BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2. Manajemen Perusahaan Waralaba
Waralaba atau Franchising (dari bahasa perancis untuk kejujuran atau kebebasan) adalah hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Waralaba (franchise) sebenarnya merupakan suatu sistem bisnis yang telah lama dikenal di dunia, pertama kalinya diperkenalkan oleh perusahaan mesin jahit Singer di Amerika Serikat, pada tahun l851, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba di AS, kemudian, caranya ini diikuti oleh
pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca Cola. Namun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer adalah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan dealer. Di Kerajaan Inggris (UK) berkembangnya waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada dekade 60-an.
McDonald’s, salah satu pewaralaba rumah makan siap saji terbesar di dunia. Menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Di Indonesia sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi., seiring masuknya waralaba asing disektor usaha rumah makan siap saji (fast food chain restaurant) antara lain, KFC, Pioneer Take Out, Texas
Church, dan lain-lainnya. Jaringan bisnis ini berkembang sangat pesat dalam waktu yang singkat, bahkan menurut data di Deperindag RI hingga tahun l997 (sebelum terjadinya Krisis Moneter) telah terdaftar lebih dari 250 perusahaan sebagai penerima waralaba (franchisee) dari suatu waralaba asing, dan tersebar di beberapa bidang usaha, antara lain:
a. rumah makan/restoran b. jasa pemasaran
c. hotel
d. toko buku dan toko cindera mata e. minimarket
f. persewaan kendaraan
g. pusat kebugaran dan perawatan tubuh h. penata rambut, salon kecantikan, dll.
Di sisi lain, perusahaan lokal yang telah mengembangkan usahanya dengan mempergunakan format bisnis waralaba jumlahnya tidaklah sebanyak waralaba asing banyak atau hanya sekitar 10 persen dari jumlah waralaba asing yang ada di Indonesia. Perusahaan lokal tersebut antara lain; McDonald’s, Es Teller 77, CFC, ILP, LIA, Lutuye Salon, Rudy
Hadisuwarno, Indomaret dan lain-lainnya.
Menurut Campbell Black, yang dimuat dalam Black's Law Dict: “Franchise is a license from owner of a trademark or tradename permitting another to sell a product or service under the name or the mark.“
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah:
“Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.”
Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan franchisor dan franchisee.
a. Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau
perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya.
b. Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau
perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.
Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restauran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restauran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu
pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA. Waralaba dapat dibagi menjadi dua: a. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih
jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
b. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba. Biaya waralaba meliputi:
1) Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba
untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor
dan ongkos penggunaan HAKI.
2) Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan. 3. Akuntan Publik
Profesi akuntan publik di Indonesia perkembangannya mengacu pada teori dan praktek profesi akuntan publik yang ada di Amerika Serikat, karena pada saat itu profesi akuntan publik sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat di Amerika (Zamroni, 2006:15).
Dasar pemikiran yang melandasi penyusunan norma dan etika profesi akuntan adalah adanya kebutuhan profesi mengenai kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang akan diserahkan oleh profesi, terlepas dari anggota profesi yang menyerahkan jasa. Independensi merupakan faktor utama yang harus dijaga oleh seorang akuntan publik. Respon profesi akuntan terhadap tuntutan tersebut diwujudkan dalam dua keputusan penting yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada pertengahan tahun 1994, yang berisi:
a. Perubahan nama komite Norma Pemeriksaan Akuntan menjadi Dewan Standar Profesional Akuntan Publik (Dewan SPAP),
b. Perubahan nama Standar yang dihasilkan dari Norma Pemeriksaan Akuntan menjadi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)
Nama komite yang mencerminkan kesan ad hoc diubah menjadi dewan yang lebih mencerminkan sifat permanen. Perubahan dimaksudkan agar profesi akuntan publik secara berkelanjutan mampu memantau perubahan kebutuhan masyarakat pemakai jasa dan meresponnya dengan capat melalui organisasi permanen. Perubahan nama dari Norma Pemeriksaan Akuntan ke Standar Profesional Akuntan Publik dimaksudkan untuk menunjukkan peningkatan signifikan mutu jasa audit dan perluasan spektrum jasa di luar audit atas laporan keuangan historis yang dapat disediakan oleh profesi akuntan publik kepada masyarakat.
