BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
Manfaat Teoretis:
Manfaat teoretis bagi pembaca adalah memahami teori resepsi sastra dan penerapannya terhadap pengaruh membaca novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi terhadap moivasi belajar santri Madrasah Aliyah Swasta Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman.
Manfaat Praktis:
Hasil penelitian terhadap novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi ini dapat menambah pengetahuan pembaca, membantu untuk menikmati dan memahami serta dapat menjadi rujukan bagi yang ingin meneliti dari bidang- bidang lain
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan dijelaskan konsep, landasan teori, dan tinjauan pustaka dari penelitian Pengaruh membaca novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi terhadap santri MAS Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman Stabat Langkat.
2.1 Konsep
Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal- hal lain (Alwi, dkk, 2003:588). Konsep- konsep yang dipakai di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
2.1.1 Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (benda, orang) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang (Alwi, dkk, 2003: 946).
2.1.2 Membaca
Membaca adalah suatu kegiatan atau cara dalam mengupayakan pembinaan daya nalar (Tampubolon, 1987:6). Dengan membaca, seseorang secara tidak langsung sudah mengumpulkan kata demi kata
dalam mengaitkan maksud dan arah bacaannya yang pada akhirnya pembaca dapat menyimpulkan suatu hal dengan nalar yang dimilikinya.
2.1.3 Novel
Istilah novel berasal dari bahasa Latin, novellas yang kemudian diturunkan menjadi novies, yang berarti baru. Perkataan baru ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa novel merupakan jenis cerita fiksi (fiction) yang muncul belakangan dibandingkan cerita pendek (short story) dan roman.
(Waluyo, 2002:36)
Menurut Robert Lindell (dalam Waluyo, 2006:6) karya sastra yang berupa novel pertama kali lahir di Inggris dengan judul Pamella merupakan bentuk catatan harian seorang pembantu rumah tangga, kemudian berkembang dan menjadi bentuk prosa fiksi yang kita kenal seperti saat ini.
Novel merupakan jenis karya sastra yang tentunya menyuguhkan nilai yang berguna bagi masyarakat pembaca. Ciri semantik tampak pada istilah nilai- nilai otentik yang menurut Goldman yang merupakan totalitas yang secara tersirat muncul dalam novel, nilai- nilai yang mengorganisasikan sesuai dengan mode dunia sebagai totalitas. Atas dasar definisi itulah selanjutnya Goldman mengelompokkan novel menjadi tiga jenis yaitu, novel idealisme abstrak, novel psikologis (romantisme keputusasaan), dan novel pendidikan (paedagogis).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan jenis cerita fiksi yang muncul paling akhir jika dibandingkan
dengan cerita fiksi yang lain. Novel mengungkapkan konflik kehidupan para tokohnya secara lebih mendalam dan halus. Selain itu tokoh- tokoh, serangkaian peristiwa, dan latar ditampilkan secara tersusun hingga bentuknya lebih panjang dibandingkan dengan prosa rekaan yang lain.
Fungsi novel pada dasarnya untuk menghibur para pembaca. Novel pada hakikatnya adalah cerita dan karenanya terkadang juga di dalamnya tujuan memberi hiburan kepada pembaca. Tarigan (2003:165) menyatakan bahwa novel mengandung kata- kata berkisar antara 1000 buah sampai tidak terbatas jumlahnya. Dalam kata lain jumlah minimum kata- katanya adalah 35.000 kata, kalau kita pukul ratakan sehalaman kertas kuarto jumlah barisnya kebawah 35 buah dan jumlah kata dalam satu baris 10 buah, maka jumlah kata dalam satu halaman adalah 35 x 10 = 350 buah.
Selanjutnya dapat kita maklumi bahwa novel yang paling pendek itu harus terdiri minimal lebih dari 100 halaman.
2.1.4 Motivasi
Motivasi berasal dari kata ”motif” yang artinya sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan (Sardiman, 2011:71). Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2011:73-74) bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan, kebutuhan dan keinginan.
