• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Resiko

Dalam dokumen LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Halaman 54-59)

Kredit yang Diberikan 2,327,780,125

43. Manajemen Resiko

Risk Assessment Framework menetapkan :

Manajemen risiko yang efektif merupakan landasan untuk dapat menghasilkan keuntungan secara konsisten yang berkelanjutan dan oleh karenanya merupakan peran sentral dari manajemen keuangan dan operasional Bank.

Risk Assessment Framework (RAF) yang Bank miliki, menetapkan pendekatan Bank terhadap manajemen risiko dan kerangka kontrol dimana risiko dikelola untuk memperoleh keseimbangan antara risiko dan pendapatan.

p

-Implementasi RAF menyediakan keuntungan bagi Bank antara lain :

-Penyediaan akuntabilitas dan tanggung jawab yang jelas untuk manajemen risiko

Pendekatan manajemen risiko yang terstruktur dan menyeluruh Transisi dari suatu manajemen risiko yang bersifat intuitif menjadi obyektif Memenuhi persyaratan-persyaratan Basel II

Menetapkan suatu dasar untuk kepatuhan terhadap regulasi

Prinsip-prinsip dan acuan-acuan yang digunakan dalam pengelolaan dan kontrol terhadap seluruh risiko serta untuk menginformasikan perilaku pada seluruh organisasi

Kerangka dan bahasa yang sama digunakan untuk meningkatkan kesadaran atas proses manajemen risiko

-- Antisipasi; Bank mengantisipasi potensi terjadinya risiko dimasa datang dan memastikan kesadaran terhadap seluruh risiko yang telah terindentifikasi Tanggung jawab; merupakan tanggung jawab bagi seluruh karyawan yang memastikan pengambilan risiko dilakukan secara disiplin dan terfokus, terutama pada area yang menjadi wewenang karyawan, namun secara umum juga memastikan tingkat kesehatan Bank. Bank juga memiliki komitmen tanggung jawab sosial kepada nasabah dan pemegang saham dalam mengambil risiko untuk menghasilkan suatu keuntungan

Akuntabilitas; risiko diambil hanya dalam batas kewenangan yang telah ditetapkan dan dengan infrastruktur dan sumber daya yang memadai. Menetapkan suatu dasar untuk kepatuhan terhadap regulasi

Memfasilitasi tata kelola yang kokoh dengan menyediakan kejelasan terhadap tanggung jawab dan akuntabilitas Meningkatkan proses manajemen risiko yang ada untuk menciptakan fokus dan disiplin

Keseimbangan antara risiko dan pendapatan; risiko diambil sejalan dengan persyaratan-persyaratan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Isiko akan diambil untuk mendukungstrategi namun masih memenuhi risk appetite. Bank menghindari pengambilan risiko yang dapat menyebabkan kemungkinan kesulitan keuangan yang material terhadap Bank maupun para nasabah

-p g p p j y g p y g

Keuntungan kompetitif; Bank mencari keuntungan kompetitif melalui pengendalian risiko yang efektif dan efisien.

Manajemen risiko merupakan serangkaian aktifitas dimana melalui aktifitas tersebut. Bank mengelola dan mengoptimalkan keseimbangan antara profit risiko dan pendapatan Bank. Hal tersebut merupakan aktifitas Bank secara keseluruhan. Pendekatan manajemen risiko Bank dapat digolongkan ke dalam 6 (enam) proses manajemen risiko yang saling terkait :

Perencanaan: menetapkan risk appetite sesuai dengan sasaran strategis

Penginformasian: mengidentifikasi, mengukur dan memonitor seluruh risiko yang material

Pengendalian: menetapkan parameter untuk menjaga kesesuaian profil risiko bank tetap berada dalam risk appetite Inisiasi: menata dan membukukan transaksi

P ti l i b k t i ik d d t t k l h h il t b ik d

-Pengoptimalan: menyeimbangkan antara risiko dan pendapatan untuk memperoleh hasil terbaik: dan

Pengkomunikasian: memperngaruhi, menterjemahkan, dan mendemontrasikan kepatuhan terhadap persyaratanpersyaratan pihak eksternal yang berkaitan dengan manajemen risiko

Bank secara terus-menerus RAF dalam upaya mencapai manajemen risiko yang baik dan kerjasama yang erat antara fungsi manajemen risiko dan bisnis.

