• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Manfaat

2. Pejabat di Lingkungan Polda Jawa Barat yang selalu memberikan masukan dan dukungan dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan;

3. Kepala Puslatbang PKASN Lembaga Administrasi Negara;

4. Kepala Bidang Latbang Puslatbang PKASN Lembaga Administrasi Negara;

5. Coach, Bpk. Burdan Ali Junjunan, SH.,M.Si., yang selalu memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan;

6. Para Widyaiswara yang memberikan pembekalan dan juga bimbingan materi PKN Tk. II;

7. Rekan-rekan sesama peserta PKN Tk. II yang selalu saling menyemangati dan saling mendukung.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kami sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik untuk perbaikan.

Kiranya Allah SWT memberikan kemanfaatan dan kebarokahan atas Laporan Laboratorium Kepemimpinan yang telah dan akan kami laksanakan bagi kepentingan stakeholder dan masyarakat terkait.

Bandung, 27 Oktober 2019 Peserta,

Drs. MAHMUD, SH NDH. 59

Abstrak ... i

BAB III PELAKSANAAN PROYEK PERUBAHAN A. Capaian Proyek Perubahan ... 18

B. Strategi Marketing ... 21

C. Faktor Keberhasilan ... 21

D. Marketing Sektor Publik ... 22

E. Hambatan/Kendala dan Strategi Penanggulangan ... 22

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 23

B. Rekomendasi ... 23

LESSON LEARN ... 24

LAMPIRAN

Tabel 1.1 Daftar Nama Anggota Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta

Polda Jabar ... 7

Tabel 1.2 Daftar Kendaraan Rantis Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar ... 8

Tabel 1.3 Daftar Peralatan Sar Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar ... 8

Tabel 2.1 Tahapan Kegiatan Jangka Pendek ... 14

Tabel 2.2 Tahapan Kegiatan Jangka Menengah ... 14

Tabel 2.3 Tahapan Kegiatan Jangka Panjang ... 14

Tabel 3.1 Hambatan / Kendala Pelaksanaan dan Strategi Penanggulangan ... 22

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.1 Struktur Organisasi Sub Direktorat Penugasan Umum (Subditgasum) Kepolisian Daerah Jawa Barat ... 7

Gambar 2.1 Analisis Strategi Komunikasi ... 16

STRATEGI PERCEPATAN PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA SIE PAMMAT DIT SAMAPTA POLDA JABAR

MELALUI LATIHAN GABUNGAN SEARCH AND RESCUE

DISUSUN OLEH NAMA : Drs. MAHMUD, SH.

NDH : 59

INSTANSI : DIT SAMAPTA POLDA JABAR

DISAMPAIKAN PADA SEMINAR IMPLEMENTASI PROYEK PERUBAHAN HARI/TANGGAL : SENIN, 28 OKTOBER 2019

Kepala Puslatbang PKASN,

Hari Nugraha, S.E., M.P.M.

NIP. 19681013 199401 1 001

Coach,

Burdan Ali Junjunan SH., M.Si.

NIP. 19601201 198603 1 016

bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan dan bencana alam.

Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, gunung dan hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR dilakukan oleh personil yang memiliki keterampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya.

Terbatasnya jadwal dan program latihan SAR dari Mabes Polri menuntut satuan kewilayahan untuk mencari terobosan atau inovasi dalam rangka peningkatan kompetensi SDM Dit Samapta. Peningkatan kompetensi bidang SAR dirasakan perlu segera dilaksanakan agar SDM yang ada mumpuni dan profesional dalam mengoptimalkan penggunaan peralatan yang ada secara efektif dan efisien.

Kompetensi SAR Sumber daya manusia Dit Samapta (Sie Pammat) Polda Jabar masih sangat terbatas, sehingga dipandang perlu adanya pelatihan khusus bidang SAR guna peningkatan kompetensi SDM untuk meningkatkan kinerja dilapangan.

