Enterprise-Wide Risk Management
Bank Mandiri sejak tiga tahun terakhir berupaya mengembangkan suatu kerangka kerja guna dapat mengelola seluruh jenis risiko secara optimal. Sebagaimana definisi Basel, terdapat tiga jenis risiko yaitu market, kredit dan operasional. Pengembangan kerangka kerja pengelolaan ketiga risiko tersebut dilakukan secara simultan. Kerangka kerja tersebut berfungsi sebagai panduan dalam proses identifikasi, pengukuran, pengelolaan, mitigasi, monitoring ketiga jenis risiko di atas.
Kerangka yang disebut dengan
Enterprise-Wide Risk Management terdiri atas tiga
unsur, yaitu: risk governance, process dan
risk professional.
Risk Governance
Risk governance digunakan dalam
pengambilan keputusan strategis maupun operasional yang efektif dalam upaya memperoleh hasil yang maksimal bagi pemegang saham.
Struktur risk governance untuk pengambilan risiko yang ada saat ini terdiri atas:
1. Komite yang disebut Risk & Capital
Committee, yang dipimpin oleh
Direktur Utama dan terdiri dari manajemen senior mewakili semua unit kerja yang terkait dengan bisnis dan risk management. Komite ini menyetujui keputusan strategis seperti kebijakan pengelolaan risiko, kewenangan pemberian kredit, penetapan tingkat suku bunga kredit dan dana.
2. Managing Director Risk Management yang ditugaskan secara khusus dalam pengelolaan risiko bank dibantu oleh lima unit kerja (group).
3. Mekanisme pengelolaan risiko yang
efektif dengan penerbitan kebijakan, standar dan prosedur untuk memantau kegiatan bank.
Model & Process
Model digunakan sebagai panduan dan alat lain dalam pengambilan keputusan strategis, membantu proses kredit, investasi, penjaminan dan keputusan operasional.
Unit dalam kelompok Direktorat
Risk Management secara independen
melakukan penilaian risiko pada setiap usulan transaksi unit bisnis guna memastikan coverage risiko sudah dilakukan secara optimal dan berada di bawah limit risiko yang ditetapkan manajemen. Dengan demikian suatu keputusan khususnya kredit setidaknya harus melalui dua pihak yang secara independen memutus yaitu unit bisnis dan risk management unit.
Risk Professional
Bank Mandiri memahami diperlukannya kompentensi dan pengalaman bagi para tenaga profesionalnya di bidang
risk management.
New Basel Capital Accord
Basel Committee on Banking Supervision
telah mengeluarkan Basel Capital Accord pertama kali pada tahun 1988, yang disempurnakan pada tahun 1996, yang mengatur kecukupan modal minimum bank di seluruh dunia. Committee ini terus mengembangkan aturan baru dengan dihasilkan New Basel Capital Accord yang akan bersifat:
• lebih risk sensitive
• mengembangkan pendekatan pengelolaan risiko yang lebih baik • mengutamakan metodologi
internal bank
Manajemen Risiko
regulator dan transparansi profil risiko dan strategi mitigasi risiko.
Dalam kaitan dengan metodologi internal, Bank Mandiri mengembangkan internal model untuk pengukuran risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional. Tujuan kami adalah untuk mencapai tingkat kecukupan modal yang lebih efisien.
Action Plan Manajemen Risiko
Guna menerapkan mekanisme
manajemen risiko yang memadai dalam lingkup perusahaan diperlukan langkah-langkah berikut:
• Review dan penyempurnaan terus
menerus Kebijakan Manajemen Risiko dan kebijakan terkait lainnya.
• Melengkapi limit risiko transaksi atau produk yang belum tersedia termasuk kontrol atas aktivitas kredit dan operasional.
• Menyempurnakan metodologi, model serta proses pengukuran risiko • Membuat blueprint SIM risiko yang
terintegrasi untuk seluruh jenis risiko. • Memperbaiki sistim penerimaan dan
penempatan pegawai.
• Menyempurnakan sistim backup dan prosedur yang efektif dalam pemantauan risiko.
