• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki arti akademis yang dapat menambah informasi dan memperkaya hasanah Ilmu pengetahuan khususnya dalam memahami bahaya liberalisme terhadap proses pendidikan Islam.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk kepentingan akademis, hasil penelitian ini diharapkan mempunyai arti kemasyarakatan. Untuk maksud ini diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu dalam menemukan hal-hal yang dapat membawa pengaruh negatif terhadap proses pendidikan Islam.

b. Secara khusus dalam penelitian mengenai Liberalisme dan dampaknya terhadap dunia pendidikan Islam. Ini Agar dapat menjadi informasi dan referensi bagi para pendidik, sehinggah dalam proses pendidikan lebih banyak diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan Islam yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

c. Hasil Penelitian ini dapat memberikan informasi faktual ada tidaknya pengaruh liberalisme terhadap dunia pendidikan Islam serta beberapa upaya antisipasi yang dapat dilakukan dalam membendung dampaknya dalam dunia pendidikan Islam saat ini.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Aliran Liberalisme

1. Pengertian Liberalisme

Kata liberalisme berasal dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Dan isme yang berarti paham. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir. Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna.

Secara politis, liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi. Dalam konteks sosial, liberalisme diartikan sebagai suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum. Menurut Alonzo L.

Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity).

Pemikiran liberal (liberalisme) juga merupakansalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaisance yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal,

10

yang secara harfiah berarti “bebas dari batasan” (free from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja(Adams, 2004:20). Ini berkebalikan total dengan kehidupan Barat Abad Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia.

Menurut Sukarna (1981) ada tiga konsep dasar dari Ideologi Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Ketiga konsep dasar tersebut bersumber pada nilai-nilai pokok, diantaranya:

a. Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being).

Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.

b. Perlakuan yang sama (Treat the Others Reason Equally)

Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan

kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.

c. pemerintahan dengan persetujuan dari yang diperintah (Governmentby the Consent of The People or The Governed)

Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah.

Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.

d. Berjalannya hukum (The Rule of Law).

Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat.

Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial. Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu (The Emphasis of Individual)

e. Negara hanyalah alat (The State is Instrument).

Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah

merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.

f. Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogmatisme).

Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.

2. Latar Belakang Munculnya Aliran Liberalisme

Sejarah liberalisme, adalah tonggak baru bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat dan karena itu, disebut dengan periode pencerahan.

Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman renaisance di Italia. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung-pendukung negara kota yang bebas melawan pendukung Paus. Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan sosial dan politik sebelum masa Revolusi Prancis berupa sistem merkantilisme, feodalisme, dan gereja roma Katolik.

Liberalisme pada umumnya meminimalkan campur tangan negara dalam kehidupan sosial. Sebagai satu ideologi, liberalisme bisa dikatakan berasal dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman renaisance dan juga dari golongan Whings semasa Revolusi Inggris yang menginginkan hak untuk memilih raja dan membatasi

kekuasaan raja. Mereka menentang sistem merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno dan berpaderi.

Liberalisme yang awalnya berasal dari Yunani kuno, juga merupakan salah satu elemen terpenting dalam kemajuan peradaban Barat. Dimana perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan raja kepada bangsawan bawahan.

Charta ini secara otomatis telah membatasi kekuasaan Raja John sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism).

Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada tahun 1688 yang kemudian dikenal dengan sebutan The Glorious Revolution of 1688. Revolusi ini berhasil menurunkan Raja James II dari England dan Ireland (James VII) dari Scotland) serta mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini, parlemen Inggris menyetujui sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dan kebebasan masyarakat Inggris. Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treatises of Government (1690), John Locke menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk

menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi.

Singkatnya, pada abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama pada tahun 1918, beberapa negara Eropa menerapkan prinsip pemerintahan demokrasi. Hak kaum perempuan untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi di dalam pemerintahan diberikan. Menjelang tahun 1930-an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik saja, tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang lainnya; misalnya ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Tahun 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan, yakni kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Pada tahun 1948, PBB mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di samping hak politik.

Jika ditinjau dari perkembangannya, liberalisme secara umum memiliki dua aliran utama yang saling bersaing dalam menggunakan sebutan liberal. Yang pertama adalah liberal klasik atau early liberalism yang kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan dalam usaha individu, dalam hak memiliki kekayaan, dalam kebijakan ekonomi dan kebebasan melakukan kontrak serta menentang sistem welfare state. Yang kedua adalah liberal sosial, Aliran ini

menekankan peran negara yang lebih besar untuk membela hak-hak individu (dalam pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk hukum anti-diskriminasi.

Selain kedua tren liberalisme diatas yang menekankan pada hak-hak ekonomi dan politik dan sosial terdapat liberalisme dalam bidang pemikiran termasuk pemikiran keagamaan. Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang, dan terbuka. Kebebasan intelektual adalah aspek yang paling mendasar dari liberalisme sosial dan politik atau dapat pula disebut sebagai sisi lain dari liberalisme sosial dan politik.

Lahirnya aliran kebebasan intelektual di Barat terjadi pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke 17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan.

Pada saat terjadi Revolusi Perancis tahun (1789) kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik sudah dicanangkan. Prinsip-prinsip Revolusi Perancis itu bahkan dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Konsekuensinya adalah penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik dan di rubahnya menjadi bersifat individual. Selain itu agama Kristen dan Gereja harus

dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Ciri liberalisme pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Ini sejalan dengan doktrin nihilisme yang merupakan ciri khas pandangan hidup Barat postmodern yang telah disebutkan diatas.

Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik. Di samping itu, liberalisme juga membawa dampak yang besar bagi sistem masyarakat Barat, di antaranya adalah mengenyampingkan hak Tuhan dan setiap kekuasaan yang berasal dari Tuhan; pemindahan agama dari ruang publik menjadi sekedar urusan individu; pengabaian total terhadap agama Kristen dan gereja atas statusnya sebagai lembaga publik, lembaga legal dan lembaga sosial.

Dalam liberalisme budaya, paham ini menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati. Liberalisme budaya secara umum menentang keras campur tangan pemerintah yang mengatur sastra, seni, akademis, perjudian, seks, pelacuran, aborsi, keluarga berencana, alkohol, ganja, dan barang-barang yang dikontrol lainnya. Belanda, dari segi liberalisme budaya, mungkin negara yang paling liberal di dunia.

3. Bentuk-Bentuk Aliran Liberalisme 1. Liberalisme politik

Liberalisme politikadalah aliran di mana seseorang itu adalah masyarakat. Masyarakat dan institusi-institusi kerajaan yang wujud di dalam masyarakat berfungsi untuk memperjuangkan hak-hak peribadi tanpa memilih kasih kepada siapa yang mempunyai taraf sosial yang tinggi. Magna Carta adalah satu contoh di mana dokumen politik meletakkan hak-hak peribadi lebih tinggi daripada kuasa raja. Liberalisme politik menekankan perjanjian sosial yang mana rakyat merangkai undang-undang kedaulatan undang-undang serta demokrasi liberal.

2. Liberalisme budaya

Liberalisme budaya menekankan hak-hak peribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati termasuk kebebasan seksual, kebebasan beragama, kebebasan pemahaman dan pelindungan dari campur tangan kerajaan di dalam kehidupan peribadi. Liberalisme budaya secara umumnya menentang peraturan-peraturan kerajaan di dalam kesusasteraan, seni, akademik, perjudian, seks, pelacuran, pengguguran kandungan, penggunaan pengawalan pengandungan, kesakitan muktamad, arak, ganja dan barang-barang kawalan yang lain.

3. Liberalisme ekonomik/liberalisme klasikal

Liberalisme klasikaladalah satu ideology yang menyokong hak-hak pribadi ke atas harta benda dan kebebasan perjanjian bertulis.

Liberalisme ekonomik menyatakan bahwa harga barang dan perkhidmatan harus ditentukan oleh pasaran yang sebenarnya ditentukan oleh tindakan-tindakan pengguna.

4. Liberalisme sosial atau liberalisme baru (tidak patut dikelirukan dengan neoliberalisme)

Liberalisme sosial,mula-mula dilihat berdiri di kalangan masyarakat negara-negara maju pada akhir abad ke-19. Ia dipengaruhi oleh utilitarianisme yang diasaskan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Menurut ahli-ahli liberalisme sosial, hak positif perlu dibuat dan dibekalkan kepada orang ramai. hak-hak positif tersebut adalah bersifat objektif yang berterusan yang secara asasnya melindungi kebebasan.

