• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. MANFAAT PENELITIAN

Dengan adanya penelitian ini,manfaat yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini antara lain:

4

1. Manfaat Secara Teoritis

a. Untuk dapat menerapkan teori yang diperoleh serta menambah pengetahuan bagi penulis tentang pelaksanaan kerja berlabuh jangkar.

b. Sebagai perbandingan antara teori dengan praktek nyata dilapangan pada waktu praktek laut.

2. Manfaat Secara Praktis

a. Membagi pengetahuan dan wawasan khususnya bagi para Taruna Taruni Politeknik Pelayaran Surabaya sebagai calon Perwira yang berkompeten, dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti berikutnya untuk dapat menyajikan hasil penelitian yang lebih baik dan diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat umum tentang kapal saat kerja jangkar dan dunia pelayaran.

b. Sebagai usulan dan saran agar pada saat melaksanakan pekerjaan jangkar dapat berjalan lancar dan aman.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI

1. Penelitian Sebelumnya

Tabel 2. 1 Review Penelitian Sebelumnya NO JUDUL

6

2. Pengertian Analisa

Menurut Dale Yoder (2001:13), analisa diartikan sebagai prosedur melalui fakta-fakta yang berhubungan dengan setiap pengamatan yang diperoleh dan dicatat secara sistematis. Menurut Supriyono (1990:89), analisa melibatkan pemecahan suatu keseluruhan kedalam bagian-bagian untuk mengetahui sifat, fungsi dan saling berhubungan antar bagian tersebut. Berdasarkan pendapat di atas, kegiatan analisa merupakan proses kerja dari urutan tahapan pekerjaan sebelum riset didokumentasikan melalui tahapan penulisan laporan.

3. Pengertian Pengaruh

Menurut Hugiono dan Poerwantana (1987:47), pengaruh merupakan dorongan atau bujukan dan bersifat membentuk atau merupakan suatu efek. Menurut Badudu dan Zain (1994:1031), pengaruh adalah sebuah daya yang menyebabkan sesuatu terjadi, sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain dan tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuasaan orang lain. Berdasarkan konsep pengaruh di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu reaksi yang timbul dapat berupa tindakan atau keadaan dari suatu perlakuan akibat dorongan untuk mengubah atau membentuk sesuatu keadaan kearah yang lebih baik.

7

4. Kapal Larat a. Pengertian

Dalam kegiatan labuh jangkar sering dijumpai beberapa masalah seperti jangkar kapal larat. Menurut Abdullah Rusdi (2014), pengertian dari jangkar larat (dragging anchor) adalah suatu keadaan disaat berlabuh jangkar dimana jangkar kapal menggaruk karena rantai kapal tertahan dan jika rantainya kemudian tegang terus artinya rantai terseret atau tidak makan.

Alasan utama kapal larat adalah karena faktor eksternal maupun internal dimana dapat membuat jangkar berubah posisi dari semula sehingga kapal keluar dari turning circle yang dapat membahayakan kapal lain maupun kapal kita. Selain itu jangkar juga dapat menggaruk dasar laut yang berupa pipa, minyak, dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, sangat penting bagi pelaut untuk mengumpulkan semua informasi yang diperlukan untuk membiasakan diri dengan situasi dan mencegah jangkar kapal yang larat sebanyak mungkin agar tidak terjadi sebuah kecelakaan. Cara Mendeskripsikan Jika Kapal Larat

1) Gunakan semua cara yang tersedia, baik peralatan visual maupun elektronik seperti GPS, RADAR dan ECDIS, untuk menilai situasi.

2) Jika kapal menyimpang dari lingkaran putar (turning circle) dapat dipastikan kapal larat.

8

3) Bow thruster tidak tahan terhadap angin.

4) Periksa rantai jangkar agar tidak slip, bendera dapat diikat ke tautan untuk memahami slip rantai jangkar.

5) Periksa Speed Over Ground (SOG), SOG dapat meningkat secara bervariasi dan ini tidak boleh disalahartikan.

