• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN RISIKO

Dalam dokumen PT BANK RAKYAT INDONESIA AGRONIAGA Tbk (Halaman 73-90)

Liabilitas 30 September 2015 31 Desember 2014

31. MANAJEMEN RISIKO

Meningkatnya kebutuhan pengelolaan Bank yang sehat dan terpadu (Good Corporate Governance) memerlukan penerapan manajemen risiko yang terpadu dan komprehensif. Dalam rangka mencapai manajemen risiko yang mendukung pencapaian target kinerja dan mampu menjaga kelangsungan usaha, diperlukan strategi manajemen risiko yang proaktif yang dapat meningkatkan efektivitas penggunaan modal dan gtingkat pengembangan modal (Return On Equity/ROE) sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, mengantisipasi ketentuan baru yang mengarah pada best practice, meningkatkan kepercayaan pemegang saham dan stakeholders lainnya serta meningkatkan bisnis pada tingkat optimal.

Untuk mencapai tujuan di atas dan sejalan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 mengenai Perubahan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum serta Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, perlu dibangun kesadaran dan budaya manajemen risiko terpadu (integrated risk culture) dan difokuskan pada efektivitas penerapan tata kelola dan kerangka kerja manajemen risiko meliputi pengawasan aktif manajemen bank, kecukupan kebijakan dan prosedur serta penetapan limit risiko, proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko bank serta integrasinya sistem informasi di Bank.

Penerapan manajemen risiko di Bank telah dituangkan dalam beberapa kebijakan dan prosedur, antara lain Kebijakan Umum Manajemen Risiko (KUMR). KUMR berperan sebagai aturan tertinggi dalam implementasi manajemen risiko pada seluruh kegiatan bisnis Bank, dimulai dari kebijakan, strategi, organisasi, sistem informasi manajemen risiko, pengawasan risiko, pengelolaan produk dan aktivitas baru dan Business Continuity Plan (BCP). Proses penerapan manajemen risiko yang

meliputi identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengelolaan dan pengendalian terhadap 8 (delapan) risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko kepatuhan, risiko strategi, risiko hukum dan risiko reputasi.

Penilaian Profil Risiko sesuai dengan PBI No.13/1/PBI/2011 tanggal 05 Januari 2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan SE BI No. 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 5/21/DPNP perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum dilakukan terhadap risiko yang melekat (inherent risk) dan kualitas penerapan manajemen risiko melalui proses self asessment pada seluruh aktivitas bisnis bank yang mencakup 8 (delapan) risiko.

Penerapan manajemen risiko melibatkan semua unsur dalam Bank, dimana Dewan Komisaris dan Direksi mempunyai tugas memastikan penerapan manajemen risiko telah memadai sesuai dengan karakteristik, kompleksitas, dan profil risiko Bank serta memahami dengan baik jenis dan tingkat risiko yang melekat pada kegiatan bisnis Bank.

Dewan Komisaris melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan implementasi manajemen risiko yang dilakukan oleh Direksi. Evaluasi dilakukan dalam rangka memastikan bahwa Direksi mengelola aktivitas dan risiko-risiko Bank secara efektif. Dalam melakukan pengawasan aktif terhadap manajemen risiko Bank, Dewan Komisaris dibantu oleh Komite Pemantau Risiko (KPR). Direksi menentukan arah kebijakan dan strategi manajemen risiko secara komprehensif beserta implementasinya. Selain itu Direksi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh risiko yang material dan dampak yang ditimbulkan oleh risiko yang dimaksud telah ditindaklanjuti, termasuk pelaksanaan langkah-langkah perbaikan atas permasalahan atau penyimpangan dalam kegiatan usaha Bank yang ditemukan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).

Direksi Bank dibantu oleh Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee/RMC) sebagai komite tertinggi dalam dalam system manajemen risiko Bank. Komite Manajemen Risiko mempunyai tugas dan tanggung jawab memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama dalam merumuskan kebijakan, strategi manajemen risiko termasuk penetapan limit serta memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan manajemen risiko yang dilakukan secara berkala maupun insidential sebagai akibat dari perubahanm kondisi eksternal dan internal Bank yang akan mempengaruhi kecukupan permodalan dan profil risiko,

Manajemen Risiko Kredit

Penerapan manajemen risiko kredit dilakukan dengan upaya:

Pemisahan pejabat kredit Relationship Management (RM) dan Credit Risk Management (CRM)

serta pemisahan pengelolaan kredit lancar (performing) dengan pengelolaan kredit bermasalah sebagai penerapan four eyes principles dan dimaksudkan agar pengelolaan risiko dalam aktivitas perkreditan dapat dilaksanakan secara lebih baik tanpa menganggu proses bisnis yang berorientasi pertumbuhan bisnis yang sehat. Pejabat kredit lini diberikan batas kewenangan memutus kredit yang dituangkan dalam surat keputusan dimana kewenangannya ditetapkan berdasarkan integritas, kemampuan dan kompetensi serta pengalaman di bidang perkreditan dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sehingga proses pemberian kredit akan dilaksanakan lebih obyektif dan komprehensif dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.

