• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh HELMI WARDAH NASUTION /IKM (Halaman 32-117)

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

1. Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan dalam memantau pemberian ASI Eksklusif pada bayi dan pola pemberian makanan selain ASI Ekslusif seperti MP-ASI pada bayi agar status gizi bayi lebih baik dan sesuai yang diharapkan.

2. Sebagai masukan bagi Camat dan Lurah serta jajaran yang terkait lainnya untuk mempromosikan ASI Eksklusif dan mengajarkan ibu untuk memberikan MP-ASI setelah usia bayi lebih dari 6 bulan dan MP-ASI yang diberikan harus mengandung gizi yang dibutuhkan bayi.

3. Sebagai masukan bagi Kepala Puskesmas Mandala agar memantau bidan-bidan yang bertugas di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala, untuk tidak memberikan susu formula pada saat bayi baru lahir dan memantau pola pemberian MP-ASI pada bayi usia lebih dari 6 bulan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi Bayi

2.1.1 Pengertian Status Gizi Bayi

Supariasa (2011) menyatakan bahwa status gizi bayi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologis akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh. Sehingga status gizi dapat diartikan sebagai ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel tertentu).

Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang disebabkan konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh jumlah dan jenis yang dikonsumsi dan penggunaan nya dalam tubuh. Apabila konsumsi makanan dalam tubuh terganggu dapat mengakibatkan status gizi jelek dan biasanya disebut kurang gizi (Almatsier, 2006).

2.1.2 Penilaian Status Gizi dengan Metode Antropometri

Penilaian status gizi merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengetahuan yang berasal dari studi informasi makanan,biokimia, antropometri dan klinik (Proverawati dan Asfuah, 2009). Penilaian status gizi dapat dinilai secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu : antopometri, klinis, biokimia,dan biofisik. Sedangkan penilaian penilaian secara

tidak langsung dibagi menjadi survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supriasa, dkk, 2011).

Dimasyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Hal ini dikarenakan antropometri gizi mempunyai prosedur yang sederhana, aman, bisa dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dan dapat dilakukan dalam sampel yang besar. Alat- alat yang diperlukan juga murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesandan dibuat didaerah setempat. Metode ini juga mempunyai baku rujukan yang sudah pasti sehingga dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk (Supriasa, dkk, 2011).

Antropometri berasal dari bahasa yunani, Antropos adalah tubuh dan metros adalah ukuran, jadi antropometri nadalah ukuran tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak dibawah kulit.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur ketidakseimbanganantara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari polapertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah airdalam tubuh (Proverawati dan Asfuah, 2009).

a. Parameter Antropometri

Berat badan adalah indikator pertama yang dapat dilihat ketika seseorang mengalami kurang gizi. Dalam jangka panjang, kurang gizi mengakibatkan hambatan pertumbuhan tinggi badan dan akhirnya berdampak buruk bagi

17

perkembangan mental-intelektual individu. Kurang gizi pada masa fase cepat tumbuh otak (dibawah 18 bulan) akan bersifat irreversible (tidak dapat pulih).

Artinya kecerdasan anak tersebut tidak bisa lagi berkembang secara optimal (Khomsan, 2004).

Berat badan merupakan parameter yang paling baik. Adanya perubahan dalam pola konsumsi makanan dan kesehatan dapat terlihat dengan mudah melalui berat badan (Proverawati dan Asfuah, 2009). Berat badan merupakan hasil peningkatan dan penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lainnya. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengkuran objektif dan dapat diulangi, dapat digunakan timbangan apa saja yang relatif murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu (Soetjiningsih, 2014).

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertumbuhan umur. Akan tetapi, pertumbuhan tinggi badan relatif kurang sensitif pada masalah kurang gizi dalam waktu singkat. Tinggi badan merupakan parameter paling penting untuk mengetahui keadaan yang telah lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Tinggi badan ini dapat diukur dengan menggunakan alat pengukur panjang badan bayi (Proverawati dan Asfuah, 2009).

Faktor umur sangat penting dalam penetuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan kesalahan dalam interpretasi status gizi. Menurut

Puslatbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah umur penuh (completed years) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan penuh (completed month) (Supriasa, dkk, 2011)

b. Indeks Antropometri

Indeks antropometri merupakan gabungan dari beberapa parameter antropometri yang menjadi dasar dari penilaian status gizi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) atau berat badan menurut panjang badan (BB/PB). Perbedaan penggunaan indeks ini akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda (Supriasa, dkk, 2011).

