ABSTRAK
PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN
Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006
Yuliningsih NIM: 042214122 Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2008
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri perbankan yang terdaftar di BEJ pada periode tahun 2002-2006.
Jenis penelitian adalah studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan pencatatan langsung atau dokumentasi dari laporan keuangan tahun 2002-2006 yang terdapat dalam ICMD. Sampel penelitian ini adalah 15 perusahaan perbankan yang pernah membagikan dividen tunai selama periode penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah Regresi Linier Sederhana
Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan 1) Pada tahun 2002: t hitung (0,208) < t tabel (1,761) dan nilai probabilitas (0,839) > tingkat signifikan (0,05) maka Ho diterima. Jadi DPS tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap HPS. 2) Pada tahun 2003-2006: t hitung > t tabel dan tingkat probabilitas < tingkat signifikan. Jadi DPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap HPS.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF DIVIDEND PER SHARE ON THE STOCK PRICE BANKING INDUSTRY
A Case Study on Jakarta Stock Exchange 2002-2006
Yuliningsih NIM: 042214122 Sanata Dharma University
Yogyakarta 2008
The aim of the research was to find out whether DPS had positive and significant influence on stock price of banking industry which was listed in Jakarta Stock Exchange (JSE) for the period of 2002-2006.
The research was a case study. The data was obtained though direct recording from financial report in 2002-2006 in the ICMD. Samples of the study are 15 banking companies that had shared cash dividend from 2002 until 2006. The data analysis technique of the study was Simple Linier Regression analysis.
From the analysis it could be concluded that: 1) In 2002: calculated t value (0,208) < critical t value (1,761) and probability value (0,839) > significance level (0,05), therefore dividend per share doesn’t had positive and significant influence on the stock price. 2) In 2003-2006: calculated t value > critical t value and probability value < significance level, therefore dividend per share had positive and significance influence on stock price.
TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Manajemen
Oleh :
Yuliningsih
NIM: 042214122
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN
Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Manajemen
Oleh :
Yuliningsih
NIM: 042214122
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2008
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 31 Maret 2008
Penulis
Yuliningsih
Serahkanlah Segala Perbuatanmu Kepada TUHAN, Maka
Terlaksanalah Segala Rencanamu
(Amsal 16 :3
)
Dengan penuh syukur kepada Tuhanku Yesus
kristus, skripsi ini kupersembahkan kepada:
•
Bapak dan Ibu tercinta
•
Kakakku yati
•
Nova terkasih
•
Teman-teman yang selalu
menyemangatiku
ABSTRAK
PENGARUH DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM (DIVIDEND PER SHARE, DPS) TERHADAP HARGA PASAR SAHAM (HPS) INDUSTRI PERBANKAN
Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2006
Yuliningsih NIM: 042214122 Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2008
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri perbankan yang terdaftar di BEJ pada periode tahun 2002-2006.
Jenis penelitian adalah studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan pencatatan langsung atau dokumentasi dari laporan keuangan tahun 2002-2006 yang terdapat dalam ICMD. Sampel penelitian ini adalah 15 perusahaan perbankan yang pernah membagikan dividen tunai selama periode penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah Regresi Linier Sederhana
Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan 1) Pada tahun 2002: t hitung (0,208) < t tabel (1,761) dan nilai probabilitas (0,839) > tingkat signifikan (0,05) maka Ho diterima. Jadi DPS tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap HPS. 2) Pada tahun 2003-2006: t hitung > t tabel dan tingkat probabilitas < tingkat signifikan. Jadi DPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap HPS.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF DIVIDEND PER SHARE ON THE STOCK PRICE BANKING INDUSTRY
A Case Study on Jakarta Stock Exchange 2002-2006
Yuliningsih NIM: 042214122 Sanata Dharma University
Yogyakarta 2008
The aim of the research was to find out whether DPS had positive and significant influence on stock price of banking industry which was listed in Jakarta Stock Exchange (JSE) for the period of 2002-2006.
The research was a case study. The data was obtained though direct recording from financial report in 2002-2006 in the ICMD. Samples of the study are 15 banking companies that had shared cash dividend from 2002 until 2006. The data analysis technique of the study was Simple Linier Regression analysis.
From the analysis it could be concluded that: 1) In 2002: calculated t value (0,208) < critical t value (1,761) and probability value (0,839) > significance level (0,05), therefore dividend per share doesn’t had positive and significant influence on the stock price. 2) In 2003-2006: calculated t value > critical t value and probability value < significance level, therefore dividend per share had positive and significance influence on stock price.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa di surga atas segala
penyertaan dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan lancar. Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan Strata I (SI) dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada
Program Studi Manajemen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari
keterlibatan banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini sudah selayaknya
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Sanata Dharma.
2. Bapak Drs. G. Hendra Poerwanto, M.Si selaku Kaprodi Manajemen Universitas
Sanata Dharma.
3. Bapak V. Mardi Widyadmono, S.E., MBA dan Bapak A. Yudi yuniarto, S.E.,
MBA selaku dosen pembimbing atas bantuan dan kesabarannya dalam
membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Drs. P. Rubiyatno, M.M selaku dosen penguji atas saran dan kritikannya
yang diberikan kepada penulis.
5. Dosen, staf dan karyawan Universitas Sanata Dharma khususnya Fakultas
Ekonomi atas segala keramahannya dalam melayani mahasiswa-mahasiswi.
6. Bapak dan Ibu tercinta yang selama ini selalu mendampingi, memberi dorongan,
semangat dan juga doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Kakakku yati yang tak henti-hentinya memberikan semangat dan doa kepada
penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.
8. Nova yang telah dengan setia mendampingi, memberi semangat, doa dan selalu
memanjakan penulis.
9. Sahabatku mira dan teman-teman seperjuangan manajemen ’04: Arda, Erna,
Suster, Enggar, Fika, Tyas ndut, Tyas cilik, Dian, Maya, Tika tetep semangat!
10. Temen-temen Mudika St Bonaventura Gondang yang selalu memberi warna
sekaligus tempat curhat bagi penulis: Nina, Mas Sentot, Eva, Mbak Aprin, Phiom,
Mbak nil, Mbak Neny, RRE, Lek ari, Dalijo dll. Tetap setia dan semangat dalam
berpelayanan. Berkah Dalem.
11. Temen-temen kos mickey yang selalu memberi keceriaan: Martha, Nuning, Putri
(Temanggung), Mety, Rina, Mbak ester, Putri (Bantul).
