• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh: TRY SUHANDIFO (Halaman 17-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sarandan masukan yang bermanfaat bagi perusahaan yang bersangkutan mengenai pengaruh gaya hidup dan harga terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai pengaruh gaya hidup dan harga terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI.

3. Bagi Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis

Penelitian ini dapat menjadi bahan Informasi, refrensi, perbandingan untuk peneliti selanjutnya dalam mengkaji nilai-nilai sosial dalam melakukan penelitian selanjutnya terkait dengan gaya hidup dan harga terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI.

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Gaya Hidup

2.1.1 Definisi Gaya Hidup

Gaya hidup dapat diartikan sebagai “bagaimana seseorang hidup (how one lives). Gaya hidup seseorang meliputi produk yang dibelinya, bagaimana menggunakannya dan bagaimana sesorang tersebut berfikir dan merasakan semua itu. Gaya hidup, merupakan manifstasi konsep diri seseorang. Menurut Setiadi (2013:80) gaya hidup secara luas di definiskan sebagai cara hidup yang di identifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya (pendapat).

Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang cenderung berbaur dengan berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi dan psikologis konsumen. Menurut Mowen dan Minor (2002:282) Gaya hidup adalah menunjukkan cara orang hidup, cara membelanjakan uangnya, dan cara seseorang mengalokasikan waktunya.

Gaya hidup sering kali digambarkan dengan kegiatan, minat, dan opini dari seseorang (activities, interest, and opinion). Gaya hidup akan berkembang pada masing-masing dimensi AIO (activities,interest, and opinion) seperti yang

telah diidentifikasi oleh Plummer dan Assael (Setiadi,2013:81) yang tersaji dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1

Inventarisasi Gaya Hidup Activity Interest Opinion Bekerja

Gaya hidup seseorang biasanya tidak permanen dan juga tidak cepat berubah. Konsep yang terkait dengan gaya hidup adalah psikografik (Psychographic). Psikografik adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif dan bisa dipakai untuk menganalisis data yang sangat besar. Analisis Psikografik sering juga diartikan sebagai suatu riset konsumen yang menggambarkan segmen konsumen dalam hal kehidupan mereka, pekerjaan dan aktivitas lainnya. Psikografik sering juga diartikan sebagai pengukuran AIO (activities, interesst, opinions), yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen.

Menurut kotler dan Amstrong (2007:170), Gaya hidup dan pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam kadaan psikografiknya. Gaya hidup melibatkan pengukuran dimensi AIO utama pelanggan yaitu pertama

activities/kegiatan (pekerjaan, hobi, belanja, olahraga dan acara social), kedua interest/minat (makanan, pakaian, keluarga, rekreasi) dan ketiga opinions/pendapat (tentang diri mereka, masalah-masalah social, bisnis, produk).

Menurut Brandon dan Forney menyatakan bahwa gaya hidup berasal dari nilai-nilai dasar individu yang mendasari perilaku konsumen seseorang yang dapat merefleksikan suatu trend an gaya berpakaian orang tersebut. Gaya hidup seseorang merupakan fungsi karakteristik atau sifat individu yang sudah dibentuk melalui interaksi lingkungan orang yang semula tidak boros (hemat) menjadi pemboros setelah bergaul dengan orang-orang pemboros. Gaya hidup seseorang mempengaruhi perilaku pembelian, yang bias menentukan banyak keputusan konsumsi perorangan, jadi gaya hidup bisa berubah karena pengaruh lingkungan.

Pemasar juga perlu memahami gaya hidup konsumen. Menurut Setiadi (2013:87) ada empat manfaat yang diperoleh oleh pemasar dari pemahaman gaya hidup konsumen, yaitu:

1. Pemasar dapat menggunakan gaya hidup konsumen untuk melakukan segmentasi pasar sasaran.

2. Pemahaman gaya hidup konsumen juga akan membantu dalam memposisikan produk dipasar dengan menggunakan iklan.

3. Apabila gaya hidup telah diketahui, maka pemasar dapat menempatkan iklan produknya pada media yang mampu menjangkau segmen sasarannya.

