• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN

H. Manajemen Risiko

Di tengah perkembangan industri perbankan yang diikuti semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha perbankan Perseroan telah menerapkan kebijakan manajemen risiko yang bertujuan untuk melindungi Perseroan terhadap kerugian yang mungkin timbul dari keseluruhan lingkup aktivitas usaha pada Perseroan, menjaga portofolio risiko Perseroan agar sesuai dengan risk appetite yang telah ditetapkan, meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan serta adanya ketersediaan informasi terkini yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja dan daya saing Perseroan.

Pengembangan manajemen risiko Perseroan dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia, persyaratan dalam penerapan Basel II Accord serta best practices dari perbankan nasional. Perseroan senantiasa menyempurnakan Kebijakan dan Pedoman Penerapan Manajemen Risiko sesuai dengan perkembangan dan kompleksitas usaha Perseroan. Pada bulan November 2011, Perseroan telah menyesuaikan Kebijakan dan Pedoman Penerapan Manajemen Risiko dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai Tingkat Kesehatan Bank Berbasis Risiko (Risk Based Bank Rating).

Struktur dan Tata Kelola Manajemen Risiko

Penerapan manajemen risiko yang baik harus didukung oleh kerangka penerapan manajemen risiko yang meliputi:

- Risk governance yang memadai;

- Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko;

- Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian yang didukung oleh Sistem Informasi manajemen risiko yang memadai;

- Sistem pengendalian intern yang komprehensif.

Penetapan risk appetite serta penyusunan sasaran dan kebijakan manajemen risiko merupakan tanggung jawab Direksi, sedangkan fungsi pengawasan merupakan tanggung jawab Dewan Komisaris dengan dukungan dari Komite Pemantau Risiko yang bertanggung jawab mengkaji profil risiko Perseroan secara keseluruhan dan memberikan masukan atau saran kepada Dewan Komisaris atas kajian tersebut. Fungsi pengawasan Dewan Komisaris juga terwujud melalui evaluasi dan persetujuan kebijakan manajemen risiko serta evaluasi pelaksanaan manajemen risiko oleh Direksi.

Dalam rangka membantu pelaksanaan proses dan sistem manajemen risiko yang efektif, Direksi dibantu oleh Komite Manajemen Risiko yang bertanggung jawab mengidentifikasi seluruh jenis risiko, menetapkan kebijakan dan strategi manajemen risiko, melakukan pemantauan secara berkala terhadap dampak implementasi kebijakan dan strategi terhadap risiko yang dihadapi oleh Perseroan.

Pengelolaan risiko Perseroan dilakukan oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko yang mempunyai tugas dan tanggung jawab:

x Memantau posisi risiko secara keseluruhan (komposit), per jenis risiko dan per aktivitas fungsional;

x Melakukan kaji ulang terhadap proses manajemen risiko sesuai dengan perkembangan internal dan eksternal; x Melakukan pengkajian terhadap usulan produk dan atau aktivitas baru;

x Menyusun dan menyampaikan laporan profil risiko kepada Direksi, Dewan Komisaris dan Bank Indonesia dengan tembusan kepada Komite Manajemen Risiko dan Komite Pemantau Risiko secara berkala.

Penerapan manajemen risiko yang efektif membutuhkan pemahaman dan kompetensi sumber daya manusia, oleh karena itu Perseroan menanamkan budaya risiko terhadap seluruh karyawan dengan memberikan pemahaman yang memadai mengenai faktor-faktor risiko yang terkait dengan fungsi atau pekerjaan sehari-hari. Komunikasi kepada karyawan dilakukan melalui diskusi pada pertemuan rutin yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko atau mengikutsertakan manajemen risiko ke dalam berbagai materi pelatihan. Perseroan telah menyertakan karyawan yang terlibat langsung dalam pengendalian risiko sehari-hari dalam program sertifikasi manajemen risiko sehingga diharapkan pemahaman, kesadaran dan kompetensi terkait manajemen risiko akan meningkat.