• Melakukan review kesesuaian proses dan output yang dihasilkan oleh sistim yang baru dengan kebijakan akuntansi yang berlaku.
Risiko Kredit
Bank Mandiri mengukur, memantau dan mengelola risiko untuk setiap debitur baik individual, sektor ekonomi maupun seluruh portofolio kredit. Selain penerapan sistem rating, scoring, RAPM dan RAROC, Bank Mandiri juga telah menetapkan standar dan prosedur pemberian kredit guna mendukung terciptanya suatu proses
pemberian kredit yang sehat dengan tetap mempertimbangkan risk dan return, yang pada akhirnya dapat mengoptimalkan laba untuk para pemegang saham. Kebijakan Kredit
Bank Mandiri memiliki kebijakan perkreditan yang merinci prosedur untuk melakukan analisa kredit, memberikan persetujuan kredit, melakukan pengawasan kredit dan melakukan restrukturisasi kredit. Kebijakan ini meliputi kegiatan untuk melakukan peninjauan secara berkala atas status kredit, melakukan diversifikasi portofolio, menghitung kecukupan agunan,
melakukan pengawasan internal dan penyempurnaan kebijakan perkreditan dalam rangka menciptakan pengelolaan kredit yang sehat.
Persetujuan Kredit
Pengelolaan risiko kredit diawali dengan penilaian atas aplikasi kredit oleh pejabat yang berwenang dari Unit Bisnis terkait. Setelah itu, seluruh permohonan kredit dan permohonan fasilitas lainnya, termasuk bank garansi dan Letter of
Credit harus disetujui oleh pejabat yang
berwenang dari Unit Risk Management. Keputusan kredit tidak dapat diberikan tanpa adanya persetujuan dari minimal 2 (dua) pejabat yang memiliki kewenangan memutus kredit yang setingkat dari Unit Bisnis dan Unit Risk Management yang ditentukan berdasarkan jenis dan besarnya kredit yang diajukan dan tingkat risiko dari nasabah.
Dalam menilai risiko kredit nasabah, Bank Mandiri telah mengimplementasikan
internal rating model dalam pemrosesan
kredit Corporate dan consumer scoring
(scorecard) dalam proses persetujuan
kredit konsumtif. Perangkat pengukuran risiko kredit tersebut disusun dan
dikembangkan dengan menggunakan pendekatan statistika matematis baku atas internal data dan eksternal data. Pemeringkatan risiko kredit nasabah dengan menggunakan pendekatan internal
rating model mencakup kriteria kuantitatif
dan kualitatif yang relevan terhadap bisnis nasabah yakni kondisi keuangan, kinerja pembayaran kewajiban kredit, tingkat risiko industri, kualitas manajemen dan prospek usaha serta faktor agunan nasabah. Perkiraan potensi kerugian
(expected loss) yang akan dialami Bank
ditentukan dengan memperhitungkan
probability of default, loss given default dan exposure at default yang dimiliki nasabah.
Untuk memberikan fleksibilitas bagi Bank, maturitas rating yang dimiliki suatu nasabah berlaku untuk satu tahun. Nilai EL yang menggambarkan tingkat risiko kredit nasabah selanjutnya diaplikasikan sebagai salah satu dimensi dalam penetapan tingkat kewenangan keputusan kredit. Di samping itu, nilai tersebut digunakan pula sebagai premi risiko dalam menghitung tingkat suku bunga yang dibebankan nasabah (risk-based
pricing). Terhadap nasabah Corporate yang
tidak dapat disusun peringkatnya (unrated
company), Bank Mandiri menggunakan
pendekatan analisa tradisional
(traditional analysis) dalam pengambilan
keputusan kredit.