Penerapan Credit Risk Rating (CRR) dan Credit Risk Scoring (CRS) sebagai alat untuk

 Penetapan prosedur perkreditan yang sehat melalui penetapan Pasar Sasaran (PS), Kriteria Risiko yang Dapat Diterima (KRD).

 Pengendalian risiko, yaitu dengan cara melakukan pembatasan eksposur dan tindakan

perbaikan sehingga kerugian yang mungkin terjadi dapat diminimalkan.

Menerapkan Early Warning System (EWS) sebagai salah satu alat pemantauan (credit

monitoring) dengan cara mendeteksi secara lebih awal debitur yang berpotensi cidera janji (default).

(i) Analisa eksposur maksimum terhadap risiko kredit setelah memperhitungkan dampak agunan dan mitigasi risiko kredit lainnya:

Nilai tercatat dari aset keuangan Bank selain kredit yang diberikan menggambarkan eksposur maksimum atas risiko kredit.

Untuk kredit yang diberikan, Bank menggunakan agunan untuk meminimalkan risiko kredit. Berdasarkan klasifikasi, portofolio kredit Bank dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:

(a) Secures loans

(b) Partially secured loans

Untuk secured loans, Bank menetapkan jenis dan nilai agunan yang dijaminkan sesuai dengan skema kredit dan perkiraan tingkat risiko kredit dari counterparty sebagai second way out yang ditetapkan. Jenis dari agunan terdiri dari:

(a) Physical collateral berupa tanah dan bangunan, BPKB kendaraan bermotor, property, dan lain-lain.

(b) Financial collateral berupa simpanan (tabungan, giro dan deposito), surat berharga, dan lain-lain

(c) Lainnya berupa garansi, jaminan pemerintah, lembaga penjamin, dan lain-lain

Partially secured loans merupakan kredit yang diberikan untuk skema kredit tertentu yang telah melalui uji kelayakan sehingga walaupun tidak sepenuhnya dijamin oleh agunan, namun telah dilakukan mitigasi yang diperlukan sehingga kemampuan pengembaliannya dapat dipastikan.

Pemberian kredit yang dilaksanakan oleh Bank diatur dalam kebijakan dan prosedur perkreditan dimana untuk setiap jenis atau skema kredit yang telah ditentukan agunan minimal yang harus dipenuhi.

Aguanan tersebut diikat sesuai dengan ketentuan perkreditan sehingga risiko kredit dapat diminimalkan apabila debitur mengalami kegagalan dalam pembayaran kembali (wanprestasi) dikemudian hari.

Selain aspek agunan untuk meminimalkan risiko kredit, pemerian kredit oleh Bank selalu dilakukan berdasarkan evaluasi dan analisa kelayakan sehingga kemampuan pengembalian kredit (first way out) dapat dipastikan. Setiap pengajuan kredit wajib melalui proses pre screening yaitu melalui system scoring untuk kredit konsumtif dan memlaui system rating untuk kredit komersil.

Adanya keharusan bagi debitur untuk memenuhi agunan yang dipersyaratkan, evaluasi atas kelayakan kredit secara legal dan prosedur pre screening akan menurunkan net eksposur Bank ke tingkat yang layak dan dapat diterima.

(ii) Kualitas aset keuangan

Tabel berikut menunjukkan kualitas kredit berdasarkan golongan aset untuk semua aset keuangan yang mempunyai risiko kredit (diluar cadangan kerugian penurunan nilai):

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan Nilai

Mengalami Penurunan Nilai

Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif

Kredit Individual)

Giro pada bank Indonesia 416,237,390 - 416,237,390 Giro pada bank lain 126,088,549 126,088,549