Pengelolaan Risiko

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2009 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/21/DPNP, Bank mengelola 8 (delapan) risiko sebagai berikut:

1. Risiko Kredit

Tujuan pengelolaan risiko kredit adalah memastikan bahwa kredit diberikan berdasarkan prinsip-prinsip pemberian kredit yang sehat. Perseroan mengelola risiko kredit dengan menetapkan berbagai kebijakan meliputi pengajuan dan persetujuan kredit, pemantauan eksposur, pengelolaan kredit bermasalah serta manajemen portofolio.

x Proses Persetujuan Kredit

Penerapan fungsi empat mata (four eyes principle) dalam pengelolaan risiko kredit diterapkan guna menjaga independensi proses persetujuan kredit dengan melakukan pemisahan antara fungsi bisnis dengan fungsi risiko kredit. Fungsi bisnis dilaksanakan oleh Unit Bisnis, adapun fungsi risiko dilaksanakan oleh divisi Credit Review dan Divisi Legal Corporate dengan memberikan second opinion yang independen sebagai bahan pertimbangan Komite Kredit dalam memberikan persetujuan kredit.

x Pengelolaan Portofolio Kredit

Pemantauan terhadap portofolio kredit terutama dilakukan terhadap risiko konsentrasi kredit dengan memantau eksposur terhadap suatu sektor ekonomi dan eksposur terhadap satu counterparty atau grup counterparty. Perseroan juga melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap portofolio atau debitur tertentu khususnya untuk menilai ketahanan Bank dalam menghadapi perubahan faktor eksternal. x Pemantauan Kredit Bermasalah

Perseroan melakukan pemantauan terhadap portofolio yang mulai menunjukkan kualitas kredit memburuk sehingga dapat dilakukan tindakan preventif sedini mungkin serta terhadap ketentuan kecukupan pencadangan. Perseroan mempunyai unit Pembinaan Nasabah yang terpisah dari unit Bisnis, unit ini fokus pada penyelesaian kredit bermasalah, pengambilalihan agunan maupun proses litigasi.

2. Risiko Pasar

Perseroan mengelola risiko pasar melalui kebijakan dan limit untuk mengukur, memantau dan mengontrol nilai risiko berdasarkan tingkat risiko (risk appetite) yang ditetapkan oleh Perseroan. Kebijakan dan limit tersebut ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan perubahan kondisi pasar maupun regulasi otoritas.

Risiko pasar yang dikelola oleh Perseroan terdiri dari: a. Risiko nilai tukar

Risiko nilai tukar timbul karena posisi neraca serta komitmen dan kontinjensi baik di sisi aset maupun kewajiban akibat transaksi mata uang asing. Dalam mengelola dan memitigasi risiko nilai tukar, Perseroan memusatkan pengelolaan risiko nilai tukar pada Divisi Tresuri serta menerapkan strategi squaring position untuk meminimalkan posisi devisa netto. Perseroan telah menetapkan kebijakan dan limit-limit yang memadai sehingga potensi kerugian yang timbul akibat risiko pasar dapat dimitigasi.

b. Risiko suku bunga

Risiko suku bunga timbul akibat pergerakan tingkat suku bunga pada sisi aset dan kewajiban yang sensitif terhadap suku bunga. Dalam memitigasi risiko suku bunga, Perseroan melakukan hal-hal sebagai berikut: x Menerapkan suku bunga mengambang (floating rate) yang dikaji dengan mempertimbangkan

pergerakan suku bunga yang dijamin Pemerintah serta tingkat suku bunga di pasar.

x Melakukan simulasi skenario perubahan suku bunga atas portofolio aset dan kewajiban yang sensitif terhadap suku bunga dan dampaknya terhadap pendapatan Perseroan.

x Melakukan pemantauan terhadap pos-pos aset dan kewajiban sesuai dengan jatuh tempo / repricing datenya.

Dalam mengukur potensi kerugian pasar, Perseroan menggunakan konsep Value at Risk (VaR) serta melakukan stress test untuk mengukur potensi kerugian akibat pergerakan nilai ekstrim dari nilai tukar dan suku bunga. Pengawasan atas manajemen risiko pasar dilakukan oleh Assets and Liabilities Committee (ALCO) yang beranggotakan Direksi dan beberapa anggota manajemen senior. ALCO bertanggung jawab mengelola struktur neraca Perseroan, risiko suku bunga di banking book serta menetapkan kebijakan dan strategi yang tepat untuk memitigasi risiko pasar.

