• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

PT BANK KESAWAN Tbk

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN

30 SEPTEMBER 2011 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31

DESEMBER 2010 (DIAUDIT)

SERTA UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG

BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2011 DAN 2010 (TIDAK

DIAUDIT)

(2)

ASET Catatan September Desember

2011 2010

Rp Rp

Kas 2.b, 2.c, 2.h, 4 36,511,774 37,124,193

Giro pada Bank Indonesia 2.b, 2.c, 2.i, 5 244,101,910 165,866,772 Giro pada Bank Lain

(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai masing-masing sebesar Rp 3,337 per

September 2011 dan Desember 2010) 2.b, 2.c, 2.i, 6 37,141,085 176,209,335 2.b, 2.c, 2.j, 7 859,385,827 206,526,186 Asset Keuangan Untuk Diperdagangkan 2.c, 2.k, 8 4,301,172 25,467,800 Efek-efek untuk Investasi

(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai masing-masing sebesar Rp 305,094 per

September 2011 dan Desember 2010) 2.c, 2.k, 8 217,011,059 155,264,322 2.c, 2l, 9 366,097,260 42,943,931 Kredit yang Diberikan

(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai masing-masing sebesar Rp 18,135,586 dan Rp 17,450,816 per September 2011 dan

Desember 2010) 2.c, 2m, 10

Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa 2.ad, 40 70,940,898 125,281,312

Pihak Ketiga 1,735,682,223 1,557,025,287

Properti dan Peralatan

(Setelah dikurangi akumulasi penyusutan masing-masing sebesar Rp 48,554,501 dan Rp 44,254,614

per September 2011 dan Desember 2010) 2.n, 2.o, 11 24,336,488 34,961,598 Aset Tidak Berwujud

(Setelah dikurangi akumulasi amortisasi masing-masing sebesar Rp 6,930,775 dan Rp 657,074 per

September 2011 dan Desember 2010) 2.r, 12 1,286,181 881,961 Agunan yang Diambil Alih

(Setelah dikurangi penyisihan kerugian sebesar Rp

10,857,157 per Desember 2010) 2p, 13 - 18,558,635

Aset Pajak Tangguhan 2z 4,486,236 4,486,236

14 13,656,044 15,502,108

Biaya Dibayar Dimuka 2.q, 15 20,126,269 7,880,620

Aset Lain-lain 2.q, 16 16,439,070 15,935,175

JUMLAH ASET 3,651,503,497 2,589,915,470

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain

Tagihan atas Efek yang dibeli dengan Janji Dijual Kembali

(3)

KEWAJIBAN DAN EKUITAS Catatan September Desember 2011 2010 Rp Rp Kewajiban Kewajiban Segera 2s, 17 6,049,711 3,690,997 Simpanan Nasabah 2.b, 2.t, 18

Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa 2.ad, 40 78,639,477 154,861,083

Pihak Ketiga 2,611,370,733 2,217,456,696

Simpanan dari Bank Lain 2.t, 19 20,872,734 11,749,358

Hutang Pajak 2.z, 20 4,921,483 5,038,400

2.aa, 21 4,858,423 5,048,760 Estimasi Kerugian Komitmen & Kontinjensi 2.g, 41 142,776 142,881

Kewajiban Lain-lain 22 26,871,274 13,803,855

Jumlah Kewajiban 2,753,726,612 2,411,792,028

Ekuitas

Modal Saham-Nilai nominal Rp 250 per saham Modal Dasar - 10.000.000 saham

Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh - 3.561.788 saham dan 626.523 saham

per September 2011 dan Desember 2010 1.b, 23 890,446,880 156,630,938 Agio Saham - Bersih 2.ac, 24 (19,457,745) 6,104,599

Cadangan Umum 25 2,540,382 2,176,676

Saldo Laba 24,241,257 13,211,230

Kenaikan (Penurunan) Nilai Efek-efek 6,112

-Jumlah Ekuitas 897,776,886 178,123,442

Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 3,651,503,497 2,589,915,470 Kewajiban Diestimasi atas Imbalan Kerja

(4)

Catatan September September

2011 2010

Rp Rp

Pendapatan Bunga 2.b, 2.u, 27, 40 214,845,451 168,477,699

Beban Bunga 2.b, 2.u, 28, 40 (95,356,133) (89,481,512)

Pendapatan Bunga - Bersih 119,489,318 78,996,187

Pendapatan Fee dan Komisi 2.w, 29 4,877,686 4,335,375

Beban Fee dan Komisi 36 (1,494,579) (1,293,280)

Pendapatan Fee dan Komisi - Bersih 3,383,107 3,042,095

Pendapatan Operasional Lainnya

Pendapatan Trading - Bersih 30 2,393,428 6,577,192

Pendapatan bersih dari Instrument Keuangan

yang diukur melalui Laba/(Rugi) 31 432,590 5,365

Lain-lain 32 1,273,034 1,152,426

Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya 4,099,052 7,734,983

Beban Operasional Lainnya

Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan

Nilai 2.g, 33 486,488 8,149,396

Tenaga Kerja 2.x, 34 60,660,695 39,803,416

Umum dan Administrasi 2.y, 35 49,800,610 35,874,669

Lain-lain 37 1,112,803 1,064,710

Jumlah Beban Operasional Lainnya 112,060,596 84,892,191

Laba Operasional 14,910,881 4,881,074

Pendapatan Non Operasional - Bersih 38 280,763 (477,898)

Laba Sebelum Pajak penghasilan 15,191,644 4,403,176

Beban Pajak Penghasilan

Kini 26 (3,797,911) (1,467,725)

Tangguhan -

-(3,797,911)

(1,467,725)

Laba Tahun Berjalan 11,393,733 2,935,451

Pendapatan Komprehensif Lain : Kenaikan (Penurunan) Nilai Wajar

Efek-efek yang Tersedia untuk Dijual 8,149 -Pajak Penghasilan Terkait (2,037) -Pendapatan Komprehensif Lain Tahun

Berjalan Setelah Pajak 26 6,112 -Laba Komprehensif Tahun Berjalan 11,399,845 2,935,451 Laba per Saham 2.a, 2.ab, 39 3.20 4.68

(5)

Catatan Modal Saham Agio Saham - Bersih

Cadangan

Umum Saldo Laba

Kenaikan (Penurunan) Nilai Efek-efek

Total Ekuitas

Saldo Per 1 Januari 2010 156,630,938 6,104,599 980,174 14,776,900 - 178,492,610 Penerapan Awal PSAK 55

(Revisi 2006) - - - (1,581,521) - (1,581,521) Saldo yang Disajikan Kembali 156,630,938 6,104,599 980,174 13,195,380 - 176,911,090 Penyisihan Cadangan 25 - - 1,196,502 (1,196,502) - -Laba Bersih Komprehensif 26 - - - 2,935,451 - 2,935,451

Saldo Per 30 September 2010 156,630,938 6,104,599 2,176,676 14,934,328 - 179,846,540

Saldo Per 1 Januari 2011 156,630,938 6,104,599 2,176,676 13,211,230 - 178,123,442 Penerbitan Modal Saham 733,815,943 (25,562,343) - - - 708,253,599 Penyisihan Cadangan 25 - - 363,706 (363,706) - -Laba Bersih Komprehensif 26 - - - 11,393,733 6,112 11,399,845

(6)

Catatan September

September

2011

2010*)