Penanggung jawab utama dalam mengelola risiko secara efektif adalah Direksi dan Dewan Komisaris. Bertindak sesuai dengan kewenangan yang didelegasikan oleh Dewan Komisaris, Komite Pemantau Risiko melakukan kajian terhadap area risiko tertentu dan melakukan pengawasan terhadap aktivitas Komite Manajemen Risiko dan Komite Aset dan Kewajiban ("ALCO").

Anggota ALCO terdiri dari direksi dan pemimpin divisi.

Direksi menetapkan Direktur dan Pejabat Senior sebagai anggota komite Manajemen Risiko. Ketua dari komite Manajemen Risiko adalah Direktur Utama.

ALCO, dengan wewenang yang diberikan oleh direksi bertanggung jawab untuk memelihara rasio modal dengan pengelolaan neraca termasuk didalamnya pengelolaan likuiditas Bank.

Divisi Manajemen Risiko melakukan beberapa aktivitas utama : 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Memberikan informasi dan menguji strategi bisnis melakukan diskusi dan berbagai proses untuk mendorong kualitas, optimalisasi dan transparansi dalam kaitannya dengan pengambilan risiko

Memberi saran atas kerangka manajemen risiko, struktur produk dan transaksi dan dalam menilai serta mengukur risiko Memfasilitasi dan mengelola proses risiko yang bertujuan untuk memastikan efisiensi, efektivitas dan praktek operasional, dan

Mengkomunikasikan dengan pihak yang berkepentingan untuk menunjukkan kepatuhan terhadap persyaratan dalam kaitan dengan manajemen Secara independen mengendalikan proses manajemen risiko yang bertujuan untuk memastikan adanya disiplin dan konsistensi dalam standar risiko, kebijakan dan risk appetite

Mengkaji dan bilamana diperlukan menguji strategi bisnis, melakukan diskusi dengan unit bisnis/fungsional mengenai proses, kualitas aset dan transparansi dalam pengambilan keputusan

Risiko Hukum

g g y g g j y g j

risiko

Stress testing dan skenario analisis digunakan untuk menilai kemampuan keuangan dan manajemen bank untuk terus beroperasi secara efektif pada kondisi perdagangan ekstrem yang mungkin terjadi. Kondisi tersebut dapat timbul dari faktor ekonomi, hukum, politik, lingkungan dan sosial.

Risiko Hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis legal, atau adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung aktivitas atau produk Bank, atau kelemahan pengikatan seperti tidak dipenuhinya syarat-syarat sahnya kontrak dan atau pengikatan agunan yang tidak sempurna Bank selalu memastikan bahwa semua kegiatan dan hubungan antara Bank dengan pihak ketiga selalu

Risiko Strategis

pengikatan agunan yang tidak sempurna. Bank selalu memastikan bahwa semua kegiatan dan hubungan antara Bank dengan pihak ketiga selalu didasarkan pada peraturan dan kondisi yang mampu melindungi kepentingan bank dari segi hukum.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi risiko hukum: karakter nasabah yang negatif, kurangnya pemahaman atas produk yang dijual kepada nasabah, dokumen legal yang lemah, konflik dengan nasabah atau pihak lain yang tidak diselesaikan dengan baik, dan keluhan nasabah yang tidak diselesaikan dengan memuaskan.

Risiko strategis adalah risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank dan pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal. Berikut adalah faktor yang mempengaruhi risiko strategis bank: visi Bank,

Risiko Reputasi

rencana strategis, perubahan kepemilikan, dan peluncuran produk baru.

Pelaksanaan strategi, visi, misi Bank yang tidak tepat serta pengambilan keputusan bisnis yang tidak sejalan dengan perubahan eksternal dapat mempengaruhi kelangsungan bisnis Bank.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut diatas, maka Bank telah membentuk, merumuskan, menyusun dan memantau pelaksanaan strategi termasuk

corporate plan dan business plan . Bank selalu berupaya melakukan monitoring terhadap Key Performance Indicator (KPI) Bisnis dan Unit Support lainnya agar dapat tercapai target business plan .

