BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.4 Ukuran Kantor Akuntan Publik
Dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 menjelaskan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2011, Kantor Akuntan Publik, yang selanjutnya disingkat KAP, adalah badan usaha yang didirikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan mendapatkan izin usaha berdasarkan Undang - Undang ini.
Suatu laporan keuangan harus disajikan dengan akurat, terpercaya dan menggambarkan secara keseluruhan mengenai kinerja perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan akan menggunakan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk melaksanakan pekerjaan audit terhadap laporan keuangan perusahaan.
Perusahaan akan menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik yang memiliki reputasi dan nama baik untuk meningkatkan kredibilitas dari laporan keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) no 20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik menyatakan bahwa pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap suatu entitas, maka akuntan publik dibatasi masa pemberian jasa pada suatu entitas paling lama 5 (lima) tahun berturut-turut.
Entitas yang dapat di audit dalam Praktik Akuntan Publik antara lain industri di pasar modal, bank umum, dana pension, perusahaan asuransi/reansuransi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sesuai dengan PMK 17/2008, terdapat dua struktur organisasi bagi KAP yaitu perusahaan perorangan (proprietorship) dan persekutuan (partnership).
KAP berbentuk perseorangan (proprietorship) didirikan dan dikelola oleh seorang akuntan publik, sedangkan KAP berbentuk persekutuan (partnership)
hanya dikelola dan didirikan apabila sekurang-kurangnya 2/3 dari seluruh Rekan adalah akuntan publik.
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) biasanya ditunjukkan dan diukur dengan melihat apakah Kantor Akuntan Publik (KAP) melakukan audit atas entitas terafiliasi dengan the big four. Kantor akuntan publik yang terafiliasi dengan the big four dianggap memiliki klien yang lebih banyak daripada akuntan publik yang tidak terafiliasi dengan the big four. Berikut Kantor Akuntan Publik (KAP) yang termasuk dalam kategori the big four :
1. Ernst & Young
2. Deloitte Touche Tohmatsu
3. Klynveld Peak Marvick Goerdeler (KPMG) 4. Price Waterhouse and Coopers (PWC)
Di Indonesia sendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terafiliasi dengan the big four masih menjadi Kantor Akuntan Publik yang memiliki reputasi yang baik, karena ukuran Kantor Akuntan Publik yang terafiliasi dengan the big four dianggap akan memberikan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan Kantor Akuntan Publik yang tidak berafiliasi dengan the big four.
Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang berafiliasi dengan the big four adalah :
a. KAP Purwantono, Sarwoko, Sandjaja – berafiliasi dengan Ernst &
Young
b. KAP Osman Bing Satrio – berafiliasi dengan Deloitte Touche Tohmatsu
c. KAP Sidharta, Sidharta, Widjaja – berafiliasi dengan Klynveld Peak Marvick Goerdeler (KPMG)
d. KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan - berafiliasi dengan Price Waterhouse and Coopers (PWC)
2.1.5 Resiko Litigasi (Litigation Risk )
Resiko litigasi merupakan resiko yang melekat pada perusahaan berupa sengketa, kasus ke pengadilan atau pengaduan dan penyelesaian tuntutan oleh pihak- pihak yang berkempentingan dengan perusahaan yang merasa dirugikan. Pihak- pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut meliputi investor, kreditor, dan regulator. Johnson dan Qiang (dalam Awalia, 2014) menambahkan bahwa resiko potensial terjadinya litigasi dipicu oleh potensi yang melekat pada perusahaan berkaitan dengan tidak terpenuhinya kepentingan investor dan kreditor. Jika hak tersebut tidak dipenuhi, maka pihak-pihak yang berkepentingan tesebut dapat melakukan litigasi dan tuntutan hukum kepada perusahaan.
Menurut Chrisnoventie (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas ancaman litigasi antara lain : terbitnya peraturan baru, tingkat kepemilikan saham asing, komposisi dewan direksi, kondisi politik, lingkungan hokum dan peraturan dalam suatu negara, sensitivitas investor dan tingkat keketatan aturan kontrak utang. Seluruh faktor tersebut dapat menjadi pendorong terjadinya litigasi apabila perusahaan melakukan kesalahan atau tidak hati-hati dalam melaporkan kinerja keuangannya.
