BAB II. MANFAAT METODE ERCERITA DALAM
3. Manfaat Cerita
Ada berbagai macam manfaat cerita yang dapat dirasakan oleh anak-anak. Adapun manfaat cerita menurut Agus D.S dan Ferdinandan Nur adalah sebagai berikut:
a. Cerita Sebagai Hiburan
Cerita yang didengarkan atau dibaca dapat membawa dalam suasana yang menghibur, anak-anak yang sudah dapat membaca dapat memilih cerita yang menarik yang sekiranya dapat membawa mereka dalam suasana senang. Anak- anak biasanya menyukai cerita yang ringan, lucu, dan ada gambar yang mendukung, cerita yang bersifat demikian biasanya akan memberi hiburan kepada anak-anak karena dapat menarik hati anak-anak.
b. Mengembangkan Daya Imajinasi, Kreatifitas, dan Kemampuan Berfikir Abstrak Anak.
Pada dasarnya anak-anak memang bisa membayangkan suatu kejadian dalam fantasinya. Apa yang dibayangkan seolah-olah menjadi kenyataan. Dari apa yang mereka bayangkan tersebut akan melekat pada pikiran dan diri anak. Biasanya dengan demikian mereka akan lebih mudah untuk mengingatnya. Dengan demikian cerita mampu mengembangkan daya imajinasi anak. Kemudian daya kerativitaspun akan muncul seiring daya imanjinasi dalam diri mereka berjalan sesuai dengan cerita yang mereka tangkap.
c. Cerita Dapat Menambah Pengetahuan
Anak dalam usia pra sekolah akan bertambah pengetahuan antara lain dengan membaca ataupun mendengar cerita. Melalui membaca ataupun mendengarkan cerita anak diajak untuk berfikir, berimajiasi, serta merasakan cerita tersebut. Melalui cerita akan membuat anak untuk dapat membedakan hal
yang baik dan buruk. Dengan demikian melalui cerita dapat memberikan pengajaran kepada anak akan tindakan tindakan yang baik dan buruk serta pendidikan moral bagi anak.
d. Melatih Kecerdasan Emosi dan Kepekaan Sosial
Cerita juga merupakan salah satu cara untuk mengajak anak-anak belajar berempati pada kesusahan atau penderitaan orang lain. Melalui cerita kecerdasan emosi serta kepekaan sosial anak-anak mulai tumbuh.
e. Meningkatkan Serta Menunjang Perkembangan Moral
Pada dasarnya untuk mengajarkan dan memberikan pemahaman tentang moral pada anak memang bukan hal yang mudah. Melalui cerita yang dipaparkan sesuai dengan usia anak, mereka dapat belajar tentang moral. Misalnya saja anak- anak dapat belajar tentang kebaikan, saling menolong, ataupun melalui pemaparan tokoh- tokoh yang ada dalam kisah cerita.
f. Menanamkan Motivasi dan Proses Identifikasi yang Positif
Melalui aktifitas seperti cerita atau bisa juga dengan memaca buku- buku cerita maka timbul harapan agar anak-anak memiliki suatu perubahan. Anak-anak dapat meniru keteladanan dari cerita-cerita yang disampaikan. Dengan demikian ini akan membantu menanamkan nilai-nilai positif pada diri anak.
g. Cerita Sebagai Sarana Pendidikan Iman
pendidikan iman merupakan usaha seseorang untuk menumbuhkan dan dan memperkembangkan iman orang lain agar menjadi dewasa. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendidik anak dalam iman adalah menggunakan cerita. Saat seseorang memberikan cerita kepada anak, unsur pendidikan iman dapat dimasukkan di dalamnya. Anak yang menerima cerita akan menghayati cerita tersebut dan menangkap cerita tersebut dengan caranya sendiri.
