BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat kepada beberapa pihak yaitu :
1. Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit pada perusahaan manufaktur.
2. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan referensi yang bermanfaat dalam melakukan penelitian sejenis dengan memberikan bukti empiris mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas audit.
3. Bagi ilmu akademisi, Manfaat pada ilmu pengetahuan khususnya dibidang auditing, hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah referensi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit pada perusahaan manufaktur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Teori Keagenan ( Agency Theory )
Menurut Jensen dan Meckling (1976:305-360), teori keagenan menjelaskan hubungan antara pemegang saham (prinsipal) dengan manajemen (agen). Hubungan keagenan ini merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama dari prinsipal dan memberikan wewenang kepada agen untuk membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal.
Kemungkinan bahwa agen akan bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal apabila kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Menurut Elqorni (2009), terdapat tiga masalah dalam keagenan, yaitu kontrol pemegang saham kepada manajer, biaya yang disertai hubungan agensi dan menghindari serta meminimalisasi biaya agensi (agency cost).
Manajemen (agen) yang memiliki lebih banyak informasi tentang perusahaan (asymmetric information) cenderung untuk melakukan tindakan opportunis yang bertujuan untuk meningkatkan kekayaan agen itu sendiri serta dapat merugikan bagi para investor (prinsipal). Untuk meminimalisasi hal tersebut, principal mengeluarkan biaya untuk memonitor dan mengontrol kinerja dari para manajer (agen) yang disebut dengan biaya agensi (agency cost).
Menurut Anthony dan Govindarajan (2009), teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu akan bertindak untuk kepentingan mereka sendiri.
Agen menganggap kepentingan agen hanya sebatas kompensasi keuangan, kondisi kerja yang nyaman dan jam kerja yang fleksibel. Sedangkan prinsipal menganggap bahwa pengembalian keuangan yang tinggi dari investasi merupakan tujuan utama. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan pihak principal dan agen mengalami konflik.
Menurut Jensen dan Meckling (1976) agency cost merupakan jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap agen. Hampir mustahil bagi perusahaan untuk memiliki zero agency cost karena adanya perbedaan kepentingan yang sangat besar antara manajer dan prinsipal.
Menurut teori keagenan, mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen dapat mengurangi konflik keagenan. Proses ini dapat dilakukan dengan menghadirkan kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) , karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer ikut berkontribusi dan merasakan langsung manfaat dari setiap kuputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen dengan mengikutsertakan manajemen dalam modal perusahaan.
Dalam upaya untuk menekan masalah agensi ini dibutuhkan adanya pihak ketiga yang independen untuk menjembatani konflik antara prinsipal dan agen. Pihak ketiga tersebut ialah Kantor Akuntan Publik atau auditor
independen. Proses pengauditan diharapkan dapat mengurangi ketidaksesuaian informasi diantara manajemen dan pemegang saham dengan menggunakan pihak lain adalah auditor untuk mengesahkan laporan keuangan (De Angelo, 1981).
Auditor diharapkan memberikan kualitas audit yang baik dalam memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan perusahaan serta mengungkapkan permasalahan going concern yang dihadapi perusahaan apabila auditor meragukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (Astuti, 2014). Auditor bertugas untuk memberikan infomasi yang lebih baik kepada pengguna informasi. Hasil audit yang berkualitas diharapkan dapat mengurangi asimetri informasi antara pihak manajemen dengan prinsipal.
2.1.2 Kualitas Audit
De Angelo (1981) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi klien. Ukuran kualitas audit dengan penemuan pelanggaran berhubungan dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan auditor tersebut. Sedangkan pelaporan pelanggaran berhubungan dengan dorongan auditor untuk mengungkapkan pelanggaran tersebut.
Lebih lanjut, menurut Panduan Manajemen Pemeriksaan (BPK, 2002) standar kualitas audit terdiri dari : (1) kualitas strategis yang berarti hasil pemeriksaan harus memberikan informasi kepada pengguna laporan keuangan secara tepat waktu; (2) kualitas teknis yang berarti penyajian
temuan, simpulan dan opini atau saran pemeriksaan yaitu penyajian harus jelas, konsisten dan objektif; (3) kualitas proses berkaitan dengan proses kegiatan pemeriksaan yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan sampai dengan tindak lanjut pemeriksaan.
