• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh HELMI WARDAH NASUTION /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TESIS. Oleh HELMI WARDAH NASUTION /IKM"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

TESIS

Oleh

HELMI WARDAH NASUTION 147032027/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

(2)

2

PERBEDAAN STATUS GIZI BAYI USIA 6-12 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK DIBERI ASI EKSKLUSIF DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN TEMBUNG KOTA MEDAN TAHUN 2016

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

HELMI WARDAH NASUTION 147032027/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(3)

Judul Tesis : PERBEDAAN STATUS GIZI BAYI USIA 6-12 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK DIBERI ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN TEMBUNG KOTA MEDAN TAHUN 2016

NamaMahasiswa : Helmi Wardah Nasution NomorIndukMahasiswa : 147032027

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat MinatStudi : Kesehatan Reproduksi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Sri Rahayu Sanusi, S.K.M, M.Kes. Ph.D) (Dra. Jumirah, Apt.M.Kes)

Ketua Anggota

Tanggal Lulus : 26 Agustus 2016

(4)

4

Telah Diuji

pada Tanggal : 26 Agustus 2016

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Sri Rahayu, S.K.M, M.Kes, Ph.D

Anggota : 1. Dra. Jumirah, Apt. M.Kes

2. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D

3. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D

(5)

PERNYATAAN

PERBEDAAN STATUS GIZI BAYI USIA 6-12 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK DIBERI ASI EKSKLUSIF DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN TEMBUNG KOTA MEDAN TAHUN 2016

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Agustus 2016

Helmi Wardah Nasution

147032027/IKM

(6)

6

ABSTRAK

Terjadinya rawan gizi pada bayi disebabkan antara lain oleh karena ASI banyak diganti oleh susu formula atau makanan pendamping ASI dengan jumlah dan cara yang tidak sesuai kebutuhan. Program pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mandala pada tahun 2015 adalah sebesar 29,3%, masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala.

Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional terhadap 55 bayi yang diberi ASI Eksklusif dan 55 bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif sebagai sampel yang dipilih secara random sampling. Pengumpulan data melalui wawancara dan pengambilan data status gizi bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Mann Whitney.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi dari 55 bayi yang diberikan ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala didapatkan sebanyak 37 bayi memiliki status gizi baik, 43 bayi dengan panjang badan normal dan 39 bayi dengan kondisi berat badan normal. Berdasarkan uji Mann Whitney didapatkan nilai U hitung

= -2,160 dengan p-value sebesar 0,031. Oleh karena p-value 0,031 <α (0,05)

Diharapkan pada petugas kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan tentang pemberian ASI eksklusif sejak lahir sampai umur 6 bulan sehingga menekan kejadian status gizi kurang atau lebih.

Kata Kunci : ASI Eksklusif, Status Gizi

(7)

ABSTRACT

The incidence of nutritional deficiency in babies is because ASI (breast milk) is changed to powdered milk or food supplement with the amount and method which are not in accordance with the need. The coverage of breastfeeding with exclusive ASI program at Mandala Puskesmas in 2015 was 29.3% which was still low.

The objective of the research was to find out the difference in nutrition status of 6-12 month-old babies breastfed with exclusive ASI and without exclusive ASI. The research used observational with cross sectional design on 55 and 55 babies without exclusive ASI, taken by using random sampling technique. The data were gathered by conducting interviews and obtaining the data on babies’ nutrition status in the working area of Mandala Puskesmas and analyzed by using unvariate analysis and bivariate analysis with Uji Mann Whitney.

The result of the research showed that of the 55 babies that were breastfed with exclusive ASI, 37 of them had good nutrition status, 43 of them had normal body length, and 39 of them had normal weight. The result of Mann Whitney test showed that the value of Z

count

= -2.160 with p-value=0.031 (p<α (0.05) which indicated that there was significant difference in nutrition status of 6-12 month-old babies breastfed with exclusive ASI from the 6-12 month-old

It is recommended that health care providers increase promotion about breastfeeding with exclusive ASI since babies are born until they are 6 months also that the incidence of nutritional deficiency or malnutrition can be warded off.

Keywords: Breastfeeding, Nutrition Status

(8)

8

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat dan KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini dengan judul “Perbedaan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan yang diberi ASI Eksklusif dan Tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016”.

Tesis ini merupakan salah satu persyaratan unuk akademik untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Dalam menyusun tesis ini penulis mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan dan Ketua Program Studi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara

3. Prof. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si, selaku sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara

4. Sri Rahayu Sanusi, SKM, M.Kes, Ph.D selaku Ketua Pembimbing atas segala

ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan,

(9)

dorongan, saran dan perhatian selama proses proposal hingga penulisan tesis ini selesai.

5. Dra. Jumirah, Apt, M.Kes, selaku Anggota Pembimbing atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatian selama proses proposal hingga penulisan tesis ini selesai.

6. Ir. Etti Sudaryati M.K.M, Ph.D dan dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D, selaku Komisi Penguji atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk mengkoreksi dan memberikan masukan dan saran penulisan tesis ini.

7. Bapak dan Ibu dosen serta pegawai/tenaga non-edukatif FKM USU yang turut mendukung persiapan penyelesaian Tesis ini.

8. Kepala Puskesmas Mandala beserta stafnya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan.

9. Ayahanda (Ihsan Nasution) dan Ibunda (Rosmah Batubara), Suami (Oki Mora Nasution, SE) dan M. Daffa Adzka Nasution anak Mama, yang penulis banggakan dan cintai yang telah banyak memberikan dukungan, do’a dan pengorbanan baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik.

10. Buat alm kakanda Irda Hasni Nasution yang penulis sayangi, abanganda Jhon Syafaruddin, adik- adik tercinta Khairunnisah Nst, Spd.I, Nurul Lutifah Nst, M.

Rasoki Nst, Panji pratomo Guntoro, M. Khalis. SE, terima kasih atas dukungan

kalian.

(10)

10

11. Buat teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya Minat Studi Kesehatan Reproduksi (Kespro A) pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Ice Mayanti atas bantuan, dukungan dan semangatnya buat penulis.

12. Buat teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya Minat Studi Kesehatan Reproduksi 2014 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas dukungannya buat penulis.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan tulisan ini. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan tulisan ini. Dan dengan segala keterbatasan yang ada penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi kita semua.

Medan, Oktober 2016 Penulis

Helmi Wardah Nasution

147032027/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Helmi Wardah Nasution, lahir pada tanggal 23 Desember 1986 di Medan.

Penulis merupakan anak Keuda dari Lima bersaudara dari pasangan Ayahanda Ikhsan Nasution dan Ibunda Rosmah Batubara.