Risiko reputasi antara lain dapat timbul dari pemberitaan negatif yang menyangkut operasional Bank atau persepsi negatif tentang Bank Faktor faktor

Risiko Kepatuhan

salah satu upaya yang dilakukan bank untuk meningkatkan pengelolaan risiko reputasi adalah dengan mengoptimalisasikan fungsi Unit Pengaduan Nasabah. Unit ini berfungsi untuk menerima dan menyelesaikan keluhan nasabah Bank terkait dengan produk dan layanan Bank. selain itu salah satu kegiatan yang telah dilakukan adalah dengan meningkatkan standar layanan nasabah dengan melakukan pelatihan service excellence .

Dalam rangka meningkatkan pengelolaan terhadap risiko kepatuhan, bank senantiasa memperkuat struktur organisasi dan jajaran Sumber Daya Manusia (SDM) melakukan penyempurnaan terhadap peraturan dan ketentuan-ketentuan yang ada seperti:

Risiko reputasi antara lain dapat timbul dari pemberitaan negatif yang menyangkut operasional Bank, atau persepsi negatif tentang Bank. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko reputasi antara lain: citra(image ), share price , dan konflik internal.

-Risiko Kredit

(SDM), melakukan penyempurnaan terhadap peraturan dan ketentuan ketentuan yang ada, seperti:

Risiko kredit terkait dengan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aktiva Produktif, pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), dan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).

Risiko Dasar terkait dengan Posisi Devisa Netto (PDN)

Risiko Strategis, terkait dengan Ketentuan pada Rencana Kerja Anggaran Tahunan Bank Kesawan. Risiko lainnya yang terkait dengan ketentuan eksternal dan internal.

Pengelolaan risiko kredit adalah memastikan bahwa kredit diberikan berdasarkan prinsip-prinsip pemberian kredit yang sehat. Risiko Kredit merupakan risiko yang timbul akibat kegagalan debitur dalam memenuhi kewajibannya kepada Bank.

Tingkat eksposur maksimum risiko kredit Bank pada 30 September 2011 adalah moderat dengan kecenderungan stabil. Hal ini disebabkan permasalahan-permasalahan kredit telah banyak yang diselesaikan, agunan yang diambil alih yang membebani Bank sudah diselesaikan dengan baik, adanya monitoring yang ketat dan bersifat harian pada seluruh kredit yang mengarah pada persoalan tunggakan pokok dan bunga baik yang diatas 30 (tiga puluh) hari maupun yang dibawah 30 (tiga puluh) hari yang merupakan wujud implementasi ketentuan kebijakan kredit No. 007/SE-Kredit/V/2006 perihal petunjuk pelaksanaan penanganan kredit bermasalah, penyisihan kerugian, penyaluran kredit kendaraan bermotor telah didukung oleh business officer dan sistem yang memadai.

Giro pada Bank Indonesia 244,101,910

Giro pada Bank Lain 37,144,422

Penempatan pada Bank Lain dan

Bank Indonesia 859,385,827

Efek-efek

Tersedia untuk Dijual 1,008,149

Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 216,308,004

Kredit yang Diberikan 1 824 758 707

Eksposur Maksimum

Kredit yang Diberikan 1,824,758,707

Pendapatan yang Masih Harus Diterima 13,656,044

3,196,363,064

Seperti yang telah dijelaskan diatas, pada tanggal 30 September 2011, 57.09% dari jumlah eksposur maksimum berasal dari kredit yang diberikan. Tabel diatas menggambarkan eksposur maksimum atas risiko kredit bagi Bank pada tanggal 30 September 2011, tanpa memperhitungkan agunan atau pendukung kredit lainnya. Untuk aset, eksposur diatas ditentukan berdasarkan nilai tercatat bruto seperti yang diungkapkan pada laporan keuangan.