Terdapat lima unsur pengendalian kualitas audit menurut Elder et al (2011):
1. Independensi, integritas dan objektivitas
Seluruh personel harus bisa independen dalam fakta dan penampilan, memiliki integritas dalam melaksanakan tanggung jawab, serta mempertahankan objektifitas dalam melaksanakan tanggung jawab professional mereka.
2. Manajemen Kepegawaian
Kebijakan dan prosedur ditetapkan untuk memberi keparstian yang wajar kepada KAP bahwa :
a) Semua personel baru memiliki kualifikasi dan kompeten
b) Pekerjaan diberikan kepada personel yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang memadai.
c) Semua personel ikut dalam pendidikan profesi berkelanjutan dan kegiatan pengembangan profesi untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan.
d) Personel yang dipilih promosi kenaikan jabatan harus mempunyai kualifikasi untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan.
3. Penerimaan klien dan penugasan
Kebijakan dan prosedur harus ditetapkan dalam memutuskan apakah akan menerima atau melajutkan hubungan dengan klien. Kebijakan ini diharapkan dapat meminimalkan risiko yang berkaitan dengan klien yang manajemennya tidak memiliki integritas. KAP hanya menerima penugasan yang dapat diselesaikan dengan kompetensi professional.
4. Kriteria penugasan
Kebijakan dan prosedur harus memastikan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh personel penugasan memenuhi standar profesi, peraturan dan standar mutu KAP itu sendiri.
5. Pemantauan
Harus ada kebijakan dan prosedur untuk memastikan keempat unsur pengendalian mutu lainnya diterapkan secara efektif.
Bagi berbagai pihak kualitas audit memiliki arti yang tidak sama . Bagi pihak auditor, kualitas audit merupakan hasil kerja dari para auditor yang telah sesuai dengan standar-standar audit serta kode etik profesi yang berlaku.
Sedangkan kualitas audit bagi pengguna laporan keuangan adalah ketika auditor memberikan opini yang sesuai pada laporan keuangan dan memberikan jaminan tidak terdapat salah saji yang material.
Dalam mengukur kualitas audit dapat digunakan beberapa alat ukur seperti opini going concern (Astuti, 2014), opini audit (Athoi, 2015), ukuran kantor akuntan publik (Sartika, 2015), dan discretionary accrual (Chrisnoventie, 2012).
2.1.3 Fee Audit
Fee Audit adalah jumlah atau besaran biaya yang dikeluarkan atas jasa audit yang dilakukan oleh auditor eksternal dengan mempertimbangkan kompleksitas audit, keahlian auditor dan banyaknya waktu yang digunakan dalam menyelesaikan audit.
Menurut Mulyadi (2011), fee audit adalah biaya yang diterima oleh akuntan publik setelah melaksanakan jasa auditnya, besarnya tergantung dari resiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya KAP yang bersangkutan.
Menurut Agoes (2012 ; 18) fee audit adalah : “Besarnya biaya tergantung antara lain penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya KAP yang bersangkutandan pertimbangan professional lainnya “.
Lebih lanjut, menurut Agoes (2012 ; 18) fee audit dapat diukur dengan indikator seperti dibawah ini :
1. Resiko penugasan
2. Kompleksitas jasa yang diberikan
3. Sruktur biaya Kantor Akuntan Publik yang bersankutan dan pertimbangan profesi lainnya.
4. Ukuran Kantor Akuntan Publik.
Selain indikator di atas, dalam menetapkan fee audit atau imbalan jasa didasari perhitungan dari biaya pokok pemeriksaan yang terdiri dari biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari biaya tenaga, yaitu : Manager, Supervisor, Auditor Senior dan Auditor Junior. Sedangkan, biaya
tidak langsung seperti : biaya penyusutan komputer, gedung dan asuransi.
Selain itu, dalam menetapkan fee audit atau imbalan jasa, Akuntan Publik juga harus memperhatikan jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan audit mulai dari tahapan pekerjaan audit dan tahap pelaporan.
