Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan debitur dan/ atau pihak lain dalam memenuhi kewajibannya kepada Bank.
Penerapan manajemen risiko kredit tidak hanya ditujukan untuk menempatkan Bank Panin sebagai Bank yang patuh terhadap regulasi, namun merupakan suatu tuntutan manajemen untuk menerapkan sistem pengelolaan risiko kredit yang baik dan sesuai dengan praktek di perbankan. Penerapan manajemen risiko yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas kredit, namun juga diharapkan mampu mendorong kegiatan bisnis Bank Panin.
Sebagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Panin memastikan bahwa dalam proses pemberian kredit harus mengikuti prosedur perkreditan yang sehat dan berdasarkan prinsip kehati-hatian, yang mengacu pada Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank dan Pedoman Kebijakan Manajemen Risiko Kredit yang antara lain mengatur mengenai wewenang memutus kredit pada Kantor Pusat dan Kantor Cabang, proses pemberian kredit, penetapan harga, pengelolaan kredit bermasalah, manajemen portofolio, peran dan fungsi pengawasan oleh SKAI dan Biro Kepatuhan, serta keterlibatan Satuan Kerja Manajemen Risiko yang independen dalam memberikan opini untuk kredit di atas jumlah yang telah ditetapkan.
Untuk mendukung implementasi pengukuran risiko kredit, mulai 12 Februari 2011 melalui SK No. 03/SK-DK/2011 Bank menggunakan Internal Credit Risk Rating (ICRR) untuk kredit segmen korporasi dengan plafond di atas 50 Milyar rupiah ekuivalen USD 5 juta. Selain itu Bank menerapkan Credit Scoring untuk persetujuan kredit konsumsi.
Pemberian kredit didasarkan pada konsep Hubungan Total Debitur (one obligor concept), agar dapat dipantau semua eksposur risiko Bank Panin atas fasilitas kredit yang diberikan kepada satu kelompok debitur. Konsep ini juga untuk memenuhi ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).
Bank juga telah menetapkan limit kewenangan dalam proses pemutusan kredit, yang dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Komite Kredit Cabang sampai tingkat Komite Kredit Direksi. Untuk pemberian kredit kepada debitur dengan jumlah plafond diatas 50 milyar rupiah wajib mendapat Opini dari Biro Manajemen Risiko & Kepatuhan dengan selalu memperhatikan Legal Lending Limit atau Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) serta mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris.
Sebagai upaya penyelesaian terhadap kredit bermasalah yang timbul dari aktivitas pembiayaan, Bank Panin telah memiliki sistem dan prosedur penanganan kredit bermasalah termasuk prosedur pelaksanaan restrukturisasi kredit serta pembentukan Satuan Kerja di Kantor Cabang dan Kantor Pusat yang secara khusus bertugas menangani dan mencari solusi atas penyelesaian kredit bermasalah. Untuk meningkatkan peran dan kepedulian Bank Panin terhadap risiko kerusakan lingkungan serta sejalan dengan Peraturan Bank Indonesia mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, dimulai pada semester II tahun 2010 penilaian prospek usaha debitur juga dikaitkan dengan upaya yang dilakukan debitur untuk memelihara lingkungan hidup. Penilaian tersebut dilakukan menggunakan Environment Social and Management System (ESMS tools) yang diimplementasikan pada kredit / eksposur debitur dengan plafond di atas 35 Milyar rupiah serta beberapa kriteria yang wajib dipenuhi.
