BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini terdiri atas dua, yaitu:
1. Manfaat teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan menambah kajian pembelajaran membaca, khususnya membaca ekstensif. Selain itu, penelitian ini dapat mengembangkan teori pembelajaran membaca ekstensif melalui pembelajaran dengan metode learning community.
2. Manfaat secara praktis yaitu:
a) Bagi guru, penelitian ini dapat memberikan alternatif pemilihan pendekatan pembelajaran membaca ekstensif dan dapat mengembangkan keterampilan guru bahasa dan sastra Indonesia, khususnya dalam menerapkan pembelajaran dengan metode learning community.
b) Bagi siswa, penelitian ini dapat membantu meningkatkan keterampilan membaca ekstensif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA,
KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka
Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran pada judul, maka tinjauan pustaka digunakan sebagai pedoman dalam penulisan dan sangat berperan dalam pengembangan dan acuan penulisan. Adapun tinjauan pustaka yang digunakan adalah seperti diuraikan berikut ini.
1. Hakikat membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.
Ada beberapa pengertian tentang menulis yang dikemukakan oleh para penulis, diantaranya;
Suyitno (1985 : 32) mengemukakan bahwa membaca adalah peristiwa penangkapan dan pemahaman aktivitas jiwa seseorang yang tertuang dalam bentuk bahasa tertulis dengan tepat dan cermat.
Tarigan (1987:71) yang menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.
Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses pengandaian kembali dan pembacaan sandi.
Dari beberapa pengertian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa 5
membaca adalah kemampuan memahami ide, menangkap makna, memperoleh pesan yang ada dalam bacaan, yang semua itu menuju ke pemahaman.
2. Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan.
Berikut ini beberapa tujuan membaca, yaitu :
a) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.
Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga atau seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita (reading for sequence or organization).
d) Membaca untuk menemukan dan mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
f) Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ingin berbuat seperti yang diperbuat sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate).
g) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
3. Membaca sebagai Suatu Keterampilan
Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami benar bahwa membaca adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup
atau melibatkan serangkaian keterampilan-keterampilan yang lebih kecil. Dengan perkataan lain, keterampilan membaca mencakup tiga komponen, yaitu:
a. Pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca,
b. Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur- unsur linguistik yang formal,
c. Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning.
Broughton (Tarman 2011:9).
Keterampilan A merupakan suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan model yang berupa gambar, gambar di atas suatu lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur rapi.
Keterampilan B merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas yaitu gambar-gambar berpola tersebut dengan bahasa.
Keterampilan ke tiga atau C yang mencakup keseluruhan keterampilan, pada hakikatnya merupakan keterampilan intelektual, ini merupakan kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi, dengan makna yang dilambangkan oleh kata-kata tersebut. Broughton (Tarman : 10).
4. Aspek-Aspek Membaca
a. Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skil) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah (lower order). Aspek ini mencakup:
1) Pengenalan bentuk huruf.
2) Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem,/grafem, kata frase, pola klausa, kalimat, dan lain-lain).
3) Pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis).
4) Kecepatan membaca ke taraf lambat.
b. Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (highe order). Aspek ini mencakup:
1) Memamhami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal), 2) Memahami signifikan atau makna (maksud dan tujuan pengarang,
relevansi/keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca), 3) Evaluasi atau penilaian (isi, bentuk),
4) Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.
5. Mengembangkan Keterampilan Membaca
Setiap guru bahasa haruslah dapat membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca. Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca antara lain:
a. Guru dapat menolong para pelajar memperkaya kosa kata mereka dengan jalan:
1) Memperkenalkan sinonim kata, antonim kata, parafrase, kata-kata
yang berdasar sama.
2) Memperkenalkan imbuhan, yang mencakup awalan, sisipan, dan akhiran.
3) Mengira-gira atau mereka makna kata dari konteks atau hubungan kalimat.
4) Kalau perlu, menjelaskan arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa ibu pelajar.
b. Guru dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas, disertai latihan seperlunya.
c. Guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasan atau pengertian kiasan, sindiran, ungkapan, pepatah, peribahasa, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu para pelajar.
d. Guru dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar dengan berbagai cara, misalnya:
1) Mengemukakan berbagai jenis pertanyaan terhadap kalimat yang sama.
2) Mengemukakan pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan oleh para pelajar secara verbatein (kata demi kata) dalam bahan bacaan.
3) Menyuruh para pelajar membuat rangkuman atau ikhtisar dari sesuatu paragraf. Rangkuman terebut haruslah mencakup ide-ide penting dalam urutan yang wajar.