Indeks nerat badan menurut umur merupakan indikator yang paling umum digunakan sejak tahun 1972. Indeks ini merupakan pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang dan otot (Supriasa, dkk, 2011). Indeks berat badan menurut umur memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat, baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis, indikator status gizi kurang saat sekarang, sensitif terhadap perubahan kecil dan dapat mendeteksi kegemukan. Selain memiliki kelebihan indeks ini juga mempunyai kekurangan yaitu kadang umur tidak dapat ditentukan dengan akurat, dapat menimbulkan interpretasi keliru jika terdapat edema ataupun asites, sering terjadi kesalahan dalam pengukuran akibat pengaruh pakaian ataupun anak bergerak saat ditimbang dan adanya anggapan bahwa menimbang anak seperti menimbang barang

19

dagangan membuat orangtua enggan menimbang berat badan anaknya (Poverawati dan Asfuah, 2009).

Indeks tinggi badan menurut umur menggambarkan status gizi masa lalu. Alat yang diperlukan untuk mengukur panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa. Akan tetapi pengukuran kadang sulit dilakukan karena membutuhkan dua orang petugas agar anak dapat berdiri tegak dan hasil yang didapat juga lebih akurat (Supriasa, dkk, 2011).

Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks berat badan menurut tinggi badan merupakan indeks yang independen terhadap umur dan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat sekarang (Supriasa, dkk, 2011).

Menurut Kemenkes, 2011, klasifikasi status gizi dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Gizi kurang dan gizi buruk

Gizi kurang dan gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah underweight (gizi kurang dan severely underweight (gizi buruk)

b. Pendek dan sangat pendek

Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek).

c. Kurus dan sangat kurus

Kurus dan sangat kurus adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) yang merupkan padanan istilah wasted (kurus) dan severely wasted (sangat kurus).

Berdasarkan hal tersebut Kemenkes, 2011 mengkategorikan dan memberikan ambang batas pada status gizi anak sebagai berikut :

Tabel 2.1

Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks

Indeks Kategori

Gizi Buruk <-3 SD sampai dengan <-2 SD Gizi Kurang -2 SD sampai dengan 2 SD

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Bayi

Status gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi adalah sebagai berikut :

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang memengaruhi status gizi, meliput ;

21

1) Pendapatan

Pada umumnya jika tingkat pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik juga tetapi mutu makanan tidak selalu membaik (Suhardjo, 2002 dalam Kusumasari, 2012). Menurut Saputra (2012) status sosial ekonomi berhubungan dengan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Anak yang dalam keluarga berstatus sosial ekonomi tinggi cenderung lebih tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan status sosial ekonomi rendah.

2) Pendidikan

Pandangan dan kepercayaan seseorang, termasuk juga pengetahuan mereka tentang ilmu gizi, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari berbagai penyebab yang berpengaruh terhadap konsumsi makan mereka. Dengan pendidikan dapat ditingkatkan konsumsi pangan dan keadaan gizi (Suhardjo, 2002 dalam Kusumasari, 2012). Hubungan pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi anak yaitu semakin baik pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI, yaitu ibu memahami tentang kapan waktu yang tepat untuk memberikan makanan pendamping ASI, jenis-jenis makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI (Kusumasari, 2012).

3) Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita

waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

4) Budaya

Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan. Demikian juga sikap dan pandangan atau cara berpikir suatu masyarakat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat yang lebih luas (Santoso & Ranti, 2004 dalam Kusumasari, 2012).

5) Pelayanan kesehatan

Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan.

b. Faktor Internal

Faktor internal yang memengaruhi status gizi adalah sebagai berikut : 1) Usia

Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Supariasa, 2011).

2) Kondisi fisik

Orang yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Supariasa, 2011)

23

3) Infeksi

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Supariasa, 2011).

4) Asupan makan

Asupan makan adalah jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi oleh seseorang dengan tujuan tertentu pada waktu tertentu. Konsumsi makanan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu (Khomsan, 2003 dalam Kusumasari, 2012).

Hal yang sama menurut Giri, dkk (2013) faktor-faktor yang terkait dengan status gizi balita seperti karakteristik ibu, karakteristik bayi, pengetahuan dan sikap ibu tentang gizi, peran kader posyandu dan bidan desa, media informasi serta riwayat pemberian ASI eksklusif dan susu non ASI serta MP-ASI.

2.2. ASI Eksklusif

2.2.1 Pengertian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif yang selanjutnya adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (Kemenkes,2012). Pemberian ASI eksklusif adalah proses memberikan ASI saja kepada bayi selama 6 bulan tanpa dicampur dengan tambahan cairan lain seperti susu formula, madu, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu dan biskuit (Kristiyansari, 2009).

ASI eksklusif adalah suatu keadaan dimana bayi hanya menerima ASI saja tanpa makanan lainnya baik berupa cairan maupun makanan padat, bahkan air sekalipun, dengan pengecualian drops atau sirup yang terdiri dari vitamin, suplemen mineral atau obat-obatan (WHO, 2016).

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan, menyusui eksklusif adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman lain, termasuk air putih selain menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes, ASI perah juga diperbolehkan) (Kemenkes RI, 2014).

2.2.2 Manfaat ASI Eksklusif

ASI merupakan makanan yang ideal untuk tumbuh kembang bayi. Bayi yang tidak memperoleh ASI, hanya diberi susu formula pada bulan pertama kehidupannya, memiliki resiko tinggi untuk menderita gizi buruk, diare, alergi dan penyakit infeksi lainnya. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan bayi (Prasetyo, 2009; Yuliarti, 2010). Manfaat ASI eksklusif selain pada bayi juga pada ibu bahkan bermanfaat bagi negara (Utami, 2000 dalam Pamotan, 2013).

a. Manfaat ASI Eksklusif pada bayi

Manfaat ASI Eksklusif pada bayi adalah sebagai berikut :

1) Sebagai nutrisi terbaik karena sumber gizi yang ideal dengan komposisi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhan.

2) Meningkatkan daya tahan tubuh, karena mengandung berbagai zat antibodi yang mencegah terjadinya infeksi.

25

3) Meningkatkan kecerdasan, karena ASI mengandung asam lemak (DHA, AA/arachidonic acid, omega-3, omega-6) yang diperlukan untuk pertumbuhan otak.

4) Meningkatkan jalinan kasih sayang.

5) Tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan dan ginjal.

6) Bayi yang menyusu pada ibunya, pertumbuhan gigi gerahamnya lebih baik.

7) Buah dada ibu telah diciptakan sedemikian rupa sehingga waktu bayi menghisap, kemungkinan bayi akan tersedak lebih kecil.

b. Manfaat ASI Eksklusif pada Ibu

Manfaat ASI eksklusif pada ibu bila ibu memberikan ASI eksklusif yaitu : 1) Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi.

2) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.

3) Mempercepat pemulihan kesehatan.

4) Menjarangkan kehamilan karena menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah dan cukup berhasil.

5) Mengecilkan rahim karena kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat membantu rahim ke ukuran semula seperti sebelum hamil.

6) Lebih cepat langsing kembali karena menyusui membutuhkan energi maka tubuh akan mengambil lemak dari lemak yang tertimbun selama hamil.

7) Mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara.

8) Lebih ekonomis dan murah karena dapat menghemat pengeluaran untuk susu formula.

9) Tidak merepotkan dan hemat waktu karena ASI dapat diberikan dengan segera tanpa harus menyiapkan atau memasak air.

10) Portabel dan praktis karena mudah dibawa kemana-mana sehingga saat berpergian tidak perlu membawa berbagai alat untuk menyusui.

11) Memberi ibu kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang mendalam karena telah berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

c. Manfaat ASI Eksklusif bagi Negara

Manfaat ASI Eksklusif bagi Negara adalah sebagai berikut :

1) Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapaan menyusui, serta biaya menyiapkan susu.

2) Penghematan biaya rumah sakit terutama sakit muntah-mencret dan penyakit saluran pernafasan.

3) Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkulitas untuk membangun negara.

3.2.3 Komposisi ASI a. Kolostrum

Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara, mengandung residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium. Kolostrum disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau

27

keempat. Kolostrum adalah air susu ibu yang pertama kali keluar yang merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu matur. Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI yang matur, dan protein yang utama adalah globulin (gamma globulin) serta lebih banyak mengandung antibodi dibanding dengan ASI yang matur dan dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur enam bulan. Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dibanding dengan ASI matur.

Mineral terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi dibanding susu matur. Vitamin lebih tinggi dari susu matur dan terdapat tripsin inhibitor sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna, hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi pada bayi.

Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, oleh karena itu kolostrum sangat penting dan harus diberikan pada bayi. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan untuk makanan bayi yang akan datang.

b. Air susu transisi/peralihan

Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur. Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi. Kadar protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin

meninggi. Volume ASI juga akan bertambah banyak dan berubah warna serta komposisinya.

c. Air susu matur

Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan dan merupakan cairan berwarna putih kekuning-kuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin dan karoten yang terdapat di dalamnya. Terdapat juga antimikrobial faktor antara lain antibodi terhadap bakteri dan virus, faktor resisten terhadap stafilokokus, immunoglobulin memberikan mekanisme pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan virus dan bila bergabung dengan komplemen dan lisozim merupakan suatu antibakterial yang langsung terhadap E.Coli.

Faktor lisozim dan komplemen ini adalah suatu antibakterial non spesifik yang mengatur pertumbuhan flora usus.

d. Protein di dalam ASI

ASI mengandung protein lebih rendah dari Air Susu Sapi (ASS), tetapi protein ASI ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi. Keistimewaan dari protein yang terdapat pada ASI lebih mudah dicerna dibanding dengan susu sapi, karena ASI memiliki perbandingan antara whey dan casein yang sesuai untuk bayi yaitu 65:35 sehingga protein ASI lebih mudah diserap.

