• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh dividen per lembar saham 9dividen per share, DPS] terhadap harga pasar saham [HPS] industri perbankan : studi kasus pada Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2006.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh dividen per lembar saham 9dividen per share, DPS] terhadap harga pasar saham [HPS] industri perbankan : studi kasus pada Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2006."

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN

Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006

Yuliningsih NIM: 042214122 Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri perbankan yang terdaftar di BEJ pada periode tahun 2002-2006.

Jenis penelitian adalah studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan pencatatan langsung atau dokumentasi dari laporan keuangan tahun 2002-2006 yang terdapat dalam ICMD. Sampel penelitian ini adalah 15 perusahaan perbankan yang pernah membagikan dividen tunai selama periode penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah Regresi Linier Sederhana

Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan 1) Pada tahun 2002: t hitung (0,208) < t tabel (1,761) dan nilai probabilitas (0,839) > tingkat signifikan (0,05) maka Ho diterima. Jadi DPS tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap HPS. 2) Pada tahun 2003-2006: t hitung > t tabel dan tingkat probabilitas < tingkat signifikan. Jadi DPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap HPS.

(2)

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF DIVIDEND PER SHARE ON THE STOCK PRICE BANKING INDUSTRY

A Case Study on Jakarta Stock Exchange 2002-2006

Yuliningsih NIM: 042214122 Sanata Dharma University

Yogyakarta 2008

The aim of the research was to find out whether DPS had positive and significant influence on stock price of banking industry which was listed in Jakarta Stock Exchange (JSE) for the period of 2002-2006.

The research was a case study. The data was obtained though direct recording from financial report in 2002-2006 in the ICMD. Samples of the study are 15 banking companies that had shared cash dividend from 2002 until 2006. The data analysis technique of the study was Simple Linier Regression analysis.

From the analysis it could be concluded that: 1) In 2002: calculated t value (0,208) < critical t value (1,761) and probability value (0,839) > significance level (0,05), therefore dividend per share doesn’t had positive and significant influence on the stock price. 2) In 2003-2006: calculated t value > critical t value and probability value < significance level, therefore dividend per share had positive and significance influence on stock price.

(3)

TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Yuliningsih

NIM: 042214122

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN

Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Yuliningsih

NIM: 042214122

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2008

(5)
(6)
(7)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 31 Maret 2008

Penulis

Yuliningsih

(8)

Serahkanlah Segala Perbuatanmu Kepada TUHAN, Maka

Terlaksanalah Segala Rencanamu

(Amsal 16 :3

)

Dengan penuh syukur kepada Tuhanku Yesus

kristus, skripsi ini kupersembahkan kepada:

Bapak dan Ibu tercinta

Kakakku yati

Nova terkasih

Teman-teman yang selalu

menyemangatiku

(9)

ABSTRAK

PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN

Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006

Yuliningsih NIM: 042214122 Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri perbankan yang terdaftar di BEJ pada periode tahun 2002-2006.

Jenis penelitian adalah studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan pencatatan langsung atau dokumentasi dari laporan keuangan tahun 2002-2006 yang terdapat dalam ICMD. Sampel penelitian ini adalah 15 perusahaan perbankan yang pernah membagikan dividen tunai selama periode penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah Regresi Linier Sederhana

Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan 1) Pada tahun 2002: t hitung (0,208) < t tabel (1,761) dan nilai probabilitas (0,839) > tingkat signifikan (0,05) maka Ho diterima. Jadi DPS tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap HPS. 2) Pada tahun 2003-2006: t hitung > t tabel dan tingkat probabilitas < tingkat signifikan. Jadi DPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap HPS.

(10)

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF DIVIDEND PER SHARE ON THE STOCK PRICE BANKING INDUSTRY

A Case Study on Jakarta Stock Exchange 2002-2006

Yuliningsih NIM: 042214122 Sanata Dharma University

Yogyakarta 2008

The aim of the research was to find out whether DPS had positive and significant influence on stock price of banking industry which was listed in Jakarta Stock Exchange (JSE) for the period of 2002-2006.

The research was a case study. The data was obtained though direct recording from financial report in 2002-2006 in the ICMD. Samples of the study are 15 banking companies that had shared cash dividend from 2002 until 2006. The data analysis technique of the study was Simple Linier Regression analysis.

From the analysis it could be concluded that: 1) In 2002: calculated t value (0,208) < critical t value (1,761) and probability value (0,839) > significance level (0,05), therefore dividend per share doesn’t had positive and significant influence on the stock price. 2) In 2003-2006: calculated t value > critical t value and probability value < significance level, therefore dividend per share had positive and significance influence on stock price.

(11)
(12)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa di surga atas segala

penyertaan dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan lancar. Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat dalam

menyelesaikan pendidikan Strata I (SI) dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada

Program Studi Manajemen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari

keterlibatan banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini sudah selayaknya

penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Sanata Dharma.

2. Bapak Drs. G. Hendra Poerwanto, M.Si selaku Kaprodi Manajemen Universitas

Sanata Dharma.

3. Bapak V. Mardi Widyadmono, S.E., MBA dan Bapak A. Yudi yuniarto, S.E.,

MBA selaku dosen pembimbing atas bantuan dan kesabarannya dalam

membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Drs. P. Rubiyatno, M.M selaku dosen penguji atas saran dan kritikannya

yang diberikan kepada penulis.

5. Dosen, staf dan karyawan Universitas Sanata Dharma khususnya Fakultas

Ekonomi atas segala keramahannya dalam melayani mahasiswa-mahasiswi.

(13)

6. Bapak dan Ibu tercinta yang selama ini selalu mendampingi, memberi dorongan,

semangat dan juga doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Kakakku yati yang tak henti-hentinya memberikan semangat dan doa kepada

penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.

8. Nova yang telah dengan setia mendampingi, memberi semangat, doa dan selalu

memanjakan penulis.

9. Sahabatku mira dan teman-teman seperjuangan manajemen ’04: Arda, Erna,

Suster, Enggar, Fika, Tyas ndut, Tyas cilik, Dian, Maya, Tika tetep semangat!

10. Temen-temen Mudika St Bonaventura Gondang yang selalu memberi warna

sekaligus tempat curhat bagi penulis: Nina, Mas Sentot, Eva, Mbak Aprin, Phiom,

Mbak nil, Mbak Neny, RRE, Lek ari, Dalijo dll. Tetap setia dan semangat dalam

berpelayanan. Berkah Dalem.

11. Temen-temen kos mickey yang selalu memberi keceriaan: Martha, Nuning, Putri

(Temanggung), Mety, Rina, Mbak ester, Putri (Bantul).