Penulis menempuh pendidikan formal dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah Dasar Swasta Budi Satrya Medan, selesai Tahun 1998; Sekolah Menengah Pertama di SLTP Negeri 17 Medan, selesai Tahun 2002, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 11 Medan selesai tahun 2005; D-III Kebidanan di Akademi Kebidanan Hafsyah Medan, selesai Tahun 2010; D-IV Bidan Pendidik Universitas Sumatera Utara Medan, selesai Tahun 2012.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara pada tahun 2014 dan menyelesaikan pendidikan pada

tahun 2016.

(12)

12

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.3.1 Tujuan Umum ... 12

1.3.2 Tujuan Khusus ... 13

1.4 Hipotesa Penelitian... 13

1.5 Manfaat Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15

2.1 Status Gizi Bayi ... 15

2.1.1 Pengertian Status Gizi Bayi ... 15

2.1.2 Penilaian Status Gizi dengan Metode Antropometri ... 15

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Bayi ... 20

2.2. ASI Eksklusif ... 23

2.2.1 Pengertian ASI Eksklusif ... 23

2.2.2 Manfaat ASI Eksklusif ... 24

2.2.3 Komposisi ASI ... 26

2.3. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) ... 30

2.3.1 Pengertian MP-ASI ... 30

2.3.2 Tujuan Pemberian MP-ASI ... 31

2.3.3 Risiko/Dampak Pemberian MP-ASI Dini ... 32

2.3.4 Faktor yang Memengaruhi Pemberian MP-ASI ... 33

2.3.5 Jenis Makanan Pendamping ASI ... 35

2.3.6 Tata Cara dalam Pemberian MP-ASI ... 36

2.4 Perilaku Ibu ... 37

2.4.1 Pengetahuan ... 37

2.4.2 Sikap ... 38

2.4.3 Tindakan ... 39

(13)

2.5 Landasan Teoritis ... 39

2.6 Kerangka Konsep ... 40

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 41

3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 41

3.2 Lokasi Penelitian dan waktu Penelitian ... 41

3.3 Populasi dan Sampel ... 41

3.3.1 Populasi ... 41

3.3.2 Sampel ... 42

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 43

3.4.1 Data Primer ... 43

3.4.2 Data Sekunder ... 44

3.5 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 44

3.6 Definisi Operasional... 44

3.7 Variabel Penelitian ... 45

3.8 Aspek Pengukuran ... 46

3.9 Metode Analisa Data ... 48

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 49

4.1 Gambaran Umum Penelitian ... 50

4.2 Analisa Univariat ... 50

4.2.1 Karakteristik Orangtua ... 50

4.2.2 Karakteristik Bayi ... 51

4.2.3 Status Gizi pada Bayi yang Diberi ASI Eksklusif dan yang Tidak Diberi ASI Eksklusif ... 54

4.3 Analisis Bivariat ... 55

BAB 5 PEMBAHASAN ... 59

5.1 Status Gizi Pada Bayi yang diberi ASI Eksklusif ... 59

5.2 Status Gizi Pada Bayi yang Tidak Diberi ASI Eksklusif ... 62

5.3 Karakteristik Orangtua ... 64

5.4 Perbedaan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan Yang Diberi ASI Eksklusif Dan Tidak Diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016 ... 69

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 78

6.1 Kesimpulan ... 78

6.2 Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(14)

14

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks .... 20 2.2 Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Anak Indonesia... 32 2.3 Pedoman Pemberian MP-ASI ... 36 2.4 Kesesuaian Pola Makan Dengan Tekstur Makanan dan Cara

Pemberian ... 37 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Orangtua di Wilayah

Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan

Tahun 2016 ... 50 4.2. Distribusi Frekuensi Jenis kelamin Bayi usia 6-12 bulan di Wilayah

Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan

Tahun 2016 ... 52 4.3 Distribusi Frekuensi Umur Bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja

Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan

Tahun 2016 ... 52 4.4 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi usia 6-12 bulan di Wilayah

Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan

Tahun 2016 ... 53 4.5 Distribusi Frekuensi Panjang Badan Bayi Usia 6-12 Bulan di

Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung

Kota Medan Tahun 2016 ... 53 4.6 Perbedaan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan yang diberi ASI Eksklusif

dengan Bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif berdasarkan Berat

Badan Per Umur ( BB/U) ... 55 4.7 Perbedaan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan yang diberi ASI Eksklusif

dengan Bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif berdasarkan Panjang

Badan Per Umur ( PB/U) ... 56

(15)

4.8 Perbedaan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan yang diberi ASI Eksklusif dengan Bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif berdasarkan Berat

Badan Per Panjang Badan ( BB/PB) ... 57 4.7 Perbedaan Status gizi bayi usia6-12 Bulan yang diberi ASI Eksklusif

dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala

Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016 ... 58

(16)

16

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Kerangka Teori Hasil Modifikasi Teori Sulistiyoningsih (2011) dan

Giri,dkk (2013) ... 40

2.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 40

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Lembar Penjelasan kepada Responden ... 77

2 Lembar Persetujuan Sebagai Responden ... 78

3 Kuesioner Penelitian ... 79

4 Data Kelompok Bayi Yang Diberi Asi Eksklusif ... 83

5 Data Kelompok Bayi Yang Tidak Diberi Asi Eksklusif ... 85

6 Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Asi Eksklusif Pada Kelompok Ibu Yang Memberi Asi Eksklusif ... 87

7 Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Asi Eksklusif Pada Kelompok Ibu Yang Tidak Memberi Asi Eksklusif ... 89

8 Data Karakteristik Ibu Dan Status Gizi Bayi Yang diberi ASI Eksklusif ... 91

9 Data Karakteristik Ibu Dan Status Gizi Bayi Yang Tidak diberi ASI Eksklusif ... 93

10 Uji Perbedaan Status Gizi ... 95

11 Surat Survei Pendahuluan dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat ... 96

12 Surat Balasan Survei Pendahuluan dari Puskesmas Mandala ... 97

13 Surat Izin Penelitian dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat ... 98

14 Surat Balasan Izin Puskesmas Mandala ... 99

15 Dokumentasi Penelitian ... 100

(18)

6

ABSTRAK

Terjadinya rawan gizi pada bayi disebabkan antara lain oleh karena ASI banyak diganti oleh susu formula atau makanan pendamping ASI dengan jumlah dan cara yang tidak sesuai kebutuhan. Program pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mandala pada tahun 2015 adalah sebesar 29,3%, masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala.

Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional terhadap 55 bayi yang diberi ASI Eksklusif dan 55 bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif sebagai sampel yang dipilih secara random sampling. Pengumpulan data melalui wawancara dan pengambilan data status gizi bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Mann Whitney.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi dari 55 bayi yang diberikan ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala didapatkan sebanyak 37 bayi memiliki status gizi baik, 43 bayi dengan panjang badan normal dan 39 bayi dengan kondisi berat badan normal. Berdasarkan uji Mann Whitney didapatkan nilai U hitung

= -2,160 dengan p-value sebesar 0,031. Oleh karena p-value 0,031 <α (0,05)

Diharapkan pada petugas kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan tentang pemberian ASI eksklusif sejak lahir sampai umur 6 bulan sehingga menekan kejadian status gizi kurang atau lebih.

Kata Kunci : ASI Eksklusif, Status Gizi

(19)

ABSTRACT

The incidence of nutritional deficiency in babies is because ASI (breast milk) is changed to powdered milk or food supplement with the amount and method which are not in accordance with the need. The coverage of breastfeeding with exclusive ASI program at Mandala Puskesmas in 2015 was 29.3% which was still low.

The objective of the research was to find out the difference in nutrition status of 6-12 month-old babies breastfed with exclusive ASI and without exclusive ASI. The research used observational with cross sectional design on 55 and 55 babies without exclusive ASI, taken by using random sampling technique. The data were gathered by conducting interviews and obtaining the data on babies’ nutrition status in the working area of Mandala Puskesmas and analyzed by using unvariate analysis and bivariate analysis with Uji Mann Whitney.

The result of the research showed that of the 55 babies that were breastfed with exclusive ASI, 37 of them had good nutrition status, 43 of them had normal body length, and 39 of them had normal weight. The result of Mann Whitney test showed that the value of Z

count

= -2.160 with p-value=0.031 (p<α (0.05) which indicated that there was significant difference in nutrition status of 6-12 month-old babies breastfed with exclusive ASI from the 6-12 month-old

It is recommended that health care providers increase promotion about breastfeeding with exclusive ASI since babies are born until they are 6 months also that the incidence of nutritional deficiency or malnutrition can be warded off.

Keywords: Breastfeeding, Nutrition Status

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Status gizi merupakan indikator dalam menentukan derajat kesehatan bayi dan anak. Status gizi yang baik dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai kematangan yang optimal. Gizi yang cukup juga dapat memperbaiki ketahanan tubuh sehingga bebas dari segala penyakit. Status gizi juga dapat membantu untuk mendeteksi lebih dini risiko terjadinya masalah kesehatan (Dwienda, dkk, 2014).

Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat. Masalah gizi erat

kaitannya dengan masalah ketahanan pangan tingkat rumah tangga, selain itu juga

menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup

sehat (Supariasa, dkk, 2011). Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur

yang sangat penting. Kekurangan gizi, terutama pada bayi akan menghambat proses

tumbuh kembang anak dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal untuk

meningkatkan mutu kehidupan bangsa. Secara umum terdapat dua faktor utama yang

berpengaruh terhadap faktor tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan faktor

lingkungan. Faktor genetik dapat disebabkan dari perkembangan janin pada saat di

dalam kandungan yang kurang sempurna. Faktor lingkungan yang dimaksud

merupakan lingkungan biopsikososialyang mempengaruhi individu setiap hari mulai

dari konsepsi sampai akhir hayatnya (Purwitasari, 2009).

(21)

Status gizi pada balita dapat berpengaruh terhadap beberapa aspek. Gizi kurang pada balita, membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik maupun mental, dampak yang lebih serius adalah timbulnya kecacatan, tingginya angka kesakitan dan percepatan kematian (Rahim, 2014). Status gizi yang baik dipengaruhi oleh jumlah asupan zat gizi yang dikonsumsi. Secara tidak langsung asupan zat gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah karakteristik keluarga.

Karakteristi keluarga khususnya ibu yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Ibu sebagai orang yang dekat dengan lingkungan asuhan anak ikut berperan dalam proses tumbuh kembang anak melalui makanan zat gizi yang diberikan.

Karakteristik ibu ikut menentukan keadaan gizi anak (Satoto, 1990).

Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategi For Infant And Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal

penting yang harus dilakukan yaitu pertama memberikan Air Susu Ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya Air Susu Ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara Ekslusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6-24 bulan. Dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Depkes RI, 2006).

World Health Organization (WHO), (2016), menyatakan bahwa setiap bayi

dan anak harus mendapatkan gizi yang baik sesuai dengan Konvensi Hak Anak.

Kekurangan zat gizi pada anak merupakan masalah gizi yang perlu mendapat

perhatian yang serius, karena berpengaruh pada tingginya angka kematian anak.

(22)

3

WHO (2016) menyatakan bahwa masalah gizi dikaitkan dengan 45% dari kematian anak. Selanjutnya berdasarkan Data SDKI 2012 menunjukkan kematian bayi untuk periode lima tahun sebelum survei (2008-2012) adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita dan kematian anak masing-masing sebesar 40 dan 9 kematian per 1.000 kelahiran. (BPS, BKKBN, Macro Internasional, Kemenkes, 2013). Berdasarkan data BPS (2012), prevalensi kematian bayi sebesar 40 per 1000 kelahiran hidup dan kematian balita sebesar 52 per 1000 kelahiran hidup (Badan Pusat Statistik, 2012).

Periode pertama sejak kehamilan hingga dua tahun sesungguhnya merupakan periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Masalah gizi pada 1000 HPK dapat dikelompokan dalam tiga periode yaitu masa kehamilan, 0-6 bulan, dan 7-23 bulan.

Masalah kekurangan gizi yang mendapat perhatian akhir-akhir ini adalah masalah kurang gizi dalam bentuk anak pendek (stunting), kurang gizi akut dalam bentuk anak kurus (wasting). Masalah gizi tersebut terkait erat dengan masalah gizi dan kesehatan ibu hamil, dan menyusui, bayi baru lahir dan anak usia di bawah dua tahun (Bappenas, 2012).

Menurut data UNICEF, World Health Organization (WHO) dan World Bank

tren prevalensi pendek dari tahun 1990 sampai 2014 mengalami penurunan yaitu dari

39,6 persen menjadi 23,8 persen, tren prevalensi gizi lebih meningkat dari tahun 1990

sampai 2014 yaitu dari 4,8 persen menjadi 6,1 persen. Sementara itu sebanyak 1 dari

13 anak di dunia mengalami gizi kurang pada tahun 2014, prevalensinya sebesar 7,5

persen dan secara global tercatat bahwa kejadian gizi kurang paling banyak di Asia

dengan prevalensi sebesar 68% (UNICEF, WHO dan World Bank, 2015).

