• Tidak ada hasil yang ditemukan

II- 1 2.1. Supply Chain Management

2.2. Manajemen Transportasi dan Distribusi

Jaringan distribusi sering dianggap sebagai serangkaian fasilitas fisik seperti gudang dan fasilitas pengangkutan dan operasi masing-masing fasilitas ini cenderung terpisah antara satu dan lainnya. Namun pada dasarnya kegiatan distribusi tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik seperti pengirimin saja namun juga memikirkan tentang bagaimana melakukan perangcangan jaringan distribusi segmentasi titik distribusi penjadwalan penentuan rute dan menentukan konsolidasi pengiriman. Secara umum fungsi distribusi dan transportasi pada dasarnya adalah menghantarkan produk dari lokasi dimana produk tersebut diproduksi sampai mereka akan digunakan (Pujawan, 2017).

2.2.1. Peran Transportasi pada Supply Chain Management

Transportasi mengacu pada pergerakan produk dari satu lokasi ke lokasi lain saat mereka berpindah dari titik awal rantai pasok ke pelanggan. Transportasi merupakan komponen penting dalam rantai pasok karena produk tidak selalu diproduksi dan dikonsumsi di tempat yang sama. Transportasi adalah bagian penting dari biaya dan rantai pasok. Pengirim adalah pihak yang perlu memindahkan produk di antara dua titik dalam rantai pasok. Pengangkut barang adalah pihak yang memindahkan atau mengangkut produk (Chopra and Miendl, 2016).

2.2.2. Fungsi Manajemen Transportasi dan Distribusi

Manajemen distribusi dan transportasi pada umumnya melakukan sejumlah fungsi dasar yang terdiri dari (Pujawan, 2017):

1. Melakukan segmentasi dan menentukan target service level

Segmentasi pelanggan perlu dilakukan karena dengan memahami perbedaan karakteristik dan kontribusi setiap pelanggan atau area distribusi, perusahaan bisa mengoptimalkan alokasi persediaan maupun kecepatan pelayanan.

2. Menentukan mode transportasi yang akan digunakan

Manajemen transportasi harus bisa menentukan mode apa yang akan digunakan dalam mendistribusikan produk-produk mereka ke pelanggan kerena setiap mode transportasi memiliki keunggulan dana dan kelemahan yang berbeda-beda dan berpengaruh pada ongkos kirim barang.

3. Melakukan konsolidasi informasi dan pengiriman

Tekanan untuk melakukan pengiriman cepat namun murah menjadi pendorong utama perlunya melakukan informasi maupun pengiriman. Salah satu contoh konsolidasi informasi adalah konsolidasi data permintaan dari berbagai regional distribution center oleh central warehouse untuk keperluan pembuatan jadwal pengiriman. Sedangkan konsolidasi pengiriman dilakukan misalnya dengan menyatukan permintaan beberapa toko atau retail yang berbeda dalam sebuah truk.

4. Melakukan penjadwalan dan penentuan rute pengiriman

Salah satu kegiatan operasional yang dilakukan oleh gudang atau distributor adalah menentukan kapan sebuah truk harus berangkat dan rute mana yang

harus dilalui untuk memenuhi permintaan dari sejumlah pelanggan. Apabila jumlah pelanggan sedikit, keputusan dapat diambil dengan relatif mudah.

Namun apabila perusahaan yang harus dikunjungi, penjadwalan dan penentuan rute pengiriman adalah pekerjaan yang sangat sulit dan kekurangtepatan dalam mengambil dua keputusan tersebut bisa berdampak pada biaya pengiriman dan penyimpanan yang tinggi.

5. Memberikan pelayanan nilai tambah

Disamping mengirimkan produk ke pelanggan, jaringan distribusi semakin dipercaya untuk melakukan proses nilai tambah. Kebanyakan proses nilai tambah. Kebanyakan proses nilai tambah awalnya dilakukan oleh pabrik.

Beberapa proses nilai tambah yang dilakukan oleh distributor adalah pengepakan (packaging), pelebelan harga, pemberian barcode, dan sebagainya.

6. Menyimpan persediaan

Jaringan distribusi selalu melibatkan proses penyimpanan produk baik disuatu gudang pusat atau gudang regional, maupun di toko dimana produk tersebut dipajang untuk dijual. Oleh karena itu manajemen distribusi tidak bisa dilepaskan dari manajemen pergudangan.

7. Menangani pengembalian (return)

Manajemen distribusi juga memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan pengembalian produk dari hiril ke hulu dalam supply chain.

Pengembalian ini bisa karena produk rusak maupun tidak terjual batas waktu penjualannya habis, seperti produk-produk makanan, sayur, buah, dan sebagainya. Kegiatan ini juga bisa terjadi pada produk-produk kemasan seperti

botol, yang akan digunakan kembali dalam proses produksi atau yang harus diolah lebih lanjut untuk menghindari perncemaran lingkungan. Proses pengembalian ini lumrah dengan sebutan reverse logistics.

2.2.3. Desain Jaringan Distribusi

Menurut Chopra dan Meindl (2016), distribusi adalah langkah-langkah yang diambil untuk memindahkan dan menyimpan produk dari tingkat pemasok ke tingkat konsumen dalam supply chain. Distribusi adalah kunci penggerak dari keseluruhan keuntungan perusahaan, karena berhubungan langsung dengan biaya supply chain dan pengalaman pelanggan. Performansi jaringan distribusi dinilai melalui dua dimensi yaitu :

1. Kebutuhan konsumen yang dipenuhi

2. Biaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen

Sehingga pemilihan desain jaringan distribusi harus dilihat dampaknya terhadap pelayanan pelanggan dan biaya untuk memberikan service level tersebut.

Pelayanan pelanggan tersebut meliputi:

1. Waktu respon, waktu antara saat konsumen melakukan order dan menerima pengiriman order.

2. Variasi produk, yaitu jumlah perbedaan dari produk atau konfigurasinya yang konsumen harapkan dari jaringan distribusi.

3. Ketersediaan produk, probabilitas produk tersedia dalam stok ketika order konsumen datang

4. Kemudahan memesan dan menerima order

5. Order visibility tracking, kemampuan konsumen untuk melacak order dari pemesanan hingga pengiriman

6. Returnability, konsumen dapat mengembalikan produk yang tidak memuaskan dan jaringan dapat mengatasi permasalan tersebut.

2.2.4. Strategi Distribusi

Secara umum terdapat 3 strategi distribusi produk dari pabrik ke pelanggan.

Masing-masing strategi memiliki keunggulan dan kekurangan. Ketiga strategi tersebut adalah sebagai berikut (Pujawan, 2017):

1. Pengiriman Langsung (Direct Shipment)

Pada model ini, pengiriman dilakukan langsung dari pabrik ke pelanggan tanpa melalui gudang atau fasilitas penyangga. Strategi ini cocok digunakan untuk barang yang umurnya pendek dan barang yang mudah rusak dalam proses bongkar muat. Keunggulan dari strategi ini adanya penghematan biaya fasilitas pemendekan waktu kirim ke pelanggan dan mengurangi inventory. Namun strategi in juga memiliki resiko yang lebih tinggi apabila terjadi ketidakpastian permintaan sehingga menyebabkan ketidakpastian pasokan barang.

2. Pengiriman Melalui Warehouse

Pada model ini, barang tidak langsung dikirimkan ke pelanggan. Namun melewati satu atau lebih gudang atau fasilitas penyangga. Model ini cocok untuk produk-produk yang memiliki ketidakpastian demand/supply-nya tinggi serta produk-produk yang memiliki daya tahan relatif lama. Keunggulan dari strategi ini adalah dapat merendam ketidakpastian demand/supply bila terjadi

ketidaksamaan serta dapat menjadi konsolidasi beban dari sejumlah supplier.

Disisi lain strategi ini akan menambah pada ongkos penyimpanan barang dan barang akan lebih lama sampai tangan pelanggan.

3. Cross Docking

Pada model ini, kendaraan penjemputan dan pengiriman akan bertemu di fasilitsa cross-dock yang berada diantara pabrik dan pelanggan. Model ini memindahkan produk secara langsung di lokasi yang berbeda sehingga pengiriman bisa relatif lebih cepat dan tetap bisa mencapai economies of transportation yang baik karena adanya konsolidasi. Strategi ini lemah dari sisi kebutuhan.

Dokumen terkait