31 (RUGI)/LABA BERSIH PER SAHAM DASAR DAN DILUSIAN
37. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN FINANCIAL RISK MANAGEMENT
Berbagai aktivitas yang dilakukan membuat Grup menghadapi berbagai macam risiko keuangan, termasuk dampak perubahan harga komoditas dan nilai tukar mata uang asing. Program manajemen risiko yang dimiliki Grup ditujukan untuk menghadapi ketidakpastian yang dihadapi dalam pasar keuangan dan untuk meminimalkan dampak yang tidak diharapkan pada kinerja keuangan Grup.
The Group’s activities expose them to a variety of financial risks, including the effects of changes in commodity prices and foreign currency exchange
rates. The Group’s overall risk management
program focuses on the unpredictability of financial markets and seeks to minimise unforeseen effects on the financial performance of the Group.
Komite Manajemen Risiko, yang berada dibawah Dewan Komisaris, memiliki peran dan tanggung jawab untuk mendukung fungsi pengawasan Dewan Komisaris, mengkaji ulang kerangka kerja manajemen risiko agar selaras dengan tujuan Perusahaan dan memastikan efektifitas dari kinerja pelaksanaan manajemen risiko.
Risk Management Committee, under the direction of Board of Commissioners, is responsible for supporting the supervisory function of the Board of Commissioners, reviewing the risk management
framework in order to align it with the Company’s
objectives and ensuring the effectiveness of risk management implementation performance.
Perusahaan melakukan integrasi dan penyelarasan pengelolaan risiko terhadap strategi dan membentuk
Satuan Kerja Enterprise Risk Management (“ERM”)
yang bertanggung jawab langsung kepada Direksi.
The Company integrated its risk management strategies and established the Task Force
Enterprise Risk Management (“ERM”) that is directly
responsible to the Board of Directors.
a. Risiko Harga Komoditas a. Commodity Price Risks
Di tahun 2017 volatilitas harga komoditas yang signifikan baik untuk komoditas nikel, emas dan
batubara masih terjadi. Volatilitas terjadi
disebabkan oleh melemahnya permintaan akibat krisis ekonomi global serta terus meningkatnya level cadangan komoditas dunia. Walaupun basis
pelanggan Grup terdiversifikasi dan tidak
tergantung pada satu pasar atau negara saja, namun karena porsi portofolio produk nikel dan emas yang dominan terhadap produk lainnya volatilitas harga nikel dan emas akan secara signifikan mempengaruhi pendapatan Grup secara keseluruhan.
There was significant volatility in 2017 in commodity prices for nickel, gold and coal. The volatility was caused by weak demand due to the global economic crisis and the increasing level of world commodity reserves. Although the Group has diversified customers and does not depend on a specific market or country, due to the dominance of nickel and gold product
portfolio on other products, the Group’s revenue
can still be significantly affected by the volatility in commodity prices.
Selain dengan natural hedging melalui
peningkatan porsi portofolio nonnikel dan nonemas (bauksit dan batubara), Grup mungkin juga melakukan mitigasi risiko melalui transaksi lindung nilai dengan tujuan utama untuk memproteksi anggaran pendapatannya. Namun beberapa posisi lindung nilai dapat menyebabkan Grup kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi pada saat harga mengalami kenaikan.
Other than natural hedging through the increase of non-nickel and non-gold portfolio portions (bauxite and coal), it is also possible for the Group to mitigate commodity price risks through hedging transactions with the main goal of protecting their budgeted income. Yet some hedging positions may cause the Group to lose the chance to obtain even higher profits when prices rise.
a. Risiko Harga Komoditas (lanjutan) a. Commodity Price Risks (continued)
Grup berkeyakinan bahwa cara mengelola risiko penurunan harga komoditas yang paling baik adalah dengan cara menurunkan biaya produksi. Grup mempunyai komitmen untuk melakukan konversi bahan bakar Industrial Diesel Oil dan
Marine Fuel Oil dengan bahan bakar yang lebih murah seperti gas alam, batubara atau tenaga air.
The Group believes that the best way to handle the risk of commodity price decrease is by decreasing the production cost. The Group has a commitment to convert their main fuel source from Industrial Diesel Oil and Marine Fuel Oil to a cheaper fuel source, such as natural gas, coal or hydro power.
Pada tanggal 30 Juni 2017 piutang usaha Grup
dari penjualan feronikel secara langsung
berkaitan dengan indeks harga nikel LME. Jika harga nikel LME melemah atau menguat sebesar 5% dibandingkan dengan harga nikel pada tanggal 30 Juni 2017 (dengan semua variabel lainnya dianggap tidak berubah), maka laba setelah pajak Grup untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 akan menurun atau meningkat masing-masing sekitar
Rp9.565.399 (31 Desember 2016:
Rp20.255.689).
As at June 30, 2017, the Group's trade receivables from ferronickel sales are directly linked to LME price index. If the LME nickel price weakens or strengthens by 5% compared to the price as of June 30, 2017 (assuming all other variables remain unchanged), the post-tax profit of the Group for the six-month period ended June 30, 2017 will decrease or increase by approximately Rp9,565,399 (December 31, 2016: Rp20,255,689).
b. Risiko Mata Uang dan Tingkat Suku Bunga b. Foreign Exchange and Interest Rate Risks
Pendapatan dan posisi kas Grup sebagian besar dalam mata uang Dolar AS sedangkan sebagian besar beban operasi Grup dalam mata uang Rupiah. Grup juga memiliki pinjaman signifikan dalam Dolar AS, maka Grup mempunyai eksposur risiko melemahnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS.
The Group’s revenue and cash position are
mostly in US Dollar while most of the Group’s operating expenses are in Indonesian Rupiah. In addition, the Group also has significant borrowings in US Dollar. Thus, the Group suffers from the negative effect of the Indonesian Rupiah weakening against the US Dollar.
Jika nilai tukar Rupiah melemah atau menguat sebesar 5% dibandingkan dengan nilai tukar mata uang Dolar AS pada tanggal 30 Juni 2017 (dengan semua variabel lainnya dianggap tidak berubah), maka laba sebelum pajak penghasilan Grup untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 masing-masing akan menurun atau meningkat sekitar Rp255.554.321 (31 Desember 2016: Rp231.691.762) terutama berasal dari keuntungan dan kerugian atas penjabaran aset (liabilitas) bersih dalam mata uang Dolar AS pada tanggal pelaporan.
If the Rupiah weakens or strengthens by 5% compared to US Dollar on June 30, 2017 (assuming all other variables remain unchanged), the profit before tax of the Group for the six-month period ended June 30, 2017 will decrease or increase approximately by Rp255,554,321 (December 31, 2016: Rp231,691,762), mainly as a result of foreign exchange gains or losses on translation of the US Dollar denominated net assets (liabilities) as at the reporting date.
Grup terpapar risiko tingkat suku bunga yang berasal dari perubahan tingkat bunga atas
liabilitas yang dikenakan bunga. Grup
menganalisis eksposur tingkat suku bunga secara dinamis. Berbagai skenario disimulasikan
dengan mempertimbangkan pembiayaan
kembali, pembaharuan posisi yang ada, serta
alternatif pembiayaan dan lindung nilai.
Berdasarkan skenario ini, Grup menghitung dampak laba atau rugi dari pergerakan tingkat suku bunga.
The Group is exposed to interest rate risks through the impact of rate changes on interest- bearing liabilities. The Group analyses its interest rate exposure on a dynamic basis. Various scenarios are simulated taking into consideration refinancing, renewal of existing positions, alternative financing and hedging. Based on these scenarios, the Group calculates the impact on profit or loss of a defined interest rate shift.