3. Risiko Likuiditas

Perseroan menetapkan kebijakan untuk menjaga likuiditas yang memadai setiap saat untuk memastikan bahwa kebutuhan pendanaan dapat dipenuhi dengan melakukan:

x Pemantauan secara harian atas besarnya penarikan dana yang dilakukan oleh nasabah maupun memantau jumlah dana yang masuk.

x Menetapkan pagu kas (cash holding limit) pada setiap kantor sehingga masing-masing kantor dapat memenuhi liabilitas jangka pendek berupa penarikan dana pihak ketiga namun tetap menjaga kondisi kas cabang agar dana idle tidak terlalu berlebihan.

x Menjaga posisi secondary reserve ke dalam instrumen keuangan yang likuid antara lain penempatan ke Bank Indonesia dalam bentuk FaSBI, Term Deposit, Deposit Facility maupun SBI Lelang, yang dapat dengan mudah dijadikan kas tanpa terjadi penurunan nilai.

Manajemen risiko likuiditas dilakukan Perseroan melalui analisa maturity gap dari aset dan kewajiban, pemantauan rasio likuiditas, maturity mismatch, proyeksi arus kas, deposan inti, penetapan rencana kontijensi pendanaan dan melakukan stress test likuiditas.

ALCO bertanggung jawab terhadap pemantauan kondisi likuiditas Perseroan serta memastikan bahwa struktur neraca Perseroan tetap sehat dengan melakukan review terhadap:

x Aset dan kewajiban yang sensitif terhadap perubahan suku bunga;

x Perbandingan antara rencana dan realisasi target kredit maupun dana pihak ketiga;

x Strategi penetapan suku bunga sesuai dengan pencapaian Perseroan maupun kondisi pasar.

4. Risiko Operasional

Meningkatnya keragaman serta kompleksitas produk dan aktivitas perbankan maupun perkembangan sistem dan teknologi yang sangat cepat menjadikan pengelolaan risiko operasional memegang peranan penting dalam industri perbankan. Pengelolaan risiko operasional Perseroan bertujuan untuk memastikan bahwa pengendalian risiko operasional sudah memadai dan seluruh aktivitas operasional sesuai dengan prosedur yang berlaku, setiap staf memiliki kualifikasi yang sesuai untuk fungsi masing-masing, pembatasan akses sesuai tugas dan tanggung jawab melalui mekanisme user management serta fungsi-empat-mata dan mekanisme check and balances telah dilaksanakan pada setiap aktivitas operasional.

Pengelolaan risiko operasional dilaksanakan melalui:

x Pengukuran sendiri (self assessment) yang dilakukan oleh risk taking unit terhadap near miss event, potential loss maupun actual loss;

x Data yang dihasilkan dari seluruh kerugian operasional pada setiap unit (Risk Event Database) akan dianalisa oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko untuk mencari akar permasalahan dari suatu risk event sehingga dapat dilakukan upaya perbaikan untuk menyempurnakan kelemahan proses pengendalian. x Pemantauan risiko operasional dilakukan melalui berbagai laporan dari Satuan Kerja Manajemen Risiko. x Menetapkan limit dan wewenang untuk memitigasi risiko operasional dan secara periodik mengkaji ulang

kebijakan tentang limit dan wewenang aktivitas operasional tersebut.

x Menetapkan kebijakan operasional dan melakukan evaluasi sesuai dengan profil risiko operasional, perkembangan internal Perseroan maupun perkembangan eksternal.

Perseroan juga telah menghitung kecukupan modal untuk risiko operasional sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 10/15/PBI/2008 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/3/DPNP tentang Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Operasional Dengan Menggunakan Pendekatan Indikator Dasar (PID), sehingga sejak 1 Januari 2011 perhitungan beban modal Risiko Operasional ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen) dari rata-rata pendapatan bruto positif selama 3 (tiga) tahun terakhir.