i. Eksposur Maksimum terhadap Risiko Kredit
30 September 2011 31 Desember 2010 Rp Juta Rp Juta Neraca:
Giro pada Bank Indones ia 7,077,148 5,403,656
Giro pada bank lain 632,879 868,754
Penem patan pada Bank Indones ia
dan bank lain 12,932,873 16,989,076
Efek-efek 12,102,517 16,243,536
Tagihan derivatif 13,550 4,936
Pinjam an yang diberikan 66,795,202 57,246,019 Piutang pem biayaan kons um en 3,213,099 1,977,989
Tagihan akseptas i 603,961 503,849
Obligas i pem erintah 3,727,767 4,454,783
As et lain-lain bers ih 2,059,415 2,133,626
Sub Jum lah 109,158,411 105,826,224
Komitmen dan Kontijensi:
Fas ilitas kredit yang belum digunakan 16,681,302 12,462,734 Bank garans i yang diterbitkan 508,072 513,933 Irrevocab le letter of credit yang
m as ih berjalan 703,157 572,448 Sub Jum lah 17,892,531 13,549,115
Jum lah 127,050,942 119,375,339
Uraian
ii. Analisis risiko konsentrasi kredit
Konsentrasi kredit yang diberikan berdasarkan jenis kredit, sektor ekonomi dan wilayah geografis. tabel berikut menyajikan konsentrasi kredit berdasarkan jenis penggunaan kredit yang diberikan:
Rp Juta % Rp Juta % Investasi 18,468,420 27.65 16,460,463 28.76 Modal Kerja 33,105,413 49.56 27,721,207 48.42 Konsumsi 15,221,369 22.79 13,064,349 22.82 Jumlah 66,795,202 100.00 57,246,019 100.00 30-Sep-11 31-Des-10
Tabel berikut menyajikan konsentrasi kredit berdasarkan sektor ekonomi :
Rp Juta % Rp Juta %
Rumah tangga 14,872,406 22.27 12,982,118 22.68 Perdagangan besar & eceran 15,545,907 23.27 12,821,438 22.40 Industri pengolahan 7,191,171 10.77 7,462,107 13.04 Perantara keuangan 8,968,998 13.43 6,790,911 11.86 Real estate, usaha persewaan dan
jasa perusahaan 6,025,952 9.02 5,853,164 10.22 Konstruksi 3,035,171 4.54 2,174,143 3.80 Transportasi, pergudangan dan
Komunikasi 2,228,424 3.34 1,718,414 3.00 Penyediaan akomodasi dan
penyediaan makan minum 2,084,628 3.12 1,546,183 2.70 Jasa Kemasyarakatan, sosial budaya,
hiburan dan perorangan lainnya 1,464,617 2.19 1,314,068 2.30 Pertambangan dan penggalian 1,141,042 1.71 1,236,461 2.16 Listrik, gas & Air 1,329,122 1.99 1,161,553 2.03 Pertanian, perburuan dan kehutanan 1,502,492 2.25 1,150,383 2.01 Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 640,843 0.96 507,817 0.89 Jasa pendidikan 256,789 0.38 242,427 0.42 Perikanan 67,008 0.10 58,703 0.10 Administrasi pemerintah, pertahanan
dan jaminan sosial wajib 1,108 0.00 557 0.00 Bukan lapangan usaha lainnya 439,524 0.66 225,572 0.39 Jumlah 66,795,202 100.00 57,246,019 100.00
31 Desember 2010 30 September 2011
Tabel berikut menyajikan konsentrasi kredit berdasarkan wilayah geografis : Rp Juta % Rp Juta % Nanggroe Aceh Darussalam 132,334 0.20 94,602 0.17 Sumatera utara 2,447,595 3.66 2,273,072 3.97 Kepulauan Riau 675,143 1.01 586,209 1.02 Riau 1,755,414 2.63 1,540,588 2.69 Sumatera Barat 238,060 0.36 346,367 0.61 Jambi 372,403 0.56 313,878 0.55 Sumatera Selatan 952,390 1.43 918,187 1.60 Bangka Belitung 27,130 0.04 14,808 0.03 Lampung 723,445 1.08 616,133 1.08 DKI