SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
MUHAMMAD DANIAL NIM: 10519178412
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437 H / 2016 M
ii
ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri.
Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakaa duplikat, tiruan, apa lagi dibuat atau dibantu secara langsung orang lain keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Makassar, 23 Sya’ban 1437 H 30 Mei 2016 M
Penulis
MUHAMMAD DANIAL
ix
Skripsi ini membahas tentang liberalisme dan Dampaknya Terhadap Dunia Pendidikan Islam di Indonesia dengan pokok bahasan;
(1)keberadaan liberalisme di Indonesia, (2)Bagaimana pengaruh liberalisme terhadap pendidikan Islam di Indonesia, (3)Bagaimana upaya membendung pengaruh Liberalisme terhadap Pendidikan Islam di Indonesia.
Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kajian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang ditempuh dalam penelitian ini yaitu melakukan riset kepustakaan dengan langkah menganalisis data hasil penelitian yang penulis pergunakan dengan jalan membaca dan menelaah beberapa literatur atau beberapa karya ilmiah.
Dengan demikian maka Seluruh data yang dihimpun melalui riset kepustakaan semua data bersifat kualitatif, sehingga pengelolaan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data sebelumnya, kemudian di ola dengan mengadakan dan mengemukakan sifat data yang diperoleh kemudian dianalisis lebih lanjut guna mendapatkan kesimpulan.
Hasil penelitian yang penulis temukan adalah: pertama, Keberadaan liberalisme di Indonesia yaitu: Paham liberalisme di Indonesia, pada dasarnya berawal dari adanya kolonialisme barat terhadap Indonesia. Akar dari semangat munculnya Jaringan Islam Liberal di Indonesia adalah gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia yang dipelopori oleh beberapa tokoh antara lain; Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid.
Dan yang kedua, Pengaruh liberalisme terhadap pendidikan Islam yaitu: Pendidikan liberal memandang anak didik hanya sebagai miniatur orang dewasa dalam proses pendidikan yang merupakan pengaruh nyata dalam filsafat barat, sementara dalam pandangan Islam perintah dan larangan menjadi substansi dalam proses pendidikan Islam.
Selanjutnya, dengan merebaknya paham liberal di Indonesia, dapat di bendung dengan kembali menjadikan perintah dan larangan beserta contoh kebaikan dijadikan sebagai instrument penting dalam dunia pendidikan Islam. Selain itu ada juga beberapa upaya lainnya yang dapat di lakukan sebagaimana yang telah di lakukan Muhammadiyah yaitu dengan melalui dua jalur antara lain; Melalui jalur Struktural, baik struktural organisasi maupun pemerintahan dan Melalui jalur cultural, dengan membiasakan diri dan peserta didik dalam berbagai kebiasaan- kebiasaan yang baik, tradisi literasi dan penanaman pemahaman ke- islaman yang kuat terhadap peserta didik dan lain-lain.
لَندددَ َإلحَدددمِ لَح دددِ َ ل دددَ َقلَِِّ دددممٍََِيْلثَح َِدددحَُدللَِدددَْحمَِل ِقلَتخدددَْحَِحيالَندددَ َإلَحَِمَهخدددَِحهالَعَللِِّددد ِهلِلدددحمَحلْا لاَ د لِِّدَهلمَِمَتدحتالِْالِِدَقخََل د َقلَمخََُدتدحتالِتِندٍَلثِح ِِدحكمتهاَيْلِمخَِحدَِحيخِب لثِ حْدِِمَّهال ِ خدمَََّل ِقلُِحْدِمِحفمدتها
لَيْلِِّددددَهلَ ح ِِددددَلالَلالِ َلددددحمَيْلِْالملاِإلَِّددددَهِإلَلالحتَِلِلََددددحلاََِيْلثِ حْددددِهَحِال ِعاَ ددددَِحهاَيْلِتاََددددَحلْال ِقلمدِللملاِإَيْ
لََددددِ
لِِّددَهلَلَِددَلالِِِّهحَددِتَلَيْلِ ِلددحََقلاُلددممًَِلمتَِلِلََددحلاََِيْلثِ حْددِ َِحهالِ مقددَحلْا ل َنددِ ِإل دد ََِهلَ ددمَِإَيِْلَِِّددِهحََُِبلِِّددُّبَل ل
ل ِ اَِدددَ هاَيْلِح َِدددَُهالِ حَمدَّدددهال دددَ َقلاحيِْلخدددَتلََح ِ دددمهالِِِّبخَسدددحَََِّيْلِِّدددِهحل دددَ َقَيْلِِّدددحَْ َقلِْال م دددََّلَِ حْدددِظَق اُِحدِْ َ لُخمحِْ حَْللَ م َتَيْلثِ حَُِْتحِْلما
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Penguasa alam semesta, yang telah menurunkan petunjuk untuk manusia sehingga manusia dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, yang telah menghibahkan hidupnya di jalan Allah SWT, dan juga kepada orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya hingga akhir zaman.
Syukur alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Liberalisme dan Dampaknya Terhadap Dunia Pendidikan Islam di Indonesia”, guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pedidikan Islam pada prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Makassar. Selesainya skripsi
1. Kepada kedua orang tua penulis, Muh. Nasir Yunus dan Syamsinar yang selama ini memberikan perhatian dalam setiap langkah dan gerak perjuangan penulis selama menjalani perkuliahan.
2. Bapak Dr. H. Irwan Akib. M,Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang bekerja keras sehingga kampus Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi kampus yang terkemuka di Indonesia bagian timur.
3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I. Dekan Fakultas Agama Islam, yang senantiasa melakukan pengembangan Fakultas sehingga Fakultas Agama Islam Menjadi Fakultas yang terakreditasi Baik.
4. Ibu Amirah Mawardi, S.Ag.,M.Si. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, yang senantiasa memberikan pelayanan yang baik bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam termasuk penulis.
5. Bapak Dr. Ilham Muchtar., Lc.,MA., Sebagai Dosen Pembimbing I dan bapak Dahlan Lama Bawa S.Ag., M.Ag Sebagai Pembimbing II, dalam penyelesaian skripsi ini, yang telah
Muhammadiyah Makassar, yang senantiasa mentransfer ilmunya selama perkuliahan berlangsung, sehingga saya dapat menyelesaikan study dengan baik.
7. Teman-teman seperjuangan di Pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa memberi dukungan, motivasi serta inspirasi pada penulis.
8. Teman-teman Pimpinan Daerah,Cabang dan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tana Toraja yang tak hentinya meluangkan waktu untuk diskusi dan memotifasi penulis serta menemani penulis dalam menghadapi sejumlah rintangan yang penulis hadapi, , serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Teriring do’a semoga jasa-jasa dan kebaikan mereka mendapatkan imbalan yang lebih baik disisi Allah SWT. Aamiin.