713,496,966

- 713,496,966 Efek efek -Nilai wajar melalui laporan laba rugi 135,842,113 135,842,113 Tersedia untuk dijual 450,453,015 450,453,015 Dimiliki hingga jatuh tempo 63,311,837 63,311,837 Tagihan wesel ekspor Tersedia untuk dijual -Dimiliki hingga jatuh tempo Tagihan Derifatif Konsumer 772,165,734 159,037 20,591,872 12,022,743 804,939,385 Ritel 1,183,029,897 14,641,237 43,511,518 127,087,576 1,368,270,229 Menengah 3,313,571,979 74,598,285 64,664,307 3,452,834,571 Tagihan akseptasi 38,123,835 38,123,835 Penyertaan saham *) 297,658 297,658 Aset lain-lain **) 12,063,023 539,448 12,602,471 7,186,260,504 53,761,215 138,701,675 203,774,626 7,582,498,019 Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

Kredit yang diberikan dan piutang dan pembiayan syariah

30 September 2015

Belum Jatuh Tempo dan Tidak Mengalami

Penurunan Nilai Total

Penempatan pada bank Indonesia dan bank lain

Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan

Nilai

Mengalami Penurunan Nilai

Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif Kredit Individual)

Giro pada bank Indonesia 374,577,940 - 374,577,940

Giro pada bank lain 43,691,045 43,691,045

571,720,981

- 571,720,981

Efek efek

-Nilai wajar melalui laporan laba rugi 70,333,307 70,333,307

Tersedia untuk dijual 520,257,226 520,257,226

Dimiliki hingga jatuh tempo 54,513,597 54,513,597 Tagihan wesel ekspor -

Tersedia untuk dijual

-Dimiliki hingga jatuh tempo

Tagihan derivatif Konsumer 906,350,430 3,958,914 6,880,616 50,303,951 967,493,911 Ritel 641,755,485 9,440,980 31,200,522 51,460,643 733,857,629 Menengah 2,862,900,898 0 12,720,775 117,606,997 2,993,228,669 Tagihan akseptasi - 22,419,241 22,419,241 Penyertaan saham *) 297,658 297,658 Aset lain-lain **) 10,059,431 2,047,246 12,106,677 6,056,160,338 38,164,038 50,801,914 219,371,591 6,364,497,880 31 Desember 2014

Belum Jatuh Tempo dan Tidak Mengalami

Penurunan Nilai Total

Penempatan pada bank Indonesia dan bank lain

Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

Kredit yang diberikan dan piutang dan pembiayan syariah

*) Penyertaan saham merupakan penyertaan saham dengan metode biaya **) Aset lain-lain terdiri atas piutang bunga dan piutang lain-lain

Kualitas kredit didefinisikan sebagai berikut: Tingkat tinggi

(a) Giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain yaitu giro atau penempatan pada institusi Pemerintah, institusi Pemerintah Daerah, bank yang terdaftar di bursa serta transaksi dengan bank yang memiliki reputasi baik dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang rendah.

(b) Efek-efek dan obligasi Pemerintah yaitu efek yang dikeluarkan oleh Pemerintah, efek-efek dan obligasi yang termasuk dalam investment grade dengan rating minimal idBBB (Pefindo), BBB+ (S&P), Baa1 (Moody’s) atau BBB+ (Fitch).

(c) Kredit yang diberikan yaitu kredit kepada debitur dengan riwayat pembayaran yang sangat baik dan tidak pernah menunggak sepanjang jangka waktu kredit; debitur dengan riwayat tidak pernah di restrukturisasi, debitur dengan tingkat stabililitas dan keragaman yang tinggi; memiliki akses setiap saat untuk memperoleh pendanaan dalam jumlah besar dari pasar terbuka; memiliki kemampuan membayar yang kuat dan rasio-rasio neraca yang konservatif.

(d) Tagihan akseptasi merupakan transaksi letters of credit (L/C) atau Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) yang diaksep oleh bank pengaksep dengan sumber pembayaran dari debitur. Debitur yang masuk dalam kategori ini mempunyai riwayat pembayaran yang sangat baik antara lain institusi Pemerintah, institusi Pemerintah Daerah dengan dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang rendah.

(e) Penyertaan saham adalah investasi bank pada entitas lain dengan kepemilikan dibawah 20%. Entitas tersebut merupakan institusi Pemerintah atau institusi Pemerintah Daerah. (f) Aset lain-lain yaitu piutang bunga kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah seperti

Pendapatan Bunga yang Masih Harus Diterima (PYMHD) atas obligasi Pemerintah dan piutang lainnya.

Tingkat standar

(a) Giro pada bank lain, penempatan pada bank lain yaitu giro atau penempatan pada bank yang tidak terdaftar di bursa.

(b) Efek-efek dan obligasi yaitu efek-efek dan obilgasi yang termasuk dalam non-investment

grade dengan rating minimal idBB (Pefindo), BBB- (S&P), Baa3 (Moody’s) atau BBB-

(Fitch).