Perumusan SPAP yang dilakukan oleh Dewan SPAP merupakan adopsi dari AICPA Professional Standards as of June 1993 yang diterbitkan oleh AICPA, serta International Standards on Auditing yang dikeluarkan oleh The International Federation of Accountants (IFAC). Ada empat macam standar yang diterbitkan oleh Dewan SPAP sebagai aturan mutu pekerjaan akuntan publik, antara lain standar auditing, standar atestasi, dan standar jasa akuntansi dan review (IAI, 2004).
Penyempurnaan terhadap standar profesional akuntan publik terus berlangsung guna memenuhi kebutuhan masyarakat bisnis. Pada tahun 2001 Ikatan Akuntan Indonesia melalui Dewan Standar Profesional Akuntan Publik kembali menerbitkan SPAP per 1 Januari 2001 sebagai up dating dari SPAP per 1 Agustus 1994. Dalam SPAP per 1 Januari 2001
diatur mengenai standar auditing, standar atestasi, standar jasa akuntansi
dan review, sistem pengendalian manajemen, dan aturan etika
kompartemen akuntan publik. Standar tersebut berlaku sampai saat ini. Saat ini Departemen Keuangan Republik Indonesia (DepKeu RI) telah merumuskan Rancangan Undang-undang mengenai akuntan publik (RUU Akuntan Publik) melalui panitia antar Departemen Penyusunan RUU Akuntan Publik (AP). Pengaturan melalui RUU AP lebih untuk memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi perlindungan kepentingan masyarakat serta memberikan landasan hukum bagi profesi akuntan publik dalam melaksanakan hak dan kewajibannya. Selain itu, akuntan publik merupakan salah satu profesi kunci yang berperan dalam mendorong penerapan good corporate governance (IAI Online, 2006) 4. Independensi Akuntan Publik
a. Definisi Independensi
Tulang punggung profesi akuntan publik adalah independensi. Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi menurut kode etik akuntan tahun 1994 adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya yang bertentangan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Integritas berarti jujur dan dapat dipercaya, sedangkan obyektivitas berhubungan dengan
kemampuan akuntan publik untuk mempunyai sikap adil dalam segala hal yang berkaitan dengan tugas profesionalnya (Kell et al, 1989).
(Mulyadi, 1992) mengatakan bahwa independensi berarti bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada pihak lain. Akuntan publik yang independen adalah akuntan yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan.
(Arens Loebbeck, 1999) dalam (Supriono, 1998) memberikan pengertian mengenai independensi sebagai berikut, independensi sebagai suatu pemeriksaan yang tidak biasa dalam melakukan tes-tes pemeriksaan, penilaian hasil-hasil dan mengeluarkan laporan pemeriksaan. Menurut (Eric, 1975) dalam (Nadirsyah, 1993), independensi adalah suatu hubungan antara akuntan dan kliennya yang mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga temuan dan laporan yang diberikan auditor hanya dipengaruhi oleh bukti-bukti yang ditemukan dan dikumpulkan sesuai dengan aturan dan prinsip-prinsip profesionalnya.
Menurut (Kosasih, 1984:80) dalam (Zamroni, 2006:23), independensi harus diartikan sebagai bebas dari bujukan, pengaruh, atau pengendalian dari pihak klien. Dengan perkataan lain bila auditor mengikuti kemauan manajemen, maka opininya akan tidak mempunyai nilai. (Holmes, 1877) dalam (Supriyono, 1988:23), berpendapat bahwa
independensi harus diartikan sebagai babas dari bujukan, pengaruh, atau pengendalian dari klien yang diperiksa. Dengan kata lain, jika akuntan publik mengikuti kehendak klien maka pendapat yang dia berikan tidak mempunyai arti. Saat ini konsep independensi semakin sangat penting dan semakin diperketat. Independensi dalam tindakan dan sikap mental harus dipelihara oleh akuntan publik sepanjang masa. Akhirnya, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2001:220) melalui Standar Profesional Akuntan Publik SA Seksi 220 mendefinisikan independensi sebagai berikut:
“… Independen, artinya tidak mudah dipengaruhi,… tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun,… mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakan kepercayaan (paling tidak sebagian)
atas laporan auditor independen,…”
b. Pentingnya Independensi
Zamroni (2006), Terjadinya kasus kegagalan audit berskala besar di Amerika Serikat belakangan ini, seperti kasus Enron, telah menimbulkan kembali skeptisisme masyarakat mengenai ketidakmampuan profesi akuntansi dalam menjaga independensi. Sorotan tajam diarahkan pada prilaku auditor dalam berhadapan dengan klien yang dipresepsikan gagal menjalankan perannya sebhagai auditor independen.