Di Indonesia sendiri kebijakan penentuan fee audit di atur dalam Surat Keputusan No.KEP.024/IAPI/VII/2008 yang diterbitkan pada tanggal 2 Juli 2008 oleh Institusi Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Surat Keputusan ini dikeluarkan sebagai panduan bagi seluruh Anggota Institusi Akuntan Publik Indonesia yang menjalankan praktik sebagai akuntan publik untuk menetapkan besaran fee audit atau imbalan jasa yang wajar atas jasa professional yang diberikan. Lebih lanjut dijelaskan dalam menetapkan fee audit yang wajar sesuai dengan martabat profesi akuntan publik dan dalam jumlah yang pantas untuk dapat memberikan jasa sesuai dengan tuntutan standar professional akuntan publik yang berlaku. Fee audit yang terlalu rendah atau secara signifikan lebih rendah dari yang dikenakan oleh auditor pendahulu atau dianjurkan auditor lain, akan menimbulkan keraguan mengenai kemampuan dan kompetensi anggota dalam menerapkan standar teknis dan standar profesional yang berlaku.
2.1.4 Ukuran Kantor Akuntan Publik
Dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 menjelaskan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2011, Kantor Akuntan Publik, yang selanjutnya disingkat KAP, adalah badan usaha yang didirikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan mendapatkan izin usaha berdasarkan Undang - Undang ini.
Suatu laporan keuangan harus disajikan dengan akurat, terpercaya dan menggambarkan secara keseluruhan mengenai kinerja perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan akan menggunakan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk melaksanakan pekerjaan audit terhadap laporan keuangan perusahaan.
Perusahaan akan menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik yang memiliki reputasi dan nama baik untuk meningkatkan kredibilitas dari laporan keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) no 20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik menyatakan bahwa pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap suatu entitas, maka akuntan publik dibatasi masa pemberian jasa pada suatu entitas paling lama 5 (lima) tahun berturut-turut.
Entitas yang dapat di audit dalam Praktik Akuntan Publik antara lain industri di pasar modal, bank umum, dana pension, perusahaan asuransi/reansuransi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sesuai dengan PMK 17/2008, terdapat dua struktur organisasi bagi KAP yaitu perusahaan perorangan (proprietorship) dan persekutuan (partnership).
KAP berbentuk perseorangan (proprietorship) didirikan dan dikelola oleh seorang akuntan publik, sedangkan KAP berbentuk persekutuan (partnership)
hanya dikelola dan didirikan apabila sekurang-kurangnya 2/3 dari seluruh Rekan adalah akuntan publik.
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) biasanya ditunjukkan dan diukur dengan melihat apakah Kantor Akuntan Publik (KAP) melakukan audit atas entitas terafiliasi dengan the big four. Kantor akuntan publik yang terafiliasi dengan the big four dianggap memiliki klien yang lebih banyak daripada akuntan publik yang tidak terafiliasi dengan the big four. Berikut Kantor Akuntan Publik (KAP) yang termasuk dalam kategori the big four :
1. Ernst & Young
2. Deloitte Touche Tohmatsu
3. Klynveld Peak Marvick Goerdeler (KPMG) 4. Price Waterhouse and Coopers (PWC)
Di Indonesia sendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terafiliasi dengan the big four masih menjadi Kantor Akuntan Publik yang memiliki reputasi yang baik, karena ukuran Kantor Akuntan Publik yang terafiliasi dengan the big four dianggap akan memberikan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan Kantor Akuntan Publik yang tidak berafiliasi dengan the big four.
Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang berafiliasi dengan the big four adalah :
a. KAP Purwantono, Sarwoko, Sandjaja – berafiliasi dengan Ernst &
Young
b. KAP Osman Bing Satrio – berafiliasi dengan Deloitte Touche Tohmatsu
c. KAP Sidharta, Sidharta, Widjaja – berafiliasi dengan Klynveld Peak Marvick Goerdeler (KPMG)
d. KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan - berafiliasi dengan Price Waterhouse and Coopers (PWC)
2.1.5 Resiko Litigasi (Litigation Risk )
Resiko litigasi merupakan resiko yang melekat pada perusahaan berupa sengketa, kasus ke pengadilan atau pengaduan dan penyelesaian tuntutan oleh pihak- pihak yang berkempentingan dengan perusahaan yang merasa dirugikan. Pihak- pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut meliputi investor, kreditor, dan regulator. Johnson dan Qiang (dalam Awalia, 2014) menambahkan bahwa resiko potensial terjadinya litigasi dipicu oleh potensi yang melekat pada perusahaan berkaitan dengan tidak terpenuhinya kepentingan investor dan kreditor. Jika hak tersebut tidak dipenuhi, maka pihak-pihak yang berkepentingan tesebut dapat melakukan litigasi dan tuntutan hukum kepada perusahaan.