12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari akan segala kekurangan yang termuat dalam skripsi.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan

skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 31 Maret 2008

Penulis

Yuliningsih

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Batasan Masalah ... 3

D. Tujuan Penelitian... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II. LANDASAN TEORI ... 5

A. Pasar Modal... 5

(15)

1. Pengertian Pasar Modal... 5

2. Peran Pasar Modal ... 6

B. Saham ... 8

1. Pengertian Saham... 8

2. Jenis-jenis Saham ... 8

C. Penilaian Saham ... 12

D. Dividen ... 15

1. Jenis-jenis Dividen ... 16

2. Kebijakan Dividen ... 17

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen... 19

E. Kerangka Pemikiran ... 22

F. Hipotesis ... 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 24

A. Jenis Penelitian... 24

B. Waktu dan Lokasi Penelitian... 24

C. Subyek dan Obyek Penelitian... 24

D. Identifikasi Variabel... 24

E. Pengukuran Variabel ... 25

F. Data ... 25

G. Pengumpulan Data ... 26

H. Teknik Analisis Data... 27

I. Jadwal Penelitian ... 31

(16)

J. Organisasi Pelaporan ... 31

BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 33

A. Pasar Modal Indonesia ... 33

1. Pendahuluan ... 33

2. Sejarah Pasar Modal di Indonesia ... 33

B. Sejarah Perusahaan Perbankan ... 41

BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 53

A. Deskripsi Data ... 53

B. Analisis Data ... 56

C. Pembahasan ... 66

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 70

C. Keterbatasan penelitian ... 71

DAFTAR PUSTAKA... 72

LAMPIRAN ... 74

(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel V.1 : Nama perusahaan sampel penelitian ... 54

Tabel V.2 : Deskripsi data HPS... 55

Tabel V.3 : Deskripsi data HPS... 56

Tabel V.4 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2002 ... 57

Tabel V.5 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2003 ... 58

Tabel V.6 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2003 ... 60

Tabel V.7 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2004 ... 60

Tabel V.8 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2004 ... 62

Tabel V.9 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2005 ... 62

Tabel V.10 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2005 ... 64

Tabel V.11 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2006 ... 64

Tabel V.12 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2006 ... 66

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2002

Lampiran 2 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2003

Lampiran 3 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2004

Lampran 4 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2005

Lampiran 5 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2006

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dunia bisnis saat ini semakin sulit diekspektasi. Hal ini terkait dengan adanya pengaruh global, krisis yang melanda Indonesia akhir-akhir ini serta tantangan yang dihadapi juga semakin berat sehingga ini menyebabkan prospek perusahaan menjadi semakin tidak jelas (Uncertainly). Keadaan seperti ini mendorong seseorang untuk melakukan suatu investasi. Selain itu, faktor lain yang mendorong seseorang melakukan investasi adalah karena sifat manusia yang selalu menginginkan uang lebih. Seseorang melakukan investasi karena mereka menginginkan kebebasan finansial, keamanan dan kemampuan untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan dalam hidupnya.

(20)

Diperlukan serangkaian proses yang panjang sebelum melakukan investasi agar investasi tersebut tepat sasaran yang disebut proses investasi. Proses investasi tersebut menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi pada efek-efek yang dapat dipasarkan, dan kapan dilakukan. Proses investasi tersebut mencakup beberapa tahap yaitu : Menentukan tujuan investasi, melakukan analisis (meliputi 2 pendekatan yaitu :pendekatan fundamental dan pendekatan teknikal), membentuk portofolio, mengevaluasi kinerja portofolio, dan merevisi kinerja portofolio.

Penelitian ini akan membahas lebih lanjut mengenai investasi saham. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam bentuk saham yang perlu ditelaah ulang adalah tingkat risiko yang terkandung (high risk) apakah sesuai dengan tingkat risiko yang bisa ditanggungnya atau tidak. Artinya investor harus mampu mengenali tingkat risikonya dan baru dapat mengambil keputusan.

(21)

perusahaan semakin meningkat baik ditinjau dari sudut internal perusahaan maupun pihak-pihak diluar perusahaan.

Untuk berhasil mencapai tujuannya, investor saham harus selalu mengikuti perkembangan pasar modal dan juga harus jeli memilih saham mana yang prospek masa depannya cerah sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi. Informasi tersebut dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan. Akhirnya harga saham cenderung mengikuti naik turunnya besarnya dividen yang dibayarkan (Abdul halim, 2005:21).

Berdasarkan analisis tersebut, maka penulis mengambil judul

“Pengaruh Dividen per Lembar Saham (Dividend Per Share, DPS) terhadap Harga Pasar Saham (HPS) Industri Perbankan”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Apakah besarnya dividen per lembar saham

(Dividend per Share) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan?

C. Batasan Masalah

Penulis membatasi penelitian ruang lingkup permasalahannya pada: 1. Harga saham yang akan digunakan adalah harga saham saat penutupan

(22)

2. Dividen yang akan diteliti hanya dividen tunai dari pemegang saham biasa yaitu dividen per lembar saham.

D. Tujuan Penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan.

E. Manfaat Penelitian. 1. Bagi Investor:

Dapat membantu para investor/calon investor saham dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.

2. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan dalam bidang investasi khususnya investasi saham di pasar modal.

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Dapat memperkaya referensi kepustakaan penelitian dibidang manajemen keuangan khususnya dalam analisis factor-faktor yang

(23)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pasar Modal

Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan akan memerlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak bisa hanya mengandalkan sumber dari pemerintah saja, partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk ikut aktif melalui keikutsertaan dalam usaha menggerakkan perekonomian. Mengingat bahwa sektor swasta dalam menyediakan dana untuk pembangunan yang cukup besar menuntut digalakkannya pengerahan dana masyarakat baik melalui peranan perbankan maupun pengembangan pasar modal. Dengan potensinya yang semakin besar untuk memobilisasi dana, pasar modal memiliki arti yang strategis bagi pembangunan perekonomian nasional. Melihat perkembangan pasar modal yang dikaitkan dengan pengaruh global, krisis yang melanda Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi semakin berat dan prospek perusahaan yang semakin tidak jelas (Uncertainly), secara langsung mempengaruhi perilaku pemodal dan kinerja emiten.

1. Pengertian Pasar modal

(24)

dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual beli sekuritas disebut bursa efek. Menurut Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.

2. Peran pasar modal

Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu Negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal berfungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu dua pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Sedangkan fungsi keuangan pasar modal adalah memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Secara umum, manfaat keberadaan pasar modal adalah:

o Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha

(25)

o Memberikan wahana investasi yang beragam bagi investor sehingga

memungkinkan untuk melakukan diversifikasi.

o Menyediakan leading indicator bagi perkembangan perekonomian

suatu Negara.

o Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat

menengah.

o Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme

menciptakan iklim berusaha yang sehat serta mendorong pemanfaatan manajemen professional.

Sebagai salah satu instrumen perekonomian, maka pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan ekonomi mikro yaitu peristiwa atau keadaan para emiten, seperti laporan kinerja, pembagian dividen, perubahan strategis dalam rapat umum pemegang saham, akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di pasar modal.

Selain lingkungan ekonomi mikro, perubahan lingkungan yang dimotori oleh kebijakan-kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan, akan pula mempengaruhi gejolak di pasar modal.

(26)

B. Saham

1. Pengertian Saham

Secara umum saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas. Menurut Eduardus Tandelilin (2001:18) saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup populer diperjualbelikan di pasar modal. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Jika sebuah perusahaan menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat luas atau publik maka perusahaan tersebut dikatakan go public atau telah menjadi perusahaan publik, dalam arti kepemilikan atas perusahaan tersebut tidak hanya dimiliki sekelompok orang (atau orang-orang yang mendirikan perusahaan tersebut), namun kepemilikannya telah menyebar ke banyak pihak (Saleh Basir dan Hendy M. Fakhrudin, 2005:11)

2. Jenis-jenis saham

Menurut Jogiyanto (2003:67) saham dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: 1) Saham Preferen

(27)

klaim pemegang obligasi (bond). Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu hak atas dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi likuidasi. Oleh karena itu, saham preferen mempunyai karakteristik ditengah-tengah antara bond dan saham biasa.

a) Karakteristik Saham Preferen

Beberapa karakteristik dari saham preferen adalah sebagai berikut 1. Preferen terhadap Dividen.

a. Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima dividen terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa.

b. Saham preferen juga umumnya memberikan hak dividen kumulatip, yaitu memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerima dividennya. Jika saham preferen disebutkan memberikan hak dividen kumulatip, maka dividen-dividen tahun sebelumnya yang belum dibayarkan disebut dengan dividends in arrears. Nilai dari dividend in arrears ini harus diungkapkan

(28)

Hal ini mungkin saja terjadi jika perusahaan mengalami kerugian atau tidak mempunyai cukup kas untuk membayarnya. Akan tetapi, perusahaan akan berpikir dua kali untuk tidak memenuhi kewajibannya membayar dividen preferen. Sekali perusahaan tidak memenuhi kewajiban ini, maka pasar akan memasukkannya ke dalam daftar hitam.