4. Memanfaatkan Cerita Dalam PIA
Dalam memanfaatkan metode bercerita dalam PIA ada 3 tahapan yang perlu dilakukan yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan hal- hal praktis.
a. Persiapan
Menurut F.X Didik Bagiowinandi ada tiga tahapan persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan. Persiapan tersebut ialah: (Didik Bagiowinandi, 2009: 88)
a) Persiapan Materi
Dalam persiapan ini kita perlu mempersiapkan buku panduan atau materi dan Kitab Suci yang akan digunakan untuk kegiatan pendampingan. Setelah itu kita perlu membuat suatu panduan untuk diri sendiri serta mempelajarinya dengan baik. Selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu tujuan dari materi yang akan dilaksanakan agar dalam pendampingan nantinya dapat diupayakan. Dalam
menyiapkan materi terutama materi cerita baiklah jika memperhatikan pokok- pokok diantaranya ialah carilah cerita yang menarik, gunakan cerita yang disukai anak, bercerita dengan sarana visual.
b) Persiapan Teknis
Yang dimaksud dalam persiapan teknis ialah apa saja yang diperlukan sebagai sarana pendukung dalam kegiatan nantinya. Cara apa yang akan digunakan agar anak-anak mau untuk mendengarkan cerita dan dapat mengerti dengan baik. Selain itu juga mempersiapkan sarana-sarana pendukung untuk bercerita misalnya gambar gambar, boneka, kertas, dan pewarna. Selain penggunaan alat-alat peraga penyampaian cerita dapat juga diberikan melalui sarana media. Media juga dapat mendukung agar anak lebih mudah untuk memahami cerita yang disampaikan. Adapun media penyampaian cerita dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : elektronik dan non elektronik.
Cerita yang menggunakan media elektronik maksudnya adalah cerita yang disampaikan dengan menggunakan alat listrik atau mesin. Misal melalui TV, layar LCD, Laptop, dll. Sedangkan cerita yang menggunakan media non elektronik adalah cerita yang disampaikan melalui alat peraga misal melalui buku bergambar.
c) Persiapan Batin
Persiapan batin merupakan tahapan terakhir sebelum melaksanakan kegiatan pendampingan yang sebenarnya. Berdoa untuk memohon rahmat dan
Roh Kudus membimbing dalam menerangi kegiatan baik bagi para pendamping atau untuk anak-anak.
b. Pelaksanaan Proses bercerita Dalam PIA
Dalam tahapan proses pelaksanaan bercerita dalam PIA. Ada beberapa langkah yang perlu untuk dilaksanakan sebelum mencapai pada tahap bercerita. Adapaun proses tersebut menurut Suhardiyanto adalah
a) Lagu Pembuka
Pakailah nyanyian yang sudah dikenal anak-anak (Kalau mungkin, sesuai tema hari itu )
b) Doa Pembuka
Isi sedapat mungkin sesuai dengan tema dan bahasanya sesederhana mungkin (sekongkrit mungkin).
c) Proses Kegiatan
Kisah dari alkitab atau kisah hidup Santo Santa melalui cerita
Dalam proses awal ini anak diajak untuk mendalami suatu kisah tertentu. Dalam pendalaman kisah ini, agar anak lebih mudah untuk dapat mengerti dan memahami, pendamping dapat menggunakan langkah-langkah diantaranya ialah: ceritakan sehidup mungkin kisah dari Kitab Suci atau riwayat hidup santo santa. Mulai dengan waktu/ tahun, lokasi, gambaran visual: lokasi, tokoh-tokoh, identitas tokoh-tokoh, penampilan tokoh-tokoh, kebiasaan tokoh-tokoh, masalah yang dihadapi si tokoh utama. Kesulitan si Tokoh menghadap masalah. Usaha si Tokoh mencari bantuan. Usaha si Tokoh mencari bantuan dari Tuhan (Doa, isi
doanya). Buah dari usaha si Tokoh. Tegaskan peranan Tuhan atas keberhasilan si Tokoh. Ungkapan syukur dan terima kasih si Tokoh terhadap kebaikan atau bantuan Tuhan.