6) Perhatikan trek kapal, jika posisi kapal mundur terus menerus, baring dengan benda dan jaraknya, jika keluar dari lingkaran putar maka beritahu Nahkoda untuk menyiapkan crew agar stand by dan berlabuh jangkar di tempat lain.

b. Tindakan Yang Diambil Jika Kapal Larat

1) Nahkoda harus diberi tahu, jangan ragu untuk meneleponnya kapan saja, pengalaman dan otoritas pengambilan keputusannya sangat penting dalam situasi apa pun yang memberi.

2) Beri tahu ruang mesin dan nyalakan mesin utama dengan izin dari Nahkoda dan berikan tenaga pada windlass jika belum diberikan.

Siapkan kapal untuk bermanouver.

3) Hentikan semua operasi dan siapkan kapal untuk manouver.

4) Menginformasikan dan mengingatkan Vessel Traffic System (VTS) dan kapal lain di dekatnya tentang kondisi dan menginformasikan tentang tindakan yang diambil. Mencari izin untuk melabuhkan kembali.

9

5) Mulai naikkan jangkar dan begitu kemampuan manouver kapal dipulihkan, ubah posisi jangkar di mana pengangkutan bisa lebih aman atau dibawa ke laut terbuka.

6) Jatuhkan jangkar kedua (tidak disarankan untuk kapal besar) sebelum kecepatan menyeret kapal meningkat. Ini dapat menghentikan kapal kecil dari jangkar larat pada tahap yang sangat awal sebelum kapal ditekan ke sisi bawah angin dengan kecepatan yang meningkat.

7) Gunakan bow thruster, mesin utama dan kemudi untuk bermanouver dan untuk menghentikan angin. Jangan menimpa jangkar terutama di perairan dangkal karena kapal dapat berdampak pada jangkar selama pelemparan.

8) Jika skenario memungkinkan, biarkan kapal menyeret secara terkendali. Tetapi ini tidak direkomendasikan di daerah-daerah di mana pekerjaan lepas pantai seperti operasi minyak dan gas sedang dilakukan, yang dapat berakibat merusak jalur pipa, kabel, dll.

9) Lepaskan jangkar sepenuhnya, ketika penimbangan jangkar tidak mungkin. Sebuah kapal tanpa minimum 2 jangkar tidak dianggap layak laut, penilaian yang cermat harus dilakukan sebelum membuat keputusan ini.

10) Hubungi kapal tunda untuk mendapatkan bantuan. Ini hanya mungkin jika cuaca memungkinkan.

10

c. Bahaya Yang Ditimbulkan

Di sebagian besar pelabuhan, tidak bisa dihindari kapal menunggu di pelabuhan dan waktu di pelabuhan bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Selama masa seperti itu, Nahkoda dan crew kapal harus mengidentifikasi kemungkinan bahaya bagi kapal

dan melakukan semua persiapan yang diperlukan. Jangkar yang menyeret kapal merupakan ancaman bagi dirinya sendiri dan juga terhadap kapal lain di sekitarnya, yang sering kali mengarah pada situasi darurat.

Dalam situasi seperti itu, penilaian cepat terhadap situasi hanya dapat dicapai dengan dinas jaga, rencana darurat untuk mengatasi keadaan darurat, respon cepat dan penilaian situasi yang baik.

Mungkin perlu waktu untuk mengembalikan kapal ke kondisi penuh yang dapat dikendalikan, tetapi tidak ada kecelakaan serius yang harus terjadi jika ada cukup waktu untuk melakukannya. Permasalahan jangkar larat pada saat kapal berlabuh jangkar pada daerah yang terbatas dan padat jika tidak ditanggulangi, dapat membahayakan keselamatan, baik itu pada kapal, muatan maupun crew kapal antara lain :

1) Bahaya tubrukan dengan kapal yang berada dibelakang atau samping yang dalam keadaan berlabuh jangkar pula.

2) Merusakkan jangkar dan rantai jangkar serta dapat mengakibatkan jangkar putus dan kehilangan jangkar.

11

3) Para mualim dapat disalahkan karena tidak waspada pada saat berlabuh jangkar, bahkan dapat dikenakan denda sangsi oleh syahbandar dan pihak kapal lain yang tertabrak oleh kapal larat.

4) Karena jangkar yang larat dapat mengakibatkan kerugian dalam hal waktu dan tenaga.

d. Pencegahan Agar Kapal Tidak Larat

Sebuah tindakan sebenarnya dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kapal larat, meskipun kapal larat tidak dapat diperhitungkan. Maka, beberapa pencegahan yang harus dilakukan adalah :

1) Membuat passage plan yang baik.

