BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi perusahaan, sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi pihak manajemen Ramayana Department Store Medan, untuk mengetahui pengaruh diskon dalam menciptakan minat pembelian konsumen ke Ramayana tersebut yang pada akhirnya berguna bagi tujuan jangka panjang perusahaan, serta sebagai informasi yang dapat dijadikan dasar didalam strategi untuk mempengaruhi minat pembelian ulang konsumen.
2. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti disamping memberikan kontribusi pemikiran dalam bidang pemasaran, khususnya berkaitan dengan diskon, minat beli serta dampaknya pada keputusan pembelian.
3. Bagi Universitas Sumatera Utara, sebagai tambahaan kekayaan penelitian studi kasus untuk dapat dipergunakan dan dikembangkan bagi Program Studi Ilmu Admninistrasi Bisnis USU.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Perilaku Konsumen
2.1.1 Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami mengapa konsumen melakukan dan apa yang mereka lakukan. Schiffman dan Kanuk (2008:6) mengemukakan bahwa perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Konsumen memiliki keragaman yang menarik untuk dipelajari karena ia meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang budaya, pendidikan dan keadaan sosial ekonomi lainnya. Oleh karena itu, sangatlah penting penting untuk mempelajari bagaimana konsumen berperilaku dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku tersebut. Menurut Kotler dan Keller (2008:166) perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi, memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Dari dua pengertian tentang perilaku konsumen di atas dapat diperoleh dua hal penting, yaitu: (1) sebagai kegiatan fisik dan (2) sebagai proses pengambilan keputusan. Merajuk pada beberapa pengertian tentang perilaku konsumen, maka terlihat bahwa memahami perilaku konsumen bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena banyaknya variabel yang mempengaruhi dan variabel-variabel
tersebut saling berinteraksi. Perilaku konsumen merupakan proses yang kompleks dan multi dimensional.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas kegiatan mengevaluasi.
2.1.2 Model Perilaku Konsumen
Pemahaman terhadap perilaku konsumen bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, karena terdapat banyak faktor yang berpengaruh dan saling interaksi satu sama lainnya, sehingga pendekatan pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaaan harus benar-benar dirancang sebaik mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut. Selain itu, para pemasar harus mampu memahami konsumen, dan berusaha mempelajari bagaimana mereka berperilaku, bertindak dan berfikir. Walaupun konsumen memiliki berbagai macam perbedaan namun mereka juga memiliki banyak kesamaan.
Para pemasar wajib memahami keragaman dan kesamaan konsumen atau perilaku konsumen agar mereka mampu memasarkan produknya dengan baik.
Para pemasar harus memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan konsumsi, sehingga pemasar dapat merancang strategi pemasar dengan lebih baik. Pemasar yang mengerti perilaku konsumen akan mampu memperkirakan bagaimana kecenderungan konsumen untuk bereaksi terhadap informasi yang diterimanya, sehingga pemasar dapat menyusun strategi
pemasaran yang sesuai. Tidak dapat diragukan lagi bahwa pemasar yang memahami konsumen akan memiliki kemampuan bersaing yang lebih baik.
Kotler (2008:226) menggambarkan model perilaku konsumen sebagai beriku:
Gambar 2.1
Model Perilaku Konsumen
Sumber: Kotler (2008)
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi lapisan masyarakat dimana ia dilahirkan dan berkembang. Ini berarti konsumen berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap, dan selera yang berbeda-beda, sehingga pengambilan keputusan dalam tahap pembelian akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (2008:25)terdiri atas:
Rangsangan
1. Faktor kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen, faktor kebudayaan terdiri dari: budaya, sub-budaya, dan kelas sosial.
2. Faktor sosial
Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial.
3. Faktor pribadi
Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap perilaku konsumen terdiri dari: usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep hidup.
