USIA DINI
C. Manajemen Perawatan Sarana Prasarana
Secara universal, sebelum sarana dan prasarana memasuki proses perawatan, perlu diketahui bahwa sarana dan prasarana juga melalui beberapa proses yang tidak kalah penting, seperti proses perencanaan, pengadaan, penyaluran, pemakaian, inventarisasi, pengawasan, pemeliharaan atau perawatan, serta penghilangan. Di bawah ini merupakan uraian penjelasannya:
1. Perencanaan fasilitas pembelajaran
Perencanaan ialah perihal absolut. Perencanaan yakni suatu tindakan yang hendak dipilih untuk memastikan suatu keputusan untuk kemudian hari. Dalam proses perencanaan fasilitas pembelajaran ini berkaitan menimpa tahap-tahap yang bisa dicoba pada saat akan melaksanakan perencanaan pengadaan fasilitas. Perihal tersebut berhubungan
dengan perencanaan pengadaan peralatan
pembelajaran yang disusun oleh lembaga pendidikan dengan melakukan analisis sebelumnya (Sulistyorini, 2009).
2. Pengadaan fasilitas pembelajaran
Pengadaan fasilitas pembelajaran ialah sesuatu upaya yang dicoba dalam melengkapi keperluan buat kelancaran proses pembelajaran di lembaga pendidikan dengan pedoman yang terdapat sebelumnya. Berikut langkah yang bisa dicoba buat pengadaan fasilitas di lembaga pendidikan :
a. Bantuan dropping dari pemerintah. Bantuan tersebut diperoleh dari pemerintah ditunjukan untuk sekolah. Bersifat terbatas, tidak banyak, dan sekolah tetap harus mencari sumber dari yang lainnya.
b. Menggunakan uang sekolah untuk membeli fasilitas yang diperlukan.
c. Menyusun proposal bantuan atau mengadakan sumbangan dana yang diajukan kepada wali murid untuk pengadaan fasilitas.
d. Menyewa kebutuhan sarana dan prasarana. e. Melakukan kegiatan barter antara barang yang
terpakai dengan barang yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan (Hartati Sukirman, 2000). Pengadaan fasilitas pembelajaran di lembaga pendidikan hendaknya direncanakan terlebih dahulu, ditetapkan sesuai kebutuhan yang terdapat di lapangan, dan semua fasilitas yang ada dapat digunakan se-efektif mungkin. Alasan lain yang juga perlu diperhatikan saat pengaadan fasilitas pembelajaran adalah menyesuaikan dengan ruang yang tersedia di lembaga tersebut.
3. Penyaluran fasilitas yang telah disepakati
Terdapat tiga tahap yang dilakukan dalam penyimpanan dan penyaluran barang perlengkapan sekolah, yaitu: (1) membuat agenda pendistribusian barang; (2) mengirim barang ke lokasi; (3) serah terima.
4. Pencatatan atau pendaftaran fasilitas pembelajaran
Sebuah kegiatan pencatatan fasilitas
pembelajaran merupakan pengertian dari
pendaftaran sarana dan prasarana. Pendaftaran atau pencatatan ini dilakukan dengan tersusun, rapih, dan terperinci dalam menyusun semua barang-barang sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ada. Pencatatan ini perlu dilakukan agar jumlah dan kriteria barang-barang dari sarana dan prasarana itu dapat dilihat dan dipantau. Kegiatan tersebut meliputi (Bafadal, I., 2004):
a. Mencatat barang-barang yang ada di sekolah ke buku khusus yang sudah disiapkan.
b. Membuat kode untuk barang-barang tersebut, lalu ditempelkan di semua barang yang menjadi inventaris sekolah.
c. Menyediakan beberapa buku sesuai fungsi nya untuk mencatat semua barang inventaris yang harus dilaporkan.
5. Efektifitas fasilitas pembelajaran
Semua barang dari fasilitas yang tersedia harus memiliki manfaat agar barang-barang tersebut berguna dan tidak menjadi sia-sia. Pemanfaatan barang tersebut dipengaruhi empat faktor yaitu:
a. Keberagaman alat
b. Ruang belajar yang banyak
c. Murid yang cukup dan tidak kekurangan d. Ruang kelas yang cukup
6. Pengawasan serta pemeliharaan fasilitas
pembelajaran di lembaga pendidikan
Pengawasan serta perawatan fasilitas ialah kegiatan yang wajib dijalankan buat melindungi atapun merawat serta menggunakan fasilitas agar tujuan proses pendidikan di lembaga dan supaya peralatan yang diperlukan dalam keadaan siap digunakan. sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Terdapat berbagai perawatan fasilitas pembelajaran di lembaga pendidikan ditinjau dari sifat ataupun waktunya:
a. Ditinjau dari sifatnya
Terdapat empat model perawatan fasilitas pembelajaran di lembaga pendidikan. Keempat model perawatan tersebut cocok untuk perawatan mesin, yaitu: 1) Perawatan peralatan yang harus selalu diperiksa. 2) Perawatan yang bersifat pencegahan. 3) Perawatan yang bersifat perbaikan secara mudah. 4) Perbaikan berat. b. Ditinjau dari waktu pemeliharaannya
Terdapat dua model perawatan fasilitas pembelajaran di lembaga pendidikan (Bafadal, I., 2004). yaitu: 1) Perawatan setiap hari, seperti membersihkan lantai, membersihkan pintu. 2) Perawatan berkala, misalnya memeriksa genting, pengapuran tembok.