4. Pemasar bisa mengembangkan produk sesuai dengan tuntutan gaya hidup konsumen.

2.1.2 Pengukuran Gaya Hidup

Menurut Sumarwan (2003:58) upaya untuk mengembangkan ukuran gaya hidup secara kuantitatif awalnya disebut dengan psikografik. Kenyataan istilah psikografik dan gaya hidup sering sekali tidak dibedakan. Studi psikografi atau gaya hidup mencakup hal-hal dimensi berikut:

1. Sikap – pernyataan evaluatif tentang orang lain, tempat ,ide/ gagasan, produk dan lain sebagainya.

2. Nilai (value) – mencakup kepercayaan (belief) tentang apa yang bisa diterima atau diinginkan.

3. Kegiatan atau interest – perilaku “nonoccupational behavior” dimana konsumen menggunakan waktu dan upaya, seperti hobi, olahraga, pelayanan umum, mesjid (sembahyang lingkungan/ wilayah, pengajian).

4. Demografi – umur, pendidikan, pendapatan, kedudukan, struktur family, latar belakang etnis, jenis kelamin, lokasi geografis (orang pantai= nelayan, orang pegunungan – petani).

5. Pola media-media yang bisa dipergunakan (cetak/ elektronik).

6. Tingkat penggunaan ( usage state) – ukuran konsumsi dalam satu kategori produk spesifik, seperti konsumen dikelompokkan menjadi pengguna berat, medium, ringan.

2.2 Harga

2.2.1 Pengertian Harga

Pengertian harga dapat didefinisikan sebagai alat tukar. Menurut Sangadji dan Sophia (2013:132) Harga adalah atribut produk atau jasa yang paling sering digunakan oleh sebagian besar konsumen untuk mengevaluasi suatu produk atau

jasa. Sedangkan menurut Tjiptono (2008:151), harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, tempat, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya atau pengeluaran. Harga merupakan faktor utama yang dipertimbangkan dalam pemilihan suatu produk ataupun jasa. Menurut Kotler dalam Amir (2005:146) harga adalah jumlah keseluruhan nilai yang dipertukarkan konsumen untuk manfaat yang didapatkan atau digunakannya atas suatu produk dan jasa.

Berdasarkan definisi tersebut, maka harga merupakan jumlah uang yang diperlukan sebagai penukar berbagai kombinasi produk dan jasa, dengan demikian maka suatu harga haruslah dihubungkan dengan bermacam-macam barang ataupun pelayanan, yang akhirnya akan sama dengan suatu yaitu produk dan jasa.

Menurut Stanton (1998:30), ada empat indikator yang mencirikan harga yaitu, keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.

1. Keterjangkauan harga, yaitu aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan kemampuan beli konsumen.

2. Daya saing harga, yaitu penawaran harga yang diberikan oleh produsen/penjual berbeda dan bersaing dengan yang diberikan oleh produsen lain, pada satu jenis produk yang sama.

3. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan kualitas produk yang dapat konsumen.

4. Kesesuaian harga dengan manfaat produk, yaitu aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh konsumen dari produk yang dibeli.

2.2.2 Peran dan Fungsi Harga dalam Pemasaran

Menurut Kristanto (2011:200), dari sudut pandang pemasaran minimal ada tiga peran/fungsi utama harga, yaitu :

1. Turut menentukan volume penjualan.

Dengan mengacu pada kurva penawaran dan permintaan (supply and demand), kita mengetahui bahwa harga berbanding terbalik dengan volume penjualan;

semakin tinggi harga sebuah produk maka volume penjualan semakin rendah.

