• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

a) Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Bantuan Keuangan Provinsi terhadap IndeksPembangunan Manusia dengan Jumlah Penduduk sebagai Variabel moderating pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

b) Bagi Pemerintah Daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di daerah masing-masing pada masa yang akan datang.

c) Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan acuan atau referensi bagi yang berminat melakukan penelitian berikutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator untuk mengukur pembangunan suatu daerah berdasarkan tiga acuan, yaitu peluang hidup, pendidikan, dan standar hidup layak. Ketiga acuan tersebut dapat tercapai dengan optimal jika didorong oleh efektivitas kinerja pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD.

Dalam landasan teori ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori yang melandasi penelitian ini dan beberapa peneliti terdahulu yang telah diperluas dengan referensi atau keterangan tambahan yang diperoleh selama penelitian.

2.1.1. Indeks Pembangunan Manusia.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Pada tahun 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) sudah melakukan penyempurnaan IPM dengan metodologi baru dengan perubahan pada indikator dan metode perhitungan yang digunakan. IPM yang awalnya menggunakan Angka Melek Huruf sebagai indikator untuk kesejahteraan di bidang pendidikan, kini berubah menjadi Angka Harapan Lama Sekolah.

Begitu juga dengan PDB per kapita sebagai indikator standar hidup yang layak diganti dengan PNB per kapita. Dalam metode perhitungan, IPM dengan metode lama yang menggunakan metode agregasi, kini diubah menjadi metode rata-rata geometrik.

Penjelasan mengenai variabel-variabel dalam metode baru IPM adalah sebagai berikut : Sumber (www.bps.go.id)

a. Angka Harapan Hidup Saat Lahir - AHH (Life Expectancy - e ).

Angka Harapan Hidup saat Lahir didefnisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir.

AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. AHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan.

b. Rata-rata Lama Sekolah - RLS (Mean Years of Schooling - MYS).

Rata-rata Lama Sekolah didefi\isikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.

Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas.

c. Angka Harapan Lama Sekolah - HLS (Expected Years of Schooling - EYS).

Angka Harapan Lama Sekolah didefnisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini.

Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak.

d. Pengeluaran per Kapita Disesuaikan.

Pengeluaran per kapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (Purcashing Power Parity atau PPP). Rata-rata pengeluaran per kapita setahun dihitung dari level provinsi hingga level kabupaten/kota. Rata-rata pengeluaran per kapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012 = 100. Perhitungan paritas daya beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66

komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas non makanan.

2.1.2. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk merupakan perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk (migrasi). Kelahiran dan kematian dinamakan faktor alami, sedangkan perpindahan penduduk dinamakan faktor non alami.

BPS menjelaskan bahwa yang dapat dikatakan penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Menurut Dumairy (1996), penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian. Dalam konteks pasar, ia berada baik disisi permintaan maupun disisi penawaran. Disisi permintaan, penduduk adalah konsumen, sumber permintaan akan barang-barang dan jasa. Disisi penawaran, penduduk adalah produsen, jika ia pengusaha, pedagang, tenaga kerja, atau pekerja. Dalam konteks pembangunan, pandangan terhadap penduduk terpecah menjadi dua. Umumnya, literatur-literatur kuno yang menganggap penduduk sebagai penghambat dalam pembangunan, sedangkan literatur-literatur modern justru memandang sebagai pemacu pembangunan.

2.1.3. Pendapatan Asli Daerah

Menurut Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Sedangkan, menurut Abdul Halim (2004:94),

“pendapatan asli daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Sektor pendapatan daerah memegang peranan yang sangat penting, karena melalui sektor ini dapat dilihat sejauh mana suatu daerah dapat membiayai kegiatan pemerintah dan pembangunan daerah.

Kemudian menurut Abdul Halim (2007:96), kelompok Pendapatan asli daerah dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu:

A. pajak daerah, B. retribusi daerah,

C. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, D. lain lain pendapatan asli daerah yang sah.

2.1.4. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian

terjadi transfer yang cukup signifikan di dalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain yang tidak penting, (Darwanto dan Yustikasari 2007).

Dana Alokasi Umum diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan formula berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan terbelakang harus menerima lebih banyak daripada daerah kaya. Selain itu luas wilayah dan jumlah penduduk menjadi hal yang harus diperhatikan juga dalam pengalokasian DAU. Dengan kata lain, tujuan penting dari pengalokasian DAU adalah dalam kerangka pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik antara Pemda di Indonesia.

2.1.5. Dana Alokasi Khusus

Berdasarkan UU NO. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah Pasal 39 menyebutkan bahwa Dana Alokasi Khusus dialokasikan kepada Daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan Urusan Daerah sesuai dengan fungsi yang ditetapkan dalam APBN. Pada hakikatnya pengertian Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang berasal dari APBN, yang dialokasikan kepada Daerah untuk membantu membiayai kebutuhan khusus. Pengalokasian DAK ditentukan dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN. DAK disalurkan dengan cara pemindah bukuan dari

rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah. Oleh sebab itu DAK dicantumkan dalam APBD. DAK tidak dapat digunakan untuk mendanai administrasi kegiatan, penyiapan kegiatan fisik, penelitian, pelatihan, dan perjalanan dinas.

2.1.6. Bantuan Keuangan Provinsi

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 menyatakan bahwa bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota dapat menganggarkan bantuan keuangan kepada pemerintah daerah lainnya dan kepada desa yang didasarkan pada pertimbangan untuk mengatasi kesenjangan fiskal, membantu pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang tidak tersedia alokasi dananya, sesuai kemampuan keuangan masing-masing daerah. Pemberian bantuan keuangan dapat bersifat umum dan bersifat khusus. Bantuan keuangan yang bersifat umum digunakan untuk mengatasi kesenjangan fiskal dengan menggunakan formula antara lain variabel pendapatan daerah, jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin dan luas wilayah yang ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Bantuan keuangan yang bersifat khusus digunakan untuk membantu capaian kinerja

program prioritas pemerintah daerah/desa penerima bantuan keuangan sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan penerima bantuan. Pemanfaatan bantuan keuangan yang bersifat khusus ditetapkan terlebih dahulu oleh pemberi bantuan.

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Hasil dari beberapa penelitian terdahulu akan dijadikan bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut :

1. Renani, Mirfatah, dan Honarvar (2012), telah meneliti tentang Effects of Human Development Indexes (HDIs) on Economic Growth in MENA Countrie : An Emphasis on Education and Literacy Indexes. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Tingkat Pendidikan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Angka Melek Huruf berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi.

2. Lugastoro dan Ananda (2013), telah melakukan penelitian tentang Analisis Pengaruh PAD dan Dana Perimbangan terhadap IPM Kabupaten/Kota Jawa Timur. Hasil dari penelitian tersebut adalah Rasio PAD dan DAK terhadap belanja modal dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap IPM. Sedangkan, DAU berpengaruh negatif signifikan terhadap IPM dan Rasio DBH terhadap belanja modal tidak signifikan mempengaruhi IPM Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap IPM.

3. Widarwanto (2015), telah melakukan penelitian mengenai Pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan

Belanja Pelayanan Dasar sebagai variabel moderating (studi kasus pada pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara). Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa DAU, DAK dan PAD secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap IPM, sedangkan DBH dan BKP secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap IPM. Secara simultan, variabel DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM. Variabel Belanja Pelayanan Dasar mampu memoderasi hubungan antara variabel DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap IPM.

4. Novianty Wenny (2016), telah meneliti tentang Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Bantuan Keuangan Provinsi terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan Jumlah Penduduk sebagai Variabel Moderating Pada pemerintah Kabupaten/kota Provinsi Sumatera Utara.

Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa secara simultan variabel Pendapatan asil Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Bantuan Keuangan Variabel (BKP) berpengaruh siginifikan positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Jumlah Penduduk tidak memperkuat atau memperlemah pengaruh PAD, Dana Perimbangan dan BKP secara simultan terhadap Indeks Pembangunan Manusia.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Nama

Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil penelitian

Renani,

Rasio PAD dan DAK terhadap belanja modal dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap IPM, sedangkan Rasio DBH terhadap belanja modal tidak signifikan mempengaruhi IPM

DAU, DAK, PAD, dan BKP secara simultan berpengaruh terhadap IPM DAU, PAD dan DBH secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap IPM, sedangkan DAK dan BKP secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap IPM

BPD memoderasi hubungan DAU, DAK, PAD, BDH dan BKP terhadap IPM Dana Perimbangan dan BKP secara simultan terhadap Indeks

Pembangunan Manusia.

2.3. Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang dan landasan teori, variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen, variabel dependen dan variabel

moderating. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah (X1), Dana Alokasi Umum (X2), Dana Alokasi Khusus(X3) dan Bantuan Keuangan Provinsi (X4). Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (Y). Variabel independen dan variabel dependen tersebut dimoderasi oleh Jumlah Penduduk (Z). Hal tersebut dapat terlihat dalam Gambar 2.1

H1

H2

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian

1) Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Pendapatan Asli Daerah digunakan pemerintah untuk belanja daerah pada sektor-sektor yang dapat menaikkan Indeks Pembangunan Manusia,

Dana Alokasi

Umum (X2) Indeks

Pembangunan Manusia (Y) Dana Alokasi

Khusus (X3) Bantuan Keuangan

Provinsi (X4)

Jumlah Penduduk (Z)

Pendapatan Asli Daerah (X1)

seperti di bidang pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan sosial.

Namun, daerah yang memiliki Pendapatan Asli Daerah yang tinggi belum tentu dapat melaksanakan program-program pelayanan publik tersebut jika Pendapatan Asli Daerah tidak dikelola dengan baik. Tingkat keberhasilan kinerja pemerintah daerah tidak hanya bergantung pada jumlah dari Pendapatan Asli Daerah yang diperoleh, namun juga bergantung pada tata cara pengelolaan Pendapatan Asli Daerah yang diukur dalam rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah. Oleh karena itu, semakin efektif pengelolaan Pendapatan Asli Daerah maka semakin efektif kinerja pemerintahan suatu daerah. Ketika kinerja pemerintah semakin baik, maka Pendapatan Asli Daerah yang dikelola pemerintah semakin efektif pengalokasiannya dalam merealisasikan program-program pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, semakin efektif Pendapatan Asli Daerah suatu daerah akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di daerah tersebut.

2) Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Konseksuensi pelaksanaan desentralisasi adalah pemberian sumber keuangan Negara kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Tujuan dana perimbangan adalah mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Salah satu dana perimbangan adalah Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Yang berarti terjadi transfer yang cukup signifikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah dapat menggunakan dana ini untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Pada kondisi tersebut, pelaksanaan penyediaan layanan publik dapat terwujud dengan baik, sehingga pembangunan manusia akan berhasil dan Indeks Pembangunan Manusia akan meningkat.

3) Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah dengan kemampuan keuangan di bawah rata-rata nasional, dalam rangka mendanai kegiatan penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat yang telah merupakan urusan daerah. DAK merupakan dana yang berasal dari APBN dan dialokasikan ke daerah kabupaten/kota untuk membiayai kebutuhan tertentu yang sifatnya khusus, tergantung tersedianya dana dalam APBN (Suparmoko, 2002). Kebutuhan khusus

adalah kebutuhan yang sulit diperkirakan dengan rumus alokasi umum, dan atau kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.

4) Pengaruh Bantuan Keuangan Provinsi Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Selain menerima dana perimbangan dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota juga menerima perimbangan dari pemerintah provinsi antara lain berupa pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Pemerintah daerah menganggarkan Bantuan Keuangan Provinsi untuk mengatasi kesenjangan sosial di daerah lainnya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah masing-masing. Secara khusus, bantuan keuangan tersebut membantu capaian kinerja program prioritas pemerintah daerah penerima bantuan keuangan. Ketika program prioritas pemerintah tersebut tercapai, maka akan berpengaruh terhadap kesejahteraan penduduk yang dinilai dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia.

5) Pengaruh Jumlah Penduduk Terhadap Indeks Pembangunan Manusia.

Pertambahan jumlah penduduk juga dapat menjadi faktor pendorong ataupun faktor penghambat dalam pembangunan. Semakin tinggi jumlah penduduk, semakin banyak pula kebutuhan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk. Ledakan jumlah penduduk yang terjadi saat ini tidak sebanding dengan kuantitas dan kualitas pelayanan publik sehingga

dapat menghambat produktivitas suatu daerah. Hal tersebut menyebabkan banyak kebutuhan penduduk akan pelayanan publik yang tidak terpenuhi, sehingga kondisi tersebut mampu memperlemah Indeks Pembangunan Manusia.