-Manajemen yakin akan kemampuan Bank untuk mengendalikan dan memelihara eksposur risiko kredit yang berasal dari kredit yang diberikan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

Bank telah memiliki pedoman tertulis mengenai kebijakan dan proses kredit yang mencakup seluruh aspek pemberian kredit yang dilakukan. Setiap pemberian kredit harus senantiasa mengacu pada kebijakan tersebut.

Seluruh kredit diberikan dengan agunan kecuali untuk jenis kredit tertentu seperti personal loan dan fasilitas antar bank.

Pada tanggal 30 September 2011, 98,74% dari portfolio kredit yang diberikan dikategorikan sebagai tidak mengalami penurunan nilai.

Untuk mengantisipasi adanya risiko kredit yang melekat pada kegiatan usaha debitur sehingga diperlukan opini tentang kualitas kredit suatu calon maupun debitur lama, maka diimplementasikan peraturan dan kebijakan kredit No: 701-2.30 perihal Credit Risk Rating yang didalam ketentuannya mengatur mengenai minimum requirement yang diperlukan yang mencakup aspek pemilik manajemen industri usaha kinerja keuangan dokumentasi

-mengatur mengenai minimum requirement yang diperlukan yang mencakup aspek pemilik, manajemen, industri, usaha, kinerja keuangan, dokumentasi dan administrasi jaminan.

Beberapa prinsip utama dalam manajemen Risiko Kredit yang telah dilakukan bank sampai 30 September 2011 antara lain: Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab atas efektivitas penerapan manajemen risiko kredit

Melakukan pemberdayaan unit-unit kerja independen untuk melakukan pengendalian intern atas unit kerja yang berhubungan dengan proses pemberian kredit

Pendelegasian wewenang dan limit untuk memutus kredit kepada komite kredit kantor pusat

Melakukan perbaikan kualitas aktiva produktif, penyebaran risiko portfolio kredit (memastikan portfolio kredit terdiversifikasi disektor-sektor industri maupun segmen pasar)

Melakukan penyelesaian Agunan yang Diambil Alih AYDA)

-- Melakukan identifikasi risiko yang terdapat pada produk dan aktivitas baru

-Pengendalian Batas Risiko dan Kebijakan Mitigasi

Melakukan daily monitoring terhadap tunggakan kredit, baik diatas 30 hari maupun dibawah 30 hari untuk mengantisipasi kredit bermasalah, memonitor dan memberikan early warning potensi kerugian yang disebabkan pergeseran kolektibilitas kredit

Penerapan scoring system

Batas pemberian kredit ditelaah mengikuti perubahan pada kondisi pasar dan ekonomi, dan penelaahan kredit secara periodik, serta penilaian atas kemungkinan wanprestasi.

Bank menerapkan kebijakan untuk memitigasi risiko kredit antara lain dengan meminta agunan sebagai jaminan pelunasan kredit jika jaminan berupa Melakukan penyelesaian Agunan yang Diambil Alih AYDA)

- Kas

- Tanah dan/atau bangunan

- Mesin

- Kendaraan bermotor

- Piutang dagang

- Barang dagangan (persediaan)

Bank menerapkan kebijakan untuk memitigasi risiko kredit, antara lain dengan meminta agunan sebagai jaminan pelunasan kredit jika jaminan berupa sumber pembayaran utama debitur, berdasarkan arus kas tidak terpenuhi. Jenis agunan yang dapat diterima dalam rangka memitigasi risiko kredit antara lain:

Risiko Likuiditas

Pengelolaan likuiditas dan asset-liability meliputi pemeliharaan likuiditas pada tingkat yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo disetiap saat, serta pengelolaan risiko tingkat suku bunga dan risiko nilai tukar valuta asing, yang timbul dari setiap transaksi yang tercantum pada neraca maupun rekening administratif.

Ketidaksesuaian antara jangka waktu penghimpunan dana dari pihak ketiga yang pada umumnya lebih pendek dari jangka waktu penyaluran kredit yang diberikan, akan menyebabkan masalah likuiditas yang mempengaruhi kemampuan Bank dalam memenuhi kewajibannya kepada para nasabah. hal ini dapat mempengaruhi kelangsungan usaha Bank.