2. Turut menentukan besarnya laba.

Kita ketahui bahwa dasar utama untuk kalkulasi penetapan harga jual sebuah produk adalah ‘biaya plus laba’ (cost-plus) atau dengan kata lain, laba sebuah produk ditentukan oleh harga jual per unit dikurangi dengan biaya-biaya atau harga pokok penjualan (cost of goods sold). Pada tingkat harga pokok penjualan tertentu, semakin tinggi harga jual semakin tinggi laba yang diperoleh dan sebaliknya.

3. Turut menentukan citra produk.

Salah satu unsur yang membentuk citra sebuah produk adalah persepsi mengenai kualitas produk, dan persepsi mengenai kualitas sebuah produk ditentukan antara lain oleh harga jual produk; artinya, semakin mahal harga sebuah produk maka persepsi konsumen mengenai kualitas produk tersebut semakin tinggi dan sebaliknya.

2.2.3 Strategi Harga

Menurut Kotler dalam Sunyoto (2013:15) Dalam menetapkan harga pada sebuah produk perusahaan mengikuti prosedur enam langkah adalah:

1. Perusahaan dengan hati-hati menyusun tujuan-tujuan pemasarannya,misalnya mempertahankan hidup, meningkatkan laba saat itu, ingin memenangkan bagian pasar atau kualitas produk.

2. Perusahaan menentukan kurva permintaan yang memperlihatkan kemungkinan jumlah produk yang akan terjual per periode, pada tingkat-tingkat harga alternatif. Permintaan yang tidak elastis, semaki tinggi pula harga yang dapat ditetapkan oleh perusahaan.

3. Perusahaan memperkirakan bagaimana biaya akan bervariasi pada tingkat produksi yang berbeda-beda.

4. Perusahaan mengamati harga-harga para pesaing sebagai dasar untuk menetapkan harga mereka sendiri.

5. Perusahaan memilih salah satu dari metode penetapan harga terdiri dari penetepan harga biaya plus, analisis peluang pokok dan penetapan laba sasaran, penetapan harga nilai yang diperoleh, penetapan harga yang sesuai dengan laju perkembangan dan penetapan harga dalam sampul tertutup.

6. Perusahaan memilih harga final, menyatakannya dalam cara psikologis yang paling efektif dan mengeceknya untuk meyakinkan bahwa harga tersebut sesuai dengan kebijakan penetapan harga perusahaan serta sesuai pula dengan para penyalur, grosir, wiraniaga perusahaan, pesaing pemasok dan pemerintah.

2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga

Menurut Sunyoto (2013:16) ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga yang meliputi:

1. Memperkirakan permintaan produk (Estimate for the product) Ada dua langkah memperkirakan permintaan yaitu:

a. Memperkirakan berapa besarnya harga yang diharapkan (the expected price)

Harga yang diharapkan untuk suatu produk adalah harga yang secara sadar atau tidak sadar atau tidak sadar dinilai oleh konsumen atau pelanggan.

Dalam hal ini penjual harus dapat memperkirakan bagaimana reaksi pelangggan atau konsumen, apabila reaksinya itu bersifat in elastis, elastis atau inverse demand. In elastis demand artinya apabila harga produk tersebut dinaikkan atau diturunkan, maka reaksinya terhadap perubahan barang yang diminta tidak begitu besar.

b. Memperkirakan penjualan dengan harga yang berbeda (estimate of sales at various price)

Menejemen eksekutif harus juga dapat memperkirakan volume penjualan dengan harga yang berbeda, sehingga dapat ditentukan jumlah permintaan, elastisitas permintaan, dan tidak impas yang mungkin tercapai.

2. Reaksi Pesaing (Competitive Reactions)

Sumber persaingan berasal dari tiga macam, yaitu:

a. produk yang serupa, misalnya minuman energy M-150 dengan minuman extra joss.

b. produk pengganti, misalnya merek gulaku dengan merek Tropicana slim, susu sapi dengan susu keledai.

c. produk yang tidak serupa, tetapi mencari konsumen yang sama, misalnya jasa pendidikan perguruan tinggi dengan produk komputer, produk sepeda motor dengan mobil.