4. Faktor psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan pendirian.
2.2 Sikap
2.2.1 Pengertian Sikap
Sikap merupakan kecenderungan yang dipelajari, ini berarti bahwa sikap yang berkaitan dengan perilaku membeli terbentuk sebagai hasil dari pengalaman langsung mengenai produk, informasi secara lisan yang diperoleh dari orang lain atau terpapar oleh iklan di media massa, internet dan berbagai bentuk pemasaran langsung. Sikap mungkin dihasilkan dari perilaku tetapi sikap tidak sama dengan perilaku. Menurut Fishbein dan Ajzen dalam Marhaini (2008: 4) sikap adalah organisasi yang relatif menetap dari perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku terhadap orang lain, kelompok, ide, ataupun objek tertentu.
Sikap dapat mendorong konsumen kearah perilaku tertentu atau menarik konsumen dari perilaku tertentu. Schiffman dan Kanuk (2007:162) bahwa sikap merupakan ekspresi perasaan yang berasal dari dalam diri individu yang mencerminkan apakah seseorang senang atau tidak setuju terhadap suatu obyek.
Sikap adalah evaluasi dalam waktu lama tentang yang disukai seseorang, perasaan emosional dan kecenderungan tindakan terhadap beberapa obyek atau ide (Kotler dan Keller, 2009:186). Definisi klasik yang menyatakan bahwa sikap adalah kecenderungan yang dipelajari untuk menanggapi suatu objek atau kelas objek secara konsisten dengan cara menyukai atau tidak menyukai (Engel, et al.) dalam Rifky Anugrah (2011:3)
Sedangkan menurut Gordon Allport dalam Nugroho (2008:214) sikap konsumen adalah suatu mental dan syaraf sehubungan dengan kesiapan untuk menanggapi oerganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang mengarahkan atau dinamis terhadap perilaku. Sementara menurut Schiffman dan Kanuk dalam Rifky Anugrah (2011:3) sikap adalah kecenderungan belajar untuk berperilaku dengan cara yang konsisten atau tidak sehubungan dengan objek tertentu. Sikap konsumen merupakan faktor psokologis penting yang perlu dipahami oleh pemasar karena sikap dianggap mempunyai korelasi yang positif dan kuat dengan perilaku. Bahkan sikap dipandang sebagai predictor yang efektif untuk mengetahui perilaku konsumen.
Menurut Peter dan Olson (1999:130), sikap merupakan evaluasi konsep secara menyeluruh yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek. Sikap memiliki karakteristik konsisten dalam arti sikap akan menimbulkan perilaku
yang secara relative sesuai dengan sikap tersebut. Konsisten berarti bahwa sikap merupakan sesuatu yang yang berlangsung lama dan sulit untuk berubah.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sikap memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bahkan sikap dapat meramalkan perilaku. Sikap dapat digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan penjualan, pertimbangan kegiatan periklanan, membentuk pangsa pasar dan memilih pangsa target, pengembangan produk serta beragam fungsi strategi pemasaran lainnya.
2.2.2 Fungsi-fungsi Sikap
Menurut Daniel Kaszt dalam Rangkuti (2009:156) mengklasifikasikan empat sikap yaitu:
1. Fungsi Utilitarian
Merupakan fungsi yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dasar imbalan dan hukum. Disini konsumen mengembangkan beberapa sikap terhadap produk atas dasar apakah suatu produk memberikan kepuasan atau kekecewaan.
2. Fungsi Ekspresi Nilai
Konsumen mengembangkan sikap terhadap suatu merek produk bukan didasarkan atas manfaat produk itu, tetapi lebih didasarkan atas kemampuan merek produk itu mengekspresikan nilai-nilai yang ada pada dirinya.
3. Fungsi Mempertahankan Ego
Sikap yang dikembangkan oleh konsumen cenderung untuk melindunginya dari tantangan eksternal maupun perasaan internal, sehingga membentuk fungsi mempertankan ego.
4. Fungsi Pengetahuan
Sikap membantu konsumen mengorganisasikan informasi yang begitu banyak yang setiap hari dipaparkan pada dirinya. Fungsi pengetahuan dapat membantu konsumen mengurangi ketidakpastiaan dan kebingungan dalam memilah-milah informasi yang relevan dan tidak relevan dengan kebutuhannya.