4) Menanyakan apa ide pokok suatu paragraf.
5) Menyuruh para pelajar untuk menemukan kata-kata yang melukiskan seseorang atau proses yang menyatakan bahwa orang itu sedangu bergegas, marah, dan sebagainya.
e. Guru dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar, dengan cara sebagai berikut:
1) Kalau para pelajar disuruh membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut,
2) Haruslah diusahakan agar waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun,
3) Haruslah dihindarkan gerakan- gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal itu tidak baik dan tidak perlu dilakukan oleh para pelajar,
4) Haruslah dijelaskan tujuan khusus, tujuan tertentu membaca kepada para pelajar. Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaan jawaban terhadap beberapa pertanyaan atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat, atau pikiran utama/pikiran pokok, dan sebagainya.
Finocchiaro (Tarman 2011:14).
Dalam mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar, guru mempunyai tanggungjawab berat yang meliputi enam hal utama:
a. Memperluas pnegalaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk-beluk kebudayaan.
b. Mengajarkan bunyi-bunyi (bahasa) dan makna kata-kata baru.
c. Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol.
d. Membantu para pelajar memahami struktur- struktur (termasuk struktur kalimat yang biasanya tidak begitu mudag bagi pelajar bahasa).
e. Mengajarkan keterampilan-keterampilan pemahaman.
f. Membantu para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.
6. Jenis- jenis Membaca
Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara si pembaca waktu dia membaca, membaca dibagi menjadi dua, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati.
Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang. Membaca nyaring yang baik menuntut agar si pembaca memiliki kecepatan mata yang tinggi dan pandangan mata yang jauh karena harus melihat pada bahan bacaan untuk memelihara kontak mata pendengar.
Membaca dalam hati hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory), yang melibatkan pengaktifanmata dan ingatan.Tujuan utama membaca dalam hati adalah untuk memperoleh informasi.Secara garis besarnya membaca dalam hati dibagi menjadi dua, yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif.
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.Membaca ekstensif ini dibagi menjadi tiga, yaitu membaca survei, membaca sekilas, dan membaca dangkal.
Membaca intensif adalah studi seksama, telaah teliti dan penanganan
terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari.Yang termasuk ke dalam kelompok membaca intensif ini adalah membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa.Membaca telaah isi dibagi menjadi empat, yaitu membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide.Sedangkan membaca telaah bahasa dibagi menjadi dua, yaitu membaca bahasa (asing) dan membaca sastra.
7. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif adalah membaca secara luas.Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.Tujuan membaca ekstensif adalah untuk memahami isi yang penting dengan cepat sehingga membaca secara efisien dapat terlaksana.Membaca ekstensif meliputi membaca survei, membaca sekilas, dan membaca dangkal.
a) Membaca survey
Sebelum kita mulai membaca maka biasanya kita meneliti terlebih dulu apa-apa yang akan kita telaah. Kita mensurvei bahan bacaan yang akan kita pelajari, yang akan ditelaah, dengan jalan;
1) Memeriksa, meneliti indeks-indeks, daftar kata-kata yang terdapat dalam buku-buku;
2) Melihat-lihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdapat dalam buku-buku yang bersangkutan;
3) Memeriksa, meneliti bagan, skema, outline buku yang bersangkutan.
b) Membaca sekilas atau skimming adalah sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis
untuk mencari serta mendapatkan informasi, penerangan. Ada tiga tujuan utama dalam membaca sekilas ini, yaitu:
1) Untuk memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku atau artikel, tulisan singkat;
2) Untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan;
3) Untuk menemukan/ menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan.
c) Membaca dangkal atau superficial readingbertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bacaan. Dalam membaca seperti ini tidak dituntut pemikiran yang mendalam, tetapi dapat dilakukan dengan santai dan menyenangkan.
8. Teks Nonsastra
Teks nonsastra adalah teks-teks bacaan yang bersifat nonfiksi.Teks tersebut disajikan berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.Teks nonsastra merupakan salah satu paparan yang berisi informasi. Sebagai paparan informasi,teks nonsastra berisi hal-hal yang sangat penting. Teks nonsastra banyak dijumpai di media cetak seperti surat kabar,majalah, atau tabloid.
Secara garis besar ada beberapa tujuan membaca teks nonsastra: Pertama, untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu hal yang sedang terjadi. Kedua, untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Dan ketiga, untuk mengisi waktu luang.