Jakarta 41,351,167 61.89 35,200,248 61.49 Banten 68,184 0.10 72,860 0.13 Jawa Barat 3,159,915 4.73 2,683,041 4.69 Jawa Tengah 1,920,119 2.87 1,963,811 3.43 DI Yogyakarta 477,633 0.72 386,344 0.67 Jawa Timur 5,257,801 7.87 4,134,657 7.22 Bali 411,834 0.62 348,921 0.61 Kalimantan Selatan 725,398 1.09 500,301 0.87 Kalimantan Timur 618,432 0.93 520,652 0.91 Kalimantan Barat 585,757 0.88 488,466 0.85 Sulawesi Utara 407,371 0.61 320,227 0.56 Sulawesi Selatan 3,467,026 5.19 3,114,948 5.44 Sulawesi Tenggara 407,084 0.61 328,469 0.57 Sulawesi Tengah 331,372 0.50 257,212 0.45 Maluku 67,142 0.10 41,443 0.07 Papua 215,053 0.32 180,572 0.32 Jumlah 66,795,202 100.00 57,246,019 100.00 30 September 2011 Jumlah Jumlah 31 Desember 2010
iii. Konsentrasi kredit berdasarkan jenis debitur
Giro pada bank lain dan
BI
Penempatan pada bank lain
dan BI Efek-efek Tagihan derivatif Pinjaman yang diberikan Piutang premi dan aset
lain-lain Tagihan akseptasi Obligasi Pemerintah Komitmen dan kontinjensi
Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta % Bank Indonesia 7,077,148 7,781,721 8,258,391 - - - - - - 23,117,260 18.50 Pemerintah - - - - - - - 3,727,767 - 3,727,767 2.98 Bank-bank 632,879 5,151,152 778,863 3,763 2,918,568 - 9,839 - 456,465 9,951,529 7.96 Entitas Sektor Publik - - 925,480 - 1,209,311 - - - 1,109,000 3,243,791 2.60 Korporasi - - 2,065,212 9,787 25,692,731 3,213,099 591,549 - 8,253,121 39,825,499 31.86 Retail - - - - 16,194,373 - 2,573 - 4,419,167 20,616,113 16.49 Kredit beragun rumah
tinggal - - - - 8,989,551 - - - 14,686 9,004,237 7.20 Kredit beragun properti
komersial - - - - 104,568 - - - 32,128 136,696 0.11 Lainnya - - 74,571 - 11,686,100 - - - 3,607,964 15,368,635 12.30 Jumlah 7,710,027 12,932,873 12,102,517 13,550 66,795,202 3,213,099 603,961 3,727,767 17,892,531 124,991,527 100.00
30 September 2011
Giro pada bank lain dan
BI
Penempatan pada bank lain
dan BI Efek-efek Tagihan derivatif Pinjaman yang diberikan Piutang premi dan aset
lain-lain Tagihan akseptasi Obligasi Pemerintah Komitmen dan kontinjensi
Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta Rp Juta %
Bank Indonesia 5,403,656 11,379,542 12,012,200 - - - - - - 28,795,398 24.56
Pemerintah - - - - - - - 4,454,783 - 4,454,783 3.80
Bank-bank 868,754 5,222,704 1,334,571 4,873 1,843,716 - 39,357 - 17,357 9,331,332 7.96 Entitas Sektor Publik - 387,430 726,036 - 1,371,124 - - - 1,373,915 3,858,505 3.29 Korporasi - - 2,147,715 63 17,651,764 1,977,989 463,241 - 3,743,327 25,984,099 22.16
Retail - - - - 25,416,421 - - - 7,826,084 33,242,505 28.35
Kredit beragun rumah
tinggal - - - - 8,761,307 - - - 16,788 8,778,095 7.49
Kredit beragun properti
komersial - - - - 813,059 - - - 149,654 962,713 0.82
Lainnya - - 23,014 - 1,388,628 - 1,251 - 421,990 1,834,883 1.57
Jumlah 6,272,410 16,989,676 16,243,536 4,936 57,246,019 1,977,989 503,849 4,454,783 13,549,115 117,242,313 100.00 31 Desember 2010
Jumlah
Manajemen Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.