Makassar, 08 Sya’ban 1437 H 15 Mei 2016 M
Penulis
MUHAMMAD DANIAL NIM: 10519178412
x
PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii
PENGESAHAN SKRIPSI…...………...iii
BERITA ACARA MUNAQASYAH ……… iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ………. v
PRAKATA ………. vi
ABSTRAK ……….... ix
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...…...…....…….…. 1
B. Rumusan Masalah...…...…….……. 8
C. Tujuan Penelitian...……... 8
D. Manfaat Penelitian...….…... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Aliran Liberalisme... 11
1. PengertianLiberalisme ... 11
2. Latar Belakang Munculnya Aliran Liberalisme ...14
3. Bentuk – Bentuk Aliran Liberalisme ... 19
4. Cirikhas Aliran Liberalisme ... 20
B. Pendidikan Islam ... 21
1. Pengertian Pendidikan Islam ... 21
2. Dasar Pendidikan Islam ... 24
3. Tujuan Pendidikan Islam……... 26
BAB III METODE PENELITIAN... 28
A. Jenis Penelitian ...……...…. 28
B. Variabel Penelitian...…... 28
C. Defenisi Operasional Variabel …...………...…... 28
x
BAB IVDAMPAK LIBERALISME TERHADAP
DUNIA PENDIDIKAN ISLAM... 32
A. Keberadaan Liberalisme di Indonesia...…...…. 32
B. Dampak Liberalisme Terhadap Dunia Pendidikan Islam di Indonesia ... 41
C. Upaya Membendung Pengaruh Liberalisme Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia ...……...…... 61
BAB VPENUTUP ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia merupakan mahkluk unik dan multidimensial yang secara utuh terdiri dari jasmani dan rohani. Secara fisik manusia dan binatang sama-sama mempunyai otakdan indera, tetapi otak binatang lebih berfungsi sebagai persepsi. Manusialah yang mampu membentuk persepsi namun tetap manusia yang dapat menentukan persepsi-persepsi yang kelak akan menjadi dasar pengetahuan dan sains manusia.(
Saifuddin, 1990: 48)
Selanjutnya Al-Quran memperkenalkan dua kata kunci untuk memahami manusia secara komprehensif. Kedua kata kunci tersebut adalah al-insan dan al-basyr. Keduakata tersebut menunjukkan konteks dan makna yang berbeda, meskipun sama-sama menunjuk pada pengertian manusia. Manusia dalam konteks insan adalah manusia yang berakal yang memerankan diri sebagai subjek kebudayaan dalam pengertian ideal, sedangkan kata basyar menunjuk pada manusia yang berbuat sebagai subjek kebudayaan dalam pengertian material seperti yang terlihat pada aktivitas fisiknya.(Musa Asy’ari,1992:19) Jadi pengertian ini menunjukkan dengan jelas adanya potensi untuk dapat dididik pada diri manusia. Dengan informasi ini dapat dikatakan bahwa manusia adalah mahkluk yang dapat diberi pelajaran atau pendidikan.
1
Bagi muslim tradisional, bahasa al-Qur’an merupakan landasan bagi pengetahuan mutlak tentang dunia. Namun lain halnya bagi muslim liberal, bahwa bahasa Qur’an sederajat dengan hakikat wahyu, namun isi dan makna pewahyuan pada dasarnya tidak bersifat harfiah-verbal.
Karena kata-kata dalam Al-Qur’an tidak secara langsung mengungkapkan makna pewahyuan, maka diperlukan upaya pemahaman yang berbasis pada kata-kata, namun yang tidak hany terbatasi oleh kata-kata, dan mencari apa yang sesungguhnya hendak diungkapkan atau diwahyukan melalui bahasa.
Wacana Rasional agama Islam bertujuan menyelaraskan antara amalan dengan norma wahyu, sejarah, nalar, atau penafsiran, sedangkan wacana wacana rasional dalam pemikiran liberal selalu mengarah kepada kesepakatan yang berlandaskan kemauan baik. Dengan demikian maka jelaslah bahwa pemikiran liberal barat pada hakekatnya tidak memprediksikan wacana rasional akan selalu menuju kesepakatan tentang bangun institusi serta paradigma yang sama, namun meyakini bahwa kesinambungan politik-budaya dalam peradaban barat terlaksana berkat upaya yang kontinue dalam menerapkan wacana rasional, meski dengan pengalaman sejarah yang heterogen.
Pendidikan adalah suatu proses yang berupa bimbingan dan pertolongan kepada anak didik sehingga pertumbuhan dan perkembangan baik jasmani maupun rohaninya menjadi sempurna.(Ahmad D.Marimba, 1989:23)Sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap inidividu yang lahir
ke-dunia, mutlak membutuhkan pendidikan, baik dalam bentuk pendidikan formal yang seluruhnya berorientasi pada kepada pembinaan mental dan spiritual anak.
Pengertian pendidikan tersebut bila dikaitkan dengan pengertian Islam maka dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian utamamenurut ajaran Islam. Kepribadian muslim yang dimaksud ialah kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam tersebut. (Azyumardi Azra, 2000:6)
Menurut yusuf Qardhawi, pendidikan Islam adalah pendidikan Islam seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya,karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk kehidupan dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.(Yusuf Al-Qardhawy-H.
Bustani A, 1936:50)Seperti juga yang diungkapkan oleh hasan Langgulung, “Pendidikan Islam sebagai proses penyiapan generasi mudauntuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memetik hasilnya di akhirat.(Hasan Langgulung,1986:14)
Menurut Azyumardi Azra proses pendidikan Islam berusaha mencapai tiga tujuan proporsional, ketiga tujuan itu secara terpadu dan terarah serta diusahakan agar tercapai dalamproses pendidikan Islam.
Dengan tujuan ini pula jelas kemana pendidikan Islam diarahkan.
Pendidikan Islam berdasarkan tujuan diatas, pertama-tama berusaha membekali anak didik denganketerampilan-keterampilan yang perlu bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.( Azyumardi Azra, 2000: 7)
Dalam pandangan pendidikan agama Islam, ditegaskan bahwa mendidik adalah suatu kewajiban dan mutlak dilaksanakan, karena anak yang baru lahir itu masih dalam keadaan serba lemah, dan belum mengetahui sesuatu apapun. Serta masih dalam keadaan fitrah. Hal demikian sejalan dengan petunjuk Nabi Saw dalam satu haditsnya yang berbunyi:
(al-bukhari,Bairut : 1981.,h. 345) Artinya :
“Dari Abu hurairah r.a. pernah berkata, Rasulullah Saw, bersabda :“Tidaklah dilahirkan seorang anak melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yangmenjadikan ia yahudi,Nasrani atau majusi” (HR.
Bukhari)
Agama Islam sangat menganjurkan agar anak didik senantiasa dituntun dan dibina dengan sebaik-baiknya agar kelak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya dan diridhai Allah Swt, kerena itu tujuan pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Abuddiin Nata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengelola bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Mengarahkan manusia agar seluruhpelaksanaan tugas kekhalifahannya dimuka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehinggah tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehinggah ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehinggah ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahan.
5. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.(Abuddin Nata,1997: 54)
Di Indonesiasendiripada tahun 1816 hingga pada 1860-an masa kolonialial, sewaktu pemerintahan diterima kembali oleh komisaris jenderal dari Inggris, maka para kolonial kemudiankembali memulai sistem pendidikan dari dasarnya, yang disebabkanolehkegagalan total pendidikandimasakekuasaanVOC. Pemerintahan baru yang diresapi oleh ide-ide liiberal aliran Aufklarung atau Enlightenment menaruh
kepercayaan akan pendidikan sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial. (Nasution, 1995: 8)
Kurikulum sekolah mengalami perubahan radikal yang di pengaruhi oleh ide ide liberalisme, orang menaruh kepercayaaan akan kekuasaan pengetahuan yang di peroleh melalui penelitian Ilmiah empiris. Tujuan pendidikan bukan lagi menumpuk rasa takut akan tuhan dan pusat studi bukan lagi Kitab-kitabsucisetiapajaran agama. Pendidikan sekarang ditujukan kepada pengembangan kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial dan usaha mencapai tujuan-tujuan sekuler lainnya.
Kurikulum sekolah rendah meliputi selain pelajaran tradisional membaca, menulis, dan berhitung, juga mata pelajaran baru seperti geografi, sejarah, dan pelajaran sekuler lainnya. Moralitas tidak dicapai melalui kitab- kitabsuci, akan tetapi melalui peraturan sekolah dan cerita-cerita yang mengandung tema moral agar murid memahami apa yang baik dan berbuat demikian.(Nasution,1995: 8)
Perkembanganliberalisme pun takhanyasampaidisitumelainkan, Liberalisasi politik dan pencabutan asas tunggal pancasila sejak masa presiden B.J. Habibie memberikan peluang bagi munculnya parpol-parpol yang menggunakan agama sebagai asasnya. Perkembangan ini tak lain mendorong meningkatnya keterlibatan agama, atau sedikitnya penggunaan simbolisme agama dalam politik. Yang terjadi selanjutnya adalah meningkatnya klaim-klaim dominatif dan hegemonik dalam pemaknaan dan penggunaan simbol-simbol agama dan juga
kepemimpinan agama yang tidak manipulatif dan abusif semata-mata untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Akibatnya, potensi ketegangan dan konflik semakin meningkat pada lapisan masyarakat akar rumput yang masih sangat sensitif dan fanatik terhadap simbolisme dan kepemimpinan keagamaan.(Azyumardi Azra, 2002: 254-255)
Akhirnyadampakdariperkembanganpaham liberal di indonesiaadalahseiring dengan meningkatnya kecenderungan melonggarnya integratif masyarakat negara-bangsa terutama karena fragmentasi politik dan krisis ekonomi yang terus berkelanjutan konflik- konflik terbuka dan kekerasan juga meningkat diantara berbagai kelompok masyarakat. Konflik dan kekerasan yang semula berawal dari suatu kehendak individual ataupu egoisme serta fanatisme kelompok atas dasar liberalisasi politik dan ekonomi itu justru berdampak pada dinamika kehidupan masyarakat yang awalnya adalah kelompok masyarakat yang lebih mengedepankan aspek etika moralitas sebagai simbol ke- beragamaan menjadi masyarakat yang kapitalis sebagai dasar dalam pengembangan pola pendidikannya.(Azyumardi Azra, 2002:255)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, penelitian ini akan diarahkan kepada paham Liberalisme serta dampaknya terhadap dunia pendidikan Islam, oleh karena itu, masalah pokok dalam penelitian ini adalah apakah paham Liberalisme, dan bagaimana dampaknya terhadap pendidikan Islam serta bagaimana upaya mengatasinya. Dari rumusan
pokok masalah ini dapat dirinci menjadi beberapa sub pokok masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana keberadaanliberalisme di Indonesia ?
2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh paham Liberalisme terhadap dunia pendidikan Islam di Indonesia?
3. Bagaimana upaya membendung dampak Liberalisme terhadapduniapendidikan Islam di Indonesia ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan :
1. Tentang kebaradaan liberalisme di Indonesia.
2. Tentang konsep mengenai aliran liberalisme dan dampak negatifnya terhadap dunia pendidikan Islam di Indonesia.
3. Mencari solusi yang tepat dalam upaya membendung pengaruh liberalisme terhadapduniapendidikan Islam di indonesia.
Pengembangan konsep dalam hal ini dilakukan dengan cara mengakumulasi teori-teori yang ada kemudian membandingkan satu sama lain, dan selanjutnya mengambil suatu sintetis, sehinggah terlahir sebuah formulasi baru yang lebih komprehensif.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki arti akademis yang dapat menambah informasi dan memperkaya hasanah Ilmu pengetahuan khususnya dalam memahami bahaya liberalisme terhadap proses pendidikan Islam.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk kepentingan akademis, hasil penelitian ini diharapkan mempunyai arti kemasyarakatan. Untuk maksud ini diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu dalam menemukan hal-hal yang dapat membawa pengaruh negatif terhadap proses pendidikan Islam.
b. Secara khusus dalam penelitian mengenai Liberalisme dan dampaknya terhadap dunia pendidikan Islam. Ini Agar dapat menjadi informasi dan referensi bagi para pendidik, sehinggah dalam proses pendidikan lebih banyak diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan Islam yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.
c. Hasil Penelitian ini dapat memberikan informasi faktual ada tidaknya pengaruh liberalisme terhadap dunia pendidikan Islam serta beberapa upaya antisipasi yang dapat dilakukan dalam membendung dampaknya dalam dunia pendidikan Islam saat ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Aliran Liberalisme
1. Pengertian Liberalisme
Kata liberalisme berasal dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Dan isme yang berarti paham. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir. Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna.
Secara politis, liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi. Dalam konteks sosial, liberalisme diartikan sebagai suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum. Menurut Alonzo L.
Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity).
Pemikiran liberal (liberalisme) juga merupakansalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaisance yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal,
10
yang secara harfiah berarti “bebas dari batasan” (free from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja(Adams, 2004:20). Ini berkebalikan total dengan kehidupan Barat Abad Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia.
Menurut Sukarna (1981) ada tiga konsep dasar dari Ideologi Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Ketiga konsep dasar tersebut bersumber pada nilai-nilai pokok, diantaranya:
a. Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being).
Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.
Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.
b. Perlakuan yang sama (Treat the Others Reason Equally)
Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan
kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.
c. pemerintahan dengan persetujuan dari yang diperintah (Governmentby the Consent of The People or The Governed)
Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah.
Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.
d. Berjalannya hukum (The Rule of Law).
Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat.
Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial. Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu (The Emphasis of Individual)
e. Negara hanyalah alat (The State is Instrument).
Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah
merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.
f. Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogmatisme).
Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.
2. Latar Belakang Munculnya Aliran Liberalisme
Sejarah liberalisme, adalah tonggak baru bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat dan karena itu, disebut dengan periode pencerahan.
Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman renaisance di Italia. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung-pendukung negara kota yang bebas melawan pendukung Paus. Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan sosial dan politik sebelum masa Revolusi Prancis berupa sistem merkantilisme, feodalisme, dan gereja roma Katolik.
Liberalisme pada umumnya meminimalkan campur tangan negara dalam kehidupan sosial. Sebagai satu ideologi, liberalisme bisa dikatakan berasal dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman renaisance dan juga dari golongan Whings semasa Revolusi Inggris yang menginginkan hak untuk memilih raja dan membatasi
kekuasaan raja. Mereka menentang sistem merkantilisme dan bentuk- bentuk agama kuno dan berpaderi.
