• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Manajemen Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama

1. Pengertian Manajemen Pendidikan

Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu berasal dari kata manus

yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Kata-kata itu

digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani.

Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk

orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya management

diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan. (Usman, 2006: 3).

Ditinjau secara terminologi kata “manajemen” memiliki banyak

makna. Beberapa pengertian manajemen dan perspektif para pakar, antara lain sebagai berikut:

a. Oemar Hamalik dalam bukunya Manajemen Pengembangan

Kurikulum memberikan batasan kata manajemen sebagai berikut: manajemen adalah suatu proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumber lainnya menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya. (Hamalik, 2006: 16).

b. G. R. Terry mengatakan bahwa manajemen merupakan proses khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. (Saefullah, 2014: 2)

c. Menurut Umiarso dan Imam Gozali dalam buku Manajemen mutu

sekolah (2010: 69) manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal.

d. Daryanto (2013: 41) manajemen adalah pengelolaan usaha,

kepengurusan, ketatalaksanaan, penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara efektif untuk mencapai sasaran organisasi yang diinginkan. Sedangkan dalam kegiatan pendidikan, manajemen dapat diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan evaluasi dalam kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh pengelola pendidikan untuk membentuk peserta didik yang berkualitas sesuai dengan tujuan.

Dari beberapa uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang khas terdiri dari perencanaan,

dilakukan pihak pengelola organisasi untuk mencapai tujuan bersama dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari manajemen sering diartikan pengelolaan atau dalam dunia pendidikan sering disebut administrasi.

Sedangkan dalam perspektif agama Islam hakikat manajemen adalah

al-tadbir (pengaturan). Kata ini berasal dari kata dabbara (mengatur) yang

banyak terdapat dalam Al- Qur’an seperti firman Allah SWT:

َفْلَأ ُهُراَدْقِم َناَك ٍمْوَ ي ِفِ ِهْيَلِإ ُجُرْعَ ي َُّثُ ِضْرلأا َلَِإ ِءاَمَّسلا َنِم َرْملأا ُرِّ بَدُي

َنوُّدُعَ ت اَِّمِ ٍةَنَس

Artinya: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As-Sajdah: 5).

Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah SWT merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sebagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT mengatur alam raya ini. Kedudukan manusia sebagai khalifah memainkan peran ganda yaitu sebagai pemimpin sekaligus sebagai pengelola (manajer). Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman:

اَهيِف ُلَعَْتََأ اوُلاَق ًةَفيِلَخ ِضْرلأا ِفِ ٌلِعاَج ِّنِِّإ ِةَكِئلاَمْلِل َكُّبَر َلاَق ْذِإَو

َلاَق َكَل ُسِّدَقُ نَو َكِدْمَِبِ ُحِّبَسُن ُنَْنََو َءاَمِّدلا ُكِفْسَيَو اَهيِف ُدِسْفُ ي ْنَم

َنوُمَلْعَ ت لا اَم ُمَلْعَأ ِّنِِّإ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di

bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Kata (khalifah) yang berarti pemimpin di sini mengandung makna

mengelola bumi agar manusia dengan alam dapat berdampingan dan berkesinambungan dalam pengelolaan bumi untuk kemakmuran.

Sedangkan dalam dunia pendidikan pengelolaan lebih diarahkan kepada suatu proses yang berupaya untuk menghimpun sumber daya yang ada pada lembaga tersebut dalam mencapai tujuan pendidikan.

2. Komponen-Komponen Manajemen Pendidikan di Sekolah

Istilah manajemen sekolah terjemahan dari “school management”,

dan akan melihat bagaimana manajemen substansi-substansi pendidikan di suatu sekolah atau manajemen berbasis sekolah agar dapat berjalan dengan tertib, lancar dan benar-benar terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Hal yang paling penting dalam implementasi manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri. Sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka manajemen pendidikan, yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan. (Mulyasa, 2014: 39).

a. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran

Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian dari MBS. Manajemen kurikulum dan program pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum Nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Dapertemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Di samping itu, sekolah juga bertugas dan berwewenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat. (Mulyasa, 2014: 40).

Kurikulum yang digunakan sekolah pesantren menggunakan kurikulum nasional dan kurikulum pesantren/lokal. Dalam sekolah pesantren kurikulum yang diberlakukan adalah kurikulum nasional yang mana menekankan pada pola pendidikan formal.