Schuetze (1994) dalam Zamroni (2006), menyatakan bahwa auditor sejak dua dekade belakangan ini dipandang justru bertindak melayani atau menjadi bersikap secara advokasi bagi klien. Wilcox
(1952) dalam Zamroni (2006:20), menyatakan bahwa independensi adalah salah satu norma pemeriksaan akuntan yang penting, sebab pendapat akuntan independen diberikan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang pada dasarnya merupakan gambaran manajemen. Jika akuntan tidak independen terhadap manajemen kliennya, pendapat yang diberikan tidak mempunyai arti.
Sikap mental independen sama pentingnya dengan keahlian dalam bidang praktik akuntansi dan prosedur audit yang dimiliki oleh setiap auditor. Auditor independen dari setiap kewajiban atau independen dari pemilikan kepentingan dalam perusahaan yang diauditnya (Zamroni, 2006:21). Masyarakat menilai independensi akuntan publik biasanya tidak hanya secara perseorangan tetapi dari segi profesi akuntan publik secara keseluruhan. Jika masyarakat menilai seorang akuntan publik atau suatu kantor akuntan telah gagal mempertahankan independensinya maka, kemungkinan besar masyarakat manaruh kecurigaan terhadap independensi keseluruhan akuntan publik. Kecurigaan tersebut dapat berakibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan publik, khususnya dalam pemberian jasa pemeriksaan akuntan (Supriyono, 1988:20) dalam (Zamroni, 2006:21-22).
c. Aspek Independensi Akuntan Publik
(Boynton et. al, 2003:66) Independensi sangat penting bagi akuntan sehubungan dengan tanggung jawabnya terhadap pihak ketiga.
Independensi berarti sikap mental independen auditor dalam menjalankan tugasnya. Independensi merupakan dasar dari profesi auditing. Hal ini berarti bahwa auditor akan bersikap netral terhadap entitas dan akan bersikap obyektif. Publik dapat mempercayai fungsi audit karena auditor bersikap tidak memihak serta mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil. Meskipun entitas adalah klien bagi akuntan publik, namun akuntan publik tetap memiliki tanggung jawab yang lebih besar kepada para pengguna laporan auditor yang jelas telah diketahui. Akuntan tidak boleh memposisikan diri atau pertimbangannya di bawah kelompok apapun dan siapapun. Independensi, integritas, dan objektivitas auditor mendorong pihak ketiga untuk menggunakan laporan keuangan yang tercakup dalam laporan auditor dengan rasa yakin dan percaya sepenuhnya. Menurut (Ratna, 2006) dalam (Abdul Halim, 2001 : 21) Independensi akuntan publik mempunyai tiga aspek:
1) Independensi dalam diri akuntan yang berupa kejujuran dalam diri akuntan dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang dijumpai dalam pemeriksaannya. Aspek independensi ini disebut dengan istilah independensi dalam kenyataan atau independence in fact.
2) Independensi dipandang dari sudut pandangan pihak lain yang mengetahui informasi yang bersangkutan dengan diri akuntan. Aspek independensi ini disebut dengan istilah independen dalam penampilan atau independence in appearance
3) Independensi dipandang dari sudut keahliannya. Seseorang dapat mempertimbangkan fakta dengan baik apabila ia mempunyai keahlian mengenai pemeriksaan fakta tersebut.
d. Penggolongan Independensi Akuntan Publik
Selain dapat digolongkan ke dalam dua aspek independensi, yaitu independensi sikap mental dan independensi penampilan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, independensi akuntan publik dapat digolongkan dengan cara lain. Independensi akuntan publik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Independensi Praktisi (Practitioner Independence)
Independensi praktisi adalah independensi nyata dari praktisi secara individual di dalam melaksanakan pekerjaannya, dengan kemampuan praktisi secara individual untuk mempertahankan sikap yang wajar atau tidak memihak dalam perencanaan program, pelaksanaan pekerjaan verifikasi, dan penyusunan laporan hasil pemeriksaan.
2) Independensi Profesi (Profession Independence)
Independensi profesi adalah independensi penampilan akuntan publik sebagai suatu kelompok profesi dengan kesan masyarakat terhadap profesi akuntan publik jika istilah akuntan publik digunakan. Dalam hal ini akuntan publik tidak cukup untuk mempertahankan independensi praktisi tetapi juga harus menjaga dan mempertahankan independensi profesi.