Rp

Rp

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Penerimaan Bunga, Provisi dan Komisi

27

214,845,451

168,477,699

Pembayaran Bunga

28

(95,356,133)

(89,481,512)

Penerimaan Provisi dan Komisi

Selain Kredit

29

3,383,107

3,042,095

Pendapatan Trading - Bersih

30

2,393,428

6,577,192

Pendapatan Operasional Lainnya

31, 32

1,992,498

679,892

Pembayaran kepada Karyawan

34

(60,660,695)

(39,803,416)

Pengeluaran Lainnya

33, 35, 37

(55,197,812)

(46,556,500)

Laba Sebelum Perubahan dalam Aset dan

dan Kewajiban Operasi

11,399,845

2,935,451

Penurunan (Kenaikan) dalam Aset Operasi

Efek Diperdagangkan dan Penempatan pada

Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya

21,166,628

5,467,800

Kredit yang Diberikan

(124,316,523)

(267,204,799)

Aset Lain-lain

7,250,934

(8,653,790)

(Penurunan) Kenaikan dalam Kewajiban Operasi

Kewajiban Segera

2,358,715

422,569

Giro

(75,368,580)

86,313,842

Tabungan

156,227,159

61,774,834

Deposito Berjangka

236,833,853

25,869,211

Kewajiban Lainnya

21,883,438

7,386,154

Arus Kas Bersih (Digunakan Untuk)

Diperoleh dari Aktivitas Operasi

257,435,468

(85,688,728)

Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Pencairan/(Penambahan) Efek-efek

(425,616,243)

(11,373,116)

Perolehan Aset Tetap

10,625,110

2,035,536

Arus Kas Bersih (Digunakan Untuk)

Diperoleh dari Aktivitas Investasi

(414,991,132)

(9,337,580)

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Penambahan Modal Disetor

719,653,444

4,403,176

Arus Kas Bersih (Digunakan Untuk)

Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan

719,653,444

4,403,176

Kenaikan (Penurunan) Bersih Kas dan Setara Kas

562,097,780

(90,623,132)

Kas dan Setara Kas Awal Tahun

615,042,816

666,099,474

(7)

Catatan September

September

2011

2010*)

Rp

Rp

Kas dan Setara Kas terdiri dari :

Kas

4

36,511,774

39,771,744

Giro Bank Indonesia

5

244,101,910

106,501,628

Giro Bank Lain

6

37,141,085

124,659,992

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank

Lain - Jangka Waktu Jatuh Tempo Kurang

dari 3 Bulan

7

859,385,827

164,542,977

Efek-efek - Jangka Waktu Jatuh Tempo

Kurang dari 3 Bulan

8

-

140,000,000

Jumlah

1,177,140,596

575,476,342

(8)

1. Umum

1.a. Pendirian Bank

PT Bank Kesawan Tbk (“Bank”) didirikan pada tanggal 1 April 1913 dengan nama N.V Chungwha Shangyeh Maatschappij

(The Chinese Trading Company Limited) berdasarkan Akta No. 53 yang dibuat di hadapan Notaris Leonard Hendrik-Willem Van

Sandick tanggal 28 April 1913 dan diumumkan dalam Extra Bijvougsel der Javasche Courant No. 78 tanggal 30 September

1913.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 191547/U.M.II tanggal 28 Oktober 1958, Bank memulai kegiatan

operasionalnya sebagai Bank Umum.

Nama Bank diubah menjadi PT Bank Kesawan berdasarkan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. 60 yang dibuat di hadapan

Notaris Ong Kiem Lian tanggal 10 Maret 1965 dan memperoleh persetujuan Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam

Surat Keputusan No. J.A.5/68/15 tanggal 3 Juli 1965 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.

95 tanggal 26 Nopember 1965, Tambahan No. 395.

Perubahan status Bank dari perseroan tertutup menjadi perseroan terbuka berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.

22 tanggal 25 Juli 2001 di hadapan Notaris Fathiah Helmi, SH, dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kehakiman

Republik Indonesia tanggal 27 Desember 2001, dengan Surat Keputusan No. C-20973.HT.01.04.TH.2001, serta diumumkan

dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 75 tanggal 17 September 2002, tambahan No. 11113.

Anggaran Dasar Bank telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta No. 21 tanggal

16 November 2010 yang dibuat di hadapan Notaris Fathiah Helmi, SH, tentang Pernyataan Keputusan Rapat Umum

Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Kesawan Tbk. Akta perubahaan tersebut telah mendapat persetujuan Menteri Hukum

dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-55264.AH.01.02 Tahun 2010 tanggal 24

Nopember 2010. Sedangkan untuk perubahan kepengurusan, terakhir pada Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang

Saham Tahunan Perseroan Terbatas PT Bank Kesawan Tbk No. 105 tanggal 24 Juni 2011 yang dibuat di hadapan Notaris

Fathiah Helmi, SH, Notaris di Jakarta.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Bank, ruang lingkup kegiatan Bank adalah menjalankan kegiatan umum perbankan.

Bank memperoleh persetujuan menjadi Pedagang Valuta Asing berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.

28/366/UD/DIR tanggal 4 Desember 1995.

Bank memperoleh persetujuan menjadi Bank Devisa berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.

28/150/KEP/DIR tanggal 22 Pebruari 1996.

Bank memperoleh persetujuan menjadi Bank Persepsi Kas Negara berdasarkan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia

No. S-452/MK.03/1996 tanggal 16 Agustus 1996.

Kantor Pusat Bank berlokasi di Jalan Hayam Wuruk No. 33, Jakarta Pusat. Bank mempunyai kantor pusat non operasional,

kantor cabang, kantor cabang pembantu dan ATM di seluruh Indonesia dengan rincian sebagai berikut:

1.b. Penawaran Umum Saham Bank

Pada tanggal 31 Oktober 2002, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)

berdasarkan Surat Keputusannya No. S-2369/PM/2002 untuk melakukan penawaran umum atas 78.800.000 lembar saham

dengan nilai nominal dan harga penawaran sebesar Rp 250 per saham. Saham Bank tersebut telah diperdagangkan di Bursa

Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 21 Nopember 2002.

 

Kantor Pusat Non Operasional

1

1

Kantor Cabang

13

12

Kantor Cabang Pembantu

24

22

ATM

25

22

(9)

Dalam penawaran umum saham ini dikeluarkan pula Waran Seri I (waran) yang diberikan secara cuma-cuma kepada

pemegang saham baru. Setiap pemegang 2 (dua) saham baru Bank memperoleh 3 (tiga) waran, sehingga jumlah waran yang

diterbitkan adalah sebanyak 118.200.000 lembar. Setiap 1 (satu) waran berhak membeli 1 (satu) saham baru Bank pada harga

pelaksanaannya. Waran yang diterbitkan mempunyai jangka waktu pelaksanaan, yaitu terhitung sejak tanggal 21 Mei 2003

sampai dengan tanggal 18 Nopember 2005. Sampai dengan jangka waktu pelaksanaan terakhir tanggal 18 Nopember 2005,

waran yang telah dilaksanakan adalah sebanyak 101.219.000 waran pada harga pelaksanaan Rp 250 atau seluruhnya sebesar

Rp 25.304.750.000.

Pada tanggal 15 Juni 2009, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua BAPEPAM berdasarkan Surat Keputusannya No.