d) Pendalaman
Dalam langkah pendalaman iman ini anak juga harus mendapatkan bimbingan dari para pedamping. Apa yang harus mereka dalami agar mereka dapat mengembangkan iman. Selain itu bagaimana kita mengajak anak-anak agar mau mendalami suatu kisah dengan baik dan mudah. Karena anak-anak masih terlalu kecil dan mereka belum mampu untuk berfikir sendiri dalam hal mengembangan iman mereka, maka anak-anak dapat dibantu dengan penggunaan alat bantu. Adapun langkah-langkah dalam pendalaman iman ini yang dipandu oleh pendamping PIA diantaranya adalah tanyakan nama- nama yang menjadi tokoh dalam cerita. Tanyakan lokasi, latar belakang kehidupan si tokoh utama. Tanyakan permasalahan yang dihadapi tokoh utama. Tanyakan, bagaimana rasanya kalau mengalami masalah seperti si tokoh utama. Tanyakan tokoh utama mendapat bantuan dari siapa dan dalam bentuk apa. Tanyakan apa yang harus kita lakukan bila mengalami masalah mirip masalah si tokoh utama. Tanyakan apa yang harus kita lakukan setelah mendapat bantuan dari Tuhan. Rangkuman dan peneguhan. (Suhardiyanto,2010:25)
c. Hal -Hal Praktis
a) Petunjuk praktis penggunaan metode cerita
1) Menghayati cerita dengan membaca berulangkali cerita tersebut sampai setengah hafal, syukur hafal betul-betul. Sebelum bercerita di depan anak- anak sebaiknya berlatih dahulu. Tidak hanya hafal tetapi juga mampu memperagakannya.
2) Menemukan butir-butir penting yang akan menjadi pesan yang harus diterima dan dimiliki anak.
3) Mempersiapkan alat-alat peraga yang sesuai dengan isi cerita
4) Bagilah batang tubuh cerita tersebut menjadi beberapa "plot" atau adegan- adegan, sehingga alur ceritanya mudah diikuti oleh anak-anak.
d. Petunjuk Praktis Membawakan Cerita
1) Bersikap wajar, tidak dibuat-buat, tidak mengada-ada.
2) Pergunakanlah bahasa langsung dan sederhana , sehingga dialog antar tokoh cerita tersebut menjadi baik. Disamping itu pergunakan pula suara yang bervariasi untuk membedakan ciri tokoh-tokoh nya.
3) Suara yang sesuai dengan tokoh cerita (dinamika suara) 4) Tidak terburu-buru
5) Peragakan cerita tersebut dengan gerak-gerik disertai perubahan raut muka ketika bercerita, terutama bila sedang mengungkapkan tokoh-tokoh yang saling berdialog.
6) Usahakan menjadi "aktor atau pemain watak" cerita, sehingga anak-anak merasakan, bahwa mereka "masuk" dalam cerita tersebut dan tokoh- tokohnya terasa "hadir" di antara mereka.
7) Memberi tekanan pada butir-butir penting. Bila perlu pembimbing mengulangi pesan yang harus diterima oleh anak.
8) Perhatian pendamping perlu bersifat menyeluruh. Sementara bercerita, hendaknya pendamping tetap menjaga komunikasi dengan anak-anak lewat pandangan matanya atau satu-dua menegaskan lagi ungkapannya. Dengan demikian anak-anak merasa pendampingnya bercerita untuk mereka.
9) Peka terhadap situasi dan reaksi spontan anak. 10) Melibatkan seluruh anak yang hadir.
11) Memberi kesimpulan singkat pada bagian akhir.
D. Kualifikasi Pendamping PIA
Pendamping PIA adalah seorang yang rela dan mampu memikirkan, merencanakan, melaksanakan serta mengembangkan suatu kegiatan pendampingan iman bagi anak-anak. Adapun kualifikasi Pendamping PIA ditunjang beberapa faktor. Menurut Suhardiyanto faktor tersebut meliputi jalan menuju Kristus, hubungan kasih dengan anak-anak, kesabaran dan ketegasan, seorang yang belajar, fantasi dan kreasi. (Suhardiyanto, 2010: 8)