2. Preferen Pada Waktu Likuidasi.

Saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat kumulatip. Karena karakteristik ini, investor umumnya menganggap saham preferen lebih kecil risikonya dibandingkan dengan saham biasa. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan bond, saham preferen dianggap lebih berisiko, karena klaim dari pemegang saham preferen dibawah klaim dari pemegang bond.

b) Macam Saham Preferen

Macam dari saham preferen ini diantaranya adalah : 1. Confertible Preferred Stock.

(29)

penukaran yang sudah ditentukan. Saham preferen semacam ini disebut dengan convertible preferred stock.

2. Callable Preferred Stock.

Bentuk lain dari saham preferen adalah memberikan hak kepada perusahaan yang mengeluarkan untuk membeli kembali saham ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa mendatang dengan nilai yang tertentu. Harga tebusan ini biasanya lebih tinggi dari nilai nominal sahamnya.

3. Floating atau Adjusable-rate Preferred Stock (ARP).

Saham preferen ini merupakan saham inovasi baru di Amerika Serikat yang dikenalkan pada tahun 1982. saham preferen ini tidak membayar dividen secara tetap, tetapi tingkat dividen yang dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas t-bill (treasury bill). Saham preferen tipe baru ini cukup populer sebagai investasi jangka pendek untuk investor yang mempunyai kelebihan kas.

2)Saham biasa

Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock). Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan.

(30)

1. Hak Kontrol.

Adalah hak pemegang saham biasa untuk memilih pimpinan perusahaan.

2. Hak Menerima Pembagian Keuntungan.

Adalah hak pemegang saham biasa untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.

3. Hak Preemptive.

Adalah hak untuk mendapatkan persentasi kepemilikan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk tujuan melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama dan melindungi harga saham lama dari kemerosotan nilai.

3)Saham Treasuri

Saham treasuri (treasury stock) adalah saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali.

C. Penilaian saham

(31)

1. Pendekatan Nilai Intrinsik

Nilai intrinsik suatu saham adalah harga yang dibenarkan untuknya apabila mempertimbangkan factor-faktor dasar nilai tersebut. Dalam hal ini nilai sesungguhnya berbeda dengan harga pasar. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi nilai intrinsik, yaitu:

1) Nilai aktiva perusahaan. Aktiva-aktiva fisik yang dimiliki suatu perusahaan memiliki nilai pasar. Aktiva-aktiva ini dapat dilikuidasi untuk membayar kembali kepada kreditur dan untuk dibagikan kepada pemegang saham.

2) Kemungkinan bakal pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang. Faktor-faktor seperti pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang akan mempengaruhi nilai sekarang dari saham.

3) Kemungkinan pertumbuhan masa depan. Prospek perusahaan akan pertumbuhan masa depan mempengaruhi nilai intrinsik saham.

Analisis nilai intrinsik

(32)

2. Pendekatan Nilai Pasar

Teknik penilaian ini mempertimbangkan suatu harga saham individual dibandingkan dengan indicator-indikator lain di pasar saham. Jika seorang analis yakin bahwa suatu saham adalah lebih berharga menurut harga pasar daripada harga yang diminta, maka pembelian saham itu dapat direkomendasi.

Menurut Abdul halim dan Sarwoko (1995:7) ada 4 aspek yang dapat mempengaruhi nilai suatu saham di pasar, yaitu:

1) Pengaruh Pendapatan

Baik pendapatan-pendapatan yang dilaporkan maupun ramalan pendapatan-pendapatan membantu para investor dalam memperkirakan atau meramalkan arus dividen di masa mendatang. Pengamatan sederhana dari pasar surat berharga akan dengan cepat menegaskan bahwa pendapatan merupakan penentu dari harga saham.

2) Pengaruh Dividen

(33)

3) Pengaruh Aliran Kas

Aliran kas adalah pendapatan sesudah pajak ditambah dengan beban-beban non kas, khususnya depresiasi. Investor yang serius tentu ingin memeriksa aliran kas dari perusahaan dengan hati-hati, karena hasil dari suatu analisis mungkin memberikan suatu wawasan yang berharga terhadap profitabilitas perusahaan itu.

4) Pengaruh Pertumbuhan

Perkembangan laba umumnya digunakan sebagai ukuran oleh lembaga-lembaga keuangan dan para pemegang saham. Mereka melihat sejauh mana perusahaan mampu mengubah pertumbuhan penjualan dan kegiatan operasinya kedalam kenaikan penghasilan bagi pemegang saham. Pertumbuhan keuntungan secara normal diukur melalui kenaikan pendapatan per lembar saham (EPS).

D. Dividen

(34)

saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21).

Pembayaran dividen pada hakikatnya merupakan komunikasi secara tidak langsung kepada para pemegang saham tentang tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan.

1. Jenis-jenis Dividen

Dividen dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:

1) Dividen tunai (cash dividend), yaitu dividen yang dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk kas (tunai).

2) Dividen saham (stock dividend), yaitu dividen yang dibagi bukan dalam bentuk tunai melainkan dalam bentuk saham perusahaan tersebut. 3) Dividen property (property dividend), yaitu dividen yang dibagikan

dalam bentuk aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva tetap dan surat-surat berharga.

(35)

2. Kebijakan dividen

Menurut Abdul Halim (2003:92), sampai saat ini terdapat kontroversi tentang dividen yang seharusnya dibayarkan, yaitu:

1) Dividen seharusnya dibayarkan setinggi-tingginya.

Pihak yang menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan setinggi-tingginya, beranggapan bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Bagi investor, jumlah rupiah yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil daripada keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen lebih dapat diperkirakan sebelumnya dibanding capital gain. Oleh karena itu, pembayaran dividen yang tinggi dianggap perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang baik, begitu sebaliknya.

Di samping itu, pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik pada perusahaan. Hal ini disebabkan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar merupakan informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, penurunan dividen dapat menyebabkan banyaknya pemegang saham menjual saham yang dimilikinya sehingga harga saham menjadi turun.

(36)

Pihak yang lain menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan serendah mungkin dan bila perlu tidak dibayarkan sehingga perusahaan memiliki laba ditahan setinggi-tingginya. Anggapan ini berdasarkan pada kenyataan adanya biaya mengambang (floatation cost) dan tarif pajak dividen yang lebih besar daripada tarif pajak capital gain. Kesempatan investasi yang menguntungkan apabila dibiayai dengan laba ditahan berarti merupakan penghematan

floatation cost bagi perusahaan sehingga dalam periode berikutnya dapat meningkatkan besar dividen yang dibayarkan. Investasi yang menguntungkan dapat meningkatkan harga saham sehingga pemegang saham akan mendapatkan capital gain.

3) Dividen seharusnya dibayarkan setelah semua kesempatan investasi yang memenuhi persyaratan didanai.

(37)

para pemegang saham menafsirkan bahwa kenaikan atau penurunan pembayaran dividen menggambarkan membaik atau memburuknya prospek perusahaan. Oleh karena itu perusahaan enggan mengambil keputusan penurunan pembayaran dividen sebab harga saham akan naik atau turun jika terjadi peningkatan atau penurunan pembayaran dividen yang tidak diharapkan.

3. Factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen

Menurut Chaerul D. Djakman dan Dwi Sulistyorini (2000:621) Pertimbangan yang mempengaruhi keputusan dividen suatu perusahaan antaralain sebagai berikut:

1) Pembatasan hukum

Pembatasan hukum tertentu bisa membatasi jumlah dividen yang bisa dibayarkan perusahaan. Batasan hukum ini ada 2 kategori yaitu:

a) Statutory restrictions (pembatasan menurut UU)

Biasanya perusahaan tak membayar dividen: (1) jika kewajiban perusahaan melebihi asetnya, (2) jika jumlah dividen melebihi akumulasi laba (laba ditahan), dan (3) jika dividen dibayarkan dari modal yang diinvestasikan dalam perusahaan.

(38)

2) Posisi likuiditas

Oleh karena dividen dibayarkan dengan kas, dan tidak dengan laba ditahan, perusahaan harus memiliki kas tersedia untuk pembayaran dividen. Maka, posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh pada kemampuannya membayar dividen.

3) Tak adanya atau kurangnya sumber pendanaan lain

Perusahaan mempunyai 2 pilihan yaitu: (1) menahan laba untuk tujuan investasi, atau (2) membayar dividen dan menerbitkan utang baru atau sekuritas modal untuk mendanai investasi. Untuk perusahaan kecil atau baru, pilihan kedua ini tak realistis. Perusahaan ini tak memiliki akses ke pasar modal, jadi mereka harus sangat bergantung pada dana internal. Sebagai akibatnya, rasio pembayaran dividen biasanya jauh lebih rendah untuk perusahaan kecil atau baru darioada perusahaan besar milik publik.

4) Kemungkinan pendapatan diramalkan

(39)

stabil biasanya akan membayar bagian yang besar dari pendapatannya dalam bentuk dividen. Perusahaan ini tak terlalu memikirkan ketersediaan laba untuk memenuhi kebutuhan modal di masa depan. 5) Kontrol pemilikan

Bagi perusahaan kecil dan menengah mempertahankan kontrol suara merupakan prioritas utama. Jika pemegang saham yang sekarang tak bisa berpartisipasi dalam penawaran baru, menerbitkan saham baru tak menarik, dalam arti bahwa kontrol pemegang saham yang sekarang tak berarti. Pemilik mungkin lebih suka manajemen mendanai investasi baru dengan utang dan melalui laba daripada melalui penerbitan saham biasa baru. Pertumbuhan perusahaan ini karenanya dibatasi dengan jumlah modal utang yang tersedia dan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

6) Inflasi

Dalam periode inflasi, idealnya, setelah aset tetap rusak dan usang, dana yang dihasilkan dari depresiasi digunakan untuk mendanai penggantian. Karena harga peralatan pengganti terus naik, dana depresiasi tak cukup. Ini membutuhkan retensi laba yang lebih besar, yang berarti bahwa dividen harus terpengaruh secara tak menguntungkan.

(40)

E. Kerangka Pemikiran

Bagan 2.1 Kerangka pemikiran

Dari bagan diatas dividen per lembar saham (Dividend per share, DPS) adalah sebagai variable independen, sedangkan variable dependennya adalah harga saham dari industri yang akan diteliti yaitu industri perbankan. Harga pasar saham adalah harga saham yang berlaku untuk suatu perusahaan. Harga saham, yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham biasa (closing price) akhir tahun yang tercatat pada laporan keuangan. Dividen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham tiap tahunnya yang juga tercatat pada laporan keuangan tahunan perusahaan. Pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik bagi perusahaan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar sebagai informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, harga saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21). Dapat disimpulkan bahwa jika dividen per lembar saham yang dibagikan kepada para pemegang saham naik, maka harga saham juga naik, hal ini akan membuat para investor saham akan lebih mempertimbangkan DPS dalam mengambil keputusan investasi.

(41)

F. Hipotesis

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi kasus yaitu penelitian tentang obyek tertentu dari sampel yang hasilnya hanya berlaku pada obyek yang diteliti yaitu pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.

B Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian : Bulan Agustus-November 2007 Lokasi penelitian : Pojok BEI USD, UII dan UGM

C Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek Penelitian : Bank-bank yang terdaftar dan sahamnya masih aktif dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia yang pernah membagikan dividen selama periode penelitian.

Obyek penelitian : Harga pasar saham, dividen per lembar saham, yang berlaku selama periode penelitian.

D Identifikasi Variabel

(43)

• Variabel independen (X): Dividen per lembar saham yaitu dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham. Informasi ini dapat dilihat dalam laporan keuangan tahunan.

• Variabel dependen (Y) yaitu harga pasar saham dari perusahaan perbankan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

E Pengukuran Variabel

Definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian ini adalah: 1. Harga pasar saham adalah harga saham closing price yang berlaku untuk

suatu perusahaan. Besarnya harga pasar saham dihitung dalam satuan rupiah per lembar saham.

2. Dividen per lembar saham adalah besarnya dividen tunai yang dibagi oleh suatu perusahaan pada tahun t. Besarnya dividen per lembar saham dihitung dalam satuan rupiah per lembar saham.

F Data

(44)

Directory) tahun 2005 dan tahun 2006 yang terdapat di Pojok BEI. Data laporan keuangan yang diteliti adalah laporan akhir tahun yang dilaporkan oleh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Data yang dapat diperoleh dari laporan keuangan tersebut antara lain: dividen per lembar saham dan harga saham perusahaan selama tahun 2002-2006.

G Pengumpulan Data 1. Populasi

Populasi adalah ruang lingkup atau besaran karakteristik dari seluruh objek yang diteliti. Dalam penelitian ini yang dimaksud populasi adalah semua perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Sampel

Sampel adalah besaran karakteristik (tertentu) dari sebagian populasi yang memiliki karakteristik sama dengan populasi. Dalam penelitian ini sampel yang akan digunakan adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI selama periode penelitian dan telah memenuhi kriteria penelitian.

3. Teknik pengambilan sampel

(45)

a) Perusahaan yang di pilih adalah perusahaan yang termasuk industri keuangan khususnya perbankan yang sahamnya masih aktif selama periode penelitian.

b) Perusahaan membagikan dividen tunai selama periode penelitian kepada para pemegang saham.

c) Perusahaan menerbitkan laporan keuangan tahunan. 4. Jumlah sampel

Dari kriteria tersebut terdapat 15 perusahaan perbankan yang terpilih menjadi sampel penelitian.

5. Metode pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pencatatan langsung data sekunder yang diperoleh dari BEI.