(Abdul Khalik, Snoebali dan Wirage, 1983), (Broen, 1983), (Joyce dan Biddle, 1981), (Knechel dan Messier, 1990), (Messier dan Schelder, 1988) dalam (Zamroni, 2006), menunjukkan bahwa profesi akuntan publik sangat sensitive terhadap permasalahan independensi.
5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Independensi Penampilan Akuntan Publik
(Supriyono, 1998), melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi independensi penampilan auditor di Indonesia. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ikatan Keuangan dan Hubungan Usaha Dengan Klien
Akuntan publik dapat kehilangan independensinya apabila mereka mempunyai kepentingan keuangan dan hubungan usaha dengan klien yang diauditnya. Beberapa jenis ikatan keuangan dan hubungan usaha tersebut diantaranya selama periode perjanjian kerja atau saat menyatakan opininya, akuntan publik atau kantornya memiliki kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung yang material di dalam perusahaan yang menjadi kliennya, sebagai trustee
atau eksekutor atau administrator atas suatu atau beberapa “estate”
yang memiliki kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung, memiliki utang atau piutang pada perusahaan yang diauditnya, dan sebagainya.
Departemen Keuangan Republik Indonesia (DEPKEU RI) melalui Panitia Antar Departemen Penyusunan RUU Akuntan Publik dalam Substansi Rancangan Undang-undang Akuntan Publik mengatur masalah ikatan kepentingan keuangan dan hubungan usaha dengan klien. Pada bagian independensi, dijelaskan bahwa akuntan publik dan kantor akuntan publik tidak independen bila mempunyai kepentingan keuangan baik langsung maupun tidak langsung yang materian pada klien audit. Dinyatakan mempunyai kepentingan bila: (DEPKEU RI, 2006)
1) Akuntan publik (AP) atau kantor akuntan publik (KAP) atau Pihak Terasosiasi mempunyai saham lebih besar dari 5% atau memegang kendali pada klien.
2) Mayoritas pendapatan kantor akuntan publik (KAP) dari jasa non-audit selain jasa non-non-audit tertentu dalam satu tahun buku sebelum dimulainya pekerjaan audit berasal dari klien dan atau entitas sepengendali klien yang akan diaudit.
b. Persaingan Antar Kantor Akuntan Publik (KAP)
Tajamnya persaingan antar Kantor Akuntan Publik (KAP) kemungkinan mempunyai pengaruh besar terhadap independensi kantor akuntan publik karena tiap Kantor Akuntan Publik (KAP) merasa khawatir akan kliennya. Pada tahun 2003 dari 245 Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terdaftar resmi di pasar modal, ternyata hanya 20% atau 50% saja yang bisa memiliki klien di sana. Selebihnya
KAP-KAP ini mencari obyekan di luar pasar modal. Hal ini menggambarkan betapa ketatnya persaingan di sana. Apalagi ditambah 60% lebih pangsa pasarnya hanya dikuasai satu kantor akuntan publik (KAP) saja.
Semakin banyak anggota profesi akuntan publik mengakibatkan persaingan antara kantor akuntan yang satu dengan kantor akuntan lainnya semakin tajam. Persaingan tersebut mengakibatkan pula pergeseran-pergeseran nilai pada organisasi kantor akuntan publik, antara lain:
1) Banyaknya pendirian kantor akuntan publik (KAP) berskala kecil. 2) Munculnya penggabungan kantor akuntan public (KAP) yang satu
dengan yang lain. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing suatu kantor akuntan.
3) Timbulnya kantor akuntan publik (KAP) berskala nasional dan internasional.
4) Munculnya kantor akuntan public (KAP) nasional sebagai repesentatif kantor akuntan publik internasional.