Menurut Chrisnoventie (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas ancaman litigasi antara lain : terbitnya peraturan baru, tingkat kepemilikan saham asing, komposisi dewan direksi, kondisi politik, lingkungan hokum dan peraturan dalam suatu negara, sensitivitas investor dan tingkat keketatan aturan kontrak utang. Seluruh faktor tersebut dapat menjadi pendorong terjadinya litigasi apabila perusahaan melakukan kesalahan atau tidak hati-hati dalam melaporkan kinerja keuangannya.
Francis dan Wang (2006) mengungkapkan di dalam peraturan yang ketat tentang perlindungan terhadap investor akan membuat kualitas laba semakin tinggi. Hal ini menjelaskan bahwa dalam resiko litigasi yang tinggi maka manajemen laba yang dihasilkan akan rendah karena kualitas laba yang dihasilkan semakin tinggi.
Resiko litigasi pada laporan keuangan perusahaan dapat dibedakan menjadi studi yang bersifat ex-ante dan ex-post. Studi yang bersifat ex-ante berhubungan dengan kondisi yang ada pada perusahaan yang memungkinkan terjadinya tuntutan litigasi. Sementara studi ex-post berhubungan dengan dampak nyata dengan adanya litigasi pada perusahaan berkaitan dengan adanya peraturan yang menjadi penekan karena praktik akuntansi yang melanggar ketentuan dan peraturan yang ada.
2.1.6 Pergantian Auditor (Auditor Switching)
Auditor switching merupakan peraturan perusahaan untuk melakukan pergantian auditor yang telah diatur oleh pemerintah dengan tujuan melakukan peningkatan kualitas audit. Adanya peraturan yang mengatur tentang auditor switching menyebabkan timbulnya batasan masa perikatan audit. Auditor switching dapat dibagi menjadi 2 yaitu pergantian auditor yang dilakukan akibat regulasi dari pemerintah yang mengikat (mandatory) dan pergantian auditor yang terjadi dikarenakan alasan yang lain diluar regulasi yang mengikat (voluntary). Perusahaan melakukan audit secara voluntary karena kinerja auditor tahun sebelumnya tidak sesuai dengan ekspektasi manajemen, terjadinya financial distress dan perusahaan mempekerjakan
auditor yang memiliki reputasi yang tinggi untuk menaikkan nilai perusahaan di mata pengguna laporan keuangan.
Di Indonesia sendiri kebijakan mengenai rotasi Kantor Akuntan Publik dan rotasi Akuntan Publik diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik mengatur tentang pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap suatu entitas oleh seorang Akuntan Publik dibatasi paling lama 5 (lima) tahun buku berturut-turut.
Namun, Akuntan Publik dapat memberikan jasa auditatas informasi keuangan terhadap suatu entitas setelah 2 (dua) tahun buku berturut-turut tidak memberikan jasa audit tersebut.
Peraturan Pemerintah (PP) No.20 tahun 2015 diatas merupakan bentuk campur tangan dari pemerintah sebagai pihak regulator dalam memberikan pelayanan fasilitas dan menjamin keadilan bagi kepentingan semua pihak seperti pihak perusahaan, pihak auditor, pihak eksternal dan pihak pemerintah sendiri. Peraturan Pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan independensi, dan kualitas yang dimiliki auditor.Sehingga akan menghasilkan hasil audit yang lebih berkualitas, bersifat obyektif dan akurat.
2.1.7 Kompleksitas Audit
Kompleksitas audit merupakan tingkat kesulitan dan kerumitan yang dihadapi oleh auditor dalam melakukan audit atas entitas. Kompleksitas operasi perusahaan dianggap sangat berpengaruh terhadap kompleksitas audit perusahaan tersebut, karena semakin kompleks operasi perusahaan maka akan
lebih banyak pekerjaan audit yang harus dilakukan oleh auditor. Perusahaan yang bersifat multinasional akan meningkatkan kompleksitas audit karena besarnya tata kelola perusahaan dan praktek usaha (Markku dan Schadewitz, 2010).
Kompleksitas audit juga sangat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap kesulitan suatu tugas audit. Persepsi ini menimbulkan kemungkinan bahwa suatu tugas audit sulit bagi seseorang, namun mungkin juga mudah bagi orang lain (Restu dan Indiartoro, 2000) dalam Setyorini (2011). Lebih lanjut (Restu dan Indiartoro, 2000) dalam Setyorini (2011) menyatakan bahwa kompleksitas muncul dari ambiguitas dasn struktur yang lemah, baik dalam tugas-tugas utama maupun dalam tugas lainnya.