4. Ciri Khas Aliran Liberalisme

a. Bidang ekonomi menganut paham kapitalisme

Perekonomian diserahkan kepada kepentingan perorangan sehingga menimbulkan pertentangan dan ketimpangan karena yang kaya makin kaya dan yang miskin makin bertambah miskin. Ekonomi liberal-kapitalisme memberikan kemerdekaan dan kekayaan kepada sekelompok kecil masyarakat saja, tidak kepada rakyat banyak.

b. Bidang politik

Lebih menonjolkan aspek individu artinya bisa saja orang menuntut sesuatu kepada negara atas dasar prinsip liberal. Keadaan itu menjadikan kehidupan politik menjadi labil sehingga pemerintahan sering berganti. Selain itu didukung serta adanya partai oposisi (partai yang kalah dalam pemilu) yang tugasnya mengawasi dan mengevaluasi pemerintah (partai yang berkuasa).

c. Bidang sosial budaya

anggota masyarakatnya bersifat individual dan sangat mementingkan prestasi pribadi.

d. Bidang agama

mengenal paham sekuler, artinya negara tidak ikut campur atau menomorduakan dalam urusan agama sebab agama adalah urusan masing-masing pribadi dan lembaga keagamaannya.

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam secara bahasa adalah tarbiyah Islamiyah.

Sedangkan secara terminologi ada beberapa istilah tentang pendidikan Islam diantaranya: Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.

Zuhairini dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam mengemukakan bahwa “Pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam atau sesuatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, merumuskan dan berbuat berdasarkan nilai- nilai Islam, serta bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam”.(Zuhairini ,1995: 152)

Sedangkan menurut Azyumardi Azra pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad Saw. Melalui proses yang mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi yang dalam kerangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ali Khalil Abul ‘Anainkaitannyadenganpendidikan Islam mengungkapkan,bahwa pendidikan mestilah meliputi segala aspek yang di butuhkan manusia dalam rangka peralihan keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pendidikan mestilah berkenaan dengan penumbuh kembangan rasional subjek didik yangdikaitkan dengan kepentingan kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan mesti senantiasa memperhatikan nilai-nilai yang asasi dan fur’iy yang menjadi kebutuhan manusia, seperti nilai yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, nilai-nilai rasional, moral, seni, dan kemasyarakatan (Ali Khalil Abul ‘ Anain, 1980: 147-148).

Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar transfer knowledge tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan. Di Indonesia pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran, baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun pendidikan nonformal seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Untuk institusi pendidikan lembaga formal dewasa ini adalah sekolah dan madrasah.

Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan istilah madrasah ini digunakan untuk satu Jenis pendidikan Islam di Indonesia, meskipun demikian, madrasah sebagai satu sistem pendidikan Islam berkelas dan mengajarkan sekaligus ilmu-ilmu keagamaan dan non keagamaan sudah tampak sejak awal abad 20, walaupun pada saat itu sebagian di antara lembaga-lembaga pendidikan itu masih menggunakan istilah school/sekolah (Jurnal Al-Banjari,2006:35).

Dari beberapa pengertian pendidikan Islam diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya (shohih li nafsihi) dan orang lain (sholih li ghoirihi). Serta membentuk kepribadian seseorang menjadi insan ulul kamil, artinya manusia yang utuh rohani dan jasmani, dapat hidup berkembang secara wajar dan normal.

Jadi, dapat diutarakan bahwa konsepsi pendidikan model Islam, paradigma pendidikan Islam tidak hanya pada sebagai upaya pencerdasan semata, tetapi juga penghambaan diri kepada Tuhannya.

2. Dasar Pendidikan Islam

Setelah membahas tentang pengertian pendidikan Islam yang telah dipaparkan diatas, selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah dasar pendidikan agama Islam itu sendiri. Menurut Ahmad D. Marimba dasar-dasar pendidikan agama Islam adalah “Semua ketentuan dan ajaran yang berasal dari firman Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya”.(tth:41)

Menurut Zuhairini dkk, yang dimaksud dengan dasar pendidikan Islam adalah “ Dasar-dasar yang bersumber dari ajaran Islam yang tertera dalam Al-Quran dan Hadits. Menurut ajaran agama Islam, bahwa pelaksanaan pendidikan Agama Islam merupakan perintah dari Allah dan merupakan Ibadah kepadanya” (Zuhairani,1983:23).

Al-quran dan Sunnah merupakan sumber hukum dan ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk mengikuti petunjuk Al-quran dan Sunnah. Sebagaimana terdapat dalam surat An-Nisa ayat 59.

Terjemahnya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Muhammad)…”(QS.An-Nisa 59).

Hal ini cukup beralasan karena Al-quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah hidup yang lurus dalam arti

memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhoi Allah SWT.

Diantara sifat orang mukmin adalah saling menasehati untuk mengamalkan ajaran Allah SWT yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan. Demikian pula sunnah Rasulullah yang mengandung ajaran-ajaran dan perilaku Rasulullah sebagai pelaksanaan hukum-hukum yang terkandung didalam Al-Quran. Sunnah berisi petunjuk untuk kemaslahatan hidup manusia. Semua kehidupan Rasul semata-mata untuk menjadi teladan bagi umatnya. Ia adalah seorang guru dan pendidik utama.

Al-Quran maupun sunnah rasulullah adalah pedoman hidup yang bersifat global, keduanya selalu membuka kemungkinan penafsiran yang berkembang. Untuk itu diperlukan ijtihad sebagai lapangan untuk menggali nilai-nilai atau hukum yang lebih terperinci yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah.

Dengan demikian yang menjadi dasar atau landasan dari pendidikan agama Islam ialah Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia, ditambah dengan sunnah Nabi sebagai penyempurna serta ijtihad untuk memperjelas apa yang sudah ada yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut dalam pelaksanaannya.

3. Tujuan Pendidikan Islam

a. Berusaha mendidik individu mukmin agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

b. Tujuan pendidikan Islam oleh M. Arifin beliau mengatakan

“Esensi tujuan pendidikan agama Islam yang sejalan dengan tuntutan Al-Quran adalah sikap penyerahan diri secara total kepada Allah”.(M.Arifin,tth:85)

c. “Membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT yakni melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan ketulusan” demikian tujuan pendidikan Agama Islam menurut Prof. Dr. Abudin Nata (Abudin Nata,2005:166).

Tujuan tersebut di atas tampaknya di dasarkan pada salah satu sifat dasar yang cenderung menjadi orang yang baik, yakni kecenderungan untuk melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, di samping kecenderungan untuk menjadi orang yang jahat.

Jelaslah bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan agama Islam identik dengan tujuan hidup seseorang muslim, yaitu manusia yang selalu beribadah setiap gerak hidupnya. Selain itu tujuan pendidikan agama Islam adalah menghasilkan manusia muslim yang mempunyai kepribadian sempurna dengan pola taqwa yang berarti bahwa pendidikan agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat, serta senang dan gemar mengamalkan ajaran agama Islam dalam hubungan dengan pencipta, manusia sesamanya dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri agar tercapai kebahagiaan dan keselamatan hidup didunia dan di akhirat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat kajian kepustakaan (Library Research) yang difokuskan pada penelusuran dan penelaan literature serta bahan pustaka yang dianggap ada kaitannya Aliran Liberalisme dan Dampaknya terhadap pendidikan Islam.

B. Variabel Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini yang diteliti adalah Liberalisme dan Dampaknya terhadap dunia pendidikan Islam.

Data variabel tersebut dianalisis berdasarkan literatur yang ada tanpa memberikan analisis khusus.

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Liberalisme sebagai variabel indevendent variabel (variabel bebas) yaitu menjadi sebab terjadinya atau adanya suatu perubahan pada devendent variabel (variabel terikat).

2. Pendidikan Islam sebagai devendent variabel (variabel terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya indevendent variabel (variabel bebas).

C. Defenisi Operasional Variabel

Untuk menghindari kesalahpahaman ataupun kekeliruan dalam memahami, maka perlu ditegaskan istilah judul tersebut. Adapun istilah yang perlu penulis tegaskan:

26

1. Liberalisme

Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti

Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti

Dokumen terkait