BAB IV FAKTA DAN MODEL SEKOLAH AMAN DAN
B. Model Manajemen Sekolah Aman dan Menyenangkan
Dengan melihat fakta di atas maka disajikan model manajemen sekolah aman dan menyenangkan seperti pada Gambar 22 dan 23.
MODEL MANAJEMEN SEKOLAH AMAN DAN MENYENANGKAN LINGKUNGAN
SEKOLAH (MBS)
PEMBELAJARAN MENYENANGKAN
Intrakurikuler, Kokurikuler, Ekstrakurikuler
Lingkungan Fisik
Manajemen Guru
Budaya Sekolah
Lingkungan Sosial
Kepemimpinan Kepala Sekolah
Sarpras
Pembiayaan Manajemen
Peserta Didik INDIKATOR
LINGKUNGAN SOSIAL yang Aman dan Menyenangkan Aman (psikis) Indikator:
•Aman dari bullying, rasa takut, sentimen SARA, Aman berekspresi &
Aman dari pencurian Menyenangkan (Psikis) Indikator:
•Cara belajar menyenangkan
•Hub sosial guru siswa, guru-guru, siswa-siswa,ortu-warga sekolah harmonis
•Program sekolah dukung kembangkan potensi siswa
•Pendidikan karakter terintegrasi
INDIKATOR LINGKUNGAN FISIK
yang Aman dan Menyenangkan Aman (Fisik) Indikator:
•Struktur bangunan, lokasi, akses
•Makanan aman, bersih dan sehat
•Fasilitas ramah anak
Menyenangkan (Fisik)
Indikator:
•Lingkungan sekolah nyaman, Bersih, indah, tidak bising, udara segar, pencahayaan cukup, dan ada fasilitas siswa beraktivitas
•Ketercukupan fasilitas belajar
•Ketersediaan sarana prasarana pendukung Orang Tua Siswa/Masyarakat/
Dunia Usaha
Gambar 22. Model Manajemen Sekolh Aman dan Menyenagkan
PEMBELAJARAN
SISWA GURU
1. FASILITAS 2. MANAJEMEN KELAS 3. PEMBELAJARAN:
a. Perencanaan, b. Pelaksanaan
PEMBELAJARAN yang Aman dan Menyenangkan
OUTCOME
Siswa berkompeten
dan berkarakter PEMBELAJARAN
MENYENANGKAN Indikator:
Metode, media, dan sumber belajar bervariasi Performance guru:
kompetensi, Kemampuan variasi (suara, interaksi,posisi) Menciptakan dekorasi ruangan
yang berbeda Memotivasi siswa (Menyapa
siswa dengan ramah dan bersemangat)
Mengatur posisi tempat duduk secara berkala Memberikan perhatian yang
sama pada semua siswa.
Memperhatikan perbedaan karakteristik siswa Memperhatikan gerak motorik
siswa Student center
Proporsi belajar di dalam dan luar kelas (kelas inspirasi) Kegiatan intra dan ekstra saling
mendukung
Beban guru (Jumlah siswa /rombel ) jumlah siswa per rombel yang sesuai dengan luas kelas dan nyaman
Strategi Implementasi Model Sekolah Aman dan Menyenangkan Manajemen sekolah
Analisis kebutuhan: SDM (termasuk kompetensi dan paradigma yang dianut)
Visi misi: berkarakter, mengutamakan proses pembelajaran yang disukai oleh siswa, memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri sesuai potensinya. Suasana sekolah nyaman dan aman.
Menyampaikan pengetahuan yang dikemas dengan memperhatikan kepedulian lingkungan dan rasa empati pada sesama. Visi dan misi sekolah adalah sebuah sekolah tempat setiap anak tumbuh menjadi seseorang yang suka belajar sepanjang hidupnya dengan rasa bahagia dan antusias, serta tempat setiap guru menghadirkan suatu perbedaan. Dengan demikian, sekolah bangga karena dapat memberikan dasar-dasar yang baik mengenai kesadaran berbangsa Indonesia
Pelibatan secara penuh orang tua/ wali peserta didik dan juga komunitas dalam penyusunan program dan pencapaian program sekolah yang menyenangkan.
Mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun Sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang sukses .
Mengubah mindset, dari sekolah yang memberikan penekanan pada peserta didik menjadi sekolah yang merangkul dan menyertai aktivitas peserta didik, dengan mengundang nara sumber yang dapat mencerahkan
Penciptaan lingkungan belajar yang positif, yaitu lingkungan sekolah yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar
Lingkungan fisik yang positif, memberi ruang kepada peserta didik untuk dapat menjaga eksistensi dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut dan rasa tidak enak lainnya.
Pembelajaran yang menyenangkan, artinya kegiatan pembelajaran berlangsung secara dua arah dan memberi ruang kepada peserta didik untuk terlibat dan menentukan bagaimana pencapaian tujuan pembelajarannya.
Gambar 23. Rincian Pembelajaran Menyenangkan
Sekolah Aman dan Menyenangkan dapat diartikan sebagai berikut:
Sekolah yang aman bebas dari gangguan, hambatan ancaman dan bahaya, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak dengan memberikan lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan untuk pembelajaran yang berkualitas sehingga menghasilkan siswa yang berkarakter, berprestasi akademik maupun non akademik. Senang di sini diartikan sebagai anak senang belajar di sekolah dan melaksanakan tata tertib sekolah dengan hati senang.
Secara umum manajemen berbasis sekolah mengikuti prinsip-prinsip manajemen. Langkah-langkah yang dilakukan dalam manajemen adalah 1) perencanaan termasuk persiapan, 2) pelaksanaan, 3) evaluasi dan tindak lanjut hasil evaluasi. Uraian dan langkah-langkah disajikan berikut ini.
1. Perencanaan termasuk Persiapan
Sekolah aman dan menyenangkan hendaknya memenuhi 8 kriteria.
Pertama, memiliki visi dan misi adalah berkarakter, memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri sesuai potensinya. Suasana sekolah nyaman dan aman di mana dalam menyampaikan pengetahuan dikemas dengan memperhatikan kepedulian lingkungan dan rasa empati pada sesama. Siswa dilatih dan dikembangkan untuk mandiri, mampu berpikir kritis, percaya diri, mampu menjadi pemimpin, lugas dalam berkomunikasi, mampu menghadirkan perbedaan di dalam lingkungan mereka, dan mampu menilai dan mengekspresikan dirinya. Kedua, program sekolah yang mengembangkan kompetensi minat dan bakat siswa serta karakter siswa.
Ketiga, menumbuhkan budaya belajar baik bagi guru maupun siswa.
Keempat, trisentra pendidikan berbasis sekolah (keluarga, sekolah dan masyarakat) program sekolah didukung oleh orang tua dalam keluarga, guru dan masyarakat. Kelima, kurikulum memuat a) karakteristik kompetensi sikap pengetahuan dan keterampilan yang akan dicapai siswa, b) lingkup pengembangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan pada diri sendiri, sekolah, keluarga dan masyarakat, c) proporsi belajar di dalam dan luar kelas (kelas inspirasi) dan d) memberi peluang bergerak motorik bagi siswa. Keenam, fasilitas yang menunjang pembelajaran terdiri dari a) ruang kelas memadai dan aman, struktur bangunan kokoh, kapasistas ruang kelas sesuai dengan jumlah siswa dan nyaman serta lokasi sekolah aman, b) media pembelajaran, buku pelajaran, modul dan buku cerita, c) lapangan bermain, d) tempat ibadah, e) fasilitas toilet dan air bersih, f) fasilitas kesehatan minimum sekolah, dan g) tempat berjualan makanan bersih (kantin). Ketujuh, keberadaan dan keterlaksanaan aturan sekolah yang konsisten seperti guru dan siswa bersepakat membuat aturan kelas.
Kedelapan, pemeliharaan fasilitas secara berkala.