2.2 Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan teori resepsi sastra yaitu dalam teori resespsi sastra murni, yang menjadi perhatian utama adalah masyarakat pembaca.
Menurut Pradopo (2007:218) yang dimaksud resepsi adalah ilmu keindahan yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan pembaca terhadap karya sastra.
Karya sastra sangat erat hubungannya dengan pembaca, karena karya sastra ditunjukan kepada kepentingan pembaca sebagai penikmat karya sastra.
Selain itu, pembaca juga yang menentukan makna dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena adanya pembaca yang memberikannya.
Teori resepsi tidak hanya memahami bentuk suau karya sastra dalam bentangan historis berkenan dengan pemahamannya. Teori menuntut bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastraanya.
Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacanya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca akan meweujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Dalam hal ini, kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta- fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya.
Pradopo (2007;210-211) mengemukakan bahwa penelitian resepsi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara sinkronis dan diakronis. Penelitian sinkronis merupakan peneltian resepsi terhadap sebuah teks karya sastra dalam masa satu periode. Sedangkan penelitian diakronis merupakan penelitian resepsi terhadap sebuah teks sastra yang menggunakan tanggapan-tanggapan pembaca pada setiap periode. Penelitian ini menggunakan sinkronis, yaitu pembaca yang berada dalam satu periode.
2.3 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah hasil meninjau, pandangan, dan pendapat (sesudah menyelidiki atau mempelajari). Pustaka adalah kitab, buku (Alwi, dkk 2003: 912).
Penelitian terhadap novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, di antaranya oleh Ma’rifatu Zuhlia mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pedidikan Universitas Jember (2011) yang berjudul Amanat dalam Novel Negeri Lima Menara.
Menurut Ma’rifatu Zuhlia amanat yang tersurat dalam novel Negeri Lima Menara ini di antaranya memberikan pesan kepada pembaca mengenai kehidupan, yang dapat dipahami bahwa kita tidak boleh berputus asa dalam meraih impian, harus bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Pesan ini dapat dilihat dari kutipan dalam novel Negeri Lima Menara halaman 405
“jangan pernah remehkan impian walau setinggi apapun, Tuhan maha
pendengar. Manjadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.
Penelitian terhadap novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi juga pernah dilakukan oleh Ovet Novita Sari mahasisiwi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu (2014) yang berjudul Makna Lima dalam Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi Sebuah berasal dari lima kota berbeda. Alif sebagai tokoh utama yang mendapatkan lima sahabat baru yang berasal dari lima kota berbeda ketika masuk ke Pesantren Madani.
Penelitian terhadap novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi juga pernah dilakukan oleh Rina Hidayatul Khadimah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2011 yang berjudul ”Pendidikan Karakter Dalam Novel Negeri 5 Menara Karya Hamad Fuadi Perspektif Pendidikan Agama Islam”. Penelitian ini mengulas beberapa pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita novel Negeri Lima Menara: Pertama pendidikan karakter di rumah, yaitu cinta dan kasih sayang, berlaku adil, serta karakter kasih sayang kepada orang tua.
Kedua, pendidikan karakter di sekolah, yaitu; percaya diri, ramah, disiplin,
hormat dan santun, sabar, kreatif dan cinta kepada Tuhan dengan semua ciptaan-Nya.
Maka dari itu penulis ingin memfokuskan penelitian kepada pengaruh membaca novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi terhadap motivasi santri Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman Stabat Langkat.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1. Lokasi
Lokasi adalah letak atau tempat (Alwi, dkk 2003:680). Adapun lokasi peneltian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Swasta Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, dengan mengumpulkan data dan narasumber dari santri yang berada di lokasi penelitian.
3.1.2. Waktu Penelitian
Waktu adalah seluruh rangkaian ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau langsung (Alwi, dkk 2005:1267). Penulis melakukan penelitian objek mulai tanggal 20 Agusutus 2016 sampai tanggal 30 Agustus 2016.