S-5209/BL/2009 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas I (PUT I) dengan menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih

Dahulu (HMETD) sejumlah 125.304.750 saham dengan nilai nominal Rp 250 per saham yang ditawarkan dengan harga Rp

320 per saham. Saham Bank tersebut telah diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 13 Juli 2009 sampai

dengan 15 Juli 2009.

Pada tanggal 27 Desember 2010, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar

Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) berdasarkan Surat Keputusannya No. S-11585/BL/2010 untuk melakukan

Penawaran Umum Terbatas II (PUT II) atas 2.935.263.768 lembar saham dengan nilai nominal dan harga penawaran sebesar

Rp 250 per saham.

1.c. Penawaran Umum Terbatas Saham Bank

Penawaran

Umum

Terbatas

I

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Kedua pada tanggal 26 Juni 2009, sebagaimana dinyatakan dalam

akta notaris Fathiah Helmi, SH, No. 85 tanggal 26 Juni 2009, Bank mengadakan Penawaran Umum Terbatas I

(PUT I) dengan menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sejumlah 125.304.750 saham dengan nilai

nominal Rp 250 per saham yang ditawarkan dengan harga Rp 320 per saham.

Setelah PUT I, modal ditempatkan dan disetor Bank meningkat menjadi 626.523.750 lembar saham atau senilai Rp

156.630.937.500.

Penawaran

Umum

Terbatas

II

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Kedua pada tanggal 27 Desember 2010, sebagaimana dinyatakan

dalam akta notaris Fathiah Helmi, SH, No. 63 tanggal 27 Desember 2010, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas II

(PUT II) dengan menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sejumlah 2.935.263.768 saham dengan nilai

nominal Rp 250 per saham yang ditawarkan dengan harga Rp 250 per saham

Setelah PUT II, modal ditempatkan dan disetor Bank meningkat menjadi 3.561.788 lembar saham atau senilai Rp

890.446.880.

1.d. Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan

Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham pada tanggal 16 September 2011, sebagaimana

dinyatakan dalam akta notaris Fathiah Helmi, SH, No. 25 tanggal 16 September 2011, susunan Dewan Komisaris dan Direksi

Bank pada tanggal sampai dengan tanggal 30 September 2011 adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Komisaris Utama

Ali Shareef Al Emadi*

Komisaris

Andrew

McGregor

Duff

Komisaris

M.

Chidambaram*

Komisaris Independen

Muhammad Anas Malla*

Komisaris Independen

Suroto Moehadji

Komisaris Independen

Nasrul Husin

Dewan Direktur

Direktur Utama

Gatot Siswoyo

Direktur Finance

Azhar bin Abdul Wahab

Direktur Risk Manajemen

Lloyd Rolston*

Direktur Bisnis

Rusli

Direktur Kepatuhan

Yosep Solihin Yo

Direktur Operasional

Hemawati

(10)

Pengangkatan Dewan Komisaris Ali Shareef Al Emadi dan Muhammad Anas Malla serta Direksi Lloyd Rolston berlaku

efektif setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia

Dewan Komisaris

Komisaris Utama Independen

Suroto Moehadji

Komisaris Independen

Yorrys Raweyai

Komisaris Independen

Nasrul Husin

Dewan Direktur

Direktur Utama

Gatot Siswoyo

Direktur Bisnis

Rusli

Direktur Kepatuhan

Yosep Solihin Yo

Direktur Operasional

Hemawati

Jumlah gaji dan kompensasi lainnya yang telah diterima oleh dewan komisaris dan direksi adalah sebagai berikut:

Komite Audit

Ketua Nasrul

Husin

Anggota

Setiawan

Boedihardjo

Anggota

Irzal

Zaini

Komite Pemantau Risiko

Ketua Suroto

Moehadji

Anggota

Irzal

Zaini

Anggota

Ani

Hadi

Setyowati

Komite Remunerasi dan Nominasi

Anggota

Nasrul

Husin

Anggota

Trisno

Susanto

Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham pada tanggal 16 Nopember 2010, sebagaimana

dinyatakan dalam akta notaris Fathiah Helmi, SH, No. 22 tanggal 16 Nopember 2010, susunan Dewan Komisaris dan Direksi

Bank pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

Bank memiliki 626 dan 636 karyawan tetap per 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 (tidak diaudit).

1.e. Komite – Komite Bank

Sesuai PBI No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, Bank

telah membentuk beberapa Komite.

Susunan Komite Bank per 30 September 2011 adalah sebagai berikut :

 

Des 2010

Rp

Rp

Direksi

5,130,210

2,455,623

Dewan Komisaris

1,354,824

6,485,034

1,046,625

3,502,248

Sep 2011

(11)

Susunan Komite Bank per 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut :

Komite Audit

Ketua Nasrul

Husin

Anggota

Setiawan

Boedihardjo

Komite Pemantau Risiko

Ketua Suroto

Moehadji

Anggota

Irzal

Zaini

Komite Remunerasi dan Nominasi

Ketua Yorris

Raweyai

Anggota

Nasrul

Husin

Anggota

Steven

Hartanto

2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi yang Penting

2.a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan

Laporan keuangan untuk tahun yang berakhir tanggal 30 September 2011 disusun sesuai dengan prinsip dan praktik akuntansi

yang berlaku umum di Indonesia, yaitu berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) , termasuk Pedoman

Akuntansi Perbankan Indonesia (“PAPI”) 2008, peraturan serta pedoman Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No. VIII

G.7 tentang “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.

KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 termasuk Surat Edaran No. SE-02-BL/2008 tanggal 31 Januari 2008 tentang Pedoman

Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan dan sesuai dengan

praktik-praktik perbankan pedoman Akuntansi serta pelaporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip berkesinambungan (going concern) serta berdasarkan konsep biaya historis

(historical cost), kecuali untuk efek-efek tertentu yang dinyatakan sebesar nilai wajar, aset tetap tertentu yang dinilai kembali

berdasarkan Peraturan Pemerintah, dan agunan yang diambil alih yang dicatat sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi.

Laporan keuangan juga disusun berdasarkan konsep dasar akrual, kecuali untuk tagihan bunga atas aset produktif yang

digolongkan sebagai “non performing” yang dicatat pada saat kas diterima (cash basis). Kebijakan akuntansi ini telah

diterapkan secara konsisten kecuali apabila dinyatakan adanya perubahan dalam kebijakan akuntansi yang dianut.

Laporan arus kas disusun dengan menggolongkan transaksi ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Laporan

arus kas disusun menggunakan metode langsung yang dimodifikasi. Untuk penyajian laporan arus kas, kas dan setara kas

terdiri dari kas, giro pada Bank Indonesia dan giro pada bank lain dan investasi jangka pendek likuid lainnya dengan jangka

waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal perolehan yang tidak digunakan sebagai jaminan atau tidak dibatasi

penggunaannya.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan adalah mata uang Rupiah.

2.b. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Transaksi-transaksi dalam mata uang asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku

pada saat terjadinya transaksi.

Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dijabarkan

dalam mata uang Rupiah dengan mempergunakan kurs spot Reuters pada pukul 16.00 WIB.

Keuntungan atau kerugian yang timbul sebagai akibat dari penjabaran aset dan kewajiban dalam mata uang asing dicatat

sebagai laba atau rugi tahun berjalan.