Adanya peningkatan kompetensi SDM Dit Samapta baik pengetahuan dan keterampilan bidang SAR sangat menunjang kinerja di lapangan serta terwujudnya sinergitas antar stakeholder penanggulangan bencana, guna memberikan jaminan pelayanan pemerintah melalui aparat terkait jika terjadi bencana alam. Hal ini sebagai wujud kepastian hukum akan kehadiran pemerintah dalam memberikan pelayanan terutama disaat warga negaranya tertimpa musibah. Kolaborasi dan sinergitas antar stakeholder penanggulangan bencana diharapkan dapat terus terjaga dan bisa mengesampingkan ego sektoral demi kepentingan yang lebih besar.

1. Peserta Diklat

Kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Drs. MAHMUD, SH

Jabatan : KASUBDIT GASUM DITSAMAPTA POLDA JABAR Instansi : DIT SAMAPTA POLDA JABAR

Adalah peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVII Tahun 2019

2. Mentor

Kami yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Drs. NURFALLAH, SH

Jabatan : DIREKTUR SAMAPTA POLDA JABAR Instansi : DIT SAMAPTA POLDA JABAR

3. Proyek perubahan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVII Tahun 2019, merupakan produk pembelajaran individual yang menjadi salah satu indikator pencapaian hasil Pelatihan. Proyek perubahan ini akan diimplementasikan di instansi kami dalam milestone jangka menegah yaitu pada bulan Nopember 2019 s.d April 2020 dan jangka panjang pada bulan Mei 2020 s.d Mei 2021.

Demikian surat ini saya buat dengan segala konsekuensinya.

Bandung, Oktober 2019

Drs. MAHMUD,SH

AJUN KOMISARIS BESAR POLISI NRP 69090615

Mengetahui,

Drs. NURFALLAH, SH

KOMISARIS BESAR POLISI NRP 64110592

Segala puji kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Laboratorium Kepemimpinan dengan judul Strategi Percepatan Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Sie Pammat Dit Samapta Polda Jabar Melalui Latihan Gabungan Search And Rescue. Laporan ini disusun sebagai bagian dari proses Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Kerjasama Pusdikmin Polri dengan Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Pemetaan Kompetensi Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara RI. Perkenankan kami untuk mengucapkan penghargaan setinggi-tingginya serta terima kasih kepada:

1. Kombes Pol. Drs. Nurfallah, SH., selaku Mentor dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan;

2. Pejabat di Lingkungan Polda Jawa Barat yang selalu memberikan masukan dan dukungan dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan;

3. Kepala Puslatbang PKASN Lembaga Administrasi Negara;

4. Kepala Bidang Latbang Puslatbang PKASN Lembaga Administrasi Negara;

5. Coach, Bpk. Burdan Ali Junjunan, SH.,M.Si., yang selalu memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan;

6. Para Widyaiswara yang memberikan pembekalan dan juga bimbingan materi PKN Tk. II;

7. Rekan-rekan sesama peserta PKN Tk. II yang selalu saling menyemangati dan saling mendukung.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Laboratorium Kepemimpinan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kami sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik untuk perbaikan.

Kiranya Allah SWT memberikan kemanfaatan dan kebarokahan atas Laporan Laboratorium Kepemimpinan yang telah dan akan kami laksanakan bagi kepentingan stakeholder dan masyarakat terkait.

Bandung, 27 Oktober 2019 Peserta,

Drs. MAHMUD, SH NDH. 59

Abstrak ... i

BAB III PELAKSANAAN PROYEK PERUBAHAN A. Capaian Proyek Perubahan ... 18

B. Strategi Marketing ... 21

C. Faktor Keberhasilan ... 21

D. Marketing Sektor Publik ... 22

E. Hambatan/Kendala dan Strategi Penanggulangan ... 22

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 23

B. Rekomendasi ... 23

LESSON LEARN ... 24

LAMPIRAN

Tabel 1.1 Daftar Nama Anggota Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta

Polda Jabar ... 7

Tabel 1.2 Daftar Kendaraan Rantis Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar ... 8

Tabel 1.3 Daftar Peralatan Sar Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar ... 8

Tabel 2.1 Tahapan Kegiatan Jangka Pendek ... 14

Tabel 2.2 Tahapan Kegiatan Jangka Menengah ... 14

Tabel 2.3 Tahapan Kegiatan Jangka Panjang ... 14

Tabel 3.1 Hambatan / Kendala Pelaksanaan dan Strategi Penanggulangan ... 22

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.1 Struktur Organisasi Sub Direktorat Penugasan Umum (Subditgasum) Kepolisian Daerah Jawa Barat ... 7

Gambar 2.1 Analisis Strategi Komunikasi ... 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi khususnya di Provinsi Jawa Barat, hal dapat mengakibatkan korban jiwa dan harta benda, sehingga perlu ditangani sesegera mungkin secara arif, bijaksana, profesional, proporsional, transparansi, dan akuntabel melalui pendekatan manajemen penanggulangan bencana.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Potensi dan kejadian bencana alam di provinsi jawa barat, dapat diidentifikasi sebagai berikut:

a. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah peristiwa berguncangnya bumi yang dapat disebabkan oleh tumbukan antar lempeng tektonik, aktivitas gunung berapi atau runtuhan batuan.

Gempa akibat aktivitas vulkanisme yang sering terjadi di Provinsi Jawa Barat terutama akibat aktivitas Gunung Gede, Gunung Papandayan, Patuha, Tangkupan perahu, Galunggung, yang tentu saja akan berdampak langsung pada penduduk yang berdiam di wilayah sekitar pegunungan tersebut. Sebagai bagian aktivitas vulkanisme, ancaman bahaya yang ditimbulkan terkait juga dengan dengan letusan gunung berapi seperti piroklastik, debu, awan panas dan sebagainya. Gempa sebagai akibat dari aktivitas tektonik beberapa kali terjadi di Provinsi Jawa Barat yang dalam sejarah pembentukannya merupakan bagian dari lempeng Eurasia yang bertumbukan dengan lempeng Indo-Australia. Akibat tumbukan tersebut, lempeng Indo-Australia menunjam di bawah lempeng Eurasia dan terjadi akumulasi energi yang pada titik jenuhnya akan menyebabkan gempa.

b. Tsunami

Tsunami merupakan rangkaian gelombang laut yang menjalar dengan kecepatan tinggi. Di laut dengan kedalaman 7.000 meter, kecepatannya dapat mencapai 942,9 km/jam dengan panjang gelombang mencapai lebih dari 100 m, tinggi tidak lebih dari 60 m dan selisih waktu antar puncak antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai, panjang gelombang menurun kecepatannya namun tinggi gelombang meningkat hingga puluhan meter dan bersifat merusak. Sebagian besar tsunami disebabkan oleh gempa bumi di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 60 km dan magnitude lebih dari 6 SR. Namun demikian, tsunami juga dapat diakibatkan oleh tanah longsor dasar laut, letusan gunung berapi dasar laut, atau jatuhnya meteor ke laut.

Peristiwa tsunami telah beberapa kali menghantam wilayah Jawa Barat barat terutama di. Tsunami terakhir terjadi pada tahun 2006 dan menimbulkan dampak parah di daerah pantai Pangandaran dan sekitarnya. Selain jatuhnya korban jiwa, juga terdapat kerusakan sarana penangkap ikan serta kerusakan lingkungan pantai.

c. Letusan Gunung Berapi

Gunung berapi merupakan lubang kepundan/rekahan pada kerak bumi tempat keluarnya magma, gas atau cairan lainnya ke permukaan. Bencana gunung meletus disebabkan oleh aktifnya gunung berapi sehingga menghasilkan erupsi. Bahaya letusan gunung berapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder). Bahaya primer letusan gunung berapi adalah lelehan lava, aliran piroklastik (awan panas), jatuhan piroklastik, letusan lahar dan gas vulkanik beracun. Bahaya sekunder adalah ancaman yang terjadi setelah atau saat gunung berapi tidak aktif seperti lahar dingin, banjir bandang dan longsoran material vulkanik.

Di Provinsi Jawa Barat terdapat sejumlah gunung api yang masih aktif hingga kini yaitu Gunung Gede di tasikmalaya, Gunung Papandayan di wilayah Garut, Gunung Patuha di Kabupaten Bandung, Gunung Tangkupan Perahu, Guntur dan juga Gunung Galunggung, yang letusannya pernah menimbulkan hujan abu yang hebat.

d. Banjir

Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan karena peningkatan volume air akibat hujan deras, luapan air sungai atau pecahnya bendungan. Banjir juga dapat terjadi di daerah yang gersang dengan daya serap tanah terhadap air yang buruk atau jumlah curah hujan melebihi kapasitas serapan air.

Jawa Barat juga memiliki karakteristik perpaduan antara daerah pegunungan yang berada di Wilayah Selatan dan dataran rendah di Wilayah Pantai utara (Pantura). Memiliki curah hujan yang tinggi (rata-rata 219mm/th). Dengan curah hujan yang tinggi tersebut, jelas mengakibatkan air sungai meluap terkena wilayah Pantura.

Propinsi Jawa Barat sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara memiliki luas total 3.720.772 hektare dengan luas daratan sekitar 3.555.502 Ha sisanya berupa perairan. Dari luas daratan memiliki Sumber Daya Hutan seluas 816.603 ha (22.97

% dari luas daratan). Telah semakin kritisnya hutan-hutan yang ditandai dengan pembabatan pohon yang tidak terkontrol, sehingga manakala terjadi hujan maka akan semakin mudah terjadi banjir yang melanda di berbagai wilayah di Jawa Barat.

e. Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan pergerakan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut ke arah yang lebih rendah. Gejala umum tanah longsor diantaranya adalah munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing, munculnya mata air baru secara tiba-tiba dan tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Peristiwa tanah longsor yang terjadi di Jawa Barat pada umumnya terdapat pada daerah dengan kondisi geologi yang tidak stabil dan seringkali dipicu oleh terjadinya hujan deras yang melebihi titik tertinggi.

Tanah longsor biasanya menyebabkan terganggunya fungsi infrastruktur umum seperti jalan.

f. Kekeringan

Pemanasan global terjadi karena meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika

atmosfer semakin kaya gas rumah kaca maka akan menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas matahari yang dipancarkan ke Bumi. Daerah dengan iklim hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah akan lebih cepat kering.

Kekeringan tanah akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan.

Perubahan iklim global berpengaruh terhadap kondisi iklim di Jawa Barat

Krisis kekeringan terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Barat, yaitu Indramayu, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Sumedang, Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi kondisi terberat memang terjadi di Indramayu, Cirebon, Majalengka, dan Subang.

SAR (Search And Rescue) adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan dan bencana alam. Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, gunung dan hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR dilakukan oleh personil yang memiliki keterampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya.

Terhadap musibah bencana alam, operasi SAR merupakan salah satu rangkaian dari siklus penanganan kedaruratan penanggulan bencana alam. Siklus tersebut terdiri dari pencegahan (mitigasi), kesiagaan (preparedness), tanggap darurat (response) dan pemulihan (recovery), dimana operasi SAR merupakan bagian dari tindakan dalam tanggap darurat.

Untuk menunjang kegiatan penanggulangan bencana tersebut, diperlukan Sumber Daya Manusia yang terampil dan memiliki kinerja tinggi. Organisasi pada masa sekarang menyadari bahwa produktivitas sumber daya manusia yang berkualitas adalah aset utama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu pengelolaan manajemen Sumber Daya Manusia harus dioptimalkan. Perlu disadari bersama bahwa untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia setiap organisasi memiliki keterbatasan.

Namun keterbatasan jadwal dan program pelatihan peningkatan kemampuan fungsi SAR secara resmi yang hanya dilakukan 1 tahun sekali, dari 124 personil

Subditgasum belum tentu terpilih dan dipanggil untuk mengikuti pelatihan SAR menjadi kendala dalam hal peningkatan kemampuan personil SAR.

Berdasarkan uraian tersebut maka disusun proyek perubahan sebagai terobosan inovasi dari gagasan perubahan yaitu peningkatan kemampuan personil SAR melalui latihan gabungan tersertifikasi dalam upaya strategi percepatan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Sie Pammat Dit Samapta Polda jabar.

B. Gambaran Umum

Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.

Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

a. Visi dan Misi Dit Samapta Polda Jabar

Visi: ”Terwujudnya personel Dit Samapta Polda Jabar yang yang makin profesional, unggul dan dapat dipercaya masyarakat guna mendukung terciptanya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian yang berlandaskan gotong royong, di wilayah hukum Polda Jawa Barat”.

Misi:

1. Melaksanakan pengembangan sistem dan metode serta penyusunan peraturan teknis pelaksanaan tugas Direktorat Samapta;

2. Melaksanakan pemantauan, supervisi staf, pemberian arahan dalam rangka sosialisasi, dan asistensi guna menjamin terlaksananya penyelenggaraan tugas Direktorat Samapta;

3. Memberikan bimbingan, arahan, dan pelatihan teknis dalam pelaksanaan tugas di lingkungan Direktorat Samapta;

4. Merencanakan kebutuhan personel, peralatan materill khusus Samapta dan pendistribusiannya, merencanakan kebutuhan anggaran serta pengajuan usulan,

saran, pertimbangan penempatan, atau pembinaan karir personel Direktorat Samapta;

5. Penyiapan kekuatan personel dan peralatan untuk kepentingan tugas Turjawali, Pengamanan unjuk rasa, pengendalian massa, negosiator, serta SAR;

6. Melaksanakan pembinaan teknis pemeliharaan ketertiban umum berupa penegakkan hukum tindak pidana ringan dan TPTKP;

7. Melaksanakan pemeliharaan, pelatihan, dan penggunaan satwa dalma rangka mendukung pelaksanaan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban; dan

8. Mengumpulkan dan mengolah data, serta menyajikan informasi dan dokumentasi kegiatan program Direktorat Samapta.

b. Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Kepolisian Daerah, Subditgasum bertugas menyelenggarakan Turjawali, TPTKP, penanganan Tipiring serta pertolongan dan penyelamatan. Dalam melaksanakan tugas, Subditgasum menyelenggarakan fungsi:

1. Pengaturan dan penjagaan di lingkungan markas Polda;

2. Pengawalan terhadap pejabat VIP dan tamu Polda sesuai Ketentuan peraturan perundang-undangan;

3. Turjawali pada daerah-daerah rawan gangguan Kamtibmas;

4. Penanganan Tipiring;

5. Penanganan TPTKP;

6. Bantuan pengamanan dan penyelamatan; dan 7. Pelatihan peningkatan kemampuan fungsi Samapta.

c. Struktur Organisasi

Sub Direktorat Penugasan Umum (Subditgasum), terdiri atas:

1. Seksi Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Siturjawali), meliputi beberapa unit; dan

Adapun struktur organisasi Sub Direktorat Penugasan Umum (Subditgasum), dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Sub Direktorat Penugasan Umum (Subditgasum) Kepolisian Daerah Jawa Barat

d. Komposisi SDM Sie Pammat

Tabel 1.1 Daftar Nama Anggota

Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar

No Nama Pangkat Jabatan

1 Nana Sumarna Kompol / 63110164 Kasie

2 Sofyan Pujianto Ipda / 67100003 Panit 1

3 Hartono Aiptu / 72010133 Ps. Panit 3

4 Dimas Wahyu A P Bripka / 86020201 Anggota

5 Satrianto Nugroho Brigadir / 88110705 Anggota

6 Bintang Herdian J Bripda / 97030852 Anggota

7 Satria Nasution Bripda / 98090274 Anggota

8 Iman Fauzan Bripda / 95110580 Anggota

9 Ekqy Dwi Pratama Bripda / 98070478 Anggota

10 Muhammad Hagi Bripda / 97030707 Anggota

11 Nafari Satria Bripda / 97060377 Anggota

12 Mardani Bripda / 98040382 Anggota

13 Aldi Setya Wardana Bripda / 98080479 Anggota

14 Syarif Ali Munandar Bripda / 99030228 Anggota

15 Sandi Maulana Bripda / 97100570 Anggota

16 Freggy Aldiansyah Bripda / 99030092 Anggota

17 Deri Abdul Goni Bripda / 98060408 Anggota

18 Agung Pratama Bripda / 99020194 Anggota

Keterangan : Kasie : 1 Orang Panit : 2 Orang Anggota : 15 Orang Jumlah : 18 Orang

Menurut DSP Perpol Nomor 14 tahun 2018 SOTK tingkat Polda : Kasie : 1 Orang

e. Komposisi Kendaraan Rantis (Kendaraan)

Tabel 1.2 Daftar Kendaraan Rantis

Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar

No. Nama Brand No. Pol Muatan

Personil Ket.

1 Mobil Jungkit Baru Isuzu Crane Hyva 14064-VIII 5 Anggota Aktif 2 Mobil Jungkit

Lama

Isuzu Crane Hyva

14037-VIII 5 Anggota Aktif 3 Mobil Rescue Mini Mitsubhishi Strada

Double Cabin

14017- VIII 5 Anggota Tidak Aktif 6 Mobil Ranger Ford Ranger Double

Cabin

14002-VIII 4 Anggota Tidak Aktif

7 Dare V Tidak Aktif

f. Komposisi Peralatan

Tabel 1.3 Daftar Peralatan Sar Sie Pammat Subdit Gasum Dit Samapta Polda Jabar

No. Nama Jumlah No. Nama Jumlah

11 Chainsaw 1 Unit 30 Generators 1 Unit kegiatan mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah pelayaran, penerbangan, bencana atau musibah lainnya yang timbul karena faktor manusia maupun alam.

Sebagai pedoman bagi pelaksanaan kegiatan atau operasi SAR Polri dalam usaha dan kegiatan mencari, menolong, dan menyelamatkan korban manusia dan harta benda akibat bencana, musibah pelayaran, penerbangan, atau musibah lainnya, sehingga dapat berjalan dengan baik, efektif, efisien, dan terkoordinasi yaitu Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2011 Tentang Search and Rescue Kepolisian Negara Republik Indonesia. Prinsip-prinsip dalam peraturan ini:

1. Legalitas, yaitu setiap tindakan yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;

2. Profesional, yaitu tindakan yang dilakukan dalam pencarian dan pemberian pertolongan secara terencana yang didukung dengan kemampuan dan peralatan sesuai dengan peristiwa dan medan yang dihadapi;

3. Akuntabel, yaitu setiap tindakan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan;

4. Safety and security, yaitu tindakan yang dilaksanakan senantiasa memperhatikan dan mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan;

5. Humanis, yaitu tindakan yang dilakukan senantiasa memperhatikan aspek kemanusiaan, sosial, perlindungan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

dan

6. Keterpaduan, yaitu mengutamakan koordinasi, kebersamaan, dan sinergitas dengan segenap unsur atau komponen yang dilibatkan dalam operasi SAR.

Permasalahan yang dihadapi oleh fungsi SAR Sabhara Polri, antara lain:

Sumber Daya Manusia:

1. Masih kurangnya personel Sabhara yang membidangi fungsi SAR;

2. Belum semuanya personel memiliki kualifikasi kemampuan SAR;

3. Masih kurangnya pemahaman personel terhadap peraturan dan perundang- undangan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana;

4. Belum terampilnya anggota Sabhara dalam menggunakan peralatan SAR yang dimiliki.

Peralatan:

1. Masih kurangnya peralatan SAR yang dimiliki oleh fungsi Sabhara;

2. Belum semua Sabhara kewilayahan yang memiliki peralatan SAR;

3. Minimnya anggaran perawatan peralatan SAR.

Operasional:

1. Kurang terlihatnya penggelaran SAR fungsi Sabhara, karena dalam kegiatan tidak menggukan uniform/pakaian dinas;

2. Kurangnya koordinasi dengan fungsi kepolisian lainnya serta stakeholder lainnya.

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas makan kondisi kinerja saat ini yang terjadi, antara lain:

1. Masih terbatasnya personel Sabhara yang memiliki kemampuan fungsi, kualifikasi dan pemahaman terhadap fungsi SAR

2. Masih kurangnya tersedianya sarana prasarana dan anggaran yang memadai 3. Masih kurangnya sinergitas antar pemangku kepentingan

Adapun kondisi harapan organisasi, antara lain:

1. Tersedianya personel Sabhara yang memiliki kemampuan fungsi, kualifikasi dan pemahaman terhadap fungsi SAR.

2. Tersedianya sarana parsarana dan anggaran yang memadai.

3. Terwujudnya sinergitas antar pemangku kepentingan dalam menyikapi setiap

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka yang menjadi area perubahan organisasi dan dijadikan gagasan inovasi dalam penyusunan proyek perubahan adalah ”Strategi Percepatan Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka yang menjadi area perubahan organisasi dan dijadikan gagasan inovasi dalam penyusunan proyek perubahan adalah ”Strategi Percepatan Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia

Dokumen terkait