ASI mengandung asam amino esensial taurin dan sistin yang tinggi, yang penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin serta pertumbuhan otak bayi dan tidak terdapat dalam susu sapi.

29

e. Karbohidrat dalam ASI

ASI mengandung karbohidrat relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi. Karbohidrat yang utama terdapat dalam ASI adalah laktosa yang akan diubah menjadi asam laktat sehingga memberikan suasana asam di dalam usus bayi yang memberikan beberapa keuntungan antara lain penghambatan pertumbuhan bakteri yang patologis, memacu pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin serta memudahkan absorpsi dari mineral seperti kalsium, fosfor dan magnesium. Selain laktosa juga terdapat glukosa,galaktosa yang penting untuk pertumbuhan otak dan medulla spinalis dan juga glukosamin yang merupakan bifidus faktor yang memacu pertumbuhan laktobasilus bifidus yang sangat menguntungkan bayi.

f. Lemak dalam ASI

Kadar lemak dalam ASI merupakan sumber kalori yang utama bagi bayi, dan sumber vitamin yang larut dalam lemak dan sumber asam lemak yang esensial yaitu asam linoleat dan asam alda linolenat yang akan diolah oleh tubuh bayi menjadi Arachidonic Acid (AA) dan Decosahexanoic Acid (DHA) yang diperlukan untuk pembentukan dan perkembangan

sel-sel otak yang optimal. Kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang diperlukan.

g. Vitamin dan mineral dalam ASI

Vitamin dan mineral dalam ASI dapat dikatakan lengkap, dan bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan serta mudah diserap sehingga dapat mencegah gangguan pencernaan Garam organik yang terdapat dalam ASI terutama adalah kalsium,kalium dan natrium dari asam klorida dan fosfat.

h. Air dalam ASI

ASI terdiri dari air kira-kira 88 persen yang berguna untuk melarutkan zat-zat yang terdapat di dalamnya. ASI merupakan sumber air yang secara metabolik adalah aman, air yang relatif tinggi dalam ASI akan meredakan rangsangan haus dari bayi (Soetjiningsih, 2013).

2.3. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) 2.3.1 Pengertian MP-ASI

Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi berusia 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Sebelum bayi berusia 24 bulan, sebaiknya ASI tetap diberikan dengan memberikan ASI terlebih dahulu baru kemudian memberikan MP-ASI. (Kemenkes RI, 2011).

MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga.

Pengenalan dan pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap baik jenis, porsi, frekuensi, bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan usia dan kemampuan pencernaan bayi/anak. Makanan pendamping ASI dapat berupa

31

bubur, tim, sari buah, biskuit. Pemberian makanan pendamping ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini (Sulistyoningsih, 2011).

MP-ASI merupakan makanan pendamping ASI yang diberikan pada bayi umur 6-23 bulan. Bayi siap untuk makan makanan padat, baik secara pertumbuhan maupun secara psikologis, pada usia 6-9 bulan. Kemampuan bayi baru lahir untuk mencerna, mengabsorpsi, dan memetabolisme bahan makanan sudah adekuat, tetapi terbatas hanya pada beberapa fungsi (Wong dan Donna, 2008 dalam Wargiana, 2013).

2.3.2 Tujuan Pemberian MP-ASI

Maryunani (2010) menyatakan bahwa tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk melengkapi zat gizi ASI yang sudah mulai berkurang, mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk, mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan makanan, serta membantu bayi dalam beradaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi.

Pemberian MP-ASI dini terbuktiberpengaruh pada gangguan pertambahan berat bayi walaupun setelah dikontrol oleh faktor lainnya. Gangguan pertambahan berat bayi akibat pengaruh pemberian MP-ASI dini terjadi sejak bayi berumur dua bulan dan berlanjut pada interval umur berikutnya (Irawati dan Anies, 2004 dalam Goi, 2013).

Tabel 2.2

Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Anak Indonesia Standart Berat Badan, Tinggi badan dan

Kecukupan Zat gizi

Sumber : Koes Irianto, Gizi Seimbang Dalam Kesehatan Reproduksi (2014)

Angka kebutuhan diatas bukanlah suatu kebutuhan minimum dan maksimum, akan tetapi dapat dipakai untuk mengetahui tingkat konsumsi dari suatu populasi.

Angka kebutuhan diatas bukanlah suatu kebutuhan minimum dan maksimum, akan tetapi dapat dipakai untuk mengetahui tingkat konsumsi dari suatu populasi.

Dalam dokumen TESIS. Oleh HELMI WARDAH NASUTION /IKM (Halaman 32-117)

Dokumen terkait