(12)

Kurs spot Reuters yang berlaku pada 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

2.c. Aset dan Kewajiban Keuangan

(i) Aset

Keuangan

Bank mengklasifikasikan aset keuangannya dalam kategori (A) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui

laporan laba rugi, (B) pinjaman yang diberikan dan piutang, (C) aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo, dan (D) aset

keuangan tersedia untuk dijual. Klasifikasi ini tergantung dari tujuan perolehan aset keuangan tersebut. Manajemen

menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada saat awal pengakuannya.

(A) Aset Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi

Kategori ini terdiri dari dua sub-kategori: aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan

aset keuangan yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh Bank untuk diukur pada nilai wajar melalui

laporan laba rugi.

Aset keuangan diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan

dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat atau jika merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu

yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking)

yang terkini. Derivatif juga dikategorikan dalam kelompok diperdagangkan, kecuali derivatif yang ditetapkan dan

efektif sebagai instrumen lindung nilai. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan terdiri

dari efek-efek.

Instrumen keuangan yang dikelompokkan ke dalam kategori ini diakui pada nilai wajarnya pada saat pengakuan

awal; biaya transaksi diakui secara langsung ke dalam laporan laba rugi. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari

perubahan nilai wajar dan penjualan instrumen keuangan diakui di dalam laporan laba rugi dan dicatat

masing-masing sebagai “Keuntungan/(kerugian) dari penilaian efek yang diperdagangkan yang belum direalisasi” dan

“Keuntungan/(kerugian) dari penjualan efek. Pendapatan bunga dari instrumen keuangan

dalam kelompok diperdagangkan dicatat sebagai “Pendapatan bunga”.

Perubahan nilai wajar atas aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

diakui sebagai “Keuntungan/ (kerugian) dari penilaian efek yang diperdagangkan yang belum direalisasi”.

(B) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah

ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif, kecuali:

a) yang dimaksudkan oleh Bank untuk dijual dalam waktu dekat, yang diklasifikasikan dalam kelompok

diperdagangkan, serta yang pada saat pengakuan awal ditetapkan sebagai diukur pada nilai wajar melalui

laporan laba rugi;

b) yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual; atau

c) dalam hal Bank mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang

disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan pinjaman yang diberikan dan piutang diakui pada nilai wajarnya ditambah

biaya transaksi dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif.

 

Sep 2011

Des 2010

Rp

Rp

Euro

11,901.23

12,017.99

Dolar Amerika Serikat

8,790.00

9,010.00

Dolar Australia

8,566.30

9,169.48

Dolar Singapura

6,798.29

7,025.89

13,714.60

Dolar Hongkong

1,128.61

1,159.08

13,941.18

Yen Jepang

114.36

110.75

Poundsterling Inggris

(13)

Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau

kewajiban keuangan uang diukur pada saat pengukuran awal dikurangi pembayaran pokok pinjaman, ditambah atau

dikurangi amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai

pengakuan awal dan nilai jatuh temponya, dan dikurangi penurunan nilai.

Dalam hal terjadi penurunan nilai, kerugian penurunan nilai dilaporkan sebagai “Cadangan kerugian penurunan nilai”

sebagai komponen pengurang dari nilai tercatat dari aset keuangan dalam kelompok pinjaman yang diberikan dan

piutang, dan diakui di dalam laporan laba rugi sebagai “Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai”.

(C) Aset Keuangan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo

Investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap

atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, serta Bank mempunyai intensi positif dan kemampuan

untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo, kecuali :

a) Investasi yang pada saat pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar

melalui laporan laba rugi;

b) Investasi yang ditetapkan oleh Bank dalam kelompok tersedia untuk dijual; dan

c) Investasi yang memiliki definisi pinjaman yang diberikan dan piutang.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo diakui pada nilai wajarnya ditambah biaya

transaksi dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif.

Pendapatan bunga dari investasi dimiliki hingga jatuh tempo dicatat dalam laporan laba rugi dan diakui sebagai

“Pendapatan bunga”. Ketika penurunan nilai terjadi, kerugian penurunan nilai diakui sebagai “Cadangan Kerugian

Penurunan Nilai” sebagai komponen pengurang dari nilai tercatat investasi dan diakui di dalam laporan keuangan

sebagai “Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai”.

(D) Aset Keuangan Tersedia Untuk Dijual

Investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan untuk dimiliki

untuk periode tertentu dimana akan dijual dalam rangka pemenuhan likuiditas atau perubahan suku bunga, valuta

asing atau yang tidak diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang, investasi yang diklasifikasikan

dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo atau aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba

rugi.

Pada saat pengakuan awalnya, aset keuangan tersedia untuk dijual diakui pada nilai wajarnya ditambah biaya

transaksi dan selanjutnya diukur pada nilai wajarnya dimana keuntungan atau kerugian diakui pada laporan

perubahan ekuitas kecuali untuk kerugian penurunan nilai dan laba rugi selisih kurs, hingga aset keuangan

dihentikan pengakuannya. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual mengalami penurunan nilai, akumulasi laba atau

rugi yang sebelumnya diakui di laporan perubahan ekuitas, diakui pada laporan laba rugi. Pendapatan bunga

dihitung menggunakan metode suku bunga efektif dan keuntungan atau kerugian yang timbul akibat perubahan nilai

tukar dari aset moneter yang diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual diakui pada laporan laba rugi.

(E) Pengakuan

Bank menggunakan akuntansi tanggal penyelesaian untuk mencatat transaksi aset keuangan yang lazim (reguler).

(ii)

Kewajiban

Keuangan

Bank mengklasifikasikan kewajiban keuangan dalam kategori (A) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar

melalui laporan laba rugi dan (B) kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi. Kewajiban

keuangan dikeluarkan ketika kewajiban telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

(A) Kewajiban Keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi

Kategori ini terdiri dari dua sub-kategori: kewajiban keuangan diklasifikasikan sebagai diperdagangkan dan kewajiban

keuangan yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh Bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan

laba rugi.

Kewajiban keuangan diklasifikasikan sebagai diperdagangkan jika diperoleh terutama untuk tujuan dijual atau dibeli

kembali dalam waktu dekat atau jika merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola

bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek yang terkini. Derivatif diklasifikasikan

(14)

sebagai kewajiban diperdagangkan kecuali ditetapkan dan efektif sebagai instrumen lindung nilai.

Keuntungan dan kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kewajiban keuangan yang diklasifikasikan sebagai

diperdagangkan dicatat dalam laporan laba rugi sebagai “Keuntungan/ (kerugian) penilaian efek yang

diperdagangkan yang belum direalisasi”. Beban bunga dari kewajiban keuangan diklasifikasikan sebagai

diperdagangkan dicatat di dalam “Beban bunga”.

Jika Bank pada pengakuan awal telah menetapkan instrumen hutang tertentu sebagai nilai wajar melalui laporan

laba rugi (opsi nilai wajar), maka selanjutnya, penetapan ini tidak dapat diubah. Berdasarkan PSAK 55 (Revisi 2006),

instrumen hutang yang diklasifikasikan sebagai opsi nilai wajar, terdiri dari kontrak utama dan derivatif melekat yang

harus dipisahkan.

Perubahan nilai wajar terkait dengan kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui

laporan laba rugi diakui di dalam “Keuntungan/(kerugian) penilaian efek yang diperdagangkan yang belum

direalisasi”.

