• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Kajian

Dalam dokumen BAB 2 TINJAUAN TEORI... (Halaman 9-54)

BAB 1 PENDAHULUAN

D. Manfaat Kajian

Penelitian atau kajian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

1. Pemerintah sebagai pelaksana UU No. 12 Tahun 2006 supaya dapat menjalankan undang-undang tersebut sebagaimana mestinya.

2. KPU sebagai penyelenggara Pilkada supaya dapat memposisikan diri secara tepat dalam kasus ini.

6 3. Pembentuk undang-undang supaya dapat menyempurnakan

pengaturan UU No. 12 Tahun 2006 yang masih kurang memadai.

7 BAB 2

TINJAUAN TEORI

A. Kerangka Teori/Pemikiran

Fokus permasalahan penelitian ini adalah implementasi atau penerapan UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan dalam hal timbul persoalan dalam penyelenggaraan Pilkada di mana persoalan tersebut adalah status kewarganegaraan ganda dari peserta Pilkada yang diketahui setelah tahapan pemungutan suara dan penetapan hasil pemungutan suara.

Sesuai lingkup permasalahan tersebut, secara asas atau prinsip, implementasi UU No. 12 Tahun 2006 dalam penyelenggaraan Pilkada tidak memiliki perbedaan dengan implementasi dalam situasi biasa. UU No. 12 Tahun 2006, seperti kebanyakan undang lainnya, adalah undang-undang yang untuk pelaksanaannya menjadi tanggung jawab pemerintah (eksekutif) sehingga permasalahan ini masuk dalam ranah Hukum Administrasi. Dengan pemahaman demikian maka Tinjauan Teori akan menjelaskan peran pemerintah dalam melaksanakan undang-undang (executing the laws) secara umum dengan dilatar belakangi hal yang sangat prinsip atau fundamental dari Hukum Administrasi yaitu perlindungan hukum bagi rakyat atas tindak-tindak pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah dalam melaksanakan undang-undang.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, permasalahan yang timbul dalam penyelenggaraan Pilkada ini sangat terkait dengan ketentuan UU No. 12 Tahun 2006 karena ketentuan substantif dalam undang-undang tersebut mengandung larangan kewarganegaraan ganda serta implikasi yuridisnya jika larangan tersebut dilanggar yaitu seseorang dapat kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Seperti dijelaskan, terkait dengan larangan tersebut serta implikasinya jika larangan dilanggar, tanggung jawab untuk menegakkan ketentuan-ketentuan UU No. 12 Tahun 2006 ada pada pemerintah sebagai pelaksana undang-undang. Atas dasar itu, Tinjauan Teori akan difokuskan pada bagaimana seharusnya pemerintah menjalankan peran tersebut. Inilah relevansi untuk membicarakan perlindungan hukum bagi rakyat atas tindak-tindak pemerintahan yang dilakukan oleh

8 pemerintah dalam melaksanakan undang-undang dengan konteks yang sangat khusus yaitu pelaksanaan UU No. 12 Tahun 2006, dalam hal ini terutama ketentuan Pasal 23. Diskusi tentang perlindungan hukum bagi rakyat tersebut difokuskan pada dua hal. Pertama, hak asasi manusia (HAM) dalam kaitan dengan kewarganegaraan. Kedua, due process of law sebagai mekanisme perlindungan HAM dalam implementasi ketentuan Pasal 23 UU No. 12 Tahun 2006.

1. Perlindungan Hukum bagi Rakyat

Isu utama dalam Hukum Administrasi terkait dengan tanggung jawab pelaksanaan undang-undang oleh pemerintah melalui tindak-tindak pemerintahan adalah perlindungan hukum bagi rakyat. Konsep perlindungan hukum bagi rakyat di sini bertolak dari HAM sebagai norma fundamental untuk hubungan antara penguasa (pemerintah) dengan individu yang secara fungsional bertujuan untuk pembatasan kekuasaan kepada pemerintah. Pembatasan kekuasaan pemerintah memiliki concern utama untuk mencegah timbulnya arbitrary government. Mencegah arbitrary government tidak hanya menjadi ide sentral dalam Hukum Tata Negara,4 tetapi juga Hukum Administrasi. Hal itu tercermin dari pendapat Timothy Endicott yang menjelaskan tentang fokus utama dari Hukum Administrasi sebagai berikut: “The main point of administrative law is to stand against arbitrary government, by imposing the rule of law on executive action.”5

Sesuai pengertian yang diberikan Peter Cane, Hukum Administrasi memiliki lingkup atau cakupan yang jika dijelaskan dalam konteks pengertian trias politica adalah sebagai berikut: “In terms of the traditional tripartite division of public functions into legislative, executive, and judicial, administrative law focuses primarily (but certainly not exclusively) on the executive function.”6 Hukum Administrasi dengan demikian memiliki lingkup yang lebih sempit dari Hukum Tata Negara karena “constitutional law is

4 Dalam Hukum Tata Negara hal itu terkait dengan konsep konstitusi dikaitkan dengan konstitusionalisme. Secara umum lihat karya klasik Charles Howard McIlwain, Constitutionalism: Ancient and Modern, Cornell University Press, Ithaca-New York, 1947, h.

1-23.

5 Timothy Endicott, Administrative Law, Edisi Kedua, Oxford University Press, Oxford, 2011, h. 8.

6 Peter Cane, Administrative Law, Edisi Kelima, Clarendon Press, Oxford, 2011, h. 3-4.

9 equally concerned with all three functions and the institutions that perform them.”7

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dirumuskan pengertian spesifik tentang Hukum Administrasi sebagai hukum yang ditujukan secara khusus kepada pemerintah, dalam hal ini mengatur tindak-tindak pemerintahan oleh pemerintah dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan (eksekutif). Dalam pengertian demikian maka hakikat Hukum Administrasi secara fungsional adalah untuk mengontrol pemerintah dalam tindakan menjalankan kekuasaan pemerintahan yang ada di tangannya.

Oleh karena itu, untuk gambaran tentang aspek fungsional tersebut, Cane menyatakan: “administrative law is about the accountability of public administrators for the performance of their functions, the exercise of their powers, and the discharge of their duties. In other words, it is concerned with enforcement of (ie ensuring compliance and remedying noncompliance with) the norms that regulate public administration.”8 Dengan menekankan pada tuntutan akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan fungsi atau kekuasaannya maka Hukum Administrasi menghendaki supaya operasional pemerintah didasarkan pada hukum yang mengaturnya, sehingga tuntutan akuntabilitas muncul sebagai bentuk penegakan terhadap hukum tersebut supaya pemerintah patuh terhadap hukum yang mendasari tindakannya.

Pada tataran konseptual, pengertian yang diberikan Cane memiliki kesamaan dengan pengertian yang diberikan Endicott. Bertolak dari pengertian keduanya, isu perlindungan hukum bagi rakyat atas tindak-tindak pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah dalam melaksanakan undang-undang adalah isu sentral yang harus dijawab oleh Hukum Administrasi jika secara tujuan Hukum Administrasi dimaksudkan sebagai pembatasan terhadap pemerintah supaya tidak menjadi arbitrary government. Atas dasar itu, perlindungan hukum bagi rakyat atas tindak-tindak pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah dalam melaksanakan undang-undang merupakan isu sentral supaya Hukum Administrasi operasional dan mampu mencapai tujuannya untuk membatasi pemerintah itu sendiri.

7 Ibid., h. 4.

8 Ibid., h. 12-13.

10 Dengan penjelasan di atas maka dapat dijustifikasi bahwa isu implementasi UU No. 12 Tahun 2006 secara umum oleh pemerintah perlu dilihat dari perspektif perlindungan hukum bagi rakyat karena tindak pemerintahan dalam implementasi undang-undang tersebut tidak boleh dilakukan secara arbitrer seperti dikehendaki oleh Hukum Administrasi.

Larangan kepada pemerintah untuk berlaku arbitrer sebagai “roh-nya”

Hukum Administrasi mengandung pengertian konkret: “A decision-making arrangement does not count as arbitrary government if there is a good reason for leaving the decision maker free to act as he or she sees fit.”9 Tindakan pemerintah tidak dikatagorikan sebagai artibrer jika tindakan tersebut beralasan atau didasari good reason; dan bukan tindakan yang didasari oleh apa yang semata-mata diinginkan oleh pemerintah sendiri. Alasan untuk tindakan pemerintah tersebut tentu saja adalah hukum itu sendiri. Inilah yang memberikan perlindungan hukum kepada rakyat manakala berhadapan dengan pemerintah; tindakan pemerintah kepadanya (tindak pemerintahan) tidak boleh arbitrer sehingga untuk tindakannya tersebut pemerintah harus memiliki good reason sebagai justifikasinya.

2. HAM sebagai Dasar Perlindungan Hukum bagi Rakyat

Perlindungan hukum bagi rakyat secara umum beranjak dari konsep HAM.10 Konsep HAM sendiri memang secara inheren mengandung hakikat perlindungan hukum bagi rakyat terhadap pemerintah seperti nampak dari pendapat Louis Henkin:

Human rights … are rights against society as represented by government and its officials. One may conclude that government must protect the individual from neighbors or from wolves, that it must afford legal remedies against a wrongdoer, that it must provide bread or free hospitalization; but, at bottom, the rights claimed are against the State, not against the neighbor or the wolves, the wrongdoer, the baker, or the hospital.11

Jika pendapat Henkin diikuti maka, sebagai ideal, HAM adalah jantungnya Hukum Publik secara keseluruhan sebagai hukum yang

9 Timothy Endicott, Op.Cit., h. 7.

10 Titon Slamet Kurnia, “Negara Berbasis Hak sebagai Argumen Justifikasi Pengujian Konstitusionalitas Undang-Undang,” Jurnal Konstitusi, Vol. 9, No. 3, 2012, h. 565-567.

11 Louis Henkin, The Rights of Man Today, Center for the Study of Human Rights – Columbia University, New York, 1988, h. 2.

11 mengatur hubungan antara negara dengan individu.12 Disebut ideal karena fungsinya adalah sebagai apa yang seharusnya. Dikatakan demikian karena tidak semua penguasa dapat dengan sukarela menerima pengertian ini sehingga untuk dapat berlaku maka pengertian tersebut perlu dipaksakan kepada penguasa supaya bersedia menerimanya. Inilah fenomena umum yang selalu terjadi dalam hubungan antara Hukum Publik dan HAM, termasuk yang terjadi di Indonesia. Diperlukan gerakan perubahan politik yang revolusioner untuk menjadikan HAM sebagai norma bagi pemerintah – yang proses positivisasinya ke dalam konstitusi Indonesia, UUD 1945, hanya dapat terjadi karena proses perubahan politik itu terjadi. Dengan kata lain, jika proses perubahan politik itu gagal, ideal tersebut belum tentu menjadi

“kenyataan yuridis” di Indonesia – dalam hal ini HAM sebagai norma bagi pemerintah secara umum.

Sesuai penjelasan di atas, justifikasi bahwa HAM adalah dasar untuk perlindungan hukum bagi rakyat terhadap pemerintah yang ideal tidak terlalu sulit. Jika pertanyaannya adalah mengapa harus ada perlindungan hukum bagi rakyat terhadap pemerintah maka jawaban spesifik untuk pertanyaan itu tentu saja karena HAM. Perlindungan hukum bagi rakyat mengandung pengertian bahwa rakyat yang terdampak oleh tindakan yang dilakukan pemerintah tidak boleh dibiarkan menanggung sendiri kerugian akibat dari tindakan itu jika pemerintah bertindak tidak sesuai dengan hukum – membiarkan itu maka kita akan mendapatkan apa yang disebut arbitrary government. Dalam hubungan antara pemerintah dengan rakyat maka konsepsi demikian dasarnya adalah HAM seperti dijelaskan oleh Henkin.13 Dengan HAM sebagai dasarnya untuk perlindungan hukum bagi rakyat tersebut maka sebagai implikasinya kita dapat mengklaim berlakunya HAM sebagai norma bagi pemerintah yang berfungsi memberikan perlindungan hukum bagi rakyat. Dalam rumusan kalimat berbeda, norma dari perlindungan hukum tersebut, pemerintah harus bertindak sesuai

12 Tentang konsep Hukum Publik di atas lihat Peter Cane, Loc.Cit.

13 Untuk lebih spesifik lagi, konstruksi yuridis hubungan antara pemerintah dan rakyat dengan dasar HAM tersebut adalah: “for legally codified human rights, the right holders are each and every human being; while the obligation holders are, first and foremost, States or agents of the States.” Sigrun I. Skogly, The Human Rights Obligations of the World Bank and the International Monetary Fund, Cavendish Publishing, London, 2001, h. 47.

12 dengan HAM, atau pemerintah tidak boleh bertindak dengan melanggar HAM.14

Khusus terkait dengan permasalahan yang hendak didiskusikan, dalam hal ini tentang kewarganegaraan, isu HAM sebagai dasar perlindungan hukum sangat menonjol karena memiliki kewarganegaraan itu sendiri adalah HAM. Art. 15 Deklarasi Universal HAM menyatakan: “Everyone has the right to a nationality. No one shall be arbitrarily deprived of his nationality nor denied the right to change his nationality.”15 Kehilangan kewarganegaraan karena alasan kewarganegaraan ganda adalah isu yang sangat relevan untuk didiskusikan dari perspektif HAM karena, dari bagian hulunya sendiri, memiliki kewarganegaraan adalah HAM itu sendiri. Kehilangan kewarganegaraan, apapun alasan yuridisnya, harus dianggap sebagai isu sangat serius dari perspektif HAM meskipun untuk kehilangan kewarganegaraan tersebut sudah memenuhi syarat legalitas. Atas dasar itu bagian selanjutnya dari Tinjauan Teori akan menjelaskan tentang due process of law supaya momen kehilangan kewarganegaraan yang sangat kritikal dari perspektif HAM dapat dimoderasi sehingga tidak ada praktik arbitrary government di dalamnya.

3. Due Process of Law dan Perlindungan HAM

Dalam rangka perlindungan hukum bagi rakyat secara umum, dan perlindungan HAM secara khusus, due process of law adalah asas atau prinsip prosedural terkait dengan tindak pemerintahan yang dapat berdampak pada (merugikan) hak individu. Konstitusi negara-negara yang berdasarkan HAM sangat jelas menempatkan due process of law dalam konteks syarat untuk tindak pemerintahan yang dapat berdampak pada hak individu.16 Atas dasar itu Victor V. Ramraj menggaris bawahi fungsi due process of law secara umum: “they impose general constraints on the ability of the State to deprive a person of life or liberty.”17

14 Theodore S. Orlin dan Martin Scheinin, “Introduction,” dalam Theodore S. Orlin, et.al., eds., The Jurisprudence of Human Rights Law: A Comparative Interpretive Approach, Institute for Human Rights-Abo Akademi University, Turku, 2000, h. 1.

15 Ini berbeda dengan formulasi Pasal 28E ayat (1) UUD 1945: “Setiap orang bebas … memilih kewarganegaraan.”

16 Victor V. Ramraj, “Four Models of Due Process,” International Journal of Constitutional Law, Vol. 2, No. 3, 2004, h. 494-495. Dalam hal ini menunjuk pada beberapa contoh konstitusi Singapura, India, Amerika Serikat, Afrika Selatan dan Kanada.

17 Ibid., h. 495.

13 Menurut Endicott, due process of law mengandung pengertian: “All governmental decisions ought to be made by processes that put the relevant considerations effectively before the decision makers.”18 Lebih lanjut Endicott menjelaskan keberlakuan due process of law sebagai norma bagi pemerintah dalam melakukan tindakan sebagai berikut: “the only way in which to achieve that goal is to give people affected by the decision an opportunity to participate in the process.”19

Peran serta individu dalam pengambilan keputusan pemerintah yang berdampak kepadanya dalam konteks perlindungan hukum adalah memberikan kesempatan bagi individu untuk membela diri sehingga dengan adanya kesempatan itu maka kerugian yang diakibatkan oleh keputusan pemerintah dapat dicegah. Oleh sebab itu, bentuk penerapan due process of law dalam pengertian di atas berbeda-beda secara kasuistis. Bagian terpenting dari partisipasi tersebut adalah untuk pemerintah mendapatkan masukan dalam rangka menghasilkan pertimbangan paling memadai terkait dengan keputusan yang diambil.20 Hal ini berkaitan dengan penjelasan sebelumnya tentang arbitrary government yang dapat dicegah dengan jalan tindakan atau keputusan yang diambil pemerintah harus memiliki pertimbangan yang memadai – dan untuk sampai ke sana maka pihak yang terdampak oleh tindakan atau keputusan pemerintah juga harus diberikan kesempatan untuk berpartisipasi.

Due process of law sangat populer di bidang Hukum Acara Pidana karena proses peradilan pidana berpengaruh sangat signifikan terhadap HAM atau kebebasan individu, terutama karena sifat sanksi pidana yang khas dalam kaitan dengan HAM. Tetapi secara hakikat, due process of law ini memiliki cakupan atau jangkauan lebih luas. Keberlakuannya ditentukan oleh pengertian atau pemahaman bahwa HAM tidak cukup hanya dijamin secara yuridis (legally guaranteed), tetapi juga harus dilindungi dalam praktik (protected in practice).21 Aspirasi demikian yang secara logis memperluas keberlakuan due process of law dengan pengertian yang bersifat

18 Timothy Endicott, Op.Cit., h. 21.

19 Ibid.

20 Ibid.

21 Todung Mulya Lubis, In Search of Human Rights: Legal-Political Dilemmas of Indonesia’s New Order 1966-1990, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan SPES, Jakarta, 1993, h. 110.

14 imperatif: semua tindak pemerintahan yang berdampak pada hak-hak individu harus dilakukan dalam koridor due process of law. Perlindungan prosedural ini sangat penting karena meminimalisir kesempatan atau peluang bagi tindakan pemerintah yang dapat berdampak merugikan kepada individu.

Berdasarkan Tinjauan Teori yang sudah dilakukan di atas dapat dirumuskan pengertian teoretis yang nanti mendasari pembahasan penelitian ini, dalam kaitan dengan permasalahan penelitian, sebagai berikut. Pertama, lingkup permasalahan yang dihadapi adalah permasalahan yang berhubungan erat dengan HAM: memiliki kewarganegaraan serta kehilangan kewarganegaraan (meskipun berdasarkan alasan yang telah ditetapkan oleh undang-undang) sama-sama merupakan isu HAM. Kedua, undang-undang tidak dapat berjalan sendiri karena setiap undang-undang harus memiliki pihak pelaksana yang bertanggung jawab melaksanakan undang-undang (to execute the laws). Hilangnya kewarganegaraan seseorang berdasarkan syarat yang ditentukan undang-undang tetap menghendaki tindakan pemerintah dalam prosesnya. Ketiga, sebagai implikasinya, dengan ada pihak yang secara jelas bertanggung jawab atas pelaksanaan undang-undang, dalam hal ini pemerintah, termasuk UU No. 12 Tahun 2006, kita dapat berbicara isu selanjutnya yaitu perlindungan hukum c.q. perlindungan HAM. Pemerintah sebagai pelaksana undang-undang yang dituntut dalam konteks perlindungan hukum tersebut. Keempat, hilangnya kewarganegaraan seseorang, berdasarkan syarat kehilangan kewarganegaraan yang ditentukan oleh undang-undang, harus tetap didasari oleh tindakan (keputusan) pemerintah karena inilah starting point untuk perlindungan hukum c.q. perlindungan HAM bagi individu yang terdampak;

jika individu merasa dirugikan maka kepada siapa dia akan menuntut pertanggungjawaban menjadi jelas. Kelima, due process of law menggariskan batasan prosedural untuk pemerintah yang akan melakukan tindakan tersebut dan sekaligus prosedur untuk individu berkesempatan melindungi hak atau kepentingannya dari tindakan pemerintah.

B. Hipotesis Kajian

Hakikat pengertian teoretis di atas berfungsi mengarahkan proses menjawab permasalahan penelitian – yang dalam hal ini secara khusus akan

15 menanggapi dua hal. Pertama, interpretasi MK atas Pasal 23 UU No. 12 Tahun 2006 bahwa seseorang dapat serta-merta kehilangan kewarganegaraan Indonesia dengan mengacu kriteria yang ada dalam ketentuan a quo. Kedua, diskualifikasi kepesertaan dalam Pilkada oleh MK dikaitkan dengan terpenuhinya syarat kehilangan kewarganegaraan Indonesia berdasarkan Pasal 23 UU No. 12 Tahun 2006.

Terkait dengan permasalahan tersebut maka “hipotesis” kajian ini adalah:

1. Kehilangan kewarganegaraan Indonesia dengan mengacu Pasal 23 UU No. 12 Tahun 2006 tidak dapat serta-merta, tetapi harus didahului dengan tindak pemerintahan, dalam hal ini keputusan pemerintah karena berkaitan dengan persoalan perlindungan hukum bagi pihak yang harus kehilangan kewarganegaraan tersebut.

2. Diskualifikasi tidak tepat karena bertolak dari dasar yang tidak tepat (dalam hal ini ketidaktepatan interpretasi MK atas Pasal 23 UU No.

12 Tahun 2006 bahwa ketentuan tersebut dapat berlaku serta-merta sehingga tidak mencerminkan perlindungan hukum itu sendiri).

Namun demikian, walau tidak tepat, Putusan MK tersebut “dapat dimaklumi” – konsekuensi dari putusan yang benar sesuai Hukum Administrasi (untuk tidak didiskualifikasi) rupanya tidak diinginkan karena dapat memantik timbulnya sentimen moral.

16 BAB 3

METODOLOGI KAJIAN

A. Jenis Penelitian

Beranjak dari tema dan topik riset dalam dokumen Pedoman Riset Kepemiluan yang diterbitkan KPU RI dan sesuai dengan latar belakang keilmuan dari peneliti, maka penelitian ini lebih dominan sebagai penelitian hukum (legal research). Suatu penelitian hukum secara substantif fokusnya membicarakan hukum (to state the law), yaitu membicarakan normative statements; dan tidak membicarakan apa yang ada atau apa yang terjadi.

Penelitian hukum memiliki padanan istilah doctrinal research. Dinamakan demikian karena penelitian ini: “identify, analyse and synthesise the content of the law.”22 Konsekuensi penelitian ini, akan mengandalkan pada dukungan literature (library-based research).23

Berbeda dengan penelitian sosial, desain metodologi dalam penelitian hukum pada prinsipnya hampir sama, yaitu, yang paling fundamental, harus mencerminkan proses “appeal to authorities”. Pemahaman demikian dijelaskan sangat baik oleh Terry Hutchinson: “The doctrinal method is normally a two-part process involving both locating the sources of the law and then interpreting and analysing the text. In undertaking a doctrinal study, the researcher must initially access ‘the law’.”24 Letak kekhasan yang lain dari penelitian hukum ialah proses atau kegiatan penelitiannya. Proses atau kegiatan dari penelitian hukum adalah argumentatif dan interpretif. Oleh karena itu, bentuk atau model penulisan yang digunakan untuk pelaporan penelitian ini adalah argumentative writing yang notabene merupakan proses penyampaian suatu legal reasoning atau legal argumentation. Lebih lanjut, terkait dengan teknik dalam melakukan penelitian hukum, jenis

teknik-22 Terry Hutchinson, “Doctrinal Research: Researching the Jury” dalam Dawn Watkins &

Mandy Burton (eds.), Research Methods in Law (Routledge 2013) 9.

23 Oleh karena itu, sebagai standar universal untuk law school di seluruh dunia, law library diposisikan sebagai laboratoriumnya untuk orang hukum (lawyer’s labaratory). Misalnya Standar 5.1. The Council of Australian Law Deans Standards for Australian Law Schools yang menyatakan: “Recognising that the law library has a distinctive role in the university, and is appropriately described, to underline the parallel with the essential equipment of the scientist, as ‘the lawyer’s laboratory’.”

24 Terry Hutchinson, Op.cit. 13.

17 teknik interpretif yang digunakan adalah merujuk pada teknik-teknik interpretif yang dikenal dalam Ilmu Hukum, di mana dalam arti luas teknik atau metode itu disebut penemuan hukum (rechtsvinding atau legal method).25

B. Jenis Pendekatan

Terdapat beberapa jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan perundang-undanganan (statute approach), dan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan konseptual (conceptual/theoretical approach) adalah pendekatan yang mengkaji pendapat, pandangan-pandangan atau doktrin sarjana yang berkembang dalam ilmu hukum untuk menemukan ide yang melahirkan pengertian hukum, konsep hukum, asas hukum yang relevan dengan isu kepemiluan. Dalam penelitian ini dilakukan pengkajian beberapa konsep tertentu diantaranya konsep tindakan pemerintah, hak asasi manusia, dan perlindungan hukum bagi rakyat atas tindak pemerintah.

Pendekatan kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), khususnya peraturan perundang-undangan terkait kewarganegaraan dan pemilihan kepala daerah. Hal ini digunakan sebagai bahan hukum untuk mengelaborasi persoalan kewarganegaraan asing calon kepala daerah serta ranah kewenangan mahkamah konstitusi dalam menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah. Pendekatan terakhir adalah pendekatan kasus (case approach) yang akan melihat pada ratio decidendi atau alasan-alasan hukum (reasoning) yang digunakan, baik oleh penyelenggara pemilu, pemerintah, maupun mahkamah konstitusi dalam menyelesaikan dan

Pendekatan kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), khususnya peraturan perundang-undangan terkait kewarganegaraan dan pemilihan kepala daerah. Hal ini digunakan sebagai bahan hukum untuk mengelaborasi persoalan kewarganegaraan asing calon kepala daerah serta ranah kewenangan mahkamah konstitusi dalam menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah. Pendekatan terakhir adalah pendekatan kasus (case approach) yang akan melihat pada ratio decidendi atau alasan-alasan hukum (reasoning) yang digunakan, baik oleh penyelenggara pemilu, pemerintah, maupun mahkamah konstitusi dalam menyelesaikan dan

Dalam dokumen BAB 2 TINJAUAN TEORI... (Halaman 9-54)

Dokumen terkait