(23)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2012), presentase angka status gizi buruk di Provinsi Sumatera Utara sebesar 2,8%, gizi lebih sebesar 7,5 dan status gizi baik sebesar 71,1%. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013), prevalensi gizi kurang pada balita (BB/U<-2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4 persen pada tahun 2007 menurun menjadi 17,9 persen pada tahun 2010 kemudian meningkat lagi menjadi 19,6 persen pada tahun 2013. Beberapa provinsi, seperti Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah menunjukkan kecenderungan menurun. Dua provinsi yang prevalensinya sangat tinggi (>30%) adalah NTT diikuti Papua Barat, dan dua provinsi yang prevalensinya <15 persen terjadi di Bali, dan DKI Jakarta (Kemenkes, 2013).

Masalah stunting/pendek pada balita masih cukup serius, angka nasional 37,2 persen, bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Prevalensi gemuk secara nasional di Indonesia sebanyak 11,9%, hal ini menunjukkan terjadi penurunan dari 14,0% pada tahun 2010. Terdapat 12 provinsi yang memiliki masalah anak gemuk di atas angka nasional dengan urutan prevalensi tertinggi sampai terendah, yaitu: (1) Lampung; (2) Sumatera Selatan; (3) Bengkulu;

(4) Papua; (5) Riau; (6) Bangka Belitung; (7) Jambi; (8) Sumatera Utara; (9) Kalimantan Timur; (10) Bali; (11) Kalimantan Barat; dan (12) Jawa Tengah (Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013, diantara 33 provinsi di

Indonesia, 19 provinsi memiliki prevalensi balita kekurangan gizi di atas angka

(24)

5

prevalensi nasional yaitu berkisar antara 19,7% sampai dengan 33,1 persen, dan atas dasar sasaran MDG’s 2015, terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi balita kekurangan gizi sudah mencapai sasaran yaitu : (1) Bali (13,2%), (2) DKI Jakarta (14,0%), (3) Kepulauan Bangka Belitung (15,1%) (Kemenkes, 2014)

Masalah kesehatan masyarakat dianggap serius bila prevalensi kekurangan gizi pada balita antara 20,0-29,0%, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila ≥30 persen. Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kekurangan gizi pada anak balita sebesar 19,6%, yang berarti masalah kekurangan gizi pada balita di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat mendekati prevalensi tinggi. Diantara 33 provinsi, terdapat dua provinsi termasuk kategori prevalensi sangat tinggi, yaitu Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (33,0%) (Kemenkes RI, 2014).

Rahim (2014) menyatakan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi yaitu pola asuh pemberian makan anak dengan status gizi. Pencernaan makanan selain Air Susu Ibu (ASI) dalam saluran cerna bayi (0-6 bulan) masih belum sempurna. Sekresi enzim yang berfungsi untuk menguraikan karbohidrat (polisakarida) seperti enzim amilase yang dihasilkan oleh pankreas belum disekresi dalam 3 bulan pertama dan hanya terdapat dalam jumlah sedikit sampai bayi usia 6 bulan. Pencernaan polisakarida yang tidak sempurna pada bayi dapat mengganggu penyerapan zat gizi lain dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan (Widodo et al, 2005 dalam Wirgiana. 2013).

Terjadinya rawan gizi pada bayi disebabkan antara lain oleh karena ASI

banyak diganti oleh susu formula atau makanan pendamping ASI dengan jumlah dan

(25)

cara yang tidak sesuai kebutuhan. ASI merupakan makanan yang bergizi yang mudah dicerna oleh bayi dan langsung diserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan mampu untuk menghasilkan ASI dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan tiga bulan pertama (Winarno, 1990 dalam Rizal,dkk 2013).

Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian anak United Nation childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan sebaiknya anak disusui hanya ASI selama paling sedikit enam bulan. Makanan padat seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun (WHO 2005 dalam Kemenkes, 2013). Namun, praktek pemberian Makanan Pemberian Air Susu Ibu (MP-ASI) dini sebelum usia enam bulan masih banyak dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini akan berdampak terhadap kejadian infeksi yang tinggi, seperti diare, infeksi saluran napas, alergi, hingga gangguan pertumbuhan (Brown, 1998 dalam Fitriana, 2013).

ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama

6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau

minuman lain (Kemenkes,2012). Kekurangan gizi, alergik, kolik, konstipasi

(sembelit), dan obesitas (kegemukan) lebih kecil kemungkinannya terjadi pada bayi

yang mengkonsumsi ASI (Hayati dan Wirda, 2009).

(26)

7

ASI sebagai makanan dan minuman utama pada bayi usia 0-6 bulan karena ASI mudah dicerna dan langsung terserap oleh bayi. Jika proses pemberian laktasi dilaksanakan dengan baik saat bayi, pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan dapat mencukupi nutrisi bayi. ASI sebagai satu-satunya nutrisi bayi sampai usia enam bulan dianggap sangat berperan penting untuk tumbuh kembang anak (Kemenkes, 2012).

Prevalensi pemberian ASI meningkat di hampir semua daerah di negara berkembang, dengan peningkatan terbesar terlihat di Barat dan Afrika Tengah di mana prevalensi ASI eksklusif lebih dari dua kali lipat dari 12% pada tahun 1995 menjadi 28% pada tahun 2010, di Afrika Timur dan Afrika Selatan juga mengalami peningkatan dari 35% pada tahun 1995 menjadi 47% pada tahun 2010. Peningkatan yang terendah terdapat Asia Selatan yaitu 40% pada tahun 1995 menjadi 45% pada tahun 2010 (Danso, 2014).

Dari data Susenas 2013 (Sensus Ekonomi Nasional) cakupan persentase bayi yang diberi ASI Eksklusif dari tahun 2009 – 2012 cenderung menurun secara signifikan, walaupun cakupan pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012, namun masih jauh dibawah pencapaian tahun 2009, sehingga belum mampu mencapai target nasional yaitu 40 persen. Kabupaten/ kota dengan pencapaian ≥ 40 persen yaitu Deli Serdang 41,4 persen, Langkat 42,7 persen, Simalungun 43,6 persen, Padang Sidempuan 43,9 persen, Samosir 45,9 persen, Pematang Siantar 46 persen, Nias Utara 49,1 persen dan Nias Selatan 49,9 persen.

Terdapat lima Kabupaten/ Kota dengan pencapaian > 10 persen yaitu Nias 7,7 persen,

Medan 7,6 persen, Humbang Hasunlutan 7,3 persen, Tanjung Balai 4,3 persen dan

Nias Barat 2 persen.