(Zamroni, 2006:38–39), Persaingan yang tajam dapat mengakibatkan solidaritas profesional akuntan publik menjadi rendah. Untuk meningkatkan solidaritas profesi dan independensi akuntan publik, diperlukan adanya penggantian kantor akuntan public (KAP) oleh manajemen klien yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Persaingan yang tajam antar kantor akuntan publik (KAP) mungkin
hanya mempunyai pengaruh yang relatif kecil terhadap penampilan independensi akuntan publik. Hal ini disebabkan karena kantor akuntan public (KAP) dalam melaksanakan pemeriksaan menggunakan dasar prinsip akuntansi dan standar pemeriksaan akuntan yang sama. Kantor akuntan publik (KAP) besar biasanya mempunyai pengaruh yang besar dalam penyusunan prinsip akuntansi dan standar pemeriksaan tersebut.
c. Pemberian Jasa Lain Selain Jasa Audit
Jasa audit (audit services) adalah audit laporan keuangan yang meliputi upaya untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti yang mendasari laporan keuangan historis yang memuat asersi yang dibuat oleh manajemen entitas. Berdasarkan audit tersebut, auditor memberikan pernyataan pendapat positif (pasti) tentang apakah laporan tersebut menyajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan atau sebaliknya.
Selain memberikan jasa audit, aktivitas kantor akuntan publik (KAP) selain memberikan jasa audit juga memberikan jasa-jasa lain, misalnya jasa perpajakan, jasa konsultasi manajemen, serta jasa akuntansi dan pembukuan. Pemberian jasa ini memungkinkan hilangnya independensi akuntan publik karena akuntan publik akan cenderung memihak kepada kepentingan kliennya.
d. Lamanya Penugasan Audit
Menurut (Supriyono, 1988:5), lamanya penugasan audit seorang partner kantor akuntan publik (KAP) pada klien tertentu digolongkan menjadi dua. Pertama, lima tahun atau kurang; Kedua, lebih dari lima tahun. Dalam hal ini dapat dijelaskan secara rinci mengenai peraturan pembatasan penugasan kantor akuntan publik (KAP) dan AP adalah sebagai berikut:
“Kantor Akuntan Publik (KAP) hanya dapat memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien paling lama 5 (lima) tahun buku berturut-turut, sedangkan untuk Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Akuntan dapat memberikan jasa audit kembali untuk klien yang sama setelah 3 (tiga) tahun buku secara berturut-turut tidak mengaudit
klien tersebut.”
Penugasan lebih dari lima tahun dianggap dapat mempengaruhi independensi akuntan publik secara negatif karena jangka waktu tersebut dianggap terlalu lama. Karena penugasan yang telalu lama, kemungkinan dapat mendorong akuntan publik kehi;angan independensinya karena akuntan publik tersebut cepat merasa puas, kurang inovasi, dan kurang ketat di dalam melaksanakan prosedur audit. Sebaliknya, penugasan audit yang lama kemungkinan dapat pula meningkatkan independensi karena akuntan publik sudah familier,
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan efisien, dan lebih tahan terhadap tekanan klien
e. Ukuran Suatu Kantor Akuntan Publik (KAP)
AICPA menggolongkan ukuran kantor akuntan publik (KAP) menjadi dua kategori. Pertama, kantor akuntan publik (KAP) besar. Kantor akuntan publik (KAP) besar adalah kantor akuntan publik (KAP) yang telah melaksanakan audit perusahaan go-publik. Kedua, kantor akuntan publik (KAP) kecil. Kantor akuntan publik kecil (KAP) adalah kantor yang belum melaksanakan audit pada perusahaan
go-publik. Kantor akuntan publik (KAP) yang lebih besar lebih
independen dibandingkan dengan kantor akuntan publik (KAP) yang lebih kecil karena kantor akuntan publik (KAP) besar tidak begitu bergantung pada salah satu kliennya saja sehingga hilangnya satu salah satu klien tidak begitu mempengaruhi pendapatannya. Selain itu, kantor akuntan publik (KAP) besar memikul biaya overhead kantor yang relatif besar jumlahnya sehingga dia berusaha untuk mempertahankan klien sebanyak-banyaknya agar dapat menutup beban
overhead kantor akuntan publik (KAP) tersebut, keadaan ini mungkin
juga mempunyai pengaruh yang negatif terhadap independensi kantor akuntan publik (KAP) besar. Dalam hubungannya ini, (Mautz dan Sharaf dalam Supriyono, 1988:58) dalam (Zamroni, 2006:48) memberikan komentar sebagai berikut:
“Suatu kantor akuntan publik (KAP) kecil tidak memiliki sumber keuangan, fasilitas penelitian, staff untuk melaksanakan
pemeriksaan pada perusahaan raksasa … kemungkinan yang terjadi satu klien utama merupakan bagian penting praktek kantor akuntan publik (KAP) tersebut dan menyumbangkan bagian terpenting total