• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai biaya produksi dan biaya operasional terhadap laba bersih pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, serta diharapkan sebagai sarana pengembangan ilmu dalam pendidikan di indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi penulis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan pembelajaran bagi penulis terkait biaya produksi dan biaya operasional terhadap laba bersih pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Bagi perusahaan, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan untuk perusahaan yang bergerak di bidang sektor logam dalam melihat kebutuhan produksi dan operasional sehingga dapat meningkatkan laba bersih.

c. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menjadi referensi untuk bahan penelitian selanjutnya.

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

2.1 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori Sinyal (Signalling theory) pertama kali dikemukakan oleh Spance (1973) yang menjelaskan bahwa pihak pengirim (pemilik informasi) memberikan suatu isyarat atau sinyal berupa informasi yang mencerminkan kondisi suatu perusahaan yang bermanfaat bagi pihak penerima. Teori Sinyal menjelaskan tentang persepsi manajemen terhadap pertumbuhan perusahaan di masa depan, dimana akan mempengaruhi respon investor terhadap perusahaan.

Keuntungan dari teori ini adalah bahwa keakuratan dan ketepatan waktu laporan keuangan yang tersedia untuk umum merupakan sinyal yang dapat digunakan investor sebagai dasar keputusan investasi mereka. Teori sinyal menjelaskan bagaimana perusahaan memberikan informasi terkait laporan keuangannya bahwa mereka menerapkan kebijakan perusahaan untuk mencapau peningkatan kualitas (Desy Mariani, 2018). Jika laba yang dilaporkan perusahaan meningkat, maka informasi tersebut menandakan kondisi perusahaan yang baik dan dapat diklasifikasikan sebagai sinyal yang baik terhadap perusahaan begitupun sebaliknya.

2.2 Pengertian Biaya Produksi

Biaya produksi adalah pengorbanan dari sumber ekonomi, yang digunakan untuk tujuan tertentu. Biaya ini terdiri dalam proses awal ditambah biaya pabrik, yang termasuk dalam biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses akhir periode. Biaya produksi juga merupakan

biaya yang digunakan untuk menilai persediaan yang dicantumkan dalam laporan keuangan dan jumlahnya relatif lebih besar daripada jenis biaya lain yang selalu terjadi berulang-ulang dalam pola yang sama secara rutin.

Biaya produksi dapat dikatakan efisien apabila pengeluaran biaya tersebut tidak terjadi suatu pemborosan serta mampu menghasilkan output produk dengan kuantitas dan kualitas yang baik, untuk itu diperlukan suatu usaha yang sistematis pada perusahaan dengan cara membandingkan prestasi kerja dengan rencana dan membuat tindakan tepat atas perbedaannya. Tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dapat ditentukan oleh volume produksi yang dihasilkan, semakin besar volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh.

Jadi, biaya produksi mempengaruhi laba, dimana peningkatan biaya produksi akan meningkatkan volume produksi, yang akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh pada perusahaan tersebut (Felicia, 2018)

Biaya produksi hanya ada di perusahaan industri, karena kegiatan perusahaan industri lebih luas dan mencakup semua fungsi bisnis produksi, pemasaran dan administrasi. Biaya produksi yang digunakan suatu perusahaan dalam proses produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, dan biaya produksi merupakan bagian dari persediaan (Syaifullah, 2014).

2.3 Macam-Macam Biaya Produksi

Menurut (Syukriadi, 2016), macam-macam biaya produksi adalah sebagai berikut:

7

2.3.1 Biaya produksi jangka pendek

Biaya produksi jangka pendek diturunkan dari fungsi produksi jangka pendek. Dengan demikian biaya produksi jangka pendek juga dicirikan oleh adanya biaya tetap.

2.3.2 Biaya produksi jangka panjang

Biaya produksi jangka panjang biaya yang dapat disesuaikan untuk tingkat-tingkat.

2.4 Unsur – Unsur Biaya Produksi

Biaya produksi adalah biaya yang digunakan dalam proses yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Menurut (Samryn, 2012), unsur-unsur produksi terdiri dari :

a. Biaya bahan baku langsung, yaitu bahan baku yang merupakan bahan-bahan baku yang menjadi bagian yang integral dari produk jadi dan dapat ditelusuri hubungannya dengan mudah ke dalam produk yang dihasilkan. Misalnya untuk sebuah meja kayu sederhana, secara fisik bahan baku kayu dapat dilihat dengan mudah sebagai komponen produk yang dihasilkan.

b. Tenaga kerja langsung, yaitu tenaga kerja yang digunakan untuk biaya-biaya tenaga kerja pabrik yang dapat ditelusuri hubungannya dengan mudah ke dalam produk-produk tertentu.