Francis dan Wang (2006) mengungkapkan di dalam peraturan yang ketat tentang perlindungan terhadap investor akan membuat kualitas laba semakin tinggi. Hal ini menjelaskan bahwa dalam resiko litigasi yang tinggi maka manajemen laba yang dihasilkan akan rendah karena kualitas laba yang dihasilkan semakin tinggi.
Resiko litigasi pada laporan keuangan perusahaan dapat dibedakan menjadi studi yang bersifat ex-ante dan ex-post. Studi yang bersifat ex-ante berhubungan dengan kondisi yang ada pada perusahaan yang memungkinkan terjadinya tuntutan litigasi. Sementara studi ex-post berhubungan dengan dampak nyata dengan adanya litigasi pada perusahaan berkaitan dengan adanya peraturan yang menjadi penekan karena praktik akuntansi yang melanggar ketentuan dan peraturan yang ada.
2.1.6 Pergantian Auditor (Auditor Switching)
Auditor switching merupakan peraturan perusahaan untuk melakukan pergantian auditor yang telah diatur oleh pemerintah dengan tujuan melakukan peningkatan kualitas audit. Adanya peraturan yang mengatur tentang auditor switching menyebabkan timbulnya batasan masa perikatan audit. Auditor switching dapat dibagi menjadi 2 yaitu pergantian auditor yang dilakukan akibat regulasi dari pemerintah yang mengikat (mandatory) dan pergantian auditor yang terjadi dikarenakan alasan yang lain diluar regulasi yang mengikat (voluntary). Perusahaan melakukan audit secara voluntary karena kinerja auditor tahun sebelumnya tidak sesuai dengan ekspektasi manajemen, terjadinya financial distress dan perusahaan mempekerjakan
auditor yang memiliki reputasi yang tinggi untuk menaikkan nilai perusahaan di mata pengguna laporan keuangan.
Di Indonesia sendiri kebijakan mengenai rotasi Kantor Akuntan Publik dan rotasi Akuntan Publik diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik mengatur tentang pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap suatu entitas oleh seorang Akuntan Publik dibatasi paling lama 5 (lima) tahun buku berturut-turut.
Namun, Akuntan Publik dapat memberikan jasa auditatas informasi keuangan terhadap suatu entitas setelah 2 (dua) tahun buku berturut-turut tidak memberikan jasa audit tersebut.
Peraturan Pemerintah (PP) No.20 tahun 2015 diatas merupakan bentuk campur tangan dari pemerintah sebagai pihak regulator dalam memberikan pelayanan fasilitas dan menjamin keadilan bagi kepentingan semua pihak seperti pihak perusahaan, pihak auditor, pihak eksternal dan pihak pemerintah sendiri. Peraturan Pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan independensi, dan kualitas yang dimiliki auditor.Sehingga akan menghasilkan hasil audit yang lebih berkualitas, bersifat obyektif dan akurat.
2.1.7 Kompleksitas Audit
Kompleksitas audit merupakan tingkat kesulitan dan kerumitan yang dihadapi oleh auditor dalam melakukan audit atas entitas. Kompleksitas operasi perusahaan dianggap sangat berpengaruh terhadap kompleksitas audit perusahaan tersebut, karena semakin kompleks operasi perusahaan maka akan
lebih banyak pekerjaan audit yang harus dilakukan oleh auditor. Perusahaan yang bersifat multinasional akan meningkatkan kompleksitas audit karena besarnya tata kelola perusahaan dan praktek usaha (Markku dan Schadewitz, 2010).
Kompleksitas audit juga sangat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap kesulitan suatu tugas audit. Persepsi ini menimbulkan kemungkinan bahwa suatu tugas audit sulit bagi seseorang, namun mungkin juga mudah bagi orang lain (Restu dan Indiartoro, 2000) dalam Setyorini (2011). Lebih lanjut (Restu dan Indiartoro, 2000) dalam Setyorini (2011) menyatakan bahwa kompleksitas muncul dari ambiguitas dasn struktur yang lemah, baik dalam tugas-tugas utama maupun dalam tugas lainnya.