Pengelolaan likuiditas Bank ditekankan pada penyesuaian arus dana masuk dan keluar. Kesenjangan arus dana diantisipasi melalui pemeliharaan alat likuid tingkat pertama yang memadai sejalan dengan perkiraan arus kas serta struktur kewajiban yang ada. pemeliharaan alat likuid tingkat pertama terdiri dari pemeliharaan cadangan wajib (reserve requirement ) yang ditetapkan Bank Indonesia pada tingkat optimal serta pemeliharaan surat-surat berharga berjangka pendek yang sangat likuid seperti Sertifikat bank Indonesia (SBI). Bank juga memelihara cadangan alat likuid tingkat kedua yang terdiri dari penempatan dana jangka pendek di bank lain serta surat-surat berharga berjangka panjang yang likuid seperti obligasi pemerintah, obligasi bank dan obligasi swasta non bank yang memiliki peringkat baik. Pengelolaan likuiditas juga dilakukan melalui pengelolaan struktur sumber dana dengan menerapkan batasan-batasan konsentrasi deposan dan berusaha mengurangi ketergantungannya pada dana mahal seperti deposito dan menggantinya dengan sumber dana murah seperti giro dan tabungan. selain itu bank senantiasa memelihara kemampuan melakukan akses ke pasar uang, dengan selalu memelihara

hubungan dengan bank-bank koresponden. Bank secara berkala meninjau seluruh keadaan diatas sekaligus mengambil tindakan guna menganekaragamkan cara pendanaan.

30 Sept 2011

Jumlah s/d 1 Bulan 1 s/d 3 Bulan 3 s/d 6 Bulan 6 s/d 12 Bulan > 12 Bulan

Kas 36,511,774 36,511,774 - - - -Giro pada Bank Indonesia 244,101,910 244,101,910 - - - -Giro pada Bank Lain 37,141,085 37,141,085 - - - -Penempatan pada BI

Berikut adalah tabel analisa likuiditas (sisa jangka waktu jatuh tempo) dari aset dan kewajiban Bank pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010

p p

dan Bank Lain 793,354,890 169,185,399 223,841,768 337,120,913 63,206,810 -Efek-efek 587,714,585 161,271,650 266,116,481 29,902,012 14,000,000 116,424,442 Kredit yang Diberikan 1,824,758,707 40,713,683 191,927,155 134,346,266 437,690,653 1,020,080,951 Jumlah 3,523,582,952 688,925,502 681,885,404 501,369,191 514,897,463 1,136,505,392

Kewajiban Segera 6,049,711 6,049,711 - - - -Simpanan Nasabah 1,658,079,031 1,285,374,776 295,978,930 69,060,849 7,664,475

Simpanan dari Bank Lain 20,872,734 20,872,734 - - - -Jumlah 1,685,001,476, , , 1,312,297,222, , , 295,978,930, , 69,060,849, , 7,664,475, ,

-Aset (Kewajiban) - Bersih 1,838,581,475 (623,371,721) 385,906,473 432,308,342 507,232,989 1,136,505,392

31 Des 2010

Jumlah s/d 1 Bulan 1 s/d 3 Bulan 3 s/d 6 Bulan 6 s/d 12 Bulan > 12 Bulan

Kas 37,124,193 37,124,193 - - - -Giro pada Bank Indonesia 165,866,772 165,866,772 - - -

-Gi d B k L i 176 212 672 176 212 672

Giro pada Bank Lain 176,212,672 176,212,672 - - - -Penempatan pada BI

dan Bank Lain 206,526,186 206,526,186 - - - -Efek-efek 181,037,216 - 5,000,000 29,312,992 - 146,724,224 Kredit yang Diberikan 1,699,757,415 313,812,086 109,114,873 193,455,885 386,677,816 696,696,754 Jumlah 2,466,524,455 899,541,910 114,114,873 222,768,877 386,677,816 843,420,978

Kewajiban Segera 3,690,997 3,690,997 - - - -Simpanan Nasabah 2,372,317,779 2,114,026,053 232,961,591 11,010,376 11,005,393 3,314,366