5. Risiko Hukum

Risiko hukum timbul karena kelemahan aspek hukum, adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan yang mendukung, kegagalan untuk mematuhi persyaratan hukum dari suatu perjanjian atau kontrak dan celah-celah dalam pengikatan jaminan. Pengelolaan risiko hukum Perseroan dilakukan oleh Legal Corporate yang bertugas untuk:

x Melakukan kajian terhadap dokumen hukum, perjanjian dan kontrak terhadap pihak ketiga sehingga dapat mengantisipasi adanya kelemahan dalam perjanjian yang dapat menimbulkan risiko hukum terhadap Perseroan;

x Melakukan analisa aspek hukum terhadap produk dan aktivitas baru; x Melakukan pengadministrasian dokumentasi hukum Perseroan; x Menetapkan kebijakan terkait dengan manajemen risiko hukum; x Melakukan konsultasi dengan external lawyer apabila diperlukan.

6. Risiko Kepatuhan

Dalam rangka mengelola risiko kepatuhan, Perseroan melakukan mitigasi risiko antara lain:

x Melakukan penilaian tingkat kepatuhan Perseroan terhadap peraturan Bank Indonesia dan perundang-undangan yang berlaku;

x Mengefektifkan peran Satuan Kerja Kepatuhan;

x Menetapkan kebijakan dan pedoman kerja Kepatuhan sebagai acuan dalam melaksanakan manajemen risiko kepatuhan.

7. Risiko Stratejik

Risiko stratejik berkaitan dengan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi yang kurang memadai serta pengambilan keputusan yang kurang tepat akibat kurang responsifnya Perseroan dalam mengantisipasi perubahan faktor kondisi eksternal. Pengelolaan risiko stratejik merupakan tugas dan tanggung jawab utama dari Direksi dengan pengawasan dari Dewan Komisaris.

Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan secara aktif memantau pelaksanaan strategi bisnis Perseroan, menilai target usaha dan tingkat pencapaiannya melalui berbagai media antara lain Laporan Realisasi Rencana Bisnis Perseroan maupun informasi lainnya. Disamping itu, Perseroan juga memantau perkembangan perbankan dan kondisi pasar serta mengumpulkan informasi yang relevan untuk menganalisa kinerja Perseroan dan menetapkan strategi yang tepat untuk mencapai rencana kerja Perseroan.

8. Risiko Reputasi

Risiko reputasi timbul dari persepsi negatif tentang kegiatan dan kondisi keuangan Perseroan, yang dapat mempengaruhi secara negatif tingkat kepercayaan dan keyakinan oleh nasabah, masyarakat maupun regulator. Persepsi negatif tersebut dapat timbul akibat publisitas negatif, keluhan nasabah maupun proses litigasi yang melibatkan Perseroan. Untuk memitigasi risiko reputasi, Perseroan melakukan langkah-langkah sebagai berikut: x Membentuk Unit Pengaduan Nasabah yang berfungsi menerima dan menyelesaikan keluhan nasabah x Meningkatkan standar layanan nasabah dengan melakukan pelatihan service excellence

Profil Risiko

Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, Perseroan melakukan penilaian terhadap profil risiko secara keseluruhan serta melaporkan hasil tersebut kepada Bank Indonesia setiap triwulan. Penilaian profil risiko tersebut merupakan kombinasi dari hasil penilaian risiko yang melekat pada aktivitas fungsional (inherent risk) dengan kecukupan sistem pengendalian risiko (risk control system). Laporan profil risiko Perseroan dimulai sejak periode Desember 2011 telah mengikuti ketentuan Bank Indonesia tentang Tingkat Kesehatan Bank Umum Berbasis Risiko (Risk Based Bank Rating). Peringkat risiko melekat (inherent risk) mencerminkan potensi timbulnya risiko pada Perseroan dan sesuai ketentuan Bank Indonesia dikategorikan menjadi 5 (lima) peringkat yaitu Low, Low to Moderate, Moderate, Moderate to High dan High.

Peringkat sistem pengendalian risiko mencerminkan tingkat kecukupan pengendalian risiko Perseroan terhadap potensi timbulnya risiko pada aktivitas fungsional Perseroan, meliputi:

• Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi; • Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit;

• Kecukupan identifikasi, pengukuran, pemantauan dan sistem informasi manajemen risiko; • Sistem pengendalian intern yang komprehensif.

Peringkat sistem pengendalian risiko terdiri dari Strong, Satisfactory, Fair, Marginal dan Unsatisfactory. Gabungan dari kedua faktor tersebut menghasilkan peringkat risiko komposit yaitu Low, Low to Moderate, Moderate, Moderate to High dan High. Untuk penilaian profil risiko periode Desember 2012, inherent risk Perseroan adalah Low to Moderate dengan tingkat pengendalian risiko Satisfactory sehingga risiko komposit Perseroan berada pada posisi Low to Moderate.

I. KEPATUHAN

Kompleksitas aktivitas perbankan yang semakin meningkat sejalan dengan perkembangan teknologi, globalisasi dan integrasi pasar keuangan memberikan dampak terhadap eksposur risiko yang dihadapi oleh Perseroan sehingga perlu di lakukan upaya preventif untuk memitigasi risiko antara lain dengan mencegah terjadinya pelanggaran kebijakan, ketentuan, sistem dan prosedur maupun ketentuan otoritas yang berlaku.

Penerapan kepatuhan Perseroan dipantau oleh Satuan Kerja Kepatuhan yaitu divisi Verifikasi yang juga bertanggung jawab memantau pelaksanaan program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT). Tugas dan tanggung jawab Satuan Kerja Kepatuhan antara lain:

• Mewujudkan terlaksananya budaya kepatuhan pada semua tingkatan organisasi dan kegiatan usaha Perseroan;

• Mengeloka risiko kepatuhan yang dihadapi oleh Perseroan;

• Memastikan agar pedoman, sistem dan prosedur serta kebijakan internal Perseroan secara konsisten dilaksanakan oleh seluruh unit kerja.

Dalam melaksanakan fungsi kepatuhan, divisi Verifikasi dan APU - PPT bertanggung jawab kepada Direktur Kepatuhan. Tugas dan tanggung jawab Direktur Kepatuhan mencakup:

• Menyusun Manual Kepatuhan;

• Memantau dan memastikan kepatuhan Perseroan terhadap seluruh perjanjian dan komitmen yang dibuat oleh Perseroan kepada Bank Indonesia dan lembaga otoritas yang berwenang;

• Mencegah diambilnya keputusan dan kebijakan yang menyimpang dari ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang dapat menimbulkan risiko bagi Perseroan.

Direktur Kepatuhan tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pembuatan keputusan yang menyangkut kegiatan operasional Perseroan untuk menghindari konflik kepentingan. Sehubungan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Direktur Kepatuhan secara berkala telah menyampaikan laporannya kepada Bank Indonesia dengan tembusan kepada Direktur utama dan Dewan Komisaris.

Ikhtisar kepatuhan Perseroan

Rasio 31 Desember 2011 31 Desember 2012

Persentase Pelanggaran BMPK: - Pihak Terkait

- Pihak Tidak Terkait - - - -

Persentase Pelampauan BMPK: - Pihak Terkait

- Pihak Tidak Terkait - - - -

Giro Wajib Minimum Utama – Rupiah 8,15% 8,05%

Giro Wajib Minimum – Valas 16,15% 12,23%

Posisi Devisa Netto 4,75% 1,44%

Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT)

Salah satu fungsi yang melekat pada Satuan Kerja Kepatuhan adalah pelaksanaan APU dan PPT. Pelaksanaan program APU dan PPT Perseroan mencakup hal-hal sebagai berikut:

• Menyusun prosedur penerimaan, identifikasi dan verifikasi nasabah.

• Melakukan pengembangan sistem untuk mendukung program APU dan PPT.

• Melakukan pengelompokan nasabah berdasarkan Risk Based Approach yaitu berdasarkan jenis rekening, Politically Exposed Person dan area berisiko tinggi.

• Menyampaikan realisasi rencana pengkinian data nasabah pada Laporan Direktur Kepatuhan.

• Melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan dan prosedur APU dan PPT oleh unit-unit kerja terkait.

• Melakukan review dan pelatihan terhadap tim Unit Khusus Pengenalan Nasabah di seluruh cabang. • Mengikuti pelatihan dan seminar terkait dengan APU dan PPT.