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari akan segala kekurangan yang termuat dalam skripsi.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan
skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 31 Maret 2008
Penulis
Yuliningsih
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiiii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Batasan Masalah ... 3
D. Tujuan Penelitian... 4
E. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II. LANDASAN TEORI ... 5
A. Pasar Modal... 5
1. Pengertian Pasar Modal... 5
2. Peran Pasar Modal ... 6
B. Saham ... 8
1. Pengertian Saham... 8
2. Jenis-jenis Saham ... 8
C. Penilaian Saham ... 12
D. Dividen ... 15
1. Jenis-jenis Dividen ... 16
2. Kebijakan Dividen ... 17
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen... 19
E. Kerangka Pemikiran ... 22
F. Hipotesis ... 23
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 24
A. Jenis Penelitian... 24
B. Waktu dan Lokasi Penelitian... 24
C. Subyek dan Obyek Penelitian... 24
D. Identifikasi Variabel... 24
E. Pengukuran Variabel ... 25
F. Data ... 25
G. Pengumpulan Data ... 26
H. Teknik Analisis Data... 27
I. Jadwal Penelitian ... 31
J. Organisasi Pelaporan ... 31
BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 33
A. Pasar Modal Indonesia ... 33
1. Pendahuluan ... 33
2. Sejarah Pasar Modal di Indonesia ... 33
B. Sejarah Perusahaan Perbankan ... 41
BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 53
A. Deskripsi Data ... 53
B. Analisis Data ... 56
C. Pembahasan ... 66
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 70
A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 70
C. Keterbatasan penelitian ... 71
DAFTAR PUSTAKA... 72
LAMPIRAN ... 74
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel V.1 : Nama perusahaan sampel penelitian ... 54
Tabel V.2 : Deskripsi data HPS... 55
Tabel V.3 : Deskripsi data HPS... 56
Tabel V.4 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2002 ... 57
Tabel V.5 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2003 ... 58
Tabel V.6 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2003 ... 60
Tabel V.7 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2004 ... 60
Tabel V.8 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2004 ... 62
Tabel V.9 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2005 ... 62
Tabel V.10 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2005 ... 64
Tabel V.11 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2006 ... 64
Tabel V.12 : Hasil analisis koefisien determinasi tahun 2006 ... 66
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2002
Lampiran 2 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2003
Lampiran 3 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2004
Lampran 4 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2005
Lampiran 5 : Hasil analisis regresi linier sederhana tahun 2006
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia bisnis saat ini semakin sulit diekspektasi. Hal ini terkait dengan adanya pengaruh global, krisis yang melanda Indonesia akhir-akhir ini serta tantangan yang dihadapi juga semakin berat sehingga ini menyebabkan prospek perusahaan menjadi semakin tidak jelas (Uncertainly). Keadaan seperti ini mendorong seseorang untuk melakukan suatu investasi. Selain itu, faktor lain yang mendorong seseorang melakukan investasi adalah karena sifat manusia yang selalu menginginkan uang lebih. Seseorang melakukan investasi karena mereka menginginkan kebebasan finansial, keamanan dan kemampuan untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan dalam hidupnya.
Diperlukan serangkaian proses yang panjang sebelum melakukan investasi agar investasi tersebut tepat sasaran yang disebut proses investasi. Proses investasi tersebut menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi pada efek-efek yang dapat dipasarkan, dan kapan dilakukan. Proses investasi tersebut mencakup beberapa tahap yaitu : Menentukan tujuan investasi, melakukan analisis (meliputi 2 pendekatan yaitu :pendekatan fundamental dan pendekatan teknikal), membentuk portofolio, mengevaluasi kinerja portofolio, dan merevisi kinerja portofolio.
Penelitian ini akan membahas lebih lanjut mengenai investasi saham. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam bentuk saham yang perlu ditelaah ulang adalah tingkat risiko yang terkandung (high risk) apakah sesuai dengan tingkat risiko yang bisa ditanggungnya atau tidak. Artinya investor harus mampu mengenali tingkat risikonya dan baru dapat mengambil keputusan.
perusahaan semakin meningkat baik ditinjau dari sudut internal perusahaan maupun pihak-pihak diluar perusahaan.
Untuk berhasil mencapai tujuannya, investor saham harus selalu mengikuti perkembangan pasar modal dan juga harus jeli memilih saham mana yang prospek masa depannya cerah sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi. Informasi tersebut dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan. Akhirnya harga saham cenderung mengikuti naik turunnya besarnya dividen yang dibayarkan (Abdul halim, 2005:21).
Berdasarkan analisis tersebut, maka penulis mengambil judul
“Pengaruh Dividen per Lembar Saham (Dividend Per Share, DPS) terhadap Harga Pasar Saham (HPS) Industri Perbankan”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Apakah besarnya dividen per lembar saham
(Dividend per Share) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan?
C. Batasan Masalah
Penulis membatasi penelitian ruang lingkup permasalahannya pada: 1. Harga saham yang akan digunakan adalah harga saham saat penutupan
2. Dividen yang akan diteliti hanya dividen tunai dari pemegang saham biasa yaitu dividen per lembar saham.
D. Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui apakah besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan.
E. Manfaat Penelitian. 1. Bagi Investor:
Dapat membantu para investor/calon investor saham dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.
2. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dalam bidang investasi khususnya investasi saham di pasar modal.
3. Bagi Universitas Sanata Dharma
Dapat memperkaya referensi kepustakaan penelitian dibidang manajemen keuangan khususnya dalam analisis factor-faktor yang
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pasar Modal
Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan akan memerlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak bisa hanya mengandalkan sumber dari pemerintah saja, partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk ikut aktif melalui keikutsertaan dalam usaha menggerakkan perekonomian. Mengingat bahwa sektor swasta dalam menyediakan dana untuk pembangunan yang cukup besar menuntut digalakkannya pengerahan dana masyarakat baik melalui peranan perbankan maupun pengembangan pasar modal. Dengan potensinya yang semakin besar untuk memobilisasi dana, pasar modal memiliki arti yang strategis bagi pembangunan perekonomian nasional. Melihat perkembangan pasar modal yang dikaitkan dengan pengaruh global, krisis yang melanda Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi semakin berat dan prospek perusahaan yang semakin tidak jelas (Uncertainly), secara langsung mempengaruhi perilaku pemodal dan kinerja emiten.
1. Pengertian Pasar modal
dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual beli sekuritas disebut bursa efek. Menurut Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
2. Peran pasar modal
Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu Negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal berfungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu dua pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Sedangkan fungsi keuangan pasar modal adalah memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Secara umum, manfaat keberadaan pasar modal adalah:
o Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
o Memberikan wahana investasi yang beragam bagi investor sehingga
memungkinkan untuk melakukan diversifikasi.
o Menyediakan leading indicator bagi perkembangan perekonomian
suatu Negara.
o Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat
menengah.
o Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme
menciptakan iklim berusaha yang sehat serta mendorong pemanfaatan manajemen professional.
Sebagai salah satu instrumen perekonomian, maka pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan ekonomi mikro yaitu peristiwa atau keadaan para emiten, seperti laporan kinerja, pembagian dividen, perubahan strategis dalam rapat umum pemegang saham, akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di pasar modal.
Selain lingkungan ekonomi mikro, perubahan lingkungan yang dimotori oleh kebijakan-kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan, akan pula mempengaruhi gejolak di pasar modal.
B. Saham
1. Pengertian Saham
Secara umum saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas. Menurut Eduardus Tandelilin (2001:18) saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup populer diperjualbelikan di pasar modal. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Jika sebuah perusahaan menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat luas atau publik maka perusahaan tersebut dikatakan go public atau telah menjadi perusahaan publik, dalam arti kepemilikan atas perusahaan tersebut tidak hanya dimiliki sekelompok orang (atau orang-orang yang mendirikan perusahaan tersebut), namun kepemilikannya telah menyebar ke banyak pihak (Saleh Basir dan Hendy M. Fakhrudin, 2005:11)
2. Jenis-jenis saham
Menurut Jogiyanto (2003:67) saham dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: 1) Saham Preferen
klaim pemegang obligasi (bond). Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu hak atas dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi likuidasi. Oleh karena itu, saham preferen mempunyai karakteristik ditengah-tengah antara bond dan saham biasa.
a) Karakteristik Saham Preferen
Beberapa karakteristik dari saham preferen adalah sebagai berikut 1. Preferen terhadap Dividen.
a. Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima dividen terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa.
b. Saham preferen juga umumnya memberikan hak dividen kumulatip, yaitu memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerima dividennya. Jika saham preferen disebutkan memberikan hak dividen kumulatip, maka dividen-dividen tahun sebelumnya yang belum dibayarkan disebut dengan dividends in arrears. Nilai dari dividend in arrears ini harus diungkapkan
Hal ini mungkin saja terjadi jika perusahaan mengalami kerugian atau tidak mempunyai cukup kas untuk membayarnya. Akan tetapi, perusahaan akan berpikir dua kali untuk tidak memenuhi kewajibannya membayar dividen preferen. Sekali perusahaan tidak memenuhi kewajiban ini, maka pasar akan memasukkannya ke dalam daftar hitam.
2. Preferen Pada Waktu Likuidasi.
Saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat kumulatip. Karena karakteristik ini, investor umumnya menganggap saham preferen lebih kecil risikonya dibandingkan dengan saham biasa. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan bond, saham preferen dianggap lebih berisiko, karena klaim dari pemegang saham preferen dibawah klaim dari pemegang bond.
b) Macam Saham Preferen
Macam dari saham preferen ini diantaranya adalah : 1. Confertible Preferred Stock.
penukaran yang sudah ditentukan. Saham preferen semacam ini disebut dengan convertible preferred stock.
2. Callable Preferred Stock.
Bentuk lain dari saham preferen adalah memberikan hak kepada perusahaan yang mengeluarkan untuk membeli kembali saham ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa mendatang dengan nilai yang tertentu. Harga tebusan ini biasanya lebih tinggi dari nilai nominal sahamnya.
3. Floating atau Adjusable-rate Preferred Stock (ARP).
Saham preferen ini merupakan saham inovasi baru di Amerika Serikat yang dikenalkan pada tahun 1982. saham preferen ini tidak membayar dividen secara tetap, tetapi tingkat dividen yang dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas t-bill (treasury bill). Saham preferen tipe baru ini cukup populer sebagai investasi jangka pendek untuk investor yang mempunyai kelebihan kas.
2)Saham biasa
Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock). Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan.
1. Hak Kontrol.
Adalah hak pemegang saham biasa untuk memilih pimpinan perusahaan.
2. Hak Menerima Pembagian Keuntungan.
Adalah hak pemegang saham biasa untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
3. Hak Preemptive.
Adalah hak untuk mendapatkan persentasi kepemilikan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk tujuan melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama dan melindungi harga saham lama dari kemerosotan nilai.
3)Saham Treasuri
Saham treasuri (treasury stock) adalah saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali.
C. Penilaian saham
1. Pendekatan Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik suatu saham adalah harga yang dibenarkan untuknya apabila mempertimbangkan factor-faktor dasar nilai tersebut. Dalam hal ini nilai sesungguhnya berbeda dengan harga pasar. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi nilai intrinsik, yaitu:
1) Nilai aktiva perusahaan. Aktiva-aktiva fisik yang dimiliki suatu perusahaan memiliki nilai pasar. Aktiva-aktiva ini dapat dilikuidasi untuk membayar kembali kepada kreditur dan untuk dibagikan kepada pemegang saham.
2) Kemungkinan bakal pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang. Faktor-faktor seperti pendapatan, dividen dan aliran kas masa mendatang akan mempengaruhi nilai sekarang dari saham.
3) Kemungkinan pertumbuhan masa depan. Prospek perusahaan akan pertumbuhan masa depan mempengaruhi nilai intrinsik saham.
Analisis nilai intrinsik
2. Pendekatan Nilai Pasar
Teknik penilaian ini mempertimbangkan suatu harga saham individual dibandingkan dengan indicator-indikator lain di pasar saham. Jika seorang analis yakin bahwa suatu saham adalah lebih berharga menurut harga pasar daripada harga yang diminta, maka pembelian saham itu dapat direkomendasi.
Menurut Abdul halim dan Sarwoko (1995:7) ada 4 aspek yang dapat mempengaruhi nilai suatu saham di pasar, yaitu:
1) Pengaruh Pendapatan
Baik pendapatan-pendapatan yang dilaporkan maupun ramalan pendapatan-pendapatan membantu para investor dalam memperkirakan atau meramalkan arus dividen di masa mendatang. Pengamatan sederhana dari pasar surat berharga akan dengan cepat menegaskan bahwa pendapatan merupakan penentu dari harga saham.
2) Pengaruh Dividen
3) Pengaruh Aliran Kas
Aliran kas adalah pendapatan sesudah pajak ditambah dengan beban-beban non kas, khususnya depresiasi. Investor yang serius tentu ingin memeriksa aliran kas dari perusahaan dengan hati-hati, karena hasil dari suatu analisis mungkin memberikan suatu wawasan yang berharga terhadap profitabilitas perusahaan itu.
4) Pengaruh Pertumbuhan
Perkembangan laba umumnya digunakan sebagai ukuran oleh lembaga-lembaga keuangan dan para pemegang saham. Mereka melihat sejauh mana perusahaan mampu mengubah pertumbuhan penjualan dan kegiatan operasinya kedalam kenaikan penghasilan bagi pemegang saham. Pertumbuhan keuntungan secara normal diukur melalui kenaikan pendapatan per lembar saham (EPS).
D. Dividen
saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21).
Pembayaran dividen pada hakikatnya merupakan komunikasi secara tidak langsung kepada para pemegang saham tentang tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan.
1. Jenis-jenis Dividen
Dividen dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:
1) Dividen tunai (cash dividend), yaitu dividen yang dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk kas (tunai).
2) Dividen saham (stock dividend), yaitu dividen yang dibagi bukan dalam bentuk tunai melainkan dalam bentuk saham perusahaan tersebut. 3) Dividen property (property dividend), yaitu dividen yang dibagikan
dalam bentuk aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva tetap dan surat-surat berharga.
2. Kebijakan dividen
Menurut Abdul Halim (2003:92), sampai saat ini terdapat kontroversi tentang dividen yang seharusnya dibayarkan, yaitu:
1) Dividen seharusnya dibayarkan setinggi-tingginya.
Pihak yang menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan setinggi-tingginya, beranggapan bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Bagi investor, jumlah rupiah yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil daripada keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen lebih dapat diperkirakan sebelumnya dibanding capital gain. Oleh karena itu, pembayaran dividen yang tinggi dianggap perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang baik, begitu sebaliknya.
Di samping itu, pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik pada perusahaan. Hal ini disebabkan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar merupakan informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, penurunan dividen dapat menyebabkan banyaknya pemegang saham menjual saham yang dimilikinya sehingga harga saham menjadi turun.