(27)

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 30.801 bayi usia 0-23 bulan di Indonesia diberi ASI dan MP-ASI (Kemenkes, 2013), dan menurut data SDKI (Kemenkes tahun 2012) menunjukkan 60 persen anak mendapat makanan pralaktasi selain ASI pada tiga hari pertama kehidupan. Makanan tambahan dan cairan diperkenalkan saat dini. Walaupun sekitar setengah anak berumur di bawah dua bulan menerima ASI saja namun persentase pemberian ASI saja menurun terus setelah dua bulan pertama. Lebih dari 7 diantara 10 anak umur 4-5 bulan sudah menerima makanan tambahan 44 persen, air putih 8 persen, susu atau cairan tambahan lainnya 8 persen sebagai tambahan dari ASI atau sepenuhnya sudah disapih 13 persen. Dari data Riskesdas 2013 menunjukkan provinsi Sumatera Utara merupakan Provinsi dengan cakupan pemberian makanan pralakteal tertinggi pada bayi yaitu 62,7 persen dan yang paling rendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 22,2 persen. Jenis makanan prelakteal yang diberikan ke bayi adalah susu formula sebesar 79, 8 persen. Cakupan makanan jenis susu formula di Indonesia yang tertinggi di Kepulauan Riau (95,5 persen) dan Bali (93,7 persen) sedangkan cakupan terendah di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 40,2 persen.

Masa pertumbuhan bayi berumur 6-12 bulan membutuhkan asupan gizi tidak hanya cukup dengan ASI saja, karena produksi ASI pada saat itu semakin berkurang sedangkan kebutuhan bayi semakin meningkat seiring bertambahnya umur dan berat badan, oleh karena itu bayi harus mendapat makanan pendamping selain ASI (MP- ASI) untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI.

Pengetahuan masyarakat yang rendah tentang jenis dan cara mengolah makanan bayi

dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan gizi pada bayi (Krisnatuti, 2011).

(28)

9

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) secara dini sangatlah berbahaya, apalagi jika disajikan tidak secara higienis karena menyebabkan masuknya berbagai jenis kuman. Bayi yang mendapatkan MP-ASI sebelum berumur enam bulan lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif. Selain itu pemberian makanan padat secara dini akan menyebabkan kerusakan saluran pencernaan dan menimbulkan penyumbatan saluran pencernaan (Lily L, 2011).

Makanan yang ideal harus mengandung cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pemberian makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan obesitas, sedang kelebihan zat gizi esensial dalam jangka waktu lama akan menimbulkan penimbunan zat gizi tersebut dan menjadi racun bagi tubuh.

Misalnya hipervitaminosis A, hipervitaminosis D dan hiperkalemi. Sebaliknya kekurangan energi dalam jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi cadangan energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/buruk). Kekurangan zat esensial mengakibatkan defisiensi zat gizi tersebut.

Misalnya Seroftalmia (kekurangan vitamin A), Rakhitis (kekurangan vitamin D) (Irianto Koes, 2014).

Beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan

anak disebabkan karena kebiasaan memberikan MP-ASI yang tidak tepat. Keadaan

ini memerlukan penanganan tidak hanya penyediaan pangan, tetapi dengan

pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan

kemampuan masyarakat. Selain itu ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi

(29)

berumur 6 bulan memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cerna nya.

Pemberian makanan tambahan pada bayi sebaiknya diberikan setelah usia bayi lebih dari enam bulan atau setelah pemberian ASI eksklusif karena pada usia tesebut kebutuhan gizinya masih terpenuhi dari ASI. Bayi yang lebih cepat mendapatkan makanan tambahan akan lebih rentan terhadap penyakit infeksi seperti infeksi telinga dan pernapasan, diare, resiko alergi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi (Arisman, 2004).

Fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa ibu-ibu tidak memberikan ASI secara Eksklusif tetapi lebih memilih memberikan susu formula atau makanan tambahan pada bayi kurang dari enam bulan. Karena masih banyak ibu-ibu yang belum mengetahui manfaat pemberian ASI secara Eksklusif. Sebagian ibu menganggap bahwa dengan memberikan makanan tambahan akan memenuhi kebutuhan gizi bayi dan bayi tidak akan merasa kelaparan. Hal ini berbahaya dilihat dari sistem pencernaan bayi belum sanggup mencerna atau menghancurkan makanan secara sempurna (Boedihardjo, 1994).

Menurut Manalu (2008) menyatakan bahwa sebagian besar anak sudah

diberikan makanan tambahan sebelum umur 5 bulan yaitu sebesar 80,49% dan yang

paling rendah adalah pada umur 5-7 bulan yaitu sebesar 19,51%. Adapun MP-ASI

yang diberikan adalah nasi bubur dengan tambahan garam, atau nasi bubur dengan

lauk, atau nasi keras dengan sayur saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

frekuensi makan anak yang terbanyak adalah 2x sehari yaitu sebesar 63,41% dan

(30)

11

yang terendah adalah 1x sehari sebesar 9,76%. Dari hasil penelitian didapat bahwa anak yang frekuensi makannya sedikit memiliki status gizi yang tidak baik.

Pencapaian Program ASI Eksklusif di Kota Medan pada tahun 2015 sebesar 40,1% sementara target nasional yaitu 80%. Di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala kecamatan Medan Tembung pada tahun 2015 pencapaian program pemberian ASI Eksklusif sebesar 29,3% (Profil Dinas Kesehatan Kota Medan 2016).Angka tersebut masih sangat rendah dibandingkan pencapaian Propinsi Sumatera Utara maupun pencapaian Nasional. Sedangkan pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan pada tahun 2015 adalah sebesar 29,3%, masih sangat rendah dibandingkan pencapaian Propinsi Sumatera maupun pencapaian Nasional (Profil Dinkes Kota Medan).

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan peneliti dari 12 orang ibu-ibu

yang memiliki bayi usia 6-12 bulan, hanya 2 orang ibu yang memberikan ASI

Eksklusif pada bayi nya. Sedangkan 10 orang ibu rata-rata mereka sudah memberikan

MP-ASI pada bayinya pada saat umur satu atau dua bulan dengan pisang, bubur nasi,

atau MP-ASI pabrikan, susu formula, alasannya mereka takut bayinya kurang

kenyang dan kurang gizi karena hanya diberikan ASI saja. Data yang diperoleh dari

Puskesmas Mandala jumlah bayi usia 0-59 bulan sebanyak 2148 bayi. Diketahui dari

data pemantauan anak gizi kurang dan gizi buruk di Wilayah Kerja Puskesmas

Mandala pada November 2015 terdapat 49 anak yang mengalami gizi kurang dan 4

orang anak yang mengalami gizi buruk dan pada bulan Desember 2015 terdapat 6

(enam) bayi yang mengalami gizi buruk sedang mendapatkan perawatan.

(31)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016.

1.2 Permasalahan

Status gizi merupakan indikator dalam menentukan derajat kesehatan bayi dan anak. Kekurangan zat gizi pada anak merupakan masalah gizi yang perlu mendapat perhatian yang serius, karena berpengaruh pada tingginya angka kematian anak.

Kekurangan gizi lebih kecil kemungkinannya terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI Eksklusif dan terjadinya rawan gizi pada bayi disebabkan antara lain oleh karena ASI Eksklusif banyak diganti oleh susu formula atau makanan pendamping ASI dengan jumlah dan cara yang tidak sesuai kebutuhan, sehingga permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut apakah ada perbedaan status gizi bayi usia 6- 12 bulan yang diberi ASI Eklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan status

gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di

Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun

2016.

(32)

13

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui status gizi bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016

2. Untuk mengetahui perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif.

3. Untuk mengetahui pengetahuan ibu terhadap perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif.

4. Untuk mengetahui sikap ibu terhadap perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif.

5. Untuk mengetahui tindakan ibu terhadap perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif.

1.4 Hipotesa Penelitian

Terdapat perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan dalam memantau

pemberian ASI Eksklusif pada bayi dan pola pemberian makanan selain ASI

Ekslusif seperti MP-ASI pada bayi agar status gizi bayi lebih baik dan sesuai

yang diharapkan.

(33)

2. Sebagai masukan bagi Camat dan Lurah serta jajaran yang terkait lainnya untuk mempromosikan ASI Eksklusif dan mengajarkan ibu untuk memberikan MP-ASI setelah usia bayi lebih dari 6 bulan dan MP-ASI yang diberikan harus mengandung gizi yang dibutuhkan bayi.

3. Sebagai masukan bagi Kepala Puskesmas Mandala agar memantau bidan-

bidan yang bertugas di Wilayah Kerja Puskesmas Mandala, untuk tidak

memberikan susu formula pada saat bayi baru lahir dan memantau pola

pemberian MP-ASI pada bayi usia lebih dari 6 bulan.

(34)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi Bayi

2.1.1 Pengertian Status Gizi Bayi

Supariasa (2011) menyatakan bahwa status gizi bayi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologis akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh. Sehingga status gizi dapat diartikan sebagai ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel tertentu).

Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang disebabkan konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh jumlah dan jenis yang dikonsumsi dan penggunaan nya dalam tubuh. Apabila konsumsi makanan dalam tubuh terganggu dapat mengakibatkan status gizi jelek dan biasanya disebut kurang gizi (Almatsier, 2006).

2.1.2 Penilaian Status Gizi dengan Metode Antropometri

Penilaian status gizi merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengetahuan

yang berasal dari studi informasi makanan,biokimia, antropometri dan klinik

(Proverawati dan Asfuah, 2009). Penilaian status gizi dapat dinilai secara langsung

dan tidak langsung. Penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu :

antopometri, klinis, biokimia,dan biofisik. Sedangkan penilaian penilaian secara

(35)

tidak langsung dibagi menjadi survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supriasa, dkk, 2011).

Dimasyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Hal ini dikarenakan antropometri gizi mempunyai prosedur yang sederhana, aman, bisa dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dan dapat dilakukan dalam sampel yang besar. Alat- alat yang diperlukan juga murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesandan dibuat didaerah setempat. Metode ini juga mempunyai baku rujukan yang sudah pasti sehingga dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk (Supriasa, dkk, 2011).

Antropometri berasal dari bahasa yunani, Antropos adalah tubuh dan metros adalah ukuran, jadi antropometri nadalah ukuran tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak dibawah kulit.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur ketidakseimbanganantara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari polapertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah airdalam tubuh (Proverawati dan Asfuah, 2009).

a. Parameter Antropometri

Berat badan adalah indikator pertama yang dapat dilihat ketika seseorang

mengalami kurang gizi. Dalam jangka panjang, kurang gizi mengakibatkan

hambatan pertumbuhan tinggi badan dan akhirnya berdampak buruk bagi

(36)

17

perkembangan mental-intelektual individu. Kurang gizi pada masa fase cepat tumbuh otak (dibawah 18 bulan) akan bersifat irreversible (tidak dapat pulih).

Artinya kecerdasan anak tersebut tidak bisa lagi berkembang secara optimal (Khomsan, 2004).

Berat badan merupakan parameter yang paling baik. Adanya perubahan dalam pola konsumsi makanan dan kesehatan dapat terlihat dengan mudah melalui berat badan (Proverawati dan Asfuah, 2009). Berat badan merupakan hasil peningkatan dan penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lainnya. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengkuran objektif dan dapat diulangi, dapat digunakan timbangan apa saja yang relatif murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu (Soetjiningsih, 2014).

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertumbuhan umur. Akan tetapi, pertumbuhan tinggi badan relatif kurang sensitif pada masalah kurang gizi dalam waktu singkat. Tinggi badan merupakan parameter paling penting untuk mengetahui keadaan yang telah lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Tinggi badan ini dapat diukur dengan menggunakan alat pengukur panjang badan bayi (Proverawati dan Asfuah, 2009).

Faktor umur sangat penting dalam penetuan status gizi. Kesalahan penentuan

umur akan menyebabkan kesalahan dalam interpretasi status gizi. Menurut

(37)

Puslatbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah umur penuh (completed years) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan penuh (completed month) (Supriasa, dkk, 2011)

b. Indeks Antropometri

Indeks antropometri merupakan gabungan dari beberapa parameter antropometri yang menjadi dasar dari penilaian status gizi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) atau berat badan menurut panjang badan (BB/PB). Perbedaan penggunaan indeks ini akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda (Supriasa, dkk, 2011).

Indeks nerat badan menurut umur merupakan indikator yang paling umum

digunakan sejak tahun 1972. Indeks ini merupakan pengukuran total berat badan

termasuk air, lemak, tulang dan otot (Supriasa, dkk, 2011). Indeks berat badan

menurut umur memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dan cepat dimengerti oleh

masyarakat, baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis, indikator status

gizi kurang saat sekarang, sensitif terhadap perubahan kecil dan dapat mendeteksi

kegemukan. Selain memiliki kelebihan indeks ini juga mempunyai kekurangan

yaitu kadang umur tidak dapat ditentukan dengan akurat, dapat menimbulkan

interpretasi keliru jika terdapat edema ataupun asites, sering terjadi kesalahan

dalam pengukuran akibat pengaruh pakaian ataupun anak bergerak saat ditimbang

dan adanya anggapan bahwa menimbang anak seperti menimbang barang

(38)

19

dagangan membuat orangtua enggan menimbang berat badan anaknya (Poverawati dan Asfuah, 2009).