Cakupan pengelolaan Manajemen Risiko Operasional di internal Panin Bank juga meliputi Risiko Lainnya yaitu Risiko Hukum, Risiko Stratejik, Risiko Reputasi dan Risiko Kepatuhan.
Pengelolaan risiko operasional ditujukan untuk mencegah dan meminimalkan dampak kerugian risiko operasional melalui upaya mitigasi risiko operasional antara lain meliputi :
a) Pengelolaan manajemen risiko operasional dilakukan melalui penggunaan Operational Risk Tools yang telah dikembangkan bekerja sama dengan Risk Taking Unit baik di Kantor Pusat maupun di Cabang yaitu:
- Loss Event Management (LEM) , yaitu tool yang digunakan untuk mengumpulkan data kerugian operasional pada masa lalu (loss event data base) dan digunakan untuk mengantisipasi risiko kerugian operasional agar tidak terulang kembali di masa mendatang.
- Risk & Control Self Assessment (RCSA), yaitu tool yang digunakan secara self assessment untuk mengidentifikasi potensi risiko pada setiap unit kerja yang ada di Kantor Pusat dan Kantor Cabang.
- Key Risk Indicators (KRI’s), yaitu tool yang digunakan untuk memantau parameter risiko tertentu terhadap limit yang telah ditetapkan untuk memperoleh indikasi awal atas potensi risiko yang mungkin terjadi berdasarkan analisa trend data yang telah mendekati/ melampaui limit yang telah ditetapkan.
- Risk Register Teknologi Informasi Tools ini digunakan secara self assesment untuk mengidentifikasi potensi risiko (aplikasi teknologi informasi yang dimiliki dan digunakan Bank). Agar Penggunaan Operational Risk Tools berjalan efektif, manajemen telah menunjuk Koordinator Risiko (KR) di setiap Unit Kerja yang ada di Kantor Pusat maupun Kantor Cabang yang tugasnya antara lain mengkoodinasikan pelaksanaan manajemen risiko operasional melalui penggunaan Operational Risk Tool (RCSA dan LEM). Selain itu, unit independen (Satuan Kerja Audit Intern/SKAI) melakukan review dan validasi terhadap hasil RCSA yang dilakukan unit kerja sehingga diperoleh hasil RCSA yang lebih akurat.
Hasil pengelolaan dan pemantauan risiko operasional dengan menggunakan operational risk tool, disampaikan kepada Komite Manajemen Risiko (KMR) dan IT Steering Committee secara periodik. b) Bank telah melakukan analisis, identifikasi dan validasi risk event pada unit kerja baru serta
melakukan pengkinian terhadap risk issue unit kerja lainnya sesuai kebutuhan.
- Bank telah melakukan proses analisa dan identifikasi risiko serta pengukuran dan pemantauan risiko yang melekat pada produk atau aktivitas baru / pengembangan yang diluncurkan oleh Sponsoring Unit.
- Bank telah menyusun laporan profil risiko Triwulan III 2011 (termasuk di dalamnya operasional dan risiko lainnya), sehingga diperoleh gambaran mengenai tingkat potensi risiko bagi Bank. - Bank telah melakukan perhitungan beban modal untuk risiko operasional dengan menggunakan
Pendekatan Indikator Dasar (PID) dengan faktor alpha 15 % sejak Januari 2011 pada perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bagi Bank sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
Risiko Hukum
Risiko Hukum adalah risiko akibat risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko hukum antara lain dipengaruhi oleh faktor-faktor kurangnya pemahaman atas produk yang dijual kepada nasabah, pengikatan dokumen legal yang lemah, konflik dengan pihak nasabah atau pihak lain yang tidak diselesaikan dengan baik dan keluhan nasabah yang tidak diselesaikan dengan memuaskan. Dalam mengelola risiko hukum, Bank memastikan bahwa pengikatan kredit telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan mengacu pada prinsip kehati-hatian dalam upaya melindungi kepentingan Bank.