3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Data Primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dengan memberi angket kepada narasumber untuk mengumpulkan data secara mendalam.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data tambahan yang diperoleh secara tidak langsung dari buku-buku tambahan.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 1998;115). Populasi adalah sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian (Alwi, dkk 2003:889).
Berdasarkan pengertian di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman.
3.3.2 Sampel
Menurut Arikunto (1998:117) sampel penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan Simple Random Sample (Sampel acak sederhana). Sebuah sampel dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. Dari banyakanya santri Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman diambil sampel santri putra Madrasah Aliyah Swasta Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman yang mampu mewakili santri lainnya.
3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan mengedarkan angket kepada santri yaitu santri putra Madrasah Aliyah Swasta Pondok Pesantren Islam Ibadurrahman Stabat Langkat.
Data yang diperoleh akan diolah peneliti untuk mendapatkan pengaruh santri setelah membaca novel Negri Lima Menara.
3.5 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam menganalisis pengaruh novel Negri Lima Menara adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik. Jenis penelitian ini dilakukan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Lexy J. Moleong, 2011:34).
Adapun teknik analisis data penelitian ini adalah dengan content analysis (analisis isi). Analisis isi merupakan teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan penggarapanya dilakukan secara objektif dan sistematis. (Lexy J. Moleong, 2011:220).
BAB IV
4.1 Data Hasil Wawancara
A. Pertanyaan Pembuka
Pertanyaan 1. Apakah Anda pernah membaca novel Negeri Lima Menara?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Pernah
2. Ardian Putra Pernah
3. Fahrurozikin Pernah
4. Firdaus Pernah
5. Ibadurrahman Pernah
6. Indra Prakarsa Pernah
7. Khairul Hanif Pernah
8. M. Faisal Irfan Pernah
9. M. Rizky Tiftazany Pernah
10. M. Wahyu Setiawan Pernah
11. Muhammad Dafa Pernah
12. Muhammad Darul Aldi Pernah
13. Muhammad Irfandi Pernah
14. Muhammad Kurniawan Pernah
15. Muhammad Rifai Pernah
16. Muhammad Sulthan Pernah
17. Ridho Safikri Pernah
18. Sarif Saifurrahman Pernah
19. Saffan Anshori S Pernah
20. Swardi Azhari Hutasuhut Pernah
21. Syahid Anshar Alhawari Pernah
22. Zul Afriandy Pernah
Tabel 1
Pertanyaan 2. Milik siapa novel Negeri Lima Menara yang Anda baca?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Milik perpustakaan
2. Ardian Putra Milik sendiri
3. Fahrurozikin Milik teman
4. Firdaus Milik teman
5. Ibadurrahman Milik sendiri
6. Indra Prakarsa Milik sendiri
7. Khairul Hanif Milik perpustakaan
8. M. Faisal Irfan Milik sendiri
9. M. Rizky Tiftazany Milik sendiri
10. M. Wahyu Setiawan Milik sendiri
11. Muhammad Dafa Milik sendiri
12. Muhammad Darul Aldi Milik teman
13. Muhammad Irfandi Milik teman
14. Muhammad Kurniawan Milik teman
15. Muhammad Rifai Milik teman
16. Muhammad Sulthan Milik teman
17. Ridho Safikri Milik sendiri
18. Sarif Saifurrahman Milik teman
19. Saffan Anshori S Milik sendiri
20. Swardi Azhari Hutasuhut Milik teman
21. Syahid Anshar Alhawari Milik teman
22. Zul Afriandy Milik perpustakaan
Tabel 2
Pertanyaan 3. Apakah Anda tahu arti kata dari Negeri Lima Menara?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Tahu, lima santri yang berhasil tamat dari.