Simpanan dari Bank Lain 11 749 358 11 749 358 - - -

-Simpanan dari Bank Lain 11,749,358 11,749,358 - - - -Jumlah 2,387,758,133 2,129,466,407 232,961,591 11,010,376 11,005,393 3,314,366

Aset (Kewajiban) - Bersih 78,766,321 (1,229,924,498) (118,846,718) 211,758,501 375,672,424 840,106,612

Jatuh tempo untuk perhitungan maturity gap adalah sisa waktu hingga jatuh tempo kontrak sejak tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010

Analisa likuiditas/maturity gap adalah untuk mengukur beda kumulatif antara aset produktif (earning assets ) dengan kewajiban berbunga (interest

bearing liabilities) dan dampaknya terhadap likuiditas Bank serta exposure terhadap perubahan tingkat bunga dan nilai tukar.

Sampai dengan 30 September 2011 bank telah menyediakan alat likuid yang cukup untuk mengantisipasi kewajiban jangka pendek, net cash flow dapat diukur dengan baik, cukup baik, dan cukup mudah untuk memperoleh akses sumber dana pasar uang.

Dalam menghadapi kemungkinan adanya ketidakseimbangan aset dan kewajiban, manajemen Bank, melalui mekanisme rapat Asset Liability Committee a. b. c. d. e. f. g. Risiko Pasar

(ALCO) Bulanan, selalu melakukan review beberapa hal yang sifatnya sangat strategis, antara lain : Pengelolaan pendanaan (funding) yang memiliki jatuh tempo tidak seimbang

Ketepatan pengelolaan aset dan kewajiban yang memiliki sensitivitas terhadap perubahan suku bunga

Analisis dana pihak ketiga yang menggambarkan trend berbagai produk dana pihak ketiga yang berada pada wilayah diseluruh Indonesia Penempatan dana pada portfolio surat berharga

Laporan perkembangan kredit yang ada dan yang baru Strategi penetapan harga sesuai dengan kondisi pasar saat ini Perbandingan target dengan realisasi Dan Pihak Ketiga

Risiko Pasar

Risiko pasar merupakan risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari portfolio yang dimiliki oleh Bank yang dapat merugikan Bank (Adverse movement )

Risiko tingkat bunga atau sensitivitas timbul apabila jatuh tempo aset produktif berbeda secara signifikan dengan jatuh tempo kewajiban berbunga. Pada dasarnya akun giro, tabungan dan deposito tidak begitu sensitif terhadap perubahan tingkat bunga.

Risiko tingkat bunga adalah risiko kemungkinan turunnya pendapatan bunga bersih dan nilai pasar portofolio aset akibat perubahan tingkat bunga dipasar uang. Oleh karena aset dan pasiva seperti giro pada bank lain, investasi dalam bentuk efek-efek, pinjaman, giro, tabungan, deposito dan sertifikat deposito, pinjaman yang diterima dan kewajiban-kewajiban pasar uang lainnya memiliki berbagai tingkat bunga dan jangka waktu, perubahan-perubahan pada tingkat bunga dapat mengakibatkan kenaikan atau penurunan pendapatan bunga bersih.

Dengan adanya penurunan suku bunga Bank Indonesia yang berdampak pada penurunan suku bunga dipasar, ini menunjukkan bahwa bank-bank yang akan bertahan adalah bank yang efisien dan inovatif serta mampu mengembangkan teknologi perbankan yang berbasis pada jaringan, pelayanan dan produk.

ALCO Bank beranggotakan Direksi dan beberapa anggota manajemen senior bertanggungjawab dalam menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan risiko tingkat suku bunga di banking book , serta mengawasi penerapan dan pelaksanaannya. Tujuan utama ALCO adalah mengoptimalkan hasil usaha Bank dengan tetap memperhatikan batasan-batasan risiko yang telah ditetapkan.

Risiko mata uang asing timbul dari adanya posisi neraca dan komitmen dan kontinjensi (off balance sheet ) baik di sisi aset maupun kewajiban.

Perhitungan PDN adalah sebagai berikut :

Bank Indonesia menetapkan rasio PDN adalah setinggi-tingginya 20% dari modal, bagi bank yang telah memenuhi kriteria untuk wajib memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum dengan risiko pasar.

