuntut kreativitas seorang guru dalam menyiapkan media. Dengan bermain sambil belajar, anak-anak merasa senang, artinya senang bermain dan senang belajar.
Sistem pembelajaran yang digunakan guru di Surabaya adalah edutainment dengan pendekatan somatic, auditory, visual, dan intelectual (SAVI). Metode yang digunakan ceramah, diskusi, tanya jawab, permainan, dan bermain peran.
Metode mengajar yang digunakan di Tangerang Selatan adalah klasikal bervariasi. Oleh karena jumlah siswa dalam kelas 39 orang maka dilakukan ceramah variasi terlebih dahulu. Kemudian digunakan metode lain seperti diskusi (FGD), demonstrasi, tanya jawab, percobaan, role playing, problem solving, jigsaw, dan sebagainya sesuai dengan materi dipelajari saat itu. Pemilihan metode dilakukan sharing dengan teman guru satu kelas paralel.
Media pembelajaran menurut guru di Padang pada hakikatnya merupakan penyalur pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan oleh guru kepada siswa dengan tujuan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan tepat dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Ada delapan macam media pembelajaran sederhana, yaitu 1) gambar dan gambar jadi, 2) gambar garis dan gambar diam, 3) gambar fotografi dan peta atau globe, 4) grafik dan grafik batang, 5) grafik gambar dan papan tulis, 6) papan flanel dan display, 7) relia dan poster, dan 8) bagan dan herbarium. Pemilihan sumber belajar menurut guru di Padang lebih baik jika guru menggunakan kriteria tertentu, yaitu umum atau khusus untuk memilih sumber belajar yang akan dipakai. Kriteria umum adalah ekonomis, praktis dan sederhana, mudah diperoleh, dan fleksibel atau kompatibel, sedangkan kriteria khusus adalah yang dapat memotivasi peserta didik dalam belajar, untuk tujuan pengajaran;
penelitian, memecahkan masalah, dan presentasi. Dengan menerapkan kriteria tersebut maka pemilihan sumber belajar dapat dilakukan lebih mudah.
2) Pembelajaran Berorientasi pada Pengembangan Potensi Siswa Pembelajaran yang dimaksud tidak hanya berorientasi pada hasil nilai melainkan juga kompetensi dan pengembangan potensi siswa.
Menurut guru di Padang, pada tahap penilaian atau evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari proses
pembelajaran, guru hendaknya mampu memberikan penilaian yang signifikan dan tentatif dengan menerapkan beberapa strategi pembelajaran sehingga evaluasi tidak hanya pada nilai melainkan menemukan jawaban dari permasalahan siswa agar potensi siswa bisa dikembangkan. Selain itu, adanya strategi pembelajaran yang merupakan kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Strategi ini dilakukan karena guru mengetahui apa yang dibutuhkan siswa, baik dari segi akademik maupun motivasi. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan memberikan motivasi kepada siswa agar dapat melewati proses pembelajaran yang menyenangkan.
Penilaian guru di Sleman, para guru dan orang tua membangun kerja sama yang solid, intensif, dan komunikatif untuk mendampingi dan mengarahkan pemekaran anak. Oleh karena itu, dikembangkan pola pendampingan dan asuh yang khas. Pola pendampingan dilaksanakan di dalam kelas dalam berbagai kegiatan pembelajaran untuk mewujudkan ekperimentasi pembelajaran. Pola pendampingan juga dilaksanakan dalam bentuk kesepakatan kelas, manajemen kelas, dan berbagai pembiasaan baik. Pola asuh diwujudkan dalam bentuk pengenalan awal peserta didik secara pribadi, pendampingan pribadi dalam pengembangan bakatnya, kunjungan rumah (home visit), dan pertanggungjawaban di akhir berupa rapor deskriptif tentang perkembangan anak.
Agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada nilai melainkan juga kompetensi dan pengembangan potensi siswa maka guru di Surabaya menggunakan rubrik penilaian untuk mengetahui antusias belajar dan keaktifan siswa belajar di dalam kelas, melalui proses observasi dan kegiatan belajar di kelas. Selain itu, karena pembelajaran tidak berorientasi pada nilai maka ketika masuk di sekolah ini tidak ada tes melainkan menggambar. Sekolah ini menerima ABK tetapi dibatasi hanya dua ABK dengan shadow teacher yang mendampingi. Dengan beragamnya kemampuan anak, soal pun dibedakan sesuai dengan kemampuan siswa. Potensi siswa juga dikembangkan dengan ekstrakurikuler yang bermacam-macam yang ada di sekolah ini. Untuk memotivasi siswa agar taat aturan dan bila prestasi bertambah, guru memberikan reward. Anak-anak sangat antusias sekali menerima reward, piagam, medali perunggu, dan medali emas.
3) Peluang Bergerak Motorik Siswa
Agar memberi peluang bergerak motorik bagi siswa maka guru di Padang menyatakan bahwa dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan arahan kepada siswa dalam melakukan aktivitas di kelas, seperti memperagakan sesuatu atau memberi contoh untuk
pembelajaran yang sedang berlangsung. Dengan demikian, siswa tidak hanya duduk melainkan juga bergerak motorik.
Untuk memberikan peluang bergerak motorik siswa maka di sekolah Sleman terdapat lima pelajaran khas yang memiliki beberapa mata pelajaran khas di luar pelajaran reguler. Pertama, kotak pertanyaan untuk merancang daya eksplorasi anak karena karakter anak-anak masa kini yang aktif atau ‘tidak bisa diam’ ditanggapi secara positif. Anak dibiasakan untuk memproduksi pertanyaan setiap hari, pertanyaan tentang apa pun, tanpa batas. Pada akhir minggu kotak pertanyaan tersebut akan dibuka dan diklasifikasi oleh guru mana yang bisa dijawab langsung, mana yang membutuhkan nara sumber, dan mana yang perlu dengan sumber literatur. Kedua, komunikasi iman berbeda dengan pendidikan agama, pada komunikasi iman anak-anak diajak untuk berdialog dengan macam-macam agama dan berupaya mengajak siswanya untuk berjiwa pluralistik. Anak tidak dikotak-kotakkan dalam satu agama supaya anak lebih mengenal keragaman dan kekayaan budaya Indonesia. Ketiga, musik pendidikan adalah untuk menumbuhkan rasa musik dalam diri anak. Ada kalanya membutuhkan alat musik, tetapi hal yang utama adalah apa pun yang ada pada lingkungan bisa menjadi instrumen musik. Keempat, Membaca Buku Bagus merupakan kegiatan agar para siswa mendengarkan gurunya bercerita tentang buku yang kontekstual terhadap tema tertentu, kelas akan ditutup dengan diskusi sehingga terjadi dialog antara guru dengan siswa. Selain bertujuan untuk membuka cakrawala anak, Membaca Buku Bagus juga berguna untuk meningkatkan minat baca anak.
Kelima, Majalah Meja memiliki prinsip yang sama dengan Mading tetapi disusun pada media meja. Majalah Meja ini bertujuan untuk meningkatkan daya eksplorasi dan minat baca anak-anak. Adanya media massa yang semakin luas, direspon secara positif dan dikenalkan pada anak-anak sejak dini.
Pembelajaran yang menyenangkan di sekolah Sleman memberi peluang bergerak motorik siswa, seperti halnya pembelajaran dimulai dengan berbagai games, pemberian ice breaking di sela-sela pembelajaran, pembelajaran yang dilaksanakan tidak hanya di dalam kelas melainkan juga di luar kelas, pelibatan langsung siswa dengan lingkungan sekitar, pengaturan tempat duduk yang selalu berubah-ubah secara periodik, penugasan berbasis projek, dan lain sebagainya.
Dengan adanya kegiatan pembelajaran yang memberi ruang gerak motorik siswa, diharapkan anak dapat tumbuh dan berkembang sehat jasmani dan rohaninya.
Pembelajaran yang aktif dan menyenangkan di Surabaya tidak hanya duduk dan diam menerima materi pembelajaran melainkan juga untuk penambahan karakter ada tambahan jadwal life skill seperti melipat