Audit akan menjadi semakin kompleks jika tingkat kesulitan (task difficulty) dan variabilitas tugas (task variability) audit semakin tinggi.
Berbagai kasus di indikasikan terjadi karena auditor tidak mampu mengakomodasi berbagai kepentingan konstituen, auditor lebih berpihak kepada klien yang merupakan sumber pendanaan. Terkait dengan kegiatan tersebut, tingginya kompleksitas audit bisa menyebabkan penurunan kualitas audit. Restu dan Indiantoro (2000) dalam Prasita (2007) mengungkapkan peningkatan kompleksitas dalam suatu tugas atau sistem, akan menurunkan tingkat keberhasilan tugas itu.
2.2 Penelitian Terdahulu
1. Natalia (2015), melakukan penelitian tentang “Pengaruh karakteristik komite audit, stres kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah karakteristik komite audit, stress kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013 dengan jumlah populasi 138 perusahaan dan jumlah sampel sebanyak 17 (tujuh belas) perusahaan. Metode dalam penelitian ini adalah metode regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik komite audit dan biaya eksternal audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan waktu mengaudit dan pergantian auditor berpengaruh negatif terhadap kualitas audit.
2. Astuti (2014), melakukan penelitian tentang “Analisis pengaruh audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, ukuran perusahaan klien dan rotasi audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, ukuran perusahaan klien dan rotasi audit.
Objek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012 dengan jumlah sampel 34 (tiga puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP dan rotasi audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kualitas audit sedangkan ukuran perusahaan klien berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kualitas audit.
3. Athoi (2015), melakukan penelitian tentang “ Analisis pengaruh audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan spesialisasi audit terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien dan spesialisasi audit. Objek penelitian ini pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013 dengan jumlah sampel 25 (dua puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan spesialisasi audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.
4. Chrisnoventie (2012), melakukan penelitian tentang “Pengaruh ukuran KAP dan spesialisasi industri KAP terhadap kualitas audit : tingkat risiko litigasi perusahaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah ukuran KAP dan spesialisasi industri KAP dan risiko litigasi sebagai variabel moderasi. Objek penelitian ini pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2010 dengan jumlah sampel 48 (empat puluh delapan) perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi berpengaruh positif
terhadap kualitas audit sedangkan spesialisasi industri KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
5. Prasita dan Adi (2007). Penelitian ini berjudul “Pengaruh kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit dengan moderasi pemahaman sistem informasi”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah kompleksitas audit, tekanan anggaran waktu dan pemahaman terhadap sistem informasi sebagai variabel moderasi. Objek penelitian adalah 69 (enam puluh sembilan) auditor dari 15 (lima belas) kantor akuntan publik di Semarang tahun 2007. Adapun hasil dari penelitian ini adalah kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu berpengaruh negatif terhadap kualitas audit dan kompleksitas audit melalui pemahaman sistem informasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan tekanan anggaran waktu melalui pemahaman sistem informasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
6. Hartadi (2009). Penelitian ini berjudul “ Pengaruh fee audit,rotasi KAP, dan reputasi auditor terhadap kualitas audit di Bursa Efek Indonesia”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit dan yang menjadi variabel independen adalah fee audit, rotasi KAP, dan reputasi auditor. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur dalam LQ-45 tahun 2004-2010. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fee audit berpengaruh terhadap kualitas audit sedangkan rotasi KAP dan reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
7. Nindita dan Siregar (2012). Penelitian ini berjudul “Analisis pengaruh ukuran kantor akuntan publik terhadap kualitas audit di Indonesia”. Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kualitas audit dengan variabel independen adalah ukuran kantor akuntan publik. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008 dan sampel penelitian terdiri dari 116 (seratus enam belas) perusahaan.
Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara ukuran kantor akuntan publik terhadap kualitas audit.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian 1 Natalia (2015) Dependen :
Kualitas Audit Independen :
komite audit, stress kerja, pergantian auditor dan biaya eksternal audit
Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik komite audit dan biaya eksternal audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan waktu mengaudit dan pergantian auditor berpengaruh negatif terhadap kualitas audit.