Bank diwajibkan untuk memenuhi persyaratan Rasio Posisi Devisa Neto (PDN) yang ditetapkan Bank Indonesia.

Posisi mata uang asing Bank dapat dikelompokkan dalam dua aktivitas, yaitu trading book, yang dilakukan dalam rangka perolehan keuntungan transaksi mata uang asing, dan banking book yang dilakukan dalam rangka mengendalikan PDN Bank secara keseluruhan.

30 Sept 2011

Mata Uang Posisi Devisa Neto Nilai Absolut

Neraca dan Rekening Administratif

Dolar Amerika Serikat 316,173,557 306,996,092 9,177,465 9,177,465 Euro 9,375,407 9,566,334 (190,927) 190,927 Yen Jepang 164,218 937 163,281 163,281 Dolar Hongkong 218,206 1,693 216,513 216,513

Aset Pada Neraca dan Rekening Administratif Kewajiban Pada Neraca dan Rekening administratif Poundsterling 929,516 855,909 73,607 73,607 Dolar Australia 4,458,070 4,422,137 35,933 35,933 SGD Singapore 85,410,353 85,332,447 77,906 77,906 Jumlah 416,729,327 407,175,549 9,553,778 9,935,633 Neraca

Dolar Amerika Serikat 262,471,228 305,993,680 (43,522,452) 43,522,452 Euro 9,375,407 4,210,781 5,164,626 5,164,626 Yen Jepang 164,218 937 163,281 163,281 Dolar Hongkong 218,206 1,693 216,513 216,513 Poundsterling 929,516 855,909 73,607 73,607 Dolar Australia 4,115,418 4,422,137 (306,719) 306,719 SGD Singapore 84,747,877 85,332,447 (584,570) 584,570 Jumlah 362,021,869 400,817,584 (38,795,715) 50,031,768 Jumlah Modal 894,966,842 Rasio PDN (Keseluruhan) 1.11% Rasio PDN (Neraca) 5.59%

31 Des 2010

Mata Uang Posisi Devisa Neto Nilai Absolut

Neraca dan Rekening Administratif

Dolar Amerika Serikat 554,394,481 555,544,254 (1,149,773) 1,149,773 Euro 9,495,710 10,041,985 (546,274) 546,274 Yen Jepang 173,536 66,450 107,086 107,086

Dolar Hongkong 223 405 - 223 405 223 405

Aset Pada Neraca dan Rekening Administratif Kewajiban Pada Neraca dan Rekening administratif Dolar Hongkong 223,405 223,405 223,405 Dolar Australia 2,535,523 2,276,741 258,782 258,782 Dolar Singapore 38,552,219 38,475,396 76,823 76,823 Jumlah 605,374,875 606,404,826 (1,029,951) 2,362,143 Neraca

Dolar Amerika Serikat 485,963,756 475,355,254 (10,608,502) 10,608,502 Euro 9,495,710 10,041,985 (546,274) 546,274 Yen Jepang 173,536 66,450 107,086 107,086 Dolar Hongkong 223,405 - 223,405 223,405 Poundsterling - - - -Dolar Australia 2,535,523 2,276,741 258,782 258,782 Dolar Singapore 38,552,219 38,475,396 76,823 76,823 Jumlah 536,944,150 526,215,826 (10,488,681) 11,820,873 Jumlah Modal 169,493,131 Rasio PDN (Keseluruhan) 1.39% Rasio PDN (Neraca) 6.97% Risiko Operasional

Risiko Operasional adalah risiko kerugian langsung ataupun tidak langsung yang terjadi karena tidak memadainya atau karena adanya kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya masalah eksternal yang dapat mempengaruhi operasional Bank.

Kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengelolaan risiko operasional senantiasa dibuat, dikaji ulang dan disempurnakan untuk memastikan kecukupan ,mekanisme kontrol pada semua kebijakan dan prosedur. Bank secara aktif melakukan sosialisasi untuk membangun risk awareness dan meningkatkan kualitas kontrol dalam rangka mitigasi risiko operasional.

Dalam dokumen LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Halaman 54-59)

Dokumen terkait