BAB I. PENDAHULUAN
E. Manfaat Penelitian
Dapat membantu para investor/calon investor saham dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.
2. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dalam bidang investasi khususnya investasi saham di pasar modal.
3. Bagi Universitas Sanata Dharma
Dapat memperkaya referensi kepustakaan penelitian dibidang manajemen keuangan khususnya dalam analisis factor-faktor yang
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pasar Modal
Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan akan memerlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak bisa hanya mengandalkan sumber dari pemerintah saja, partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk ikut aktif melalui keikutsertaan dalam usaha menggerakkan perekonomian. Mengingat bahwa sektor swasta dalam menyediakan dana untuk pembangunan yang cukup besar menuntut digalakkannya pengerahan dana masyarakat baik melalui peranan perbankan maupun pengembangan pasar modal. Dengan potensinya yang semakin besar untuk memobilisasi dana, pasar modal memiliki arti yang strategis bagi pembangunan perekonomian nasional. Melihat perkembangan pasar modal yang dikaitkan dengan pengaruh global, krisis yang melanda Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi semakin berat dan prospek perusahaan yang semakin tidak jelas (Uncertainly), secara langsung mempengaruhi perilaku pemodal dan kinerja emiten.
1. Pengertian Pasar modal
Secara umum pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal sendiri. Menurut Eduardus Tandelilin (2001:13) pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan
dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual beli sekuritas disebut bursa efek. Menurut Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
2. Peran pasar modal
Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu Negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal berfungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu dua pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Sedangkan fungsi keuangan pasar modal adalah memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Secara umum, manfaat keberadaan pasar modal adalah:
o Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi dana secara optimal.
o Memberikan wahana investasi yang beragam bagi investor sehingga memungkinkan untuk melakukan diversifikasi.
o Menyediakan leading indicator bagi perkembangan perekonomian suatu Negara.
o Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah.
o Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme menciptakan iklim berusaha yang sehat serta mendorong pemanfaatan manajemen professional.
Sebagai salah satu instrumen perekonomian, maka pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan ekonomi mikro yaitu peristiwa atau keadaan para emiten, seperti laporan kinerja, pembagian dividen, perubahan strategis dalam rapat umum pemegang saham, akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di pasar modal.
Selain lingkungan ekonomi mikro, perubahan lingkungan yang dimotori oleh kebijakan-kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan, akan pula mempengaruhi gejolak di pasar modal.
Pasar modal memiliki banyak instrumen, yang salah satunya akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini yaitu saham.
B. Saham
1. Pengertian Saham
Secara umum saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas. Menurut Eduardus Tandelilin (2001:18) saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup populer diperjualbelikan di pasar modal. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Jika sebuah perusahaan menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat luas atau publik maka perusahaan tersebut dikatakan go public atau telah menjadi perusahaan publik, dalam arti kepemilikan atas perusahaan tersebut tidak hanya dimiliki sekelompok orang (atau orang-orang yang mendirikan perusahaan tersebut), namun kepemilikannya telah menyebar ke banyak pihak (Saleh Basir dan Hendy M. Fakhrudin, 2005:11)
2. Jenis-jenis saham
Menurut Jogiyanto (2003:67) saham dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: 1) Saham Preferen
Merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Seperti bond yang membayarkan bunga atas pinjaman, saham preferen juga memberikan hasil yang tetap berupa dividen preferen. Seperti saham biasa, dalam hal likuidasi , klaim pemegang saham preferen dibawah
klaim pemegang obligasi (bond). Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu hak atas dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi likuidasi. Oleh karena itu, saham preferen mempunyai karakteristik ditengah-tengah antara bond dan saham biasa.
a) Karakteristik Saham Preferen
Beberapa karakteristik dari saham preferen adalah sebagai berikut 1. Preferen terhadap Dividen.
a. Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima dividen terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa.
b. Saham preferen juga umumnya memberikan hak dividen kumulatip, yaitu memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerima dividennya. Jika saham preferen disebutkan memberikan hak dividen kumulatip, maka dividen-dividen tahun sebelumnya yang belum dibayarkan disebut dengan dividends in arrears. Nilai dari dividend in arrears ini harus diungkapkan
(disclose) dicatatan dalam laporan keuangan, sehingga investor dan calon investor saham biasa dapat mengetahui dan dapat menilai pengaruh dari kewajiban ini terhadap harga dari saham biasa. Jika saham preferen tidak mempunyai bentuk dividen kumulatip, maka suatu dividen yang tidak dibayar diperiode lalu akan hilang selamanya.
Hal ini mungkin saja terjadi jika perusahaan mengalami kerugian atau tidak mempunyai cukup kas untuk membayarnya. Akan tetapi, perusahaan akan berpikir dua kali untuk tidak memenuhi kewajibannya membayar dividen preferen. Sekali perusahaan tidak memenuhi kewajiban ini, maka pasar akan memasukkannya ke dalam daftar hitam.
2. Preferen Pada Waktu Likuidasi.
Saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat kumulatip. Karena karakteristik ini, investor umumnya menganggap saham preferen lebih kecil risikonya dibandingkan dengan saham biasa. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan bond, saham preferen dianggap lebih berisiko, karena klaim dari pemegang saham preferen dibawah klaim dari pemegang bond.
b) Macam Saham Preferen
Macam dari saham preferen ini diantaranya adalah : 1. Confertible Preferred Stock.
Untuk menarik minat investor yang menyukai saham biasa, beberapa saham preferen menambah bentuk di dalamnya yang memungkinkan menukar saham ini dengan saham biasa dengan rasio
penukaran yang sudah ditentukan. Saham preferen semacam ini disebut dengan convertible preferred stock.
2. Callable Preferred Stock.
Bentuk lain dari saham preferen adalah memberikan hak kepada perusahaan yang mengeluarkan untuk membeli kembali saham ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa mendatang dengan nilai yang tertentu. Harga tebusan ini biasanya lebih tinggi dari nilai nominal sahamnya.
3. Floating atau Adjusable-rate Preferred Stock (ARP).
Saham preferen ini merupakan saham inovasi baru di Amerika Serikat yang dikenalkan pada tahun 1982. saham preferen ini tidak membayar dividen secara tetap, tetapi tingkat dividen yang dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas t-bill (treasury bill). Saham preferen tipe baru ini cukup populer sebagai investasi jangka pendek untuk investor yang mempunyai kelebihan kas.
2)Saham biasa
Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock). Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan.
1. Hak Kontrol.
Adalah hak pemegang saham biasa untuk memilih pimpinan perusahaan.
2. Hak Menerima Pembagian Keuntungan.
Adalah hak pemegang saham biasa untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
3. Hak Preemptive.
Adalah hak untuk mendapatkan persentasi kepemilikan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk tujuan melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama dan melindungi harga saham lama dari kemerosotan nilai.
3)Saham Treasuri
Saham treasuri (treasury stock) adalah saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali.
C. Penilaian saham
Menurut Abdul halim dan Sarwoko (1995:4) untuk menilai suatu saham dapat digunakan dua pendekatan yaitu:
1. Pendekatan Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik suatu saham adalah harga yang dibenarkan untuknya apabila mempertimbangkan factor-faktor dasar nilai tersebut. Dalam hal ini nilai sesungguhnya berbeda dengan harga pasar. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi nilai intrinsik, yaitu:
1) Nilai aktiva perusahaan. Aktiva-aktiva fisik yang dimiliki suatu perusahaan memiliki nilai pasar. Aktiva-aktiva ini dapat dilikuidasi untuk membayar kembali kepada kreditur dan untuk dibagikan kepada pemegang saham.
2) Kemungkinan bakal pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang. Faktor-faktor seperti pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang akan mempengaruhi nilai sekarang dari saham.
3) Kemungkinan pertumbuhan masa depan. Prospek perusahaan akan pertumbuhan masa depan mempengaruhi nilai intrinsik saham.
