BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Asuransi Kesehatan
2.1.6 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Manfaat jaminan kesehatan nasional terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu manfaat medis berupa pelayanan kesehatan dan manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans. Ambulans hanya diberikan kepada pasien rujukan dari fasilitas kesehatan denga kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis.
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan yaitu:
a. Penyuluhan kesehatan perorangan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.
b. Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis B (DPTHB), Polio dan Campak.
c. Keluarga berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.
d. Skrining kesehatan, diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.
Meskipun manfaat yang dijamin JKN bersifat komprehensif, masih ada manfaat yang tidak dijamin meliputi:
a. Tidak sesuai prosedur
b. Pelayanan di luar fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS c. Pelayanan bertujuan kosmetik
d. General checkup
e. Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi f. Pelayanan kesehatan pada saat bencana
g. Pasien bunuh diri /penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk menyiksa diri sendiri/Bunuh Diri/Narkoba (Kemenkes, 2014).
2.1.7 Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional
Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional Bab V tentang cara penyelenggaraan JKN menerangkan :
1. Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan
a. Pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan.
b. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan, Pemerintah/Pemerintah Daerah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan didaerah yang tidak diminati, seperti: daerah terpencil, daerah sangat terpencil, daerah tertinggal, daerah pedesaan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta daerah bencana dan rawan konflik.
c. Dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Derah, dan/atau swasta.
2. Pembinaan dan Pengawasan Mutu Sumber Daya Manusia Kesehatan
1) Pembinaan. Penyelenggaraan, pengembangan, dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan di berbagai tingkatan dan/atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan tersebut.
2) Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan dilakukan melalui uji kompetensi, sertifikasi, registrasi, dan pemberian izin praktik/izin kerja bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.
3) Pengawasan sumber daya manusia kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran etik/disiplin/hukum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan. Pelanggaran etik dapat dikenakan sanksi etik oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Pelanggaran disiplin dapat dikenakan sanksi disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Apabila pelanggaran tersebut menyebabkan kerugian kepada pihak lain, maka dalam rangka melindungi masyarakat, yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi hukum sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Subsistem Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan a. Pengertian
Subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah pengelolaan berbagai upaya yang menjamin keamanan, khasiat/manfaat, mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Sediaan farmasi adalah obat, bahan oba, obat tradisional, dan kosmetika.
b. Tujuan
Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah berkhasiat/terdianya farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang terjamin aman, berkhasiat/bermanfaat dan bermutu, dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan keterjangkauannya guna menigkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
c. Unsur-unsur
Unsur-unsur subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan terdiri dari:
1. Komoditi;
2. Sumber daya;
3. Pelayanan kefarmasian;
4. Pengawasan;dan
5. Pemberdayaan masyarakat.
Fasilitas sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi kebijakan yang telah ditetapkan, baik difasilitas produksi, distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer, sekunder, tersier.
Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan, secara rasional, aman, dan bermutu di semua fasilitas pelayanan kesehatan dengan mengikuti kebijakan yang ditetapkan.
2.2 Program Rujuk Balik
2.2.1 Pengertian Program Rujuk Balik
Berdasarkan buku panduan prakis Program Rujuk Balik bagi peserta JKN bahwa yang dimaksud dengan pelayanan obat rujuk balik adalah pemberian obato-batan untuk penyakit kronis di Faskes Tingkat Pertama sebagai bagian dari program pelayana rujuk balik. Pelayanan rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita di fasilitas kesehatan atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat (BPJS Kesehatan, 2014).
Pelayanan program rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di Faskes Tingkat Pertama atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat (BPJS Kesehatan, 2014).
2.2.2 Manfaat Program Rujuk Balik 1. Bagi Peserta
a. Meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan;
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif;
c. Meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik;
d. Memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan 2. Bagi Faskes Tingkat Pertama
a. Meningkatkan fungsi Faskes selaku Gate Keeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional;
b. Meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi/dokter spesialis;
c. Meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan.
3. Bagi Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan
a. Mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS;
b. Meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit;
c. Meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit (BPJS Kesehatan, 2014).