Pihak yang lain menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan serendah mungkin dan bila perlu tidak dibayarkan sehingga perusahaan memiliki laba ditahan setinggi-tingginya. Anggapan ini berdasarkan pada kenyataan adanya biaya mengambang (floatation cost) dan tarif pajak dividen yang lebih besar daripada tarif pajak capital gain. Kesempatan investasi yang menguntungkan apabila dibiayai dengan laba ditahan berarti merupakan penghematan
floatation cost bagi perusahaan sehingga dalam periode berikutnya dapat meningkatkan besar dividen yang dibayarkan. Investasi yang menguntungkan dapat meningkatkan harga saham sehingga pemegang saham akan mendapatkan capital gain.
3) Dividen seharusnya dibayarkan setelah semua kesempatan investasi yang memenuhi persyaratan didanai.
para pemegang saham menafsirkan bahwa kenaikan atau penurunan pembayaran dividen menggambarkan membaik atau memburuknya prospek perusahaan. Oleh karena itu perusahaan enggan mengambil keputusan penurunan pembayaran dividen sebab harga saham akan naik atau turun jika terjadi peningkatan atau penurunan pembayaran dividen yang tidak diharapkan.
3. Factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
Menurut Chaerul D. Djakman dan Dwi Sulistyorini (2000:621) Pertimbangan yang mempengaruhi keputusan dividen suatu perusahaan antaralain sebagai berikut:
1) Pembatasan hukum
Pembatasan hukum tertentu bisa membatasi jumlah dividen yang bisa dibayarkan perusahaan. Batasan hukum ini ada 2 kategori yaitu:
a) Statutory restrictions (pembatasan menurut UU)
Biasanya perusahaan tak membayar dividen: (1) jika kewajiban perusahaan melebihi asetnya, (2) jika jumlah dividen melebihi akumulasi laba (laba ditahan), dan (3) jika dividen dibayarkan dari modal yang diinvestasikan dalam perusahaan.
2) Posisi likuiditas
Oleh karena dividen dibayarkan dengan kas, dan tidak dengan laba ditahan, perusahaan harus memiliki kas tersedia untuk pembayaran dividen. Maka, posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh pada kemampuannya membayar dividen.
3) Tak adanya atau kurangnya sumber pendanaan lain
Perusahaan mempunyai 2 pilihan yaitu: (1) menahan laba untuk tujuan investasi, atau (2) membayar dividen dan menerbitkan utang baru atau sekuritas modal untuk mendanai investasi. Untuk perusahaan kecil atau baru, pilihan kedua ini tak realistis. Perusahaan ini tak memiliki akses ke pasar modal, jadi mereka harus sangat bergantung pada dana internal. Sebagai akibatnya, rasio pembayaran dividen biasanya jauh lebih rendah untuk perusahaan kecil atau baru darioada perusahaan besar milik publik.
4) Kemungkinan pendapatan diramalkan
stabil biasanya akan membayar bagian yang besar dari pendapatannya dalam bentuk dividen. Perusahaan ini tak terlalu memikirkan ketersediaan laba untuk memenuhi kebutuhan modal di masa depan. 5) Kontrol pemilikan
Bagi perusahaan kecil dan menengah mempertahankan kontrol suara merupakan prioritas utama. Jika pemegang saham yang sekarang tak bisa berpartisipasi dalam penawaran baru, menerbitkan saham baru tak menarik, dalam arti bahwa kontrol pemegang saham yang sekarang tak berarti. Pemilik mungkin lebih suka manajemen mendanai investasi baru dengan utang dan melalui laba daripada melalui penerbitan saham biasa baru. Pertumbuhan perusahaan ini karenanya dibatasi dengan jumlah modal utang yang tersedia dan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
6) Inflasi
Dalam periode inflasi, idealnya, setelah aset tetap rusak dan usang, dana yang dihasilkan dari depresiasi digunakan untuk mendanai penggantian. Karena harga peralatan pengganti terus naik, dana depresiasi tak cukup. Ini membutuhkan retensi laba yang lebih besar, yang berarti bahwa dividen harus terpengaruh secara tak menguntungkan.
E. Kerangka Pemikiran
Bagan 2.1 Kerangka pemikiran
Dari bagan diatas dividen per lembar saham (Dividend per share, DPS) adalah sebagai variable independen, sedangkan variable dependennya adalah harga saham dari industri yang akan diteliti yaitu industri perbankan. Harga pasar saham adalah harga saham yang berlaku untuk suatu perusahaan. Harga saham, yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham biasa (closing price) akhir tahun yang tercatat pada laporan keuangan. Dividen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham tiap tahunnya yang juga tercatat pada laporan keuangan tahunan perusahaan. Pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayar dapat menjadi informasi yang kurang baik bagi perusahaan karena dividen merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang dibayar sebagai informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang. Dengan anggapan tersebut, harga saham akan menjadi turun, karena banyak pemegang saham akan menjual sahamnya (Abdul Halim, 2003:21). Dapat disimpulkan bahwa jika dividen per lembar saham yang dibagikan kepada para pemegang saham naik, maka harga saham juga naik, hal ini akan membuat para investor saham akan lebih mempertimbangkan DPS dalam mengambil keputusan investasi.
F. Hipotesis
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah studi kasus yaitu penelitian tentang obyek tertentu dari sampel yang hasilnya hanya berlaku pada obyek yang diteliti yaitu pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.
B Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian : Bulan Agustus-November 2007 Lokasi penelitian : Pojok BEI USD, UII dan UGM
C Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek Penelitian : Bank-bank yang terdaftar dan sahamnya masih aktif dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia yang pernah membagikan dividen selama periode penelitian.
Obyek penelitian : Harga pasar saham, dividen per lembar saham, yang berlaku selama periode penelitian.
D Identifikasi Variabel
• Variabel independen (X): Dividen per lembar saham yaitu dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham. Informasi ini dapat dilihat dalam laporan keuangan tahunan.
• Variabel dependen (Y) yaitu harga pasar saham dari perusahaan perbankan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
E Pengukuran Variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian ini adalah: 1. Harga pasar saham adalah harga saham closing price yang berlaku untuk
suatu perusahaan. Besarnya harga pasar saham dihitung dalam satuan rupiah per lembar saham.
2. Dividen per lembar saham adalah besarnya dividen tunai yang dibagi oleh suatu perusahaan pada tahun t. Besarnya dividen per lembar saham dihitung dalam satuan rupiah per lembar saham.
F Data
Directory) tahun 2005 dan tahun 2006 yang terdapat di Pojok BEI. Data laporan keuangan yang diteliti adalah laporan akhir tahun yang dilaporkan oleh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Data yang dapat diperoleh dari laporan keuangan tersebut antara lain: dividen per lembar saham dan harga saham perusahaan selama tahun 2002-2006.
G Pengumpulan Data 1. Populasi
Populasi adalah ruang lingkup atau besaran karakteristik dari seluruh objek yang diteliti. Dalam penelitian ini yang dimaksud populasi adalah semua perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Sampel
Sampel adalah besaran karakteristik (tertentu) dari sebagian populasi yang memiliki karakteristik sama dengan populasi. Dalam penelitian ini sampel yang akan digunakan adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI selama periode penelitian dan telah memenuhi kriteria penelitian.
3. Teknik pengambilan sampel
a) Perusahaan yang di pilih adalah perusahaan yang termasuk industri keuangan khususnya perbankan yang sahamnya masih aktif selama periode penelitian.
b) Perusahaan membagikan dividen tunai selama periode penelitian kepada para pemegang saham.
c) Perusahaan menerbitkan laporan keuangan tahunan. 4. Jumlah sampel
Dari kriteria tersebut terdapat 15 perusahaan perbankan yang terpilih menjadi sampel penelitian.
5. Metode pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pencatatan langsung data sekunder yang diperoleh dari BEI.
H Teknik Analisis Data
a. Seluruh data masing-masing perusahaan selama 5 tahun disusun dalam format tabel sebagai berikut :
No Nama Perusahaan
Harga saham (Rp/Lbr) Dividen per lembar saham (Rp/Lbr)
1 PT Bank “A” X X
2 PT Bank “B” X X
n PT Bank “n” X X
Selanjutnya dengan menggunakan bantuan program SPSS 12 for windows data tersebut akan diolah dan dianalisis untuk mendapatkan output sebagai berikut:
Koefisien determinasi (R2) adalah ukuran untuk mengetahui kesesuaian/ketepatan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dalam suatu persamaan regresi. Dengan kata lain, koefisien determinasi menunjukkan kemampuan X yang merupakan variabel bebas menerangkan atau menjelaskan variable Y yang merupakan variabel tidak bebas.
Analisis regresi sederhana
Bentuk persamaan regresi sederhana adalah :
Y= a + bX
Keterangan :
Y : harga pasar saham X : dividen per lembar saham a : konstanta
b : koefisien arah regresi
b. Menguji hipotesis permasalahan dengan langkah-langkah berikut : i. Menentukan Ho dan Ha :
Ho: b1 ≤ 0, Besarnya dividen per lembar saham tidak berpengaruh
positif dan tidak signifikan terhadap harga pasar saham.
Ha: b1 > 0, Besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif
dan signifikan terhadap harga pasar saham. ii. Menentukan level of significance
( )
αDalam penelitian ini menggunakan taraf nyata 5% dengan jumlah sampel (n) =15, maka nilai t tabel dapat ditentukan :
iii.Menentukan kriteria pengujian dengan 1 sisi
Gambar 3.1
Dasar penerimaan hipotesis adalah dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Ho diterima jika t hitung berada < 1,761 dan Ho ditolak jika t hitung > 1,761.
Daerah penolakan Ho Daerah
penerimaan Ho
+1,761
iv. Kesimpulan
Membandingkan t hitung dengan t tabel, dengan kriteria : Ho diterima jika t hitung < t tabel
Ho ditolak jika t hitung > t tabel Ho diterima jika sig > α
I Jadwal Penelitian
Bimbingan draft dengan
Dosen pembimbing
J Organisasi Pelaporan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
BAB II : LANDASAN TEORI
Bab ini berisi teori sebagai landasan penelitian dilakukan. BAB III : METODE PENELITIAN
BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Bab ini berisi tentang penjelasan singkat pasar modal dan perusahaan perbankan yang dijadikan sampel penelitian.
BAB V : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi deskripsi data, analisis data serta pembahasan terhadap permasalahan penelitian.
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dari analisis data dan pembahasan masalah, saran-saran yang diberikan oleh penulis serta keterbatasan dalam penelitian.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Pasar Modal Indonesia 1. Pendahuluan
Bursa efek (pasar modal) yang terbesar di Indonesia adalah Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang juga dikenal dengan nama asingnya sebagai Jakarta
Stock Exchange (JSX). Sekuritas yang diperdagangkan di BEJ adalah saham preferen, saham biasa, dan obligasi konvertibel (Saham biasa mendominasi
volume transaksi di BEJ). Bursa efek terbesar setelah BEJ adalah Bursa Efek
Surabaya (BES) atau Surabaya Stock Exchange (SSX). Sekuritas yang
diperdagangkan di BEJ juga diperdagangkan di SSX.
2. Sejarah Pasar Modal di Indonesia
Sejarah pasar modal di Indonesia dapat dibagi menjadi enam periode;
yaitu
1) Periode Pertama (1912- 1942) : Periode Jaman Belanda.
Pada tanggal 14 Desember 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di
Jakarta. Asosiasi ini diberi nama Belandanya sebagai “Vereniging voor
Effectenhandel” yang merupakan cikal bakal pasar modal pertama di Indonesia. Setelah perang dunia I, pasar modal di Surabaya mendapat giliran
Agustus 1925. Karena masih dalam jaman penjajahan Belanda dan pasar-pasar
modal ini juga didirikan oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang
diperdagangkan disana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan
afiliasinya yang tergabung dalam Dutch East Indies Trading Agencies.
pasar modal ini beroperasi sampai kedatangan Jepang di Indonesia sampai
kedatangan Jepang di Indonesia di tahun 1942.
2) Periode Kedua (1952 – 1960) : Periode Orde Lama.
Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September
1951 dikeluarkan Undang-Undang Darurat No. 15/1952 tentang pasar modal.
Juga melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 289737/U.U. tanggal 1
Nopember 1951, Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya dibuka kembali pada
tanggal 3 Juni 1952.
Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi
pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan
yang lain adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang
dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari ke luar negeri.
Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan ke Perserikatan
Perdagangan Uang dan efek-efek (P.P.U.E) yang terdiri dari 3 bank dengan
Bank Indonesia sebagai anggota kehormatan. Bursa efek ini berkembang
dengan cukup baik walaupun surat berharga yang diperdagangkan umumnya
adalah obligasi oleh perusahaan belanda dan obligasi pemerintah Indonesia
dengan dikeluarkannya obligasi pemerintah melalui Bank Industri Negara di
tahun 1954, 1955, dan 1956. karena adanya sengketa antara Pemerintah RI
dengan Belanda mengenai Irian Barat, semua bisnis Belanda dinasionalkan
melalui Undang-Undang Nasionalisasi No. 86 tahun 1958. Sengketa ini
mengakibatkan larinya modfal Belanda dari tanah Indonesia. Akibatnya mulai
tahun 1960, sekuritas-sekuritas perusahaan Belanda sudah tidak
diperdagangkan lagi di Bursa Efek Jakarta semakin menurun.
3) Periode Ketiga (1977 – 1988) : Periode Orde Baru.
Bursa Efek Jakarta dikatakan lahir kembali pada tahun 1977 dalam
periode orde baru sebagai hasil dari Keputusan Presiden No. 52 tahun 1976.
keputusan ini menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan
Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM) dan PT Danareksa. Presiden Suharto
meresmikan kembali Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 10 Agustus 1977.
PT Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yang disetujui pada
tanggal 6 Juni 1977. Pada saat tercatat pertama kali di bursa tanggal 10
Agustus 1977, sebanyak 178.750 lembar saham ditawarkan dengan harga Rp
10.000; per lembar.
Periode ini disebut juga dengan periode tidur panjang, karena sampai
dengan tahun 1988 hanya sedikit perusahaan yang tercatat di BEJ, yaitu hanya
24 perusahaan saja. Kurang menariknya pasar modal pada periode ini dari segi
deposito, sedang penerimaan dividen dikenakan pajak penghasilan sebesar
15%.