Pada segmen kredit Consumer, consumer
scoring (scorecard) telah diaplikasikan
sebagai alat utama dalam pengambilan keputusan kredit. Kriteria pokok dalam scorecard antara lain mencakup faktor demografi, pendapatan nasabah dan agunan. Dalam aplikasi scorecard ini, Bank Mandiri menghindari penetapan kriteria-kriteria yang bersifat diskriminatif. Scorecard telah terintegrasi di dalam sistem pemrosesan aplikasi kredit (loan origination system) sehingga
memungkinkan Bank Mandiri untuk melakukan otomasi keputusan kredit, mempercepat waktu pemrosesan kredit dan menekan biaya pemrosesan. Bank Mandiri melakukan evaluasi dan
monitoring secara berkala terhadap
kinerja internal rating model dan
consumer scorecard untuk memastikan
akurasi dan penyempurnaan yang diperlukan yang disesuaikan antara lain kebijakan baru, kondisi makro ekonomi, perkembangan sektor-sektor industri, dan ketentuan Bank Sentral, dan lain-lainnya. Hasil evaluasi dan monitoring tersebut secara berkala diinformasikan kepada unit bisnis dan manajemen melalui Rating Outlook Report dan Credit
Risk Profile.
Guna melengkapi internal rating model dan consumer scoring, Bank telah memutuskan untuk mengembangkan
credit risk scoring untuk segmen small and medium enterprise (SME).
Sehubungan dengan hal tersebut, setelah suatu aplikasi kredit disetujui oleh Unit Bisnis dan Unit Risk Management, selanjutnya Unit Credit Operations sebagai unit kerja yang independen akan melakukan compliance review terhadap pemenuhan syarat-syarat kredit dan melaksanakan fungsinya dalam melakukan pengikatan, verifikasi agunan administrasi kredit dan pelaporan kredit. Pengawasan Kredit
Semua kredit yang diberikan akan dimonitor secara berkala oleh unit bisnis yang terkait, melalui pemantauan aktifitas rekening nasabah dengan melihat status pembayaran bunga dan atau cicilan pokoknya. Penilaian kembali seluruh fasilitas kredit yang telah diberikan dilakukan setiap semester dengan
melibatkan unit bisnis dan unit credit risk management yang terkait. Monitoring kredit yang dilakukan ini bertujuan mendeteksi secara dini (early warning) gejala memburuknya suatu fasilitas kredit sehingga dapat diambil langkah-langkah yang diperlukan.
Risiko Operasional
Bank Mandiri dalam mengelola risiko operasional, saat ini mengembangkan
ORM Tools, yang didukung oleh
suatu sistem informasi manajemen risiko yang terpadu. ORM Tools yang digunakan adalah:
1. Corporate Loss Database, yaitu sarana yang digunakan untuk mengadministrasikan data-data kejadian atau kerugian yang disebabkan oleh risiko operasional.
2. Risk Self Assessment, yaitu sarana yang digunakan oleh unit-unit kerja untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memitigasi sumber-sumber risiko operasional secara mandiri.
3. Key Risk Indicators, yaitu sarana yang digunakan untuk memonitor indikator risiko-risiko utama khususnya yang terkait dengan sistem, proses, manusia dan faktor eksternal, agar senantiasa berada pada tingkat risiko yang dapat diterima oleh bank.
4. Key Operational Risk Control, yaitu sarana yang digunakan untuk memastikan bahwa bank telah memiliki kontrol yang cukup dan memadai dalam setiap proses kegiatan yang dilakukan untuk menghindari risiko-risiko operasional yang dapat merugikan bank.
5. Other Risk Approval Process, yaitu sarana yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap produk dan aktivitas baru serta perubahan-perubahannya sebelum diluncurkan/
Manajemen Risiko
diterapkan telah melalui proses evaluasi yang cukup untuk memastikan bahwa Risiko atas produk dan aktivitas baru tersebut acceptable.
6. Business Continuity Plan, merupakan pedoman dan prosedur tertulis yang berisikan langkah-langkah yang harus diambil oleh bank untuk tetap dapat menjalankan kegiatan operasionalnya dalam situasi atau keadaan darurat, yang untuk tingkat unit kerja dinamakan Disaster Recovery
Plan (DRP).
Risiko Pasar
Eksposur risiko pasar Bank Mandiri merupakan fungsi dari kegiatan pengelolaan aktiva & pasiva, kegiatan trading baik atas risiko sendiri maupun nasabah, dan atas peran Bank Mandiri sebagai perantara transaksi keuangan nasabah.
Proses manajemen risiko pasar meliputi: • Pengawasan oleh Komite Risiko dan
Modal (Risk and Capital Committee) dan Direksi.
• Fungsi pengawasan risiko pasar yang independen dalam Direktorat Manajemen Risiko.
• Proses pengukuran risiko pasar secara efektif.
• Penentuan limit risiko pasar dan proses pemantauan.
• Pengawasan efektif terhadap proses dan metode pengendalian risiko yang digunakan.
• Kerangka simulasi dan stress test untuk skenario kondisi terburuk.
Disamping itu, kami juga memantau perkembangan metodologi dan praktek manajemen risiko pasar dalam industri perbankan dan melakukan perbaikan sesuai kebutuhan. 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 0 (100.000) (200.000) (300.000) (400.000) (500.000) (600.000) P&L VaR (Rp million) (2003) 18 D ec 4 D ec 20 N ov 6 N ov 23 O ct 9 O ct 25 S ep 11 S ep 28 A ug 14 A ug 31 J ul 17 Ju l 3 J ul 19 Ju n 5 J un 22 M ay 8 M ay 24 A pr 10 A pr 27 M ar 13 M ar 27 F eb 13 F eb 30 J an 16 J an 2 J an
Gambaran VaR Tahun 2003
(Rp miliar)
Value at Risk 2003 Tertinggi Terendah Rata-rata
2003
2002
Risiko Nilai Tukar 86,99 86,99 0,55 77,47 91,39
Risiko Suku Bunga 528,43 528,43 23,33 286,37 24,20
Total VaR 528,62 528,62 86,20 305,31 91,31
Risiko Trading
Sesuai dengan ketentuan Basel, Bank Mandiri telah menerapkan pengukuran risiko pasar dengan menggunakan metode Value at Risk (VaR). Perhitungan VaR dilakukan atas portofolio trading dan available for sale (AFS) dengan menggunakan confidence level 99% dan holding period 1 (satu) hari, yang menggunakan pendekatan
variance covariance.
Metode VaR pada dasarnya mempertim-bangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Posisi dari instrumen yang
ditransaksikan (dalam hal ini posisi trading maupun AFS).
2. Prakiraan fluktuasi (volatilitas) harga pasar.
3. Holding period.
4. Korelasi antara instrumen-instrumen yang dikelola.
Mengingat eksposur Bank Mandiri sebagian besar adalah instrumen domestik maka sumber data utama untuk pengukuran risiko ini menggunakan tingkat harga pasar domestik. Proses tersebut termasuk melakukan penilaian secara berkala terhadap kualitas data pasar, agar akurasi data pasar dan perhitungan VaR dapat terjaga. Saat ini, Bank Mandiri hanya memiliki eksposur FX dan Interest Rate dan tidak memiliki eksposur pada untuk komoditas maupun ekuitas, oleh sebab itu tidak masuk dalam penghitungan VaR.
Market Risk Group menyajikan laporan
VaR secara harian, mingguan, dan bulanan untuk seluruh produk keuangan yang diperdagangkan.
Risk and Capital Committee memberikan
persetujuan limit VaR untuk seluruh unit yang terkait dengan aktivitas risiko pasar. Selain itu juga limit open position, untuk memberikan peringatan dini kepada manajemen kemungkinan terjadinya kerugian potensial.
Untuk mengevaluasi tingkat validitas metodologi VaR, Market Risk Group melakukan back testing dengan membandingkan nilai VaR harian dan realisasi pendapatan terhadap posisi eksposur yang didasarkan pada mark to
market secara harian untuk periode 1
tahun lebih. Dari hasil back testing, terjadi 2 kali nilai P/L (dari 250 hari pengamatan) melampaui VaR atau tingkat kesalahannya dibawah 0,8%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa model VaR yang digunakan cukup akurat.
Untuk melengkapi pengukuran VaR, Bank telah melakukan analisa stress testing yang mengukur potensi kerugian Bank dalam situasi pasar yang abnormal.
Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia dalam perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum, Bank telah memasukkan unsur market risk dengan menggunakan metode standard model. Posisi Devisa Neto (Net Open Position)
Bank Mandiri mematuhi ketentuan Bank Indonesia untuk memelihara posisi devisa neto gabungan (cabang dalam dan luar negeri) dalam semua valuta asing tidak melampaui 20% dari Modal Tier I dan Modal Tier II. Per 31 Desember 2003, posisi devisa neto valuta asing Bank Mandiri sebesar 2,85% dari modal. Risiko Suku Bunga
Pasiva Bank Mandiri yang sensitif terhadap suku bunga didominasi oleh Dana Pihak Ketiga (giro, deposito dan tabungan) dan aktiva yang sensitif terhadap suku bunga didominasi oleh Obligasi Pemerintah dan kredit.
Sarana utama untuk mengukur eksposur risiko suku bunga adalah Repricing
Gap Analysis, yang memberikan
gambaran kondisi statis dan dinamis atas karakteristik jatuh tempo dan tanggal penetapan suku bunga (repricing) posisi neraca bank.
Pengukuran dan Penentuan Limit Metodologi utama dalam pengelolaan risiko suku bunga adalah repricing gap
analysis, yaitu suatu metode untuk
mengukur pengaruh perubahan suku bunga terhadap pendapatan bunga bank. Limit repricing gap ditetapkan dan direview oleh Komite Risiko dan Modal
(Risk and Capital Committee) setahun
sekali sebagai rambu-rambu dalam melakukan aktivitas yang menimbulkan risiko pasar. Limit tersebut ditetapkan untuk membatasi risiko suku bunga yang mungkin timbul akibat perubahan suku bunga yang berlawanan dengan prediksi bank. Komite Risiko dan Modal (Risk and
Capital Committee) memastikan bahwa
limit tersebut dipatuhi dan apabila terjadi
pelanggaran maka akan dikendalikan dengan segera secara efektif.
Pada akhir Desember 2003, diprediksikan untuk periode 12 bulan ke depan, bank akan memiliki negative repricing gap sebesar Rp4,23 triliun atau 1,87% dari
Total Earning Asset, masih dalam batas
limit internal (20% EA sebesar Rp45,28 triliun). Apabila terjadi perubahan suku bunga sebesar 1% maka akibat negatif gap tersebut akan mempengaruhi pendapatan bunga bersih maksimum 0,15% dari target.
Bank Mandiri juga menggunakan indikator lain untuk mengukur risiko suku bunga berdasarkan kondisi statis yang disebut interest rate red flags. Interest
rate red flags terdiri atas beberapa rasio
yang memberi peringatan dini apabila terjadi pelanggaran limit internal.
Red flags menggambarkan realisasi
pendapatan bunga bersih dan perkiraan dampak perubahan tingkat suku bunga terhadap pendapatan bunga bersih. Bank Mandiri juga mengembangkan suatu model yang memungkinkan untuk melakukan penilaian lebih akurat atas dampak perubahan yang tingkat suku bunga terhadap nilai modal (market value
of equity) dengan menggunakan metode duration gap analysis.
Risiko Likuiditas
Manajemen risiko likuiditas adalah salah satu fokus penting bagi Bank Mandiri dalam manajemen risiko dalam rangka memelihara kepercayaan nasabah dan menjaga stabilitas pendapatan. Untuk memastikan Bank dapat
memenuhi kewajiban finansialnya, Bank Posisi Devisa Neto Valuta Asing per
31 Desember 2003 sebesar 2,85% dari modal
Bank Mandiri akan memiliki negative
repricing gap sebesar Rp4.23 triliun
atau 1,87% dari Total Earning
Asset—masih dalam batas limit
internal sebesar Rp45.28 triliun atau 20% dari Earning Asset
Manajemen Risiko
memelihara sejumlah aset likuid dan sumber pendanaan dari pasar secara mencukupi dan mudah dipergunakan. Untuk mengelola risiko likuiditas secara lebih efektif, kami mengembangkan kerangka manajemen risiko likuiditas yang meliputi:
• kebijakan likuiditas, yang disetujui oleh Komite Risiko dan Modal (Risk and
Capital Committee);
• prosedur pengelolaan likuiditas dan limit likuiditas, ditetapkan oleh Market Risk
Group dan disetujui oleh Komite Risiko
dan Modal (Risk and Capital Committee); • pengelolaan likuiditas harian, merupakan
tanggung jawab Treasury Group; • proses dan model yang efektif dalam
pengelolaan dan pemantauan likuiditas; • stress testing dan simulasi likuiditas; dan
• rencana kontinjensi likuiditas (liquidity
contingency plans).
Pengukuran dan Penentuan Limit Bank Mandiri menggunakan metodologi terbaik (best practice) dalam pengelolaan risiko likuiditas dan pendanaan yaitu liquidity gap, digunakan untuk memproyeksikan kelebihan/kekurangan likuiditas yang dapat dialami Bank, dengan memperhitungkan pengembangan bisnis Bank dan faktor-faktor eksternal. Metodologi lain yang digunakan dalam pengendalian risiko adalah indikator-indikator yang menghitung risiko berdasarkan posisi statis, yang dikenal sebagai liquidity red flags. Liquidity red
flags terdiri atas beberapa rasio likuiditas
yang memberikan peringatan dini apabila terjadi pelanggaran limit tersebut.
Red flags meliputi cadangan primer,
cadangan sekunder, konsentrasi sumber dana, pinjaman antar bank, rasio kredit
terhadap dana pihak ketiga dan maximum
cummulative outflow.
Cadangan primer terdiri dari Giro Wajib Minimum (GWM) dan Kas. Peraturan Bank Indonesia mensyaratkan bank untuk memelihara cadangan wajib secara harian dalam bentuk giro wajib minimum (GWM) pada Bank Indonesia minimum 5% dari dana pihak ketiga Rupiah (tidak termasuk pinjaman dari bank lain) dan minimum 3% dari dana pihak ketiga valuta asing (termasuk pinjaman dari bank lain). Peraturan Bank Indonesia tidak mengatur mengenai jumlah minimum aset likuid yang harus dikelola Bank. Per Desember 2003, Bank mencatat posisi GWM Rupiah sebesar 6,65% dan GWM valuta asing sebesar 3,01%.
Aset likuid yang dimiliki Bank terdiri atas penempatan pada bank lain, Sertifikat Bank Indonesia, Giro pada BI dan Kas. Kami dapat memenuhi kebutuhan dana jangka pendek dengan bersumber pada kelebihan di atas rekening GWM, penjualan SBI atau pinjaman antar bank. Bank Mandiri menjaga posisi likuiditas dengan memelihara sejumlah asset likuid yang diperhitungkan dapat mencukupi penarikan dana deposan maupun kebutuhan kredit debitur. Pengelolaan likuiditas Bank juga ditujukan untuk memastikan bahwa setiap negative
liquidity gap yang timbul dapat dijaga pada
tingkat dimana Bank dapat memenuhi kebutuhan dana tersebut. Per Desember 2003, Bank memiliki cadangan sekunder dalam bentuk SBI dan penempatan di bank lain sebesar Rp18,2 triliun, setara dengan 7,4% dari total asset Bank sebesar Rp245,8 triliun.
Bank memiliki cadangan sekunder dalam bentuk: • SBI
• Penempatan di bank lain sebesar Rp18,2 triliun—setara dengan 7,4% dari Total Asset
• Chief Technology Officer & Senior Executive Vice President Information & Technology Bank Mandiri sejak Oktober 2003
• Executive Vice President Information Technology Bank Mandiri (Agustus 2001–Oktober 2003) • Senior Vice President/Head
of Technology Bank Mandiri (2000–Agustus 2001)
• Direktur Bank Niaga (1999–2000) • Senior Vice President
Information & Technology Bank Niaga (1995–1999) • Direktur PT Mitra Info
Konsultasi (1991–1995)
• Vice President Technology Planning PT Swadharma Duta Data (1987–1990) • Account Manager Industri
Keuangan PT Daeng Brothers (1984–1986)
Andreas E. Susetyo CTO & SEVP