2.2.3 Komponen Sikap
Sikap terbentu dari tiga komponen, yaitu komponen, afektif, dan komponen konatif.
1. Komponen Kognitif
Komponen kognitif berkenaan dengan hal-hal yang diketahui individu atau pengalaman individu baik yang sifatnya langsung atau tidak langsung dengan objek.
2. Komponen Afektif
Komponen afektif berkenaan dengan perasaan dan emosi konsumen mengenai objek sikap. Komponen afektif ini dapat beragam ekspresinya mulai dari rasa sangat tidak suka atau sangat tidak suka hingga sangat suka atau sangat senang.
3. Komponen Konatif
Komponen kognatif berkenaan dengan predisposisi atau kecenderungan individu (konsumen) untuk melakukan suatu tindakan berkenaan dengan objek sikap. Jadi komponen ini bukan perilaku nyata, namun masih berupa keinginan untuk melakukan suatu tindakan.
2.3 Diskon
2.3.1 Pengertian Diskon
Diskon adalah pengurangan dari harga tercatat yang diajukan penjual kepada pembeli yang apakah tidak melakukan fungsi pemasaran tertentu atau melakukan fungsi pemasaran atau melakukan sendiri fungsi itu (McCarthy, 2009:485). Kotler dan Keller (2007:485) discount adalah penyesuaian harga dasar untuk memberikan penghargaan pada pelanggan atas reaksi-reaksi tertentu, seperti pembayaran tagihan lebih awal, volume pembelian, dan pembelian diluar musim.
Diskon disebut juga rabat, para pedagang kresit sering menyebutnya dengan karting. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, diskon berarti potongan harga. Menurut sudut pandang keuangan diskon merupakan potongan bunga bagi nasabah yang meminjam uang di bank. Besaran diskon biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase, jarang diskon dinyatakan dalam bentuk rupiah.
Diskon diberikan pada umumnya 20%, 30%, 50% dan 70%, diskon adalah pengurangan harga bagi pembeli yang membayar tagihannya tepat waktu (Kotler danKeller, 2009:93). Penetapan harga diskon menjadi modus operandi banyak perusahaan yang menawarkan produk dan jasa sekaligus. Tjiptono (1997:166) berpendapat bahwa diskon merupakan potongan harga yang diberikan penjual kepada pembeli sebagai wujud penghargaan atas aktifitas tertentu dari pembelian yang menyenangkan bagi penjual. Gitosudarmo (2000:233) diskon adalah harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya dibayarkan didasarkan pada beberapa hal diantaranya waktu pembayaran yang lebih awal, tingkat serta jumlah pembelian pada musim tertentu.
Menurut Kotler danArmstrong (2008:8) mendefinisikan diskon merupakan pengurangan harga langsung terhadap suatu pembelian dalam periode waktu tertentu. Boyd, et al. (2000:23) menyatakan diskon-diskon itu bervariasi, bergantung pada tingkat grosir atau pengecer perantara dalam saluran distribusi dan aktivitas-aktivitas spesifik yang diharapkan produsen.
Sebagian besar perusahaan akan menyesuaikan harga mereka dan memberikan diskon untuk pembayaran dini, volume penjualan, dan pembelian di luar musim. Diskon seringkali digunakan oleh penjual untuk menarik pembeli agar membeli produk yang ditawarkan, penjual dalam mensosialisasikan produk diskon selalu dirancang sedemikian rupa supaya banyak pembeli dapat melihatnya. Calon pembeli yang belum mengetahui program diskon langsung dari tokonya, dapat mengetahui program diskon dari media cetak maupun elektronik.
Penjual dalam menerapkan diskon tentunya telah diperhitungkan dengan bijaksana, jangan sampai program diskon mendatangkan kerugian bagi penjual.