Indeks tinggi badan menurut umur menggambarkan status gizi masa lalu. Alat yang diperlukan untuk mengukur panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa. Akan tetapi pengukuran kadang sulit dilakukan karena membutuhkan dua orang petugas agar anak dapat berdiri tegak dan hasil yang didapat juga lebih akurat (Supriasa, dkk, 2011).

Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks berat badan menurut tinggi badan merupakan indeks yang independen terhadap umur dan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat sekarang (Supriasa, dkk, 2011).

Menurut Kemenkes, 2011, klasifikasi status gizi dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Gizi kurang dan gizi buruk

Gizi kurang dan gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah underweight (gizi kurang dan severely underweight (gizi buruk)

b. Pendek dan sangat pendek

Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang

Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang

merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek).

(39)

c. Kurus dan sangat kurus

Kurus dan sangat kurus adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) yang merupkan padanan istilah wasted (kurus) dan severely wasted (sangat kurus).

Berdasarkan hal tersebut Kemenkes, 2011 mengkategorikan dan memberikan ambang batas pada status gizi anak sebagai berikut :

Tabel 2.1

Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks

Indeks Kategori

Status Gizi

Ambang Batas (Z-Score) Berat Badan menurut Umur

(BB/U Anak Umur 0-60 bulan

Gizi Buruk <-3 SD sampai dengan <-2 SD Gizi Kurang -2 SD sampai dengan 2 SD

Gizi Baik >2 SD Panjang Badan menurut Umur

(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Umur 0-60 bulan

Sangat Pendek <-3 SD

Pendek -3 SD sampai dengan <-2 SD Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

Tinggi >2SD Berat Badan menurut Panjang

Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Anak Umur 0-60 bulan

Sangat kurus <-3SD

Kurus -3 SD sampai dengan <-2 SD Normal -2 SD sampai dengan 2 SD Gemuk >2SD

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Bayi

Status gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi adalah sebagai berikut :

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang memengaruhi status gizi, meliput ;

(40)

21

1) Pendapatan

Pada umumnya jika tingkat pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik juga tetapi mutu makanan tidak selalu membaik (Suhardjo, 2002 dalam Kusumasari, 2012). Menurut Saputra (2012) status sosial ekonomi berhubungan dengan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Anak yang dalam keluarga berstatus sosial ekonomi tinggi cenderung lebih tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan status sosial ekonomi rendah.

2) Pendidikan

Pandangan dan kepercayaan seseorang, termasuk juga pengetahuan mereka tentang ilmu gizi, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari berbagai penyebab yang berpengaruh terhadap konsumsi makan mereka. Dengan pendidikan dapat ditingkatkan konsumsi pangan dan keadaan gizi (Suhardjo, 2002 dalam Kusumasari, 2012). Hubungan pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi anak yaitu semakin baik pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI, yaitu ibu memahami tentang kapan waktu yang tepat untuk memberikan makanan pendamping ASI, jenis-jenis makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI (Kusumasari, 2012).

3) Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang

kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita

(41)

waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

4) Budaya

Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan. Demikian juga sikap dan pandangan atau cara berpikir suatu masyarakat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat yang lebih luas (Santoso & Ranti, 2004 dalam Kusumasari, 2012).

5) Pelayanan kesehatan

Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan.

b. Faktor Internal

Faktor internal yang memengaruhi status gizi adalah sebagai berikut : 1) Usia

Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Supariasa, 2011).

2) Kondisi fisik

Orang yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia,

semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang

buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan,

karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk

pertumbuhan cepat (Supariasa, 2011)

(42)

23

3) Infeksi

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Supariasa, 2011).

4) Asupan makan

Asupan makan adalah jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi oleh seseorang dengan tujuan tertentu pada waktu tertentu. Konsumsi makanan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu (Khomsan, 2003 dalam Kusumasari, 2012).

Hal yang sama menurut Giri, dkk (2013) faktor-faktor yang terkait dengan status gizi balita seperti karakteristik ibu, karakteristik bayi, pengetahuan dan sikap ibu tentang gizi, peran kader posyandu dan bidan desa, media informasi serta riwayat pemberian ASI eksklusif dan susu non ASI serta MP-ASI.

2.2. ASI Eksklusif

2.2.1 Pengertian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif yang selanjutnya adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak

dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan

makanan atau minuman lain (Kemenkes,2012). Pemberian ASI eksklusif adalah

proses memberikan ASI saja kepada bayi selama 6 bulan tanpa dicampur dengan

tambahan cairan lain seperti susu formula, madu, air putih dan tanpa tambahan

makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu dan biskuit (Kristiyansari, 2009).

(43)

ASI eksklusif adalah suatu keadaan dimana bayi hanya menerima ASI saja tanpa makanan lainnya baik berupa cairan maupun makanan padat, bahkan air sekalipun, dengan pengecualian drops atau sirup yang terdiri dari vitamin, suplemen mineral atau obat-obatan (WHO, 2016).

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan, menyusui eksklusif adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman lain, termasuk air putih selain menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes, ASI perah juga diperbolehkan) (Kemenkes RI, 2014).

2.2.2 Manfaat ASI Eksklusif

ASI merupakan makanan yang ideal untuk tumbuh kembang bayi. Bayi yang tidak memperoleh ASI, hanya diberi susu formula pada bulan pertama kehidupannya, memiliki resiko tinggi untuk menderita gizi buruk, diare, alergi dan penyakit infeksi lainnya. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan bayi (Prasetyo, 2009; Yuliarti, 2010). Manfaat ASI eksklusif selain pada bayi juga pada ibu bahkan bermanfaat bagi negara (Utami, 2000 dalam Pamotan, 2013).

a. Manfaat ASI Eksklusif pada bayi

Manfaat ASI Eksklusif pada bayi adalah sebagai berikut :

1) Sebagai nutrisi terbaik karena sumber gizi yang ideal dengan komposisi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhan.

2) Meningkatkan daya tahan tubuh, karena mengandung berbagai zat antibodi

yang mencegah terjadinya infeksi.

(44)

25

3) Meningkatkan kecerdasan, karena ASI mengandung asam lemak (DHA, AA/arachidonic acid, omega-3, omega-6) yang diperlukan untuk pertumbuhan otak.