2) Perencanaan berlabuh jangkar di tempat yang aman.

3) Harus mengetahui karakter dasar laut melalui ECDIS atau peta.

4) Persiapan alat-alat navigasi elektronik seperti : GPS, RADAR dan ECDIS untuk menilai situasi.

5) Perhatikan density maupun kepadatan lalu lintas kapal saat berlabuh jangkar,

6) Memperhitungkan arus pasang surut dengan yang ada di peta.

5. Berlabuh Jangkar a. Pengertian

Menurut Modul Olah Gerak dan Pengendalian Kapal ANT II PIP Makassar (2011), berlabuh jangkar dilakukan dengan cara

12

menjatuhkan jangkar kedalam air, hingga mencapai dasar laut dan makan, dengan maksud agar kapal diam dan tidak hanyut.

Pada keadaan khusus misalnya keadaan darurat dan kapal akan berlabuh jangkar, sejauh mungkin diusahakan memenuhi peraturan yang ada serta mempertimbangkan keselamatan kapalnya. Apabila dipeta pelabuhan tidak tertera tempat yang harus digunakan untuk berlabuh jangkar, maka pemilihan tempat dapat dilakukan dengan mempelajari daerah tersebut didalam buku Guide To Port Entry, maupun menanyakan langsung kepada penguasa pelabuhan setempat, tempat-tempat mana yang paling ideal.

Pengertian jangkar (anchor) menurut KBBI adalah pemberat pada kapal atau perahu, terbuat dari besi diturunkan kedalam air pada waktu berhenti agar kapal tidak oleng. Jangkar memiliki fungsi selain untuk berlabuh, dalam olah gerak diatas kapal juga berfungsi untuk : 1) Mengikat kapal dengan dasar perairan

2) Mencegah tubrukan

3) Menahan kapal dilaut yang berombak besar 4) Menahan haluan kapal terhadap angina 5) Mencegah kandasnya kapal

13

Sumber : Wordpress (2013) Berikut bagian-bagian jangkar :

a) Arm (lengan), bagian dari jangkar membentang dari ujung jangkar (crown) akhir dari batang jangkar (shank) menghubungkan ke telapak jangkar (palm).

b) Band, logam melingkar mengamankan dua bagian dari stok kayu bersamasama dengan batang jangkar (shank).

c) Bill, sangat ujung, akhir dari lengan jangkar (palm).

d) Crown (mahkota), ujung runcing akhir dari jangkar yang menghubungkan batang jangkar (shank) dengan lengan.

e) Eye (mata), lubang di akhir batang jangkar (shank) yang mana cincin terpasang.

f) Fluke, bentuk sekop bagian dari lengan jangkar (arm) yang digunakan untuk menggali dasar laut untuk mengamankan kapal.

g) Palm, bagian datar paling atas sebagian bagian dari sekop (fluke).

Gambar 2. 1 Bagian – Bagian Jangkar

14

h) Ring, bagian jangkar dimana tali atau rantai melekat menghubung jangkar ke kapal.

i) Shank, batang tegak dari jangkar.

j) Stock, lintas bar jangkar yang mengubah jangkar menjadi bersifat dimana memungkinkan sekop pada jangkar (fluke) untuk menggali ke dasar laut.

Menurut Nareza Rafi (2011), mesin kerek (windlass) adalah mesin yang menahan dan melepaskan rantai jangkar sehingga memungkinkan jangkar yang akan diangkat dan diturunkan. Sebuah rem disediakan untuk kontrol dan mesin kerek (windlass) biasanya didukung oleh motor listrik atau hidrolik yang beroperasi melalui roda gigi.

Gambar 2. 2 Windlass

Sumber : Dokumentasi KM. Bukit Siguntang

b. Prosedur

1) Persiapan Kapal Sebelum Berlabuh Jangkar

Sebelum pelaksanaan labuh jangkar beberapa persiapan perlu dilakukan agar hasilnya dapat sesuai dengan apa yang

15

diinginkan baik mengenai ketepatan waktu, posisi maupun kelancaran peralatan-peralatan yang digunakan. Persiapan yang perlu dilakukan antara lain adalah :

a) Setengah atau satu jam sebelum pelaksanaan letgo jangkar, KKM dan Perwira deck serta petugas lain ditunjuk dan diberitahu guna mempersiapkan mesin untuk olah gerak dan peralatan yang diperlukan.

b) Bendera-bendera yang diperlukan dipasang, tangga dipersiapkan serta peralatan muat bongkar barang, penumpang disiapkan sehingga apabila kegiatan muat bongkar akan dilakukan setelah kapal berlabuh jangkar maka waktu yang digunakan dapat dihemat seefisien mungkin.

c) Echosounder, agar dapat dideteksi kedalaman laut secara terus menerus guna informasi sebelum jangkar dijatuhkan.

d) Windlass, tenaga penggerak mesin jangkar fungsi muat bongkar dihidupkan khususnya mesin jangkar dicoba terlebih dahulu, bahwa jangkar tidak macet. Setelah diperintahkan untuk menyiapkan jangkar, maka jangkar diarea keluar dari ulupnya dan disiapkan untuk letgo.

e) Alat komunikasi dicoba dan peralatan-peralatan anjungan dicoba.

f) Penentuan posisi baringan dilakukan sesering mungkin sehingga dapat memberikan informasi secara optimal,

16

dengan mempergunakan semua sarana yang ada seperti radar, RDF, kompas dan Iain-lain.

g) Guide To Port Entry Book ini sebagai petunjuk tempat anchorage di peta atau Nautical Pubication lainnya.

h) Kegiatan-kegiatan yang mungkin akan mengganggu pelaksanaan letgo jangkar untuk sementara dihentikan.

2) Tahapan-tahapan berlabuh jangkar

Sebelum berlabuh, pilih posisi berlabuh dengan mempertimbangkan dasar laut, bahaya di sekitarnya, keadaan cuaca, laut dan pasang surut, kedalaman air dan kemudahan berolah gerak. Berikut tahapan-tahapan berlabuh jangkar : a) Mendekati posisi berlabuh dengan kecepatan aman untuk

memudahkan proses penurunan jangkar.

b) Satu jam sebelum operasi labuh, jangkar disiapkan. Mesin jangkar harus dihidupkan dan dicek.

c) Sebaiknya rantai jangkar diarea 1 meter diatas permukaan air laut sebelum di letgo.

d) Jika kedalaman air lebih dari 20 meter, selalu labuhkan jangkar menggunakan tenaga mesin jangkar. Jangan menurunkan jangkar dengan gaya beratnya.

e) Pastikan komunikasi sebelum perintah letgo jangkar diberikan.

17

f) Pada waktu jangkar siap untuk di letgo, pastikan tekanan lengan hidup dan rem makan untuk bertujuan mengatur rantai jangkar yang akan di letgo.

g) Jangan menyentak rantai jangkar menggunakan rem. Rem hanya digunakan saat jangkar telah menyentuh dan menancap di dasar perairan.

h) Letgo jangkar 4 segel dari kedalaman perairan.

6. Dasar Laut (Seabed) a. Pengertian

Dasar laut merupakan salah satu faktor eksternal terjadinya kapal larat. Dasar laut atau seabed adalah dataran luas yang berada di dalam laut (Farah, 2015). Relief dataran ini juga terbentuk akibat adanya tenaga endogen dan eksogen. Akibat kedua tenaga ini, dasar laut memiliki relief yang bermacam- macam. Permukaan bumi dasar laut, memiliki banyak bentuk. Bentuk muka bumi dasar laut antara lain: landasan kontinen, lereng benua, paparan benua, tanjakan kontinen, lubuk laut, palung laut, punggung laut, ambang laut, gunung laut.

b. Area Dasar Laut (Seabed)

Area dasar laut dan tanah dibawahnya yang diatur dalam bab XI konvensi hukum laut 1982 merupakan warisan bersama bersama umat manusia yang tunduk dan patuh pada aturan international (Common heritage of mankind).

18

Pada saat proses berlabuh jangkar, jangkar yang diturunkan ke dasar laut dapat masuk ke dasar tanah perairan bergantung dari karakteristik jangkar dan tanah. Setelah itu, rantai jangkar tertarik dan berhenti setelah shaft terkunci. Tegangan pada rantai yang berlebih menyebabkan mata jangkar lepas dan bergerak kembali. Lepasnya jangkar ke permukaan dasar laut (seabed) menyebabkan rusaknya seabed, juga pipeline yang ada pada dasar laut. Karena jangkar yang baik menggali sendiri ke dasar laut, dasar laut (seabed) tertarik lebih dari sekadar lapisan atas.

7. Pengertian Anchorage Area

Menurut Branch (2012:2) definisi pelabuhan menambahkan lokasi perairan (anchorage area) tempat kapal menunggu gilirannya bertambat untuk bongkar muat sebagai bagian dari fasilitas pelabuhan. Biasanya pelabuhan mempunyai antarmuka (interface) sebagai layanan penghubung antar jenis alat transportasi. Hopkins (2012:2) juga berpandangan bahwa area “parkir” sementara (anchorage area) bagi kapal yang menunggu giliran untuk dimuat dan/atau di bongkar adalah bagian dari pelabuhan tanpa terpengaruh oleh jarak antara lokasi labuh jangkar tersebut dengan tempat bertambat. Dapat disimpulkan bahwa area lepas jangkar (anchorage area) merupakan area yang digunakan untuk berlabuh kapal (lepas jangkar).

19

Analisa Kapal Larat Saat Proses Berlabuh Jangkar Akibat Pengaruh seabed di anchorage area

Faktor Penyebab Kapal Larat

Faktor Eksternal :

Karakteristik Faktor Eksternal Dasa Laut (Seabed) yang Menyebabkan Kapal Larat

Akibat Yang Dialami Jika Kapal Larat

Upaya Pencegahan Agar Kapal Tidak Mengalami Larat

B. KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka berpikir adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian, dengan meninjau teori yang disusun. Adapun kerangka pemikiran dalam karya ilmiah terapan ini adalah sebagai berikut :

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian Kualitatif.

Menurut Suryabrata (2006), Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain. Sehingga metode penelitian berisi pengetahuan yang mengkaji ketentuan mengenai metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Pada umumnya penelitian merupakan refleksi keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan yang merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga menjadi motivasi untuk melakukan penelitian. Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi serta mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan selanjutnya dianalisis.

B. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan ketika penulis melaksanakan praktek layar (Prala) diatas kapal KM. Bukit Siguntang milik perusahaan PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) selama 12 bulan dari 22 Agustus 2019 sampai dengan 25 Agustus 2020.

20

21

2. Waktu Penelitian

Penulis melakukan praktek laut selama satu tahun tiga hari di KM.

Bukit Siguntang dari tanggal 22 Agustus 2019 sampai dengan 25 Agustus 2020 sebagai deck cadet. Dalam kurun waktu tersebut kegiatan yang dilakukan tidak hanya meneliti permasalahan yang diangkat dalam karya ilmiah terapan ini, melainkan juga mengerjakan tugas – tugas dari Politeknik Pelayaran Surabaya serta dari para mualim dalam memperlancar pengoperasian kapal yang membatasi waktu penulis dalam melaksanakan penelitian.

C. SUMBER DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA 1. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan informasi yang diperoleh penulis melalui pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti dan buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Ada pun data yang diperoleh dari sumber-sumber ini sebagai berikut :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya, melalui narasumber yang tepat dan yang dijadikan responden dalam penelitian penulis. Yaitu hasil observasi langsung terhadap analisa kapal larat saat proses berlabuh jangkar akibat pengaruh seabed di anchorage area. Dalam melengkapi pengamatan juga dilakukan dokumentasi dengan mengambil gambar-gambar

22

untuk mengetahui kebenarannya, disesuaikan dengan situasi saat pengamatan dan kondisi yang ada.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi, yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh penulis, selain dari sumbernya yang diteliti. Data sekunder diperoleh dari buku-buku maupun internet yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas, yang diperlukan sebagai pedoman teoritis dan ketentuan formal dari keadaan nyata dalam observasi serta informasi lain yang didapat.