Produsen menyelenggarakan program diskon dengan harapan dapat meningkatkan penjualan. Oleh karena itu, produsen harus merancang program diskon sedemikian rupa, sehingga konsumen menjadi tertarik. Memahami perilaku konsumen merupakan penunjang keberhasilan program diskon agar program tersebut tepat sasaran. Seorang produsen yang memahami bagaimana konsumen akan beraksi terhadap harga atau diskon yang ditawarkan, berarti produsen tersebut lebih baik dari produsen-produsen lain yang menjadi pesaingnya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa diskon adalah pengurangan harga secara langsung terhadap produk tertentu pada periode waktu
tertentu, serta pembelian potongan harga yang diberikan penjual kepada pembeli.
Pemberian diskon ditetapkan sesuai dengan kebijakan dan tujuan dari masing-masing perusahaan.
2.3.2 Jenis-jenis Diskon
Dalam praktek dunia usaha saat ini, terdapat berbagai macam potongan harga atau diskon yang digunakan oleh perusahaan untuk menarik minat beli pelanggan dan merangsang adanya pembelian dan pembayaran dengan segera.
Seperti yang dikemukakan oleh Kotler (2005:162), potongan harga antara lain:
1. Diskon tunai, yaitu penurunan harga bagi pembeli yang segera membayar tagihan, pengurangan harga untuk mendorong pembeli membayar tagihan mereka dengan cepat.
2. Diskon kuantitas, yaitu penurunan harga bagi orang yang membeli dalam jumlah besar.
3. Diskon fungsional, ditawarkan produsen kepada anggota-anggota saluran perdagangan jika mereka melakukan fungsi tertentu, seperti menjual, menyimpan, atau melakukan pencatatan.
4. Diskon musim, yaitu penurunan harga untuk orang yang membeli barang atau jasa di luar musim.
2.3.3 Faktor-faktor Pemberian Diskon
Diskon diberikan dengan tujuan tertentu baik hal tersebut menguntungkan bagi perusahaan maupun konsumen. Ada beberapa pendapat yang mengatakan mengapa diskon diberikan dan faktor-faktor yang menyebabkan Supermarket dan Department Store memberikan diskon kepada konsumen.
Kotler (dalam Mariana, 2009:54) berpendapat bahwa diskon diberikan karena beberapa faktor, yaitu:
1. Barang akan segera digantikan oleh model yang lebih baru
2. Ada yang tidak beres dengan produk ini sehingga mengalami kesulitan dalam penjualannya.
3. Perusahaan mengalami masalah keuangan yang gawat.
4. Harga akan turun lebih jauh lagi apabila harus menunggu lebih lama.
5. Mutu produk ini oleh perusahaan diturunkan.
Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pembeerian diskon berasal dari penjual dan merupakan strategi dari penjual untuk mengikat pembeli yang memang sengaja diberikan untuk suatu tujuan tertentu.
2.3.4 Tujuan Penetapan Harga Diskon
Tujuan dari penetapan harga diskon haruslah jelas karena akan mempengaruhi langsung atas kebujakan harga dan metode penetapan harga yang digunakan. Menurut Sutisna (2001:303) tujuan pemberian potongan harga adalah:
1. Mendorong pembelian dalam jumlah besar.
2. Mendorong agar pembelian dapat dilakukan dengan kontan atau waktu yang lebih pendek.
3. Mengikat pelangggan agar tidak berpindah ke perusahaan lain.
2.4 Hubungan Sikap Dengan Program Diskon
Pengukuran sikap konsumen bagi pemasar merupakan hal yang sangat penting. Dengan mengetahui sikap, pemasar dapat mengidentifikasi segmen manfaat, mengembangkan produk baru dan memformulasikan serta evaluasi
strategi promosional. Sikap konsumen terhadap suatu produk dapat bervariasi bergantung pada apa orientasinya. Berkenaan dengan sikap ini, pemasar dapat mengidentifikasi segmen konsumen berdasarkan manfaat produk yang diinginkan konsumen. Dibalik seringnya konsumen melakukan perbelanjaan sudah pasti ada faktor pendukung yang membuat mereka senang sekali berbelanja, yaitu diskon.