Analisis nilai intrinsik
Analisis nilai intrinsik adalah suatu proses membandingkan nilai sesungguhnya dari suatu saham dengan harga pasarnya. Apabila para calon investor menemukan bahwa perusahaan mengumumkan dividen yang lebih tinggi dari yang mereka harapkan, maka mereka akan membeli saham perusahaan itu dan memaksa harga sahamnya naik dan begitu pula sebaliknya.
2. Pendekatan Nilai Pasar
Teknik penilaian ini mempertimbangkan suatu harga saham individual dibandingkan dengan indicator-indikator lain di pasar saham. Jika seorang analis yakin bahwa suatu saham adalah lebih berharga menurut harga pasar daripada harga yang diminta, maka pembelian saham itu dapat direkomendasi.
Menurut Abdul halim dan Sarwoko (1995:7) ada 4 aspek yang dapat mempengaruhi nilai suatu saham di pasar, yaitu:
1) Pengaruh Pendapatan
Baik pendapatan-pendapatan yang dilaporkan maupun ramalan pendapatan-pendapatan membantu para investor dalam memperkirakan atau meramalkan arus dividen di masa mendatang. Pengamatan sederhana dari pasar surat berharga akan dengan cepat menegaskan bahwa pendapatan merupakan penentu dari harga saham.
2) Pengaruh Dividen
Harga saham tidak lain adalah nilai sekarang dari seluruh dividen dari seluruh dividen yang diharapkan di masa mendatang. Harga-harga saham dipengaruhi oleh perubahan tingkat dividen saat ini dan perubahan tingkat dividen saat ini menyebabkan para investor memperbaiki harapan-harapan tentang arus dividen dalam jangka panjang.
3) Pengaruh Aliran Kas
Aliran kas adalah pendapatan sesudah pajak ditambah dengan beban-beban non kas, khususnya depresiasi. Investor yang serius tentu ingin memeriksa aliran kas dari perusahaan dengan hati-hati, karena hasil dari suatu analisis mungkin memberikan suatu wawasan yang berharga terhadap profitabilitas perusahaan itu.
4) Pengaruh Pertumbuhan
Perkembangan laba umumnya digunakan sebagai ukuran oleh lembaga-lembaga keuangan dan para pemegang saham. Mereka melihat sejauh mana perusahaan mampu mengubah pertumbuhan penjualan dan kegiatan operasinya kedalam kenaikan penghasilan bagi pemegang saham. Pertumbuhan keuntungan secara normal diukur melalui kenaikan pendapatan per lembar saham (EPS).
D. Dividen
Dividen merupakan keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Biasanya dividen dibagikan setelah adanya persetujuan pemegang saham dan dilakukan setahun sekali. Pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik bagi perusahaan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar sebagai informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, harga
saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21).
Pembayaran dividen pada hakikatnya merupakan komunikasi secara tidak langsung kepada para pemegang saham tentang tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan.
1. Jenis-jenis Dividen
Dividen dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:
1) Dividen tunai (cash dividend), yaitu dividen yang dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk kas (tunai).
2) Dividen saham (stock dividend), yaitu dividen yang dibagi bukan dalam bentuk tunai melainkan dalam bentuk saham perusahaan tersebut. 3) Dividen property (property dividend), yaitu dividen yang dibagikan
dalam bentuk aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva tetap dan surat-surat berharga.
4) Dividen likuidasi (liquidating dividend), yaitu dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebagai akibat dilikuidasinya perusahaan. Dividen yang dibagikan adalah selisih antara nilai realisasi aset perusahaan dikurangi dengan semua kewajibannya.
2. Kebijakan dividen
Menurut Abdul Halim (2003:92), sampai saat ini terdapat kontroversi tentang dividen yang seharusnya dibayarkan, yaitu:
1) Dividen seharusnya dibayarkan setinggi-tingginya.