2. Teknik Pengumpulan Data

Penyajian untuk penulisan ini adalah menggunakan metode Deskriptif. Yaitu penulisan yang berisi paparan dan uraian mengenai suatu obyek permasalahan yang timbul pada saat tertentu. Metode ini digunakan untuk memaparkan secara rinci dengan tujuan memberikan informasi mengenai masalah yang timbul dan berhubungan dengan materi pembahasan penulisan ini. Berikut adalah metode-metode yang dipakai dalam penelitian ini :

a. Metode Observasi

Menurut Margono (1997:158), mendefinisikan observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Metode ini dilakukan melalui pengamatan langsung pada objek yaitu kapal, dalam hal ini adalah

23

analisa kapal larat saat proses berlabuh jangkar akibat pengaruh seabed di anchorage area, kendala yang dihadapi dan upaya untuk

mengatasi kendala tersebut.

Tujuannnya adalah agar mengerti akan keadaan objek yang dijadikan topik yaitu analisa pengaruh seabed akibat kapal larat saat proses berlabuh jangkar di tempat padat labuh kapal secara menyeluruh dan langsung, untuk memberi kesesuaian antara keterangan-keterangan yang diperoleh dengan yang sebenarnya terjadi.

b. Metode Kuesioner

Metode penulis ini dilakukan dengan teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.

c. Wawancara

Percakapan yang dilakukan oleh dua pihak antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan dan saling bertukar informasi untuk meneliti lebih mendalam.

Tohirin (2012:65) menyatakan Dalam melakukan wawancara, peneliti boleh menggunakan 3 pola pendekatan sebagai berikut.

24

1) Dalam bentuk percakapan informal yang dilakukan secara spontanitas, santai, tanpa pola atau arah yang ditentukan sebelumnya.

2) Menggunakan lembaran berisi garis besar pokok-pokok, topik atau masalah yang dijadikan pegangan dalam melakukan wawancara.

3) Menggunakan daftar pertanyaan (pedoman wawancara) yang lebih terperinci, tetapi bersifat terbuka yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dan akan diajukan menurut urutan pertanyaan yang telah dibuat.

D. TEKNIK ANALISIS DATA

Teknik yang digunakan oleh penulis adalah metode “deskriptif kualitatif“ dan data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triagulasi), dan dilakukan secara terus-menerus sampai datanya jenuh. Analisis data kualitatif bisa diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya dan mencari apa yang penting dan apa yang dapat dipelajari. Berdasarkan dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan langkah-langkah yang akan dilakukan yaitu:

1. Data yang terkumpul dikategorikan dan dipilah-pilah menurut jenis datanya.

2. Melakukan seleksi terhadap data yang dianggap data inti yang berkaitan langsung dengan permasalahan dan yang hanya merupakan data

25

pendukung. Menelaah, mengkaji dan mepelajari lebih dalam data tersebut kemudian melakukan interprestasi data untuk mencari solusi dalam permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Pada penelitian deskriptif kualitatif ini, analisis data dilakukan semenjak awal penelitian.

Pengamatan dilaksanakan di kapal niaga yang akan ditempati saat PRALA.

26

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M.H., Djaja, R., Ibrahim, A.L. (2013) Program Studi Teknik Geodesi.

Pakuan: Universitas Pakuan

Creed, J.C., Filho, G.M.A. (1999). Disturbance and recovery of the macroflora of a seagrass (Halodule wrightii Ascherson) meadow in the Abrolhos Marine National Park. Brazil: experimental evaluation of anchor damage.

Koers,Albert.W. (1991) Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Okada, Takuzo. (2018) Dragging Anchor Case Studies and Preventive Measures.

Japan: Japan P&I Club

Purwantomo, Agus H. (2007), Buku Teknik Pengendallian dan Olah Gerak Kapal.

Semarang: PIP Semarang

Politeknik Ilmu Pelayaran Makasar (2011), Modul Olah Gerak dan Pengendalian Kapal. Makasar: Politeknik Ilmu Pelayaran Makasar

Sasmita, Eka Arganata. (2017) Analisis Jangkar Larat KM. Hijau Sejuk Di Rede Maspion Anchorage Pada Voyage 01 Tahun 2017. Semarang: Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang

Widagdo M., Adrianus. (2018) Analisa Pencegahan Larat Dalam Berlabuh Jangkar

Widagdo M., Adrianus. (2018) Analisa Pencegahan Larat Dalam Berlabuh Jangkar

Dokumen terkait