Produk yang dibeli para konsumen, itu semua tidak terlepas dari peran yang namanya diskon. Konsumen biasanya lebih sensitif apabila mendengar kata diskon dikarenakan keterbatasan keuangan yang ada. Para konsumen langsung memutar otak bagaimana bisa membeli sesuatu barang bagus tapi juga dengan harga yang terjangkau oleh kantong mereka.Lubis (Sumartono, 2002:92) YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) memberikan definisi sikap konsumtif adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan. Johnstone (Mangkunegara, 2002:92) mengatakan empat ciri yang berpotensi untuk bersikap konsumtif yaitu mudah terpengaruhi bujukan penjual, mudah terbujuk iklan, serta tidak berfikir hemat dan kurang realistis.
Dari penjelasan di atas jelas terlihat bahwa adanya hubungan sikap yang ditimbulkan konsumen terhadap program diskon yang diberikan oleh perusahaan.
Karena sikap membeli produk diskon merupakan tindakan yang dimiliki konsumen untuk membeli produk diskon, bukan untuk mencukupi kebutuhannya tetapi untuk memenuhi keinginan yang dilakukan secara berlebihan sehingga menimbulkan pemborosan yang didukung juga oleh adanya diskon yang membuat para konsumen untuk berbelanja semakin besar.
2.5 Keputusan Pembelian
2.5.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan membeli sejumlah barang dan jasa, yang dipilih berdasarkan informasi yang didapat tentang produk, dan segera disaat kebutuhan dan keinginan muncul, dan kegiatan ini menjadi informasi untuk pembelianselanjutnya. Bagi pemasar tahap keputusan pembelian ini adalah tahap yang sangat penting untuk dipahami karena akan berhubungan dengan keberhasilan suatu program pemasaran. Secara khusus, pemasar harus mengidentifikasi siapa yang membuat keputusan pembelian. Para pemasar harus mendalami berbagai pengaruh mengenai pembelian konsumen dan mengembangkan pemahaman mengenai bagaimana sebenarnya para konsumen membuat keputusan pembelian mereka. Konsumen tidak langsung memutuskan membeli suatu produk akan tetapi konsumen memiliki banyak pertimbangan yang pada akhirnya akan memutuskan membeli atau tidak produk tersebut.
Keputusan pembelian adalah suatu tindakan konsumen untuk membentuk referensi diantara merek-merek dalam kelompok pilihan dan membeli produk yang paling disukai (Kotler, 2002:204). Pengambilan keputusan pembelian merupakan suatu proses evaluasi yang dilakukan konsumen dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam pemilihan produk, keputusan adalah dua seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih (Schiffman dan Kanuk, 2008:485).
Kotler dan Armstrong (2008:181) mendefinisikan bahwa keputusan pembelian adalah keputusan konsumen untuk membeli mengenai merek mana yang akan dibelinya. Amirullah (2002:63) keputusan pembelian adalah suatu proses dimana konsumen melakukan penilaian terhadap berbagai alternative pilihan dan memilih
salah satu atau lebih alternatif yang diperlukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Keputusan pembelian merupakan merupakan langkah konsumen untuk menentukan pembelian terhadap produk yang dikehendaki. Produk barang ataupun jasa yang telah dipilih selanjutnya dibeli untuk dipergunakan.Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa keputusan pembelian merupakan penilaian konsumen terhadap alternatif produk, mengenai penetapan pilihan merek yang disukai berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
2.5.2 Tahap-tahap Proses Pembelian
Terdapat tahap-tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian (Kotler, 2003:179) yaitu:
1. Pengenalan kebutuhan
Proses pembelian dimulai dengan pengenalan kebutuhan (need recognition) pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh dorongan internal ketika salah satu kebutuhan normal seseorang seperti rasa lapar, haus, timbul pada tingkat yang cukup tinggi sehingga menjadi dorongan. Kebutuhan juga bisa dipicu oleh dorongan eksternal, suatu iklan atau diskusi dengan teman bisa membuat anda berpikir untuk membeli mobil baru. Pemasar harus meneliti konsumen untuk menentukan jenis kebutuhan atau masalah apa yang timbul, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana masalah itu bisa mengarahkan konsumen pada produk tertentu itu.