Pada kegiatan membaca ekstensif teks nonsastra, obyek yang digunakan
meliputi sebanyak mungkin teks dari berbagai sumber dalam waktu yang sesingkat mungkin.Kegiatan membaca ekstensif teks nonsastra bertujuan untuk mengidentifikasikan gagasan pokok atau ide pokok secara cepat berdasarkan teks-teks bacaan nonsastra.
9. Metode Learning Community
Learning community merupakan salah satu dari tujuh komponen utama dalam pengajaran dan pembelajaran kontekstual. Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. (Riyanto 2012:172).
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila terjadi komunikasi dua arah.
Seorang guru mengajar siswanya bukanlah contoh masyarakat belajar. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam masyarakat belajar member informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. (Riyanto 2012:173).
Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar dan ini berarti setiap orang yang akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Praktik metode ini dalam pebelajaran terwujud dalam:
Pembentukan kelompok kecil.
Pembentukan kelompok besar.
Mendatangkan ahli ke kelas.
Bekerja dengan kelas sederajat.
Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya.
Bekerja dengan masyarakat. (Riyanto 2012:173).
Contextual teaching and learning yang dibangun berdasarkan Social-Interdependence Theory (teori saling ketergantungan sosial) beranggapan bahwa pembelajaran merupakan wujud dari proses sosial. Artinya bahwa dalam pembelajaran terdapat komunitas sosial yang menciptakan “masyarakat belajar”
untuk membangun suatu pengetahuan baru yang berguna bagi setiap anggota kelompoknya. Masayarakat bealajar (learning communtiy) terbentuk dari kelompok-kelompok belajar dengan dihadapkan pada permsalahan kongkret terkait dengan materi pembelajaran yang diberikan. Dalam masyarakat belajar dituntut adanya kerjasama dan interaksi yang baik untuk menciptakan dialog antar anggota kelompoknya secara optimal. (Wardoyo 2013:59).
Learning community merupakan salah satu strategi pembelajaran dengan menggunakan sistem kerja kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan. Meskipun dalam pembelajaran diadakan kelompok kerja, namun prinsip kemandirian tidak boleh dilupakan agar tidak merugikan satu sama lainnya. Kerja kelompok yang dimaksud adalah kerja yang bertanggungjawab.
Adapun langkah-langkah strategi pembelajaran learning community:
1. Guru membagi peserta didik menjadi kelompok heterogen.
2. Guru menentukan beberapa peserta didik yang pandai untuk duduk di setiap kelompok yang ditentukan.
3. Guru memberikan lembar kerja terhadap peserta didik.
4. Peserta didik mempelajari materi dengan seksama secara bersama dan bekerjasama dengan peserta didk di dalam kelompok.
5. Guru menyuruh perwakilan dari masing-masing kelompok untuk mempersentasikan hasil tugas.
6. Guru memberikan latihan soal.
B. Kerangka Pikir
Pengajaran bahasa terdiri atas empat keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Dalam keterampilan membaca, diajarkan membaca nyaring, membaca dalam hati, membaca ekstensif, dan membaca intensif.
Keterampilan membaca ekstensif teksnonsastra siswa kelas X SMA Negeri 1 Pitumpanua belum memuaskan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor itu diantaranya dari siswa dan strategi pembelajaran yang digunakan guru.Salah satu faktor yang berpengaruh besar adalah pemilihan strategi dalam pembelajarannya. Selama ini pembelajaran membaca ekstensif yang dilakukan guru masih dengan strategi ceramah dan pemberian contoh secara lisan. Hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki contoh yang konkret, sehingga siswa kesulitan dalam mengidentifikasikan ide pokok tiap paragraf dan kesulitan dalam menuliskan kembali isi bacaan secara singkat dalam beberapa kalimat.
Untuk itu, diperlukan adanya suatu metode pembelajaran yang lebih bervariasi dalam mengatasi permasalahan mengenai kejenuhan dan kurangnya motivasi dalam pembelajaran membaca ekstensif teks nonsastra.
Keterampilan membaca ekstensif teks nonsastra dengan metode learning community diharapkan dapat menarik dan memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran membaca ekstensif sehingga tujuan pembelajaran membaca ekstensif dapat tercapai.
Bagan Kerangka Pikir
Guru:
1. Metode ceramah
2. Pemberian contoh secara lisan Siswa:
1. Tidak tertarik, acuh tak acuh dalam pembelajaran,
2. Kesulitan dalam membaca ekstensif teks nonsastra.
Kondisi Awal
Tindakan
Kondisi Akhir
Metode Learning Community
Siklus I
Siklus II
Keterampilan membaca ekstensif teks nonsastra meningkat
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian di atas, hipotesisdalam penelitian tindakan kelas ini adalah keterampilan membaca ekstensif teks nonsastra dan tingkah laku siswa kelas X SMA Negeri 1 Pitumpanua akan meningkat apabila menggunakan metode learning community.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap.