3. Bauran pemasaran lainnnya ( other parts of marketing mix) a. Produk

kegunaan produk, baru atau tidaknya produk, modifikasi produk dan lain-lain.

b. saluran distribusi

Tipe saluran dan tipe peluang yang diperlukan akan mempengaruhi penetapan harga, harga ke grosir tentu berbeda dengan harga ke pengecer.

c. Promosi

Promosi dilakukan oleh produsen dan jika dilakukan oleh produsen dan jika dilakukan oleh distributor tentu berbeda dalam menetapkan harga kepada distributor.

2.3 Keputusan Pembelian

2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Menurut Setiadi (2013:342) pengambilan keputusan adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengaevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memlih salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah suatu pilihan (choice) yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku. Menurut Kotler (2008) keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk

ataupun jasa. Biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang dikenal oleh masyarakat sebelum konsumen memutuskan untuk membeli. Biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu, (1) pengenalan masalah,(2) pencarian informasi, (3) evaluasi altenatif, (4) keputusan pembelian atau tidak, (5) perilaku pasca pembelian.

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk melakukan pembelian sebuah produk. Oleh karena itu, pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan sesuatu proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif penyelasaian masalah dengan tindak lanjut yang nyata. Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya.

2.3.2 Proses Keputusan Pembelian Konsumen

Menurut Kotler & Armstrong dalam Setiadi (2013:15) proses keputusan pembelian konsumen terdiri dari lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca-pembelian.

1. Pengenalan Masalah

Pengenalan masalah merupakan tahap pertama dari proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen menyadari adanya masalah kebutuhan.

Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dan kondisi yang dinginkannya. Pada tahap ini pemasar harus meneliti konsumen untuk menemukan jenis kebutuhan atau masalah apa yang muncul, apa yang memunculkan mereka, dan bagaimana dengan adanya masalah tersebut, konsumen akan termotivasi untuk memilih produk tertentu.

2. Pencarian Informasi

Pencarian informasi (information search) merupakan tahap dimana konsumen telah tertarik untuk mencari lebih banyak informasi. Dalam hal ini, mungkin konsumen akan mencari informasi secara aktif dan konsumen dapat informasi dari mana sumber maupun, seperti:

a. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, dan kenalan.

b. Sumber komersial: Iklan, tenaga penjualan, penyalur, kemasan dan pameran.

c. Sumber umum: media massa dan organisasi konsumen.

d. Sumber pengalaman: pernah menangani, menguji, dan menggunakan produk.

3. Evaluasi Alternatif

Evaluasi alternatif (alternative evaluation) merupakan tahap dimana konsumen menggunakan informasi yang ia dapatkan untuk mengevaluasi merek-merek alternatif dalam susunan pilihan. Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen dan situasi pembelian tertentu.

4. Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian merupakan tahap dimana konsumen dalam tahap pngambilan keputusan pembelian sampai konsumen benar-benar membeli produk atau jasa tersebut.

5. Perilaku Pasca Pembelian

Perilaku pasca pembelian merupakan tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membelli berdasarkan kepuasan atau tidakpuasan yang konsumen

rasakan. Konsumen tersebut juga akan terlibat dalam tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang akan menarik minat pemasar.

Gambar 2.1

Proses Keputusan Pembelian

Sumber: Setiadi (2013:14)

2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:132) ada tiga faktor yang mempengaruhi konsumen untuk mengambil keputusan. Yaitu: (1) Faktor Psikologi, (2) Faktor Situsional, (3) Faktor Sosial.

1. Faktor Psikologis

Faktor psikologis mencakup persepsi, motivasi, pembelajaran, sikap, dan kepribadian. Sikap dan kepercayaan merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sikap adalah suatu kecendrungan yang dipelajari untuk beraksi terhadap penawaran produk dalam situasi dan kondisi tertentu secara konsisten. Sikap mempengaruhi kepercayaan, dan kepercayaan mempengaruhi sikap. Kepribadian merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumen. Kepribadian adalah pola individu dalam merespons stimulus yang muncul dari lingkungan.

Termasuk dalam kepribadian adalah opini, minat dan prakarsa.. konsumen akan belajar setelah mendapat pengalaman dari orang lain. Setelah membeli dan mengonsumsi produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas. Jika puas, konsumen akan melakukan pembelian ulang dilain waktu. Sebaliknya, jika tidak puas, konsumen tidak akan melakukan pembelian dilain waktu.

Pengenalan

2. Faktor Situsional

Faktor situsional mencakup keadaan sarana dan prasarana tempat belanja, waktu berbelanja, penggunaan produk, dan kondisi saat pembelian. Keadaan sarana dan prasarana tempat belanja mencakup tempat parkir, gedung, eksterior, dan interior toko, pendingin udara, penerangan/pencahayaan, tempat ibadah, dan sebagainya. Waktu berbelanja bisa pagi, siang, sore ataupun malam hari . waktu yang tepat untuk berbelanja bagi setiap orang tentu berbeda. Orang yang sibuk bekerja pada malam hari akan memilih waktu belanja pada sore atau malam hari. Kondisi saat pembelian produk adalah sehat, senang, sedih, kecewa, atau sakit hati. Kondisi saat melakukan pembelian akan mempengaruhi pembuatan keputusan konsumen.

3. Faktor Sosial

Faktor sosial mencakup undang-undang/peraturan, keluarga, kelompok refrensi, kelas sosisal dan budaya.

a. Sebelum memutuskan untuk membeli produk, konsumen akan mempertimbangkan apakah pembelian produk tersebut diperbolehkan atau tidak boleh aturan/undang-undang yang berlaku. Jika diperbolehkan, konsumen akan melakukan pembelian, namun jika dilarang undang-undang atau peraturan(daerah, regional, nasional, bahkan internasional) konsumen tidak akan melakukan pembelian.

b. Keluarga teridri dari ayah, ibu dan anak. Anak yang baik tentu akan melakukan pembelian produk jika ayah atau ibunya menyutujui.

c. Untuk kelompok refrensi, contohnya kelompok refrensi untuk ibu-ibu (kelompok pengajian, PKK, dan arisan) remaja ( kelompok boy band, girl

band,tim basket idola, dan bola terkenal) dan bapak-bapak ( kelompok pengajian, kelompok penggemar motor besar, kelompok penggila bola dan kelompok pecinta ikan , burung).

d. Untuk kelas sosial ada di masyarakat, contohnya kelas atas, menengah dan bawah.

e. Untuk budaya atau subbudaya, contohnya suku sunda, jawa, batak, Madura. Tiap suku/ etnis mempunyai budaya/subbudaya yang berebeda.

2.4 Kerangka Konseptual

Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono (2012:88), Kerangka Konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Berdasarkan teori maka dapat dilihat kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan dari variabel independen, dalam hal ini adalah Gaya Hidup (X1) dan Harga (X2), terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembelian (Y).Variabel-variabel tersebut akan dianalisis dalam penelitian sehingga diketahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel tersebut dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Kerangka konseptual dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Sumber: Diolah peneliti, 2017

Gaya Hidup (X1) Harga (X2)

Keputusan Pembelian (Y)

2.5 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2012:93), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian belum jawaban empirik. Berdasarkan kerangka konseptual, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho1: Gaya hidup tidak berpengaruh dan tidak signiikan terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI

Ha1: Gaya hidup berpengaruh dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI

Ho2: Harga tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap keputusan pembelian pada cinema XXI.