Pesantren
2. Ardian Putra Tahu, lima orang sahabat yang kompak.
3. Fahrurozikin Tahu, lima orang sahabat yang memiliki cita-cita tinggi.
4. Firdaus Tahu, lima sahabat yang memiliki cita-cita tinggi yang berbeda, dan lima orang yang mengajarkan artinya sahabat.
5. Ibadurrahman Tahu, 5 santri yang berasal dari 5 daerah yang berbeda.
6. Indra Prakarsa Tahu, 5 sahabat yang memiliki 5 cita-cita yang berbeda.
7. Khairul Hanif Tahu, lima orang sahabat yang memiliki tujuan berbeda.
8. M. Faisal Irfan Tahu, lima orang sahabat yang memiliki cita-cita tinggi, dan berasal dari tempat yang berbeda.
9. M. Rizky Tiftazany Tahu, lima santri yang berasal dari lima daerah yang berbeda.
10. M. Wahyu Setiawan Tahu, lima santri yang berasal dari lima daerah yang berbeda.
11. Muhammad Dafa Tahu, lima orang sahabat yang bercita-cita pergi ke tempat lima menara yang berbeda.
12. Muhammad Darul Aldi Tahu, simbol dari lima cita-cita.
13. Muhammad Irfandi Tahu, lima orang sahabat yang memiliki lima cita-cita yang berbeda.
14. Muhammad Kurniawan Tahu, lima orang sahabat yang sekolah di pesantren, tetapi memiliki lima cita-cita yang berbeda.
15. Muhammad Rifai Tahu, lima orang sahabat yang memiliki cita-cita berbeda.
16. Muhammad Sulthan Tahu, lima sahabat yang memiliki cita-cita
yang berbeda.
17. Ridho Safikri Tahu, lima orang sahabat yang berasal dari daerah yang berbeda.
18. Sarif Saifurrahman Tahu, lima sahabat yang berjuang mengejar cita-cita di lima negara berbeda yang memiliki menara.
19. Saffan Anshori S Tahu, lima santri yang berasal dari 5 daerah yang berbeda.
20. Swardi Azhari Hutasuhut Tahu, lima orang sahabat yang berasal dari lima daerah yang berbeda.
21. Syahid Anshar Alhawari Tahu, lima santri yang ingin mengelilingi lima negeri yang memiliki menara.
22. Zul Afriandy Tahu, lima santri yang berasal dari lima daerah yang berbeda
Tabel 3
Pertanyaan 4. Berapa lama Anda menghabiskan waktu membaca novel Negeri Lima Menara?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Tiga hari
2. Ardian Putra Satu minggu
3. Fahrurozikin Tiga hari
4. Firdaus Satu minggu
5. Ibadurrahman Dua hari
6. Indra Prakarsa Dua minggu
7. Khairul Hanif Lima hari
8. M. Faisal Irfan Tiga hari
9. M. Rizky Tiftazany Tiga hari
10. M. Wahyu Setiawan Tiga hari
11. Muhammad Dafa Lima belas hari
12. Muhammad Darul Aldi Dua minggu
13. Muhammad Irfandi Satu minggu
14. Muhammad Kurniawan Dua minggu
15. Muhammad Rifai Satu minggu
16. Muhammad Sulthan Lima hari
17. Ridho Safikri Tiga hari
18. Sarif Saifurrahman Tiga hari
19. Saffan Anshori S Satu hari
20. Swardi Azhari Hutasuhut Empat hari
21. Syahid Anshar Alhawari Sepuluh hari
22. Zul Afriandy Satu hari
Tabel 4
Pertanyaan 5. Siapakah pengarang novel Negeri Lima Menara?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Tidak ingat
2. Ardian Putra Burhan Shodiq
3. Fahrurozikin Tidak ingat
4. Firdaus A. Fuadi
5. Ibadurrahman A. Fuadi
6. Indra Prakarsa Burhan Shodiq