2. Pelaksanaan
Tiga hal yang penting dalam pelaksanaan model sekolah aman dan menyenangkan berpijak pada MBS, yaitu kepemimpinan kepala sekolah dan peran serta orang tua dan masyarakat serta pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.
a. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dalam kepemimpinan kepala sekolah yang distributif dapat menciptakan bahwa semua warga sekolah memahami dan melaksanakan visi dan misi sekolah, hubungan antarsiswa akrab dan hangat, hubungan dengan warga sekolah akrab dan hangat, hubungan dengan orang tua siswa baik, dan rasa nyaman seperti saling menghargai, menghormati, dan toleransi.
Kepala sekolah selalu berinovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah karena sebagai agen perubahan dalam perbaikan sekolah. Inovasi yang dilakukan bervariasi dan mudah dilaksanakan oleh guru dan siswa.
b. Peran Serta Orang tua, Masyarakat dan Pemerintah Daerah Termasuk Dinas Pendidikan
Trisentra pendidikan berbasis kelas (orang tua, guru dan siswa) sehingga pembelajaran di sekolah, kelas, dan rumah saling mendukung. Partisipasi orang tua dalam membimbing siswa belajar di rumah yang berarti mendukung program sekolah.
c. Peran Serta Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan
Manajemen kepala sekolah akan lebih maksimal hasilnya jika didukung oleh pemerintah daerah setempat, misalnya mendukung pelaksanaan sekolah bersih, sehat dan menyenangkan walaupun tidak langsung dicanangkan tetapi dalam pelaksanaannya terdapat kegiatan yang dilakukan dan berkaitan langsung. Contoh, dalam menyelenggarakan sekolah aman dan menyenangkan antara lain 1) pemberian bendera hitam bagi sekolah yang tidak menjaga kebersihan dan kerapihan, 2) pemeliharaan dan perbaikan gedung sekolah dilakukan oleh dinas pekerjaan umum berdasarkan laporan kepala sekolah tentang sarana gedung yang harus diperbaiki, 3) melakukan tes tingkat kestresan bagi guru oleh psikolog, bagi guru yang terdeteksi stress diistirahatkan dan diselesaikan masalahnya terlebih dahulu, setelah sehat mengajar kembali, 5) pihak Puskesmas melakukan kunjungan ke sekolah secara berkala paling sedikit seminggu sekali, 6) program LOT dan LOS untuk memberikan edukasi kepada orang tua siswa sebelum siswa masuk sekolah, 7) sekolah yang memiliki siswa sedikit digabung dengan sekolah lainnya menjadi satu sekolah sehingga manajemen sekolah menjadi lebih ramping dan lebih mudah mengaturnya karena sekolah menjadi lebih besar, luas, rapi, bersih, dan indah.
d. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran indikatornya ada enam.
Pertama, manajemen kelas dilaksanakan secara profesional, transparan dan demokratis, dalam hal 1) membuat rencana pembelajaran, 2) mengelola kelas sebelum memulai pembelajaran dengan cara a) melakukan kegiatan positif secara rutin sesuai dengan potensi dan hobi yang dimiliki siswa, b) melakukan olah fisik sebelum memulai hari pembelajaran pada hari-hari tertentu bersama siswa, c) menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan, d) menyesuaikan pengaturan tempat duduk siswa dan sumber daya lain yang sesuai, dan e) menyampaikan garis besar cakupan materi; 2) melaksanakan proses pembelajaran, 3) menutup pembelajaran, 4) penilaian otentik, 5) pemantauan hasil pembelajaran, 6) supervisi, dan 7) tindak lanjut hasil pengawasan. Kedua, metode mengajar yang menyenangkan (ragam metode, media, dan sumber belajar) (pembelajaran tidak berorientasi pada hasil “nilai” melainkan pada kompetensi dan pengembangan potensi siswa dan kemampuan memberi motivasi). Ketiga, performance guru (kepribadian dan sosial), suaranya jelas serta kemampuan variasi (suara, interaksi, dan posisi). Keempat, kegiatan intra dan ekstrakurikuler saling mendukung. Kelima, adanya pendidikan karakter.
Keenam, beban guru (jumlah siswa per rombel), jumlah siswa per rombel sesuai dengan luas kelas dan nyaman.
Guru hendaknya 1) menyampaikan pengetahuan dengan terus memelihara kreativitas siswa dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, 2) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berekspresi tanpa rasa takut.
3) memotivasi siswa belajar dengan kesadaran tinggi sehingga siswa dapat menentukan yang terbaik dan mandiri, dan 4) memahami bahwa pengetahuan tetap dijalankan dengan sadar dan tidak menjadi beban tetapi menjadi hal yang menyenangkan.
Prinsip dan indikator sekolah aman dan menyenangkan baik dari segi fisik maupun psikis, setelah persyaratan awal terpenuhi ada empat.
Pertama, lingkungan sekolah bersih, indah, bangunan, dan tanamannya tertata. Untuk menjaga kebersihan kelas maka a) siswa ikut berpartisipasi menjaga kebersihan kelas, b) siswa selalu siap dan senang memungut sampah yang dilihatnya lalu dibuang ke tempat sampah, c) siswa merawat tanaman sesuai jadwal, d) siswa dapat memilah jenis sampah, e) siswa membawa tempat makanan sendiri, f) penjual kantin tidak menyediakan bungkus plastik/lainnya, tetapi menyediakan piring/tempat makanan yang dapat dicuci (tidak dibuang) dan siswa makan bersama di tempat yang disediakan. Kedua, udara segar dan lingkungannya asri atau rindang.
Ketiga, tidak bising. Keempat, lingkungan sekolah nyaman.
Sekolah yang aman memiliki indikator dua indikator.
a) Aman Secara Psikis, artinya aman dari bullying (teman dan warga sekolah dan orang lain di sekitar sekolah seperti pemerasan, pelecehaan seksual, kekerasan fisik, verbal dan nonverbal, atau intimidasi), gerakan anti bullying dilakukan dengan gerakan janji bersama untuk tidak mengganggu teman dilakukan tidak hanya sekali, tetapi harus diingatkan; bebas rokok dan narkoba; aman terlindungi (keberadaan dan keterlaksanaan aturan sekolah yang konsisten); aman dari pencurian;
aman berekpresi tanpa rasa takut
b) Aman Secara Fisik, artinya struktur bangunan aman dari bencana, tidak rusak dan membahayakan, lokasi aman bencana dan akses menuju sekolah aman, fasilitas ramah anak (tidak membahayakan anak), makanan aman, bersih dan sehat baik yang dibawa oleh siswa maupun yang dijual di sekitar sekolah (kantin), guru memastikan siswa membawa bekal yang memenuhi gizi seimbang dengan cara bekerja sama dengan orang tua, siswa membawa tempat makan sendiri, sekolah menghimbau anak membawa makanan sehat dari rumah, makanan di kantin atau makanan catering selalu diawasi kebersihannya dan tidak menggunakan MSG dan pengawet, dan penerangan yang memadai, jarak baca, meja kursi ergonomis ukurannya sesuai, dan font buku bacaan sesuai usia.
Langkah terakhir dari manajemen berbasis sekolah adalah evaluasi dan tindak lanjut hasil evaluasi. Evaluasi berupa pengawasan dan tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan oleh kepala sekolah dibantu oleh guru senior. Kepala sekolah melakukan pertemuan rutin setiap minggu untuk melakukan evaluasi terhadap masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran maupun program yang dilaksanakan di sekolah, meminta pendapat kepada guru lain dan ikut memberi masukan, dan memutuskan tindak lanjut yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang ditemukan di kelas. Setiap guru melaporkan perkembangan kegiatan yang dilakukan di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Ambardini, R. Laksmi. (2009). Pendidikan Jasmani dan Prestasi Akademik:
Tinjauan Neurosains. Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi.
UNY. Yogyakarta.
Arikunto, Suharsimi, Lia Yuliana S.Pd. (2008). Manajemen Pendidikan. Edisi ke-1, Yogyakarta: Aditya Media.
Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. ok
Artiyono, Sabar. (2015). Fungsi Yang Paling Mendasar Dari Seragam Sekolah Adalah Untuk Membedakan Tingkat Pendidikan.
https://www.brilio.net/life/inilah-7-alasan-kenapa-siswa-harus-memakai-seragam-150502c.html diunduh pada 18 Oktober 2019.
Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah. (2018). Hasil Akreditasi Sekolah/Madrasah Tahun 2018. Jakarta. Kemdikbud.
https://bansm.kemdikbud.go.id/akreditasi.
Darmansyah. (2010). Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor.
Jakarta: Aksara.
DePorter, Bobbi. (2000). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
DePorter, Reardon, dan Siger. (1999). Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas.
Dimyati dan Mudjiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Docplayer.info. (2017). Persepsi Kepala Sekolah Guru dan Siswa Terhadap Sekolah Yang Menyenangkan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat Surakarta. https://docplayer.info/73666534-Persepsi-
kepala-sekolah-guru-dan-siswa-terhadap-sekolah-yang- menyenangkan-di-sd-muhammadiyah-program-khusus-kotta-barat-surakarta.html diunduh 22 April 2019.
Fadhilah, Luthfi Nur. (2015). Variasi Pengaturan Tempat Duduk Siswa Dalam Upaya Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPA Kelas IV Di SD Negeri I Sawahan. Naskah Publikasi.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Gunawan, Imam. (2010). MBS, Pendekatan dalam Manajemen Pendidikan Sekolah. [Online]. Tersedia: https://www.viva.co.id/gaya- hidup/parenting/891277-faktorpenyebab-banyak-anak-indonesia-tak-sekolah diunduh 14 Februari 2018.
Habib, A.Q. & Machali, Imam. (2016). Efektivitas Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah dalam Perspektif Balanced Scorecard Terhadap Mutu Pembelajaran Siswa Kelas XI dan Kelas XII di MAN Maguwoharjo Sleman. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Madrasah. http://ejournal.uin-suka.ac.id/ tarbiyah/
index.php/JPM/article/view/1215
Hallinger, Philip. (2003). “Leading Educational Change: Reflections on the Practice of Instructional and Transformational Leadership.”
Cambridge Journal of Education 33 (3): 329–52.
Hanif, Hidayat. (2012). Pengaruh Kompetensi Profesional Guru, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru Otomotif SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman. Yogyakarta. Thesis, Universitas Negeri Yogyakarta.
Hanik, Umi. (2011). Implementasi Total Quality Management Dalam Meningkatkan Pendidikan. Semarang: Rasail Media Group.
Herwono, Hasim. (2005). Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual. Malang: Genius Media.
https://bdkpadang.kemenag.go.id/index.php?option=comcontent&view=articl e&id=608:zanwirfebruari&catid=41:top
https://www.sekolah menyenangkan.org/tag/gsm/unduh17122018).
Iklima, Nurul. (2017). Gambaran Pemilihan Makanan Jajanan Pada Anak Usia Sekolah Dasar Jurnal Keperawatan BSI, Vol.5 No.1 April 2017.
Bandung.
Jensen Eric. (2008). Brain Based Learning: Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak, Cara Baru dalam Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kemendikbud. (2007). Permendikbud Nomor 24, Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Jakarta.
Kemendikbud. (2014). Permendikbud Nomor 45, Tahun 2014 tentang Seragam Sekolah. Jakarta.
Kementerian Kesehatan. (2011). Pedoman Keamanan Pangan Di Sekolah Dasar. Kemenkes. Jakarta: Direktorat Bina Gizi.
Leithwood, Kenneth, Doris Jantzi, and Rosanne Steinbach. (1999). Changing Leadership For Changing Times. Berkshire and Philadelphia: Open University Press.
Lestari, Yopika, Rohiat, dan Dwi Anggraini. (2017). Pengaruh Penataan Tempat Duduk terhadap Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA Kelas V SDN 20 Kota Bengkulu. Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, PGSD FKIP Universitas Bengkulu.
https://ejournal.unib.ac.id>index.php>pgsd>article> download
Mulyatiningsih, Endang. (2010). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAIKEM). Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Depok: DI P4TK Bisnis Dan Pariwisata. ok Nikmah, Ayu Dewi Azizatun. (2016). Pengaruh Persepsi Orang Tua Siswa tentang Mutu Sekolah terhadap Minat Masyarakat di SD Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang. Semarang. thesis UIN Walisongo.
http://eprints.walisongo.ac.id/6653/
Novi Poepita Candra. /Red. Agus Sigit. (2018). Gerakan Sekolah Menyenangkan Tawarkan Konsep Baru Pendidikan di Era Disrupsi.