Biaya ini terjadi karena adanya penggunaan tenaga kerja dalam proses produksi, dalam istilah sehari-hari biaya tenaga kerja identik dengan jumlah pembayaran gaji, upah dan pembayaran lain karena mempekerjakan pegawai.

c. Biaya overhead pabrik, yaitu biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk selesai. Biaya overhead pabrik termasuk bahan tidak langsng, tenaga kerja tidak langsung, pemeliharan dan perbaikan biaya produksi, listrik dan penerangan, pajak property, penyusutan, asuransi fasilitas-fasilitas produksi.

2.5 Pengukuran Biaya Produksi

Penaksiaran biaya produksi yang akan dikeluarkan dalam memproduksi produk dalam waktu tertentu perlu dihitung unsur-unsur biaya tertentu (Hartanto, 2017). Adapun rumus menghitung biaya produksi:

Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik

2.6 Pengertian Biaya Operasional

Biaya operasional/perdagangan yang terkait dengan penjualan atau pemasaran barang atau jasa dan pelaksanaan fungsi administrasi umum dan fungsional dari bisnis terkait. Biaya operasional adalah biaya yang berhubungan langsung dengan pembentukan modal kerja. Biaya operasional itu sendiri adalah semua biaya yang mendukung penyediaan suatu jasa atau semua biaya yang dapat didefinisikan memiliki hubungan langsung dengan penyediaan suatu jasa (Jumingan, 2017).

Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan aktivitas operasinya. Biaya operasional sangat mempengaruhi keputusan yang dapat menunjang keberhasilan tujuan bisnis, jika suatu bisnis dapat menekan biaya operasionalnya maka akan

9

dapat meningkatkan laba bersihnya, begitu pula sebaliknya, jika biaya yang terbuang percuma akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan. 2.7 Tujuan Biaya Operasional

Menurut (Amelia Rawita, 2019), maksud dari semua biaya-biaya ini dijalankan oleh pihak perusahaan karena biaya ini mempunyai hubungan langsung dari kegiatan utama perusahaan, dimana tujuan biaya operasi yaitu sebagai berikut :

a. Mengkoordinasikan dan mengendalikan arus masukan (input) dan keluaran (output), serta mengelola penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki agar kegiatan dan fungsi operasional dapat lebih efisien. b. Untuk mengambil keputusan, akuntansi biaya memberikan informasi

tentang biaya masa depan (future cost) karena pengambilan keputusan berkaitan dengan masa depan. Informasi tentang biaya masa depan jelas tidak diperoleh dari catatan karena tidak dicatat, melainkan dari hasil perkiraan.

c. Digunakan sebagai pegangan atau pedoman bagi seorang manajer di dalam melakukan kegiatan-kegiatan perusahaan yang telah direncanakan perusahaan.

2.8 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Biaya Operasional

Menurut (Handayani, 2017), faktor-faktor yang mempengaruhi biaya operasional adalah:

a. Terlalu banyak staf administrasi sehingga biaya gaji sangat tinggi b. Alat tulis kantor terlalu mewah

c. Volume penjualan perusahaan

d. Biaya tetap seperti : gaji staf administrasi, biaya penyusutan gedung kantor dan biaya lainnya.

2.9 Pengukuran Biaya Operasional

Menurut Wardiyah (2017), adapun rumus menghitung biaya operasional adalah sebagai berikut:

Adapun penjelasan dari rumus biaya operasional adalah sebagai berikut:

a. Biaya penjualan : biaya-biaya yang terkait langsung dengan aktivitas toko atau aktivitas yang mendukung operasional penjualan barang dagangan.

b. Biaya umum dan administrasi : dikeluarkan dalam rangka mendukung aktivitas urusan kantor (administrasi) dan operasi umum.

2.10 Pengertian Earning After Tax (Laba Bersih)

Salah satu sarana penting bagi perusahaan adalah menghasilkan laba atau keuntungan. Oleh karena itu jumlah laba yang dihasilkan perusahaan dapat digunakan sebagai alat ukur efektif karena laba adalah selisih antara pendapatan dan biaya dari satu kesatuan untuk jangka waktu tertentu (Kasmir, 2019).

Laba merupakan salah satu indikator dari keberhasilan suatu kinerja perusahaan. Laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha. Laba bersih diantaranya dapat digunakan sebagai landasan untuk menentukan kinerja manajemen selama satu tahun atau persemester, apakah manajemen berhasil mengelola dana perusahaan

Biaya Operasional = Biaya Penjualan + Biaya Administrasi Umum

11

dengan baik atau tidak. Laba bersih digunakan manajemen dalam perencanaan penggunaan dana untuk perushaan di masa yang akan datang atau masa selanjutnya, serta mengambil langkah-langkah yang akan dilakukan oleh manajemen melalui laporan laba bersih sebagai antisipasi di masa selanjutnya (Gusganda Suria Manda, 2018).

Laba bersih (laba) sering digunakan sebagai indikator kinerja atau sebagai dasar indikator lain seperti laba atas investasi dan laba per saham.

Laba juga dapat diartikan sebagai keuntungan modal (kekayaan bersih) dari semua transaksi atau peristiwa yang mempengaruhi suatu unit bisnis selama periode waktu tertentu, kecuali yang dihasilkan dari pendapatan (pendapatan) atau investasi oleh pemiliknya.

2.11 Manfaat dan Kegunaan Laba

Menurut Harahap dalam Siregar (2020), laba merupakan informasi penting dalam suatu laporan keuangan. Manfaat dan kegunaan laba didalam laporan keuangan.

a. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar penggunaan pajak yang akan diterima Negara.

b. Perhitungan deviden yang akan dibagikan kepada pemilik dan dipegang oleh perusahaan.

c. Menjadi pedoman dalam menetukan kebijakan investasi dalam pengembalian keputusan.

d. Menjadi dasar peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahan lainnya dimasa yang akan datang.

e. Menjadi dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi f. Menilai prestasi atau kinerja perusahaan

2.12 Jenis- jenis Laba

Menurut Soemarso dalam penelitian Malansyah (2016), berdasarkan tingkatannya ada empat jenis laba yaitu:

a. Laba kotor

Laba kotor merupakan selisih lebih hasil penjualan bersih diatas harga pokok penjualan. Laba kota disebut juga laba dari penjualan

b. Laba operasional

Laba operasional merupakan selisih dari laba kotor dengan biaya-biaya operasi. Biaya operasi sendiri terdiri dari biaya penjualan dan biaya administrasi umum.

c. Laba sebelum dikurangi pajak

Laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil dari biaya diluar operasi biasa.

d. Laba setelah pajak atau laba bersih

Laba bersih merupakan laba setelah dikurangi berbagai pajak. Laba dipindahkan kedalam perkiraan laba ditahan.

2.13 Pengukuran Laba Bersih

Menurut Kasmir (2015), laba sesudah pajak atau laba bersih merupakan laba setelah dikurangi dengan pajak. Laba bersih dipindahkan perkiraan laba ditahan atau Retained Earning

Dengan gambaran seperti dibawah ini.

Laba Bersih = Laba Kotor – Beban Operasi – Beban Pajak

Keterangan:

Laba Kotor = Laba yang berasal dari penjualan dikurangi harga pokok Beban Operasional = Beban dari aktivitas operasi

13

Beban Pajak = Biaya pajak perusahaan pada periode tertentu B. Tinjauan Empiris/Penelitian terdhulu

Tabel 2.1

terdaftar di

15

periode

17

C. Kerangka Konseptual

Akuntansi biaya mengukur dan melaporkan setiap informasi keuangan dan non keuangan yang terkait dengan biaya perolehan atau pemanfaatan sumber daya dalam suatu organisasi (Thelbic Labut, 2015). Biaya Produksi tersebut menjadi penentu harga jual suatu produk atau jasa yang nantinya akan mempengaruhi besarnya laba yang diperoleh pada perusahaan. Biaya operasional adalah biaya yang digunakan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, biaya operasional sangat berpengaruh terhadap keputusan yang dapat menunjang keberhasilan tujuan perusahaan, begitupun jika nilai biaya operasional rendah maka peningkatan laba akan naik, oleh sebab itu memperoleh laba yang tinggi perhatikan besar biaya-biaya yang dikeluarkan dan cara mengendalikannya (Gusganda Suria Manda, 2018). Untuk itu perusahaan menentukan pengeluaran biaya, yang khususnya dengan kegiatan proses produksi, baik mengenai biaya

pendapatan bahan baku, biaya yang dikeluarkan untuk bahan penolong, biaya tenaga kerja, dan penyusutan peralatan (Agustin, 2016).

Oleh sebab itu biaya produksi dan biaya operasional sangat mempengaruhi laba bersih perusahaan, karena semakin tinggi biaya produksi maka semakin rendah laba perusahaan ataupun sebaliknya. Maka dapat ditarik kerangka konsep adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1

Kerangka Konsep Pengaruh Biaya Produksi dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih

D. Hipotesis

1. Pengaruh Biaya produksi terhadap Laba Bersih

Akuntansi biaya menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk akuntansi keuangan, dimana akuntansi biaya berperan dalam memperhitungkan harga produksi atau jasa yang dihasilkan. dalam usaha untuk mencapai laba tidak akan lepas dari pengaruh biaya, karena biaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perusahaan, salah satu biaya yang mempengaruhi adalah biaya produksi (Diana Maryana, 2021).

Biaya produksi hanya terdapat dalam perusahaan industri, karena kegiatan perusahaan industri bersifat lebih luas yaitu mencakup semua fungsi

Biaya Produksi (X1)

Biaya

Operasional

(X2)

Laba Bersih (Y)

19

usaha produksi, pemasaran dan administrasi. Biaya produksi tersebut menjadi penentu besarnya harga jual dari suatu produk atau jasa yang nantinya akan mempengaruhi besarnya laba yang diperoleh (Agustin, 2016). Hasil penelitian (Adelia,2020), menunjukkan bahwa biaya produksi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap laba bersih dimana menurut mereka biaya produksi yaitu salah satu faktor yang mempengaruhi perusahaan mendapatkan laba. Sehingga dibawah ini hipotesis yang akan di teliti dalam pengujiannya:

H1 : Biaya produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap laba bersih pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2021.

2. Pengaruh Biaya Operasional terhadap Laba Bersih

Dalam akuntansi biaya, biaya operasional timbul sehubungan dengan penjualan atau pemasaran barang atau jasa dan penyelenggaran fungsi administrasi dan umum dari perusahaan yang bersangkutan. Bila perusahaan dapat menekan biaya operasional maka perusahaan akan dapat meningkatkan laba bersih. Demikian juga sebaliknya, bila terjadi pemborosan biaya (seperti pemakaian alat kantor yang berlebihan) akan mengakibatkan menurunnya laba bersih dan cara mengendalikannya, secara efektif, selain itu perusahaan dapat mencapai laba sesuai dengan yang ingin dicapainya (Suhaemi, 2021).

Biaya operasional adalah biaya yang menunjukkan sejauh mana efesiensi pengelolaan usaha dan biaya-biaya yang tidak berhubungan langsung dengan produk perusahaan tetapi berkaitan dengan aktivitas perusahaan sehari-hari. Hasil penelitian Mulyana & Muslih (2020),

menunjukkan bahwa biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih dimana menurut mereka biaya operasional merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perusahaan mendapatkan laba. Sehingga dibawah ini hipotesis yang akan di teliti dalam pengujiannya:

H2 : Biaya operasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap laba bersih pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2021.

21 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh variabel independen yaitu biaya produksi dan biaya operasional terhadap variabel dependen yaitu laba bersih. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ataupun juga hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan tertinggi dibandingkan dengan deskriptif dan komparatif karena dengan penelitian in dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala (Sugiyono, 2016).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2021. Data yang diperoleh berdasarkan situs resmi Bursa Efek Indonesia di www.idx.co.id. Adapun waktu penelitian ini dilakukan selama ± dua bulan pada april-mei tahun 2022.

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian yaitu, data kuantitatif adalah data atau informasi yang didapatkan bentuk angka, sehingga data yang diperoleh dapat diproses menggunakan analisis dengan sistem statistik. Jenis data kuantitatif yang dipakai dalam penelitian ini berupa laporan keuangan.

2. Sumber Data

Sumber data diperoleh melalui situs website Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id. Hal ini digunakan untuk mencari data yang menyediakan informasi sehubungan dengan masalah penelitian dari teori yang mendukung penelitian ini.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun jumlah perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah 16.

Tabel 3.1

Populasi

No Kode Perusahaan

1. ALKA PT. Alaskan Industrindo Tbk 2. ALMI PT. Alumindo Light Metal Industry 3. BAJA PT. Saranacentral Bajatama Tbk 4. BTON PT. Beton Jaya Manunggal Tbk 5. CTBN PT. Citra Turbindo Tbk 6. GDST PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk 7. GGRP PT. Gunung Raja Paksi Tbk 8. INAI PT. Indal Aluminium Industry Tbk 9. ISSP PT. Steel Pipe Industry Of Indonesia 10. JKSW PT. Jakarta Kyoei Steel Work LTD Tbk

23

Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2021, yang memenuhi kriteria sampel. Dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel yang berdasarkan pada kriteria tertentu.

Tabel 3.2

Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria

No Kriteria Jumlah Perusahaan

1. Perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2021

16

2. Perusahaan logam yang memiliki kelengkapan data terkait laporan keuangan, biaya produksi, biaya operasional dan laba bersih dan tidak mempublikasikan laporan keuangan yang digunakan dalam penelitian pada tahun 2017-2021

(8)

Jumlah Sampel 8

Jumlah Sampel Data Pengamatan 5 x 8 = 40

40

Berdasarkan kriteria penentuan sampel diatas maka di temukan 8 sampel yang memenuhi kriteria. Berikut daftar perusahaan logam

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dijadikan pada penelitian ini:

Tabel 3.3

Daftar Perusahaan yang Akan Diteliti

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode dokumentasi yaitu, dengan mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan (annual report) perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2021.

F. Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas dan satu variabel terikat dimana yang menjadi variabel bebas adalah biaya produksi dan biaya operasional, sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah laba bersih.

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

No Kode Perusahaan

1 ALKA PT. Alaskan Industrindo Tbk 2 ALMI PT. Alumindo Light Metal Industry 3 BAJA PT. Saranacentral Bajatama Tbk 4 BTON PT. Beton Jaya Manunggal Tbk 5 INAI PT. Indal Aluminium Industry Tbk 6 ISSP PT. Steel Pipe Industry Of Indonesia

7 KRAS PT. Krakatau Steel Tbk

8 LION PT. Lion Metal Works Tbk

25

Tabel 3.4

No Variabel Definisi Indikator Skala

1. Biaya nilai keuntungan atau kelebihan

G. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi berganda dimana digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Menurut Sugiyono (2016), rumus linier berganda adalah sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + e Keterangan :

Y = Laba Bersih a = Konstanta

b1 dan b2 = Besaran koefisien regresi dari masing-masing variabel X1 = Biaya Produksi

X2 = Biaya Operasional e = error of term

H. Uji Hipotesis

3.1 Uji Statistik Deskriptif

Uji statistik deskriptif bertujuan untuk menguji dan menjelaskan karakteristik sampel dalam penelitian. Dalam penelitian, Uji statistik deskriptif berfungsi untuk mengetahui pengaruh biaya produksi dan biaya operasional terhadap laba bersih pada perusahaan logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2021.

3. 2 Uji Asumsi Klasik 3. 1. 1 Uji Normalitas

27

Uji normalitas adalah pengujian kenormalan data. Menurut Ghazali (2018) uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel independen dan variabel dependen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah data yang berdistribusi normal atau mendekati normal. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk.

Menurut data dikatakan normal, apabila nilai signifikan lebih besar 0,05 pada (P>0,005). Sebaliknya, apabila nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 pada (P<0,05), maka data dikatakan tidak normal. Pengujian ini dapat dilakukan dengan melihat profitabilitas dari Shapiro-Wilk statistik.”

Jika profitabilitas Z statistik lebih kecil dari 0,05 maka residual dalam suatu regresu tidak terdistribusi secara normal (Sugiyono, 2016).

3. 1.2 Uji Multikoleniaritas

Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen).

Efek dari multikoleniartitas ini adalah menyebabkan tingginya ketika koefisien diuji, t-hitung akan bernilai kecil dari t-tabel. Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan linier antara variabel independen yang dipengaruhi dengan variabel dependen (Ghazali, 2018).

Untuk menemukan ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dapat diketahui dari nilai toleransi dan nilai variance inflation factor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jadi nilai tolerance rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/tolarance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghazali, 2018). Multikolonearitas terjadi jika nilai tolerance = 0,1 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95% dan nilai VIF = 10. Apabila VIF = 10 dapat dikatakan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model adalah dapat dipercaya dan objektif.

3. 1.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskesdatisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili beberapa ukuran (Ghazali, 2018).

Dasar pengambilan keputusan uji heteroskedastisitas adalah sebgai berikut:

a.

Jika titik-titiknya membentuk pola tertentu teratur maka diindikasikan terdapat masalah heterokesdastisitas.

b.

Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titiknya menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka diindikasikan tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

3. 1.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

Dokumen terkait