2. Pencarian informasi (information search) berhubungan dengan kebutuhan.
Konsumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber. Sumber-sumber ini meliputi Sumber-sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan), Sumber-sumber
komersial (iklan, wiraniaga, situs web, penyalur, kemasan, tampilan), sumber publik (media massa, organisasi, pemeringkat konsumen, pencarian internet), dan sumber pengalaman (penanganan, pemerilsaan, pemakaian produk).
3. Evaluasi alternatif (alternative evaluation) yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk sampai pada pilihan merek. Sayangnya, konsumen tidak menggunakan proses evaluasi yang sederhana dan tunggal dalam semua situasi pembelian.
4. Keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah membeli merek yang paling di sukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niatpembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain, faktor kedua adalah faktor situasional.
5. Perilaku pascapembelian (postpurchase behavior) adalah pekerjaan pemasar tidak berakhir ketika produk telah dibeli. Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan terlihat dalam perilaku pascapembelian yang harus diperhatikan oleh pemasar.
Gambar 2.2
Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Jadi pemasar harus dapat memberikan informasi kepada konsumen tentang atribut produk, kepentingannya, merek perusahaan, dan atribut penting lainnya.
Oleh karena itu, komunikasi pemasaran harus ditujukan pada penyediaan keyakinan dan evaluasi yang membantu konsumen merasa puas dengan pilihan
Mengenali Kebutuha
Mengenali Kebutuha
Mengenali Kebutuha
Mengenali Kebutuhan
Mengenali Kebutuha
mereknya. Dalam suatu pembelian barang, keputusan yang diambil tidak harus berurutan yang penting penjual harus menyusun struktur keputusan membeli secara keseluruhan untuk membantu konsumen dalam mengambil keputusan tentang pembeliannya.
2.6 Penelitian Terdahulu
Untuk mengadakan penelitian, tidak terlepas dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan tujuan untuk memperkuat hasil dari penelitian yang sedang dilakukan, selain itu juga bertujuan untuk membandingkan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Berikut ringkasan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan penelitian:
1. Linda (2015) melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Sikap Konsumen Terhadap Program Diskon Pada Minat Beli Ulang Di Matahari Versus Ramayana”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan sikap konsumen terhadap program diskon di Matahari dan Ramayana, tidak terdapat perbedaan sikap konsumen terhadap program diskon di Matahari dan Ramayana dilihat dari jenis kelamin (Laki-laki dan Perempuan) dan pendapatan, dan sikap konsumen terhadap program diskon berpengaruh positif terhadap program diskon.
2. Yoanna Ollidia Wattimena (2014) melakukan peneitian berjudul, “Analisis Pengaruh Sikap Konsumen Terhadap Keputusan Memilih Jasa Asuransi KesehatanXYZ Di Palembang”. Hasil penelitian menunjukkan variabel kognitif dan variabel afektif tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan variabel konatif merupakan variabel yang
paling berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk asuransi kesehatan XYZ di Palembang.
3. Endhar Widjaya Putra 2016 melakukan penelitian berjudul: “Pengaruh Diskon Terhadap Minat Beli Serta Dampaknya Pada Keputusan Pembelian Pada Konsumen yang Membeli Produk Diskon di Matahari Deparment Store Pasar Besar Malang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel diskon berpengaruh langsung dan signifikan terhadap variabel minat beli, variabel diskon berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel keputusan pembelian, dan variabel minat beli berpengaruh langsung dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian.
4. Halimahtusakdiyah (2015) melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Atribut Produk dan Sikap Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White Koffie Pada Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara”.
Hasil secara simultan, merek, kemasan dan sikap konsumen secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil pengujian secara parsial atau individu menunjukkan bahwa merek, kemasan dan sikap konsumen secara signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
5. Tinaria Bancin (2014) melakukan peneitian berjudul, “Analisis Pengaruh Atribut Produk Terhadap Sikap dan Keputusan Pembelian Sabun Pencuci
5. Tinaria Bancin (2014) melakukan peneitian berjudul, “Analisis Pengaruh Atribut Produk Terhadap Sikap dan Keputusan Pembelian Sabun Pencuci