7. Khairul Hanif A. Fuadi
8. M. Faisal Irfan Burhan Shodiq
9. M. Rizky Tiftazany A. Fuadi
10. M. Wahyu Setiawan A. Fuadi
11. Muhammad Dafa A. Fuadi
12. Muhammad Darul Aldi Tidak ingat
13. Muhammad Irfandi Tidak ingat
14. Muhammad Kurniawan Tidak ingat
15. Muhammad Rifai Tidak ingat
16. Muhammad Sulthan Tidak ingat
17. Ridho Safikri A. Fuadi
18. Sarif Saifurrahman Tidak ingat
19. Saffan Anshori S Abu fathia Al Adnani
20. Swardi Azhari Hutasuhut A. Fuadi
21. Syahid Anshar Alhawari Boy Chandra
22. Zul Afriandy Tidak ingat
Tabel 5
Pertanyaan Inti:
Pertanyaan 1. Apakah novel Negeri Lima Menara menjadi sumber utama pengaruh motivasi Anda?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Iya, walaupun tak banyak
2. Ardian Putra Iya, karena ceritanya sangat memotivasi
3. Fahrurozikin Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
4. Firdaus Iya, karena ceritanya sangat memotivasi
5. Ibadurrahman Iya, tapi karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
6. Indra Prakarsa Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua, dan ustadz
7. Khairul Hanif Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari ustadz
8. M. Faisal Irfan Iya, karena ceritanya yang sangat memotivasi
9. M. Rizky Tiftazany Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua, dan ustadz
10. M. Wahyu Setiawan Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
11. Muhammad Dafa Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
12. Muhammad Darul Aldi Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
13. Muhammad Irfandi Tidak, karena lebih banyak motivasi yang
didapatkan dari orang tua, dan ustadz
14. Muhammad Kurniawan Tidak
15. Muhammad Rifai Iya, karena ceritanya yang sangat memotivasi
16. Muhammad Sulthan Tidak
17. Ridho Safikri Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
18. Sarif Saifurrahman Tidak, karena lebih banyak motivasi yang didapatkan dari orang tua
19. Saffan Anshori S Tidak, motivasi lebih banyak dari orang tua
20. Swardi Azhari Hutasuhut Tidak, motivasi lebih banyak saya dapatkan dari orang tua, guru, dan teman-teman
21. Syahid Anshar Alhawari Iya, karena ceritanya yang sangat memotivasi
22. Zul Afriandy Tidak, lebih banyak dari ustadz dan orang tua
Tabel 6
Pertanyaan 2. Pengaruh motivasi apa saja yang Anda temukan setelah membaca novel
Negeri Lima Menara?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Termotivasi kebersamaan antar tokoh yang terus berkelanjutan
2. Ardian Putra Semakin serius dalam belajar dan erat dengan sahabat
3. Fahrurozikin Semakin semangat dalam belajar dan semakin erat kebersamaan dengan sahabat
4. Firdaus Semakin semangat belajar di pesantren
5. Ibadurrahman Semangat belajar, dan semakin erat kebersamaan dengan sahabat
6. Indra Prakarsa Semakin semangat dalam belajar untuk
menggapai cita-cita, ibadah semakin kuat, dan semakin erat dengan sahabat, juga termotivasi menjadi orang yang sukses