Pihak yang menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan setinggi-tingginya, beranggapan bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Bagi investor, jumlah rupiah yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil daripada keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen lebih dapat diperkirakan sebelumnya dibanding capital gain. Oleh karena itu, pembayaran dividen yang tinggi dianggap perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang baik, begitu sebaliknya.
Di samping itu, pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik pada perusahaan. Hal ini disebabkan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar merupakan informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, penurunan dividen dapat menyebabkan banyaknya pemegang saham menjual saham yang dimilikinya sehingga harga saham menjadi turun.
Pihak yang lain menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan serendah mungkin dan bila perlu tidak dibayarkan sehingga perusahaan memiliki laba ditahan setinggi-tingginya. Anggapan ini berdasarkan pada kenyataan adanya biaya mengambang (floatation cost) dan tarif pajak dividen yang lebih besar daripada tarif pajak capital gain. Kesempatan investasi yang menguntungkan apabila dibiayai dengan laba ditahan berarti merupakan penghematan
floatation cost bagi perusahaan sehingga dalam periode berikutnya dapat meningkatkan besar dividen yang dibayarkan. Investasi yang menguntungkan dapat meningkatkan harga saham sehingga pemegang saham akan mendapatkan capital gain.
3) Dividen seharusnya dibayarkan setelah semua kesempatan investasi yang memenuhi persyaratan didanai.
Pihak ini beranggapan bahwa tidak ada pajak perseorangan atau perusahaan, tidak ada floatation cost, kebijakan dividen tidak mempengaruhi biaya modal sendiri, dan keputusan investasi terpisah dari keputusan pendanaan. Apabila kesempatan investasi menjanjikan hasil pengembalian yang lebih tinggi daripada pengembalian yang disyaratkan, mereka akan lebih senang jika perusahaan menahan laba daripada pembagian dividen. Hal tersebut berlaku sebaliknya. Akan tetapi dalam praktiknya perusahaan enggan menurunkan pembayaran dividen. Hal tersebut mungkin disebabkan karena dividen membuat
para pemegang saham menafsirkan bahwa kenaikan atau penurunan pembayaran dividen menggambarkan membaik atau memburuknya prospek perusahaan. Oleh karena itu perusahaan enggan mengambil keputusan penurunan pembayaran dividen sebab harga saham akan naik atau turun jika terjadi peningkatan atau penurunan pembayaran dividen yang tidak diharapkan.
3. Factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
Menurut Chaerul D. Djakman dan Dwi Sulistyorini (2000:621) Pertimbangan yang mempengaruhi keputusan dividen suatu perusahaan antaralain sebagai berikut:
1) Pembatasan hukum
Pembatasan hukum tertentu bisa membatasi jumlah dividen yang bisa dibayarkan perusahaan. Batasan hukum ini ada 2 kategori yaitu:
a) Statutory restrictions (pembatasan menurut UU)
Biasanya perusahaan tak membayar dividen: (1) jika kewajiban perusahaan melebihi asetnya, (2) jika jumlah dividen melebihi akumulasi laba (laba ditahan), dan (3) jika dividen dibayarkan dari modal yang diinvestasikan dalam perusahaan.
b) Aturan pembatasan atas manajemen yang diterapkan investor untuk meminimumkan risiko sebagai syarat investasi mereka dalam perusahaan.
2) Posisi likuiditas
Oleh karena dividen dibayarkan dengan kas, dan tidak dengan laba ditahan, perusahaan harus memiliki kas tersedia untuk pembayaran dividen. Maka, posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh pada kemampuannya membayar dividen.
3) Tak adanya atau kurangnya sumber pendanaan lain
Perusahaan mempunyai 2 pilihan yaitu: (1) menahan laba untuk tujuan investasi, atau (2) membayar dividen dan menerbitkan utang baru atau sekuritas modal untuk mendanai investasi. Untuk perusahaan kecil atau baru, pilihan kedua ini tak realistis. Perusahaan ini tak memiliki akses ke pasar modal, jadi mereka harus sangat bergantung pada dana internal. Sebagai akibatnya, rasio pembayaran dividen biasanya jauh lebih rendah untuk perusahaan kecil atau baru darioada perusahaan besar milik publik.
4) Kemungkinan pendapatan diramalkan
Rasio pembayaran dividen perusahaan hingga suatu titik tergantung pada kemungkinan diramalkannya laba perusahaan sepanjang waktu. Jika pendapatan berfluktuasi jelas, manajemen tak dapat bergantung pada dana internal untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Jika laba telah dihasilkan, perusahaan bisa menahan jumlah yang lebih besar untuk memastikan bahwa uang tersedia saat dibutuhkan. Sebaliknya, perusahaan dengan tren pendapatan yang
stabil biasanya akan membayar bagian yang besar dari pendapatannya dalam bentuk dividen. Perusahaan ini tak terlalu memikirkan ketersediaan laba untuk memenuhi kebutuhan modal di masa depan. 5) Kontrol pemilikan
Bagi perusahaan kecil dan menengah mempertahankan kontrol suara merupakan prioritas utama. Jika pemegang saham yang sekarang tak bisa berpartisipasi dalam penawaran baru, menerbitkan saham baru tak menarik, dalam arti bahwa kontrol pemegang saham yang sekarang tak berarti. Pemilik mungkin lebih suka manajemen mendanai investasi baru dengan utang dan melalui laba daripada melalui penerbitan saham biasa baru. Pertumbuhan perusahaan ini karenanya dibatasi dengan jumlah modal utang yang tersedia dan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
6) Inflasi
Dalam periode inflasi, idealnya, setelah aset tetap rusak dan usang, dana yang dihasilkan dari depresiasi digunakan untuk mendanai penggantian. Karena harga peralatan pengganti terus naik, dana depresiasi tak cukup. Ini membutuhkan retensi laba yang lebih besar, yang berarti bahwa dividen harus terpengaruh secara tak menguntungkan.
E. Kerangka Pemikiran
Bagan 2.1 Kerangka pemikiran
Dari bagan diatas dividen per lembar saham (Dividend per share, DPS) adalah sebagai variable independen, sedangkan variable dependennya adalah harga saham dari industri yang akan diteliti yaitu industri perbankan. Harga pasar saham adalah harga saham yang berlaku untuk suatu perusahaan. Harga saham, yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham biasa (closing price) akhir tahun yang tercatat pada laporan keuangan. Dividen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham tiap tahunnya yang juga tercatat pada laporan keuangan tahunan perusahaan. Pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik bagi perusahaan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar sebagai informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, harga saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21). Dapat disimpulkan bahwa jika dividen per lembar saham yang dibagikan kepada para pemegang saham naik, maka harga saham juga naik, hal ini akan membuat para investor saham akan lebih mempertimbangkan DPS dalam mengambil keputusan investasi.
Keputusan investasi Harga saham Dividen per lembar saham (Dividend per share,DPS)
F. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Diduga besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga pasar saham.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah studi kasus yaitu penelitian tentang obyek tertentu dari sampel yang hasilnya hanya berlaku pada obyek yang diteliti yaitu pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.
B Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian : Bulan Agustus-November 2007 Lokasi penelitian : Pojok BEI USD, UII dan UGM
C Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek Penelitian : Bank-bank yang terdaftar dan sahamnya masih aktif dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia yang pernah membagikan dividen selama periode penelitian.
Obyek penelitian : Harga pasar saham, dividen per lembar saham, yang berlaku selama periode penelitian.
D Identifikasi Variabel
• Variabel independen (X): Dividen per lembar saham yaitu dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham. Informasi ini dapat dilihat dalam laporan keuangan tahunan.
• Variabel dependen (Y) yaitu harga pasar saham dari perusahaan perbankan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
E Pengukuran Variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian ini adalah: 1. Harga pasar saham adalah harga saham closing price yang berlaku untuk
suatu perusahaan. Besarnya harga pasar saham dihitung dalam satuan rupiah per lembar saham.
2. Dividen per lembar saham adalah besarnya dividen tunai yang dibagi oleh