Audit akan menjadi semakin kompleks jika tingkat kesulitan (task difficulty) dan variabilitas tugas (task variability) audit semakin tinggi.
Berbagai kasus di indikasikan terjadi karena auditor tidak mampu mengakomodasi berbagai kepentingan konstituen, auditor lebih berpihak kepada klien yang merupakan sumber pendanaan. Terkait dengan kegiatan tersebut, tingginya kompleksitas audit bisa menyebabkan penurunan kualitas audit. Restu dan Indiantoro (2000) dalam Prasita (2007) mengungkapkan peningkatan kompleksitas dalam suatu tugas atau sistem, akan menurunkan tingkat keberhasilan tugas itu.
2.2 Penelitian Terdahulu
1. Natalia (2015), melakukan penelitian tentang “Pengaruh karakteristik komite audit, stres kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah karakteristik komite audit, stress kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013 dengan jumlah populasi 138 perusahaan dan jumlah sampel sebanyak 17 (tujuh belas) perusahaan. Metode dalam penelitian ini adalah metode regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik komite audit dan biaya eksternal audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan waktu mengaudit dan pergantian auditor berpengaruh negatif terhadap kualitas audit.
2. Astuti (2014), melakukan penelitian tentang “Analisis pengaruh audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, ukuran perusahaan klien dan rotasi audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, ukuran perusahaan klien dan rotasi audit.
Objek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012 dengan jumlah sampel 34 (tiga puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP dan rotasi audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kualitas audit sedangkan ukuran perusahaan klien berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kualitas audit.
3. Athoi (2015), melakukan penelitian tentang “ Analisis pengaruh audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan spesialisasi audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien dan spesialisasi audit. Objek penelitian ini pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013 dengan jumlah sampel 25 (dua puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan spesialisasi audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.
4. Chrisnoventie (2012), melakukan penelitian tentang “Pengaruh ukuran KAP dan spesialisasi industri KAP terhadap kualitas audit : tingkat risiko litigasi perusahaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah ukuran KAP dan spesialisasi industri KAP dan risiko litigasi sebagai variabel moderasi. Objek penelitian ini pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2010 dengan jumlah sampel 48 (empat puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi berpengaruh positif
terhadap kualitas audit sedangkan spesialisasi industri KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
5. Prasita dan Adi (2007). Penelitian ini berjudul “Pengaruh kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit dengan moderasi pemahaman sistem informasi”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah kompleksitas audit, tekanan anggaran waktu dan pemahaman terhadap sistem informasi sebagai variabel moderasi. Objek penelitian adalah 69 (enam puluh sembilan) auditor dari 15 (lima belas) kantor akuntan publik di Semarang tahun 2007. Adapun hasil dari penelitian ini adalah kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu berpengaruh negatif terhadap kualitas audit dan kompleksitas audit melalui pemahaman sistem informasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan tekanan anggaran waktu melalui pemahaman sistem informasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
6. Hartadi (2009). Penelitian ini berjudul “ Pengaruh fee audit,rotasi KAP, dan reputasi auditor terhadap kualitas audit di Bursa Efek Indonesia”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit dan yang menjadi variabel independen adalah fee audit, rotasi KAP, dan reputasi auditor. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur dalam LQ-45 tahun 2004-2010. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fee audit berpengaruh terhadap kualitas audit sedangkan rotasi KAP dan reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
7. Nindita dan Siregar (2012). Penelitian ini berjudul “Analisis pengaruh ukuran kantor akuntan publik terhadap kualitas audit di Indonesia”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah ukuran kantor akuntan publik. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008 dan sampel penelitian terdiri dari 116 (seratus enam belas) perusahaan.
Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara ukuran kantor akuntan publik terhadap kualitas audit.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian 1 Natalia (2015) Dependen :
Kualitas Audit Independen :
komite audit, stress kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit
Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik komite audit dan biaya eksternal audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan waktu mengaudit dan pergantian auditor berpengaruh negatif terhadap kualitas audit.
2 Athoi (2015) Dependen : Kualitas Audit Independen :
audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien dan spesialisasi audit
audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien dan spesialisasi audit