Akhir-akhir ini, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada pesantren untuk menyelenggarakan sistem persekolahan melalui program wajib belajar 9 tahun. Hal ini mengandung makna

bahwa pesantren juga harus melaksanakan fungsi-fungsi

persekolahan, antara lain melaksanakan pendidikan dan pengajaran pesantren secara terencana dan terstruktur.

b. Manajemen Tenaga Kependidikan

Keberhasilan manajemen pendidikan sangat ditentukan oleh keberhasilan pemimpinannya dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia disekolah. Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Sehubungan dengan itu, fungsi personalia yang harus dilaksanakan pimpinan, adalah menarik, mengembangkan, menggaji, dan memotivasi personil guna mencapai tujuan sistem, membantu anggota mencapai posisi dan standar perilaku, memaksimalkan perkembangan karier tenaga kependidikan, serta menyelaraskan tujuan individu dan organisasi.

Manajemen tenaga kependidikan mencangkup: (a)

perencanaan pegawai, (b) pengadaan pegawai, (c) pembinaan dan pengembangan pegawai, (d) promosi dan mutasi, (e) pemberhentian pegawai, (f) kompensasi, dan (g) penilaian pegawai. Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai, yakni tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan berkualitas. (Mulyasa, 2014: 42).

Ada empat komponen pokok personalia dalam sekolah pesantren, yaitu: Kyai/pengasuh, Kepala Sekolah, Guru/ustadz, dan santri.

1) Kyai merupakan symbol sentral sebuah pesantren, biasanya

ketenaran kyai sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan banyak sedikitnya santri yang menuntut ilmu di pesantren.

2) Kepala Sekolah merupakan komponen khusus dalam

pengelolan sekolah, karena kepala sekolah sebagai supervisor yang menangani dan mengatur semua kegiatan para guru/ustadz maupun karyawan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional.

3) Guru/ustadz, keduanya mempunyai fungsi yang sama, yang

membedakan yaitu, seorang ustadz dituntut harus tinggal di pondok pesantren dan memberikan contoh perilaku yang baik terhadap santrinya, sedangkan guru tidak tinggal di pondok.

4) Santri, fungsi santri merupakan bagian yang penting dalam

pesantren. Bila tidak ada santri maka tidak aka nada pesantren, santri di sini sama dengan siswa namun ada nilai plus yang

dihasilkan santri, diantaranya menumbuhkan sikap

kemandirian, kesederhanaan, dan rajin dalam beribadah.

c. Manajemen Kesiswaan

Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu: (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek,

sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka; (b) kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal; (c) siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan; dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor. (Darmanto dan Farid, 2013: 170).

Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.

d. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan

Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi manajemen pendidikan, yang menuntut kemampuan

memper-tanggungjawabkan pengelolaan dana secara transparan kepada masyarakat dan pemerintah.

Komponen utama manajemen keuangan meliputi, (a) prosedur anggaran, (b) prosedur akuntansi keuangan, (c) pembelajaran, pergudangan, dan prosedur pendistribusian, (d) prosedur investasi, dan (e) prosedur pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan ini menganut asas pemisahan tugas antara fungsi otorisator, ordonator dan bendaharawan.

Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Adapun bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban. (Mulyasa, 2014: 49).

Kepala sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai otorisator, dan dilimpahi fungsi ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi bendaharawan

Bendaharawan di samping mempunyai fungsi-fungsi bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran. Jadi dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan sekolah.

e. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan

Manajemen sarana sering disebut dengan manajemen materiil, yaitu segenap proses penataan yang bersangkut-paut dengan pengadaan, pendayagunaan, dan pengelolaan sarana pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Dengan batasan tersebut maka manajemen sarana meliputi:

perencanaan, pengadaan, pengaturan, penggunaan, dan

pengahapusan. (Daryanto dan Farid, 2013: 103).

Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan

perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan serta penataan. (Mulyasa, 2014: 49).

Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadahi secara kuantitatif, kualitatif, dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar.

f. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah.

Hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk (a) memajukan kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak, (b) memperkokoh tujuan dan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat, dan (c) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk:

1) Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat dan lembaga-lembaga lain yang ada di msyarakat, termasuk dunia kerja.

2) Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena

mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.

3) Kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak

yang ada di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah. (Mulyasa, 2014: 50).

Melalui hubungan yang harmonis tersebut diharapkan tercapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan sekolah yang produktif dan berkualitas.

g. Manajemen Layanan Khusus

Manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan, dan keamanan sekolah. Manajemen komponen-komponen tersebut merupakan bagian penting dari manajemen pendidikan yang efektif dan efisien.

Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan

mendalami pengetahuan yang diperolehnya di kelas melalui belajar mandiri, baik pada waktu-waktu kosong di sekolah maupun dirumah. Manajemen layanan khusus lain adalah layanan kesehatan dan keamanan. Sekolah sebagai satuan pendidikan yang bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan proses pembelajaran, tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap saja, tetapi juga harus menjaga dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani peserta didik.(Mulyasa, 2014: 52)

Layanan-layanan khusus yang dibutuhkan peserta didik di sekolah terhadap pembinaan peserta didik meliputi: layanan bimbingan dan konseling, layanan perpustakaan, layanan kantin, layanan kesehatan, layanan transportasi, layanan asrama.

3. Tujuan Manajemen Pendidikan

Tujuan utama penerapan manajemen pendidikan pada intinya adalah untuk menyeimbangkan struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah, pelaksana proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien. Tujuan ini adalah untuk mendirikan atau memberdayakan sekolah melalui kewenangan (otonomi) kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk meakukan pengambilan keputusan secara partisipasif. Lebih rincinya manajemen pendidikan bertujuan untuk:

a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif

sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua,

masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

d. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu

pendidikan yang akan dicapai. (Aedi, 2015: 169).

Kemudian dalam buku karya Jamal Ma’mur Asmani (2012: 48)

Tujuan adanya Manajemen Berbasis Sekolah menurut Djam’an Satori

(2006), adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara

memberdayakan seluruh potensi sekolah dan stakeholder-nya sesuai

dengan kebijakan pemerintah dengan menerapkan kaidah-kaidah manajemen pendidikan/ sekolah professional.

Tujuan penerapan manajemen pendidikan adalah untuk

meningkatkan kualitas pendidikan secara umum, baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kualitas kurikulum, kualitas sumber daya manusia, guru maupun tenaga kependidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan-nya pula.

Karena tujuan manajemen pendidikan adalah meningkatkan mutu keputusan untuk mencapai tujuan, maka pelaksanaan manajemen

pendidikan memerlukan tujuan yang hendak dicapai secara jelas, jelas indikatornya, jelas kriteria pencapaiannya agar keputusan lebih terarah.

4. Fungsi Manajemen Pendidikan

Nur Aedi (2015: 52) Pada abad ke-20 Henry Fayol memperkenalkan fungsi manajemen ke dalam lima fungsi yaitu:

merancang, mengorganisir, memerintah, mengkoordinasi dan

mengendalikan.

Terdapat empat fungsi manajemen menurut G.R. Terry dalam

Rusman (2009: 122), yaitu: planning (perencanaan), organizing

(pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) dan controlling

(pengawasan).

a. Perencanaan (Planning)

Planning, berarti merencanakan atau perencanaan. Kegiatan ini terdiri atas: (1) menetapkan hal yang harus dikerjakan, waktu pelaksanaan, dan cara melakukannya; (2) membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan-pelaksanaan kerja untuk mencapai efektivitas maksimum melalui proses penentuan target; (3) mengumpulkan dan menganalisis informasi; (4) mengembangkan berbagai alternatif; (5) mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana dan keputusan. (Tatang, 2015: 20).

Perencanaan juga dapat diartikan sebagai proses kegiatan pemikiran, dugaan, dan penentuan prioritas yang harus dilakukan

secara rasional sebelum melaksanakan tindakan yang sebenarnya dalam rangka mencapai tujuan. (Taslimah, 1996: 33)

Jadi dalam tahap perencanaan (planning) merupakan

pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

b. Pengorganisasian (Organizing)

Organizing adalah pengelompokan kegiatan yang diperlukan, yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi setiap unit dalam organisasi. Organizing dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang dan penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan mencipatakan aktivitas-aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengorganisasian terdiri atas: (1) menyediakan fasilitas perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan rangka kerja yang efisien; (2) mengelompokkan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur; (3) membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi; (4) merumuskan dan menentukan metode serta prosedur; (5) memilih, mengadakan latihan dan pendidikan tenaga kerja, dan ,emcari sumber-sumber

c. Pelaksanaan (Actuating)

Pelaksanaan (actuating) pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektifdan efisien, serta akan memiliki nilai jika dilaksanakan dengan efektif dan efisien. (Tatang, 2015: 24)

Dari rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi

actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang

berhubungan langsung dengan orang-orang dalam orgnisasi. (Daryanto dan Farid, 2013: 165).

Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas, dan tanggungjawabnya.

d. Pengawasan (Controlling)

Controlling atau pengawasan yang sering disebut

pengendalian adalah mengadakan penilaian dan mengadakan koreksi sehingga pekerjaan bawahan dapat diarahkan kea rah yang benar dengan maksud mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Tatang, 2015: 23).

Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi yang terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan.

Manullang (1982: 174) Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan. Oleh karenanya agar sistem pengawasan itu benar-benar efektif artinya dapat merealisasi tujuannya, maka suatu sistem pengawasan setidak-tidaknya harus dapat dengan segera melaporkan adanya penyimpangan-penyimpangan dari rencana.

Dokumen terkait