Sangat diperlukan pemerhatian serta perawatan terhadap semua barang atau sarana dan prasarana pendidikan yang sudah ada di sekolah baik dilakukan secara rutin atau terjadwal. a) Perawatan rutin harian: (1) Pemeriksaan setelah penggunaan, seperti mematikan lampu di semua ruangan jika ruang sudah dipakai lagi. (2) Kotak listrik. (3) Memeriksa bola lampu. Lakukan pergantian yang baru apabila lampu lama sudah berkedip-kedip. b) Perawatan terjadwal: (1) Minimal satu bulan sekali, memeriksa meteran listrik. (2) Memeriksa jaringan listrik, apabila ada kerusakan bisa melaporkan kepada PLN terdekat.
7. Penghilangan
Penghilangan di sini dapat dilakukan apabila fasilitas yang ada sudah tidak digunakan lagi dan tidak layak untuk diperbaiki. Tetapi tentunya penghilangan ini juga harus melalui beberapa prosedur serta mematuhi peraturan yang ada. Tidak semata-mata langsung membuang dan menghilang barang tersebut tanpa alasan. Tujuan dari penghilangan tersebut adalah:
a. Agar tidak terjadinya pemborosan terhadap perawatan barang yang tidak digunakan lagi. b. Memudahkan tugas pencatatan dan pendaftaran
c. Mengurangi tumpukan barang yang tidak terpakai. d. Mengurangi beban pencatatan barang milik
Negara.
Sebelum melakukan penghapusan barang-barang dari pencatatan, perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ada, yaitu:
1) Barang tersebut merupakan barang rusak
2) Keuangan menjadi lebih boros jika ingin memperbaiki barang tersebut.
3) Biaya pemeliharaan tidak sama dengan nilai manfaat yang didapat dari barang tersebut.
4) Barang sudah ketinggalan dengan perkembangan jaman.
5) Jika disimpan terlalu lama akan memakan tempat dan membuat barang semakin mengalami kerusakan.
Simpulan
Sarana dan prasarana memang adalah kunci dalam keberlangsungan suatu kegiatan, dan tentu saja manajemen dari sarana dan prasarana tersebut juga penting diperlukan untuk mengelola itu semua. Manajemen sarana dan prasarana atau fasilitas pembelajaran PAUD memiliki banyak pemahaman, namun garis besarnya ialah sebuah kegiatan pengendalian secara terstruktur terhadap semua fasilitas yang ada di lembaga pendidikan, baik fasilitas yang ada di dalam ataupun luar ruangan.
Sebelum sarana dan prasarana memasuki proses perawatan, perlu diketahui bahwa sarana dan prasarana juga melalui beberapa proses yang tidak kalah penting, seperti proses perencanaan, pengadaan, penyaluran, pemakaian, inventarisasi, pengawasan, pemeliharaan atau perawatan, serta penghilangan. Proses-proses ini harus dilaksanakan
supaya penggunaan fasilitas-fasilitas dapat dilaksanakan secara efisien sebagaimana mestinya.
Daftar Pustaka
Ihsana, El-Khuluqo. 2015. Manajemen PAUD Pendidikan Taman
Kehidupan Anak. Jakarta: UHAMKA Press.
Hapidi, dkk. 2007. Manajemen Pendidikan TK. Jakarta: Universitas Terbuka, Cet. III.
Wiyani, Novan Ardy. 2017. Manajemen PAUD Berdaya Saing. Yogyakarta: Gava Media
Rahmah, Siti. Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Pada
RA Ashabul Kahfi Kasongan Kabupaten Katingan) Tesis.
Palangkaraya: IAIN Palangkaraya.
Terry, George R, dkk. 2008. Manajemen Administrasi dan
Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suyadi. 2011. Manajemen PAUD. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bafadal, I. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan
Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara.
Sulistyorini. 2009. Menejemen Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Ellen Tinoko Ranti. Saya lahir di Jakarta 30 Januari 1997. Aktivitas saya sehari-hari adalah mahasiswi Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan assistant
educator di TK Ceria Timoho Yogyakarta.
Sejak kecil, kedua orangtua saya sudah mulai mengenalkan saya ke dunia tari dan berbagai perlombaan. Pernah meraih Juara 2 Tari Saman Tingkat SMA se-Jakarta Selatan, Juara 3 Lomba Bela Negara Tingkat SMA di Bengkulu, Juara 3 Duta Wisata Putri Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu Tahun 2014, serta terpilih mewakili kabupaten saya menjadi 20 Besar Finalis Pemilihan Putri Pariwisata Provinsi Bengkulu 2016. Alamat asal Desa Tanjung Kemuning 3, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Email: [email protected] HP: 082243898157.