H Teknik Analisis Data

(46)

a. Seluruh data masing-masing perusahaan selama 5 tahun disusun dalam format tabel sebagai berikut :

No Nama Perusahaan

Harga saham (Rp/Lbr) Dividen per lembar saham (Rp/Lbr)

1 PT Bank “A” X X

2 PT Bank “B” X X

n PT Bank “n” X X

Selanjutnya dengan menggunakan bantuan program SPSS 12 for windows data tersebut akan diolah dan dianalisis untuk mendapatkan output sebagai berikut:

ƒ Koefisien determinasi (R2) adalah ukuran untuk mengetahui kesesuaian/ketepatan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dalam suatu persamaan regresi. Dengan kata lain, koefisien determinasi menunjukkan kemampuan X yang merupakan variabel bebas menerangkan atau menjelaskan variable Y yang merupakan variabel tidak bebas.

ƒ Analisis regresi sederhana

(47)

Bentuk persamaan regresi sederhana adalah :

Y= a + bX

Keterangan :

Y : harga pasar saham X : dividen per lembar saham a : konstanta

b : koefisien arah regresi

b. Menguji hipotesis permasalahan dengan langkah-langkah berikut : i. Menentukan Ho dan Ha :

Ho: b1 ≤ 0, Besarnya dividen per lembar saham tidak berpengaruh

positif dan tidak signifikan terhadap harga pasar saham.

Ha: b1 > 0, Besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif

dan signifikan terhadap harga pasar saham. ii. Menentukan level of significance

( )

α

Dalam penelitian ini menggunakan taraf nyata 5% dengan jumlah sampel (n) =15, maka nilai t tabel dapat ditentukan :

(48)

iii.Menentukan kriteria pengujian dengan 1 sisi

Gambar 3.1

Dasar penerimaan hipotesis adalah dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Ho diterima jika t hitung berada < 1,761 dan Ho ditolak jika t hitung > 1,761.

Daerah penolakan Ho Daerah

penerimaan Ho

+1,761

iv. Kesimpulan

Membandingkan t hitung dengan t tabel, dengan kriteria : Ho diterima jika t hitung < t tabel

Ho ditolak jika t hitung > t tabel Ho diterima jika sig > α

(49)

I Jadwal Penelitian

Bimbingan draft dengan

Dosen pembimbing

J Organisasi Pelaporan

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini berisi teori sebagai landasan penelitian dilakukan. BAB III : METODE PENELITIAN

(50)

BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Bab ini berisi tentang penjelasan singkat pasar modal dan perusahaan perbankan yang dijadikan sampel penelitian.

BAB V : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi deskripsi data, analisis data serta pembahasan terhadap permasalahan penelitian.

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dari analisis data dan pembahasan masalah, saran-saran yang diberikan oleh penulis serta keterbatasan dalam penelitian.

(51)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Pasar Modal Indonesia 1. Pendahuluan

Bursa efek (pasar modal) yang terbesar di Indonesia adalah Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang juga dikenal dengan nama asingnya sebagai Jakarta

Stock Exchange (JSX). Sekuritas yang diperdagangkan di BEJ adalah saham preferen, saham biasa, dan obligasi konvertibel (Saham biasa mendominasi

volume transaksi di BEJ). Bursa efek terbesar setelah BEJ adalah Bursa Efek

Surabaya (BES) atau Surabaya Stock Exchange (SSX). Sekuritas yang

diperdagangkan di BEJ juga diperdagangkan di SSX.

2. Sejarah Pasar Modal di Indonesia

Sejarah pasar modal di Indonesia dapat dibagi menjadi enam periode;

yaitu

1) Periode Pertama (1912- 1942) : Periode Jaman Belanda.

Pada tanggal 14 Desember 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di

Jakarta. Asosiasi ini diberi nama Belandanya sebagai “Vereniging voor

Effectenhandel” yang merupakan cikal bakal pasar modal pertama di Indonesia. Setelah perang dunia I, pasar modal di Surabaya mendapat giliran

(52)

Agustus 1925. Karena masih dalam jaman penjajahan Belanda dan pasar-pasar

modal ini juga didirikan oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang

diperdagangkan disana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan

afiliasinya yang tergabung dalam Dutch East Indies Trading Agencies.

pasar modal ini beroperasi sampai kedatangan Jepang di Indonesia sampai

kedatangan Jepang di Indonesia di tahun 1942.

2) Periode Kedua (1952 – 1960) : Periode Orde Lama.

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September

1951 dikeluarkan Undang-Undang Darurat No. 15/1952 tentang pasar modal.

Juga melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 289737/U.U. tanggal 1

Nopember 1951, Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya dibuka kembali pada

tanggal 3 Juni 1952.

Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi

pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan

yang lain adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang

dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari ke luar negeri.

Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan ke Perserikatan

Perdagangan Uang dan efek-efek (P.P.U.E) yang terdiri dari 3 bank dengan

Bank Indonesia sebagai anggota kehormatan. Bursa efek ini berkembang

dengan cukup baik walaupun surat berharga yang diperdagangkan umumnya

adalah obligasi oleh perusahaan belanda dan obligasi pemerintah Indonesia

(53)

dengan dikeluarkannya obligasi pemerintah melalui Bank Industri Negara di

tahun 1954, 1955, dan 1956. karena adanya sengketa antara Pemerintah RI

dengan Belanda mengenai Irian Barat, semua bisnis Belanda dinasionalkan

melalui Undang-Undang Nasionalisasi No. 86 tahun 1958. Sengketa ini

mengakibatkan larinya modfal Belanda dari tanah Indonesia. Akibatnya mulai

tahun 1960, sekuritas-sekuritas perusahaan Belanda sudah tidak

diperdagangkan lagi di Bursa Efek Jakarta semakin menurun.

3) Periode Ketiga (1977 – 1988) : Periode Orde Baru.

Bursa Efek Jakarta dikatakan lahir kembali pada tahun 1977 dalam

periode orde baru sebagai hasil dari Keputusan Presiden No. 52 tahun 1976.

keputusan ini menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan

Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM) dan PT Danareksa. Presiden Suharto

meresmikan kembali Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 10 Agustus 1977.

PT Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yang disetujui pada

tanggal 6 Juni 1977. Pada saat tercatat pertama kali di bursa tanggal 10

Agustus 1977, sebanyak 178.750 lembar saham ditawarkan dengan harga Rp

10.000; per lembar.

Periode ini disebut juga dengan periode tidur panjang, karena sampai

dengan tahun 1988 hanya sedikit perusahaan yang tercatat di BEJ, yaitu hanya

24 perusahaan saja. Kurang menariknya pasar modal pada periode ini dari segi

(54)

deposito, sedang penerimaan dividen dikenakan pajak penghasilan sebesar

15%.

4) Periode Keempat (1988 – 1995) : Periode Bangun dari Tidur yang

Panjang

Sejak diaktifkan kembali pada tahun 1977 sampai tahun 1988 BEJ

dikatakan dalam keadaan tidur yang panjang selama 11 tahun. Sebelum tahun

1988 hanya terdapat 24 perusahaan yang terdaftar di BEJ. Setelah tahun 1988,

selama 3 tahun saja, yaitu sampai tahun 1990, jumlah perusahaan yang

terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 127. Sampai dengan tahun 1996

jumlah perusahaan yang terdaftar menjadi 238. Pada periode ini, Initial Public

Offering (IPO) menjadi peristiwa nasional.

Peningkatan di pasar modal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai

berikut :

1. Permintaan dari investor asing.

Investor asing melihat bahwa pasar modal di Indonesia telah

maju dengan pesat pada periode ini dan mempunyai prospek yang

baik. Investor asing tertarik dengan pasar modal Indonesia karena

dianggap sebagai pasar yang menguntungkan untuk diversifikasi

secara internasional. Investor asing dibatasi pemilikannya sampai

dengan 49% dari sekuritas yang terdaftar di bursa. Sampai dengan

(55)

sebanyak 7,06 milyard lembar atau sekitar 29,61% dari semua

sekuritas yang terdaftar.