2.2.3 Ruang Lingkup Pogram Rujuk Balik 1. Jenis Penyakit
Jenis Penyakit yang termasuk Program Rujuk Balik adalah:
a. Diabetus Mellitus b. Hipertensi
c. Jantung d. Asma
e. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) f. Epilepsy
g. Schizophrenia h. Stroke
i. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Sesuai dengan rekomendasi Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan Komite Formularium Nasional, penyakit sirosis tidak dapat dilakukan rujuk balik ke Faskes Tingkat Pertama karena :
a. Sirosis hepatis merupakan penyakit yang tidak curabel;
b. Tidak ada obat untuk sirosis hepatis;
c. Setiap gejala yang timbul mengarah kegawatdaruratan (misal : eshopageal bleeding); yang harus ditangani di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan;
d. Tindakan-tindakan medik untuk menangani gejala umumnya hanya dapat dilakukan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan.
2. Jenis Obat
Obat yang termasuk dalam Obat Rujuk Balik adalah:
a. Obat Utama, yaitu obat kronis yang diresepkan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dan tercantum pada Formularium Nasional untuk obat Program Rujuk Balik.
b. Obat Tambahan, yaitu obat yang mutlak diberikan bersama obat utama dan diresepkan oleh dokter Spesialis/Sub Spesialis di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan untuk mengatasi penyakit penyerta atau mengurangi efek samping akibat obat utama (BPJS Kesehatan, 2014).
2.2.4 Mekanisme Pendaftaran Peserta Rujuk Balik
Peserta yang berhak memperoleh obat program rujuk balik adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis dan telah mendaftarkan diri
untuk menjadi peserta Program Rujuk Balik.
Adapun mekanisme pendaftaran peserta program rujuk balik yaitu :
1. Peserta mendaftarkan diri pada petugas Pojok Program Rujuk Balik dengan menunjukan :
a. Kartu Identitas peserta BPJS Kesehatan;
b. Surat Rujuk Balik (SRB) dari dokter spesialis;
c. Surat Elijibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Kesehatan;
d. Lembar resep obat/salinan resep.
2. Peserta mengisi formulir pendaftaran peserta Program Rujuk Balik.
3. Peserta menerima buku kontrol Peserta Program Rujuk Balik (BPJS Kesehatan, 2014).
Mekanisme pendaftaran peserta rujuk balik dapt dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Mekanisme Pendaftaran Peserta Program Rujuk Balik 2.2.5 Mekanisme Pelayanan Obat Program Rujuk Balik
Adapun mekanisme pelayanan obat program rujuk balik yaitu :
1. Pelayanan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
a. Peserta melakukan kontrol ke Faskes Tingkat Pertama (tempatnya terdaftar) dengan menunjukkan identitas peserta BPJS, SRB dan buku kontrol peserta PRB.
b. Dokter Faskes Tingkat Pertama melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik yang tercantum pada buku kontrol peserta PRB.
2. Pelayanan pada Apotek/depo Farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk pelayanan obat PRB yaitu dilaksanakan melalui mekanisme :
a. Peserta menyerahkan resep dari Dokter Faskes Tingkat Pertama;
b. Peserta menunjukkan SRB dan Buku Kontrol Peserta.
3. Pelayanan obat rujuk balik dilakukan 3 kali berturut-turut selama 3 bulan di Faskes Tingkat Pertama.
4. Setelah 3 (tiga) bulan peserta dapat dirujuk kembali oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan untuk dilakukan evaluasi oleh dokter spesialis/subspesialis.
5. Pada saat kondisi peserta tidak stabil, peserta dapat dirujuk kembali ke dokter Spesialis/Sub Spesialis sebelum 3 bulan dan menyertakan keterangan medis dan/atau hasil pemeriksaan klinis dari dokter Faskes Tingkat Pertama yang menyatakan kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala/tanda-tanda yang mengindikasikan perburukan dan perlu penatalaksanaan.
6. Apabila hasil evaluasi kondisi peserta dinyatakan masih terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/subspesialis, maka pelayanan program rujuk balik dapat
dilanjutkan kembali dengan memberikan SRB baru kepada peserta (BPJS Kesehatan, 2014).
2.2.6 Ketentuan Pelayanan Obat Program Rujuk Balik
Adapun ketentuan pelayanan obat Program Rujuk Balik yaitu :
1. Obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 (tiga puluh) hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan Daftar Obat Formularium Nasional untuk Obat Program Rujuk Balik serta ketentuan lain yang berlaku.
2. Perubahan/penggantian obat program rujuk balik hanya dapat dilakukan oleh Dokter Spesialis/sub spesialis yang memeriksa di Faskes Tingkat Lanjutan dengan prosedur pelayanan RJTL. Dokter di Faskes Tingkat Pertama melanjutkan resep yang ditulis oleh Dokter Spesialis/sub-spesialis dan tidak berhak merubah resep obat PRB. Dalam kondisi tertentu Dokter di Faskes Tingkat Pertama dapat melakukan penyesuaian dosis obat sesuai dengan batas kewenangannya.
3. Obat PRB dapat diperoleh di Apotek/depo farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan Obat PRB.
4. Jika peserta masih memiliki obat PRB, maka peserta tersebut tidak boleh dirujuk ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut, kecuali terdapat keadaan emergency atau kegawatdaruratan yang menyebabkan pasien harus konsultasi ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut (BPJS Kesehatan, 2014).
2.3 Penyakit Kronis
2.3.1 Pengertian Penyakit Kronis
Menurut Mattson (2012) menjelaskan bahwa penyakit kronis adalah penyakit yang terjadi secara menahun dengan masa pengobatan membutuhkan waktu yang panjang. Penyakit kronis adalah suatu penyakit menahun yang dapat berlangsung lama dan fatal, penyakit ini diasosiasikan dengan kerusakan atau penurunan fungsi fisik dan mental. Penyakit kronis merupakan permasalahan kesehatan serius dan penyebab kematian terbesar di dunia.
Karakteristik penyakit kronis adalah penyebab tidak pasti memiliki faktor resiko, membutuhkan durasi yang lama, menyebabkan kerusakan fungsi atau ketidakmampuan dan tidak dapat disembuhkan. Penyakit kronis tidak disebabkan oleh infeksi atau patogen melainkan gaya hidup dan perilaku beresiko. Penyakit kronis cenderung bersifat permanen yang memperlihatkan adanya penurunan atau menghilangnya suatu kemampuan untuk menjalankan berbagi fungsi organ-organ pengindaraan. Penyakit kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat diminimalkan tingkat keparahanya dengan merubah perilaku, gaya hidup dan pajanan terhadap faktor-faktor tertentu di dalam kehidupan.
2.3.2 Kategori Penyakit Kronis
Menurut Christienses and Janet (2013) mengutip dari Conrad (1978), ada beberapa penyakit kronis :
a. Lived with Illnesses
Pada kategori ini individu diharuskan beradaptasi dan mempelajari kondisi penyakitnya selam hidup, dan biasanya mereka tidak mengalami kehidupan yang
mengancam. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah diabetes, asma, arthritis, dan epilepsi.
b. Mortal Illnesses
Pada kategori ini secara jelas individu kehidupannya terancam dan individu yang menderita penyakit ini hanya bisa merasakan gejala-gejala dari penyakitnya dan ancaman kematian. Penyakit yang dalam kategori ini dalah kanker dan penyakit kardiovaskuler.
c. At Risk Illnesses
Kategori penyakit ini sangat berbeda dari dua kategori sebelumnya. Pada kategori penyakit ini tidak menekankan pada penyakitnya tetapi pada resiko penyakitnya. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah hipertensi dan penyakit yang berhubungan dengan hereditas.
2.3.3 Fase Penyakit Kronis
Menurut Bare dan Smeltzer (2011) ada delapan fase dalam penyakit kronis, yaitu:
1. Fase trajectory
Adanya gejala yang berkaitan dengan penyakit kronis. Fase ini sering tidak jelas karena sedang dievaluasi dan pemeriksaan diagnostik perlu dilakukan.
2. Fase stabil
Terjadi ketika gejala-gejala dan perjalanan penyakit terkontrol. Aktifitas kehidupan sehari-hari dapat tertangani dalam keterbatasan penyakit. Terhadap gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
3. Fase tidak stabil
Periode ketidakmampuan untuk menjaga gejala tetap terkontrol atau reaktivasi penyakit. Terdapat gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
4. Fase akut
Ditandai dengan gejala-gejala yang berat dan tidak dapat pulih atau komplikasi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk menanganinya.
5. Fase krisis
Ditandai dengan situasi kritis atau mengancam jiwa yang membutuhkan pengobatan atau perawatan kedaruratan.
6. Fase pulih
Pulih kembali pada cara hidup yang diterima dalam batasan yang dibebani oleh penyakit kronis.
7. Fase penurunan
Terjadi ketika perjalanan penyakit berkembang dan disertai dengan peningkatan ketidakmampuan dan kesulitan dalam mengatasi gejala-gejala.
8. Fase kematian
Ditandai dengan penurunan bertahap tapi cepat fungsi tubuh dan penghentian hubungan individual.
2.4 Rumah Sakit
2.4.1 Pengertian Rumah Sakit
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2014 tentang kalsifikasi dan perizinan rumah sakit mendefinisikan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit menyatakan bahwa rumah sakit yaitu institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Rumah sakit umum adalah adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Rumah sakit umum mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien, mengutamakan penyembuhan dan pemulihan kesehatan pasien secara serasi dan terpadu. Untuk upaya tersebut fungsi praktis rumah sakit umum adalah untuk menyelenggarakan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, pelayanan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan,administrasi dan keuangan (Permenkes RI No. 56 Tahun 2014)
Rumah sakit memfasilitasi penyelenggaraan perawatan rawat inap, pelayanan observasi, diagnosa dan pengobatan aktif untuk individu dengan keadaan medis, bedah, kebidanan, penyakit kronis dan rehabilitasi yang memerlukan pengarahan dan pengawasan dokter setiap hari serta perawatan kesehatan pribadi dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif untuk kepentingan masyarakat.
2.4.2 Fungsi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, rumah sakit umum mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
2.4.3 Kewajiban Rumah Sakit
Sesuai UU No. 44 Tahun 2009 (UU tentang Rumah Sakit) pasal 29 menyatakan bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :
a. Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat
b. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit
c. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya
d. Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana,
sesuai dengan kemampuan pelayanannya e. Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
miskin
f. Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan
g. Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien
h. Menyelenggarakan rekam medis
i. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat,wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia
j. Melaksanakan sistem rujukan
k. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan
l. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien
m. Menghormati dan melindungi hak-hak pasien n. Melaksanakan etika Rumah Sakit
o. Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana
p. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional
q. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya
r. Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws)
s. Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas dan
t. Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagaikawasan tanpa rokok.
2.4.4 Hak Rumah Sakit
Sesuai UU No. 44 Tahun 2009 (UU tentang Rumah Sakit) pasal 30 menyatakan bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai hak :
a. Menentukan jumlah, jenis, dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit
b. Menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi, insentif, dan penghargaan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan c. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan
pelayanan
d. Menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
e. Menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian
f. Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
g. Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
h. Mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan.
2.5 Kerangka Pikir Penelitian
Pada prinsipnya keberhasilan pelaksanaan program ruju Balik penyakit kronis pada peserta jaminan kesehatan (JKN) dapat diukur melalui indikator masukan (input), proses (process), dan luaran (output) yang didasarkan pada program kegiatan tata laksana pelaksanaan progrm rujuk balik. Oleh karena itu fokus penelitian dapat disusun sebagai berikut :
Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu pendekatan penelitian untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif-perspektif (misalnya, makna-makana yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan baru (Creswell, 2010).
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara mendalam tentang pelaksanaan program rujuk balik penyakit kronis pada peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) di Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga tahun 2017.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing kota Sibolga. Alasan pemilihan lokasi ini karena tingginya angka rujukan dan kunjungan pada kasus penyakit kronis yang ada di wilayah kerja Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing kota Sibolga.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2017 sampai Maret 2018.
3.3 Pemilihan Informan
Pemilihan informan pada penelitian kualitatif berdasarkan prinsip-prinsip kualitatif, yaitu prinsip kesesuaian dan kecukupan. Prinsip dimana informan dalam peneltian ini dipilih berdasarkan pengetahuan dan berdasarkan kesesuaian dengan topik penelitian ini dimana informan tersebut bertanggung jawab langsung memberikan pelayanan kesehatan. Prinsip kedua yaitu kecukupan dimana informan yang dipilih mampu menggambarkan dan memberikan informasi yang cukup mengenai topik penelitian ini.
Informan dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purposif yaitu pengambilan informan secara sengaja sesuai dengan persyaratan informan yang diperlukan dengan memilih informan yang berada dan mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan topik penelitian yaitu pelaksanaan program rujuk balik penyakit kronis pada peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) yang terdiri dari :
1. Manajemen Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga 2. Dokter spesialis pemberi layanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Dr.
Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga
3. Penanggungjawab layanan BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Umum Dr.
Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga
4. Dokter pemberi layanan primer di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas)
5. Apotek yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
6. Pasien penderita penyakit kronis yang menjadi peserta JKN yang memanfaatkan layanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer merupakan data yang merupakan sumber utama untuk dijadikan landasan dalam penulisan penelitian yang didapatkan melalui hasil wawancara mendalam (indeep interview) dengan informan penelitian.
Pada penelitian ini wawancara mendalam (indeep interview) dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Indeep Interview atau wawancara
Pada penelitian ini wawancara mendalam (indeep interview) dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Indeep Interview atau wawancara