2 Athoi (2015) Dependen : Kualitas Audit Independen :
audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien dan spesialisasi audit
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan spesialisasi audit tidak
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa audit tenure, ukuran KAP dan rotasi audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit sedangkan ukuran perusahaan klien berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kualitas audit.
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian spesialisasi industri KAP Moderasi :
risiko litigasi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan spesialisasi industri KAP yang dimoderasi oleh tingkat risiko litigasi tidak berpengaruh
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara ukuran kantor akuntan publik terhadap kualitas audit.
fee audit, rotasi KAP, dan reputasi auditor
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fee audit berpengaruh terhadap kualitas audit sedangkan rotasi KAP dan reputasi auditor tidak brpengaruh terhadap kualitas audit. tekanan anggaran waktu Moderasi :
pemahaman terhadap sistem informasi
Hasil dari penelitian ini adalah kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu berpengaruh negatif terhadap kualitas audit dan kompleksitas audit melalui pemahaman sistem informasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan tekanan anggaran waktu melalui pemahaman sistem informasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Sumber : Data diolah peneliti
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan suatu kerangka pemikiran yang dibuat untuk mengetahui hubungan dan jawaban ilmiah dari variabel dependen dengan variabel independen dalam suatu penelitian.
Kerangka konseptual didefinisikan sebagai suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh dalam rangka mencari jawaban – jawaban ilmiah terhadap masalah – masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel – variabel, hubungan antara variabel – variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris (Sekaran, 2006).
Kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
H2
Variabel independen dalam penelitian ini adalah fee audit, ukuran KAP, risiko litigasi, auditor switching. Variabel dependen adalah kualitas audit, dengan kompleksitas audit sebagai variabel pemoderasi.
Kompleksitas Audit
2.3.1. Hubungan Fee Audit, Ukuran KAP, Resiko Litigasi, Auditor Switching terhadap Kualitas Audit
Penelitian mengenai hubungan fee audit terhadap kualitas audit merupakan salah satu objek yang menarik untuk diteliti. Fee Audit merupakan salah satu faktor dalam pelaksanaan audit yang dapat mempengaruhi kualitas audit. Dengan fee audit yang tinggi perusahaan mengaharapkan kualitas audit tentang laporan keuangan perusahaan lebih baik.Penelitian yang dilakukan oleh Natalia (2015) menyatakan bahwa Fee Audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan Auditor Switching berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Hasil yang berbeda didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Sartika (2015) menyatakan bahwa pergantian auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.Penelitian mengenai hubungan antara ukuran KAP dengan kualitas audit telah banyak dilakukan. Secara umum, dari berbagai penelitian ukuran KAP yang besar dianggap dapat menghasilkan kualitas audit yang semakin baik.Hal ini berhubungan dengan kualitas SDM dari auditor. KAP besar dianggap lebih memiliki SDM yang tinggi karena memiliki standar dalam perekrutan auditor dalam KAP tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Chrisnoventie (2012) menyatakan bahwa Ukuran KAP berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Resiko litigasi yang melekat pada perusahaan juga mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan. Resiko litigasi yang tinggi pada perusahaan akan membuat auditor menghasilkan kualitas audit yang rendah. KAP akan
cenderung menghindari perusahaan yang resiko litigasinya tinggi untuk menghindari tuntutan hukum yang beresiko pada reputasi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Awalia (2014) menyatakan bahwa resiko litigasi berpengaruh positif signifikan terhadap discretionary accruals, yang merupakan ukuran kebalikan dari kualitas pelaporan keuangan. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Atiqah (2012) menunjukkan resiko litigasi tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sedangkan kualitas audit mampu memoderasi hubungan antar resiko litigasi dengan manajemen laba. Proksi dari manajemen laba dalam penelitian ini adalah discretionary accruals. Perbedaan hasil penelitian diatas mungkin karena perbedaan objek penelitian, jumlah dan jenis sampel dalam penelitiannya.
2.3.2. Hubungan antara interaksi Kompleksitas Audit dengan Fee Audit terhadap Kualitas Audit
Kompleksitas audit juga menjadi salah satu yang mempengaruhi kualitas audit. Berhubungan dengan kegiatan pengauditan, dengan kompleksitas audit yang tinggi dengan fee audit yang tetap menyebabkan penurunan kualitas audit. Dalam penelitian Prasita dan Adi (2007) dihasilkan bahwa kompleksitas audit berpengaruh negatif terhadap kualitas audit yang dihasilkan.