2. Pakto 88.

Pakto 88 merupakan reformasi tanggal 27 Oktober 1988 yang

dikeluarkan untuk merangsang ekspor non-migas, meningkatkan

efisiensi dari bank komersial, membuat kebijaksanaan moneter lebih

efektif, meningkatkan simpanan domestik dan meningkatkan pasar

modal. Salah satu hasil dari reformasi Pakto 88 adalah mengurangi

reserve requirement dari bank-bank deposito. Akibat dari reformasi ini adalah pelepasan dana sebesar Rp 4 triliun dari Bank Indonesia ke

sector keuangan. Akibat lebih lanjut adalah masyarakat mempunyai

cukup dana untuk bermain di pasar saham.

3. Perubahan generasi.

Perubahan kultur bisnis terjadi di periode ini, yaitu dari kultur

bisnis keluarga tertutup ke kultur bisnis profesional yang terbuka yang

memungkinan profesional dari luar keluarga untuk duduk di kursi

kepemimpinan perusahaan. Pergeseran ini terjadi karena perubahan

generasi dari yang tua ke yang muda. Generasi muda umumnya

mendapat pendidikan di barat yang mengakibatkan mereka

mempunyai pandangan berbeda dengan pendahulunya. Perubahan

(56)

faktor perkembangan pasar modal, yaitu dengan mulai banyaknya

perusahaan keluarga yang go public.

Periode ini juga dicatat sebagai periode kebangkitan dari Bursa

Efek Surabaya (BES). Bursa Efek Surabaya dilahirkan kembali pada

tanggal 16 Juni 1989. Pada awalnya, BES hanya mempunyai 25 saham

dan 23 obligasi yang diperdagangkan.

5) Periode Kelima (Mulai 1995): Periode Otomatisasi

Karena peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah

melebihi kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk

mengotomatisasi kegiatan transaksi di bursa.

Jakarta Automated Trading System (JATS)

Jakarta Automated Trading System (JATS) adalah sistem

otomatisasi menggunakan jaringan komputer yang digunakan oleh broker

untuk perdagangan sekuritas di Bursa Efek Jakarta. JATS mulai

dioperasikan pada hari Senin tanggal 22 Mei 1995. Sistem manual hanya

mampu menangani sebanyak 3.800 transaksi tiap harinya. Dengan JATS,

sistem ini mampu menangani sebanyak 50.000 transaksi tiap harinya.

Sasaran penerapan sistem JATS ini adalah :

1. Meningkatkan kapasitas untuk mengantisipasi pertumbuhan pasar yang

(57)

2. Meningkatkan integritas (keterkaitan satu pihak dengan pihak yang

lainnya) dan likuiditas (kecepatan transaksi sekuritas diselesaikan).

3. Meningkatkan pamor pasar moadal kita dengan meletakkan BEJ setara

dengan pasar-pasar modal lain di dunia. JATS dianggap sebagai salah satu

sistem komputer pasar modal yang tercanggih di dunia.

6) Periode keenam (Mulai Agustus 1997): Krisis Moneter.

Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda

negara-negara Asia termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan

Singapura. Krisis moneter yang terjadi ini dimulai dari penurunan

nilai-nilai mata uang. Penurunan nilai-nilai mata uang ini disebabkan karena

spekulasi dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat

terhadap nilai mata uang negaranya sendiri dan kurang kuatnya pondasi

perekonomian.

Untuk mencegah permintaan dolar Amerika yang berlebihan

yang mengakibatkan nilainya meningkat dan menurunkan nilai Rupiah,

Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Diharapkan dengan suku bunga deposito yang tinggi, pemilik modal akan

mengurangi permintaan terhadap dolar.

Tingginya suku bunga deposito berakibat negative terhadap

pasar modal. Investor tidak lagi tertarik untuk menanamkan dananya di

(58)

dengan pendapatan dari bunga deposito. Akibat lebih lanjut, harga-harga

saham di pasar modal mengalami penurunan yang drastis. IHSG sejak

bulan Agustus sampai akhir tahun 1997 selalu menurun. Periode ini dapat

dikatakan sebagai ujian terberat yang dialami oleh pasar modal Indonesia.

Untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang bergejolak ini,

pemerintah pada hari Sabtu tanggal 1 November 1997 mengumumkan

melikuidasi 16 bank swasta nasional. Pengumuman yang cukup

mengejutkan ini tidak banyak membantu memperbaiki lesunya pasar

saham.

3. BAPEPAM

Untuk melindungi investor dari praktek-praktek tidak sehat di

pasar saham, pasar ini perlu diregulasi untuk kepentingan publik. Untuk

itu, pada tahun 1976, melalui Keputusan Presiden, departemen keuangan

Indonesia mendirikan Badan Pelaksana Pasar modal (BAPEPAM).

Peranan BAPEPAM pada saat itu adalah untuk melaksanakan jalannya

kegiatan pasar modal dan juga meregulasinya. Kedua peranan ini, yaitu

melaksanakan dan meregulasi dianggap menimbulkan konflik, karena

badan ini dianggap meregulasi pelaksanaan dirinya sendiri. Oleh karena

itu, pada tahun 1990 melalui Keputusan Presiden No. 53 tahun 1990

merubah BAPEPAM sebagai Badan Pengawas Pasar Modal yang

(59)

semua bursa-bursa pasar modal yang ada di Indonesia dan pengawas

jalannya pasar modal.

4.Prosedur pendaftaran sekuritas di BEJ

Sebuah perusahaan yang akan going public dapat mengikuti prosedur yang terdiri dari 3 tahapan utama, yaitu :

ƒ Persiapan untuk going public

ƒ Registrasi di BAPEPAM

ƒ Pecatatan di bursa

B. Sejarah perusahaan Perbankan

1. PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk

Bank Arta Niaga Kencana didirikan di Surabaya tanggal 18 September

1969. Bank ANK semula bernama PT. Bank Surabaja Djaja. Memperoleh ijin

dari Menteri Keuangan untuk beroperasi sebagai Bank Umum sesuai SK

No.D.15.6.8.4 tanggal 15 Desember 1969. Seiring dengan perjalanan waktu dan

perkembangan usaha yang semakin meningkat, maka sejak 10 April 1984

nama tersebut berganti menjadi PT. Bank Arta Niaga Kencana dengan nama

sebutan Bank ”ANK”.

Bank ANK mampu meningkatkan statusnya menjadi Bank Devisa dan

mendapatkan ijin dari Bank Indonesia sebagai Bank Devisa sesuai SK

(60)

Untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah dan berusaha agar

dapat bersaing dengan Bank lain, maka sejak tanggal 19 April 2004 dengan

meningkatkan sistem teknologi informasi, Bank ANK telah on-line untuk semua

jaringan kantor termasuk ATM.

Beberapa hal yang perlu dicatat dalam sejarah berlangsungnya

operasional Bank ANK, yaitu :

-

-

-

Pertama :

Berdasarkan hasil penilaian/due diligence Bank Indonesia dan Auditor

Internasional yaitu Price Waterhouse Cooper, Bank ANK berhasil

dikelompokkan dalam kategori "A", karena Capital Adequacy Ratio (CAR)

Bank ANK diatas 4%.

Kedua :

Bank ANK berhasil dengan sukses mengatasi Masalah Komputer Akhir Tahun

2000.

Ketiga :

Pada tanggal 31 Maret 1999 Bank Indonesia telah melakukan fit and proper

test kepada Pengurus Bank ANK yaitu : Pemegang Saham, Direksi dan Komisaris.

(61)

2. PT. Bank Buana Indonesia Tbk

PT Bank Buana Indonesia Tbk didirikan pada tanggal 31 Agustus

1956 dan mulai beroperasi sebagai bank umum sejak tanggal 1 Nopember 1956.

Menerima penggabungan dengan PT Bank Pembinaan Nasional - Bandung pada

tahun 1972, PT Bank Kesejahteraan Masyarakat - Semarang

pada tahun 1974 dan PT Bank Aman Makmur - Jakarta pada tahun 1975.

Memperoleh izin sebagai bank devisa pada tahun 1976. Mendirikan

bank campuran dengan nama PT. Mitsubishi Buana Bank

pada tahun 1989 kemudian berganti nama menjadi PT. Bank DBS Buana

dan PT. DBS Buana Tat Lee Bank pada tahun 1990 kemudian berganti nama

menjadi PT Keppel TatLee Buana Bank. Bank ini memperoleh kategori "A" dari

BankIndonesia.

3. PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk

PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk didirikan pada tanggal 31 juli

1989, memperoleh ijin untuk beroperasi sebagai bank umum pada tanggal 4

Januari 1990. Perusahaan mendapatkan status sebagai bank devisa pada tanggal 5

(62)

4. PT. Bank Central Asia Tbk

BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama

Bank Central Asia NV. Krisis yang terjadi tahun 1997 membawa dampak yang

luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara

khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat

mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai

menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari

pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu

mengambil alih BCA di tahun 1998.

Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif,

BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998,

dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai

Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun.

Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA

diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.

5. PT. Bank Danamon Tbk.

Bank Danamon Indonesia didirikan pada tahun 1956 dengan nama PT

Bank Kopra Indonesia. Pada tahun 1976 nama bank ini berubah menjadi Bank

(63)

pertukaran mata uang asing di tahun 1976 dan tercatat sahamnya di bursa sejak

tahun 1989.

Pada tahun 1997, sebagai akibat dari krisis finansial di Asia, Bank

Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan akhirnya oleh pemerintah ditaruh di

bawah pengawasan BPPN atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dalam

bahasa Inggris lebih dikenal dengan nama IBRA) sebagai Bank yang diambil alih

(BTO - Bank Take Over). Pada tahun 1999, pemerintah melalui BPPN melakukan

rekapitalisasi Bank Danamon sebesar Rp 32 milyar dalam bentuk Surat Hutang

Pemerintah (Government Bonds). Pada tahun yang sama, beberapa bank BTO

akhirnya digabung menjadi satu dengan Bank Danamon sebagai salah satu bagian

dari rencana restrukturisasi BPPN.

Pada tahun 2000, Bank Danamon kembali melebarkan sayapnya

dengan menjadi bank utama dalam penggabungan 8 Bank BTO lainnya. Pada saat

inilah Bank Danamon mulai muncul sebagai salah satu pilar ekonomi di

Indonesia.

Pada 3 tahun berikutnya, Bank Danamon mengalami restrukturisasi

besar-besaran mulai dari bidang manajemen, sumber daya manusia, organisasi,

sistem informasi, anggaran dasar dan logo perusahaan. Usaha keras yang

dilakukan ini akhirnya berbuah hasil dalam membentuk pondasi dan infrastruktur

(64)

berdasarkan transparansi kerja, tanggung jawab kepada masyarakat, integritas

sebagai salah satu pilar ekonomi di Indonesia dan sikap professional dalam

menjalankan tugasnya sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia (atau lebih

dikenal dengan istilah TRIP).

Pada tahun 2003, Bank Danamon diambil alih mayoritas kepemilikan

sahamnya oleh konsorsium Asia Finance Indonesia --- di bawah kendali Temasek.

Dengan hadirnya manajemen baru, maka dicanangkanlah penata ulangan model

bisnis dan strategi usaha Bank Danamon dalam usahanya untuk terus melakukan

perubahan total dalam disain yang sudah dirancang untuk menjadikan Bank

Danamon sebagai salah satu bank nasional terkemuka di Indonesia dan bank

pemain utama di kawasan Asia.

6. PT. Bank Internasional Indonesia Tbk.

Bank Internasional Indonesia (BII) didirikan pada tahun 1959 dan

mulai menjadi bank devisa pada tahun 1988. pada tahun 1988, BII membuat IPO,

yaitu penawaran saham perusahaan untuk pertama kalinya.

Tahun 1997, Negara kita mengalami krisis ekonomi, BII memperoleh

kepercayaan dari bank pemerintah untuk berpartisipasi dalam program

(65)

7. PT. Bank Kesawan Tbk.

Bank Kesawan didirikan pada tanggal 28 April 1913 dengan nama

NV. Chunghwa Shangyeh Maatschappij (perusahaan perdagangan cina). Pada

tanggal 31 Maret 1962 perusahaan mengubah namanya menjadi PT. Bank

Chunghwa Shangyeh. Dan pada 10 Maret 1965 namanya diubah lagi menjadi PT.

Bank Kesawan.

8. PT. Bank Mandiri (persero) Tbk.

PT. Bank Mandiri (persero) Tbk, didirikan pada bulan oktober 1998.

Bank Mandiri merupakan hasil penggabungan empat bank milik pemerintah

yaitu: Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor dan Bank

Pembangunan Indonesia. Dengan usaha tersebut 17.500 karyawan Bank Mandiri

menyediakan layanan financial bagi 6 juta pelanggan individual dan lembaga

baik perusahaan yang berukuran kecil maupun sedang di Indonesia.

9. PT. Bank Mega Tbk.

Bank Mega adalah bank swasta nasional dengan 60 kantor cabang

yang online di seluruh Indonesia. Didirikan pada tahun 1969 di Surabaya. Pada tahun 1992 perusahaan berubah nama menjadi PT. Mega Bank dan berlokasi di

Jakarta. Pada tanggal 20 Januari 2000, perusahaan mengganti namanya menjadi

(66)

kategori “A” dan sebagai salah satu bank dengan pertumbuhan yang cepat di

daerah Asia Pasifik.

10.PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk.

Bank ini didirikan pada tanggal 5 Juli tahun 1946. Pada tanggal 25

November 1956 BNI mendaftarkan sahamnya di BEJ dan BES. Saat ini BNI

mempunyai 914 kantor cabang di Indonesia dan 5 di luar negeri. BNI juga

mempunyai unit perbankan syariah.

11.PT. Bank Niaga Tbk.

Bank Niaga adalah salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia. Bank ini didirikan pada tanggal 26 September 1955. Beberapa peristiwa penting

yang pernah dicapai bank ini antara lain : menjadi bank devisa di tahun 1974;

memulai program Pendidikan Eksekutif di tahun 1977; pada tahun 1987

memelopori penggunaan layanan ATM di Indonesia; mencatatkan sahamnya di

Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1989; serta berhasil

mempertahankan posisi sebagai bank dengan layanan terbaik pada tahun 2001,

(67)

12.PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk.

PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk didirikan pada bulan januari

1972 dengan nama PT. Bank Pasar Karya Parahyangan. Pada bulan maret 1989

status bank ubah menjadi bank komersial bernama PT Bank Nusantara

Parahyangan. Karena kinerja BNP tumbuh dengan baik dan didukung oleh

keinginan manajemen untuk membagi saham umum, maka pada bulan oktober

2000 status BNP diubah dari perusahaan swasta menjadi perusahaan umum untuk

menambah pendapatan.