(B) Kewajiban Keuangan yang Diukur dengan Biaya Perolehan Diamortisasi

Kewajiban keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui

laporan laba rugi dikategorikan dan diukur dengan biaya perolehan diamortisasi.

Setelah pengakuan awal, Bank mengukur seluruh kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan

diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

2.d. Penentuan Nilai Wajar

Nilai wajar untuk instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan berdasarkan nilai pasar yang berlaku

pada tanggal neraca menggunakan harga yang dipublikasikan secara rutin dan berasal dari sumber yang terpercaya, seperti

quoted market price atau broker’s quoted price dari Reuters dan BI-SSSS.

Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif, jika harga kuotasi tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh

secara rutin dari bursa, pedagang efek (dealer), perantara efek (broker), kelompok industri, badan pengawas (pricing service

or regulatory agency), dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang

wajar. Jika kriteria di atas tidak terpenuhi, maka pasar aktif dinyatakan tidak tersedia. Indikasi-indikasi dari pasar tidak aktif

adalah terdapat selisih yang besar antara harga penawaran dan permintaan atau kenaikan signifikan dalam selisih harga

penawaran dan permintaan dan hanya terdapat beberapa transaksi terkini.

Nilai wajar untuk semua instrumen keuangan lainnya ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Dengan teknik ini, nilai

wajar merupakan suatu estimasi yang dihasilkan dari data yang dapat diobservasi dari instrumen keuangan yang sama,

menggunakan model-model untuk mendapatkan estimasi nilai kini dari arus kas masa depan yang diharapkan atau teknik

penilaian lainnya menggunakan input yang tersedia pada tanggal neraca.

Bank menggunakan beberapa teknik penilaian yang digunakan secara umum untuk menentukan nilai wajar dari instrumen

keuangan dengan tingkat kompleksitas yang rendah, seperti opsi nilai tukar dan swap mata uang. Input yang digunakan dalam

teknik penilaian untuk instrumen keuangan di atas adalah data pasar yang dapat diobservasi.

Untuk instrumen keuangan yang tidak mempunyai harga pasar, estimasi atas nilai wajar efek-efek ditetapkan dengan mengacu

pada nilai wajar instrumen lain yang substansinya sama atau dihitung berdasarkan arus kas yang diharapkan terhadap aset

bersih efek-efek tersebut.

Berkaitan dengan kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka nilai tercatat pada saat pengakuan awal

dapat berbeda dengan nilai yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo, jika Bank, menerima pendapatan atau mengeluarkan

biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut, memberikan kredit

dengan suku bunga di bawah suku bunga pasar, memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. Dalam

menentukan suku bunga pasar, bank menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di Bank. Pada prinsipnya suku bunga

pasar tidak dapat disamaratakan untuk seluruh jenis kredit, dimana setiap jenis kredit memiliki risk premium yang berbeda dan

target profit margin, dengan demikian Bank mengklasifikasikan jenis kredit tersebut menjadi kredit komersial (termasuk dengan

jaminan back to back deposito), kredit konsumsi dengan agunan, kredit konsumsi tanpa agunan, dan kredit karyawan. Dengan

demikian suku bunga acuan adalah biaya dana secara menyeluruh, ditambahkan dengan risk premium dan profit margin untuk

kredit sesuai dengan jenis kreditnya.

Bukti terbaik dari nilai wajar pada saat pengakuan awal adalah harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang

diserahkan atau diterima), kecuali nilai wajar dari instrumen tersebut dapat dibuktikan dengan perbandingan transaksi untuk

instrumen yang sama di pasar terkini yang dapat diobservasi (yang tanpa modifikasi atau re-packaging) atau berdasarkan

(15)

teknik penilaian dimana variabelnya termasuk hanya data dari pasar yang dapat diobservasi.

2.e. Penghentian Pengakuan

Penghentian pengakuan aset keuangan dilakukan ketika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan

tersebut berakhir, atau ketika aset keuangan tersebut telah ditransfer dan secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas

kepemilikan aset tersebut telah ditransfer (jika secara substansial seluruh risiko dan manfaat tidak ditransfer, maka Bank

melakukan evaluasi untuk memastikan keterlibatan berkelanjutan atas kendali yang masih dimiliki tidak mencegah

penghentian pengakuan).

Kewajiban keuangan dihentikan pengakuannya ketika kewajiban telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

2.f. Klasifikasi dan Reklasifikasi Aset Keuangan

Klasifikasi

Aset

Keuangan

Bank mengklasifikasikan instrumen keuangan ke dalam klasifikasi tertentu yang mencerminkan sifat dari informasi dan

mempertimbangkan karakteristik dari instrumen keuangan tersebut. Klasifikasi ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Jenis Instrumen Keuangan

Klasifikasi Standar Pengukuran Awal

Aset Keuangan

Kas

Pinjaman Diberikan dan Piutang

Giro pada Bank Lain dan Bank

Indonesia

Pinjaman Diberikan dan Piutang

Penempatan pada Bank Lain dan pada

Bank Indonesia

Pinjaman Diberikan dan Piutang

Efek-efek

Salah Satu dari

-

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi

-

Dimiliki hingga Jatuh Tempo

Efek yang Dibeli dengan Janji Dijual

Kembali

Pinjaman Diberikan dan Piutang

Kredit yang Diberikan/ Loans

Pinjaman Diberikan dan Piutang

Kewajiban Keuangan Simpanan Nasabah

Kewajiban lainnya

Simpanan dari Bank Lain

Kewajiban lainnya

Kewajiban Lain-lain

Kewajiban lainnya

Bank tidak diperkenankan untuk mereklasifikasi instrumen keuangan dari atau ke kategori instrumen keuangan yang diukur

pada nilai wajar melalui laporan laba rugi selama instrumen keuangan tersebut dimiliki.

Bank tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo, jika dalam tahun berjalan

atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya, telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo

dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan

dibandingkan dengan jumlah nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo), kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut :

a.

dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali dimana perubahan suku

bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut;

b.

terjadi setelah Bank telah memperoleh secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal

pembayaran atau Bank telah memperoleh pelunasan dipercepat; atau

c.

terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali Bank, tidak berulang, dan tidak dapat diantisipasi secara

wajar oleh Bank.

Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok dimiliki hingga jatuh tempo ke kelompok tersedia untuk dijual dicatat sebesar

nilai wajarnya. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi tetap dilaporkan dalam komponen ekuitas sampai aset

keuangan tersebut dihentikan pengakuannya, dan pada saat itu, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya

diakui dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi.

(16)

Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok tersedia untuk dijual ke kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dicatat pada nilai

tercatat. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi harus diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sampai

dengan tanggal jatuh tempo instrumen tersebut.

2.g. Penurunan Nilai dari Aset Keuangan

(i)

Aset Keuangan yang Dicatat Berdasarkan Biaya Perolehan Diamortisasi

Pada setiap tanggal neraca, Bank mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok

aset keuangan mengalami penurunan nilai. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian

penurunan nilai telah terjadi, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai

akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan), dan

peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok

aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.

Kriteria yang digunakan oleh Bank untuk menentukan bukti objektif dari penurunan nilai diantaranya adalah sebagai

berikut:

a.

kesulitan keuangan signifikan yang dialami pihak penerbit atau peminjam; atau

b.

terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; atau

c.

data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa

datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud, meskipun penurunannya belum dapat

diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut, termasuk memburuknya status

pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut, kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan

wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut; atau

d. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan.

Estimasi periode antara peristiwa kerugian dan identifikasinya ditentukan oleh manajemen untuk setiap portofolio yang

diidentifikasi.

Pertama kali Bank menentukan apakah terdapat bukti obyektif seperti tersebut di atas mengenai penurunan nilai atas aset

keuangan. Penilaian individual dilakukan atas aset keuangan yang signifikan yang mengalami penurunan nilai. Cadangan

kerugian penurunan nilai secara individual dibentuk apabila outstanding baki debet lebih besar daripada nilai likuidasi

agunan. Nilai likuidasi agunan adalah nilai pasar agunan yang telah didiskonto dengan tingkat bunga efektif kredit yang

diberikan dengan jangka waktu tertentu. Aset keuangan yang tidak signifikan namun mengalami penurunan nilai

dimasukkan dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko yang serupa dan dilakukan penilaian secara

kolektif. Untuk mempermudah penagihan kepada debitur, maka tagihan bunga untuk kredit yang telah mengalami

penurunan nilai akan tetap dicatat didalam Kewajiban Kontijensi – Bunga Dalam Penyelesaian.

Jika Bank menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara

individual, baik aset keuangan tersebut signifikan atau tidak, maka akun/rekening atas aset keuangan tersebut akan masuk

ke dalam kelompok aset keuangan yang penurunan nilainya dinilai secara kolektif. Aset keuangan yang signifikan dan telah

terdapat bukti objektif terjadi penurunan nilai, tidak dimasukkan dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jumlah kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari

estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan

tersebut. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai dan jumlah kerugian penurunan

nilai diakui pada laporan laba rugi. Jika pinjaman yang diberikan atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo memiliki suku

bunga variabel, maka tingkat diskonto yang digunakan untuk mengukur setiap kerugian penurunan nilai adalah suku bunga

efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai.

Perhitungan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan dengan menggunakan discounted cashflow

dilakukan hanya apabila arus kas masa datang atas aset keuangan tersebut memang benar-benar masih ada, dapat

dibuktikan dan dapat dijaga akurasi realisasinya, dan untuk itu harus mendapatkan persetujuan dari Manajemen.

Perhitungan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan dengan menggunakan agunan

mencerminkan arus kas yang dapat dihasilkan dari pengambilalihan agunan dikurangi biaya-biaya untuk memperoleh dan

menjual agunan, terlepas apakah pengambilalihan tersebut berpeluang terjadi atau tidak.

Beban penurunan nilai yang terkait dengan kredit yang diberikan dan efek-efek (di dalam kategori dimiliki hingga jatuh

tempo dan pinjaman yang diberikan dan piutang) diklasifikasikan di dalam beban penurunan nilai.

(17)

Jika pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan

secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui, maka kerugian penurunan nilai yang

sebelumnya diakui dapat dipulihkan, baik secara langsung, atau dengan menyesuaikan pos cadangan. Jumlah

pemulihan penurunan nilai diakui pada laporan laba rugi.

Ketika kredit yang diberikan tidak tertagih, kredit tersebut dihapus buku dengan menjurnal balik cadangan kerugian

penurunan nilai. Kredit yang diberikan tersebut dapat dihapus buku setelah semua prosedur yang diperlukan telah

dilakukan dan jumlah kerugian telah ditentukan.

(ii) Aset yang Tersedia untuk Dijual

Pada setiap tanggal neraca, Bank mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau

kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Penurunan yang signifikan atau penurunan jangka panjang atas

nilai wajar dari investasi dalam instrumen hutang di bawah biaya perolehannya merupakan bukti obyektif terjadinya

penurunan nilai dan menyebabkan pengakuan kerugian penurunan nilai. Ketika terdapat bukti tersebut di atas untuk aset

yang tersedia untuk dijual, kerugian kumulatif, yang merupakan selisih antara biaya perolehan dengan nilai wajar kini,

dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi, dikeluarkan dari

ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi.

Jika, pada periode berikutnya, nilai wajar instrumen hutang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual

meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah

pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi, maka kerugian penurunan nilai tersebut dapat dipulihkan

melalui laporan laba rugi.

(iii) Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas Aset Keuangan dan Non-keuangan Sebelum Berlaku PSAK 55 (Revisi

2006)

Sebelum 1 Januari 2010, seluruh aset produktif dan non produktif wajib dibentuk cadangan kerugian yang lebih dikenal

dengan istilah “Penyisihan Kerugian atas Aset Produktif dan Non Produktif” sebesar ketentuan minimum dari BI. Aset

produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia, efek-efek, efek yang dibeli

dengan janji dijual kembali, tagihan derivatif, kredit yang diberikan, tagihan akseptasi, penyertaan serta komitmen dan

kontinjensi yang mempunyai risiko kredit.

Komitmen dan kontinjensi dengan risiko kredit antara lain terdiri dari penerbitan jaminan, letter of credit, standby letter of

credit dan fasilitas kredit yang belum ditarik yang bersifat committed.

Penyisihan kerugian atas aset produktif ditentukan berdasarkan kriteria Bank Indonesia sesuai dengan Peraturan Bank

Indonesia (PBI) No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum” yang diubah

dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 dan PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007 serta PBI No.

11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009 yang mengklasifikasikan aset produktif menjadi lima kategori dengan minimum

persentase penyisihan kerugian sebagai berikut :

Klasifikasi

Persentase Minimum Penyisihan

Dasar Perhitungan

Lancar

1 %

Tanpa faktor pengurang

Dalam Perhatian Khusus

5 %

Setelah dikurangi nilai agunan

Kurang Lancar

15 %

Setelah dikurangi nilai agunan

Diragukan

50 %

Setelah dikurangi nilai agunan

Macet

100 %

Setelah dikurangi nilai agunan

Persentase di atas berlaku untuk aset produktif dan komitmen dan kontinjensi, dikurangi nilai agunan, kecuali untuk aset

produktif dan komitmen dan kontinjensi yang dikategorikan sebagai lancar, dimana persentasenya berlaku langsung atas

saldo aset produktif dan komitmen dan kontinjensi yang bersangkutan.

Aset produktif dengan klasifikasi lancar dan dalam perhatian khusus, sesuai dengan peraturan BI, digolongkan sebagai aset

produktif tidak bermasalah. Sedangkan untuk aset produktif dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan macet

digolongkan sebagai aset produktif bermasalah.

(18)

Klasifikasi untuk rekening antar kantor dan suspense account ditetapkan sebagai berikut:

Penyisihan khusus dibuat jika kemampuan membayar diidentifikasikan kurang baik dan, menurut pertimbangan Direksi,

estimasi kemampuan membayar peminjam berada di bawah jumlah pokok dan bunga kredit yang belum terbayar.

Penyisihan umum dimaksudkan untuk menyisihkan kerugian yang belum teridentifikasi namun diperkirakan mungkin terjadi

berdasarkan pengalaman masa lalu, dari keseluruhan portofolio kredit. Termasuk dalam penyisihan adalah penyisihan

kerugian 1% seperti yang dikehendaki oleh PBI untuk aset produktif dengan klasifikasi lancar.