(c) Kredit yang diberikan yaitu kredit kepada debitur dengan riwayat pembayaran yang baik; debitur dengan riwayat pernah direstrukturisasi, akses terbatas untuk memperoleh pendanaan dalam jumlah besar dari pasar terbuka; tingkat pendapatan dan kinerja keseluruhan tidak stabil; memiliki kemampuan membayar yang cukup.

(d) Tagihan akseptasi merupakan transaksi letters of credit (L/C) atau Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) yang diaksep oleh bank pengaksep dengan sumber pembayaran dari debitur. Debitur yang masuk dalam kategori ini selain dari institusi Pemerintah atau institusi Pemerintah Daerah dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang cukup.

(e) Penyertaan saham adalah investasi bank pada entitas lain selain Pemerintah dengan kepemilikan dibawah 20%.

(f) Aset lain-lain yaitu aset keuangan lainnya selain piutang bunga kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah seperti tagihan rupa-rupa kepada pihak ketiga lainnya.

Berdasarkan PSAK No 60, aset keuangan yang telah jatuh tempo ditentukan ketika debitu gagal melakukan pembayaran sesuai jadwal. Tabel di bawah menunjukkan aging analysis terhadap kredit yang diberikan, yang telah jatuh tempo tetapi tidak mengalami penurunan nilai:

Kurang dari 30 hari 31 s.d. 60 hari 61 s.d. 90 hari Total Kredit yang diberikan

Konsumer 5,732,464 6,117,383 8,742,025 20,591,872 Ritel 19,436,534 8,802,344 15,272,641 43,511,518 Menengah 74,598,285 - - 74,598,285 Total 99,767,282 14,919,727 24,014,666 138,701,675

Kurang dari 30 hari 31 s.d. 60 hari 61 s.d. 90 hari Total Kredit yang diberikan

Konsumer 3,852,134 1,899,095 1,129,387 6,880,616 Ritel 13,045,529 12,187,067 5,967,927 31,200,522 Menengah 12,720,775 - 12,720,775 Total 29,618,438 14,086,162 7,097,314 50,801,914 31 Desember 2014 30 September 2015

(iii) Analisa Konsentrasi Risiko. (a) Sektor geografis

Tabel berikut menggambarkan rincian eksposur kredit yang dikategorikan berdasarkan wilayah geografis pada tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014. Pengelompokan wilayah geografis berdasarkan tempat beroperasinya bisnis Bank yang sekaligus menggambarkan potensial bisnis wilayah masing-masing:

Jabodetabek Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Indonesia Tengah Total Aset

Giro pada Bank Indonesia 416,237,390 416,237,390

Giro pada bank lain 120,541,884 39,427 569,059 331,670 2,026,474 2,580,034.49 126,088,549 Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 713,496,966 713,496,966

Efek-efek

-Nilai wajar melalui laporan laba rugi 135,842,113 135,842,113

Tersedia untuk dijual 450,453,015 450,453,015

Dimiliki hingga jatuh tempo 63,311,837 63,311,837

Tagihan wesel ekspor

Kredit yang diberikan

Konsumer 214,725,857 141,183,286 20,610,001 17,413,825 376,177,016 34,829,400 804,939,385 Ritel 323,116,253 14,728,774 85,343,976 132,229,101 441,885,443 370,966,682 1,368,270,229 Menengah 2,134,663,997 93,754,516 59,867,899 425,512,737 432,936,235 306,099,187 3,452,834,571 Tagihan akseptasi 38,123,835 38,123,835 Penyertaan saham 297,659 297,659 Aset lain-lain *) 12,444,661 8,659 8,524 1,215 98,613 40,800 12,602,471 Total 4,623,255,466 249,714,662 166,399,459 575,488,548 1,253,123,781 714,516,104 7,582,498,020

Penyisihan kerugian penurunan nilai (141,594,922)

Neto 7,440,903,098

Rekening Administratif

21,562,456

21,562,456

Garansi yang diterbitkan 8,125,536 7,200,659 1,496,869 16,823,065 Kelonggaran tarik 256,383,023 1,711,794 6,427,195 174,031,274 264,586,137 29,823,025 732,962,448

286,071,016

8,912,453 6,427,195 174,031,274 266,083,006 29,823,025 771,347,968 30 September 2015

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

L/C yang tidak dapat dibatalkan yang masih berjalan dalam rangka impor

Jabodetabek Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Indonesia Tengah Total Aset

Giro pada Bank Indonesia 374,577,940 374,577,940 Giro pada bank lain 42,196,115 49,262.93 421,108.29 26,578.91 863,958 134,021 43,691,045 Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 571,720,981 571,720,981 Efek-efek -Nilai wajar melalui laporan laba rugi 70,333,307 70,333,307 Tersedia untuk dijual 520,257,226 520,257,226 Dimiliki hingga jatuh tempo 54,513,597 54,513,597 Tagihan wesel ekspor - Kredit yang diberikan -Konsumer 331,948,548 116,968,303 25,646,714 29,034,888 373,948,665 89,946,837 967,493,955 Ritel 142,807,716 26,953,940 55,289,547 79,377,298 378,750,569 50,678,560 733,857,630 Menengah 1,869,364,334 61,007,776 90,310,804 435,228,247 487,915,111 49,402,398 2,993,228,670 Tagihan akseptasi 22,419,241 22,419,241 Penyertaan saham 297,658 297,658 Aset lain-lain *) 11,715,025 - 5,429 1,215 381,141 3,868 12,106,677 Total 4,012,151,687 204,979,282 171,673,602 543,668,227 1,241,859,444 190,165,684 6,364,497,926 Penyisihan kerugian penurunan nilai (100,904,246)

Neto 6,263,593,680

Rekening Administratif

18,873,873

7,953,647.50 26,827,520 Garansi yang diterbitkan 56,305,185 20,364,937 841,611 12,991 77,524,724 Kelonggaran tarik 78,163,377 1,684,236 41,373,023 8,534,631 64,714,816 4,725,175 199,195,258

153,342,435

22,049,173 41,373,023 8,534,631 73,510,074 4,738,166 303,547,502

31 Desember 2014

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

L/C yang tidak dapat dibatalkan yang masih berjalan dalam rangka impor

*) Aset lain-lain terdiri dari piutang bunga dan piutang lain-lain

(b) Sektor industri

Tabel berikut menggambarkan rincian eksposur kredit pada nilai tercatat yang dikategorikan berdasarkan sektor industri pada tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014:

Pemerintah (termasuk Bank Indonesia

Bank dan lembaga

keuangan lainnya Pertanian Perindustrian

Perdagangan Hotel

& Restoran Jasa Dunia Usaha Lain-lain

Total Aset

Giro pada Bank Indonesia 416,237,390 416,237,390

Giro pada bank lain 126,088,549 126,088,549

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain 713,496,966 713,496,966 Efek-efek

Nilai wajar melalui laporan laba rugi 135,842,113 135,842,113 Tersedia untuk dijual 246,561,382 203,891,633 450,453,015

Dimiliki hingga jatuh tempo 63,311,837 63,311,837

Tagihan wesel ekspor

Kredit yang diberikan

Konsumer - 179,908,100 1,342,874 4,886,416 16,333,552 602,468,444 804,939,385 Ritel 2,393,917 743,971,632 85,397,756 292,044,911 206,063,817 38,398,197 1,368,270,229 Menengah 283,955,733 69,539,762 987,400,944 503,106,866 663,704,886 931,535,356 13,591,023 3,452,834,571 Tagihan akseptasi 38,123,835 38,123,835 Penyertaan saham 277,659 20,000 297,659 Aset lain-lain *) 6,718,183 5,344,840 49,235 490,213 12,602,471 Total 1,802,811,767 508,972,032 1,911,280,675 589,847,495 960,636,213 1,153,981,960 654,967,877 7,582,498,020

Penyisihan kerugian penurunan nilai (141,594,922)

Neto 7,440,903,098

Pemerintah (termasuk Bank Indonesia

Bank dan lembaga

keuangan lainnya Pertanian Perindustrian

Perdagangan Hotel

& Restoran Jasa Dunia Usaha

Lain-lain Total Rekening Administratif

21,562,456

21,562,456

Garansi yang diterbitkan 40,036 - 1,000,000 15,783,029 16,823,065 Kelonggaran tarik 133,979,927 23,710,932 184,116,298 61,216,833 181,189,487 137,142,441 11,606,529 732,962,448

133,979,927

23,750,968 205,678,754 61,216,833 182,189,487 152,925,470 11,606,529 771,347,969 L/C yang tidak dapat dibatalkan yang masih berjalan

dalam rangka impor

30 September 2015

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

Pemerintah (termasuk Bank Indonesia

Bank dan lembaga

keuangan lainnya Pertanian Perindustrian

Perdagangan Hotel

& Restoran Jasa Dunia Usaha Lain-lain Total Aset

Giro pada Bank Indonesia 374,577,940 - - - - - - 374,577,940 Giro pada bank lain 43,691,045 - - - - - 43,691,045 Penempatan pada Bank Indonesia 571,720,981 - - - - - - 571,720,981