Kedaulatan Rakyat Yogyakarta https://www.krjogja.com/berita- lokal/diy/kulonprogo/gerakan-ekolah-menyenangkan-tawarkan-konsep-baru-pendidikan-di-era-disrupsi/
Nurkolis. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi.
Jakarta: Grasindo.
Raharjo, dkk. (2018). Laporan Kajian Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP). Jakarta. Puslitjakdikbud Kemendikbud.
Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Republika.co.id. (2016). Kriteria Sekolah Bagus Menurut Prof. Arief Rachman. https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting /16/01/29/o1p1f3328-10-kriteria-sekolah-bagus-menurut-prof-arief-rachman/unduh 17122018.
Rohmanurmeta, Fauzatul Ma’rufah dan Muh. Farozin, (2016). Pengaruh Pengaturan Tempat Duduk Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Pada Pembelajaran Tematik Integratif”. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan,
JPIP Vol 9, Nomor 1, Maret 2016
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpip/article/view/10691.
Sagala, Saiful. (2005). Konsep dan Metode Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya. Wina. (2005). Pembelajaran dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana.
Siagian, H., (1997), Manajemen Suatu Pengantar. Bandung: Alumni.
Spillane, James P. (2005). The Educational Forum Distributed Leadership.
Distributed Leadership 69 (2): 143–50.
Sukadiyanto, Kurdi. (2014). Pengembangan Model Pembelajaran Motorik dengan Pendekatan Bermain Menggunakan Agility Ladder untuk Anak Sekolah Dasar. Jurnal Keolahragaan, Vol. 2 – Nomor 2. Yogyakarta.
Sukoco, Heru dan Ali Mahmudi. (2016). Pengaruh Pendekatan Brain Based Learning terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis dan Self Efficacy Siswa SMA. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Mercu Buana. https://journal.uny.ac.id/index.php/
pythagoras/article/viewFile/9678/pdf diunduh 26 April 2019.
Sulaeman, Adnan. (2009). Peran Guru dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas.
Suryana, Asep. (2018). Manajemen Berbasis Sekolah.
http://file.upi.edu/Direktori/Fip/Jur.Administrasipendidikan/19720321 1999031asep_Suryana/Manajemenberbasis_Sekolah. Diunduh 4 Mei 2018.
Tukidja, Johanes, Siswo Wiratno, Yenny Dahliani, Idris HM Noor. (2004).
Pedoman Pelaksanaan Membangun Sekolah Lebih Aman, Nyaman, dan Menyenangkan (Safer School) SMP dan SMA Edisi Perbaikan.
Jakarta: Pusat Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas
Usman, Husaini. (2009). Manajemen: Teori, Praktik, dan Reset Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara
Wahyu Suryana/Red: Yudha Manggala P Putra. (2017). Gerakan Sekolah Menyenangkan Ajak Siswa Miliki Keterampilan. Republika, 6 Agustus 2017
Wahyuni, Restu. (2016). Menciptakan Pembelajaran Menyenangkan dan Bermakna. http://restulifeact.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/
sites/15431/2017/10/Restu-Wahyuni_Menciptakan-Pembelajaran-Menyenangkan-dan-Bermakna.pdf diunduh 22 April 2019
Walker, Timothy D. (2017). Teach Like Finland. Jakarta. PT Gramedia Widiasarana Indonesia
World Bank, GFDRR & ARUP. (2014). Roadmap for Safer Schools: Guidance Note Global Program for Safer Schools, A Road Map to promote a long-term systematic approach to improving the safety of school infrastructure at risk from natural hazards
Worldbank.org. (2014). Global Program for Safer School.
https://www.worldbank.org/en/topic/disasterriskmanagement/brief/glo bal-program-for-safer-schools, diunduh tgl. 18 Desember 2018
Zamjani, Irsyad, dkk. (2018). Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud