Bank memiliki eksposur terhadap risiko di bawah ini yang berasal dari instrumen keuangan: - Risiko kredit
- Risiko pasar - Risiko likuiditas
Catatan di bawah ini menyajikan informasi mengenai eksposur Bank terhadap setiap risiko di atas, tujuan, kebijakan dan proses yang dilakukan oleh Bank dalam mengukur dan mengelola risiko.
a. Kerangka manajemen risiko
Bank telah mengimplementasikan prosedur manajemen risiko sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum No. 5/8/PBI/2003 yang telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2009, Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/21/DPNP dan Surat Edaran bank Indonesia No. 13/23/DPNP tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.
Pelaksanaan manajemen risiko di Bank Capital Indonesia melibatkan pengawasan oleh Dewan Komisaris dan
Direksi, Komite Pemantau Risiko dan Komite Manajemen Risiko. Dewan Komisaris mendelegasikan kepada Direktur Utama dan Direksi untuk mengimplementasikan strategi manajemen risiko. Komite Pemantau Risiko
merupakan komite yang dibentuk untuk mendukung tugas-tugas Dewan Komisaris. Komite Pemantau Risiko memonitor pelaksanaan kerangka dan kebijakan manajemen risiko dengan mengadakan pertemuan triwulanan untuk menilai kinerja dari setiap portofolio kredit dan mendiskusikan masalah-masalah risiko. Komite Manajemen Risiko dibentuk oleh Direksi beranggotakan mayoritas Direksi dan pejabat eksekutif terkait. Komite Manajemen Risiko memberikan rekomendasi kepada Direksi dalam hal Pengelolaan risiko yang ada di Bank. Komite Manajemen Risiko diketuai oleh Direktur yang membawahi Bidang Manajemen Risiko.
Kebijakan manajemen risiko Bank ditetapkan untuk mengidentifikasi dan menganalisa risiko-risiko yang dihadapi Bank, untuk menetapkan batasan risiko dan pengendalian yang sesuai, serta untuk mengawasi risiko dan kepatuhan terhadap batasan yang telah ditetapkan. Kebijakan dan sistem manajemen risiko ditelaah secara berkala untuk mencerminkan perubahan dalam kondisi pasar, produk, dan jasa yang ditawarkan. Bank, melalui pelatihan serta standar dan prosedur pengelolaan, berusaha untuk mengembangkan lingkungan pengendalian yang taat dan konstruktif, dimana semua karyawan memahami tugas dan kewajiban mereka.
Selain Komite Pemantau Risiko, Bank membentuk Komite Audit yang memiliki tanggung jawab memantau kepatuhan Bank terhadap regulasi dari otoritas, terhadap kebijakan dan prosedur manajemen risiko, dan untuk menelaah kecukupan kerangka manajemen risiko yang terkait dengan risiko-risiko yang dihadapi oleh Bank. Dalam menjalankan fungsinya, Komite Audit dibantu oleh Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) yang secara berkala maupun sesuai kebutuhan, menelaah pengendalian dan prosedur manajemen risiko dan melaporkan hasilnya ke Komite Audit Bank.
b. Risiko kredit
Risiko kredit adalah risiko terjadinya kerugian keuangan yang disebabkan nasabah atau counterparty gagal memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dikelola melalui penetapan kebijakan - kebijakan dan proses-proses yang meliputi kriteria pemberian kredit, origination dan persetujuan kredit, penetapan harga, pemantauan, pengelolaan kredit bermasalah dan manajemen portofolio. Bank juga dengan ketat memantau perkembangan portofolio kredit Bank, yang memungkinkan Bank untuk melakukan tindakan pencegahan secara tepat waktu apabila terjadi penurunan kualitas kredit.
Bank terus melanjutkan untuk mengelola dan mengawasi secara aktif kualitas portofolio pinjaman yang diberikan dengan cara meningkatkan kebijakan manajemen risiko kredit secara efektif, penyempurnaan prosedur dan pengembangan system dalam upaya menjaga dampak negatif yang diakibatkan oleh kredit bermasalah.
Bank telah mengimplementasikan upaya berlapis disetiap tahap yang berhubungan dengan aktifitas pemberian kredit untuk memastikan keamanan kredit yang diberikan. Proses pemberian kredit dilakukan dengan menerapkan prinsip dual control dan four eyes principles, dengan memisahkan fungsi yang menangani pemasaran kredit, dipisahkan dari fungsi yang menangani analisa kredit. Keputusan pemberian kredit dilakukan secara berjenjang menurut besaran kredit, dan dilakukan oleh Komite Kredit. Sebelum keputusan diambil, Komite Kredit mempertimbangkan opini yang diberikan oleh Departemen Manajemen Risiko, Departemen Kepatuhan dan opini hukum dari Divisi Legal. Keseluruhan proses tersebut diatur didalam Kebijakan Perkreditan Bank.
Produk program telah dikembangkan oleh masing-masing unit bisnis berdasarkan kebijakan kredit yang telah ditetapkan.
Didalam perhitungan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) kredit Bank menggunakan metode standar sesuai dengan ketentuan dari Bank indonesia.
34. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan) b. Risiko kredit (lanjutan)
i. Eksposur maksimum terhadap risiko kredit
Untuk aset keuangan yang diakui di laporan posisi keuangan, eksposur maksimum terhadap risiko kredit sama dengan nilai tercatatnya. Untuk liabilitas kontinjensi, eksposur maksimum terhadap risiko kredit adalah nilai maksimum yang harus Bank bayarkan dalam hal timbul liabilitas atas instrumen yang diterbitkan. Untuk komitmen kredit, eksposur maksimum terhadap risiko kredit adalah sebesar jumlah fasilitas yang belum ditarik dari nilai penuh fasilitas kredit yang telah disepakati (committed) kepada nasabah.
Tabel berikut menyajikan eksposur maksimum terhadap risiko kredit Bank atas instrumen keuangan pada laporan posisi keuangan dan komitmen dan kontinjensi (rekening administratif), tanpa memperhitungkan agunan yang dimiliki atau jaminan kredit lainnya.
Jakarta Solo Bandung Jakarta Solo Bandung
Laporan Posisi Keuangan:
Giro pada Bank Indonesia 900,589 - - 775,440 -
-Giro pada bank lain 182,209 - - 39,659 -
-Penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia 1,247,883 - - 1,501,346 -
-Efek-efek 1,925,160 - - 1,917,531 -
-Kredit 5,236,562 24,351 - 4,701,896 28,024
-Tagihan akseptasi - - - - -
-Aset lain-lain - bersih 514,105 3,291 1,713 4,462 165 689
Sub-jumlah 10,006,508 27,642 1,713 8,940,334 28,189 689
Komitmen dan kontijensi: Garansi yang diterbitkan 110,463 - - 100,503 -
-Letters of credit yang tidak dapat dibatalkan - - - - -
-Sub-jumlah 110,463 - - 100,503 -
-Jumlah 10,116,971 27,642 1,713 9,040,837 28,189 689
31 Maret 2015 31 Desember 2014
ii. Analisis risiko konsentrasi kredit
Risiko konsentrasi kredit timbul ketika sejumlah pelanggan bergerak dalam aktivitas usaha yang sejenis atau memiliki kegiatan usaha dalam wilayah geografis yang sama, atau memiliki karakteristik yang sejenis yang dapat menyebabkan kemampuan nasabah untuk memenuhi liabilitas kontraktualnya sama-sama dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi ataupun kondisi lainnya yang sama.
Oleh karena itu, Bank mendorong adanya diversifikasi dari portofolio kreditnya pada berbagai jenis industri, serta wilayah geografis sebagai upaya untuk meminimalisasi risiko akibat konsentrasi kredit pada industri atau wilayah tertentu.
Diversifikasi sektor ekonomi kredit tersebut telah direncanakan sebagai rencana strategi Bank, yang mencakup sektor ekonomi, kondisi ekonomi saat ini relevansi dengan kebijakan pemerintah, sumber pendanaan, dan proyeksi pertumbuhan. Konsentrasi kredit yang diberikan berdasarkan jenis kredit, mata uang, sektor ekonomi dan wilayah geografis diungkapkan pada Catatan 8.
iii. Konsentrasi berdasarkan jenis debitur
b. Risiko kredit (lanjutan)
iii. Konsentrasi berdasarkan jenis debitur (lanjutan)
Giro pada Penempatan Piutang
bank lain dan pada bank lain pembiayaan Tagihan Obligasi Komitmen dan
BI dan BI Efek-efek Pinjaman konsumen akseptasi Pemerintah kontinjensi Jumlah %
Korporasi - - 1,100,936 4,555,120 30,310 - - 680,516 6,366,882 62% Pemerintah dan 23,344 Bank Indonesia 900,589 1,139,000 623,509 - - - 36,508 - 2,699,606 26% Bank - bank 182,209 108,883 164,207 20,753 - - - - 476,052 5% Retail - - - 631,386 - - - 70,932 702,319 7% Jumlah 1,082,798 1,247,883 1,888,652 5,207,260 53,654 - 36,508 751,448 10,244,859 100% 31 Maret 2015
Giro pada Penempatan Piutang
bank lain dan pada bank lain pembiayaan Tagihan Obligasi Komitmen dan
BI dan BI Efek-efek Pinjaman konsumen akseptasi Pemerintah kontinjensi Jumlah % Korporasi - - 832,242 4,085,825 31,559 - - 100,503 5,050,129 56% Pemerintah dan Bank Indonesia 775,440 632,899 770,117 - - - 146,370 - 2,324,826 26% Bank - bank 39,659 868,447 168,802 21,757 - - - - 1,098,665 12% Retail - - - 564,051 26,728 - - - 590,779 7% Jumlah 815,099 1,501,346 1,771,161 4,671,633 58,287 - 146,370 100,503 9,064,399 100% 31 Desember 2014 c. Risiko pasar
Risiko pasar merupakan risiko yang timbul pada posisi neraca dan rekening administrative termasuk transaksi derivative akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar dari portofolio yang dimiliki oleh Bank. Yang dimaksud dengan faktor pasar adalah suku bunga dan nilai tukar, baik pada posisi trading book maupun banking
book.
Risiko pasar terdapat pada aktivitas fungsional Bank dan kegiatan tresuri. Aktivitas ini mencakup penempatan posisi dalam bentuk surat berharga dan pasar uang maupun penyertaan pada lembaga keuangan lainnya, penyediaan dana (pinjaman dan bentuk sejenis lainnya), dan kegiatan pendanaan dan penerbitan surat utang, serta kegiatan pembiayaan perdagangan.
Tujuan dari manajemen risiko pasar adalah untuk mengelola dan melakukan kontrol atas eksposur risiko pasar dalam parameter yang dapat diterima, serta memaksimalkan tingkat pengembalian atas risiko.
Risiko pasar dikelola melalui kebijakan yangkomprehensif dan kerangka limit untuk mengukur dan memonitor nilai risiko berdasarkan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) oleh Bank. Limit dari risiko pasar ditetapkan pada tingkat bank-wide dan dilaporkan serta dipantau oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR).
Assets and Liability Committee (ALCO) berperan sebagai forum manajemen senior tertinggi untuk mengambil
keputusan atas kebijakan yang berkaitan dengan manajemen risiko pasar dan likuiditas Bank.
Secara keseluruhan, risiko pasar dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
i. Risiko mata uang
Risiko mata uang timbul dari adanya posisi posisi keuangan dan komitmen dan kontinjensi (off- balance
sheet) baik di sisi aset maupun liabilitas yang timbul melalui transaksi mata uang asing.
Bank menggunakan metode Value at Risk (VaR) untuk mengukur risiko nilai tukar untuk melihat besarnya potensi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar pada Posisi Devisa Netto. Selain itu untuk mengelola dan memitigasi risiko nilai tukar, pembatasan posisi devisa netto secara internal telah ditentukan, lebih konservatif dari pembatasan regulator sebesar 20% dari modal bank.
34. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)