Liberalisme yang awalnya berasal dari Yunani kuno, juga merupakan salah satu elemen terpenting dalam kemajuan peradaban Barat. Dimana perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan raja kepada bangsawan bawahan.
Charta ini secara otomatis telah membatasi kekuasaan Raja John sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism).
Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada tahun 1688 yang kemudian dikenal dengan sebutan The Glorious Revolution of 1688. Revolusi ini berhasil menurunkan Raja James II dari England dan Ireland (James VII) dari Scotland) serta mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini, parlemen Inggris menyetujui sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dan kebebasan masyarakat Inggris. Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treatises of Government (1690), John Locke menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk
menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi.
Singkatnya, pada abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama pada tahun 1918, beberapa negara Eropa menerapkan prinsip pemerintahan demokrasi. Hak kaum perempuan untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi di dalam pemerintahan diberikan. Menjelang tahun 1930-an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik saja, tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang lainnya; misalnya ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Tahun 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan, yakni kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Pada tahun 1948, PBB mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di samping hak politik.
Jika ditinjau dari perkembangannya, liberalisme secara umum memiliki dua aliran utama yang saling bersaing dalam menggunakan sebutan liberal. Yang pertama adalah liberal klasik atau early liberalism yang kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan dalam usaha individu, dalam hak memiliki kekayaan, dalam kebijakan ekonomi dan kebebasan melakukan kontrak serta menentang sistem welfare state. Yang kedua adalah liberal sosial, Aliran ini
menekankan peran negara yang lebih besar untuk membela hak-hak individu (dalam pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk hukum anti-diskriminasi.
Selain kedua tren liberalisme diatas yang menekankan pada hak- hak ekonomi dan politik dan sosial terdapat liberalisme dalam bidang pemikiran termasuk pemikiran keagamaan. Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang, dan terbuka. Kebebasan intelektual adalah aspek yang paling mendasar dari liberalisme sosial dan politik atau dapat pula disebut sebagai sisi lain dari liberalisme sosial dan politik.
Lahirnya aliran kebebasan intelektual di Barat terjadi pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke 17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan.
Pada saat terjadi Revolusi Perancis tahun (1789) kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik sudah dicanangkan. Prinsip-prinsip Revolusi Perancis itu bahkan dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Konsekuensinya adalah penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik dan di rubahnya menjadi bersifat individual. Selain itu agama Kristen dan Gereja harus
dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Ciri liberalisme pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Ini sejalan dengan doktrin nihilisme yang merupakan ciri khas pandangan hidup Barat postmodern yang telah disebutkan diatas.
Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik. Di samping itu, liberalisme juga membawa dampak yang besar bagi sistem masyarakat Barat, di antaranya adalah mengenyampingkan hak Tuhan dan setiap kekuasaan yang berasal dari Tuhan; pemindahan agama dari ruang publik menjadi sekedar urusan individu; pengabaian total terhadap agama Kristen dan gereja atas statusnya sebagai lembaga publik, lembaga legal dan lembaga sosial.
Dalam liberalisme budaya, paham ini menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati. Liberalisme budaya secara umum menentang keras campur tangan pemerintah yang mengatur sastra, seni, akademis, perjudian, seks, pelacuran, aborsi, keluarga berencana, alkohol, ganja, dan barang-barang yang dikontrol lainnya. Belanda, dari segi liberalisme budaya, mungkin negara yang paling liberal di dunia.
3. Bentuk-Bentuk Aliran Liberalisme 1. Liberalisme politik
Liberalisme politikadalah aliran di mana seseorang itu adalah masyarakat. Masyarakat dan institusi-institusi kerajaan yang wujud di dalam masyarakat berfungsi untuk memperjuangkan hak-hak peribadi tanpa memilih kasih kepada siapa yang mempunyai taraf sosial yang tinggi. Magna Carta adalah satu contoh di mana dokumen politik meletakkan hak-hak peribadi lebih tinggi daripada kuasa raja. Liberalisme politik menekankan perjanjian sosial yang mana rakyat merangkai undang-undang kedaulatan undang-undang serta demokrasi liberal.
2. Liberalisme budaya
Liberalisme budaya menekankan hak-hak peribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati termasuk kebebasan seksual, kebebasan beragama, kebebasan pemahaman dan pelindungan dari campur tangan kerajaan di dalam kehidupan peribadi. Liberalisme budaya secara umumnya menentang peraturan-peraturan kerajaan di dalam kesusasteraan, seni, akademik, perjudian, seks, pelacuran, pengguguran kandungan, penggunaan pengawalan pengandungan, kesakitan muktamad, arak, ganja dan barang-barang kawalan yang lain.
3. Liberalisme ekonomik/liberalisme klasikal
Liberalisme klasikaladalah satu ideology yang menyokong hak- hak pribadi ke atas harta benda dan kebebasan perjanjian bertulis.
Liberalisme ekonomik menyatakan bahwa harga barang dan perkhidmatan harus ditentukan oleh pasaran yang sebenarnya ditentukan oleh tindakan-tindakan pengguna.
4. Liberalisme sosial atau liberalisme baru (tidak patut dikelirukan dengan neoliberalisme)
Liberalisme sosial,mula-mula dilihat berdiri di kalangan masyarakat negara-negara maju pada akhir abad ke-19. Ia dipengaruhi oleh utilitarianisme yang diasaskan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Menurut ahli-ahli liberalisme sosial, hak-hak positif perlu dibuat dan dibekalkan kepada orang ramai. hak- hak positif tersebut adalah bersifat objektif yang berterusan yang secara asasnya melindungi kebebasan.
4. Ciri Khas Aliran Liberalisme
a. Bidang ekonomi menganut paham kapitalisme
Perekonomian diserahkan kepada kepentingan perorangan sehingga menimbulkan pertentangan dan ketimpangan karena yang kaya makin kaya dan yang miskin makin bertambah miskin. Ekonomi liberal-kapitalisme memberikan kemerdekaan dan kekayaan kepada sekelompok kecil masyarakat saja, tidak kepada rakyat banyak.
b. Bidang politik
Lebih menonjolkan aspek individu artinya bisa saja orang menuntut sesuatu kepada negara atas dasar prinsip liberal. Keadaan itu menjadikan kehidupan politik menjadi labil sehingga pemerintahan sering berganti. Selain itu didukung serta adanya partai oposisi (partai yang kalah dalam pemilu) yang tugasnya mengawasi dan mengevaluasi pemerintah (partai yang berkuasa).
c. Bidang sosial budaya
anggota masyarakatnya bersifat individual dan sangat mementingkan prestasi pribadi.
d. Bidang agama
mengenal paham sekuler, artinya negara tidak ikut campur atau menomorduakan dalam urusan agama sebab agama adalah urusan masing-masing pribadi dan lembaga keagamaannya.
B. Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam secara bahasa adalah tarbiyah Islamiyah.
Sedangkan secara terminologi ada beberapa istilah tentang pendidikan Islam diantaranya: Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.
Zuhairini dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam mengemukakan bahwa “Pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam atau sesuatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, merumuskan dan berbuat berdasarkan nilai- nilai Islam, serta bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam”.(Zuhairini ,1995: 152)
Sedangkan menurut Azyumardi Azra pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad Saw. Melalui proses yang mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi yang dalam kerangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ali Khalil Abul ‘Anainkaitannyadenganpendidikan Islam mengungkapkan,bahwa pendidikan mestilah meliputi segala aspek yang di butuhkan manusia dalam rangka peralihan keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pendidikan mestilah berkenaan dengan penumbuh kembangan rasional subjek didik yangdikaitkan dengan kepentingan kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan mesti senantiasa memperhatikan nilai-nilai yang asasi dan fur’iy yang menjadi kebutuhan manusia, seperti nilai yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, nilai-nilai rasional, moral, seni, dan kemasyarakatan (Ali Khalil Abul ‘ Anain, 1980: 147-148).
Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar transfer knowledge tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan. Di Indonesia pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran, baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun pendidikan nonformal seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Untuk institusi pendidikan lembaga formal dewasa ini adalah sekolah dan madrasah.
Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan istilah madrasah ini digunakan untuk satu Jenis pendidikan Islam di Indonesia, meskipun demikian, madrasah sebagai satu sistem pendidikan Islam berkelas dan mengajarkan sekaligus ilmu-ilmu keagamaan dan non keagamaan sudah tampak sejak awal abad 20, walaupun pada saat itu sebagian di antara lembaga-lembaga pendidikan itu masih menggunakan istilah school/sekolah (Jurnal Al-Banjari,2006:35).
Dari beberapa pengertian pendidikan Islam diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya (shohih li nafsihi) dan orang lain (sholih li ghoirihi). Serta membentuk kepribadian seseorang menjadi insan ulul kamil, artinya manusia yang utuh rohani dan jasmani, dapat hidup berkembang secara wajar dan normal.
Jadi, dapat diutarakan bahwa konsepsi pendidikan model Islam, paradigma pendidikan Islam tidak hanya pada sebagai upaya pencerdasan semata, tetapi juga penghambaan diri kepada Tuhannya.
2. Dasar Pendidikan Islam
Setelah membahas tentang pengertian pendidikan Islam yang telah dipaparkan diatas, selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah dasar pendidikan agama Islam itu sendiri. Menurut Ahmad D. Marimba dasar- dasar pendidikan agama Islam adalah “Semua ketentuan dan ajaran yang berasal dari firman Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya”.(tth:41)
Menurut Zuhairini dkk, yang dimaksud dengan dasar pendidikan Islam adalah “ Dasar-dasar yang bersumber dari ajaran Islam yang tertera dalam Al-Quran dan Hadits. Menurut ajaran agama Islam, bahwa pelaksanaan pendidikan Agama Islam merupakan perintah dari Allah dan merupakan Ibadah kepadanya” (Zuhairani,1983:23).
Al-quran dan Sunnah merupakan sumber hukum dan ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk mengikuti petunjuk Al-quran dan Sunnah. Sebagaimana terdapat dalam surat An-Nisa ayat 59.
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Muhammad)…”(QS.An-Nisa 59).
Hal ini cukup beralasan karena Al-quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah hidup yang lurus dalam arti
memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhoi Allah SWT.
Diantara sifat orang mukmin adalah saling menasehati untuk mengamalkan ajaran Allah SWT yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan. Demikian pula sunnah Rasulullah yang mengandung ajaran-ajaran dan perilaku Rasulullah sebagai pelaksanaan hukum-hukum yang terkandung didalam Al-Quran. Sunnah berisi petunjuk untuk kemaslahatan hidup manusia. Semua kehidupan Rasul semata-mata untuk menjadi teladan bagi umatnya. Ia adalah seorang guru dan pendidik utama.
Al-Quran maupun sunnah rasulullah adalah pedoman hidup yang bersifat global, keduanya selalu membuka kemungkinan penafsiran yang berkembang. Untuk itu diperlukan ijtihad sebagai lapangan untuk menggali nilai-nilai atau hukum yang lebih terperinci yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah.
Dengan demikian yang menjadi dasar atau landasan dari pendidikan agama Islam ialah Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia, ditambah dengan sunnah Nabi sebagai penyempurna serta ijtihad untuk memperjelas apa yang sudah ada yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut dalam pelaksanaannya.
3. Tujuan Pendidikan Islam
a. Berusaha mendidik individu mukmin agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
b. Tujuan pendidikan Islam oleh M. Arifin beliau mengatakan
“Esensi tujuan pendidikan agama Islam yang sejalan dengan tuntutan Al- Quran adalah sikap penyerahan diri secara total kepada Allah”.(M.Arifin,tth:85)
c. “Membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT yakni melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan ketulusan” demikian tujuan pendidikan Agama Islam menurut Prof. Dr. Abudin Nata (Abudin Nata,2005:166).
Tujuan tersebut di atas tampaknya di dasarkan pada salah satu sifat dasar yang cenderung menjadi orang yang baik, yakni kecenderungan untuk melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, di samping kecenderungan untuk menjadi orang yang jahat.
Jelaslah bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan agama Islam identik dengan tujuan hidup seseorang muslim, yaitu manusia yang selalu beribadah setiap gerak hidupnya. Selain itu tujuan pendidikan agama Islam adalah menghasilkan manusia muslim yang mempunyai kepribadian sempurna dengan pola taqwa yang berarti bahwa pendidikan agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat, serta senang dan gemar mengamalkan ajaran agama Islam dalam hubungan dengan pencipta, manusia sesamanya dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri agar tercapai kebahagiaan dan keselamatan hidup didunia dan di akhirat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat kajian kepustakaan (Library Research) yang difokuskan pada penelusuran dan penelaan literature serta bahan pustaka yang dianggap ada kaitannya Aliran Liberalisme dan Dampaknya terhadap pendidikan Islam.
B. Variabel Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini yang diteliti adalah Liberalisme dan Dampaknya terhadap dunia pendidikan Islam.
Data variabel tersebut dianalisis berdasarkan literatur yang ada tanpa memberikan analisis khusus.
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Liberalisme sebagai variabel indevendent variabel (variabel bebas) yaitu menjadi sebab terjadinya atau adanya suatu perubahan pada devendent variabel (variabel terikat).
2. Pendidikan Islam sebagai devendent variabel (variabel terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya indevendent variabel (variabel bebas).
C. Defenisi Operasional Variabel
Untuk menghindari kesalahpahaman ataupun kekeliruan dalam memahami, maka perlu ditegaskan istilah judul tersebut. Adapun istilah yang perlu penulis tegaskan:
26
1. Liberalisme
Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama- nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti
“bebas dari batasan” (free from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja (Adams, 2004:20). Ini berkebalikan total dengan kehidupan Barat Abad Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia.
2. Pendidikan Islam
Menurut Naquib al-Attas (1979:37) pendidikan Islam adalah upaya yang dilakukan pendidikan terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang ditempuh penulis yaitu melakukan riset kepustakaan (library research) yaitu suatu analisis yang penulis pergunakan dengan jalan membaca dan menelaah beberapa literatur karya ilmiah yang ada kaitannya dengan skripsi yang akan diteliti dengan menggunakan cara pengambilan data sebagai berikut:
1. Kutipan langsung yaitu kutipan secara langsung tampa mengubah satu katapun dan kata-kata pengarang yang biasa dengan Quotasi.
2. Kutipan tidak langsung yaitu mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata sipeneliti atau si pembaca sendiri yang biasanya juga dengan Parapharase.
Ada dua sumber penelitian skripsi ini:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer maksudnya adalah berupa buku-buku yang secara khusus membahas tentang Aliran Hedonisme dan Pendidikan Islam.
b. Sumber Data Sekunder
Data sekunder adalah referensi atau buku-buku yang dapat mendukung permasalahan pokok yang dibahas.
E. Teknik Pengelolaan Data
Seluruh data yang dihimpun melalui riset kepustakaan semua data bersifat kualitatif, yaitu pengungkapan data melalui deskripsi (pemaparan), sehingga dalam pengelolaannya yaitu mengadakan dan mengemukakan sifat data yang diperoleh kemudian dianalisis lebih lanjut guna mendapatkan kesimpulan.
F. Teknik Analisis Data
Sebagai penelitian kualitatif, pada tahap analisis setidak-tidaknya ada tiga tahapan yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu: reduksi data
(data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing). Tiga komponen tersebut berproses secara siklus. Model yang demikian terkenal dengan sebutan model analisis interaktif (Interaktive Model of Analysis).
Juga menggunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif yaitu berpola pikir kesimpulan dari khusus ke umum. Sedang metode deduktif yaitu berpola pikir dari umum ke khusus.
BAB IV
DAMPAK LIBERALISME
TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
A. Keberadaan Liberalisme di Indonesia
Perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya pemikiran Islam di Indonesia memang tidak pernah berhenti, dan perkembangan pemikiran Islam di negeri ini pun tidak bisa di lepaskan dari perkembangan pemikiran keagamaan yang terjadi di amerika maupun jazirah Arab. Salah satu contoh misalnya, di amerika yang telah lama berkembang pemikiran keagamaan yang lebih mengarah kepada rekontekstualisasi doktrin agama, pikiran tentang perlunya reaktualisasi pemikiran keagamaankhususnya di kalangan katolik dan protestan, selain itu dalam kalangan Islam juga terdapat beberapa pemikir yang turut mempengaruhi perkembangan pemikiran Islam. Salah satunya, ada fazlurrahman intelektual pakistan yang terkenal dengan pemikiran Neomodernismenya(Zuly Qodir, 2007:47-48). Secara bahasa, Neo Modernisme adalah suatu paham yang beranggapan bahwa ajaran agama memang sempurnah tetapi, untuk aktualisasinya di perlukan metode dan cara sehinggah, suatu agama tetap aktual dan dapat mengikuti perkembangan zaman.
Dalam Islam Neomodernisme, merupakan suatu gerakan progresif dalam pemikiran Islam yang timbul dari modernisme Islam. Tetapi, tertarik pada pengetahuan tradisional. Neo Modernisme mengajukan argumen
32
bagi di terimanya pendekatan yang bersifat holistik (Secara menyeluruh, bersifat keseluruhan) terhadap ijtihad. Ia (mengacu pada Neo Modernisme) mengambil informasi dari pengetahuan klasik dan juga pemikiran kritis barat modern dengan maksud untuk dapat melihat pesan utuh Al-Qur’an dan penerapannya dalam masyarakatmodern. Paham ini juga mengajukan argumen bagi suatu pemahaman Islam yang progresif dan liberal, yang menerima pluralisme masyarakat modern dewasa ini (Greg barton, Yogyakarta,2006: xx).
Dalam konteks pemikiran Islam indonesia juga berkembang pemikiran Islam yang bisa di kategorikan sebagai pemikiran Islam yang cenderung modern yaitu pemikiran Islam yang disebut dan di kenal dengan sebutan Islam Liberal. Islam Liberal merupakan mazhab dalam pemikiran Islam indonesia. Kelompok Islam ini tampaknya seperti merupakan kelompok yang berusaha melakukan interpretasi baru terhadap doktrin agama (Islam) yakni Al-Qur’an dan sunnah /Hadits, secara interpretasi atas sejarah sosial dan konteks masyarkat Islam berdasarkan Ilmu bahasa, kritk sejarah dan studi Ilmu-Ilmu sosial. (Qodir:
45-46)
Masuk dan menyebarnya paham liberalisme di kawasan Indonesia, yang dibawa oleh bangsa barat yang berdatangan ke Indonesia. Perlu diketahui, bahwa masuknya paham liberalisme ke Indonesia seiring dengan kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa Belanda. Hal yang demikian sudah menjadi suatu hal yang biasa, dikarenakan bangsa
Belanda merupakan bangsa yang menganut paham liberal. Menyebarnya paham Liberalisme yang dilakukan oleh bangsa Belanda seiring dengan semangat bangsa Belanda, yaitu Gold, Glory dan Gospel, sebagai tujuan awal dari kolonialisasi/penjajahan yang di lakukannya di Indonesia.
Liberalisme di Indonesia mulai masuk di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Tepatnya, saat Belanda mengeluarkan Undang Undamg Agraria tahun 1870. Alasan Pemerintah Belanda mengeluarkan Undang Undang Agraria tersebut ialah untuk mengakhiri kegiatan Tanam Paksa saat itu. Yang sebelumnya pelaksanaan Tanam Paksa tersebut untuk mengisi ekonomi negara Belanda yang kosong serta telah menyengsarakan rakyat Indonesia. Dari UU tersebut, maka kebebasan serta keamanan para pengusaha pun semakin terjamin,(Ricklefs, M.C.
1998: 190) dalam memperoleh tanah. Serta, mengatur perpindahan perusahaan-perusahaan gula ke tangan swasta.
Kemungkinan pemerintah Belanda, terinspirasi dari adanya revolusi Perancis tahun 1848, atau karena adanya kemenangan partai liberal dalam parlemen Belanda yang mendesak pemerintah Belanda untuk menerapkan sistem ekoomi liberal di negeri jajahannya terutama di Indonesia, Oleh karena itu ide ide liberalisme pun semakin meluas.
Masuknya paham liberalisme di bidang pendidikan yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda melalui politik etis. Akan tetapi,pada dasarnya politik etis yang dilaksaakan oleh kolonial Belanda tersebut lebih
condong menguntungkan para pemilik modal atau pengusaha Belanda sendiri. “Politik liberal mementingkan prinsip kebebasan terutama untuk memeberi kesempatan bagi pengusaha memakai tanah rakyat dan segala peraturan dibuat untuk melindungi para pengusaha Belanda sendiri, antara lain dalam soal memiliki atau meyewa tanah , undang-undang perburuhan, dan undang-undang pertambangan” (Marwati Djoened Poesponegoro, 2008 :22).
Pada zaman Orde Lama, sistem perekonomia itu berlandaskan kekeluargaan atau koperasi. Serta pada zaman itu pula, perekonomian Indonesia tidak mengizinkan adanya sistem Liberalisme. Artinya ada kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi yang lemah. Dengan adanya sistem tersebut, maka dapat berakibat semakin luasnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, selain itu juga muncullah tampak perbedaan yang corak di dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia yakni, dimana potensi kaum kaya untuk memperoleh pendidikan yang layak lebih memungkinkan, dari pada kaum miskin yang tak berharta.