Efek-efek

-Nilai wajar melalui laporan laba rugi 70,333,307 - - - - - - 70,333,307 Tersedia untuk dijual 245,790,785 263,412,829 - - - - 11,053,613 520,257,226 Dimiliki hingga jatuh tempo - 39,513,597 15,000,000 - - - - 54,513,597 Tagihan wesel ekspor -

-Kredit yang diberikan

-Konsumer - - 393,882,721 - 91,094 985,974 572,534,122 967,493,911 Ritel - 1,693,010 167,339,021 60,605,955 162,826,956 77,932,993 263,459,694 733,857,629 Menengah 302,360,605 628,059,585 636,484,871 469,613,880 469,533,138 45,584,288 441,592,304 2,993,228,670 Tagihan akseptasi - 22,419,241 - - - - - 22,419,241 Penyertaan saham - 277,658 20,000 297,658 Aset lain-lain *) 4,728,888 5,330,543 - - - 1,527,659 519,587 12,106,677 Total 1,569,512,504 1,004,397,507 1,212,706,613 530,219,835 632,451,188 126,030,914 1,289,179,319 6,364,497,881

Penyisihan kerugian penurunan nilai (100,904,246)

Neto 6,263,593,635

Pemerintah (termasuk Bank Indonesia

Bank dan lembaga

keuangan lainnya Pertanian Perindustrian

Perdagangan Hotel

& Restoran Jasa Dunia Usaha Lain-lain Total Rekening Administratif

- 26,827,520 - - - - 26,827,520 Garansi yang diterbitkan - 40,036 - - 1,000,000 37,290,000 39,194,688 77,524,724 Kelonggaran tarik 71,839,202 - 7,944,785 10,434,600 53,696,900 2,950,726 52,329,045 199,195,258

71,839,202

40,036 34,772,305 10,434,600 54,696,900 40,240,726 91,523,733 303,547,502

L/C yang tidak dapat dibatalkan yang masih berjalan dalam rangka impor

31 Desember 2014

31 Desember 2014

*) Aset lain-lain terdiri dari piutang bunga dan piutang lain-lain

(iv) Penurunan nilai aset keuangan pada tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014: (a) Giro pada bank lain

Per tanggal 30 September 2015, aset keuangan ini tidak mengalami penurunan nilai secara individual maupun kolektif.

(b) Penempatan pada Bank Indonesia

Per tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014, aset keuangan ini tidak mengalami penurunan nilai secara individual maupun kolektif sesuai ketentuan Bank Indonesia.

(c) Efek-efek

Per tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014, aset keuangan ini tidak mengalami penurunan nilai secara individual maupun kolektif.

(d) Kredit yang diberikan

Per tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014, rincian kredit yang tidak mengalami penurunan nilai dan yang mengalami penurunan nilai adalah sebagai berikut:

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan Nilai Mengalami Penurunan Nilai

Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif

Kredit Individual)

Rupiah

Pertanian 1,982,971,598 6,340,587 85,113,066 120,811,157 2,195,236,408 Pertambangan 2,061,954 - 674,812 811,208 3,547,974 Perindustrian 554,694,252 - 2,915,535 2,857,122 560,466,909 Listrik,gas dan air 1,091,578 - - - 1,091,578 Konstruksi 133,557,659 3,652,503 8,572,418 37,825,342 183,607,922 Perdagangan 907,540,724 3,952,005 11,711,729 12,971,925 936,176,383 Pengangkutan 56,188,097 552,810 11,734,652 4,619,085 73,094,644 Jasa-jasa dunia usaha 873,862,037 - 5,210,749 16,908,673 895,981,460 Jasa-jasa sosial/masyarakat 42,728,182 - 86,493 - 42,814,675 Lain-lain 634,502,961 302,370 12,682,221 6,970,113 654,457,665 Total 5,189,199,042 14,800,274 138,701,675 203,774,626 5,546,475,617 - Mata Uang Asing

Pertanian - -Pertambangan - -Perindustrian 25,832,612 25,832,612 Listrik,gas dan air - -Konstruksi - -Perdagangan 24,459,830 24,459,830 Pengangkutan 29,276,126 29,276,126 Jasa-jasa dunia usaha - -Jasa-jasa sosial/masyarakat - -Lain-lain -

-Total 79,568,568 - - - 79,568,568 5,268,767,610

14,800,274 138,701,675 203,774,626 5,626,044,185

Dikurangi Cadangan Penurunan Nilai (141,594,922)

Neto 5,484,449,263

Belum Jatuh Tempo dan Tidak Mengalami

Penurunan Nilai Total

30 September 2015

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan

Nilai

Mengalami Penurunan Nilai

Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif

Kredit Individual)

Rupiah

Pertanian 1,221,607,376 6,659,537 8,237,661 100,888,238 1,337,392,812 Pertambangan 2,415,022 - - 809,579 3,224,601 Industri Pengolahan 619,521,756 - 781,806 21,520,810 641,824,372 Listrik,gas dan air 981,613 - - - 981,613 Konstruksi 148,944,031 - 916,499 34,566,532 184,427,062 Perdagangan 599,830,513 4,512,999 8,698,441 5,262,271 618,304,223 Pengangkutan 102,122,735 388,878 15,719,734 20,304,447 138,535,794 Jasa-jasa dunia usaha 731,184,244 648,716 8,006,260 14,102,524 753,941,744 Jasa-jasa sosial/masyarakat 85,815,456 599,239 226,366 6,747,936 93,388,998 Lain-lain 806,284,991 590,525 8,215,147 15,169,253 830,259,916

Total 4,318,707,736 13,399,894 50,801,914 219,371,591 4,602,281,134

Mata Uang Asing

Pertanian 31,978,096 Pertambangan -Industri Pengolahan 19,091,773 Listrik,gas dan air -Konstruksi 5,150,884 Perdagangan 14,146,965 Pengangkutan 21,931,358 Jasa-jasa dunia usaha

-Jasa-jasa sosial/masyarakat -Lain-lain -92,299,076 - - - -4,411,006,812 13,399,894 50,801,914 219,371,591 4,694,580,210

Penyisihan kerugian penurunan nilai (100,904,246)

Neto 4,593,675,964

Belum Jatuh Tempo dan Tidak Mengalami

Penurunan Nilai Total

(e) Tagihan Akseptasi

Per tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014, aset keuangan ini tidak mengalami penurunan nilai secara individual maupun kolektif.

Manajemen Risiko Pasar

Pengelolaan manajemen risiko pasar dilakukan melalui rapat Asset and Liability Committee (ALCO) yang membahas manajemen risiko pasar, strategi Asset and Liability Management (ALMA) dan pengukuran risiko pasar melalui analisis terhadap pemicu munculnya risiko (risk driver), yaitu suku bunga dan nilai tukar. Risiko suku bunga dan risiko nilai tukar dapat berasal dari posisi trading book maupun posisi banking book. Cakupan posisi banking book dan posisi trading book mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (CAR).

Dalam pengelolaan risiko pasar trading book, Bank menetapkan prinsip segregation of duties. Terdapat pemisahan fungsi antara pihak yang melakukan transaksi, yang melakukan pencatatan transaksi, verifikasi, unit pembuat kebijakan, prosedur dan penetapan limit serta pengukuran risiko pasarnya termasuk perhitungan CAR. Bank melakukan perhitungan CAR risiko pasar dengan menggunakan model standar sebagai komponen perhitungan CAR.

Risiko pasar banking book, terdiri dari risiko suku bunga yang diakibatkan oleh aktivitas perbankan (aset dan liabilitas) dan risiko nilai tukar. Risiko pasar banking book dikelola dengan tujuan agar laporan posisi keuangan Bank dapat bertahan pada perubahan suku bunga dan nilai tukar, sehingga dapat mencapai NII (Net Interest Income) yang dapat dikendalikan sesuai dengan toleransi risiko Bank.

(a) Risiko Tingkat Suku Bunga

Instrumen keuangan yang berbasis suku bunga memiliki risiko karena terdapat potensi perubahan suku bunga yang akan membawa dampak kepada arus kas dimasa depan.

Risiko suku bunga terutama terjadi karena terjadi gap suku bunga (repricing gap). Repricing GAP terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan dalam schedule maturity atau waktu repricing antar aset, kewajiban dan komponen rekening administratif yang dimiliki oleh Bank.

Tabel di bawah ini merupakan tingkat suku bunga rata-rata per tahun untuk posisi aset dan liabilitas keuangan Bank untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 31 Desember 2014.

Rupiah Mata Uang Asing Rupiah Mata Uang Asing

% % % %

Aset

Giro Pada Bank Lain 0.31% 0.004% 1.12% 0.03%

Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 5.79% 0.260% 5.86% 0.50%

Efek-efek 7.29% 3.429% 7.93% 4.97%

Kredit yang diberikan 13.57% 6.820% 13.62% 6.45%

Liabilitas

Simpanan nasabah 5.07% 1.010% 4.40% 1.04%

Simpanan dari bank lain 5.35% 0.300% 5.14% 0.41%

Tabel berikut ini mengikhtisarkan eksposur aset dan liabilitas keuangan terhadap risiko tingkat suku bunga (Gross)

Tidak lebih dari 3 bulan

Lebih dari 3 bulan tetapi tidak lebih dari

1 tahun Lebih dari 1 tahun Suku bunga tetap

Tidak dikenakan

bunga Total

Aset

Kas 23,563,842 23,563,842

Giro pada Bank Indonesia 416,237,390 416,237,390

Giro pada bank lain 126,088,549 126,088,549

Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 713,496,966 713,496,966

Efek-efek

-Nilai wajar melalui laporan laba rugi 135,842,113 135,842,113

Tersedia untuk dijual 228,653,195 221,799,820 450,453,015

Dimiliki hingga jatuh tempo 63,311,837 63,311,837

Tagihan wesel ekspor Kredit yang diberikan

Konsumer 5,022,485 21,088,116 778,828,784 804,939,385 Ritel 156,842,899 374,111,748 837,315,582 1,368,270,229 Menengah 319,317,943 1,202,784,330 1,930,732,298 3,452,834,571 Tagihan akseptasi 38,123,835 38,123,835 Penyertaan saham 297,659 297,659 Aset lain-lain *) 12,602,471 12,602,471 Total 1,965,659,427 1,597,984,193 3,546,876,664 420,953,770 74,587,807 7,606,061,861 Liabilitas Liabilitas segera 16,237,229 16,237,229 Simpanan nasabah -Giro 514,378,411 514,378,411 Tabungan 344,750,175 344,750,175 Deposito 4,777,898,265 123,825,359 4,901,723,624

Simpanan dari bank lain 503,472,608 503,472,608

Liabilitas akseptasi 38,123,835 38,123,835

Pinjaman yang diterima

-Liabilitas lain-lain **) 28,283,691 28,283,691

Total 6,140,499,459 123,825,359 - - 82,644,754 6,346,969,572

(4,174,840,032)

1,474,158,834 3,546,876,664 420,953,770 (8,056,947) 1,259,092,290

30 September 2015

Suku bunga mengambang

Perbedaan (gap) repricing suku bunga antara aset dan liabilitas keuangan

Tidak lebih dari 3 bulan

Lebih dari 3 bulan tetapi tidak lebih dari

1 tahun Lebih dari 1 tahun Suku bunga tetap

Tidak dikenakan

bunga Total Aset

Kas 40,106,030 40,106,030

Giro pada Bank Indonesia 374,577,940 374,577,940

Giro pada bank lain 43,691,045 43,691,045

Penempatan pada Bank Indonesia 571,720,981 571,720,981

Efek-efek

-Nilai wajar melalui laporan laba rugi 70,333,307 70,333,307 Tersedia untuk dijual 253,412,829 266,844,397 520,257,226

Dimiliki hingga jatuh tempo 54,513,597 54,513,597

Tagihan wesel ekspor - -Kredit yang diberikan

Konsumer 7,909,777 28,707,667 930,876,467 967,493,911 Ritel 96,385,585 259,211,411 378,260,633 733,857,629 Menengah 175,583,375 1,188,133,679 1,629,511,616 2,993,228,670 Tagihan akseptasi 22,419,241 22,419,241 Penyertaan saham 297,658 297,658 Aset lain-lain *) 12,106,677 12,106,677 Total 1,523,281,532 1,476,052,757 2,938,648,716 391,691,300 74,929,606 6,404,603,911 Liabilitas Liabilitas segera 15,189,023 15,189,023 Simpanan nasabah Giro 354,983,627 354,983,627 Tabungan 308,795,502 308,795,502 Deposito 4,382,909,150 159,565,187 4,542,474,337

Simpanan dari bank lain 164,579,782 164,579,782

Liabilitas akseptasi 22,419,241 22,419,241

Pinjaman yang diterima

-Liabilitas lain-lain **) 15,987,888 15,987,888

Total 5,211,268,061 159,565,187 - - 53,596,152 5,424,429,400

(3,687,986,529)

1,316,487,570 2,938,648,716 391,691,300 21,333,454 980,174,511 31 Desember 2014

Suku bunga mengambang

Perbedaan (gap) repricing suku bunga antara aset dan liabilitas keuangan

*) Aset lain-lain terdiri dari piutang bunga dan piutang lain-lain.

**) Liabilitas lain-lain terdiri dari bunga yang masih harus dibayar dan setoran jaminan.

Tabel di bawah ini menunjukkan sensitivitas terhadap kemungkinan perubahan atas suku bunga

Dalam dokumen PT BANK RAKYAT INDONESIA AGRONIAGA Tbk (Halaman 73-90)

Dokumen terkait