Untuk memitigasi dan atau menangani gugatan hukum (litigasi), Satuan Tugas Khusus Kantor Pusat (STKP) bersama-sama unit kerja terkait ditugaskan manajemen menyelesaikan masalah - masalah hukum yang timbul dan mengadministrasikannya serta mencatat nilai perkara dan potensi kerugian.
Risiko Stratejik
Risiko stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Risiko stratejik antara lain dipengaruhi oleh faktor-faktor visi misi Bank, rencana strategis, target-target keuangan, perubahan kepemilikan, peluncuran produk/aktivitas baru dan perubahan eksternal. Sehubungan dengan hal di atas, bank telah membentuk, merumuskan, menyusun, dan memantau serta mengevaluasi implementasi strategi bisnis melalui business plan.
Risiko Reputasi
Risiko Reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank. Risiko reputasi antara lain dipengaruhi oleh faktor – faktor image bank, penyelesaian pengaduan nasabah yang tidak diselesaikan (buruk), pelayanan buruk terhadap nasabah atau pihak lain, konflik internal bank, harga saham dan lain-lain.
Bank melakukan manajemen risiko reputasi dengan menunjuk Pejabat yang bertugas mewakili manajemen dalam mediasi perbankan yaitu Corporate Secretary dan Kepala Biro Kepatuhan untuk memfasilitasi dan menyelesaikan setiap pengaduan dan penyelesaian pengaduan nasabah dalam proses mediasi. Selain itu Bank juga telah melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR) seperti program Reforest Indonesia (penanaman pohon), bantuan bencana alam maupun kegiatan sosial lainnya dan melaksanakan prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten. Pengelolaan risiko reputasi juga dilakukan dengan memantau publikasi negatif dan keluhan nasabah yang dimuat di media cetak baik surat pembaca maupun artikel (bad media report) dan keluhan nasabah yang disampaikan melalui call center.
Risiko Kepatuhan
Risiko Kepatuhan adalah risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang – undangan dan ketentuan yang berlaku. Ketidakmampuan Bank untuk mengikuti dan mematuhi seluruh peraturan perundangan yang terkait dengan kegiatan usaha Bank dapat berdampak terhadap kelangsungan usaha Bank.
Risiko kepatuhan yang melekat pada Bank terkait pada peraturan perundang-undangan, ketentuan kehati-hatian dan ketentuan lain yang berlaku, seperti :
Risiko kredit yang terkait dengan Ketentuan Kewajiban Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aktiva Produktif, Pembentukan Penyisihan Aktiva produktif (PPAP), dan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Risiko pasar terkait dengan ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN)
Risiko stratejik terkait dengan ketentuan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) Bank Risiko lain terkait dengan ketentuan eksternal.
Dalam mengelola manajemen risiko kepatuhan, Bank melakukan peningkatan budaya kepatuhan yang terus menerus dilakukan melalui program kepatuhan yaitu :
Pengkinian dan penatausahaan database kepatuhan.
Sosialisasi / pelatihan melalui regulation update dan in-class training. Uji kepatuhan terhadap produk baru, kebijakan baru dan aktivitas bank; Monitor pelaksanaan kepatuhan melalui compliance matrix
Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Teroris; Pelaporan kepatuhan
Manajemen Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko pada laporan posisi keuangan dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Pemantauan risiko pasar senantiasa dilakukan secara rutin dan berkala baik harian, mingguan hingga bulanan. Untuk meningkatkan fungsi pemantauan tersebut Bank telah menggunakan Guava Treasury System yang telah terintegrasi antara front office (dealer), middle office dan Back Office (settlement and control).
Risiko pasar dalam hal ini dibagi menjadi dua bagian :