Sejak 20 Januari 2006, sesuai dengan PBI No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva

Bank Umum” yang telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30

Maret 2007 dan PBI No. 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009, untuk aset produktif dengan nilai sama dengan atau diatas

Rp 5.000, agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam pembentukan penyisihan penghapusan aset

produktif adalah apabila penilaian agunan tidak melampaui jangka waktu 24 bulan dan dilakukan oleh penilai independen.

Estimasi kerugian atas komitmen dan kontinjensi disajikan sebagai kewajiban di neraca.

Estimasi kerugian atas komitmen dan kontinjensi pada transaksi rekening administratif masih dihitung dan dibentuk sesuai

dengan PBI No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tersebut.

Sejak 20 Januari 2006, sesuai dengan PBI No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva

Bank Umum” yang telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, bank-bank juga wajib melakukan

pembentukan penyisihan kerugian khusus terhadap aset non produktif seperti aset yang diambil alih, properti terbengkalai,

rekening antar kantor dan suspense account.

Dalam peraturan tersebut, klasifikasi aset yang diambil alih dan properti terbengkalai ditetapkan sebagai berikut:

Klasifikasi

Batas

Waktu

Persentase Minimum Penyisihan

Lancar

Sampai dengan 1 tahun

--

Kurang Lancar

Lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun

15 %

Diragukan

Lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun

50 %

Macet

Lebih dari 5 tahun

100 %

Klasifikasi

Batas

Waktu

Persentase Minimum Penyisihan

Lancar

Sampai dengan 180 hari

--

Macet

Lebih dari 180 hari

100 %

Kolektibilitas dan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai seluruh aset produktif dan non-produktif untuk

tahun-tahun yang berakhir tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 masih ditentukan berdasarkan PBI tersebut.

2.h. Kas

Kas meliputi kas kecil, kas besar, kas di dalam Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan bank notes.

2.i. Giro pada Bank Indonesia dan Bank Lain

Giro pada Bank Indonesia dan Bank Lain diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.

Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, giro pada Bank Indonesia dan bank lain disajikan sebesar nilai wajar ditambah

dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Sebelum 1 Januari 2010, giro pada bank lain disajikan sebesar saldo giro dikurangi penyisihan kerugian.

Pada tanggal 4 Oktober 2010, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan No. 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum

(GWM) Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan valuta asing. Peraturan ini berlaku efektif 1 Nopember 2010.

Berdasarkan peraturan tersebut, GWM dalam Rupiah terdiri dari GWM Primer, GWM Sekunder dan GWM Loan to Deposit

(19)

Ratio (LDR).

GWM Primer dalam Rupiah ditetapkan sebesar 8% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam Rupiah dan GWM Sekunder dalam

Rupiah ditetapkan sebesar 2,5% dari DPK dalam Rupiah yang mulai berlaku pada tanggal 1 Nopember 2010. GWM LDR

dalam Rupiah ditetapkan sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan

selisih antara LDR Bank dan LDR Target dengan memperhatikan selisih antara Kewajiban Penyediaan Modal Minimum

(KPMM) Bank dan KPMM Insentif yang mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 2011. Sedangkan GWM dalam mata uang asing

ditetapkan sebesar 1% dari DPK dalam mata uang asing, yang mulai berlaku pada tanggal 1 Nopember 2010.

GWM Utama adalah simpanan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada Bank

Indonesia yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK.

GWM Sekunder adalah cadangan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (“SBI”),

Surat Utang Negara (“SUN”) dan/atau Excess Reserve, yang besarnya ditetapkan Bank Indonesia sebesar persentase

tertentu.

Sebelum dan sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, giro pada Bank Indonesia disajikan sebesar saldo giro yang

ditempatkan, sedangkan giro pada bank lain dinyatakan sebesar saldo giro dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan

nilai.

2.j. Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain

Penempatan pada bank lain dan BI diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.

Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, penempatan pada bank lain dan BI disajikan sebesar nilai wajar ditambah

dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Sebelum 1 Januari 2010, penempatan pada bank lain disajikan sebesar saldo penempatan dikurangi penyisihan kerugian

dan penempatan pada BI dinyatakan sebesar saldo penempatan dikurangi pendapatan bunga yang ditangguhkan.

2.k. Efek-efek

Efek-efek yang dimiliki terdiri dari SBI, obligasi korporasi, medium term notes, obligasi BUMN, dan Obligasi Pemerintah.

Obligasi Pemerintah terdiri dari Obligasi Pemerintah dalam rangka program rekapitalisasi dan Obligasi Pemerintah yang

dibeli dari pasar.

Efek-efek diklasifikasikan sebagai aset keuangan dalam kelompok diperdagangkan dan dimiliki hingga jatuh tempo.

Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, efek-efek disajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang

dapat diatribusikan secara langsung, kecuali untuk efek-efek yang diukur melalui laporan laba rugi.

Sebelum 1 Januari 2010, efek-efek disajikan sebesar saldo dikurangi penyisihan kerugian.

2.l. Tagihan atas Efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali

Tagihan atas efek yang dibeli dengan janji dijual kembali yang dimiliki terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat

Perbendaharaan Negara (SPN).

Tagihan atas efek yang dibeli dengan janji dijual kembali diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.

Tagihan atas efek yang dibeli dengan janji dijual kembali disajikan sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu

nilai wajar tagihan atas efek yang dibeli dengan janji dijual kembali yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau

dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan

nilai jatuh temponya dan dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai.

2.m. Kredit yang Diberikan

Kredit yang diberikan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disetarakan dengan kas, berdasarkan persetujuan

atau kesepakatan pinjam meminjam dengan peminjam, mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutang berikut bunganya

setelah jangka waktu tertentu.

Kredit yang diberikan diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.

Pengukuran

Awal

Sejak 1 Januari 2010, pada saat pengukuran awal, kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah/dikurangi biaya dan

pendapatan transaksi.

(20)

Kredit sindikasi dicatat sebesar biaya yang diamortisasi sesuai dengan risiko yang ditanggung Bank.

Kredit penerusan (chanelling loan) merupakan kredit kerjasama dengan perusahaan pembiayaan. Pengakuan pendapatan dan

bebannya diakui secara akrual.

Pengukuran

Setelah

Pengakuan

Awal

Nilai wajar kredit setelah pengukuran awal dicatat sebesar biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan suku

bunga efektif.

Sebelum 1 Januari 2010, kredit yang diberikan dinyatakan sebesar saldo kredit dikurangi dengan cadangan kerugian

penurunan nilai.

Restrukturisasi kredit meliputi modifikasi persyaratan kredit, konversi kredit menjadi saham atau instrumen keuangan lainnya

dan/atau kombinasi dari keduanya.

Kredit yang direstrukturisasi disajikan sebesar nilai yang lebih rendah antara nilai tercatat kredit pada tanggal restrukturisasi

atau nilai tunai penerimaan kas masa depan setelah restrukturisasi. Kerugian akibat selisih antara nilai tercatat kredit pada

tanggal restrukturisasi dengan nilai tunai penerimaan kas masa depan setelah restrukturisasi diakui dalam laporan laba rugi.

Setelah restrukturisasi, semua penerimaan kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru dicatat sebagai

pengembalian pokok kredit yang diberikan dan penghasilan bunga sesuai dengan syarat-syarat restrukturisasi.

2.n. Aset Tetap dan Penyusutan

Aset tetap diakui sebesar harga perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan, kecuali aset tetap tertentu untuk tahun

2007 dan sebelumnya yang telah dinilai kembali, sesuai dengan ketentuan Pemerintah, untuk mencerminkan nilai wajar aset

tersebut.