Di sisi lain, jika pemerintah dapat menyikapi dengan baik dan tepat pertambahan jumlah penduduk tersebut, maka penduduk dapat dijadikan modal utama dalam pembangunan. Setiap daerah dapat menjadikan pertambahan jumlah penduduk tersebut sebagai modal sumber daya manusia potensial yang dapat dikembang sehingga menjadi modal yang berkualitas dan dapat menjadi faktor pendukung pembangunan.

2.4. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konseptual tersebut, maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1 : Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Bantuan Keuangan Provinsi berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

2 : Jumlah Penduduk memoderasi hubungan antara Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Bantuan Keuangan Provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian asosiatif kausal, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan permasalahan yang berisfat hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2008:37). Dalam penelitian ini terdapat variabel independen (yang mempengaruhi), variabel dependen (yang dipengaruhi), dan variabel moderating yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen dan variabel independen.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di wilayah Pemerintahan Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Waktu penelitian dilakukan bulan Juli 2016 sampai dengan selesai.

3.3 Populasi dan Sampel penelitian

Adapun yang menjadi populasi dan sampel yang digunakan penulis dalam penelitian in adalah sebagai berikut :

3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah sekumpulan individu-individu dengan kualitas dan karakter yang sudah ditetapkan oleh peneliti (Nazir, 2005:271). Kualitas atau ciri tersebut yang disebut sebagai variabel. Populasi penelitian ini adalah Laporan APBD dan Laporan Realisasi APBD 21 kabupaten dan 3 kota di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2011-2014.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling dengan cara purposive sampling yaitu “teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.”

(Erlina, 2008:83)

Adapun yang menjadi kriteria yang ditentukan peneliti dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut :

1. Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang secara konsisten mempublikasikan Laporan APBD dan Laporan Realisasi APBD dalam situs Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan selama periode 2011-2014.

2. Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang secara rutin memperoleh dana Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) selama periode 2011-2014.

3. Ketersediaan data IPM daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode 2011-2014.

Berdasarkan kriteria sampel tersebut diperoleh 19 sampel yang memenuhi kriteria, yaitu 16 Kabupaten dan 3 Kota di Provinsi Sulawesi Selatan sehingga jumlah sampel yang diteliti adalah 19 sampel dikali 4 tahun penelitian sebanyak 76 sampel.

Tabel 3.1

Daftar Populasi dan Sampel Penelitian

NO Kabupaten/Kota

3.4. Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel

Variabel-variabel dalam penelitian ini dapat digambarkan dan didefinisikan secara operasional sebagai berikut :

3.4.1. Variabel Independen

Adapun yang menjadi variabel bebas (independen) dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

3.4.1.1. Pendapatan Asli Daerah ( PAD)

Pendapatan Asli daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah yang diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Semakin besar rasio yang dihasilkan, maka semakin baik dan efektifnya kinerja pemerintah daerah dalam mengolah pendapatan daerah tersebut.

Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :

PAD = HPD + RD + PLPD + LPS 3.4.1.2 Dana Alokasi Umum ( DAU )

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah salah satu transfer dana Pemerintah kepada Pemerintah Daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

3.4.1.3 Dana Alokasi Khusus ( DAK )

Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumberdari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Dana Alokasi Khusus untuk masing-masing Kabupaten/Kota dapat dilihat dari pos dana perimbangan dalam Laporan Realisasi APBD.

3.4.1.4 Bantuan Provinsi

Bantuan Keuangan Provinsi adalah realisasi pendapatan daerah bagi pemerintah kabupaten/kota yang berasal dari APBD provinsi untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Data Bantuan Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan diperoleh dari realisasi BKP dalam Laporan Realisasi APBD Provinsi Sulawesi Selatan.

3.4.2. Variabel Dependen

Adapun yang menjadi variabel terikat (dependen) dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

3.4.2.1 Indeks Pembangunan Manusia

IPM adalah indikator untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah yang diukur berdasarkan tiga acuan, yakni panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari Angka Harapan Hidup), terdidik (diukur Angka Harapan Lama Sekolah), dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari Paritas Daya Beli atau pendapatan per kapita).

3.4.3 Variabel Moderating

Adapun yang menjadi variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen dalam

Adapun yang menjadi variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen dalam

Dokumen terkait