• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini secara teori adalah untuk menambah wawasan, informasi dan pengetahuan baik peneliti maupun pembaca mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemungutan pajak wajib pajak bumi dan bangunan. Sebagai sarana penyaluran teori yang telah didapatkan selama masa perkuliahan dan sebagai acuan bagi peneliti dmasa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan secara mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruh pemungutan pajak bumi dan bangunan.

7

BAB II

TINJAUAN PUSAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pajak

a. Pengertian Pajak

Pajak merupakan iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran negara dan biaya pembangunan sehari-hari tanpa imbalan dan dapat ditentukan secara langsung. Perpajakan merupakan salah satu sumber penerimaan fiskal nasional dan sangat penting bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional. Hal ini merupakan pengamalan Pancasila, yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Iuran pajak merupakan suatu kewajiban pembayaran dari warga Negara kepada negaranya sendiri. Hal ini dianggap sebagai suatu rasa tanggungjawab sebagai rakyat. Awalnya memang pajak ini pada zaman kerajaan disebut sebagai upeti yang harus dibayar oleh rakyat kepada rajanya. Pajak pungutan berdasarkan Undang-undang memberikan wewenang kepada fiskus atau petugas pajak untuk memaksa wajib pajak untuk memauhi dan melaksanakan kewajiban pajaknya. Sebab undang-undang menutur sanksi-sanksi pidana fiksal (pajak) sanksi administratif yang khususnya diatur oleh undang-undang termasuk wewenang dari perpajakan untuk mengadakan penyitaan harta tetap wajib pajak. (Windah Meylin Panjaitan et al., 2020)

Pajak menurut Siti Kurnia Rahayu (2017 : 27-30) pajak merupakan iuran yang diselenggarakan pemerintah sebagai penerimaan sumber

8

penerimaan bagi negara kepada rakyat yang bersifat memaksa (berdasarkan undang-undang) dan tidak mendapatkan imbalan imbalan secara langsung.

Menurut Antika, F. N dkk (2019:409) Pajak merupakan tulang punggung nasional. Penerimaan pajak di Indonesia digunakan untuk mewujudkan pembangunan dan mengelola pemerintahan. Pendanaan negara dari pajak memiliki posisi tertinggi dari pendanaan lain yang menyokong anggaran pendapatan negara Indonesia.

Menurut Waluyo (2017:2) menyatakan bahwa pengertian Pajak adalah iuran kepada negara yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan, dengan tidak mendapat pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan.

Rochmat Soemitro, dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan adalah sebagai berikut: “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara herdasarkan undang undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa-jasa timbal (kontra-prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Sedangkan Smeets dalam Waluyo (2017 : 3) , pajak merupakan prestasi yang terutang kepada pemerintah melalui norma–norma umum dan dapat dipaksakan, tanpa ada kontraprestasi langsung dalam hal yang individual, dimasukkan untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang

9

langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.(Wurnongo et al., 2019)

Menurut Sumitro dalam Suprianto (2011 : 2) Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara ( peralihan kekayaan dari kas rakyat kesektor pemerintah berdasarkan undang-undang) dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbale (tegen prestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan digunakan untuk membiayai pengeluaran umum. Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara dan merupakan kontribusi wajib kepada negara yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung, tetapi digunakan untuk pengeluaran-pengeluaran negara dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian sistem pajak tterus dapat disempurnakan dan aparat maupun pengelola perpajakan juga harus mampu dan bersih sehingga dapat berperan besar dalam pembangunan nasional. (Windiarti &

Sofyan, 2018)

b. Fungsi Pajak

Menurut Agus Salim dan Haeruddin (2019 : 14) bahwa pajak memiliki peranan yang signifikan dalam kehidupan bernegara, khususnya pembangunan. Pajak merupakan sumber pendapatan negara dalam membiayai seluruh pengeluaran yang dibutuhkan, termasuk pengeluaran untuk pembangunan. Sehingga pajak mempunyai beberapa fungsi, antara lain:

1) Fungsi Anggaran (Fungsi Budgeter)

Pajak merupakan sumber pemasukan keuangan negara dengan cara mengumpulkan dana atau uang dari wajib pajak ke kas negara untuk

10

membiayai pembangunan nasional atau pengeluaran negara lainnya.

Sehingga fungsi pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran negara dengan pendapatan negara.

2) Fungsi Mengatur (Fungsi Regulasi)

Pajak merupakan alat untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam lapangan sosial dan ekonomi. Fungsi mengatur tersebut antara lain:

a) Pajak dapat digunakan untuk menghambat laju inflasi.

b) Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor, seperti: pajak ekspor barang.

c) Pajak dapat memberikan proteksi atau perlindungan terhadap barang produksi dari dalam negeri, contohnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPn).

d) Pajak dapat mengatur dan menarik investasi modal yang membantu perekonomian agar semakin produktif.

3) Fungsi Pemerataan

Pajak dapat digunakan untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan antara pembagian pendapatan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat.

4) Fungsi Stabilisasi

Pajak dapat digunakan untuk menstabilkan kondisi dan keadaan perekonomian, seperti: untuk mengatasi inflasi, pemerintah menetapkan pajak yang tinggi, sehingga jumlah uang yang beredar dapat dikurangi.

Sedangkan untuk mengatasi kelesuan ekonomi atau deflasi, pemerintah

11

menurunkan pajak, sehingga jumlah uang yang beredar dapat ditambah dan deflasi dapat di atasi

Fungsi pajak Menurut (Mulyani & Furqon, 2021), untuk lebih jelasnya sebagai berikut:

1) Fungsi budgeter

Fungsi budgeter yaitu pajak sebagai sumber dana pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Fungsi pajak budgeter adalah fungsi yang letaknya disektor publik, dan pajak tersebut merupakan suatu alat untuk memasukkan uang sebanyak-banyaknya kedalam kas negara yang pada waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara, terutama untuk membiayai pengeluaran rutin, dan apabila setelah itu masih ada sisa (surplus), maka surplus ini dapat digunakan untuk membiayai investasi pemerintah (public saving untuk public invesment).

2) Fungsi Reguler

Fungsi reguler yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Pajak mempunyai fungsi mengatur (Regulerend), dalam arti bahwa pajak itu dapat digunakan sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan Negara dalam lapangan ekonomi dan sosial dengan fungsi mengaturnya pajak digunakan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang letaknya diluar bidang Keuangan dan ungsi mengatur itu banyak ditujukan terhadap sektor swasta. Misalnya dalam pajak perseroan salah satu pasal dari ordonansi pajak perseroan 1925 memberi kebebasan dari pajak

12

perseroan atas pengenaan tarif yang rendah terhadap badan-badan koperasi yang berkedudukan di Indonesia.

Ditinjau dari fungsi penerimaan maka pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaranpengeluarannya sedangkan, dilihat dari fungsi mengatur maka pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. (Loka, 2021)

c. Manfaat Pajak

Manfaat pajak untuk membiayai semua pengeluaran negara seperti gaji pegawai negeri, gaji tentara, pembayaran utang pemerintah, dan membiayai pembangunan. Pajak juga digunakan pemerintah sebagai pengaturan kebijakan negara atau yang biasa disebut kebijakan fiskal.

(Kolinug et al., 2019). Manfaat pajak sebagai berikut:

1) Membiayai pengeluaran-pengeluaran negara seperti pengeluaran yang bersifat self liquiditing (contohnya adalah pengeluaran untuk proyek produktif barang ekspor)

2) Membiayai pengeluaran reproduktif (pengeluaran yang memberikan keuntungan ekonomis bagi masyarakat seperti pengeluaran untuk pengairan dan pertanian)

3) Membiayai pengeluaran yang bersifat tidak self liduiditing dan tidak reproduktif (contohnya adalah pengeluaran untuk pendirian monument dan objek rekreasi)

4) Membiayai pengeluaran yang tidak produktif (contohnya adalah pengeluaran untuk membiayai pertahanan negara atau perang dan

13

pengeluaran untuk penghematan di masa yang akan dating yaitu pengeluaran untuk anak yatim piatu).

d. Sistem Pemungutan Pajak

Tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat.

Bila terlalu tinggi, masyarakat akan enggan membayar pajak. Namun bila terlalu rendah, maka pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah, maka pemungutan pajak harus memenuhi persyaratan yaitu pemungutan pajak harus adil.

Pengertian pemungutan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah Proses, cara, perbuatan memungut atau mengambil. Sedangkan Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan besarnya pajak atau retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi kepada wajib pajak atau wajib retribusi serta pengawasan penyetorannya.

Sistem pemungutan pajak adalah suatu cara yang dilakukan guna untuk mengetahui dengan menghitung berapa besar pajak yang dibayarkan oleh seseorang terhadap negara yang ditempati, penjelasan tersebut mengacu pada sistem perpajakan yang dapat dikatakan sebagai metode pengelolaan utang pajak yang dibayarkan oleh yang bersangkutan agar dapat masuk ke kas negara.

Sistem Pemungutan Pajak terdapat tiga sistem yaitu, 1) Official Assesssment System

Di dalam sistem ini petugas pajak yang sepenuhnya memiliki inisiatif dalam kegiatan menghitung dan juga pemungutan pajak. Penerapan

14

pada sistem inipun ditujukan pada masyarakat selaku wajib pajak dilihat belum mampu untuk diberikan tanggungjawab dalam menghitung serta menetapkan pajak.

2) Self Assessment System

Sistem ini merupakan pemungutan pajak dimana wajib pajak (yang membayar pajak) diberikan kepercayaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya, dimulai dari mendaftarkan wajib pajak, menghitung pajak menyetorkan serta melaporkan pajak yang akan dibayarkan.

3) Withholding system

Ciri dari withholding sytem yaitu pihak ketiga memiliki wewenang dalam menentukan berapa besar pajak yang harus dibayarkan, pihak yang dimaksudkan selain wajib pajak dan petugas pajak.

e. Tata Cara Pemungutan Pajak

Tata cara pemungutan pajak terdiri atas stelsel pajak, menurut (Resmi: 2017 : 8) yang terdiri dari, yaitu :

1) Stelsel Nyata

Yaitu pengenaan pajak didasarkan pada objek yang sesungguhnya terjadi (untuk PPh, objeknya adalah penghasilan). sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak,yakni setelah semua penghasilan yang sesungguhnya dalam satu tahun pajak diketahui.Contoh : pajak penghasilan Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 4 ayat (2), dan Pasal 26. Kelebihan stelsel nyata adalah perhitungan pajak di dasarkan pada penghasilan yang sesungguhnya sehingga lebih akurat dan realistis.

15

2) Stelsel Anggapan

Pengenaan pajak didasarkan pada suatau anggapan yang diatur oleh undang-undang. Sebagai contoh, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan penghasilan tahun sebelumnya sehingga pajak yang terutang pada suatu tahun juga dianggap sama dengan pajak yang terutang pada tahun sebelumnya. Dengan stelsel ini, berarti besarnya pajak yang terutang pada tahun berjalan sudah dapat ditetapkan atau diketahui pada awal tahun yang bersangkutan. Kelebihan stelsel fiktif adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan,tanpa harus menunggu sampai akhir tahun misalnya pembayaran pajak dilakukan pada saat Wajib Pajak memperoleh penghasilan tinggi atau mungkin dapat diangsur dalam tahun berjalan.

3) Stelsel Campuran

Pengenaan pajak didasarkan pada kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan. Kemudian pada akhir tahun pembayaran didasarkan dan disesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya. Jika besarnya pajak berdasarkan keadaan sesungguhnya lebih besar dari pada besarnya pajak menurut anggapan, Wajib Pajak harus membayar kekurangan tersebut.

f. Asas Pemungutan Pajak

Dalam pemungutan pajak terdapat 3 (tiga) asas dalam pemungutan pajak yaitu:

1) Asas Domisili

Asas ini maenyatakan bahwa Negara berhak mengenakan pajak

16

atas penghasilan wajib pajak yang berdomisili atau bertempat tinggal di Negara tersebut baik penghasilan dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

2) Asas Sumber

Asas ini menyatakan bahwa Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber atau berasal dari wilayahnya tanpa memperhatikan dimana tempat tinggal wajib pajak

3) Asas kebangsaaan

Asas ini menyatakan bahwa pengenaan pajak dihubungkan dengan status kewarganegaraan atau kebangsaan wajib pajajk. Dari hal diatas, maka setiap wajib pajak yang merupakan bangsa suatu Negara di wajib kan membayar pajak, baik WP didalam negeri atau diluar negeri. Oleh karna itu perlu ditingkatkan dan ditanamkan Kesadaran yang tinggi bagi WP dalam mematuhi kewajibannya dalam membayar pajak.

g. Syarat pemungutan pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat berikut, menurut (Putra, Indra Mahardika 2017:16) yaitu :

1) Pemungutan pajak harus adil (keadilan)

Sesuai dengan tujuan hokum, yaitu mencapai keadilan, undang-undang maupun pelaksanaan pemungutan pajak harus adil. Adil dalam perundang-undangan di antaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.Sedangkan adil dalam pelaksanaannya yaitu dengan

17

memberikan hak bagi Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada pengadilan pajak.

2) Pemungutan pajak berdasarkan undang-undang

Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memberikan jaminan hokum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.

3) Tidak mengganggu perekonomian

Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.

4) Efisien

Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus lebih rendah dari hasil pemungutannya.

5) System pemungutan pajak harus sederhana

System pemungutan yang sederhanaakan memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

h. Pengelompokan Pajak

Menurut Sri Melyanti dkk (2019, 18-20) Pajak dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu:

1) Menurut golongannya

18

a) Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh:

Pajak Penghasilan.

b) Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

2) Menurut sifatnya

a) Pajak subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau bersandarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contoh: Pajak Penghasilan.

b) Pajak objektif, yaitu pajak yang berpangkal pasa objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

3) Menurut Lembaga Pemungutnya

a) Pajak pusat, yaitu pajak yang sipungut oleh pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPn), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan bangunan (PBB), dan Bea Materai.

b) Pajak daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.

Contoh :

I. Pajak Daerah Tingkat I : pajak kendaraan bermotor dan kendaraan si atas air, bea balik nama kendaraan bermotor dan

19

kendaraan di atas air, pajak pengambilan dan pemanfaatan air tanah dan air permukaan.

II. Pajak Daerah Tingkat II : pajak hotel dan restoran, pajak reklame, pajak hiburan, pajak penerangan jalan

2. Pajak Bumi dan Bangunan

a. Pegertian Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak bumi dan bangunan adalah pajak atas bumi dan bangunan yang dimiliki,dikuasai, dan atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha 13 perkebunan, perhutanan,dan pertambangan. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan jenis pajak yang sepenuhnya diatur oleh pemerintah dalam menentukan besar pajaknya (menganut sistem pemungutan official assessment system).Pajak ini bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan.Di sini keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak. (Pajak et al., 2017).

Menurut Diana Sari, (2013:119) dalam bukunya “Konsep dasar Perpajakan” menyatakan bahwa “Pajak Bumi dan Bangunan adalah Pajak yang bersifat Objektif yang artinya bahwa besarnya pajak yang terutang di tentukan oleh keadaan objeknya yaitu bumi (tanah) dan/ atau bangunan.

Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan terhadap bumi dan bangunan. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa, tambak perairan) serta laut yang ada di

20

wilayah Republik Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan atau perairan.

(Fadillah & Bancin, 2020)

Pengertian PBB adalah iuaran yang dikenakan terhadap pemilik, pemegang kekuasaan, penyewa dan yang memperoleh manfaat dari bumi dan atau bangunan. Pengertian Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa-rawa, tambak, perairan) serta laut wilayah Indonesia, Bangunan adalah kontrukssi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan atau bangunan. (Kolinug et al., 2019). Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terdiri atas pajak terhadap bumi dan bangunan.

Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, meliputi tanah dan perairan, serta laut wilayah Republik Indonesia.

Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan untuk tempat tinggal, tempat usaha dan tempat yang diusahakan. PBB merupakan satu dari 11 jenis pajak daerah yang merupakan kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dasar hukum pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Sudirman dan Amiruddin, 2016: 390). Pajak Bumi dan

21

Bangunan adalah pajak atau biaya tarikan yang dikenakan kepada seseorang atau badan hukum (wajib pajak) yang mempunyai, memiliki bangunan dan memperoleh manfaat atas bangunan. (Dalam et al., n.d.)

b. Objek Pajak Bumi dan Bangunan

Objek pajak bumi dan bangunan adalah bumi dan bangunan.

Yang dimaksud dengan bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, contoh: Sawah, lading, kebun, tanah, pekarangan, dan tambang. Sedangkan yang dimaksud bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan perairan termasuk:

1) Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti jotel, pabrik, dan emplasemennya dan lain-lain yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut.

2) Jalan tol.

3) Kolam renang.

4) Pagar mewah.

5) Tempat olahraga.

6) Taman mewah, dan tempat penampingan/ kilang minyak, air dan gas, pipa minyak dan fasilitas lain yang memberikan manfaat.

Objek dari pajak bumi dan bangunan merupakan bumi dan atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan. (Penerimaan & Bumi, 2017)

22

c. Subjek Pajak Bumi dan Bangunan

Subjek pajak bumi dan bangunan adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi atau memperoleh manfaat atas bumi, dan memiliki, menguasai, dan memperoleh manfaat atas bangunan.. Subjek PBB yang dikenakan kewajiban membayar PBB berdasarkan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku menjadi Wajib Pajak. (Wilujeng et al., 2021)

Subjek pajak bukan hanya pemilik melainkan penyewa atau siapa saja yang memanfaatkan tanah atau bangunan karena subjek pajak bumi dan bangunan adalah orang atau badan yang secara nyata. Oleh karena sangat luasnya maksud yang terkandung dalam Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan, yang menjadi subjek pajak belum tentu menjadi wajib pajak. Sebab subjek pajak akan /baru menjadi wajib pajak apabila sudah memenuhi syarat-syarat objektif atau sudah mempunyai objek PBB yang dikenakan pajak. Yang berarti subjek pajak mempunyai hak atas objek yang dikenakan pajak (memiliki, menguasai, memperoleh manfaat dari objek kena pajak). (Ismayadie, 2019) Wajib pajak bumi dan bangunan berdasarkan UU 12 Tahun 1985 pasal 4, Undang-Undang PBB menentukan bahwa subjek pajak adalah orang atau badan secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak Bumi dan Bangunan pada umumnya memiliki peran yang cukup besar bagi kelangsungan dan kelancaran proses pembangunan.

23

Oleh karena itu perlu ditangani dan dikelola lebih intensif. Namun pada umumnya pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan seringkali terdapat berbagai masalah yang dialami bagi pemerintah daerah. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sering menjadi kendala dalam mencapai target yang telah ditentukan. Pemungutan pajak Bumi dan Bangunan akan memberikan hasil yang sesuai dengan penetapan target yang telah ditetapkan apabila didukung oleh beberapa faktor dan dengan mekanisme yang baik serta didukung oleh peraturan yang ada. Faktor yang tidak dapat dikontrol antara lain : Faktor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Jumlah Penduduk dan Jumlah Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT). Masing-masing faktor yang mempengaruhi pemungutan PBB tersebut akan dijelaskan dibawah ini.

1) PDRB

Produk domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai keseluruhan semua barang dan jas yang diproduksi dalam suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun. Suatu rumah tangga, perusahaan, lembaga non profit harus melakukan kegiatan ekonomi/produksi di suatu wilayah dengan memiliki tanah/bangunan dalam jangka waktu tertentu (minimal satu tahun).

PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang atau jasa yang dihitung beerdasarkan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dsar. PDRB atas harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Pengaruh PDRB terhadap pemungutan PBB dapat dilihat dari banyaknya para pelaku ekonomi yang membutuhkan penambahan lahan/tanah dan

24

bangunan untuk mengembangkan usahanya dalam menambah faktor produksi.

PDRB adalah nilai bersih barang dan jasa-jasa akhir yang

PDRB adalah nilai bersih barang dan jasa-jasa akhir yang

Dokumen terkait