Ha2: Harga berpengaruh dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI

Ho3: Gaya hidup dan Harga tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap keputusan pembelian Cinema XXI

Ha3: Gaya hidup dan Harga berpengaruh dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada Cinema XXI

2.6 Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian terdahulu yang dapat disajikan sebagai acuan penelitian ini, anatara lain meliputi:

1. Ali Imron (2011)

Penelitian ini berjudul Pengaruh Gaya hidup dan Harga produk terhadap keputusan pembelian pada toko sepeda Rodalink Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah untuk meneliti Pengaruh gaya hidup dan harga produk terhadap keputusan pembelian pada toko sepeda Rodalink medan adalah analisis deskriptif dan metode analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat anatara variabel gaya hidup dan harga dengan adjusted R square sebesar 62.3% dan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji F menyatakan variabel gaya hidup dan harga secara serentak berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada toko sepeda Rodalink Medan. Hasil Uji t menyatakan bahwa variabel yang paling dominan mempengaruhin keputusan pembelian adalah variabel gaya hidup (X1)

2. Memori Karina Hasugian (2016)

Penelitian ini berjudul Pengaruh Gaya hidup, harga dan kelompok referensi terhadap keputusan pembelian pada bioskop The Premiere studi pada mahasiswa/I Fakultas Imu Soisal dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Tipe penelitian yang digunakan adalah eksplanasi asosiatif. Sampel dalam penelitian ini adalah 97 orang responden. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif yang meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda, pengujian hipotesis melalui uji t dan uji F, serta analisis koefisien determinasi. Data yang telah memenuhi uji validitas, uji reliabilitas dan uji asumsi klasik diolah sehingga menghasilkan persamaan regresi Y=2,047+0,468X1+0,276X2+0,170X3+e. Dimana variabel

keputusan pembelian (Y), gaya hidup (X1), harga (X2), kelompok referensi (X3). Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa gaya hidup, harga, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Melalui uji F diketahui bahwa secara serempak gaya hidup, harga, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Koefisien determinasi yang terlihat pada R Square sebesar 0,621 menunjukkan bahwa 62,1% keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh variabel gaya hidup, harga dan kelompok referensi.

3. Murniati (2014)

Penelitian ini berjudul Analisis Pengaruh Harga, Lokasi, dan Gaya Hidup terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi pada Music Coffee Jl. Dr.

Mansyur No. 76 Medan). Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 97 orang responden.

Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa harga, lokasi, dan gaya hidup tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

Koefisien determinasi yang terlihat pada Adjusted R Square sebesar 0,043 menunjukkan bahwa 4,3% variabel keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh variabel harga, lokasi, Dan gaya hidup sedangkan sisanya 95,7% dijelaskan variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4. Winda Clarinda (2014)

Penelitian ini berjudul Pengaruh Gaya Hidup, Merek, dan Kelompok Referensi terhadap Keputusan Pembelian Smartphone iPhone di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa/i Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang melakukan pembelian

dan menggunakan smartphone iPhone di Universitas Sumatera Utara, dengan jumlah sampel sebanyak 97 orang responden yang diambil dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Secara simultan gaya hidup, merek, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Secara parsial gaya hidup, merek, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Nilai Adjusted R Square yang didapat dari hasil pengujian Koefisien Determinan sebesar 0,550 menjelaskan bahwa 55% keputusan pembelian mampu dijelaskan oleh variabel independen yaitu gaya hidup, merek, dan kelompok referensi. Sedangkan 45% sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak

dan menggunakan smartphone iPhone di Universitas Sumatera Utara, dengan jumlah sampel sebanyak 97 orang responden yang diambil dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Secara simultan gaya hidup, merek, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Secara parsial gaya hidup, merek, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Nilai Adjusted R Square yang didapat dari hasil pengujian Koefisien Determinan sebesar 0,550 menjelaskan bahwa 55% keputusan pembelian mampu dijelaskan oleh variabel independen yaitu gaya hidup, merek, dan kelompok referensi. Sedangkan 45% sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh: TRY SUHANDIFO (Halaman 17-0)