7. Khairul Hanif Menjadikan lebih rajin beribadah dan semakin erat kebersamaan dengan sahabat
8. M. Faisal Irfan Menjadi semangat belajar, ibadah, dan semakin erat dengan sahabat
9. M. Rizky Tiftazany Semakin semangat belajar agar bisa meraih cita-cita dan semakin erat dengan sahabat
10. M. Wahyu Setiawan Belajar semakin semangat, kebersamaan degan sahabat semakin erat
11. Muhammad Dafa Persahabatan yang semakin erat dan saya lebih
yakin untuk menggapai cita-cita
12. Muhammad Darul Aldi Memotivasi tentang kebersamaan
13. Muhammad Irfandi Belajar semakin semangat, kebersamaan degan sahabat semakin erat, dan Semangat menggapai cita-cita
14. Muhammad Kurniawan Semangat menggapai cita-cita
15. Muhammad Rifai Kebersamaan dengan sahabat semakin erat dan lebih berbakti kepada orang tua
16. Muhammad Sulthan Semangat menggapai cita-cita
17. Ridho Safikri Belajar semakin semangat, kebersamaan degan sahabat semakin erat
18. Sarif Saifurrahman Semangat belajar dan
19. Saffan Anshori S Semakin lebih betah di pesantren
20. Swardi Azhari Hutasuhut Belajar semakin semangat, kebersamaan degan sahabat semakin erat
21. Syahid Anshar Alhawari Menjadikan saya lebih betah tinggal di pesantren
22. Zul Afriandy Termotivasi dengan persahabatan dan ibadahnya.
Tabel 7
Pertanyaan 3. Bagianmanakah cerita yang mempengaruhi motivasi tersebut?
No Nama Santri Jawaban
1. Agus Muhardi Amin Mereka selalu berkumpul di bawah menara.
2. Ardian Putra Sewaktu mereka selalu kumpul di bawah menara, dan ketika ustadz menyampaikan man jadda wajada
3. Fahrurozikin Ketika mereka belajar bersama hingga larut malam, yang hanya diterangi lampu sentir.
4. Firdaus Ketika ustadz Salman menyampaikan motivasi dengan kalimat man jadda wajada.
5. Ibadurrahman Semangat belajar didapat ketika ustadz Salman menyampaikan kalimat man jadda wajada, dan ketika Alif dan teman-temanya belajar bersama menjelang ujiang hingga larut malam yang hanya diterangi lampu sentir. Pengaruh persahabatan, ketika mereka ingin berpisah dengan Baso.
6. Indra Prakarsa Semangat belajar, ketika mereka belajar dengan ustadz Salman dan diberi motivasi dengan kalimat man jadda wajada, ibadah saya
meningkat karena Baso yang rajin ke mejid dan
berdoa agar diberi kemudahan menghafal Al-Quran dan memahami pelajaran. Mengejar cita-cita, semangat mereka yang memiliki cita-cita tinggi. Persahabatan, ketika mereka sering bersama, baik waktu belajar dan di asrama.
7. Khairul Hanif Ketika mereka kompak dalam merencanakan drama.
8. M. Faisal Irfan Ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara.
9. M. Rizky Tiftazany Ketika ustadz Salman memotivasi mereka dengan kalimat man jadda wajada.
10. M. Wahyu Setiawan Ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara, sehingga dijuluki shahibul manara (yang mempunyai menara).
11. Muhammad Dafa Ketika Alif mendapatkan kiriman rendang kapau dan membagi kepada teman-temanya, dan ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara.
12. Muhammad Darul Aldi Ketika mereka memberi dukungan temanya yang berlatih pidato.
13. Muhammad Irfandi Ketika ustadz memberi motivasi dengan
kalimat man jadda wajada, dan ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara.
14. Muhammad Kurniawan Ketika ustadz memberi motivasi di dalam kelas dengan kalimat man jadda wajada.
15. Muhammad Rifai Ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara, sehingga dujuluki shahibul manara.
16. Muhammad Sulthan Ketika mereka menatap awan dan
mengungkapkan cita-cita di bawah menara.
17. Ridho Safikri Ketika mereka selalu berkumpul di bawah menara, sehingga dujuluki shahibul manara.
18. Sarif Saifurrahman Ketika ustadz memberi motivasi di dalam kelas dengan kalimat man jadda wajada, dan mereka saling memotivasi terhadap cita-cita temannya.
18. Sarif Saifurrahman Ketika ustadz memberi motivasi di dalam kelas dengan kalimat man jadda wajada, dan mereka saling memotivasi terhadap cita-cita temannya.