4) Meningkatkan jalinan kasih sayang.

5) Tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan dan ginjal.

6) Bayi yang menyusu pada ibunya, pertumbuhan gigi gerahamnya lebih baik.

7) Buah dada ibu telah diciptakan sedemikian rupa sehingga waktu bayi menghisap, kemungkinan bayi akan tersedak lebih kecil.

b. Manfaat ASI Eksklusif pada Ibu

Manfaat ASI eksklusif pada ibu bila ibu memberikan ASI eksklusif yaitu : 1) Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi.

2) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.

3) Mempercepat pemulihan kesehatan.

4) Menjarangkan kehamilan karena menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah dan cukup berhasil.

5) Mengecilkan rahim karena kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat membantu rahim ke ukuran semula seperti sebelum hamil.

6) Lebih cepat langsing kembali karena menyusui membutuhkan energi maka tubuh akan mengambil lemak dari lemak yang tertimbun selama hamil.

7) Mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara.

(45)

8) Lebih ekonomis dan murah karena dapat menghemat pengeluaran untuk susu formula.

9) Tidak merepotkan dan hemat waktu karena ASI dapat diberikan dengan segera tanpa harus menyiapkan atau memasak air.

10) Portabel dan praktis karena mudah dibawa kemana-mana sehingga saat berpergian tidak perlu membawa berbagai alat untuk menyusui.

11) Memberi ibu kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang mendalam karena telah berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

c. Manfaat ASI Eksklusif bagi Negara

Manfaat ASI Eksklusif bagi Negara adalah sebagai berikut :

1) Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapaan menyusui, serta biaya menyiapkan susu.

2) Penghematan biaya rumah sakit terutama sakit muntah-mencret dan penyakit saluran pernafasan.

3) Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkulitas untuk membangun negara.

3.2.3 Komposisi ASI a. Kolostrum

Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara,

mengandung residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari

kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium. Kolostrum

disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau

(46)

27

keempat. Kolostrum adalah air susu ibu yang pertama kali keluar yang merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu matur. Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI yang matur, dan protein yang utama adalah globulin (gamma globulin) serta lebih banyak mengandung antibodi dibanding dengan ASI yang matur dan dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur enam bulan. Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dibanding dengan ASI matur.

Mineral terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi dibanding susu matur. Vitamin lebih tinggi dari susu matur dan terdapat tripsin inhibitor sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna, hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi pada bayi.

Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, oleh karena itu kolostrum sangat penting dan harus diberikan pada bayi. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan untuk makanan bayi yang akan datang.

b. Air susu transisi/peralihan

Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang

matur. Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi. Kadar

protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin

(47)

meninggi. Volume ASI juga akan bertambah banyak dan berubah warna serta komposisinya.

c. Air susu matur

Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan dan merupakan cairan berwarna putih kekuning- kuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin dan karoten yang terdapat di dalamnya. Terdapat juga antimikrobial faktor antara lain antibodi terhadap bakteri dan virus, faktor resisten terhadap stafilokokus, immunoglobulin memberikan mekanisme pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan virus dan bila bergabung dengan komplemen dan lisozim merupakan suatu antibakterial yang langsung terhadap E.Coli.

Faktor lisozim dan komplemen ini adalah suatu antibakterial non spesifik yang mengatur pertumbuhan flora usus.

d. Protein di dalam ASI

ASI mengandung protein lebih rendah dari Air Susu Sapi (ASS), tetapi protein ASI ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi. Keistimewaan dari protein yang terdapat pada ASI lebih mudah dicerna dibanding dengan susu sapi, karena ASI memiliki perbandingan antara whey dan casein yang sesuai untuk bayi yaitu 65:35 sehingga protein ASI lebih mudah diserap.

ASI mengandung asam amino esensial taurin dan sistin yang tinggi, yang

penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin serta

pertumbuhan otak bayi dan tidak terdapat dalam susu sapi.

(48)

29

e. Karbohidrat dalam ASI

ASI mengandung karbohidrat relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi. Karbohidrat yang utama terdapat dalam ASI adalah laktosa yang akan diubah menjadi asam laktat sehingga memberikan suasana asam di dalam usus bayi yang memberikan beberapa keuntungan antara lain penghambatan pertumbuhan bakteri yang patologis, memacu pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin serta memudahkan absorpsi dari mineral seperti kalsium, fosfor dan magnesium. Selain laktosa juga terdapat glukosa,galaktosa yang penting untuk pertumbuhan otak dan medulla spinalis dan juga glukosamin yang merupakan bifidus faktor yang memacu pertumbuhan laktobasilus bifidus yang sangat menguntungkan bayi.

f. Lemak dalam ASI

Kadar lemak dalam ASI merupakan sumber kalori yang utama bagi bayi, dan sumber vitamin yang larut dalam lemak dan sumber asam lemak yang esensial yaitu asam linoleat dan asam alda linolenat yang akan diolah oleh tubuh bayi menjadi Arachidonic Acid (AA) dan Decosahexanoic Acid (DHA) yang diperlukan untuk pembentukan dan perkembangan sel-

sel otak yang optimal. Kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan

hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan

kebutuhan energi yang diperlukan.

Referensi

Dokumen terkait

 melaksanakan sebagian tugas Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan pembinaan dan koordinasi, pengendalian

Berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan sebelum penelitian dengan salah satu pegawai menyatakan bahwa banyak mitra kerja yang kurang disiplin terhadap

the Neoproterozoic sedimentary rocks seem to contain rare zircons of pre-Mesoproterozoic age relative to zircons of Grenvillian and Early Cado- mian age (Table 1, Fig. This may

“Ya Tuhan, semoga permaisuri melahirkan bayi perempuan supaya aku tidak melakukan perbuatan dosa dengan membuang bayi laki- lakinya,” kata Panglima Puang Mosso dengan suara

Remote sensing data of four different spatial resolutions; broad- scale (250 m resolution Terra/MODIS); medium scale (10 m resolution SPOT/HRG-2); fine scale (0.5m

Ada pengaruh signifikan dari implementasi prinsip kemitraan terhadap kinerja, ada pengaruh signifikan dari komunikasi interpersonal terhadap kinerja, ada

tentang pengaruh sari buah nanas ( Ananas comosus (L.) Merr.) dan lama penyimpanan terhadap jumlah koloni bakteri pada ikan bandeng menggunakan uji anava dua

1 3.4 Mencermati kosakata dalam teks tentang konsep ciri-ciri, kebutuhan (makanan dan tempat hidup), pertumbuhan, dan perkembangan makhluk hidup yang ada di