13.PT. Bank Pan Indonesia Tbk.

Panin Bank merupakan salah satu bank komersial utama di Indonesia.

Didirikan pada tahun 1971 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta tahun

1982 sebagai bank Go Public yang pertama.

Pemegang saham Panin Bank adalah ANZ Banking Group of

Australia (30%), Panin Life (45%) dan publik-domestik & internasional.

Per Desember 2006, Panin Bank tercatat sebagai bank ke-8 terbesar di

Indonesia dari segi total aset yang sebesar Rp 40,5 triliun, sedangkan dari segi

permodalan tercatat sebagai bank ke-5 terbesar yaitu sebesar Rp 7,5 triliun dan

(68)

Strategi usaha Panin Bank adalah fokus pada bisnis perbankan retail.

Panin Bank berhasil memposisikan diri sebagai salah satu bank utama yang unggul

dalam produk jasa konsumen dan komersial.

14.PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah

dengan nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank

Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia

(pribumi). Berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai

hari kelahiran BRI.

Pendiri Bank Rakyat Indonesia Raden Aria Wirjaatmadja Pada periode

setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946

Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di

Republik Indonesia. Adanya situasi perang mempertahankan kemerdekaan pada

tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai

aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama

menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41

tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan

peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM).

(69)

diintergrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan

Koperasi Tani dan Nelayan.

Setelah berjalan selama satu bulan keluar Penpres No. 17 tahun 1965

tentang pembentukan Bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam

ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks

BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural,

sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor

(Exim).

Berdasarkan Undang No. 14 tahun 1967 tentang

Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang

Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank

Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular

dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank

Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan

Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI

sebagai Bank Umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-undang perbankan No. 7

tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah

menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang kepemilikannya masih 100%

(70)

15.PT. Bank Swadesi Tbk.

PT. Bank Swadesi Tbk didirikan di Surabaya pada bulan September

1968 sebagai PT. Bank Pasar Swadesi, secara resmi beroperasi sebagai bank

umum pada tanggal 2 September 1989. Pada tahun 1992 perusahaan membuka

bisnis penukaran mata uang. Pada tanggal 11 nopember 1994 secara resmi

beroperasi sebagai bank devisa.

(71)

BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A Deskripsi Data

Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dibagi atas 9 (sembilan) sektor usaha antara lain adalah sebagai berikut :

a. Sektor Usaha Primer (ekstraktif) meliputi:

1) Pertanian

2) Pertambangan

b. Sektor usaha sekunder (manufaktur) meliputi:

1) Industri dasar dan kimia

2) Aneka industri

3) Industri barang konsumsi

c. Sektor usaha tersier (jasa) meliputi:

1) Properti dan real estat

2) Infrastruktur, utilitas, dan transportasi

3) Keuangan

4) Perdagangan, jasa dan investasi

Sampel penelitian adalah perusahaan perbankan yang secara kategorial

masuk dalam sektor keuangan. Menurut data ICMD tahun 2005 terdapat 26 bank

dan menurut ICMD tahun 2006 terdapat 24 bank yang terdaftar di BEI. Dari 22

(72)

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain harga saham pada

saat penutupan (closing price) dan data dividen per lembar saham (Dividend per

share) pada periode tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan tahun 2006. Data mengenai nama perusahaan ditunjukkan pada tabel V.1. Sedangkan tabel V.2

menunjukkan besarnya DPS yang dibagikan setiap perusahaan dan tabel V.3

menunjukkan besarnya HPS masing-masing perusahaan selama periode

penelitian.

Tabel V.1

Nama perusahaan sampel penelitian

No Nama Perusahaan

1 PT Bank Arta Niaga Kencana Tbk 2 PT Bank Buana Indonesia Tbk 3 PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk 4 PT Bank Central Asia Tbk

5 PT Bank Danamon Tbk

6 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 7 PT Bank Kesawan Tbk

8 PT Bank Mandiri (persero) Tbk 9 PT Bank Mega Tbk

10 PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk 11 PT Bank Niaga Tbk

12 PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk 13 PT Bank Pan Indonesia Tbk

(73)

Tabel V.2 Deskripsi data DPS

(74)

Tabel V.3 Deskripsi data HPS

No Nama Perusahaan 2002 2003 2004 2005 2006 10 PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk 110 1300 1675 1280 1870 11 PT Bank Niaga Tbk 35 35 460 405 920

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Apakah

besarnya dividen per lembar saham (Dividend per Share, DPS) berpengaruh

positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan?”

Permasalahan ini dianalisis dengan menggunakan alat analisis regresi linear

sederhana.

Dalam penelitian ini variabel dependen adalah harga pasar saham

(75)

1) Tahun 2002

Tabel V.4

Hasil analisis regresi linier sederhana Tahun 2002

Coefficientsa

656.680 244.091 2.690 .019

1.914 9.212 .058 .208 .839

(Constant)

Dari tabel tersebut diperoleh suatu persamaan regresi linier sederhana

yaitu Y = 656,680 + 1,914 X. Persamaan tersebut berarti bila tidak ada

variabel DPS (DPS=0), maka harga pasar saham adalah Rp. 656,680 dengan

koefisien regresi sebesar 1,914.

Hipotesis penelitian ini adalah:

Ho: b≤ 0, Besarnya dividen per lembar saham tidak berpengaruh positif

dan tidak signifikan terhadap harga pasar saham.

Ha: b > 0, Besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan

signifikan terhadap harga pasar saham.

Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis dalam penelitian

ini adalah dengan membandingkan t hitung dengan t tabel dan berdasarkan

perbandingan nilai probabilitas dengan tingkat signifikansi ( ). Bila t hitung

< t tabel, maka Ho diterima dan t hitung > t tabel maka Ho ditolak. Sedangkan

bila sig > maka Ho diterima dan bila sig <

α

Gambar

Gambar 3.1 Dasar penerimaan hipotesis adalah dengan membandingkan t
Tabel V.1 Nama perusahaan sampel penelitian
Tabel V.2 Deskripsi data DPS
Tabel V.3 Deskripsi data HPS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Melalui kebijakan ini perusahaan memberikan sebagian dari keuntungan bersih kepada pemegang saham secara tunai (Bringham dan Houston: 2001). Kebijakan dividen dipengaruhi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Dividen Payout Ratio, Dividen Per Share, Dividen Yield Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur

Berdasarkan pertimbangan dan tujuan investasi dari investor, maka perlu dilakukan perluasan penelitian untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dividen

Anggapan ini berdasarkan pada kenyataan adanya biaya mengambang ( floatation cost ) dan tarif pajak dividen yang lebih besar daripada tarif pajak capital gain. Kesempatan

a) Keuntungan modal ( capital gain ) dikenakan tarif pajak lebih rendah daripada pendapatan dividen. Untuk itu, investor yang memiliki sebagian besar saham mungkin lebih

Teori referensi pajak menyatakan bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi dari pada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang

investor lebih tertarik untuk membeli saham perusahaan dengan tingkat dividen. yang rendah namun menawarkan

lebih lanjut mengenai “PENGARUH VARIABEL EARNING PER SHARE (EPS) DAN DIVIDEN PER SHARE (DPS) TERHADAP HARGA SAHAM (Studi pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di