Harga perolehan mencakup semua pengeluaran yang terkait secara langsung dengan perolehan aset tetap.

Dalam suatu revaluasi atau penilaian kembali, akumulasi depresiasi pada tanggal revaluasi dihilangkan dengan lawan nilai

tercatat bruto aset dan nilai bersih aset disajikan kembali sebesar nilai revaluasi aset tersebut. Selisih penilaian kembali aset

tetap dikreditkan ke akun “selisih penilaian kembali aset tetap” yang disajikan pada bagian ekuitas.

Pada tanggal 31 Oktober 2008, sesuai dengan penerapan PSAK 16 (Revisi 2007) mengenai Aset Tetap yang efektif berlaku 1

Januari 2008, Bank memilih model biaya untuk pengukuran aset tetapnya. Oleh karena itu, seluruh saldo selisih nilai revaluasi

aset tetap yang sebelumnya dicatat sebagai selisih penilaian kembali aset tetap direklasifikasikan ke saldo laba. Dampak dari

penerapan PSAK baru ini tidak material terhadap laporan keuangan periode komparatif.

Tanah

tidak

disusutkan.

Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode saldo menurun ganda (kecuali untuk bangunan dan renovasi bangunan

menggunakan metode garis lurus) dengan tarif penyusutan sebagai berikut:

Tahun

Bangunan 20

Renovasi Bangunan Milik Sendiri

5

Instalasi (Listrik, Penyejuk Udara,

Telepon,

Telex)

5

Perlengkapan dan Perabot Kantor,

Kendaraan

Bermotor

4 - 8

Anjungan Tunai Mandiri (ATM)

8

Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual, maka nilai perolehan dan akumulasi penyusutannya dihapuskan dari

laporan keuangan. Keuntungan atau kerugian yang terjadi, diakui dalam laporan laba rugi periode terjadinya.

Biaya pemeliharaan dan perbaikan dicatat sebagai beban pada saat terjadinya. Pengeluaran yang memperpanjang masa

manfaat aset dikapitalisasi dan disusutkan.

2.o. Sewa Pembiayaan

(21)

secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset kepada lessee.

Aset yang diperoleh melalui sewa pembiayaan diakui sebagai aset dalam neraca sebesar nilai wajar atau sebesar nilai kini

dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Kewajiban terkait dicatat sebagai kewajiban sewa

pembiayaan.

Pembayaran sewa minimum harus dipisahkan antara beban keuangan dan pelunasan kewajiban. Beban keuangan

dibebankan langsung ke laporan laba rugi selama masa sewa.

Penerapan PSAK 30 (Revisi 2007) dan Interpretasi PSAK (ISAK) No. 8 tahun 2008 oleh Bank tidak berdampak kepada

laporan keuangan yang sebelumnya dilaporkan.

2.p. Agunan yang Diambil Alih

Agunan yang diambil alih (AYDA) adalah aset yang diperoleh Bank, baik melalui pelelangan maupun diluar pelelangan

berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan kuasa untuk menjual diluar lelang dari pemilik

agunan dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank. AYDA merupakan jaminan kredit yang diberikan yang

telah diambil alih sebagai bagian dari penyelesaian kredit yang diberikan.

AYDA diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi (net realisable value), yaitu nilai wajar agunan setelah dikurangi

estimasi biaya pelepasan. Penilaian nilai wajar agunan AYDA dilakukan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Kelebihan

saldo kredit yang diberikan yang belum dilunasi oleh peminjam di atas nilai dari AYDA, dibebankan terhadap cadangan

kerugian penurunan nilai kredit yang diberikan.

Biaya pemeliharaan atas AYDA yang terjadi setelah pengambilalihan atau akuisisi aset dibebankan pada laporan laba rugi

pada saat terjadinya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset yang diambil alih dikreditkan atau dibebankan pada

laporan laba rugi periode berjalan.

2.q. Aset Lain-lain dan Biaya Dibayar Dimuka

Termasuk di dalam aset lain-lain antara lain adalah perbaikan sewa, beban perkara, alat tulis barang dan cetakan dan beban

ditangguhkan.

Biaya dibayar dimuka adalah beban yang telah dikeluarkan tetapi belum diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Biaya

dibayar dimuka akan digunakan untuk aktivitas Bank di masa mendatang. Biaya dibayar dimuka akan diakui sebagai beban

pada laporan laba rugi pada saat diamortisasi sesuai dengan masa manfaatnya.

2.r. Aset Tidak Berwujud

Aset tidak berwujud terdiri dari perangkat lunak dan lisensi yang diamortisasi selama 8 tahun dengan metode saldo menurun

ganda.

2.s. Kewajiban Segera

Kewajiban segera adalah kewajiban Bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai perjanjian yang

ditetapkan sebelumnya.

2.t. Simpanan Nasabah dan Simpanan dari Bank Lain

Simpanan nasabah adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat (selain bank) kepada Bank berdasarkan perjanjian

penyimpanan dana. Termasuk dalam pos ini adalah giro, tabungan, dan deposito berjangka.

Simpanan dari bank lain terdiri dari kewajiban terhadap bank lain, baik di dalam maupun luar negeri, dalam bentuk giro,

deposito berjangka dan deposito on call.

Simpanan dari nasabah dan dari bank lain diklasifikasikan sebagai kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan

diamortisasi.

Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, simpanan nasabah dan simpanan dari bank lain sajikan sebesar nilai wajar

ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Sebelum 1 Januari 2010, simpanan nasabah dan simpanan dari bank lain disajikan sebesar saldo simpanan.

2.u. Pendapatan dan Beban Bunga

Pendapatan dan beban bunga untuk semua instrumen keuangan dengan interest bearing dicatat dalam pendapatan bunga

dan beban bunga di dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif.

Gambar

Tabel berikut menjelaskan taksiran pajak atas laba tahun berjalan per 30 September 2011 dan 2010
Tabel dibawah ini menunjukkan modal dan rasio KPMM Bank masing-masing per tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 sebagai berikut : Minimum dengan memperhatikan risiko pasar
Tabel berikut menyajikan perkembangan kualitas aset produktif Bank sebelum dikurangi penyisihan kerugian untuk periode yang berakhir 30 September 2011 dan 31 Desember 2010

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air,

Tiga Model Pembelajaran ... Langkah-langkah pembelajaran model examples non examples ... Langkah-langkah Model Pembelajaran Crossword Puzzle ... Langkah-langkah Penggunaan

Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yunitasari (2006) dalam penelitian berjudul ³ Analisis Pengaruh Kesadaran Merek, Persepsi

Kegiatan yang dipelajari dalam kelompok adalah mempelajari materi di LKS yang telah diberikan oleh guru secara mendalam. Setiap kelompok memperoleh dua lembar

Gambar 2.3 Reaksi Hidrolisis Enzimatik Triasilgliserol (Sumber: Aehle, 2004) Menurut Silalahi (2011), penentuan asam palmitat pada posisi sn-2 dapat dilakukan dengan

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan

Article n+1: The water administration department with the State Council shall, together with the forestry administration department and other related departments of the State

derajat. Sehingga subyek KDM mampu menentukan nilai x dengan benar. Karena subyek KDM belum memahami apa yang ditanyakan pada soal. Sehingga subyek KDM belum mampu