Model Penelitian Tindakan Kelas PERENCANAAN
PENGAMATAN
SIKLUS I PELAKSANAAN
SIKLUS II REFLEKSI
REFLEKSI
PENGAMATAN
PELAKSANAAN PERENCANAAN
?
20
B. Lokasi/Setting, Waktu, dan Subjek Penelitian a. Lokasi/Setting
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pitumpanua untuk mempelajari Bahasa Indonesia khususnya membaca ekstensif.
b. Waktu
Waktu penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015, yaitu dimulai pada bulan Agustus sampai bulan September.
c. Subjek
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Pitumpanua yang terdiri dari 30 siswa.
Tabel. 1. Jumlah Siswa Kelas SMA Negeri 1 Pitumpanua
C. Faktor yang Diselidiki
Faktor yang diselidiki dalam penelitian tindak kelas adalah faktor proses dan faktor hasil.
D. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus. Adapun dua siklus tersebut sebagai berikut:
1. Siklus I
Dalam siklus ini peneliti membuat program sebagai berikut:
Kelas Perempuan Laki-Laki Jumlah
X 12 18 30
a. Perencanaan Tindakan (Planning)
Pada tahap perencanaan siklus I dilakukan persiapan pembelajaran membaca ekstensif dengan membuat rencana pembelajaran terlebih dahulu.
Rencana pembelajaran ini merupakan program kerja dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Selain itu, peneliti menyiapkan materi yang akan diujikan melalui teks bacaan nonsastra.
b. Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Secara garis besar tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah melaksanakan proses pembelajaran membaca ekstensif teks nonsastra untuk mengidentifikasi ide pokok dan menulis kembali isi bacaan secara singkat dalam beberapa kalimat. Tindakan ini dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu pendahuluan, inti pembelajaran, penutup.
1) Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan ini, peneliti mengkondisikan siswa untuk siap melaksanakan proses pembelajaran dengan menyapa siswa dan menanyakan kehadiran siswa, memberikan pertanyaan kepada siswa untuk memancing dan mengarahkan pikiran siswa dalam materi pembelajaran, menjelaskan pada siswa tentang tujuan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu dan memberikan motivasi sesuai dengan tujuan pembelajaran hari itu.
2) Inti Pembelajaran
Tindakan yang dilakukan peneliti memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran membaca ekstensif teks nonsastra dengan learning community. Dalam proses pembelajaran ini, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok dan guru meminta pada masing-masing kelompok untuk memberi nama kelompoknya masing-masing sesuai dengan tema pembelajaran hari itu. Selanjutnya guru membagi sebuah teks nonsastra dan diminta untuk membaca teks tersebut sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Dari hal tersebut diharapkan siswa mampu mengidentifikasi ide pokok dan menulis kembali isi bacaan secara singkat dalam beberapa kalimat. Kemudian hasil kerja kelompok dipresentasikan oleh perwakilan tiap kelompok, sedangkan kelompok lain diminta untuk memberikan tanggapan. Kemudian peneliti memberikan penguatan terhadap hasil diskusi.
3) Penutup
Setelah proses pembelajaran selesai, guru, dan siswa mengadakan refleksi dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan apa telah telah dipelajari pada pembelajaran hari itu. Kemudian peneliti memberikan tugas di rumah pada siswa sebagai tindak lanjut dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.
c. Observasi
Observasi dalam penelitian ini adalah pengamatan peneliti tentang kegiatan siswa selama penelitian berlangsung. Observasi dilaksanakan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi ini diungkap tentang segala peristiwa yang berhubungan dengan pembelajaran, baik aktivitas siswa selama proses pembelajaran maupun respon terhadap teknik pembelajaran learning community.
d. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil tes dan nontes siklus I. Jika hasil tes siklus I belum memuaskan akan dilakukan tindakan siklus I.
Masalah-masalah yang timbul pada siklus I akan dicarikan solusinya sedangkan kelebihan-kelebihannya akandipertahankan dan ditingkatkan.
2. Siklus II
Setelah melakukan refleksi pada siklus I, peneliti melakukan tindakan pada siklus II sebagai berikut:
Setelah melakukan refleksi pada siklus I, peneliti melakukan tindakan pada siklus II sebagai berikut: