• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah : 1. Bagi Universitas Sanata Dharma Fakultas Vokasi

a. Terapi Infared dapat menjadi alat peraga sebagai bahan ajar dalam perkuliahan.

b. Menjadi tolak ukur sejauh mana ilmu yang diserap selama masa perkuliahan.

2. Bagi Mahasiswa

a. Menjadi sarana mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang didapatkan selama masa perkuliahan.

b. Menjadi sarana mahasiswa untuk mengasah keterampilan dan kreativitas, serta cara berpikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

c. Menambah wawasan mahasiswa dalam hal penggunaan metode baru atau alternatif pada perkembangan alat kesehatan khusunya terapi.

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini menjelaskan tentang teori dasar yang digunakan dalam pembuatan rancang bangun alat terapi infrared berbasis arduino uno.

2.1 Terapi Infrared

Terapi Inframerah adalah salah satu jenis terapi dalam bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang menggunakan gelombang elektromagnetik inframerah dengan karakteristik panjang gelombang 770 nm - 106 nm, dengan tujuan untuk pemanasan struktur muskuloskeletal yang terletak superfisial dengan daya penetrasi 0,8 mm - 1 mm. Daya penetrasi gelombang pendek inframerah lebih dalam daripada gelombang panjang yaitu sampai jaringan subkutan sehingga dapat mempengaruhi secara langsung terhadap pembuluh darah kapiler, pembuluh limfe, ujung - ujung saraf dan jaringan lain di bawah kulit [2].

Panas yang diberikan oleh lampu infra merah akan masuk ke dalam tubuh dengan kedalaman yang berbeda-beda. Efek panas yang diharapkan melalui terapi panas menggunakan sinar infra merah, yaitu: (1) memperbaiki sirkulasi darah, (2) meningkatkan metabolisme tubuh, (3) meningkatkan produksi keringat yang dapat membantu membentuk eliminasi metabolit, (4) meningkatkan efek viskoelastik pada jaringan kolagen, (5) meningkatkan sirkulasi darah, dan (6) membantu resolusi infiltrasi radang, edema, dan eksudasi [3].

Dosis yang digunakan dalam aplikasi penggunaan inframerah untuk jarak dari tenaga medis satu dengan yang lain selalu berbeda. Pada penggunaan lampu non luminous (hanya mengandung inframerah) jarak lampu yang digunakan adalah antara 45 – 60 cm, sinar diusahakan tegak lurus dengan daerah yang diobati serta waktu antara 10 – 30 menit. Pada penggunaan lampu luminous (inframerah mengandur sinar visible dan ultraviolet) jarak lampu 35 – 45 cm, sinar diusahakan tegak lurus, waktu

antara 10 – 30 menit disesuaikan dengan kondisi penyakitnya [4].

Suhu minimal untuk dapat menghasilkan luka bakar adalah sekitar 44°C dengan kontak sekurang-kurangnya 5 – 6 jam, dan dengan suhu 65°C cukup kontak selama 2 detik mampu menghasilkan luka bakar [5]. Sedangkan suhu aman maksimal yang dapat diterima kulit manusia adalah 51,5°C, sehingga suhu aman maksimal yang dapat digunakan selama proses terapi inframerah adalah 51,5°C.

2.1.1 Tiper Sinar dan Alat Terapi Inframerah

Sinar inframerah dibedakan menjadi 2 yaitu Non Luminous dan Luminous.

Lampu inframerah tipe Non Luminous tidak bercahaya sama sekali namun menghasilkan panas yang bisa membakar jaringan tubuh jika penggunaan terlalu over atau bersinggungan dengan kulit. Tipe lampu Luminous ini bercahaya merah terang dan menghasilkan panas yang membakar pada jaringan tubuh, sehingga penggunaan alat tersebut harus tepat waktu, intensitas, frekuensi dan jarak.

Alat terapi inframerah dibedakan menjadi 2 yaitu portable dan non portable.

Alat terapi tipe portable adalah alat yang bisa dibawa kemana-mana, sedangkan alat terapi inframerah non portable adalah alat yang hanya digunakan di dalam ruangan praktek fisioterapi.

2.1.2 Prosedur Terapi Inframerah [10]

Terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan pada saat proses terapi inframerah sebagai berikut, yaitu :

1. Posisikan penderita atau pengguna terlebih dahulu agar nyaman pada saat terapi lalu sesuaikan dengan daerah yang akan diterapi.

2. Posisi untuk terapi bisa dilakukan secara duduk, terlentang, maupun tengkurap.

3. Daerah yang diobati atau diterapi harus bebas dari pakaian.

4. Pada penggunaan lampu luminous atur jarak pasien antara 45-60 cm, sinar diusahakan tegak lurus dengan daerah yang akan di terapi, dan waktu terapi antara 10-30 menit. Sedangkan pada penggunaan lampu non luminous atur jarak

pasien antara 35-45 cm, sinar diusahakan tegak lurus dengan daerah yang akan diterapi, dan waktu terapi antara 10-30 menit.

5. Setelah itu lakukan prosesterapi jika prosedur diatas telah dilakukan.

2.1.3 Mekanisme Kerja Sinar Infrared untuk Nyeri

Sinar inframerah yang diabsorbsi oleh kulit dapat menimbulkan panas pada tempat yang telah disinari. Panas yang telah masuk ke dalam akan mempengaruhi peningkatan proses metabolisme. Penyinaran dengan sinar inframerah akan meningkatkan proses metabolisme yang mengakibatkan aliran oksigen dan nutrisi ke jaringan juga meningkat sehingga bisa mempercepat perbaikan jaringan jika ada yang mengalami kerusakan. Kenaikan temperatur akibat penyinaran dapat membantu terjadinya relaksasi pada otot dan menyebabkan meningkatnya kemampuan otot untuk berkontraksi. Pengaruh terapeutik sinar inframerah adalah dapat mengurangi dan bahkan dapat menghilangkan nyeri [11].

2.2 HC – SR04

Sensor ultrasonik tipe HC - SR04 merupakan perangkat yang digunakan untuk mengukur jarak dari suatu objek. Kisaran jarak yang dapat diukur sekitar 2 - 400 cm.

Perangkat ini menggunakan dua pin digital untuk mengkomunikasikan jarak yang terbaca. Prinsip kerja sensor ultrasonik ini bekerja dengan mengirimkan pulsa ultrasonik sekitar 40 KHz, kemudian dapat memantulkan pulsa echo kembali, dan menghitung waktu yang diambil dalam mikrodetik. Setiap modul HC-SR04 mencakup pemancar ultrasonik, penerima, dan sirkuit kontrol [6]. Modul HC – SR04 seperti pada gambar 2.1 dibawah ini.

Sumber : https://www.tokopedia.com/nn-digital/hc-sr04-hc-sr04-sensor-ultrasonic- ultrasonik-u-uc-arduino-raspi?whid=0

Gambar 2.1 Modul HC –SR04

Tabel 2.1 Tabel Spesifikasi Sensor HC – SR0

Keterangan Spesifikasi

Working Voltage DC 5V

Working Current 15 Ma

Working Frequency 40 Hz

Max Range 4 m

Min Range 2 cm

MeasuringAngle 15 degree

Trigger Input Signal 10μS TTL pulse

Echo Output Signal Input TTL level signal and the rangen propertion

Dimension 45 x 20 x 15 mm

Modul HC – SR04 mempunyai 4 pin utama yaitu VCC, Trig, Echo, dan GND.

Pin VCC dan GND pada HC – SR04 terhubung pada VCC dan GND pada Arduino Uno, pin trig pada pin D9 dan pin echo pada pin D10. Sensor HC – SR04 pada alat terapi infrared berbasis mikrokontorel ini berfungsi sebagai sensor jarak atau pembacaan jarak antara lampu infrared dan objek yang di atur sekitar 35 – 45 cm menggunakan program pada Arduino Uno.

2.3 Modul AC Light Dimmer

Modul AC Dimmer dirancang untuk mengontrol tegangan arus bolak-balik, yang dapat mentransfer arus hingga 600V / 16А. Modul dimmer ini biasa digunakan untuk menyalakan atau mematikan lampu, juga dapat digunakan pada kipas, pompa, dll. Peredup bekerja paling efektif dengan lampu filamen. Modul ini kurang stabil dengan lampu LED yang dapat diredupkan dengan kecerahan rendah, tetapi dengan kecerahan sedang dan tinggi akan berfungsi dengan baik. Modul dimmer seperti pada gambar 2.2 dibawah ini.

Sumber : https://www.bukalapak.com/p/elektronik/komponen-elektronik/ndih1f-jual-modul- ac- light-dimmer-pwm-220v-zero-crossing-3-3v-or-5v-for-arduino

Gambar 2.2 Modul Dimmer

Tabel 2.2 Tabel Spesifikasi Modul AC Light Dimmer

Zero point Logic Level

Modulation (PWM with trigger) Logic level ON/OFF TRIAC

Signal Current >10mA

Bagian daya dimmer diisolasi dari bagian kontrol, untuk mengecualikan kemungkinan gangguan arus tinggi ke mikrokontroler. Level logika modul ini yaitu 5V dan 3.3V, oleh karena itu dapat dihubungkan ke mikrokontroler. Di Arduino, peredup dikontrol dengan program arduino yaitu RBDdimmer.h, yang menggunakan interupsi eksternal dan interupsi waktu proses. Dimmer terhubung ke pengontrol Arduino melalui dua pin digital. Pertama (zero-crossing detector) untuk mengontrol lewatnya Phase Null dari AC, yang digunakan untuk memulai sinyal interupsi. Kedua (DIM / PSM) untuk mengontrol arus (redup) [7]. Modul dimmer seperti pada gambar 2.2 dibawah ini.

2.4 Nextion LCD Touchscreen

Nextion display adalah solusi Human Machine Interface (HMI) yang yang menggabungkan prosesor onboard dan layar sentuh memori dengan perangkat lunak Nextion Editor untuk pengembangan proyek GUI HMI. Nextion LCD berfungsi untuk menampilkan grafik display sampel. Nextion display muncul dengan ukuran mulai dari 2,4" hingga 7" [8]. Nextion LCD Touchsreen seperti pada gambar 2.3 dibawah ini.

Sumber : https://sea.banggood.com/Nextion-NX4024T032-3_2-Inch-HMI-Intelligent-Smart- USART-UART-Serial-Touch-TFT-LCD-Screen-Module-p-

1105286.html?cur_warehouse=CN Gambar 2.3 Nextion LCD Touchscreen

Tabel 2.3 Tabel Spesifikasi Nextion

Keterangan Spesifikasi

Operating Voltage 4.75V – 7V

Operating Current 90mA

Layout Size 74.4 x 42.9 x 5.8

Resolution 320 x 240 pixel

Touch Type Resistive

Backlight LED

Serial Port Baudrate 2400, 9600, 115200 bps

Flash Memory 4 MB

RAM Memory 3584 Byte

Nextion display memiliki mikrokontroler bawaan yang dapat mengontrol tampilan, misalnya mengatur tombol, membuat teks, menyimpan gambar atau mengubah latar belakang. Nextion display berkomunikasi menggunakan komunikasi serial pada tingkat baud 9600 hingga 115200. Nextion display bekerja pada tegangan 3.3V hingga 5V. Nextion pada tugas akhir ini digunakan sebagai monitoring untuk menampilkan suhu tubuh objek, jarak objek, dan timer yang digunakan pada saat proses terapi berjalan. Nextion yang digunakan berukuran 3.2”.

2.5 Arduino Uno R3

Sumber : https://www.tokopedia.com/kiosrobot/arduino-uno-r3?whid=0 Gambar 2.4 Arduino Uno

Mikrokontroler merupakan rangkaian elektronika yang umumnya dapat digunakan untuk menyimpan program. Arduino memiliki beberapa pin input dan output (I/O). ATmega328 memiliki 32 KB (dengan 0,5 KB digunakan untuk bootloader), 2 KB dari SRAM dan 1 KB EEPROM (yang dapat dibaca dan ditulis dengan EEPROM library). Arduino Uno memiliki fasilitas untuk berkomunikasi dengan komputer, arduino lain, atau mikrokontroler lainnya.

Keterangan Spesifikasi

Mikrokontroler ATMega328

Operating Voltage 5V

Input Voltage (recommended) 7 – 12V

Input Voltage (limit) 6 – 20V

Digital I/O Pins 14 (of which 6 provide PWM output)

Analog Input Pins 6

Tabel 2.4 Tabel Spesifikasi Arduino Uno

2.6 MicroSD Card

MicroSD Card merupakan singkatan dari Micro Security Digital Card.

MicroSD Card merupakan suatu alat elektronik berbentuk kecil yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan data digital. MicroSD Card pada Nextion digunakan untuk mengunggah file proyek TFT agar dapat terbaca atau terlihar pada LCD Nextion [9]. MicroSD Card seperti pada gambar 2.5 dibawah ini.

Sumber : https://www.laptab.com.pk/Kingston-MICRO-SD-8GB-Memory-Card.html

Gambar 2.5 MicroSD Card

2.7 Buzzer

Buzzer merupakan suatu komponen elektronik berukuran kecil, memiliki 2 pin dan menghasilkan keluaran berupa suara. Buzzer bekerja pada rentang tegangan 3V-24V. Buzzer menghasilkan suara dengan kekuatan ≥ 85 dB dan frekuensi resonansi ± 300 - 2300Hz. Modul buzzer seperti pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Buzzer Buzzer memiliki 2 pin, yaitu :

Positif (+) / kabel merah : pin catu daya (3V-24V).

Negatif (-) / kabel hitam : ground

Buzzer mempunyai 2 pin utama yaitu Vin dan GND. Pin Vin terhubung pada pin 8 dan pin GND terhubung pada pin GND pada Arduino Uno. Buzzer pada alat ini berfungsi sebagai indikator bahwa proses terapi telah selesai selain itu berfungsi sebagai alarm ketika jarak dari objek dan sinar inframerah < 35cm dan > 45 cm.

BAB III

PERANCANGAN 3.1 Deskripsi Sistem

Rancang bangun alat terapi inframerah berbasis mikrokontroler Arduino Uno berguna untuk membuat alat terapi inframerah yang dilengkapi sistem pengatur jarak terapi, pengatur lama waktu terapi dalam menit, pengatur intensitas cahaya terapi, dan pemantau suhu kulit pasien yang terkena paparan sinar selama terapi. Untuk mengatur jarak terapi pasien dengan lampu inframerah, digunakan sensor jarak yaitu HC-SR04. Sensor ini akan membaca jarak antara pasien dan lampu inframerah dalam bentuk sentimeter (cm). Alat ini menggunakan rangkaian dimmer PWM untuk mengatur intensitas cahaya inframerah. Terdapat potensio yang berguna untuk mengatur data yang diterima rangkaian PWM yang kemudian diolah dan keluarannya berupa perubahan terang redupnya lampu terapi. Untuk memantau suhu kulit pasien yang terpapar sinar inframerah digunakan sensor MLX 90614. Alat ini dilengkapi dengan relay yang berguna sebagai switch on/off lampu otomatis. Alat ini juga dilengkapi dengan pengaturan timer yang dapat diatur dalam menit. Keluaran berupa waktu hitung mundur akan tertampil pada layar LCD Nextion. Selama terapi, jika jarak pasien dan lampu tidak sesuai yaitu 35 – 45 cm maka buzzer akan berbunyi.

Ketika waktu terapi telah selesai, buzzer akan berbunyi yang menandakan bahwa terapi telah selesai.

Gambar 3.1 Desain Alat Terapi Infrared 3.2 Diagram Blok Sistem

Gambar 3.2 Diagram Blok Sistem

Sistem perancangan pada alat ini memiliki input berupa potensio, sensor jarak, sensor suhu dan LCD Nextion yang akan diterima dan diproses oleh mikrokontroler.

Mikrokontroler berfungsi untuk mengontrol dimmer, relay, dan menampilkan karakter pada LCD Nextion, dan mengolah data yang diperoleh dari potensio, sensor jarak dan sensor suhu. Ketika alat dinyalakan maka akan muncul tampilan START, setelah itu tekan tombol START untuk melakukan proses selanjutnya. Sensor jarak akan membaca jarak antara objek dengan lampu, lalu tekan tombol Next untuk melakukan setting timer. Setelah timer diatur tekan tombol START untuk memulai proses. Relay akan otomatis bekerja dan lampu akan menyala. Selama proses berlangsung, suhu yang terukur pada permukaan kulit pasien yang diterapi akan tertampil pada LCD Nextion dan jika jarak antara lampu dan pasien tidak sesuai dengan yang diinginkan yaitu 35 - 45 cm, maka buzzer akan berbunyi. Ketika proses telah selesai, relay akan bekerja mematikan lampu dan buzzer akan berbunyi.

3.3 Perancangan Mekanik

Rancang bangun alat terapi inframerah berbasis mikrokontroler ATMega328 memiliki 3 bagian. Blok tampilan sistem menggunakan LCD Nextion dan pengatur intensitas cahaya terapi menggunakan potensio seperti pada gambar 3.3 dan blok pemantau jarak menggunakan sensor HC-SR04, pemantau suhu kulit pasien yang terpapar sinar menggunakan sensor MLX 90614, dan lampu terapi infrared seperti pada gambar 3.4. Sedangkan, untuk keamanan pada system alat terapi ini menggunakan buzzer sebagai alarm ketika proses terapi telah selesai dan switch on/off digunakan untuk menyalakan lampu infrared seperti pada gambar 3.5.

Gambar 3.3 Blok Tampilan dan Pengaturan Intensitas Cahaya Keterangan :

1. LCD Nextion Touchscreen 2. Potensiometer

Gambar 3.4 Blok Infrared, Sensor Suhu dan Sensor Jarak 1

2 3

1 2

Keterangan : 1. Lampu Infrared 2. Sensor HC – SR04 3. Sensor MLX90614

Gambar 3.5 Blok Buzzer Keterangan :

1. Buzzer

3.4 Perancangan Elektrik

Adapun perancangan elektronik secara umum memiliki beberapa blok sistem yaitu pada blok sistem kontrol dengan memanfaatkan beberapa modul Arduino yang telah ada. Selain itu ada beberapa rangkaian pendukung lainnnya yaitu rangkaian switch ON/OFF.

3.4.1 Modul AC Light Dimmer

Modul dimmer PWM AC disini berfungsi mengatur intensitas cahaya seperti terang dan redup cahaya infrared dengan menggunakan potensiometer. Pada alat ini pin yang digunakan untuk dimmer adalah pin digital 2 dan 12. Wiring Modul Dimmer seperti pada gambar 3.6.

1

Gambar 3.6 Wiring Modul Dimmer 3.4.2 LCD Nextion Touchscreen

LCD Nextion berfungsi untuk mengatur dan menampilkan suhu tubuh pasien, jarak antara objek dan lampu infrared serta timer pada saat terapi berjalan. Untuk mengatur tampilan layar LCD Nextion menggunakan aplikasi Nextion Editor.

Gambar 3.7 Wiring LCD Nextion Touchsreen 3.4.3 Rangkaian Sensor HC - SR04

Rangkaian sensor HC – SR04 pada alat terapi infrared ini berfungsi sebagai sensor jarak atau pembacaan jarak antara lampu infrared dengan objek. Sensor ini menggunakan dua pin digital untuk mengkomunikasikan jarak yang terbaca yaitu pin echo untuk mendeteksi ultrasonik yang memantul kembali serta pin trig untuk memicu pemancar gelombang ultrasonik.

Gambar 3.8 Rangkaian Sensor HC – SR04

3.5 Perancangan Perangkat Lunak

Adapun perancangan perangkat lunak yang dilakukan pada alat terapi inframerah berbasis mikrontroler ATMega 328 yaitu sebagai berikut :

3.5.1 Nextion Editor

Aplikasi Nextion Editor merupakan aplikasi yang berfungsi untuk membuat desain tampilan pada LCD touchscreen Nextion yang telah di support oleh software Arduino. Sehingga memudahkan untuk membuat desain tampilan sesuai yang dibutuhkan dan memudahkan untuk mengoneksikan antara LCD touchscreen nextion dengan Arduino Uno. Gambar 3.9 menunjukkan Nextion Editor.

Gambar 3.9 Tampilan Nextion Editor 3.5.2 Perancangan Tampilan LCD Nextion Touchscreen

Tampilan LCD Touchscreen ditunjukkan pada gambar 3.10. Tampilan LCD touchscreen menampilkan hasil pembacaan sensor jarak, sensor suhu, dan pengaturan timer. Tampilan awal sistem pada LCD Nextion seperti pada gambar 3.10.

Gambar 3.10 Tampilan Awal Sistem

Selain itu terdapat tampilan yang berguna untuk menampilkan jarak yang dibaca oleh sensor jarak HC-SR04 seperti pada gambar 3.11. Pada tampilan ini juga terdapat tombol next untuk mengatur sistem ke proses selanjutnya.

Gambar 3.11 Tampilan Sensor Jarak

Untuk mengatur lama proses terapi terdapat tombol yang berguna untuk mengatur berapa lama waktu terapi dalam menit. Kemudian untuk memulai proses terapi digunakan tombol start. Tampilan sistem seperti pada gambar 3.12.

Gambar 3.12 Tampilan Timer

Tampilan terakhir menampilkan countdown waktu proses terapi. Selain itu juga terdapat tampilan hasil pembacaan suhu tubuh pasien yang dibaca oleh sensor MLX 90614 dan pembacaan jarak oleh sensor HC-SR04. Jika jarak pasien tidak sesuai dengan yang diinginkan yaitu 35 – 45 cm, maka buzzer akan berbunyi. Untuk kembali ke proses awal digunakan tombol back. Tampilan sistem seperti pada gambar 3.13.

Gambar 3.13 Tampilan Countdown dan Sensor Suhu

3.5.3 Perancangan Sistem Cara Kerja Alat

Berdasarkan gambar dibawah ini menjelaskan sistem atau cara kerja dari Rancang Bangun Terapi Infrared dengan Sistem Pemantau Jarak dan Kontrol Intensitas Cahaya berbasis Mikrokontroler ATMega 328.

MULAI

BACA SENSOR

TAMPILKAN KE LCD

TOMBOL NEXT DITEKAN

N

TOMBOL NEXT

Y INISIALISASI

A

ATUR WAKTU

TOMBOL +

Y

TAMPILKAN KE LCD DITEKAN

N

TOMBOL -

Y

N DITEKAN

TOMBOL START B

B

BACA SENSOR SUHU

LAMPU NYALA

Y

TOMBOL START DITEKA

N

BACA SENSOR JARAK

N

A

C

D TIMER COUNTDOWN

AKTIF

C

Y Jarak <

35cm

N D

Y Jarak >

45cm

N

BUZZER MATI TIMER S = 0

LAMPU MATI

BUZZER NYALA BUZZER NYALA

BAB IV

IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN

4.1 Implementasi Perencanaan Mekanik

Perancangan mekanik pada alat ini telah selesai dan sesuai dengan harapan pada setiap bloknya. Pada blok tampilan dan pengaturan intensitas cahaya bekerja dengan baik. Dan hasilnya seperti gambar 4.1

Gambar 4.1 Blok Tampilan dan Pengaturan Intensitas Cahaya

Hasil dari blok tampilan dan pengaturan intensitas cahaya sesuai dengan apa yang diharapkan. LCD dapat menampilkan jarak, suhu tubuh pasien serta timer.

Sedangkan potensio dapat bekerja untuk mengatur intensitas cahaya seperti terang dan redup cahaya infrared.

Keterangan :

1. LCD Nextion Touchscreen 2. Potensiometer

2

Dan hasil blok lampu infrared, sensor suhu dan sensor jarak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lampu Infrared dapat menyala setelah timer berjalan, sehingga dapat digunakan untuk terapi. Sensor jarak dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menampilkan jarak antara cahaya infrared dengan objek, serta sensor suhu dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menampilkan suhu tubuh pasien pada saat diterapi seperti pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Blok Infrared, Sensor Suhu dan Sensor Jarak Keterangan :

1. Lampu Infrared 2. Sensor HC – SR04 3. Sensor MLX90614

Sedangkan pada blok blok buzzer juga sesuai dengan apa yang diharapankan.

Buzzer dapat berbunyi pada saat timer selesai berhitung mundur yang menandakan bahwa terapi telah selesai dilakukan. Seperti pada gambar 4.3

Gambar 4.3 Blok Buzzer

1

2 3

4.2 Implementasi Perencanaan Elektrik

Perancangan elektronik yang telah direncanakan pada bab 3, telah selesai dikerjakan. Rangkaian elektronik didesain dan di tata sedemikian rupa agar terlihat rapi karena banyak menggunakan jumper. Keseluruhan rangkaian elektronik yang digunakan terdiri dari modul dimmer, rangkaian power dan ground, sensor suhu, sensor jarak, arduino uno, modul relay 1 channel, buzzer, dan potensio. Gambar 4.4 adalah implementasi rangkaian elektronik yang telah digunakan.

Gambar 4.4 Rangkaian dalam Box 4.3 Troubleshooting

Pada saat perencanaan desain sampai dengan pembuatan alat banyak permasalahan yang telah dialami, seperti berikut ini :

1. Kesalahan pada program timer.

a. Permasalahan :

Pada saat alat dinyalakan, page 3 di LCD yaitu hasil timer tidak bisa countdown dan terjadi bouncing.

b. Analisis :

Setelah dianalisis, timer tidak bisa countdown dan bouncing karena kesalahan pada program sehingga memperbaiki program dengan cara

menambah program dengan flag. Setelah memperbaiki program akhirnya timer dapat countdown dan tidak bouncing.

c. Solusi :

Memperbaiki program.

2. Dimmer tidak bisa menyala dan lampu berkedip.

a. Permasalahan :

Pada saat pertama kali mencoba menyalakan lampu menggunakan modul dimmer, masalah yang pertama yaitu indikator led pada dimmer tidak menyala sehingga secara otomatis lampu infrared pun tidak menyala.

Masalah yang kedua yaitu saat dimmer sudah menyala tetapi lampu infared bekerja secara tidak teratur seperti berkedip.

b. Analisis :

Setelah dianalisis, untuk masalah yang pertama yaitu ada bagian kabel yang longgar lalu untuk masalah yang kedua yaitu terdapat program yang masih kurang dan pengaturan mapping pada potensio yang kurang tepat.

c. Solusi :

Merekatkan kabel yang longgar dan perbaikan pada program serta pengaturan mapping pada potensio.

3. Sensor suhu tidak berfungsi.

a. Masalah :

Pada saat alat dinyalakan, sensor suhu tidak dapat terbaca atau tidak berfungsi untuk menampilakn suhu pada kulit pasien.

b. Analisis :

Setalah dianalisis, ternyata konektor pada sensor kurang rekat sehingga menyebabkan sensor tidak dapat membaca suhu dan tidak terhubung ke arduino uno.

c. Solusi :

Memperbaiki konektor sensor suhu yang kurang rekat menggunakan solder.

4. Sensor jarak tidak berfungsi.

a. Masalah :

Pada saat alat disambungkan ke sumber AC,sensor jarak tidak dapat mebaca jarak dengan baik,dan hasilnya jauh dari parameter yang seharusnya.

b. Analisis :

Setelah dianalisis, ternyata rumus yang digunakan pada program arduino kurang tepat, sehingga meyebabkan pembacaan yang tidak akurat.

c. Solusi :

Memperbaiki rumus sensor jarak pada program arduino.

5. Relay tidak berfungsi.

a. Masalah :

Relay tidak dapat berfungsi dengan semestinya atau tidak mau menyala.

b. Analisis :

Setelah dianalisis, ternyata tombol pada lcd nextion tidak dapat berfungsi

Setelah dianalisis, ternyata tombol pada lcd nextion tidak dapat berfungsi

Dokumen terkait