BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak antara lain:
1. Bagi peneliti, dapat menambah wawasan dan pengetahuan mendalam khususnya mengenai Good Governance dan ketepatan waktu pelaporan keuangan.
2. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau saran dalam mengevaluasi pelaporan keuangan dalam perusahaan.
3. Bagi peneliti yang akan datang, penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memberi pengetahuan dan menjadi bahan referensi .
6
BAB II
Tinjauan Pustaka
A. Tinjauan Teori Good Governance 1. Pengertian Good Governance
Dalam Keputusan Menteri BUMN (KEP-117/M-MBU/2002) tentang Good Governance, ditetapkan, yang dimaksud dengan Good Governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Organ adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), komisaris dan Direksi untuk Perusahaan Perseroan (PERSERO), dan Pemilik Modal, Dewan Pengawas dan Direksi untuk Perusahaan Umum (PERUM) dan Perusahaan Jawatan (PERJAN). BUMN wajib menerapkan Good Governance secara konsisten dan atau menjadikan Good Governance sebagai landasan operasionalnya.
Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) yang dimaksud dengan Corporate Governance adalah serangkaian mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan agar operasional perusahaan berjalan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan (stakeholders). Pengertian Good Governance merupakan struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ-organ perusahaan sebagai upaya untuk memberi nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan moral, etika, budaya dan aturan berlaku lainnya.
Definisi menurut Cadbury mengatakan bahwa Good Corporate Governance adalah mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar tercapai keseimbangan antara kekuatan dan kewenangan perusahaan.
Adapun Center for European Policy Study (CEPS), memformulasikan Good Governance adalah seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses dan pengendalian baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan, dengan catatan bahwa hak di sini adalah hak dari seluruh stakeholders dan bukan hanya terbatas kepada satu stakeholder saja. Noensi, seorang pakar Good Governance dari Indo Consult, mendefinisikan Good Governance adalah menjalankan dan mengembangkan perusahaan dengan bersih, patuh pada hukum yang berlaku dan peduli terhadap lingkungan yang dilandasi nilai- nilai sosial budaya yang tinggi. (Sutedi, 2012:1)
Sementara itu, OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) memberikan pengertian Good Governance sebagai suatu bentuk hubungan antara manajemen suatu perusahaan, board of directors, pemegang saham, dan stakeholder lainnya. Hubungan ini meliputi berbagai aturan dan insentif terbentuknya struktur dan tujuan perusahaan yang pasti, dan cara mencapai tujuan serta pengawasan kinerja perusahaan. Corporate Governance yang efektif menciptakan sistem yang dapat menjaga keseimbangan dalam pengendalian perusahaan, sehingga dapat ditekan seminimal mungkin peluang-peluang terjadinya korupsi, penyalahgunaan wewenang masing-masing
8
organ perusahaan, menciptakan insentif bagi manajer untuk memaksimalkan produktivitas penggunaan aset dan sumber daya lainnya, sehingga dicapai hasil uasaha yang maksimal. (Sutedi, 2012:30)
2. Prinsip-prinsip Good Governance (GG)
Menurut Sutedi (2012:4), unsur-unsur Good Governance secara umum adalah sebagai berikut:
a. Fairness (keadilan), menjamin perlindungan hak para pemegang saham dan menjamin terlaksananya komitmen dengan para investor.
b. Transparancy (transparansi), mewajibkan adanya suatu informasi yang terbuka, tepat waktu, serta jelas dan dapat diperbandingkan, yang menyangkut keadaan keuangan, pengelolaan perusahaan, dan kepemilikan perusahaan.
c. Accountability (akuntabilitas), menjelaskan peran dan tanggung jawab, serta mendukung usaha untuk menjamin penyeimbangan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sebagaimana yang diawasi oleh Dewan Komisaris.
d. Responsibility (pertanggungjawaban), memastikan dipatuhinya peraturan- peraturan serta ketentuan yang berlaku sebagai cermin dipatuhinya nilai-nilai sosial.
Sementara dalam Keputusan Menteri BUMN (KEP-117/M-MBU/2002) tentang Good Governance, prinsip-prinsip GG adalah:
a. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan
b. Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
c. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif; pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat d. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam
memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
3. Manfaat Good Governance (GG)
Menurut Corporate Governance Perception Index (CGPI), penerapan Good Governance dalam rangka pemenuhan kepatuhan, atau karena kebutuhan, maupun memanfaatkan pembelajaran yang ada, dapat memberikan manfaat bagi perusahaan antara lain:
a. Mempertahankan going concern perusahaan
b. Meningkatkan nilai perusahaan dan kepercayaan pasar c. Mengurangi agency cost dan cost of capital
d. Meningkatkan kinerja, efisiensi dan pelayanan kepada stakeholders e. Melindungi organ dari intervensi politik dan tuntutan hukum, dan f. Membantu terwujudnya good corporate citizen
Penerapan Good Governance juga memberikan manfaat kepada organ dan anggota perusahaan dalam mendukung pencapaian kinerja
10
perusahaan, pemenuhan akuntabilitas, mengurangi agency cost, menjaga independensi dan profesionalisme organ dan anggota perusahaan, memenuhi kepatuhan, mengelola risiko dan hal-hal yang berdampak pada kesinambungan perusahaan, serta mewujudkan hubungan kerja yang beretika, adil dan bermartabat. (IICG: 2013)
Bagi mitra bisnis dan para pihak yang berkepentingan lainnya (stakeholders), mendapatkan manfaat dari perusahaan yang telah menerapkan Good Governance yaitu jaminan produk dan layanan yang berkualitas, komitmen dalam praktik bisnis yang beretika dan memenuhi tingkat kepatuhan yang baik, komitmen dalam ketepatan dan kewajaran pemenuhan perjanjian bisnis/kerja dan proses pengadaan, keterbukaan informasi dan menerima keluhan serta saran dan masukan dari stakeholders.
Komitmen para pengelola terhadap penerapan Good Governance dan bisnis yang beretika dapat memberikan kontribusi bagi terciptanya dunia bisnis yang terpercaya dan bermartabat sehingga mampu mendorong pertumbuhan industri secara khusus dan perekonomian nasional.
4. Tujuan Penerapan Good Governance (GG)
Secara umum, penerapan prinsip GG secara konkret, memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut (Surya, 2008:68):
a. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing;
b. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah
c. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan;
d. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholder terhadap perusahaan;
e. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
Dari berbagai tujuan tersebut, pemenuhan kepentingan seluruh stakeholder secara seimbang berdasarkan peran dan fungsinya masing-masing dalam suatu perusahaan, merupakan tujuan utama yang hendak dicapai.
Sementara tujuan Good Governance menurut Keputusan Menteri nomor 11 tahun 2002 tentang Good Governance, yaitu:
1. Penerapan Good Governance pada BUMN, bertujuan untuk;
memaksimalkan nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional;
2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ;
3. Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap perundang- undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN;
4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional;
5. Meningkatkan iklim investasi nasional 6. Mensukseskan program privatisasi
12
5. Implementasi Good Governance a. Komisaris Independen
Komisaris independen adalah komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan. Di Indonesia, dewan komisaris merupakan dewan yang bersifat pasif dan tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara efektif terhadap direksi. Atau sebaliknya, peran komisaris yang terlalu kuat dalam perusahaan, sehingga sering kali melakukan intervensi terhadap kebijakan direksi. Fenomena ini menjadi masalah pada perusahaan terbatas biasa, namun akan berbeda halnya bila perusahaan tersebut telah go public. Sikap pasif ini atau sikap yang mengintervensi setiap kebijakan yang diambil direksi tersebut pada akhirnya akan dapat merugikan kepentingan pemegang saham (minoritas) serta para stakeholder lainnya. (Sutedi, 2012:134-135)
Keberadaan komisaris independen diharapkan dapat bersikap netral terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh direksi. Peraturan BEJ mewajibkan perusahaan yang sahamnya tercatat di BEJ untuk memiliki komisaris independen sekurang-kurangnya 30% dari jajaran anggota dewan komisaris yang dapat dipilih dahulu melalui RUPS sebelum pencatatan dan mulai efektif bertindak sebagai komisaris independen setelah saham perusahaan tersebut tercatat
b. Kepemilikan Manajerial
Sebagaimana dikemukakan oleh (Midiastuty & Machfoedz, 2010 dalam Arief
& Bambang, 2011) bahwa kepemilikan manajerial dapat didefinisikan sebagai
persentase saham yang dimiliki oleh manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan yang meliputi komisaris dan direksi. Dan juga dikemukakan oleh Gunarsih & Bambang (2008) bahwa kepemilikan perusahaan merupakan mekanisme yang bisa digunakan agar pengelola dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan.
Salah satu mekanisme pengawasan internal untuk menyamakan kepentingan pemegang saham dan manajer yaitu kontrak insentif jangka panjang (Walsh & Seward, 1990 dalam Arief & Bambang, 2011). Kontrak jangka panjang dapat dilakukan dengan memberikan insentif kepada manajer apabila nilai perusahaan atau kemakmuran pemegang saham meningkat salah satunya yaitu dengan cara memberi kepemilikan saham kepada manajer (Jensen &
Meckling, 1976 dalam Jama'an, 2008). Dengan demikian manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya yang juga merupakan keinginan pemegang. Ross, et al. (1999) dalam Tarjo (2002) mengemukakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan, maka manajemen cenderung berusaha giat untuk kepentingan pemegang saham yang tidak lain dirinya sendiri.
Dalam kepemilikan saham yang rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat (Shleifer&
Vishny, 1997 dalam Arief & Bambang, 2011). Kepemilikan manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut pula menanggung sebagai konsekuensi dari pengambil keputusan yang salah.
Kepemilikan perusahaan sangat penting karena terkait dengan pengendalian operasional perusahaan. Hal ini dapat dicontohkan dengan
14
kepemilikan oleh manajer yang akan ikut menentukan kebijakan dan pengambil keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Dengan demikian, perusahaan dengan proporsi kepemilikan manajerial yang besar cenderung tepat waktu dalam penyajian laporan keuangannya. Sedangkan menurut Nasir (2008) Pemilik mengendalikan perusahaan secara efektif memutuskan kebijakan akuntansi pelaporan diperkirakan mengarah pada pengungkapan rendah terutama didorong motif pemilik pengendali untuk menekan pemegang saham minoritas, manipulasi dicapai dengan membatasi jumlah pengungkapan dalam laporan tahunan.
Kepemilikan pihak dalam tinggi menyebabkan transparansi terbatas dan kompleksitas operasi (Bushman, 2012 dalam Hasan, Rahman, &
Mahenthiran,2008).
c. Komite Audit
Komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris yang bertugas melaksanakan pengawasan independen atas proses laporan keuangan dan audit ekstern. Dalam hal pelaporan keuangan, peran dan tanggung jawab komite audit adalah memonitor dan mengawasi audit laporan keuangan dan memastikan agar standar dan kebijaksanaan keuangan yang berlaku terpenuhi, memeriksa ulang laporan keuangan apakah sudah sesuai dengan standar dan kebijaksanaan tersebut dan apakah sudah konsisten dengan informasi lain yang diketahui oleh anggota komite audit, serta menilai mutu pelayanan dan kewajaran biaya yang diajukan auditor eksternal (KNKCG, 2002), berbagai ketentuan dan peraturan mengenai komite audit telah dibuat diantaranya:
a. Pedoman Good Corporate Governance (Maret 2001) yang menganjurkan semua perusahaan di Indonesia memiliki Komite Audit;
b. Surat Edaran BAPEPAM No. SE-03/PM/2000 yang merekomendasikan perusahaan-perusahaan publik memiliki Komite Audit;
c. KEP-339/BEJ/07-2001, yang mengharuskan semua perusahaan yang listed di Bursa Efek Jakarta memiliki Komite Audit;
Komite audit berperan penting dalam proses pelaporan keuangan, sebagai sebuah financial monitor dan berperan penting dalam proses laporan keuangan Abbott, Peters, & Raghunandan (2010) dalam Azibi, Tondeur, & Rajhi (2008).
Komite audit akan berhubungan dengan pengawasan keuangan perusahaan, termasuk melakukan telaah (review) terhadap keandalan pengendalian internal yang dimiliki perusahaan serta kepatuhan (compliance) terhadap berbagai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Cakupan tugas komite audit dengan melakukan “hubungan” tidak saja dengan internal auditor perusahaan tetapi juga dengan auditor eksternal dalam upaya menghasilkan laporan keuangan perusahaan yang dapat mencermin tingkat good governance (Abbott, Peters, & Raghunandan, 2010; Asbaugh &
Warfield,2010 dalam Azibi, Tondeur, & Rajhi, 2008).
Dalam rangka penyelenggaraan Good Governance, BEI mewajibkan perusahaaan tercatat memiliki komisaris independen dan komite audit.
Keanggotaan komite audit sekurang-kurangnya tiga anggota dan seorang diantaranya komisaris independen perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua komite. Sebaliknya, pihak lain adalah pihak ekstern yang independen dan sekurang-kurangnya salah seorang memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan keuangan.
16
Komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan (Bradbury et al., 2012 dalam Suaryana, 2009). Tugas komite audit meliputi menelaah kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan. Di dalam pelaksanaan tugasnya komite menyediakan komunikasi formal antara dewan, manajemen, auditor eksternal, dan auditor internal (Bradbury,et al. 2012 dalam Suaryana, 2009). Adanya komunikasi formal antara komite audit, auditor internal, dan auditor eksternal akan menjamin proses audit internal dan eksternal dilakukan dengan baik. Proses audit internal dan eksternal yang baik akan meningkatkan akurasi laporan keuangan dan kemudian meningkatkan kepercayaan terhadap laporan keuangan (Anderson, et al.2010 dalam Suaryana, 2009).
Komite audit juga bertugas sebagai pihak penengah apabila terjadi selisih pendapat antara manajemen dan auditor mengenai interpretasi dan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Dye, 1988; Antle dan Nalebuff, 1991 dalam Suaryana, 2009) untuk mencapai keseimbangan akhir sehingga laporan lebih akurat (Klien, 2002 dalam Suaryana, 2009). Komite audit yang beranggotakan pihak independen dan memiliki pengetahuan dalam bidang keuangan dan akuntansi cenderung mendukung pendapat auditor (Carcello danNeal, 2000 dalam Suaryana, 2009).
Penelitian mengenai hubungan antara komite audit dengan kualitas laporan keungan pada mulanya menguji pengaruh keberadaan komite audit terhadap kualitas laporan keuangan. DeFond dan Jiambalvo (1991) dalam Suaryana (2009) meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan perusahaan publik yang
melaporkan laba tahunan lebih tinggi daripada yang seharusnya untuk periode1977-1988.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki komite audit. McMulen (1996) dalam Suaryana (2009) menemukan bahwa komite audit berhubungan dengan lebih sedikit tuntutan hukum pemegang saham karena kecurangan, lebih sedikit pelaporan kembali laba kuartalan, lebih sedikit tindakan ilegal, lebih sedikit pergantian auditor ketika terdapat selisih pendapat antara klien dan auditor. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan kesalahan pelaporan, pelanggaran, dan indikator lain dari pelaporan keuangan yang tidak andal cenderung tidak memiliki komite audit.
Beberapa penelitan lain tidak dapat membuktikan perbedaan antara perusahaan yang membentuk dan tidak membentuk komite audit. Crowford (1987) dalam Suaryana (2009) tidak dapat membuktikan hipotesis bahwa terdapat perbedaan antara perusahaan yang mempunyai dan tidak mempunyai komite audit dalam hal perubahan penerapan prinsip akuntansi, opini audit tidak wajar, perubahan auditor eksternal, pelanggaran terkait dengan pelaporan keuangan. Hasil penelitian Kalbers (1996) dalam Suaryana (2009) membuktikan bahwa pelaksanaan komite audit tidak efektif sehingga merekomendasikan perlunya peningkatan komite audit.
Komite audit adalah organ tambahan yang diperlukan dalam pelaksanaan prinsip Good Governance. Komite audit ini dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan pemeriksaan atau penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam melaksanakan pengelolaan perusahaan serta melaksanakan tugas penting berkaitan dengan sistem pelaporan keuangan.
18
Komite audit ini memiliki kewenangan dan fasilitas untuk mengakses data perusahaan.
Komite audit merupakan organ yang dibentuk dan berada di bawah dewan komisaris. Keberadaan komite audit dalam suatu perseroan terbatas untuk membantu pemberdayaan (empowerment) dewan komisaris. Oleh karena itu, pertanggung jawaban komite audit kepada dewan komisaris. (Sutedi, 2012:142).
d. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional didefinisikan sebagai besarnya persentase saham yang dimiliki oleh investor institusional (Midiastuty & Machfoedz, 2010 dalam Arief & Bambang, 2011). Menurut Chen & Zhang (2009) menyatakan kepemilikan institusional sebagai persentase suatu perusahaan yang memiliki mutual funds, investment banking, asuransi, dana pensiun, reksadana dan bank kepemilikan perusahaan oleh pihak luar mempunyai kekuatan yang besar dalam mempengaruhi perusahaan melalui media massa berupa kritikan atau komentar yang semuanya dianggap publik atau masyarakat. Adanya konsentrasi kepemilikan pihak luar menimbulkan pengaruh dari pihak luar sehingga mengubah pengelolaan perusahaan yang semula berjalan sesuai keinginan perusahaan itu sendiri menjadi memiliki keterbatasan. Keberadaan investor institusional dapat menunjukkan mekanisme Corporate Governance yang kuat yang bisa digunakan untuk memonitor manajemen perusahaan. Kepemilikan institusional umumnya bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan pada umumnya dan manajer sebagai pengelola perusahaan pada khususnya.
Menurut Solomon & Solomon (dalam Jama'an, 2008) menyatakan bahwa pengaruh investor institusional terhadap manajemen perusahaan dapat menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk menyelaraskan kepentingan
manajemen dengan para pemegang saham. Nesbitt (1994) dalam Jama'an (2008) menemukan adanya bukti yang menyatakan bahwa tindakan pengawasan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dan pihak investor institusional dapat membatasi perilaku para manajer. Cornet, et al. (2009) dalam Arief &
Bambang (2011) menyimpulkan bahwa tindakan pengawasan perusahaan oleh pihak investor institusional dapat mendorong manajer untuk lebih memfokuskan perhatiannya terhadap kinerja perusahaan sehingga akan mengurangi perilaku opportunistic atau mementingkan diri sendiri.
Menurut Kozlov (2000) dalam Hasan, Rahman, & Mahenthiran (2008) menyatakan kepemilikan asing diharapkan menjadi salah satu cara meningkatkan perusahaan di negara berkembang melalui modal dan teknologi baru.
Kepemilikan asing meningkatkan persaingan pasar sehingga memaksa perusahaan domestik restrukturisasi lebih cepat. Restrukturisasi melalui perbaikan teknologi dan perbaikan corporate governance serta perubahan jangkauan dan kualitas barang yang diproduksi.
Hasil para peneliti, terdapat hubungan antara kepemilikan institusional dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan (Harnida, 2010 dalam Kadir, 2008).
Menurut Kepmenkeu Nomor 179/KMK.010/2010 tentang kepemilikan saham dan permodalan perusahaan efek. Benchmark kepemilikan institusional paling rendah sekitar 25 % (dua puluh lima perseratus) saham dari perusahaan
Kebanyakan pemegang saham perorangan kurang mempedulikan hak-hak mereka seperti menggunakan hak-hak suara dan mengawasi kegiatan board of director dan manajemen perusahaan, ini dikarenakan jumlah saham yang mereka miliki relatif kecil, hal ini berbeda dengan institusional ownership yang memiliki jumlah saham yang relatif besar. Oleh karena itu, peran institusional ownership
20
dalam perwujudan Corporate governance semakin meningkat karena dapat mengurangi agency problem dengan cara melakukan pengawasan yang lebih efektif. (Bathala et al. dalam Hutagalung, 2012: 39)
B. Teori Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan 1. Ketepatan Waktu
Salah satu cara untuk mengukur transparansi dan kualitas pelaporan keuangan adalah ketepatan waktu. Rentang waktu antara tanggal laporan keuangan perusahaandan tanggal ketika informasi keuangan diumumkan ke publik berhubungan dengan kualitas informasi keuangan yang dilaporkan (McGee, 2011). Tepat waktu didefinisikan sebagai suatu pemanfaatan informasi oleh pengambil keputusan sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitas atau kemampuan untuk mengambil keputusan (Chariri dan Ghozali, 2010:92).