Fee Audit merupakan salah satu faktor dalam pelaksanaan audit yang dapat mempengaruhi kualitas audit. Penelitian yang dilakukan oleh Natalia (2015) menyatakan bahwa Fee Audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Namun, ketika Kompleksitas Audit yang tinggi akan mempengaruhi
jumlah Fee Audit yang dibayarkan perusahaan untuk menghasilkan audit yang lebih berkualitas.
2.3.3. Hubungan antara interaksi Kompleksitas Audit dengan Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit
Penelitian mengenai Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit telah banyak dilakukan. Secara umum dari hasil-hasil penelitian terdahulu Ukuran KAP berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit. Dalam penelitian Astuti (2014) dihasilkan Ukuran KAP berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit.
KAP yang berafiliasi dengan the big four dengan Kompleksitas Audit yang tinggi akan mempengaruhi kualitas audit, karena KAP yang terafiliasi dengan the big four dianggap lebih memiliki kompetensi dan independensi.
2.3.4. Hubungan antara interaksi Kompleksitas Audit dengan Resiko Litigasi terhadap Kualitas Audit
Resiko litigasi yang melekat pada perusahaan akan mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan. Dalam penelitian Awalia (2014) menyatakan bahwa resiko litigasi berpengaruh positif signifikan terhadap discretionary accruals, yang merupakan ukuran kebalikan dari kualitas pelaporan keuangan. Maka dapat disimpulkan resiko litigasi berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Resiko litigasi yang tinggi pada suatu perusahaan dengan kompleksitas audit yang tinggi juga akan mempengaruhi kualitas audit yang akan dihasilkan. Hal ini berhubungan dengan penelitian Prasita dan Adi (2007) dihasilkan bahwa kompleksitas audit berpengaruh negatif terhadap kualitas audit yang dihasilkan.
2.3.5. Hubungan antara interaksi Kompleksitas Audit dengan Auditor Switching terhadap Kualitas Audit
Auditor Switching merupakan perpindahan auditor atau KAP yang dilakukan oleh perusahaan. Auditor Switching dianggap berpengaruh terhadap kualitas audit, karena jika perusahaan sering melakukan pergantian auditor atau KAP akan menyebabkan kualitas audit menjadi tidak konsisten sebab setiap auditor perlu waktu dalam mendalami industri klien dan setiap auditor menghasilkan kualitas audit yang berbeda-beda.
Dalam penelitian Natalia (2015) menunjukkan Auditor Switching berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Kecenderungan perusahaan melakukan Auditor Switching dengan Kompleksitas Audit yang tinggi akan mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan suatu preposisi yang dirumuskan dengan tujuan untuk diuji secara empiris. Preposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal, atau diuji kebenarannya mengenai konsep yang menjelaskan atau memprediksi norma-norma (Erlina, 2008).
Berdasarkan uraian teoritis dan kerangka konseptual yang telah dijelaskan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :
H1 : Fee Audit, Ukuran KAP, Resiko Litigasi dan Auditor Switching berpengaruh terhadap Kualitas Audit secara simultan dan parsial, pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H2 : Interaksi Kompleksitas Audit dengan Fee Audit, Interaksi Kompleksitas Audit dengan Ukuran KAP, Interaksi Kompleksitas Audit dengan Resiko Litigasi, Kompleksitas Audit dengan Auditor Switching berpengaruh terhadap Kualitas Audit pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003).
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data-data perusahaan yang menjadi sampel dari website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) dan website resmi masing-masing perusahaan yang menjadi sampel penilitian. Data-data yang digunakan peneliti adalah laporan tahunan (annual report) perusahaan manufaktur periode 2011-2014. Waktu penelitian dilakukan mulai bulan November 2015 hingga juni 2016.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Erlina, (2011:80) populasi merupakan sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu, yang berada dalam satu wilayah dan memenuhi syarat – syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdafar di Bursa Efek
Menurut Erlina, (2011:80) populasi merupakan sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu, yang berada dalam satu wilayah dan memenuhi syarat – syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdafar di Bursa Efek