• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Manajemen Strategi

Manajemen strategi merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi yang efektif untuk mencapai sasaran perusahaan (Jauch dan Glueck, 1994). Oleh karena itu manajemen strategi besifat dinamis dan memerlukan komitmen untuk menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Wheelen dan Hinger (2001) memberikan penekanan pada pengamatan dan evaluasi peluang, serta ancaman lingkungan dengan melihat kekuatan dan kelemahan perusahaan.

Ada beberapa manfaat dari penerapan manajemen strategi dalam perusahaan, antara lain:

1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.

2. Membantu perusahaan beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi. 3. Menjadikan perusahaan lebih efektif.

4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu perusahaan dalam lingkungan yang semakin beresiko.

5. Mempertinggi kemampuan perusahaan unutk mencegah munculnya masalah dimasa yang akan datang.

Menurut Jauch dan Glueck (1994) strategi merupakan rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang menghubungkan berbagai keunggulan yang dimiliki perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat. Tujuan strategis berkaitan dengan mengidentifikasi sumberdaya,

kapabilitas, dan kompetensi inti yang menjadi basis suatu perusahaan untuk tindakan-tindakan strategisnya. Strategi suatu perusahaan berhubungan erat dengan bagaimana mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan perusahaan. Menurut Pearce dan Robinson (1991) arti penting strategi bagi perusahaan adalah

1. Strategi merupakan cara untuk mengantisipasi peluang dan ancaman di masa yang akan datang sebagai akibat dari cepatnya perubahan lingkungan.

2. Strategi dapat memberikan gambaran secara jelas kepada semua karyawan tentang arah dan tujuan perusahaan di masa yang akan datang.

3. Strategi bermanfaat unutk memonitor apa yang dikerjakan dan apa yang terjadi sehingga dapat diketahui permasalahan yang terjadi di dalam perusahaan.

Menurut David (1997) strategi terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu

1. Strategi tingkat perusahaan (corporate strategy), yaitu strategi yang biasanya dibuat sebagai acuan pokok berbagai strategi pada unit usaha dan strategi fungsional yang disusun. Strategi perusahaan ini akan menggambarkan arah yang menyeluruh bagi suatu perusahaan dalam pertumbuhan dan pengelolaan berbagai bidang usaha guna mencapai keseimbangan produk/jasa yang dihasilkan.

2. Strategi tingkat unit bisnis (bussiness strategy), yaitu strategi bisnis yang menekankan pada usaha peningkatan daya saing perusahaan dalam suatu industri atau segmen pasar.

3. Strategi tingkat fungsional (functional strategy), yaitu strategi yang digunakan untuk menciptakan kerangka kerja untuk manajemen fungsi, seperti produksi, pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, penelitian dan pengembangan.

2.7 Model

Menurut Manetsch and Park (1997) model adalah penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (riil), sehingga untuk aspek-aspek tertentu, model akan bertindak seperti dunia nyata. Oleh karena itu maka model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan

meminimalkan perilaku yang tidak signifikan dari sistem yang dimodelkan. Menurut Forrester (1968), model adalah pengganti dari suatu obyek atau sistem pemodelan adalah suatu gugus aktivitas pembuatan model. Jorgensen (1988) menyatakan model adalah pernyataan formal dari suatu sistem yang terdiri atas parameter penting suatu permasalahan dalam istilah fisik atau matematis, Pemodelan adalah proses membangun suatu sistem nyata dalam suatu bahasa tertentu misalnya dalam bahasa matematik Forrester (1980)

Murdick et al. (1984) dan Simatupang (1995) mengemukakan bahwa model sebagai suatu representasi atau formalisasi interaksi berbagai proses yang terjadi dalam suatu sistem nyata. Sistem nyata adalah sistem yang sedang berlangsung yang dijadikan perhatian dan dipermasalahkan, model juga dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternative, karena itu, model dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan (knowledge base) Eriyatno (2003).

Dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan konsep model simulasi. Penggunaan simulasi akan membuat model mengkomputasikan jalur waktu dari variabel model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Hal ini menyebabkan model simulasi akan dapat memprediksi dunia riil yang kompleks.

Model dan manipulasinya melalui proses simulasi adalah alat yang sangat bermanfaat dalam sistem analisis, model dapat digunakan sebagai representasi sebuah sistem yang sedang dikerjakan atau menganalisis sistem yang sudah dilakukan. Dengan menggunakan model dapat dihasilkan desain atau keputusan operasional dalam waktu yang singkat dan biaya yang murah (Blanchord dan Fabrycky, 1981).

Dalam pelaksanaan simulasi, model mempunyai peranan yang penting, dan bermanfaat untuk mengkaji suatu sistem yang kompleks. Model adalah suatu gambaran abstrak dari sistem dunia nyata dalam hal-hal tertentu. Suatu model yang baik akan menggambarkan dengan baik segi tertentu yang penting dari perilaku dunia nyata (Manetsch et al., 1977). Dari berbagai pendapat tersebut

diatas, maka model secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk peniruan dan penyederhanaan dari suatu gejala, proses atau benda dalam skala yang lebih kecil skalanya.

Menurut Muhammadi et al. (2001), pemahaman struktur dan perilaku sistem akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitatif formal, dengan menggunakan diagram sebab akibat (causal loop) dan diagram alir (flow

chart). Diagram sebab akibat akan dipergunakan sebagai dasar untuk mebuat

diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program model yang ada dalam software atau program untuk analisis sistem, sehingga setelah dilakukan analisis akan didapatkan kesimpulan dan kebijakan apa yang harus dilaksanakan. Selanjutnya dikatakan bahwa tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut :

a. Penyusunan konsep

Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel-variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling berketergantungan. Kondisi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan.

b. Pembuatan model.

Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar atau rumus.

c. Simulasi.

Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model.

d. Verifikasi dan Validasi Model.

Menurut Harrel et al. (2003), verifikasi model adalah proses menentukan apakah model simulasi merefleksikan model konseptual dengan tepat, validasi model adalah proses menentukan apakah model konseptual merefleksikan sistem nyata

dengan tepat dan bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambil keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang.

Penyusunan model itu sendiri terdiri atas beberapa tahap yaitu pendefinisian atau pembatasan masalah, penyusunan model konseptual, penyusunan model matematik, verifikasi dan pengujian keabsahan model. Pembatasan masalah terdiri dari kegiatan penetapan gejala, identifikasi masalah, dan definisi masalah. Penyusunan model konseptual dengan menyusun suatu keterkaitan antar variabel dalam suatu sistem sehingga menghasilkan suatu rangkaian yang mengindikasikan gambaran performance dari apa yang ingin dicapai. Penyusunan model matematika adalah kumpulan keterkaitan variabel-variabel yang membentuk formulasi atau fungsi persamaan yang mengekspresikan sifat pokok dari suatu sistem atau proses fisik.

Pada dasarnya keberhasilan suatu model sangat ditentukan oleh kemampuan seorang pemodel dalam mendefinisikan sejumlah elemen yang terkait pada model tersebut pada sistem yang nyata. Hal penting dalam pengembangan model adalah mencari peubah-peubah utama dan peubah-peubah tersebut sangat erat hubungannya dengan pengkajian yang terdapat pada peubah-peubah.

Secara umum model dibagi 3, yaitu: model ikonik (objek fisik), model analog atau representasi grafis (model visual), dan model simbolik atau model abstrak disebut juga model matematik. Dalam hal ini, khusus untuk ilmu sistem, ilmu sistem memusatkan perhatian pada model simbolik sebagai perwakilan dari realitas yang dikaji.

Dokumen terkait