4) Periode Keempat (1988 – 1995) : Periode Bangun dari Tidur yang
Panjang
Sejak diaktifkan kembali pada tahun 1977 sampai tahun 1988 BEJ
dikatakan dalam keadaan tidur yang panjang selama 11 tahun. Sebelum tahun
1988 hanya terdapat 24 perusahaan yang terdaftar di BEJ. Setelah tahun 1988,
selama 3 tahun saja, yaitu sampai tahun 1990, jumlah perusahaan yang
terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 127. Sampai dengan tahun 1996
jumlah perusahaan yang terdaftar menjadi 238. Pada periode ini, Initial Public
Offering (IPO) menjadi peristiwa nasional.
Peningkatan di pasar modal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai
berikut :
1. Permintaan dari investor asing.
Investor asing melihat bahwa pasar modal di Indonesia telah
maju dengan pesat pada periode ini dan mempunyai prospek yang
baik. Investor asing tertarik dengan pasar modal Indonesia karena
dianggap sebagai pasar yang menguntungkan untuk diversifikasi
secara internasional. Investor asing dibatasi pemilikannya sampai
dengan 49% dari sekuritas yang terdaftar di bursa. Sampai dengan
sebanyak 7,06 milyard lembar atau sekitar 29,61% dari semua
sekuritas yang terdaftar.
2. Pakto 88.
Pakto 88 merupakan reformasi tanggal 27 Oktober 1988 yang
dikeluarkan untuk merangsang ekspor non-migas, meningkatkan
efisiensi dari bank komersial, membuat kebijaksanaan moneter lebih
efektif, meningkatkan simpanan domestik dan meningkatkan pasar
modal. Salah satu hasil dari reformasi Pakto 88 adalah mengurangi
reserve requirement dari bank-bank deposito. Akibat dari reformasi ini adalah pelepasan dana sebesar Rp 4 triliun dari Bank Indonesia ke
sector keuangan. Akibat lebih lanjut adalah masyarakat mempunyai
cukup dana untuk bermain di pasar saham.
3. Perubahan generasi.
Perubahan kultur bisnis terjadi di periode ini, yaitu dari kultur
bisnis keluarga tertutup ke kultur bisnis profesional yang terbuka yang
memungkinan profesional dari luar keluarga untuk duduk di kursi
kepemimpinan perusahaan. Pergeseran ini terjadi karena perubahan
generasi dari yang tua ke yang muda. Generasi muda umumnya
mendapat pendidikan di barat yang mengakibatkan mereka
mempunyai pandangan berbeda dengan pendahulunya. Perubahan
faktor perkembangan pasar modal, yaitu dengan mulai banyaknya
perusahaan keluarga yang go public.
Periode ini juga dicatat sebagai periode kebangkitan dari Bursa
Efek Surabaya (BES). Bursa Efek Surabaya dilahirkan kembali pada
tanggal 16 Juni 1989. Pada awalnya, BES hanya mempunyai 25 saham
dan 23 obligasi yang diperdagangkan.
5) Periode Kelima (Mulai 1995): Periode Otomatisasi
Karena peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah
melebihi kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk
mengotomatisasi kegiatan transaksi di bursa.
Jakarta Automated Trading System (JATS)
Jakarta Automated Trading System (JATS) adalah sistem
otomatisasi menggunakan jaringan komputer yang digunakan oleh broker
untuk perdagangan sekuritas di Bursa Efek Jakarta. JATS mulai
dioperasikan pada hari Senin tanggal 22 Mei 1995. Sistem manual hanya
mampu menangani sebanyak 3.800 transaksi tiap harinya. Dengan JATS,
sistem ini mampu menangani sebanyak 50.000 transaksi tiap harinya.
Sasaran penerapan sistem JATS ini adalah :
1. Meningkatkan kapasitas untuk mengantisipasi pertumbuhan pasar yang
2. Meningkatkan integritas (keterkaitan satu pihak dengan pihak yang
lainnya) dan likuiditas (kecepatan transaksi sekuritas diselesaikan).
3. Meningkatkan pamor pasar moadal kita dengan meletakkan BEJ setara
dengan pasar-pasar modal lain di dunia. JATS dianggap sebagai salah satu
sistem komputer pasar modal yang tercanggih di dunia.
6) Periode keenam (Mulai Agustus 1997): Krisis Moneter.
Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda
negara-negara Asia termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan
Singapura. Krisis moneter yang terjadi ini dimulai dari penurunan
nilai-nilai mata uang. Penurunan nilai-nilai mata uang ini disebabkan karena
spekulasi dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat
terhadap nilai mata uang negaranya sendiri dan kurang kuatnya pondasi
perekonomian.
Untuk mencegah permintaan dolar Amerika yang berlebihan
yang mengakibatkan nilainya meningkat dan menurunkan nilai Rupiah,
Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Diharapkan dengan suku bunga deposito yang tinggi, pemilik modal akan
mengurangi permintaan terhadap dolar.
Tingginya suku bunga deposito berakibat negative terhadap
pasar modal. Investor tidak lagi tertarik untuk menanamkan dananya di
dengan pendapatan dari bunga deposito. Akibat lebih lanjut, harga-harga
saham di pasar modal mengalami penurunan yang drastis. IHSG sejak
bulan Agustus sampai akhir tahun 1997 selalu menurun. Periode ini dapat
dikatakan sebagai ujian terberat yang dialami oleh pasar modal Indonesia.
Untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang bergejolak ini,
pemerintah pada hari Sabtu tanggal 1 November 1997 mengumumkan
melikuidasi 16 bank swasta nasional. Pengumuman yang cukup
mengejutkan ini tidak banyak membantu memperbaiki lesunya pasar
saham.
3. BAPEPAM
Untuk melindungi investor dari praktek-praktek tidak sehat di
pasar saham, pasar ini perlu diregulasi untuk kepentingan publik. Untuk
itu, pada tahun 1976, melalui Keputusan Presiden, departemen keuangan
Indonesia mendirikan Badan Pelaksana Pasar modal (BAPEPAM).
Peranan BAPEPAM pada saat itu adalah untuk melaksanakan jalannya
kegiatan pasar modal dan juga meregulasinya. Kedua peranan ini, yaitu
melaksanakan dan meregulasi dianggap menimbulkan konflik, karena
badan ini dianggap meregulasi pelaksanaan dirinya sendiri. Oleh karena
itu, pada tahun 1990 melalui Keputusan Presiden No. 53 tahun 1990
merubah BAPEPAM sebagai Badan Pengawas Pasar Modal yang
semua bursa-bursa pasar modal yang ada di Indonesia dan pengawas
jalannya pasar modal.
4.Prosedur pendaftaran sekuritas di BEJ
Sebuah perusahaan yang akan going public dapat mengikuti prosedur yang terdiri dari 3 tahapan utama, yaitu :
Persiapan untuk going public
Registrasi di BAPEPAM
Pecatatan di bursa
B. Sejarah perusahaan Perbankan
1. PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk
Bank Arta Niaga Kencana didirikan di Surabaya tanggal 18 September
1969. Bank ANK semula bernama PT. Bank Surabaja Djaja. Memperoleh ijin
dari Menteri Keuangan untuk beroperasi sebagai Bank Umum sesuai SK
No.D.15.6.8.4 tanggal 15 Desember 1969. Seiring dengan perjalanan waktu dan
perkembangan usaha yang semakin meningkat, maka sejak 10 April 1984
nama tersebut berganti menjadi PT. Bank Arta Niaga Kencana dengan nama
sebutan Bank ”ANK”.
Bank ANK mampu meningkatkan statusnya menjadi Bank Devisa dan
mendapatkan ijin dari Bank Indonesia sebagai Bank Devisa sesuai SK
Untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah dan berusaha agar
dapat bersaing dengan Bank lain, maka sejak tanggal 19 April 2004 dengan
meningkatkan sistem teknologi informasi, Bank ANK telah on-line untuk semua
jaringan kantor termasuk ATM.
Beberapa hal yang perlu dicatat dalam sejarah berlangsungnya
operasional Bank ANK, yaitu :
-
-
-
Pertama :
Berdasarkan hasil penilaian/due diligence Bank Indonesia dan Auditor
Internasional yaitu Price Waterhouse Cooper, Bank ANK berhasil
dikelompokkan dalam kategori "A", karena Capital Adequacy Ratio (CAR)
Bank ANK diatas 4%.
Kedua :
Bank ANK berhasil dengan sukses mengatasi Masalah Komputer Akhir Tahun
2000.
Ketiga :
Pada tanggal 31 Maret 1999 Bank Indonesia telah melakukan fit and proper
test kepada Pengurus Bank ANK yaitu : Pemegang Saham, Direksi dan Komisaris.
2. PT. Bank Buana Indonesia Tbk
PT Bank Buana Indonesia Tbk didirikan pada tanggal 31 Agustus
1956 dan mulai beroperasi sebagai bank umum sejak tanggal 1 Nopember 1956.
Menerima penggabungan dengan PT Bank Pembinaan Nasional - Bandung pada
tahun 1972, PT Bank Kesejahteraan Masyarakat - Semarang
pada tahun 1974 dan PT Bank Aman Makmur - Jakarta pada tahun 1975.
Memperoleh izin sebagai bank devisa pada tahun 1976. Mendirikan
bank campuran dengan nama PT. Mitsubishi Buana Bank
pada tahun 1989 kemudian berganti nama menjadi PT. Bank DBS Buana
dan PT. DBS Buana Tat Lee Bank pada tahun 1990 kemudian berganti nama
menjadi PT Keppel TatLee Buana Bank. Bank ini memperoleh kategori "A" dari
BankIndonesia.
3. PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk
PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk didirikan pada tanggal 31 juli
1989, memperoleh ijin untuk beroperasi sebagai bank umum pada tanggal 4
Januari 1990. Perusahaan mendapatkan status sebagai bank devisa pada tanggal 5
4. PT. Bank Central Asia Tbk
BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama
Bank Central Asia NV. Krisis yang terjadi tahun 1997 membawa dampak yang
luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara
khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat
mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai
menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari
pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu
mengambil alih BCA di tahun 1998.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif,
BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998,
dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai
Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun.
Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA
diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.
5. PT. Bank Danamon Tbk.
Bank Danamon Indonesia didirikan pada tahun 1956 dengan nama PT
Bank Kopra Indonesia. Pada tahun 1976 nama bank ini berubah menjadi Bank
pertukaran mata uang asing di tahun 1976 dan tercatat sahamnya di bursa sejak
tahun 1989.
Pada tahun 1997, sebagai akibat dari krisis finansial di Asia, Bank
Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan akhirnya oleh pemerintah ditaruh di
bawah pengawasan BPPN atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dalam
bahasa Inggris lebih dikenal dengan nama IBRA) sebagai Bank yang diambil alih
(BTO - Bank Take Over). Pada tahun 1999, pemerintah melalui BPPN melakukan
rekapitalisasi Bank Danamon sebesar Rp 32 milyar dalam bentuk Surat Hutang
Pemerintah (Government Bonds). Pada tahun yang sama, beberapa bank BTO
akhirnya digabung menjadi satu dengan Bank Danamon sebagai salah satu bagian
dari rencana restrukturisasi BPPN.
Pada tahun 2000, Bank Danamon kembali melebarkan sayapnya
dengan menjadi bank utama dalam penggabungan 8 Bank BTO lainnya. Pada saat
inilah Bank Danamon mulai muncul sebagai salah satu pilar ekonomi di
Indonesia.
Pada 3 tahun berikutnya, Bank Danamon mengalami restrukturisasi
besar-besaran mulai dari bidang manajemen, sumber daya manusia, organisasi,
sistem informasi, anggaran dasar dan logo perusahaan. Usaha keras yang
dilakukan ini akhirnya berbuah hasil dalam membentuk pondasi dan infrastruktur
berdasarkan transparansi kerja, tanggung jawab kepada masyarakat, integritas
sebagai salah satu pilar ekonomi di Indonesia dan sikap professional dalam
menjalankan tugasnya sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia (atau lebih
dikenal dengan istilah TRIP).
Pada tahun 2003, Bank Danamon diambil alih mayoritas kepemilikan
sahamnya oleh konsorsium Asia Finance Indonesia --- di bawah kendali Temasek.
Dengan hadirnya manajemen baru, maka dicanangkanlah penata ulangan model
bisnis dan strategi usaha Bank Danamon dalam usahanya untuk terus melakukan
perubahan total dalam disain yang sudah dirancang untuk menjadikan Bank
Danamon sebagai salah satu bank nasional terkemuka di Indonesia dan bank
pemain utama di kawasan Asia.
6. PT. Bank Internasional Indonesia Tbk.
Bank Internasional Indonesia (BII) didirikan pada tahun 1959 dan
mulai menjadi bank devisa pada tahun 1988. pada tahun 1988, BII membuat IPO,
yaitu penawaran saham perusahaan untuk pertama kalinya.
Tahun 1997, Negara kita mengalami krisis ekonomi, BII memperoleh
kepercayaan dari bank pemerintah untuk berpartisipasi dalam program
7. PT. Bank Kesawan Tbk.
Bank Kesawan didirikan pada tanggal 28 April 1913 dengan nama
NV. Chunghwa Shangyeh Maatschappij (perusahaan perdagangan cina). Pada
tanggal 31 Maret 1962 perusahaan mengubah namanya menjadi PT. Bank
Chunghwa Shangyeh. Dan pada 10 Maret 1965 namanya diubah lagi menjadi PT.
Bank Kesawan.
8. PT. Bank Mandiri (persero) Tbk.
PT. Bank Mandiri (persero) Tbk, didirikan pada bulan oktober 1998.
Bank Mandiri merupakan hasil penggabungan empat bank milik pemerintah
yaitu: Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor dan Bank
Pembangunan Indonesia. Dengan usaha tersebut 17.500 karyawan Bank Mandiri
menyediakan layanan financial bagi 6 juta pelanggan individual dan lembaga
baik perusahaan yang berukuran kecil maupun sedang di Indonesia.
9. PT. Bank Mega Tbk.
Bank Mega adalah bank swasta nasional dengan 60 kantor cabang
yang online di seluruh Indonesia. Didirikan pada tahun 1969 di Surabaya. Pada tahun 1992 perusahaan berubah nama menjadi PT. Mega Bank dan berlokasi di
Jakarta. Pada tanggal 20 Januari 2000, perusahaan mengganti namanya menjadi
kategori “A” dan sebagai salah satu bank dengan pertumbuhan yang cepat di
daerah Asia Pasifik.
