2. Manakala Pasar dan Altar Menjadi Satu
2.4 Manakala Sensasi Belanja Semakin Mempesona
Sistem kebutuhan adalah produk dari sistem produksi. Melalui sistem kebutuhan kita mengerti bahwa kebutuhan tidak dibuat satu per satu dalam hubungan dengan objek-objek lain tetapi dibuat produksi sebagai kekuatan konsumtif sebagai kesediaan secara global dalam lingkup yang lebih umum dari kekuatan-kekuatan
produktif.22 ITC di sebelah mal menjadi bukti dari sistem produksi yang berusaha
membuat orang merasa “membutuhkan” barang-barang yang dipamerkan. Kebutuhan inipun menjadi seragam dengan peredaran musim yang sedang berlangsung, misalnya: tas yang sedang trend saat ini adalah tas sandang kecil, maka perempuan-perempuan muda akhirnya merasa membutuhkan tas sandang tersebut. Contoh lain beberapa waktu yang lalu yang sedang musim adalah baju atau jilbab Manohara (berkaitan dengan hangatnya isu pelecehan seksual yang diderita artis Manohara di Malaysia), maka ibu-ibu pun berbondong-bondong mencari baju dan jilbab Manohara di pusat-pusat perbelanjaan.
Geliat konsumsi ini menjadi sesuatu yang secara tidak sadar mempengaruhi konsumen menentukan kebutuhannya. Hal ini semakin menguatkan pendapat Baudrillard bahwa konsumsi adalah sebuah prilaku aktif dan kolektif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral, konsumsi adalah sebuah institusi. Ia adalah keseluruhan nilai, istilah ini berimplikasi sebagai fungsi integrasi kelompok dan integrasi kontrol sosial. Masyarakat konsumsi juga merupakan masyarakat pembelajaran konsumsi, pelatihan sosial dalam konsumsi – artinya sebuah cara baru dan spesifik bersosialisasi dalam hubungannya dengan munculnya kekuatan-kekuatan produktif baru dan restrukturisasi monopolistik sistem ekonomi pada produktivitas yang tinggi.23 Dengan hadirnya gereja di mal maka secara tidak langsung terbentuk pulalah masyarakat konsumsi atau umat yang berkonsumsi. Pola ibadah di gereja mal
22Ibid., h. 81-82.
23
sedikit banyak memiliki kemiripan dengan pola konsumsi. Umat yang awalnya datang untuk konsumsi spiritual di gereja, kini merupakan konsumen yang aktif potensial membeli barang-barang yang dijual di mal.
Sebagaimana konsumsi meliputi pembelian barang-barang yang dijual berdasarkan pencitraannya, bukan lagi pada nilai gunanya, maka orang beribadah di gereja mal pun agaknya mendasarkan ibadahnya pada pola konsumsi. Seseorang mendengarkan khotbah ibarat membeli sesuatu. Jika khotbahnya menarik dan mengena dalam kehidupannya, maka umat yang terkesan dengan khotbah tersebut tidak segan-segan memberikan uang persembahan yang besar. Menurut pengakuan informan:
Di sini memang persembahannya tidak terlalu merata, tetapi yang “kakap-kakapnya” kalo kasih persembahan besar, mereka senang dengan khotbah pendetanya. Makanya kami pun mencari pendeta pengkhotbah yang hebat yang memang bisa menggugah jemaat.24
Ekstase ibadah yang dirasakan umat ada kemiripannya dengan ekstase belanja. Orang yang puas dengan produk tertentu tidak akan sayang menghabiskan uang dalam jumlah yang besar jika produk yang dibelinya memenuhi keinginannya. Pola ibadah di gereja mal tampaknya sangat banyak memberikan kepuasan, mulai dari bagian awal nyanyian dan penyembahan yang semarak, hentakan atas rasa salah diri dan keberdosaan umat, masuknya Roh Kudus dalam diri umat yang berbeban berat, dan janji-janji kemakmuran dalam khotbah pendeta. Semua unsur ini menjadi
24
Wawancara dengan Pak SM, tenaga konseling di gereja Casa Rosa, pada tanggal 16 Januari 2010.
daya tarik menggereja di mal ditambah manisnya janji-janji “keselamatan” produk -produk yang ditawarkan di mal.
(Gambar 4) Aktivitas belanja di mal (Sumber: http : // eshape. blogspot.com/)
Dari uraian analitik tentang fenomena bergabungnya altar dan pasar, sikap saya ada dua. Pertama, hubungan budaya konsumsi dengan gereja atau peribadahan tidak bisa dihindarkan. Lingkungan orang menggereja saat ini adalah masyarakat konsumsi. Fenomena ini bahkan telah berimplikasi pada gereja-gereja arus utama yang juga mulai menilik pola-pola ibadah di gereja mal. Kedua, jika fenomena ini dikaitkan dengan hakekat gereja yang menyampaikan kabar gembira, maka saya memiliki pandangan yang positif dan negatif. Pada satu sisi, bahasa gereja yang
menyampaikan kabar baik dengan cara mengabsorsi bahasa budaya konsumsi, membuat ibadah lebih komunikatif dan sanggup menyentuh kedalaman batin umat. Ini adalah budaya pop dalam komunitas masyarakat konsumsi di gereja mal. Fenomena ini dapat dikatakan sebagai bentuk dari inkulturasi menggereja zaman sekarang. Saya sepakat dengan pembaharuan ini. Namun, pada sisi lain, tanggung jawab gereja yang idealnya menyentuh aspek hidup manusia secara holistis (inklusif, tidak diskriminatif, mengedepankan nilai-nilai keadilan, pro kemiskinan, dan lain sebagainya) belum nyata dalam gereja mal. Gereja sebagai perwujudan kabar gembira yang hanya menyentuh golongan tertentu, bukanlah gereja, melainkan hanya merupakan komunitas budaya pop dengan lifestyle tertentu tanpa tanggung jawab moral dan etis. Gereja seperti ini pada akhirnya berakhir pada eksklusivisme dan manipulasi. Oleh karena itu, dengan tegas saya masih menuntut pembaharuan sosial gereja dari gereja-gereja seperti ini.
Bagi banyak orang sosialitas di dalam gereja menumbuhkan rasa saling memiliki dan menghargai satu sama lain. Gereja sebagai tempat bersekutunya umat merupakan suatu wadah untuk saling mengenal serta menumbuhkan belas kasih yang mendalam dalam interaksi sosial umat, sebagaimana cara hidup jemaat mula-mula dalam tradisi Kristen yang merupakan komunitas rumahan. Cara hidup jemaat yang pertama ini dicatat dalam bagian kitab Kisah Para Rasul 2: 41-47 yang menyebutkan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya lalu
membagi-bagikannya dengan semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.25 Situasi ini menyiratkan suatu keadaan persekutuan yang akrab dan dekat di mana setiap orang berperan aktif untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan mau berkorban untuk yang lainnya.
Oleh karena itu, situasi jemaat mula-mula memang pantas menjadi landasan hubungan di gereja sepanjang masa. Gereja harus tetap menjaga sosialitas yang akrab dalam pelayanannya. Namun, dalam kenyataannya sekarang, ketika jumlah umat di suatu gereja mencapai ribuan jiwa, maka realitas sosial yang terlahir pun menjadi berbeda. Gereja mal dengan jumlah umat yang sangat besar menciptakan realitas sosial yang berbeda dengan gereja-gereja arus utama. Orang tidak terlalu mementingkan hubungan mendalam dengan orang lain, melainkan kepuasan pribadi.
Sekarang orang dihadapkan pada banyak pilihan, tetapi sayangnya orang tidak bisa memilih. Yang malah terjadi adalah orang mempunyai cara sendiri untuk menggunakan semuanya, yakni dengan cara menggabungkan atau mensintesakannya. Salah satu contoh orang yang tidak bisa memilih adalah kenyataan tentang kegairahan orang beribadah dan berbelanja di mal. Penggabungan aktivitas menggereja dan berbelanja ini merupakan wujud dari logika hidup manusia zaman sekarang pada level sintagmatik.26
25
Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007).
26 The logic of life manusia zaman sekarang banyak bermain-main pada level sintagmatik. Hubungan sintagmatik adalah suatu tanda yang mempunyai hubungan dengan tanda lain sejauh tanda-tanda itu memiliki fungsi satu sama lain. Oleh karena itulah hubungan sintagmatik juga disebut hubungan fungsional. Hubungan ini tampak paling jelas dalam sebuah sintagma yang ditata mengikuti sintaks tertentu. Hubungan sintagmatik sifatnya linear (tidak mungkin kita bicara dua kata bersamaan),
Sebagaimana mal yang menjanjikan kemewahan, ke-elegan-an, keuntungan, dan kenyamanan, siapa yang tidak tertarik dengan isi khotbah yang menjanjikan kesuksesan dan kekayaan atas nama Tuhan? Penyampaian khotbah yang bersemangat, berapi-api dan disertai lelucon nyatanya mampu menguatkan dan menyegarkan pendengar khotbah. Namun, menurut saya, itu tidaklah cukup. Khotbah tidak hanya bersifat untuk menghibur pendengarnya, tetapi ia sekaligus berfungsi untuk mengoreksi hidup umat. Sebuah khotbah juga harus berani menyatakan kebenaran di tengah-tengah maraknya ketidakadilan, kekerasan, penindasan, dan penderitaan.
Gereja di mal tampaknya melahirkan komunitas yang eksklusif. Hal ini terlihat dari kehomogenan umat yang beribadah di sana, yang kebanyakan datang dari
kelas menengah atas yang “terberkati”. Mereka “mengiklankan” berkat Tuhan dalam
kesuksesan dan kekayaan yang diraihnya lewat bisnis, usaha, dan kerjanya. Namun, pertanyaan saya, di manakah tempat orang miskin dalam komunitas di gereja mal? Beranikah mereka beriklan tentang kebaikan Tuhan jika hidup mereka belum juga sesukses dan sekaya kakap-kakap lainnya? Jangan-jangan di gereja ini, kemiskinan dan penderitaan dianggap sebagai kutukan dari Tuhan. Kalau sudah seperti ini, maka panggilan beriman umat patut juga dipertanyakan. Konon, gereja ini juga kurang begitu tanggap dengan masalah-masalah sosial. Jumlah kas yang besar itu banyak
dari sebuah paradigma secara beraturan dari tanda-tanda yang berinteraksi membentuk keseluruhan yang bermakna. Contoh yang paling mencolok dalam hubungan sintagmatik adalah dalam dunia
fashion (peragaan busana), ada kalanya sang model menghadirkan rok dan celana panjang sekaligus dalam peragaan busana, dalam St. Sunardi, Semiotika Negativa, h. 62.
dipakai untuk keperluan biaya rumah tangga gereja, seperti gaji pendeta, gaji petugas ibadah yang lain, peningkatan fasilitas, dan sangat jarang dialokasikan untuk bantuan
bencana. Bukankah gereja harusnya “keluar”? Ia tidak cukup hanya memikirkan
kepuasan orang yang beribadah di sana, tetapi hadir bagi orang di luar gereja yang menderita.
Saya sangat terkesan dengan pola ibadah yang ekspresif di gereja mal. Kekuatan musik dan kepiawaian petugas-petugas ibadah patut diacungi jempol. Tidak diragukan lagi jika mereka berlatih dengan serius untuk menyiapkan ibadah pada hari Minggu. Bagi gereja arus utama, pola ibadah ini harusnya dilihat dengan bijaksana karena nyatanya mampu menyentuh kedalaman batin umat dalam pengalaman psikospiritualnya. Gereja arus utama harus berani keluar dari kekakuan pola ibadah yang berlangsung selama ini. Namun, jika ibadah segaja diatur oleh sebuah skrip yang menentukan kapan seseorang jatuh, menangis, dan berjalan ke depan altar untuk didoakan, tentu itu bukanlah ibadah yang murni. Ibadah yang direkayasa seperti ini sama sekali bukan ibadah yang sejati. Ibadah ini telah dipakai sebagai alat untuk melanggengkan pesona gereja saja, bukan lagi pada penghayatan iman yang sesungguhnya.
Gereja arus utama dan gereja mal sama-sama memiliki kelemahan. Gereja arus utama yang terlalu ketat dengan dogma dan tradisi dianggap kurang menjangkau kebutuhan umat. Namun, di sisi lain, gereja yang terlalu memikirkan hasrat umat dan menjadi eksklusif, bisa kehilangan suara kenabiannya. Fenomena bergabungnya altar
dan pasar sekali lagi tidak bisa ditolak, hanya saja kita perlu menyikapinya dengan bijaksana, kritis, dan bertanggungjawab.