Menurut (Ukago dan Ghozali, 2010) dalam Srimindarti (2008) mengemukakan bahwa ketepatan waktu mengimplikasikan bahwa laporan keuangan seharusnya disajikan pada suatu interval waktu untuk menjelaskan perubahan dalam perusahaan yang akan mempengaruhi pemakai informasi dan membuat prediksi dan keputusan.
Ketepatan waktu menurut (Chambers dan Penman, 1984) dalam Hilmi dan Ali (2008) didefinisikan menjadi dua, yaitu (1) ketepatan waktu sebagai keterlambatan waktu pelaporan dari tanggal laporan keuangan sampai tanggal melaporkan, dan (2) ketepatan waktu ditentukan dengan ketepatan waktu pelaporan relatif atas tanggal pelaporan yang diharapkan. Sedangkan menurut (Dyer dan Mc Hugh, 1975) dalam Bandi dan Hananto (2002) ketepatan waktu pelaporan dilihat dari:
a) Keterlambatan audit, yaitu rentang waktu antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal laporan auditor.
b) Keterlambatan pelaporan, yaitu rentang waktu antara tanggal laporan auditor sampai tanggal pelaporan oleh BEI.
c) Keterlambatan total, yaitu rentang waktu antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal laporan dipublikasikan oleh bursa.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa ketepatan waktu adalah batasan penting pada publikasi laporan keuangan dimana laporan keuangan harus disajikan pada kurun waktu yang teratur untuk melihat perubahan keadaan perusahaan yang mungkin akan mempengaruhi prediksi dan keputusan pemakai.
Ketepatan waktu (timeliness) pelaporan keuangan akan memberikan andil bagi kinerja perusahaan yang efisien di pasar saham yaitu sebagai fungsi evaluasi dan harga, mengurangi tingkat insider trading dan kebocoran serta rumor-rumor di pasar saham (Rachmawati, 2008). Oleh karena itu tepat waktu merupakan sebuah keharusan dalam publikasi laporan keuangan sehingga ada jaminan tentang relevansi informasi yang bersangkut an (Wirakusuma, 2012).
Menurut Scott (2010) dalam Rachmawati (2008) mendefinisikan informasi sebagai bukti yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi keputusan individual.Ketepatan waktu diartikan bahwa informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
22
Owusu & Ansah (2000) berpendapat dalam Utami (2009) secara konseptual yang dimaksud dengan ketepatan waktu adalah kualitas ketersediaan informasi pada saat yang diperlukan atau kualitas informasi yang baik dilihat dari segi waktu. Sedangkan Chambers dan Pehman (1984) dalam Renny (2009) mendefinisikan ketepatan waktu dalam dua cara, yaitu: (1) ketepatan waktu didefinisikan sebagai keterlambatan waktu pelaporan dari tanggal laporan keuangan sampai tanggal melaporkan, dan (2) ketepatan waktu ditentukan dengan ketepatan waktu pelaporan relatif atas tanggal pelaporan yang diharapkan.
Menurut Givoly & Palmon (1982) dalam Hidayah (2008) menyatakan bahwa ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan alat yang signifikan dalam memprediksi kesuksesan suatu perusahaan
Menurut Givoly & Palmon (1982) dalam Hidayah (2008) menyatakan bahwa ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan alat yang signifikan dalam memprediksi kesuksesan suatu perusahaan