Pada awal Orde Baru, diwarnai dengan masa masa rehabilitasi, perbaikan, hampir di seluruh sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor ekonomi. Dalam perehabilitasi ini terutama, membersihkan segala aspek kehidupan dari sisa sisa faham dan sistem perekonomian yang lama yaitu liberal, kapitalis dan etatisme atau komunis.Sangat terlihat bahwa pada masa ini pemerataan dan keadilan ekonomi serta sosial menjadi dasar
dan tujuan proses pembangunan nasional.Hingga menjelang Repelita IV aspek pemerataan dan keadilan tetap diperhatikan.Karena liberalisme cenderung mengarah pada kebebasan pasar ditakutkan akan menimbulkan pihak-pihak yang menguasai pasar(Sjahrir.1995:111)
Karena paham liberal sudah dihilangkan pada awal orde Lama dan Orde Baru, maka saat ini Indonesia cenderung kembali mengarah pada liberalisme,hal ini terlihat dari sistem pasar bebas yang melanda Indonesia,ditandai dengan banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia.Walaupun perkembangan selanjutnya juga memunculkan Neoliberalisme di Indonesia.( Winarno,Budi.2010: 7)
Paham Liberalisme sendiri berasal dari barat. Liberalisme menjadi suatu aliran pemiikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat serta kemampuannya sebebas mungkin (Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta, 1990:376). Ketika berbicara tentang Liberalisme, maka tidak dapat dilepaskan dari adanya paham sekularisme. Begitupun adanya sekularisme sangat erat hubungannya dengan modernisme. Paham sekularisme ini adalah merupakan paham yang menghendaki pemisahan antara negara dan agama dan modernisme sendiri, dalam masyarakat barat modernisme mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham dan institusi-institusi lama untuk disesuaikan dengan suasana baru, dengan kata lain mengikuti perkembangan zaman.(Atang Abd hakim, 2000:195)Dalam dunia Islam salah satu negara
yang mengalami modernisasi adalah turki yang di pelopori oleh Mustafa kemal at-taturk. Sehinggah, turki yang awalnya merupakan negara dengan sistem kekhalifahan berubah menjadi negara sekuler.
Paham liberalisme di Indonesia, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari adanya kolonialisme barat terhadap indonesia. Penjajahan yang begitu panjang dilakukan oleh barat terhadap negara Indonesia memberikan pengaruh yang teramat cukup signifikan. Hal ini, terutama pada masa kolonial belanda. Prinsip negara sekuler telah termaktub dalam undang-undang Dasar belanda tahun 1855 ayat 119 yang menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama. (Aqib Suminto, 1986: 27)
Politik etis yang dijalankan penjajahan belanda diawal abad XX semakin menancapkan liberalisme di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakan itu disebut Univikasi, yaitu upaya mengikat negeri jajahan dengan penjajahnya dengan menyampaikan kebudayaan barat kepada orang indonesia. Pendidikan, sebagaimana disarankan Snock hurgronje, menjadi cara yang manjur dalam proses univikasi agar orang indoneisia dan penjajah mempunyai kesamaan persepsi dalam aspek sosial dan politik, meskipun ada perbedaan agama (Delier Noer, 1991:183).
Masuknya paham sekuler ke Indonesia ini, dapat dimengerti mengapa berbagai bentuk pemikiran liberal sangat potensial dapat
tumbuh subur di Indonesia, baik liberalisme di bidang politik, ekonomi, ataupun agama. Dalam bidang, liberalisme ini mewujud dalambentuk sistem kapitalism(Economic Liberalisme), yaitu sebuah organisasi ekonomi yang bercirikan adanya kepemilikan pribadi(Private Ownership), perekonomian pasar (market economy), persaingan (konpetition), dan motif mencari untung(profit). Dalam bidang politik, liberalisme ini nampak dalam sistem demokrasi liberal yang meniscayakan pemisahan agama dari negara sebagai titik tolak pandangannya dan selalu mengagungkan kebebasan individu. Dalam bidang agama, liberalisme mewujud dalam modernisme(paham pembaharuan), yaitu pandangan bahwa ajaran agama harus di tundukkan dibawah nilai-nilai peradaban barat (M. Shiddiq Al-jawi:2011).
Hadirnya sebuah gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia yang terbentuk pada tanggal 08 maret 2001, dimana para pelopornya adalah beberapa intelektual mudah yaitu Ulil Abshar Abdallah, Luthfie Assyaukani, Hamid Basyaib dan beberapa toko lainnya. Keberadaan gerakan ini bisa dikatakan merupakan aktualisasi dari adanya pemikiran Islam yang bersifat liberal di Indonesia. Kemunculan gerakan ini tidak lepas dari tokoh pentingnya yaitu: Nurcholis Madjid yang pernah meluncurkan gagasan sekularisasi, yang kemudian dianggap sebagai toko pelopor gerakan pemikiran Islam. Meskipun sebenarnya Nurcholis madjid sendiri justru mengatakan tidak pernah menggunakan “Istilah” Islam Liberal untuk mengembangkan gagasan dan pemikiran Islamnya, tetapi ia
juga tidak menentang ide-ide Islam liberal (Adian husaini-Nuim hidayat, 2002:4).
Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa adanya Nurcholis madjid dan juga Abdul Rahman Wahid yang di anggap sebagai toko penting, atas bangkitnya gerakan pemikiran Islam di Indonesia ini, khususnya pemikiran yang liberal. Selain itu, keduanya juga di anggap sebagai toko yang sepaham dengan kalangan JIL. Walaupun pada hakekatnya kedua toko tersebut tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang Liberal, dan juga tidak bersangkut paut dengan JIL.
Melalui hal tersebut dapat dipahami bahwa, akar yang menjadikan semangat atas terbentuknya JIL ini adalah gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid (Budhy Munawar Rahman, 2010:35).
Karena itu, Islam liberal sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan gagasan-gagasan Islam yang telah dikembangkan oleh Nurcholis Madjid dan kelompoknya. Yaitu kelompok yang tidak menghendaki di berlakukannya syariat Islam, memperjuangkan sekularisasi, emansipasi wanita menyamakan agama Islam dengan agama yang lain ( Pluralisme Teologis) serta memperjuangkan demokrasi barat (Budhy Munawar Rahman, 2010:3).
Islam liberal di Indonesia, menjadisuatu forum intelektual terbuka yang lebih cenderung mendiskusikan dan menyebarkan Liberalisme Islam di indonesia (Husaini-Nuim hidayat, h:4).
Ciri dari islam Liberalisme di Indonesia dapat dilihat dari cara mereka menafsirkan hal-hal tertentu atas Islam dengan beberapa landasan yaitu:
1. Membuka pintu ijtihad kepada semua dimensi Islam.
2. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.
3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.
4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.
5. Meyakini kebebasan beragama.
6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. (K. Bustaman A, 2004: 89-90)
Munculnya organisasi Jaringan Islam Liberaldi Indonesia menuai banyak pro dan kontra. Adanya pro dan kontra terhadap berdirinya jaringan ini bisa disimak dalam sebuah buku yang berjudul “Islam Liberal dan Fundamentalis : Sebuah pertarungan wacana “.Berikut, adalah sekelumit gagasan Ulil Abshar dalam artikelnya, yang cukup menuai kontra di kalangan umat Islam di Indonesia. “ Islam Itu Kontekstual Pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks arab, melayu, asia tenggara dan seterusnya. Tetapi bentuk-bentuk Islam yang kontekstual hanya ekspresi budaya dan kita tidak wajib mengikutinya. Aspek-aspek Islam yang
merupakan cerminan kebudayaan arab misalnya tidak usah di ikuti.
Contoh, soal jilbab potong tangan, Qishas, Rajam, Jenggot, Jubah tidak wajib di ikuti,karena itu hanya ekspresi lokal pertikular islam di arab. Yang harus di ikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum. Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia”(Ulil Abshar, 2003: 2).
B. Dampak Liberalisme Terhadap Dunia Pendidikan Islam diIndonesia
Liberalisme tidak hanya berpengaruh pada aspek politik, sosial, dan ekonomi masyarakat, tetapi juga pada dunia pendidikan. Yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak dan kebebasan serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskremental demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Harus di akui bahwa konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita-cita barat tentang individualisme. Ide politik liberalisme sejarahnya berkaitan erat dengan bangkitnya kelas menengah yang di untungkan oleh kapitalisme.
Pengaruh liberalisme terhadap pendidikan di Indonesiadapat dianalisis dengan melihat beberapa komponen-komponen yaitu :
a. Komponen pengaruh filsafat barat tentang manusia universal yaitu manusia yang rasional liberal. Ada beberapa asumsi yang
mendukung konsep manusia rasional liberal seperti pertama, semua manusia memiliki potensi yang sama dalam intelektual, kedua, baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal, Ketiga, individualis, yakni adanya anggapan manusia adalah atomistik dan otonom. Menempatkan individu secara atomistik, membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena ketertarikan anggotanya yang tidak stabil.
b. Kaitannya dengan sekolah, pendidikan liberal menganggap tujuan sekolah menyediakan informasi dan keterampilan yang di perlukan oleh siswa supaya belajar sendiri secara efektif. Sekolah mengajar siswa bagaimana menyelesaikan masalah praktis melalui penerapan tatacara penyelesaian masalah secara perseorangan maupun kelompok, berdasarkan metode-metode ilmiah rasional.
Jadi pengetahuan adalah alat yang di perlukan untuk pemecahan masalah praktis.
c. Pandangan liberal tentang anak dan siswa sebagai berikut:
1. Individu di pandang sebagai pribadi yang unik, yang menemukan kepuasan terbesar dalam mengungkapkan dirinya menanggapi kondisi-kondisi yang berubah. Anak umumnya cenderung menjadi baik berdasarkan konsekuensi-konsekuensi alamiah dari prilakunya sendiri.
2. Anak adalah individu yang merupakan unit psikologis yang relatif otonom, yang bergerak adalah menanggapi kondisi- kondisi personal dan sosial yang selalu berubah individualisme psikologis.
3. Ketidak setaraan moral antar perorangan sehubungan dengan nilai intrinsik mereka sebagai perorangan, dan percaya pada kesetaraan fundamental antar perorangan jika persoalannya sampai pada penerapan kecerdasan praktis demi memecahkan masalah praktis yang sifatnya personal maupun sosial, di padukan dengan ketidak setaraan yang sangat nyata.
4. Sifat-sifat kurikulum yang di buat pun harus menekankan pada ke-efektifan personal, berpusat pada masalah praktis. (William F O’Neil, 2001: 506-508)
d. Sekolah, tradisi liberal mengajarkan satu sistem pendidikan yangjauh dari model doktriner dan berusaha menghilangkan tradisi- tradisi pengekangan terhadap individu atau pencekokan- pencekokan dogma feodalistik yang menyokong tatanan politik yang otoriter dan totaliter. Tekanan pada cita-cita kebebasan dan individualisme dan ketidak sukaannya pada kolektifisme dan aturan membuat pendidikan liberal kebablasan lantaran karena anak didik kehilangan kedisiplinan yang seharusnya didapat dari upaya mendisiplinkan mereka lewat pendidikan sekolah dan lembaga-
lembaga yang mengatur siswa agar terlatih disiplin. Kaum liberalis berkeyakinan bahwa dalam masyarakat telah terjadi banyak masalah termasuk urusan masalah pendidikan. Namun mereka beranggapan masalah pendidikan tidak akan ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tetapi pendidikanlah yang bisa menyesuaikan dengan perubahan arah politik dan perkembangan dunia perekonomian.
Diantara tokoh-tokoh yang tergolong berpandangan liberalis diantaranya Lawrence A. Cremin, Jonas F. Soltis dan kenneth A. Strike yang menekankan pada pemahaman “the liberal road to cultural” dalam arti bahwa liberal dimaksudkan sebagai fleksibel, berani, toleran dan bersikap terbuka, dan liberal dalam arti lainnya ialah bahwa pribadi-pribadi penganutnya tidak hanya memegang sikap seperti tersebut diatas, melainkan juga selalu bersifat penjelajah, meneliti secara kontinu demi pengembangan pengalaman. (Muh.Noor syam, Surabaya, 1988: 226)
Ide-ide sentral pendidikan berdasarkan teori ini berkisar pada penerapan dari konsep-konsep rasionalitas, kebebasan dan kesamaan.
Pendidikan adalah distribusi demokratis dan rasionalitas, dengan perlakuan yang berimbang antara kebebasan dan kesamaan, antara hak dan kewajiban, pada subjek anak didik. Secara logis perkembangan teori sumber daya manusia ini adalah penyebaran secara demokratis dari rasionalitas dengan pemerataan jalan yang serasi dengan asas kebebasan, kesamaan dan persaudaraan (lliberty, equlity, and fraternity).
Walupun teori ini di anggap cukup menjanjikan dalam dunia pendidikan, sebagaimana di ungkap oleh Dewey dan pengikut- pengikutnya bahwa anak yang aktif mental dan fisik akan mendatangkan kebaikan-kebaikan pada anak maupun masyarakat. Misalnya, bila anak yang mempunyai cukup kebebasan untuk mempelajari suatu kemungkinan besar akan menyerapnya dengan baik. Ini berarti akan berguna bagi dirinya. Dan bila hal semacam ini di alami oleh banyak orang, maka akan berguna bagi masyarakat.
Akan tetapi ada beberapa kelemahan dalam teori ini sebagaimana di ungkap oleh Kneller bahwa pandangan di atas cukup logis, tetapi mengandung kelemahan, yaitu:
1. Tidak jelasnya kriteria yang digunakan untuk mengukur atau menentukan apa yang disebut kebaikan atau kegunaan tersebut. Bila hal itu diserahkan saja kepada subjek didik akan keluarlah pendapat yang bermacam-macam yang sifatnya individualistik.
2. Sekolah hendaknya menjadi replika dari masyarakat. Justru dalam titik inilah letak idealisme dari progresivisme. Sekolah berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya karena sekolah adalah masyarakat khusus. Masyarakat khusus, yaitu masyarakat belajar. Jadi ruang lingkup gerak sekolah sebagai masyarakat lebih sempit di bandingkan