10.PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk.
Bank ini didirikan pada tanggal 5 Juli tahun 1946. Pada tanggal 25
November 1956 BNI mendaftarkan sahamnya di BEJ dan BES. Saat ini BNI
mempunyai 914 kantor cabang di Indonesia dan 5 di luar negeri. BNI juga
mempunyai unit perbankan syariah.
11.PT. Bank Niaga Tbk.
Bank Niaga adalah salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia. Bank ini didirikan pada tanggal 26 September 1955. Beberapa peristiwa penting
yang pernah dicapai bank ini antara lain : menjadi bank devisa di tahun 1974;
memulai program Pendidikan Eksekutif di tahun 1977; pada tahun 1987
memelopori penggunaan layanan ATM di Indonesia; mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1989; serta berhasil
mempertahankan posisi sebagai bank dengan layanan terbaik pada tahun 2001,
12.PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk.
PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk didirikan pada bulan januari
1972 dengan nama PT. Bank Pasar Karya Parahyangan. Pada bulan maret 1989
status bank ubah menjadi bank komersial bernama PT Bank Nusantara
Parahyangan. Karena kinerja BNP tumbuh dengan baik dan didukung oleh
keinginan manajemen untuk membagi saham umum, maka pada bulan oktober
2000 status BNP diubah dari perusahaan swasta menjadi perusahaan umum untuk
menambah pendapatan.
13.PT. Bank Pan Indonesia Tbk.
Panin Bank merupakan salah satu bank komersial utama di Indonesia.
Didirikan pada tahun 1971 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta tahun
1982 sebagai bank Go Public yang pertama.
Pemegang saham Panin Bank adalah ANZ Banking Group of
Australia (30%), Panin Life (45%) dan publik-domestik & internasional.
Per Desember 2006, Panin Bank tercatat sebagai bank ke-8 terbesar di
Indonesia dari segi total aset yang sebesar Rp 40,5 triliun, sedangkan dari segi
permodalan tercatat sebagai bank ke-5 terbesar yaitu sebesar Rp 7,5 triliun dan
Strategi usaha Panin Bank adalah fokus pada bisnis perbankan retail.
Panin Bank berhasil memposisikan diri sebagai salah satu bank utama yang unggul
dalam produk jasa konsumen dan komersial.
14.PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah
dengan nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank
Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia
(pribumi). Berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai
hari kelahiran BRI.
Pendiri Bank Rakyat Indonesia Raden Aria Wirjaatmadja Pada periode
setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946
Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di
Republik Indonesia. Adanya situasi perang mempertahankan kemerdekaan pada
tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai
aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama
menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41
tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan
peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM).
diintergrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan
Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan keluar Penpres No. 17 tahun 1965
tentang pembentukan Bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam
ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks
BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural,
sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor
(Exim).
Berdasarkan Undang No. 14 tahun 1967 tentang
Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang
Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank
Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular
dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank
Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan
Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI
sebagai Bank Umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-undang perbankan No. 7
tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah
menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang kepemilikannya masih 100%
15.PT. Bank Swadesi Tbk.
PT. Bank Swadesi Tbk didirikan di Surabaya pada bulan September
1968 sebagai PT. Bank Pasar Swadesi, secara resmi beroperasi sebagai bank
umum pada tanggal 2 September 1989. Pada tahun 1992 perusahaan membuka
bisnis penukaran mata uang. Pada tanggal 11 nopember 1994 secara resmi
beroperasi sebagai bank devisa.
BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A Deskripsi Data
Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dibagi atas 9 (sembilan) sektor usaha antara lain adalah sebagai berikut :
a. Sektor Usaha Primer (ekstraktif) meliputi:
1) Pertanian
2) Pertambangan
b. Sektor usaha sekunder (manufaktur) meliputi:
1) Industri dasar dan kimia
2) Aneka industri
3) Industri barang konsumsi
c. Sektor usaha tersier (jasa) meliputi:
1) Properti dan real estat
2) Infrastruktur, utilitas, dan transportasi
3) Keuangan
4) Perdagangan, jasa dan investasi
Sampel penelitian adalah perusahaan perbankan yang secara kategorial
masuk dalam sektor keuangan. Menurut data ICMD tahun 2005 terdapat 26 bank
dan menurut ICMD tahun 2006 terdapat 24 bank yang terdaftar di BEI. Dari 22
Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain harga saham pada
saat penutupan (closing price) dan data dividen per lembar saham (Dividend per
share) pada periode tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan tahun 2006. Data mengenai nama perusahaan ditunjukkan pada tabel V.1. Sedangkan tabel V.2
menunjukkan besarnya DPS yang dibagikan setiap perusahaan dan tabel V.3
menunjukkan besarnya HPS masing-masing perusahaan selama periode
penelitian.
Tabel V.1
Nama perusahaan sampel penelitian
No Nama Perusahaan
1 PT Bank Arta Niaga Kencana Tbk 2 PT Bank Buana Indonesia Tbk 3 PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk 4 PT Bank Central Asia Tbk
5 PT Bank Danamon Tbk
6 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 7 PT Bank Kesawan Tbk
8 PT Bank Mandiri (persero) Tbk 9 PT Bank Mega Tbk
10 PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk 11 PT Bank Niaga Tbk
12 PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk 13 PT Bank Pan Indonesia Tbk
Tabel V.2 Deskripsi data DPS
Tabel V.3 Deskripsi data HPS
No Nama Perusahaan 2002 2003 2004 2005 2006 10 PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk 110 1300 1675 1280 1870 11 PT Bank Niaga Tbk 35 35 460 405 920
Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Apakah
besarnya dividen per lembar saham (Dividend per Share, DPS) berpengaruh
positif dan signifikan terhadap harga pasar saham industri perbankan?”
Permasalahan ini dianalisis dengan menggunakan alat analisis regresi linear
sederhana.
Dalam penelitian ini variabel dependen adalah harga pasar saham
1) Tahun 2002
Tabel V.4
Hasil analisis regresi linier sederhana Tahun 2002
Coefficientsa
656.680 244.091 2.690 .019
1.914 9.212 .058 .208 .839
(Constant)
Dari tabel tersebut diperoleh suatu persamaan regresi linier sederhana
yaitu Y = 656,680 + 1,914 X. Persamaan tersebut berarti bila tidak ada
variabel DPS (DPS=0), maka harga pasar saham adalah Rp. 656,680 dengan
koefisien regresi sebesar 1,914.
Hipotesis penelitian ini adalah:
Ho: b≤ 0, Besarnya dividen per lembar saham tidak berpengaruh positif
dan tidak signifikan terhadap harga pasar saham.
Ha: b > 0, Besarnya dividen per lembar saham berpengaruh positif dan
signifikan terhadap harga pasar saham.
Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis dalam penelitian
ini adalah dengan membandingkan t hitung dengan t tabel dan berdasarkan
perbandingan nilai probabilitas dengan tingkat signifikansi ( ). Bila t hitung
< t tabel, maka Ho diterima dan t hitung > t tabel maka Ho ditolak. Sedangkan
bila sig > maka Ho diterima dan bila sig <
α